• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pola Peresepan Antibiotika

Selama periode Januari sampai Juni 2014 terdapat 13 jenis antibiotika yang diresepkan serta tercatat terdapat 483 kali pemakaian antibiotika. Antibiotika yang paling banyak diresepkan adalah golongan sefalosforin (59,8%) dengan jenis antibiotika sefotaksim (33,5%), sefiksim (24,8%), seftriakson (1,1%), seftazidim

(0,2%), dan sefadroksil (0,2%). Antibiotika terbanyak kedua adalah golongan penisilin (35,2%) dengan jenis antibiotika amoksisilin (8,5%) dan ampisilin (26,7%). Urutan terbanyak ketiga adalah antibiotika golongan aminoglikosida (1,9%) dan golongan imidazol (1,9%). Antibiotika golongan aminoglikosida dengan jenis antibiotika gentamisin (0,2%) dan amikasin (1,7%). Antibiotika golongan imidazol dengan jenis antibiotika metronidazol (1,9%). Data hasil pengamatan pola peresepan golongan dan jenis antibiotika dapat dilihat dalam Tabel II.

Penelitian serupa yang membahas tentang golongan dan jenis antibiotika yang digunakan pada pasien anak rawat inap adalah penelitian tentang Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di Bangsal Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011 (Febiana, 2012). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa antibiotika yang paling banyak digunakan adalah ampisillin (22,8%), kemudian terbanyak kedua adalah seftriakson (20,6%) dan yang terbanyak ketiga adalah kloramfenikol (14,1%). Penelitian lain yang menunjukkan penggunaan antibiotika adalah Perbedaan Kuantitas Penggunaan Antibiotika pada Anak dengan Demam Tifoid di Kelas III dan Non Kelas III RSUP Dr. Kariadi Semarang Tahun 2011 (Putri, 2013). Penelitian tersebut menunjukkan antibiotika yang paling banyak digunakan adalah seftriakson (57,14%), kemudian terbanyak kedua adalah sefotaksim (28,57%), dan yang terbanyak ketiga adalah kloramfenikol (14,29%).

Tabel II. Frekuensi dan Presentase Penggunaan Antibiotika pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Anak RSUD Panembahan Senopati Periode Januari sampai Juni 2014 Berdasarkan Golongan dan Jenis Antibiotikanya

Golongan Antibiotika Jenis Antibiotika Frekuensi Presentase (%) Sefalosporin Sefotaksim Sefiksim Seftriakson Seftazidim Sefadroksil 162 120 5 1 1 33,5 24,8 1,1 0,2 0,2 Total 289 59,8 Penisilin Amoksisilin Ampisilin 41 129 8,5 26,7 Total 170 35,2 Aminoglikosida Gentamisin Amikasin 1 8 0,2 1,7 Total 9 1,9 Imidazol Metronidazol 9 1,9 Ampenikol Kloramfenikol 3 0,6 Rifampisin Rifampisin 1 0,2 Makrolida Eritromisin 2 0,4 TOTAL 483 100

Antibiotika golongan sefalosporin dan ampisilin banyak digunakan, hal ini kemungkinan disebabkan terkait dengan penggunaanya yang ditujukan sebagai terapi empiris untuk penyakit infeksi yang belum dapat diketahui penyababnya, sehingga digunakan antibiotika yang mempunyai spektrus luas seperti ampisilin dan sefalosporin. Selain itu antibiotika golongan sefalosporin, penisilin dan aminoglikosida merupakan antibiotika yang banyak digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi bakteri pada pediatri (IDAI, 2008). Pada penelitian ini antibiotika sefotaksim merupakan jenis antibiotika yang paling banyak digunakan.

68,9% 31,1%

Intravena Oral N = 483

Sefotaksim banyak ditemukan karena sefotaksim merupakan antibiotika generasi ketiga dari golongan sefalosporin, sefotaksim memiliki aktivitas spektrum luas yang dapat melawan bakteri Gram positif maupun Gram negatif sehingga sering digunakan sebagai terapi empiris pada pediatrik dengan penyakit infeksi bakteri (Babu, 2011).

