• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pola Peresepan Antibiotika Pada Pasien ICU

c. Variabel-variabel untuk menghitung jumlah ketidaksesuaian pemberian antibiotika yaitu dosis, frekuensi, hasil kultur dan sensitivitas bakteri

Data yang telah dikelompokkan selanjutnya dianalisis.

G. Analisis Hasil

Data yang telah diperoleh dihitung dan dianalisis secara deskriptif evaluatif dengan ditampilkan dalam bentuk tabel atau gambar, meliputi:

1. Profil pasien ICU. Dihitung jumlah kasus jenis kelamin, umur dan diagnosis dan dihitung persentasenya kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel atau gambar.

2. Pola peresepan antibiotika. Dihitung jumlah golongan antibiotika, jenis dan durasi pemberian antibiotika dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. 3. Dosis antibiotika yang diberikan pada pasien dianalisis kesesuaiannya berdasarkan Drug Information Handbook (2011). Dihitung ketidaksesuaian yang ditemukan. Analisis ketidaksesuaian antibiotika berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas bakteri dilakukan dengan cara menghitung banyaknya bakteri yang bersifat resisten terhadap terapi definitif yang diberikan.

H. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah berat badan pasien ICU tidak dapat diukur secara pasti sehingga penentuan dosis juga tidak dapat dilakukan dengan pasti. Rumah Sakit Panti Rapih tidak dapat menguji sensitivitas bakteri terhadap metronidazol dan tetrasiklin sehingga hasil sensitivitas kedua antibiotika tersebut tidak dapat diketahui. Hal ini mengakibatkan metronidazol dan tetrasiklin tidak dapat dilakukan penilaian kesesuaian berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas bakteri. Keterbatasan lainnya adalah pihak rumah sakit tidak memberikan standar pelayanan medik yang digunakan untuk terapi antibiotika pada pasien ICU sehingga evaluasi ketepatan dosis menggunakan standar lain yang mungkin berbeda dari yang digunakan oleh RS Panti Rapih.

17

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil pasien yang menerima antibiotika di bangsal Intensive Care Unit di rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Juli-Desember

2012

Dari 62 pasien ICU terdapat 43 pasien pria dan 19 pasien wanita. Hasil ini sama dengan penelitian Yuniftiadi dkk (2010) dan Fauziyah (2010), yang melakukan penelitian serupa, menemukan bahwa pasien pria lebih banyak dirawat di ICU dibandingkan pasien wanita.

Gambar 1. Perbandingan jumlah pasien ICU berdasarkan jenis kelamin

Pasien yang masuk dalam kriteria inklusi peneliti yaitu pasien yang

berusia ≥14 tahun. Hal ini dikarenakan kriteria pasien dewasa rumah sakit swasta yang diteliti berusia ≥14 tahun. Pembagian umur yang dilakukan secara klinis atau berdasarkan pembagian umur WHO yang dikutip oleh Walker (2003) yaitu umur <18 (remaja), 18-≤45 tahun (dewasa), >45-≤60 tahun (usia pertengahan), >60-≤75

tahun (lanjut usia), >75-≤90 tahun (lansia tua), >91 (sangat tua).

69,35% 30,65%

Pria

Pasien yang paling banyak di rawat di ICU berumur >60-≤75 tahun. Hal

kemampuan imunitas tubuh melawan infeksi telah menurun, kesakitan meningkat misalnya penyakit infeksi, kanker, atau penyakit kronik (Fatmah, 2006), ditambah lagi bila terdapat penyakit degeneratif yang tidak terkontrol.

Dari 62 pasien yang dicatat rekam mediknya, didapatkan distribusi pasien berdasarkan umur:

Gambar 2. Distribusi jumlah pasien berdasarkan umur

Diagnosis yang paling banyak ditemukan adalah gangguan neurologi. Penyakit yang berhubungan dengan gangguan neurologi yang ditemukan pada pasien ICU adalah stroke, cedera kepala, dan meningitis. Stroke merupakan penyakit gangguan neurologi yang paling banyak ditemui pada pasien ICU. Menurut WHO stroke merupakan gangguan pasokan darah ke otak, hal ini dapat disebabkan karena penyumbatan pada pembuluh darah atau pecahnya pembuluh

