• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pola Pengobatan

Pola pengobatan pasien adalah adalah gambaran pengobatan yang

diterima oleh pasien selama menjalani rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta.Pola pengobatan pasien meliputi kelas terapi obat, golongan obat jenis

obat dan rute pemberian obat.

1. Kelas Terapi Obat

Gambaran distribusi penggunaan obat pada pasien berdasarkan kelas

terapi menurut MIMS Indonesia 2013/2014 disajikan dalam tabel di bawah

ini. Penggunaan obat terbanyak ada pada kelas terapi antiinfeksi, obat yang

Tabel XIII. Pola Pengobatan Pasien Berdasarkan Kelas Terapi Obat Kelas Terapi Obat Jumlah Kasus

(n = 16)

Persentase (%)

Antiinfeksi 16 100

Sistem gastrointestinal dan hepatobilier 13 81,2 Sistem saraf pusat 12 75 Vitamin dan mineral 6 37,5 Lain-lain

Sistem pernafasan 6 37,5 Alergi dan sistem imun 2 12,5

Kulit 1 6,2

2. Jenis dan Golongan Obat

a. Antiinfeksi

Pada pasien HIV dengan kandidiasis yang menjalani rawat inap,

antiinfeksi merupakan pengobatan yang paling banyak diterima diantara

kelas terapi yang lain. Hal ini sesuai dengan pengobatan yang seharusnya

diterima oleh pasien HIV dengan kandidiasis dimana antiinfeksi berperan

dalam membatasi infeksi HIV lebih jauh, mengatasi atau mencegah

infeksi bakteri yang mungkin muncul, serta mengatasi kandidiasis

sebagai infeksi oportunistik infeksi HIV (Direktur Jenderal Pengendalian

Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011).

Antiinfeksi yang digunakan meliputi sefalosporin, makrolida,

kuinolon, sulfonamida, antibiotika golongan lain, antivirus, antijamur,

obat anti tuberkulosis, dan antimalaria. Antiinfeksi selain antibiotika

golongan lain, antivirus dan antijamur digunakan untuk mengatasi infeksi

oportunistik selain kandidiasis yang diderita oleh pasien. Pada penelitian

ini, pemberian antibiotika sefalosporin ditujukan kepadapasien suspek

oleh karena H. influenzae (Hauser, 2013), antibiotika kuinolon ditujukan

kepada pasien yang menderita penyakit paru kronik, suspek sinusitis, dan

infeksi saluran kemih, pemberian antibiotika sulfonamida dan antimalaria

ditujukan kepada pasien yang menderita toksoplasma dan obat anti

tuberkulosis digunakan untuk mengatasi infeksi tuberkulosis yang

diderita pasien.

Antibiotika golongan lain yang paling banyak digunakan adalah

kotrimoksasol, karena antibiotika ini merupakan terapi profilaksis yang

penting pada pasien HIV (Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan, 2011). Pada pasien HIV remaja dan dewasa,

terapi profilaksis kotrimoksasol terbukti efektif dalam mengurangi

mortalitas dan morbiditas, tidak hanya pada pasien dengan HIV stadium

1 dan 2, tetapi juga pada pasien dengan HIV stadium 3 dan 4, dengan

atau tanpa infeksi tuberkulosis (Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit

dan Penyehatan Lingkungan, 2011).

Antiretroviral merupakan obat yang penting pada pasien HIV

karena dapat meningkatkan kesehatan pasien dan tingkat bertahan hidup,

menyelamatkan hidup pasien, meningkatkan sistem imun, mengurangi

resiko komplikasi HIV, dan mengurangi resiko transmisi HIV

(US.Department of Health and Human Service, 2014). Antiretroviral

yang digunakan adalah antiretroviral golongan NNRTI dan NRTI.

Antiretroviral golongan NNRTI dan NRTI merupakan terapi lini pertama

dan 2 NRTI (WHO, 2013). Penggunaan kombinasi ini dianjurkan karena

dapat mengurangi efek toksik dan efek samping yang parah dari

antiretroviral, serta memiliki respon virologikal yang baik (WHO, 2013).

Antijamur yang digunakan adalah flukonazol dan nystatin.