Rute pemberian yang digunakan dalam pemberian antibiotika dalam penelitian ini yaitu intravena dan oral. Rute pemberian yang paling banyak digunakan adalah secara intravena dengan presentase sebesar 68,9%. Distribusi rute pemberian antibiotika tercantum pada Gambar 4.

Pemberian antibiotika secara intravena menjadi pilihan rute pemberian yang paling sering digunakan dalam penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal antara lain : pertama, pada pasien anak yang berusia < 6 tahun, pemberian antibiotika dengan menggunakan rute per-oral (terutama sediaan tablet) sulit untuk dilakukan. Anak biasanya akan menolak apabila diberikan sediaan tablet karena berbagai macam alasan diantaranya kesulitan dalam Gambar 4. Distribusi Rute Pemberian Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul selama Periode Januari-Juni 2014

menelan sediaan serta rasa dari sediaan tablet yang biasanya pahit. Untuk itu para tenaga kesehatan cenderung memberikan sediaan injeksi pada pasien anak dimana sediaan injeksi ini biasanya dapat langsung dimasukkan melalui cairan infus atau melalui conecta yang terpasang pada set infus (Shea et al., 2001).

Kedua, rute pemberian oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi yang tergolong ringan contohnya seperti bronkitis, tonsilofaringitis,

cystitis, ISK (yang tidak menetap dan berulang), dan diare bakterial. Rute pemberian secara intravena biasanya digunakan untuk terapi infeksi yang tergolong sedang sampai berat (Kemenkes RI, 2011). Pada penelitian ini, banyak ditemukan penyakit infeksi pada pasien anak rawat inap yang kategorinya tergolong sedang sampai berat. Berdasarkan studi literatur, penyakit infeksi seperti pneumonia, sepsis, ensefalitis bakterial, penyakit paru kronis, meningitis, kandidasis dan ureterolitis merupakan penyakit infeksi yang termasuk dalam kategori penyakit infeksi yang sedang sampai berat (Reed and Glover., 2005; Hardman and Limbird., 2012). Pemberian antibiotika secara intravena lebih dipilih untuk penyakit infeksi kategori sedang sampai dengan berat dikarenakan onsetnya cepat dan bioavailibilitas sediaan yang diberikan melalui rute intravena lebih tinggi daripada rute pemberian oral. Onset yang cepat dan bioavailibilitas yang tinggi akan menyebabkan efek aksi antibiotika dalam menghambat atau menbunuh kuman penyebab infeksi akan lebih maksimal (Hakim, 2012). Banyaknya jumlah penyakit infeksi yang ditemukan seperti pneumonia, sepsis, bronkopneumonia pada penelitian ini menyebabkan rute pemberian antibiotika secara intravena banyak dilakukan.

Identifikasi terhadap rute pemberian antibiotika penting untuk dilakukan karena beberapa antibiotika memiliki nilai standar DDD WHO berbeda untuk masing-masing rute pemberian. Salah satu contoh adalah nilai standar DDD untuk siprofloksasin, pada pemberian secara parenteral siprofloksasin memiliki nilai standar sebesar 1, namun pada pemberian secara per-oral siprofloksasin memiliki nilai standar sebesar 0,5. Adanya perbedaan nilai standar dari masing-masing rute pemberian untuk satu jenis antibiotika nantinya akan berpengaruh terhadap penentuan tinggi rendahnya nilai DDD dari suatu antibiotika yang diperoleh. Penentuan tinggi rendahnya nilai DDD dari suatu antibiotika ditentukan oleh perbandingan nilai DDD yang diperoleh dengan nilai DDD standar yang telah ditetapkan. Nilai DDD dari suatu antibiotika dikatakan tinggi apabila nilai DDD yang diperoleh lebih besar dari nilai DDD standar yang telah ditetapkan (WHO, 2012).

