Alternatif 2 (sepasang menara
A. Pola Massa dan Ruang Luar
Dalam urban design, tatanan massa dan elemen ruang luar secara bersama membentuk ruang tiga dimensi yang kehadirannya bisa dirasakan secara inderawi.
a. Massa bangunan (solid) menggambarkan tatanan wujud bangunan secara tiga dimensi melalui perbandingan panjang, lebar, dan tinggi bangunan, yang secara bersama-sama membentuk pelingkupan (enclosure) dalam wujud ruang luar. Massa bangunan di wilayah perencanaan terdiri dari deretan bangunan dengan berbagai ketinggian dan pemunduran yang berbeda.
b. Ruang luar (void) yang dibentuk oleh pelingkupan massa bangunan, pada tatanan tapak dibagi menjadi ruang luar yang bersifat publik dan bersifat privat. Ruang luar publik adalah ruang luar yang digunakan untuk kepentingan umum, seperti jalan
raya, lapangan olah-raga, taman kota, median, dan sejenisnya. Ruang luar privat adalah ruang luar yang terletak di dalam kaveling atau di dalam halaman.
Ruang luar publik di koridor perencanaan terdiri dari jalan, trotoar, taman dan waduk.
Ruang luar privat terdiri dari tanah kosong dan halaman di dalam kaveling atau kompleks.
Penataan massa dan ruang luar di koridor perencanaan bertujuan untuk mempertegas identitas, jatidiri atau citra lingkungan dan menciptakan suasana ruang yang akrab dan dinamis.
1. Masalah
a. Persimpangan jalan :
Tatanan massa dan ruang luar di koridor perencanaan, terutama di persimpangan jalan sulit membentuk pola pelingkupan yang jelas. Pada umumnya berpola linier mengikuti perkembangan dan pembangunan jalan. Pola seperti banyak ditemui di bagian kota lainnya. Bisa dikatakan polanya tunggal rupa dengan wilayah lain. b. Koridor jalan :
Tatanan massa dan ruang luar koridor terkesan monoton. 2. Kondisi Faktual
Ruang terbuka di koridor perencanaan terdiri dari ruang terbuka publik dan ruang terbuka privat. Dalam penyusunan RTBL ini penataan diarahkan pada ruang terbuka publik. Ruang terbuka publik terdiri dari empat persimpangan jalan, yang dibentuk oleh unsur solid dan void berikut :
a. Persimpangan jalan :
Persimpangan yang berupa perempatan jalan merupakan void yang dilingkupi oleh bangunan-bangunan (solid) dengan ketinggian antara 1-3 lantai.
b. Koridor jalan :
Ruang koridor berpola linier yang dibentuk oleh deretan dinding bangunan dengan ketinggian rata-rata 1-2 lantai dan tanaman pohon (dengan ketinggian setara bangunan 1-2 lantai) yang berjajar memanjang mengikuti bentuk koridor.
Jalan Mojopahit dilingkupi oleh bangunan yang ketinggiannya tidak seragam, yaitu bervariasi antara 1-4 lantai, dan dominasi pemunduran bangunan nol meter.
Di dalam ruang terbuka persimpangan jalan dan koridor jalan, terdapat jalan untuk sirkulasi kendaraan dan trotoar untuk pejalan kaki, yang masuk dalam ranah ruang terbuka publik.
3. Dasar Teori
Eksistensi ruang dibentuk oleh elemen-elemen pembentuk ruang yang terdiri dari elemen lantai, elemen dinding dan elemen atap. Elemen yang menonjol adalah elemen dinding yang bisa berupa dinding bangunan, pagar tembok, deretan pohon, deretan tiang bendera, dan sejenisnya. Ketentuannya adalah sebagai berikut :
a. Persimpangan jalan :
Pembentukan enclosure pada unsur-unsur lingkungan ditujukan untuk mempertegas eksistensi ruang; bentuk dan skala ruang; fungsi ruang.
Bentuk ruang ditentukan oleh pola pelingkupan elemen dinding; antara lain linier, bujur sangkar, lingkaran, amorf, dan lainnya. Skala ruang menggambarkan perbandingan antara jarak pengamat dan tinggi bangunan. Menurut Ashihara (1968); ruang yang mempunyai perbandingan yang pas, adalah jika D/H = 2-3 dilihat dari posisi dimana pengamat berdiri.
