Radikalisme merupakan fenomena yang jamak muncul di dalam agama-agama dunia termasuk di agama besar seperti Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, dan Budha. Radikalisme sangat berkaitan erat dengan fundamentalisme yang ditandai oleh kembalinya masyarakat kepada dasar-dasar agama yang paling fundamental. Fundamentalisme dalam perkembangannya merupakan ideologi yang menjadikan agama sebagai satu-satunya pegangan hidup oleh masyarakat maupun individu. Biasanya fundamentalisme akan diiringi oleh sikap radikal dan terkadang seringkali diikuti oleh perilaku kekerasan ketika kebebasan untuk kembali kepada agama dihalangi oleh situasi sosial politik yang mengelilingi masyarakat. Fundamentalisme juga mendorong suatu kelompok untuk tidak mengakui kebenaran dari kelompok-kelompok lain yang berseberangan dengan keyakinan kelompok mereka.
Radikalisme memiliki dinamika sendiri di setiap daerah karena terkait dengan kultur dan politik keagamaan yang berkembang di masing-masing daerah. Peran lembaga keagamaan khususnya pesantren juga memainkan peran penting dalam pembentukan karakter santri melalui penyebaran dan transfer wacana keagamaan oleh pesantren. Dari hasil penelitian selama di lapangan menunjukkan banyaknya unsur yang mempengaruhi pola penyebaran radikalisme dan terorisme di Kalimantan Timur. Di antara unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut.
Rendahnya Pemahaman Agama
Keberagamaan dan pluralitas agama yang ada di Indonesia ini terkadang menimbulkan berbagai ketegangan dan bahkan permasalahan. Hal ini disebabkan karena pemikiran dan sikap yang dimiliki sebagian umat beragama di Indonesia yang masih pada tingkat eksklusif yang melahirkan pandangan bahwa ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya. Sikap eksklusivisme tersebut muncul di tingkat personal dan juga kelompok yang akhirnya berdampak pada lahirnya sikap fanatisme dan menjurus pada radikalisme. Kelompok ini kemudian memandang agama atau kelompok keagamaan yang lain sebagai aliran yang mengandung heresy, bid’ah, dan sesat yang wajib dikikis hingga ke akar-akarnya (Qodir, 2004; Hamdi, dkk, 2015). Kasus kekerasan terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syi’ah di Indonesia merupakan contoh dari sekian banyak kasus kekerasan karena sikap pelaku yang eksklusif, klaim kebenaran dan intoleran terhadap perbedaan.
Munculnya ajaran dan berkembangnya doktrin radikalisme dan terorisme di Provinsi Kalimantan Timur salah satunya disebabkan karena rendahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama mereka yang sebenarnya. Mereka memaknai agama secara tekstual, yakni berpegang pada konten formal teks dan berpedoman pada tradisi yang terbentuk di masa silam dan mengikatkannya secara ketat tanpa memaknai kembali dan menyesuaikan teks dengan konteks sosial kekinian. Kelompok ini juga memandang bahwa ajaran Islam yang mereka yakini sebagai suatu kebenaran mutlak yang tidak perlu diubah lagi atau ditambah-tambah dengan ajaran baru yang
lain (produk bid’ah) karena secara otoritatif telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu yang statusnya
inal dan tuntas.
Ketua Dewan Taniz NU Samarinda (2015)
menilai bahwa lemahnya pemahaman kegamaan seseorang atau kelompok akan mengantarkan mereka pada sikap fanatisme yang berlebihan. Kondisi ini harus segera diatasi karena akan memberikan dampak yang negatif terhadap tatanan sosial, budaya, bahkan dapat mengancam eksistensi NKRI yang dikenal plural dan multikultur. Dia meyakini bahwa agama tidak harus dipandang dan diperlakukan demikian, agama dapat dilihat dalam posisi yang lebih netral, dialogis dan terbuka karena tujuan agama tidak lain untuk perbaikan tatanan kehidupan manusia. Terkait dengan itu, agama dapat diposisikan pada dua hal, pertama adalah sebagai kekuatan integrasi dan solidaritas sosial, dan kedua adalah sebagai pemicu
konlik dan perpecahan sosial. Sekarang tergantung pada pengguna agama itu sendiri, apakah mau memposisikannya pada hal yang negatif-destruktif atau yang positif-konstruktif. Agama yang menjadi pemicu konlik sosial diibaratkan seperti rumput kering pada musim kemarau yang mudah terbakar jika ada percikan api yang menyambar walaupun itu kecil.