Flukonazol merupakan standart terapi untuk kandidiasis orofaringeal dan

di antara golongan azole yang lain flukonazol memiliki penetrasi yang

lebih baik ke dalam tubuh (Pappas, et.al., 2009). Nystatin merupakan

antifungi yang dapat digunakan untuk mengatasi kandidiasis

oral(Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan, 2011). Gambaran penggunaan antiinfeksi disajikan dalam

tabel dibawah ini:

Tabel XIV. Penggunaan antiinfeksi pada pasien HIV dengan kandidiasis di Instalansi Rawat Inap RS Panti Rapih Yogyakarta

periode Januari 2010-Juni 2014 Golongan

obat

Jenis Obat Jumlah Kasus

(n = 16) Persentase (%) Sefalosporin Cefixime 5 31,2 Cefotaxime 2 12,5 Makrolida Azithromycin 2 12,5 Kuinolon Levofloxacin 6 37,5 Sulfonamida Sulfadiazin 1 6,2 Antibiotika golongan lain Kotrimoksasol 9 56,2 Fosfomycin 1 6,2 Metronidazole 1 6,2

Antivirus Kombinasi NRTI dan NNRTI 13 81,2 Antijamur Flukonazol 13 81,2 Kombinasi flukonazol dan nystatin 1 6,2 Obat anti

tuberculosis

Kombinasi rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol

4 25

Isoniazid 2 12,5

Kombinasi isoniazid dan vitamin B6 1 6,2 Antimalaria Pyrimethamine 3 18,7

b. Sistem gastrointestinal dan hepatobilier

Obat yang bekerja pada sistem gastrointestinal dan hepatobilier

yang diberikan pada pasien meliputi antasida, obat antirefluks, dan

antiulserasi, regulator gastrointestinal, antiflatulen, dan antiinflamasi,

serta antiemetika. Pada penelitian ini, sebagian besar obat-obat tersebut

diberikan untuk mencegah gejala intoleransi gastrointestinal yang

disebabkan oleh ARV.

Antasida, obat antirefluks, dan antiulserasi yang digunakan

adalah pantoprazole, Plantacid®, omeprazole dan lanzoprazole.

Pantoprazole, omeprazole, dan lansoplazole adalah proton pump

imhibitor (PPI) yang dapat menghambat produksi asam dalam lambung

(Chubineh dan Birk, 2012).PPI dan Plantacid® yang mengandung

antasida digunakan untuk mengatasi tukak lambung dan mengurangi

gejala kelebihan asam lambung.

Regulator gastrointestinal, antiflatulen, dan antiinflamasi yang

digunakan adalah metoklopramid dan domperidone. Metoklopramid

digunakan untuk antimual. Metoklopramid juga dapat merangsang

pengosongan lambung (Nugroho, 2012). Pemberian domperidone juga

ditujukan untuk merangasang pengosongan lambung sehingga dapat

digunakan sebagai obat antimuntah.

Antiemetika yang digunakan adalah ondansetron. Ondansetron

penggunaan obat yang bekerja pada sistem gastrointestinal dan

hepatobilier disajikan dalam tabel dibawah ini:

Tabel XV. Penggunaan obat yang bekerja pada sistem gastrointestinal dan hepatobilier pada pasien HIV dengan kandidiasis di Instalansi Rawat Inap

RS Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2010-Juni 2014 Golongan Obat Jenis Obat Jumlah

Kasus (n = 16) Persentase (%) Antasida, obat antirefluks, dan antiulserasi Plantacid® 3 18,7 Omeprazole 1 6,2 Lansoplazole 1 6,2 Pantoprazole 4 25 Regulator gastrointestinal, antiflatulen, dan antiinflamasi Metoklopramida 4 25 Domperidone 6 37,5 Antiemetika Ondansetron 6 37,5

c. Sistem Saraf Pusat

Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat yang diberikan

kepada pasien meliputi ansiolitik, antidepresan, antipsikotik, obat

antivertigo, analgesik (non opiat) dan antipiretik, serta obat anti inflamasi

non steroid. Pada penelitian ini, obat-obat tersebut sebagian besar

diberikan untuk mencegah gejala sistem saraf pusat yang disebabkan oleh

ARV.

Ansiolitik yang digunakan adalah diazepam dan alprazolam.

Kelompok ansiolitik diberikan kepada pasien untuk mengurangi

kecemasan dan agresivitas yang dialami pasien selama menjalani rawat

sebagai penanganan depresi menengah (Nugroho, 2012). Antipsikotik

yang digunakan adalah chlorpromazine dimana chlorpromazine ini

diresepkan membantu mengontrol mual dan muntah, dan mengontrol

gangguan perilaku sebagai gejala psikosis.

Antivertigo yang digunakan adalah betahistine mestylate dimana

obat ini diresepkan untuk meringankan serta mengatasi gejala vertigo

yang dialami pasien seperti pusing, limbung, mual, dan muntah.