Bentuk sediaan yang paling sering digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk sediaan injeksi dengan presentase sebesar 69,1%. Presentase pemakaian bentuk sediaan antibiotika tercantum pada Gambar 5. Tingginya penggunaan bentuk sediaan injeksi disebabkan karena banyaknya rute pemakaian intravena yang digunakan dalam pemberian antibiotika.

69,1% 28,8% 2,1% Injeksi Tablet Sirup N = 483

Dari 483 pola peresepan antibiotika yang telah diresepkan, diperoleh karakteristik aturan pemakaian antibiotika yang paling banyak diresepkan adalah 3 x sehari dengan presentase 63,6%. Gambaran distribusi aturan pemakaian antibiotika yang diresepkan pada pasien anak dapat dilihat pada Gambar 6.

Aturan pemakaian antibiotika menggambarkan frekuensi penggunaan antibiotika yang digunakan pasien per hari. Semakin tinggi frekuensi antibiotika yang digunakan dalam satu hari, maka akan menyebabkan dosis penggunaan antibiotika semakin besar. Meningkatnya dosis akan berpengaruh pada jumlah (gram) antibiotika yang diterima oleh pasien. Semakin besar jumlah (gram) antibiotika yang digunakan akan memungkinkan menyebabkan nilai DDD dan PDD dari suatu jenis antibiotika semakin besar pula (WHO, 2012).

Gambar 5. Frekuensi dan Presentase Pemakaian Bentuk Sediaan Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari sampai Juni 2014

0,2% 30,4% 63,6% 5,8% 1 x sehari 2 x sehari 3 x sehari 4 x sehari N = 483

Lama penggunaan antibiotika di RSUD Panembahan Senopati Bantul yaitu antara 1 sampai 15 hari. Lama penggunaan antibiotika kemudian dibagi menjadi tiga kelompok yaitu lama penggunaan antibiotika 1 sampai 5 hari, lama penggunaan antibiotika 6 sampai 10 hari dan lama penggunaan antibiotika 11 sampai 15 hari. Data mengenai lama penggunaan antibiotika dari setiap pasien menunjukkan bahwa lama penggunaan antibiotika selama 1 sampai 5 hari merupakan waktu lama penggunaan antibiotika yang paling sering ditemui di bangsal anak dengan presentase sebesar 82,2%. Distribusi lama penggunaan antibiotika tercantum pada Gambar 7.

Lama penggunaan antibiotika untuk sebagian besar penyakit infeksi adalah selama 3-7 hari (Kemenkes RI, 2011). Pada penelitian ini lama penggunaan antibiotika yang paling sering ditemukan adalah selama 1-5 hari. Terdapat beberapa faktor kemungkinan yang mempengaruhi besarnya temuan lama penggunaan antibiotika 1 sampai 5 hari diantaranya : pertama, banyak antibiotika diresepkan dengan tujuan sebagai terapi empiris. Pada kasus terapi Gambar 6. Distribusi Aturan Pemakaian Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Periode Januari sampai Juni 2014

empiris digunakan antibiotika dengan spektrum luas seperti antibiotika golongan sefalosporin atau penisilin dengan lama pemakaian antibiotika adalah 2 sampai 3 hari (Permenkes, 2011). Pada penelitian ini ditemukan bahwa golongan sefalosporin dan penisilin merupakan antibiotika yang paling banyak diresepkan, hal ini ikut berkontribusi terhadap besarnya jumlah pemakaian antibiotika yang digunakan dengan lama pemakaian 1 sampai 5 hari.

Kedua, lama pemberian antibiotika untuk sebagian besar penyakit infeksi contohnya seperti pneumonia, bronkopneumonia, cystitis, sepsis, dan ISK adalah 3 sampai dengan 7 hari (Coyle and Prince, 2005; Finch, 2010; Kemenkes RI, 2011). Hal ini juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya jumlah pemakaian antibiotika yang digunakan dengan lama pemakaian 1 sampai dengan 5 hari, mengingat penyakit pneumonia dan bronkopneumonia termasuk penyakit infeksi yang banyak ditemui pada penelitian ini.