Terlepas dari berbagai argumen dan simbol agama apapun yang digunakan bahwa pada dasarnya radikalisme, terorisme, jihadisme, dan berbagai turunannya merupakan musuh bersama seluruh manusia dan seluruh umat beragama di dunia. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan teror terhadap orang lain, apalagi misalnya dalam satu agama yang hanya berbeda ideologi atau mazhab. Islam mengajarkan konsep cinta, kasih
sayang, rahmat dan kelembutan kepada manusia dalam proses membangun interaksi dan komunikasi sosialnya. Islam juga sangat moderat dalam melihat berbagai masalah sosial, lebih-lebih menyangkut kebutuhan, dan hak asasi manusia. Jika kita telaah lebih dalam tentang eksistensi kelompok radikal, di mana mereka seringkali menempatkan agama sebagai tameng dan simbol untuk legitimasi tindakan dan perbuatannya demi meraih berbagai kepentingan termasuk ekonomi, politik dan kekuasaan. Argumen di atas jelas menunjukkan bahwa agama bukanlah faktor utama yang memicu tindakan radikalisme dan terorisme, akan tetapi agama hanya dijadikan sebagai alat atau instrumen pemuas kekuasaan untuk mencapai kepentingan mereka. Hakikat agama adalah sumber kebaikan dan kedamaian bagi manusia yang lain.
Makna rahmatan lil alamin di dalam ajaran Islam sejatinya adalah jaminan bahwa Islam memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi semua makhluk termasuk binatang dan hewan-hewan yang lain. Tidak ada satupun ajaran di dalamnya yang menganjurkan kepada penganutnya untuk membenci, memusuhi, melukai, dan membunuh makhluk lain termasuk selain yang beragama Islam. Semua golongan dan umat beragama harus diperlakukan sama dan adil oleh pemimpin Islam. Allah mengutuk orang-orang yang berlaku tidak adil kepada non-Muslim dengan sengaja. Kalaupun ada permusuhan dengan kelompok non-Muslim, maka itu adalah bagian kecil dari salah satu upaya pemecahan masalah yang dilakukan oleh umat Islam, bukan bersumber dari ajaran Islam. Kitab suci al-Qur’an dan hadis diyakini oleh umat Islam sebagai sumber utama dalam memecahkan semua persoalan yang ada. Keyakinan ini adakalanya bisa menjadi obat
dan bisa juga menjadi racun yang dijadikan alasan untuk merugikan pihak lain. Semua itu tergantung dari umat Isam dalam memahami teks kitab suci ataupun hadis nabi. Apabila pemecahan masalah diintervensi dengan kepentingan politik, maka yang terjadi adalah penyalahgunaan kitab suci yang lebih banyak berperan sebagai racun.
Senada dengan Ketua Tanidz NU Samarinda di atas, Wakil Ketua Tanidz NU Kutai Timur mengatakan
bahwa maraknya wacana dan gerakan radikalisme di Kutai Timur disebabkan karena rendahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama yang benar sesuai dengan petunjuk dan yang dicontohkan oleh Nabi. Mereka memahami agama setengah-setengah karena rendahnya tingkat pendidikan mereka khususnya dalam bidang keagamaan sehingga ketika muncul aliran atau organisasi baru yang masuk dan berkembang akhirnya mereka ikut-ikutan tanpa
memilter dan meneliti lebih jauh agenda dan tujuan
dari aliran tersebut. Mereka tidak menganalisa motif dan tujuan di balik indoktrinisasi ajaran agama tersebut sehingga dengan mudah mereka dijadikan target rekrutmen sebagai anggota. Kondisi pemahaman keagamaan yang minim inilah seringkali dimanfaatkan oleh kelompok radikal dan teroris untuk menyebarkan doktrin jihadis mereka. Pada waktu yang bersamaan, tidak ada wacana tandingan yang intens melawan wacana radikal yang dibawa oleh kelompok esktremis tersebut dan tidak ada usaha untuk mencari wacana lain bagi mereka yang sudah terkena indoktrinisasi.