Analgesik (non opiat) dan antipiretik yang digunakan adalah

paracetamol. Paracetamol memiliki aktivitas antiinflamasi yang lemah,

tetapi menunjukkan efek antipiretik dan analgesik (Nugroho, 2012).Obat

antiinflamasi non steroid yang digunakan adalah metamizole dimana obat

ini diresepkan untuk mengurangi atau mengatasi rasa nyeri sedang

sampai berat, dan sakit kepala karena faktor psikis. Gambaran

penggunaan obat yang bekerja pada sistem syaraf pusat disajikan dalam

tabel dibawah ini:

Tabel XVI. Penggunaan obat yang bekerja pada sistem syaraf pusat pada pasien HIV dengan kandidiasis di Instalansi Rawat Inap RS Panti Rapih

Yogyakarta periode Januari 2010-Juni 2014 Golongan Obat Jenis Obat Jumlah Kasus

(n = 16) Persentase (%) Ansiolitik Diazepam 1 6,2 Alprazolam 5 31,2 Antidepresan Sertaline 1 6,2 Antipsikotik Chlorpromazine 1 6,2 Antivertigo Betahistine mestylate 1 6,2

Analgesik (non opiat) dan antipiretik

Paracetamol 9 56,2

d. Vitamin dan mineral

Vitamin dan mineral yang diberikan kepada pasien meliputi

vitamin dan/mineral serta vitamin B kompleks. Vitamin dan/mineral

yang digunakan adalah Lysmin® dan vitamin B kompleks yang

digunakan adalah Grahabion®. Lysmin® diresepkan sebagai suplemen

nutrisi dan vitamin dalam masa penyembuhan sedangkan Grahabion®

diresepkan untuk mengatasi defisiensi vitamin BI, B6, dan B12 seperti

polineuritis. Gambaran penggunaan vitamin dan mineral disajikan dalam

tabel dibawah ini:

Tabel XVII. Penggunaan obat vitamin dan mineral pada pasien HIV dengan kandidiasis di Instalansi Rawat Inap RS Panti Rapih Yogyakarta periode

Januari 2010-Juni 2014 Golongan Obat Jenis Obat Jumlah Kasus

(n = 16) Persentase (%) Vitamin dan/mineral Lysmin® 4 25 Vitamin B kompleks Grahabion® 2 12,5 e. Lain-lain

Kelas terapi obat yang termasuk ke dalam kategori ini adalah

kelas terapi sistem pernafasan, alergi dan sistem imun, serta kulit.

Gambaran penggunaan ketiga kelas terapi obat tersebut disajikan dalam

Tabel XVIII.Penggunaan obat lain-lain pada pasien HIV dengan kandidiasis di Instalansi Rawat Inap RS Panti Rapih Yogyakarta

periode Januari 2010-Juni 2014 Golongan Obat Jenis Obat Jumlah Kasus

(n = 16)

Persentase (%)

Obat batuk dan pilek Tremenza® 2 12,5 Silex® 5 31,2 Ambroksol HCl 1 6,2 Antihistamin dan antialergi Cetirizine HCl 1 6,2 Antijamur dan antiparasit topikal Scabimite® 1 6,2

3. Rute Pemberian Obat

Gambaran umum penggunaan obat berdasarkan rute pemberian obat

disajikan dalam tabel di bawah ini. Seluruh kasus yang ditemukan pada

penelitian ini memperoleh obat dengan rute pemberian enteral dan parenteral,

dan 1 kasus memperoleh obat topikal.Obat yang diberikan secara enteral pada

umumnya merupakan obat antivirus yang dan antifungi yang digunakan untuk

mengatasi HIV dan kandidiasis dimana obat tersebut diberikan secara per

oral. Obat yang diberikan secara parenteral pada umumnya adalah obat

antiemetika ondansetron untuk mengatasi mual muntah dan infus Asering®

untuk mengganti cairan yang hilang secara akut. Obat parenteral digunakan

pada pasien yang membutuhkan efek cepat, dan obat intravena diberikan

kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien. Obat yang diberikan

Tabel XIX. Penggunaan obat berdasarkan rute pemberian pada pasien HIV dengan kandidiasis di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rapih Yogyakarta

periode Januari 2010-Juni 2014

Rute Pemberian Jumlah Kasus (n = 16) Persentase (%)

Enteral 16 100 Parenteral Topikal 16 1 100 6,2

Dokumen terkait