Ruang harus mempunyai fungsi yang jelas, karena fungsi ruang akan menentukan hirarki ruang dan perabot yang ada di dalamnya.
b. Koridor jalan :
Ditinjau dari perbandingan antara jarak (D) dan tinggi bangunan (H) serta kesan yang ditimbulkannya, Ashihara mengelompokkan menjadi :
Ruang yang berkesan menekan, dengan perbandingan D/H ≤1
Ruang yang memberi kesan agak lapang dan pengamat merasa berada dalam suasana ruang bersangkutan. Perbandingan D/H = 2.
Ruang yang memberikan kesan lapang dan pengamat mulai merasa terlepas dari suasana ruang bersangkutan. Perbandingan D/H = 3.
Ruang yang memberi kesan lepas dimana pengamat merasa tidak berada dalam suasana ruang bersangkutan. Perbandingan D/H ≥ 4.
Ditinjau dari fungsinya, ruang linier yang dibentuk massa bangunan mempunyai fungsi sebagai pengarah.
4. Analisis
a. Persimpangan jalan
Eksistensi ruang publik pada persimpangan jalan dibentuk oleh elemen lantai dan elemen dinding. Elemen lantai adalah jalan dan elemen dinding adalah dinding bangunan, pagar dan deretan pepohonan di sekeliling persimpangan jalan.
Bentuk ruang terbuka persimpangan jalan di koridor perencanaan lebih terasa sebagai ruang linier yang mengarah pada sirkulasi berpola radial. Bentuk ruangnya sangat dipengaruhi oleh pola jalan dan posisi dinding bangunan yang mengikutinya. Perbandingan D/H pada persimpangan jalan tidak terlihat
jelas karena enclosure dinding bangunan tidak membentuk kesan pelingkupan yang kuat.
Fungsi ruang persimpangan jalan adalah sebagai ruang orientasi bagi pengguna jalan untuk menuju ke arah yang dikehendaki. Untuk memperkuat fungsinya sebagai ruang orientasi, persimpangan jalan dilengkapi dengan pohon dan tanaman sebagai pengarah.
Ada beberapa alternatif penataan massa-ruang luar, yaitu :
(1). Alternatif 1 : tetap seperti kondisi yang sudah ada saat ini.
(2). Alternatif2 : mempertegas bangunan sudut, yaitu bangunan berpasangan di kiri kanan mulut Koridor Jalan Mojopahit.
b. Koridor jalan; menggunakan perbandingan jarak dan tinggi bangunan.
Ketentuan yang dipakai adalah : tinggi bangunan satu lantai = 8 meter (tinggi dinding 4 meter ditambah tinggi atap 4 meter); tinggi bangunan dua lantai = 12 meter; tinggi bangunan 3 lantai = 16 meter. Tinggi bangunan 4 lantai = 20 meter. Koridor Jalan Mojopahit : (Rumija 21,5 – 35,6 meter):
- Ketinggian bangunan 2 lantai; GSB nol meter; D/H = 0,68 (D/H < 1); yang memberi kesan sempit dan menekan.
- Ketinggian 2 lantai; GSB = 3 meter, maka D/H = 1,06 (antara 1-2) yang memberi kesan agak lapang.
- Ketinggian 3 lantai, GSB 0 meter, maka D/H = 0,46 (ruang koridor berkesan memberi kesan mulai menyempit).
- Ketinggian 4 lantai; GSB 3 meter, maka D/H = 0,70 (ruang koridor memberikan kesan sempit dan menekan).
Karena itu ketinggian bangunan di sepanjang koridor ini, direkomendasikan maksimum 4 lantai dengan GSB 3 meter untuk mendapatkan D/H = 1-4. Simulasi jarak dan tinggi bangunan dapat dilihat pada Gambar 1.4.
b. Koridor jalan
Koridor Jalan Mojopahit :
Untuk mempertahankan agar perbandingan antara massa dan ruang luar atau D/H = 1-4 yang memberi kesan ruang yang agak lapang, maka ketinggian bangunan dui koridor ini direkomendasikan maksimum empat lantai (20 meter).
Koridor Jalan Mojopahit :
Perbandingan antara massa dan ruang luar dipertahankan dengan D/H = 0,8-1, atau dengan ketinggian 1-4 lantai. Walaupun terasa agak menekan, tetapi ini adalah perbandingan massa dan ruang luar yang optimal di koridor ini.
Gambar 1.4 Bentuk Ketinggian Bangunan
Sumber : Hasil Analisa 2016