Pendidikan masyarakat yang rendah dan minimnya pendidikan keagamaan juga dapat dengan mudah memicu terjadinya konlik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Mereka dengan mudah
dimanfaatkan kelompok tertentu, dan agama dijadikan sebagai tumbal dan tameng untuk meraih kepentingan golongan mereka. Masyarakat mudah terjebak pada fanatisme dan pembenaran terhadap agama dan aliran yang mereka yakini pasca indoktrinasi. Agama dieksploitasi dan dipolitisasi untuk kepentingan mereka tanpa mengindahkan budaya bangsa yang agung dan bersahabat yang sudah lama terbangun dalam citra Bhineka Tunggal Ika. Sebagai bangsa yang majemuk dan multikultur, masyarakat Indonesia tidak pernah mempersoalkan perbedaan keyakinan, apalagi sampai meneror kelompok lain. Perbedaan-perbedaan baik keyakinan maupun budaya adalah bagian dari kekayaan lokal bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dipelihara oleh segenap anak bangsa. Kuatnya arus globalisasi dan gerakan keagamaan transnasional yang berlabuh di Indonesia telah menciptakan kondisi baru yang mengancam eksistensi pluralitas dan multi etnis di Indonesia, apalagi dengan munculnya ajaran dan doktrin radikalisme, jihadisme, dan terorisme yang dapat merusak dan menghancurkan pilar-pilar keragaman kultur keagamaan masyarakat.
Terkait dengan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap agama juga direspons oleh Ketua MUI dan Ketua PC NU Kutai Barat yang mengatakan, rata-rata pemahaman keagamaan masyarakat yang mengikuti jejak-jejak kelompok tertentu seperti kelompok radikalis dan teroris yang ingin merusak stabilitas NKRI sangat rendah. Bahkan di antara mereka banyak yang benar-benar baru mengenal agama melalui halaqah-halaqah
yang dibentuk oleh kelompok radikal dalam jaringan kampus maupun di luar kampus. Sebagian besar dari mereka hanya ikut-ikutan atau yang lebih dikenal dengan istilah itba’, dengan menyerap apa yang
diajarakan dan dikatakan oleh ustadz mereka secara utuh tanpa mengkritisi dan menganalisa kebenarannya lebih jauh. Mereka tidak begitu memahami ajaran Islam dan wacana-wacana perdebatan keislaman tingkat tinggi lintas mazhab dan lintas agama. Jangankan membaca kitab kuning yang gundul (tidak berbaris), membaca kitab suci al-Qur’an saja terkadang sebagian tidak fasih. Seringkali mereka tidak dapat membedakan mana ayat al-Qur’an dan mana hadis Nabi karena sama-sama berbahasa Arab. Pada waktu yang bersamaan, pemahaman keagamaan yang disertai dengan provokasi doktrin-doktrin jihad telah memunculkan sikap eksklusif, klaim kebenaran, dan kurang menghargai pluralitas agama serta kepercayaan. Pemahaman tersebut telah mengarahkan mereka kepada sikap yang fanatik secara berlebihan pada simbol-simbol agama daripada substansinya sehingga menciptakan instabilitas dan disintegrasi sosial pada suatu komunitas, bangsa, dan negara.