Lama penggunaan antibiotika juga dapat berpengaruh terhadap hasil nilai PDD dan DDD. Semakin lama waktu penggunaan antibiotika pada saat pasien menjalani rawat inap maka semakin besar dosis antibiotika yang diterima oleh pasien tersebut. Semakin besarnya dosis antibiotika yang digunakan oleh pasien per harinya akan memiliki kemungkinan untuk menyebabkan nilai DDD dan PDD dari suatu jenis antibiotika akan semakin besar pula (WHO, 2012).

82,2% 17,6% 0,2% 1 sampai 5 hari 6 sampai 10 hari 11 sampai 15 hari N = 483

Pembagian lama rawat inap didasarkan pada studi dari beberapa literatur dimana lama pengobatan serta perawatan untuk sebagian besar penyakit infeksi sampai dengan pasien diperbolehkan keluar dari rumah sakit adalah sekitar 5 sampai dengan 7 hari (Kemenkes, 2011). Pembagian interval dilakukan dengan membagi lama rawat inap menjadi beberapa interval dengan jarak interval adalah

7 hari, sehingga lama rawat inap dibagi menjadi interval ≤ 7 hari (satu minggu),

8≤ lama rawat inap < 15 hari (atau 2 minggu), 15 ≤ lama rawat < 22 hari (tiga

minggu). Frekuensi lama hari rawat inap terbanyak adalah lama rawat inap pasien

anak ≤ 7 hari dengan presentase sebesar 67,8%. Distribusi lama rawat inap pasien

dapat dilihat pada Gambar 8.

Selama periode Januari sampai dengan Juni 2014, tercatat total lama rawat inap dari 239 pasien adalah 1346 hari. Total rawat inap pasien anak pada penelitian ini digunakan dalam perhitungan DDD dimana total lama rawat inap akan digunakan sebagai pembagi bersama nilai standar DDD WHO, jumlah tempat tidur, bed occupation rate (BOR), dan jumlah hari dalam periode tertentu. Gambar 7. Distribusi Lama Penggunaan Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Periode Januari sampai Juni 2014

67,8% 30,5%

1,7%

Lama rawat inap ≤ 7 hari 8 ≤ lama rawat inap < 15 hari 15 ≤ lama rawat inap < 22 hari

N = 239

Berdasarkan rumusan dari metode DDD, nilai total lama rawat inap berbanding terbalik dengan hasil nilai DDD yang akan didapat. Nilai DDD yang didapat akan semakin kecil apabila nilai total lama rawat inap pasien semakin besar. Akan tetapi besarnya nilai total lama rawat inap tidak selalu berarti nilai DDD akan lebih kecil dan sesuai standar. Hal ini dapat terjadi karena pada kenyataannya berdasarkan beberapa penelitian banyak ditemukan penggunaan antibiotika yang tidak rasional sehingga menimbulkan pemakaian yang berlebihan (Hadi et al, 2008).

Temuan terhadap tingginya persentase untuk lama rawat inap ≤ 7 hari, sesuai dengan hasil dari studi literatur yang telah didapatkan, dimana lama pengobatannya serta perawatannya sampai dengan pasien diperbolehkan keluar dari rumah sakit adalah sekitar 5 sampai dengan 7 hari untuk sebagian besar penyakit infeksi. Beberapa penyakit infeksi yang ditemukan sebagai penyakit utama pada penelitian ini seperti pneumonia, diare, demam dengan kejang,

Gambar 8. Distribusi Jumlah Pasien Anak Berdasarkan Lama Rawat Inap di Bangsal Anak RSUD Panembahan Senopati Periode Januari sampai Juni 2014

nasofaringitis, dan ISK dan penyakit utama lain yang jumlahnya kecil seperti tonsilofaringitis akut, bronkiolitis, suspect demam tifoid, cystitis, dan otitis media memiliki rata-rata lama rawat inap ≤7 hari (Kemenkes, 2011).

Dokumen terkait