Kyai Burhanudin, Pengasuh Ponpes di Kabupaten Berau, menyatakan bahwa pemahaman agama merupakan kunci dalam membangun sebuah peradaban. Menurut beliau masyarakat harus hati-hati dalam menafsirkan teks agama karena banyak metode dalam penafsiran itu sendiri yang melahirkan hasil yang berbeda-beda antara satu pendapat dengan pendapat yang lain. Produk hasil ijtihad yang berbeda yang lebih dikenal dengan khilaiyah ini sudah jamak dalam tradisi wacana intelektual Islam yang ditemukan di semua bidang termasuk dalam hukum Islam maupun teologi. Kalau tidak hati-hati dan teliti melihat beragam produk tafsir tersebut, kita bisa terjebak pada sikap eksklusivisme, intoleran, dan penuduhan yang justru jauh dari ruh dan
nilai-nilai agama. Dia mencontohkan konsep jihad di dalam ajaran Islam memiliki makna sebagai suatu sikap berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syari’at Islam. Makna inilah yang sering memunculkan penafsiran yang beragam, tergantung dari siapa, kepentingannya apa, latar belakang ideologinya apa, dan seberapa besar pengetahun seseorang tentang jihad itu sendiri. Istilah jihad secara umum dalam Islam seringkali dimaknai secara negatif oleh beberapa kelompok Islam dengan cara menerjemahkannya secara sempit yang identik dengan kekerasan. Bahkan, kata jihad lebih dekat dipadani dengan istilah perang di jalan Allah, sedangkan istilah jihad mempunyai makna yang universal tergantung konteksnya. Jihad dalam konteks puasa misalnya, tentu akan berbeda maknanya dengan jihad dalam konteks peperangan.
Menurut Sekjen Ansor Kutai Timur bahwa fenomena baru dalam tataran politik modern ini ditandai dengan munculnya kelompok ekstremis Muslim yang menggunakan aksi terorisme dengan kedok melaksanakan jihad. Dalih dengan kedok jihad ini memiliki efek domino yang sangat besar dan sangat destruktif. Dalam kacamata beliau bahwa di dalam Islam sendiri ada tuntunan untuk berjuang dalam kebaikan dan ketakwaan, dan bukan sebaliknya berjuang untuk kejahatan, terorisme dan perusak. Dakwah itu harus dilakukan dengan bijaksana, arif, luwes, penuh dengan kebaikan, kasih sayang dan kelembutan. Dia mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan adanya perbedaan antara kaum Muslim yang dijadikan alat untuk menyesatkan dan melakukan tindak kekerasan apabila berbeda pandangan. Jika pergeseran makna jihad ini disalahartikan dan dipahami secara sempit, maka Islam yang terkenal
sebagai agama kasih sayang dan pembawa rahmat bagi alam semesta semakin lama akan semakin tersudutkan dan kehilangan kepercayaan publik. Terlebih aksi radikalisme dan terorisme seringkali menggunakan simbol-simbol agama dengan dalih pemurnian atau puriikasi ajaran agama yang
dianggap jalan paling benar yang dapat membawa mereka ke dalam surga.
Ketua Nahdhatul Wathan Kutai Barat juga mempunyai pandangan yang sama tentang penyimpangan dan penyalahgunaan ajaran Islam oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Kalau umat Islam betul-betul masuk dan memahami Islam secara sempurna kaffah, bukan didasari sentimen politik dan kekuasaan maka pasti akan terbentuk pola pikir Islam yang rahmatan bagi semua manusia karena Islam sudah mengajarkan semua aspek kehidupan baik sosial, politik, hukum dan ekonomi. Tidak ada satu agama yang memiliki ajaran sesempurna Islam, namun sayang sekali banyak disalahgunakan dan hanya mengambil aspek-aspek yang dapat merusak nama Islam itu sendiri seperti kasus kekerasan atas nama jihad dan terorisme. Banyak orang yang hanya bisa bicara tentang konsep rahmatan, akan tetapi pelaksanaannya nihil dan jauh dari makna konsep tersebut.
Lemahnya Ekonomi Masyarakat
Gejala radikalisme dan terorisme di Kalimantan Timur khususnya di Samarinda, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Berau salah satunya disebabkan oleh latar belakang ekonomi masyarakat yang lemah. Tingkat perekonomian masyarakat yang lemah memberikan implikasi besar terhadap perilaku menyimpang
seseorang dalam sikap keberagamaannya. Kegiatan ekonomi merupakan suatu upaya yang dilakukan seseorang dalam melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia harus berusaha dengan cara apapun, bahkan kadang-kadang menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Fenomena ISIS misalnya menargetkan kelompok-kelompok Muslim yang dari ekonomi menengah ke bawah untuk dijadikan sebagai anggota dan martir syahid dengan iming-iming gaji yang tinggi dan bidadari cantik yang menunggu di surga. Kekuatan ekonomi kelompok teroris menjadi modal penting bagi perekrutan anggota, selain dijanjikan surga, mereka juga dijamin sejahtera di dunia.
Dampak dari pengaruh tingkat perekonomian masyarakat yang timpang antara satu dengan yang lain secara tidak langsung menyebabkan perilaku keberagamaan seseorang juga ikut menyimpang, bahkan bisa keluar dari ajaran agama yang benar. Hal ini sudah terindikasi dalam hadis Nabi yang mengatakan “Kemiskinan itu sangat dekat dengan
kekairan”. Adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi dan tuntutan yang lebih dari apa yang dihasilkan telah melahirkan kondisi sosial tertentu yang tidak banyak memberikan pilihan dalam penyelesaian masalah. Tingkat kepasarahan dan frustrasi pada seseorang karena belitan ekonomi inilah yang rawan dimanfaatkan oleh orang atau kelompok lain. Dengan demikian, kesenjangan tingkat perekonomian masyarakat yang disebabkan oleh beberapa faktor merupakan sumber dari benih-benih lahirnya radikalisme dan terorisme.
Faktor ekonomi sebagai latar belakang munculnya gerakan radikalisme dan terorisme di
Indonesia diamini oleh Ketua KAMMI Samarinda. Menurut Ketua KAMMI bahwa pemikiran masyarakat Indonesia dalam sistem perekonomiannya yang menganut paham kapitalisme harus diubah karena tidak sesuai syari’at Islam. Kapitalisme dinilai sebagai sistem yang telah merusak sendi-sendi ekonomi masyarakat kelas bawah yang sulit untuk merangkak naik dan bersaing dengan kelompok pemodal yang mapan. Tawaran dari pihak KAMMI sendiri adalah apabila ingin mengembalikan ekonomi masyarakat yang mapan dan sejahtera maka harus menggunakan sistem ekonomi Islam yang diajarakan oleh Rasulullah. Ekonomi Islam telah terbukti memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi semua umat di dunia ini.
Radikalisme dan terorisme yang belakangan ini marak muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Liberalisme ekonomi yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi kelompok yang kaya saja telah berdampak pada munculnya jurang yang sangat tajam antara yang kaya dan miskin. Jika pola ekonomi seperti itu terus berlangsung, maka yang terjadi reaksinya adalah terorisme internasional. Namun jika pola ekonomi seperti ini diterapkan pada tingkat negara tertentu, maka akan memicu tindakan terorisme nasional. Boleh jadi problem kemiskinan, pengangguran, dan keterjepitan ekonomi dapat mengubah pola pikir seseorang dari yang sebelumnya berpikir lurus, kemudian menjadi sesat. Dia dapat menjadi orang yang sangat kejam dan dapat melakukan apa saja termasuk melakukan teror dengan lapisan baju agama.
Pemikiran yang sama juga dikemukakan oleh Ketua Nahdlatul Wathan Kutai Barat yang menyatakan
bahwa masalah kemiskinan di Indonesia sesungguhnya berpangkal pada buruknya distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Menurut beliau masalah ini hanya dapat diselesaikan dengan tuntas dengan cara menciptakan pola distribusi yang lebih adil dan merata, di mana setiap warga negara dijamin pemenuhan kebutuhan pokoknya dan diberi kesempatan yang luas untuk memenuhi kebutuhan sekundernya. Kesalahan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan pada saat ini adalah bentuk upaya penghapusan kemiskinan difokuskan hanya pada peningkatan produksi baik produksi total negara maupun pendapatan per kapita, dan bukan pada masalah distribusi. Maka, sistem ekonomi kapitalis tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kemiskinan karena titik pusat persoalannya, yaitu pada distribusi kekayaan yang tidak ditata secara adil sebagaimana semestinya.
Pandangan yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh salah satu Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Kutai Timur yang menyatakan bahwa pemerintahan yang datang silih berganti termasuk di Indonesia selalu mengarahkan pandangan mereka pada pertumbuhan produksi serta peningkatan pendapatan rata-rata penduduk, namun tidak pernah memberi perhatian pada persoalan bagaimana kekayaan tersebut didistribusikan dengan adil dan merata di tengah masyarakat. Padahal seiring dengan meningkatnya produksi dari waktu ke waktu telah terjadi penumpukan dan monopoli modal kekayaan di tangan segelintir orang. Pihak yang kuat meraih kekayaan lebih banyak melalui kekuatan modal yang mereka miliki. Sedangkan yang lemah semakin kekurangan karena tidak mampu bersaing akibat kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya.
Hal ini tak ayal semakin menambah angka kemiskinan. Islam memberikan penyelesaian masalah kemiskinan ini dengan cara yang unik dan lebih humanis. Intinya adalah harus ada pola distribusi yang adil dan persoalan keadilan distribusi ini disinggung dalam al-Qur’an.
Pembiaran negara terhadap berbagai persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sistem ekonomi, ketimpangan yang dihadapi masyarakat khususnya di bidang ekonomi dan ketidakseriusan pemerintah dalam merespons kiritik dan masukan warga merupakan contoh bahwa negara melakukan pembiaran terhadap kondisi masyarakat. Masyarakat hanya didekati dan diajak berdialog ketika menjelang Pemilu, Pilpres, dan Pilkada oleh politisi dan pengambil kebijakan dengan
tujuan supaya memperoleh suara yang signiikan.
Ini menunjukkan adanya pragmatisme pemerintah terhadap kekuasaan yang cenderung eksploitatif dan
artiisial. Biasanya setelah Pemilu sebagian besar pihak
yang duduk di lembaga eksekutif dan legislatif lupa dengan janji kampanyenya, bahkan terkesan tidak peduli dan cenderung melupakan akar permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Akumulasi permasalahan yang dihadapi masyarakat ini menurut salah satu tokoh Muhammadiyah Samarinda dapat menjadi akar dan sumber tumbuh suburnya radikalisme dan terorisme yang tidak murni disebabkan oleh motivasi doktrin agama, tetapi juga disebabkan oleh ketidakpuasaan mereka terhadap berbagai kondisi sosial yang menimpanya termasuk ketidakadilan distribusi dan sistem perekonomian yang tidak merata. Dari kenyataan tersebut masyarakat atau kelompok yang termarginalkan oleh negara ini
bila diakumulasi dan diindoktrinasi melalui ideologi atau doktrin yang dapat mempersatukan mereka. Maka hal tersebut dapat memperkuat akar gerakan radikalisme dan teorisme. Melalui cara indoktrinisasi ini, yang dibungkus dengan simbol dan nilai agama anggota kelompok radikal dapat melakukan cuci otak sehingga cara-cara revolusioner dan kekerasan diperbolehkan untuk mencapai tujuan perjuangannya.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor kesenjangan ekonomi yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga mengakarkan rasa kebencian anggotanya kepada sistem perekonomian kapitalisme Barat yang ada sebagai bentuk sistem perekenomian yang dianut di Indonesia. Cara ini dikemas demikian hebat sehingga menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian terhadap suku, agama, ras, antar-golongan lainnya yang tidak sepaham. Cuci otak ini dilakukan dengan berbagai macam cara, dan yang dianggap efektif adalah cara-cara ideologis misalnya, melakukan penentangan terhadap kebijakan yang ada, demonstrasi besar-besaran, pembunuhan berkedok jihad, bahkan melakukan teror meskipun harus mengorbankan diri sendiri melalui bom bunuh diri.
Maraknya paham radikalisme yang muncul di Indonesia disebabkan oleh adanya kesenjangan tingkat perekonomian masyarakat. KF, tokoh NU dan Ketua Masjid Agung di Berau menilai bahwa beralihnya seseorang kepada paham-paham tertentu telah mempengaruhi perilakunya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mereka rela menghalalkan segala macam cara demi kepuasan pribadi dan kelompok. Faktor ini juga disebabkan oleh pemahaman