3,23% 14,52% 27,42% 37,1% 16,13% 1,61% <18 tahun 18 - ≤45 tahun >45 - ≤60 tahun > 60 –≤75 tahun >75 - ≤90 tahun >91 tahun

darah. Hal ini harus segera ditangani agar darah tidak menyebar luas ke otak dan menyebabkan kematian. Hal ini mengakibatkan pasien dengan diagnosis stroke kebanyakan membutuhkan perawatan intensif. Banyak studi mengatakan bahwa stroke tidak hanya menyebabkan gangguan motorik, namun juga menyababkan penurunan imunitas yang mengakibatkan mudahnya terserang infeksi bakteri. Berdasarkan penelitian di beberapa rumah sakit di dunia, prevalensi infeksi pasca stroke sebesar 30% (Westendorp, Nederkoorn, Vermeji, Dijkgraaf, dan van de Beek, 2011). Untuk mengurangi terjadinya infeksi pada stroke akut dapat diberikan antibiotika preventif, misalnya golongan fluorokuinolon dan tetrasiklin atau kombinasi beta-laktam dan beta-laktamase inhibitor (van de Beek et al., 2009). Meningitis merupakan peradangan pada ruang subaraknoid atau pada cairan tulang belakang yang disebabkan karena infeksi mikroorganisme. Bakteri yang menyebabkan meningitis pada orang dewasa yaitu N. meningitidis, S .pneumoniae, H. influenzae dan terapi empiris yang dapat diberikan yaitu vankomisin dan sefotaksim atau seftriakson (Dipiro et al., 2008). Cedera kepala dapat menyababkan masuknya bakteri apabila terjadi fraktur tulang tengkorak atau luka terbuka yang merobek selaput otak (NHS, 2014).

Pasien dengan gangguan sistem neurologi sebanyak 13 pasien namun hanya 8 pasien yang mendapat kultur bakteri. Spesimen yang diambil untuk dilakukan kultur bakteri yaitu sputum, urine, dan cairan intra abdominal. Bakteri yang paling banyak ditemukan yaitu Pseudomonas putrefactiens dalam spesimen sputum. Adanya bakteri ini dalam sputum dapat berkaitan dengan pneumonia.

Data terkait spesimen dan jenis bakteri yang ditemukan pada pasien dengan gangguan sistem neurologi dapat dilihat pada lampiran 5.

Penyakit infeksi sistemik merupakan diagnosis utama urutan kedua paling banyak ditemui pada pasien ICU. Sepsis dapat diartikan dengan adanya toksin mikroba di dalam darah. Inflamasi akut lokal dapat menimbulkan respon tubuh yang luas sehingga dapat mengakibatkan respon inflamasi sistemik dan pada akhirnya dapat menimbulkan sepsis. Banyak studi menyatakan bahwa kematian pasien dengan diagnosis sepsis meningkat bila antibiotika yang diberikan tidak adekuat mengatasi bakteri penyebab sepsis. Antibiotika juga harus segera diberikan untuk mengatasi sepsis, bila tidak diberikan sekurang-kurangnya 6 jam maka dapat meningkatkan kematian pasien. Maka dari itu, antibiotika yang diberikan sebaiknya berdasarkan bukti empiris infeksi yang diduga dan mempertimbangkan pola resistensi bakteri.

Pasien dengan penyakit infeksi sistemik sebanyak 12 pasien namun hanya 3 pasien yang dilakukan kultur bakteri. Spesimen yang diambil untuk dilakukan kultur yaitu sputum dan darah. Adanya bakteri dalam sputum berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan. Adanya bakteri dalam darah menandakan terjadinya sepsis atau infeksi sistemik. Jenis bakteri yang ditemukan dapat dilihat pada lampiran 5.

Gangguan gastrointestinal merupakan diagnosis utama urutan ketiga paling banyak ditemui pada pasien ICU. Gangguan sistem gantrointestinal yang ditemukan yaitu melena dan ileus. Melena merupakan pengeluaran tinja yang

berwarna hitam dan lengket karena terjadi perdarahan saluran cerna bagian atas. Tinja yang berwarna hitam merupakan perubahan hemoglobin menjadi hematin oleh bakteri setelah 14 jam. Ileus merupakan kondisi medis terjadinya penyumbatan pada usus. Ileus mencegah pergerakan makanan, cairan, dan gas pada usus. Penyumbatan ini dikarenakan otot usus tidak dapat bergerak dengan semestinya tanpa adanya kerusakan mekanik usus. Tidak terdapat pasien dengan gangguan sistem gastrointestinal yang mendapat kultur.

Gangguan sistem pernapasan menempati urutan keempat dengan pasien sebanyak 6. Gangguan sistem pernapasan yang ditemukan yaitu pneumonia, bronkopneumonia, edema paru akut, dan PPOK. Pneumonia merupakan peradangan paru yang dapat disebabkan karena bakteri Streptococcus pneumoniae. PPOK atau penyakit paru obstruksi kronis merupakan faktor risiko terjadinya pneumonia (Hadjiliadis et al., 2013). Pada gangguan sistem pernapasan terdapat 2 pasien yang dilakukan uji kultur bakteri. Spesimen yang digunakan yaitu sputum dan darah. Bakteri yang paling ditemukan dalam sputum yaitu

Staphylococcus epidermidis. Adanya bakteri ini dalam sputum berhubungan dengan pneumonia. Jenis bakteri lain yang ditemukan dalam sputum dan darah dapat dilihat pada lampiran 5.

Gangguan endokrin dan metabolik menempati urutan kelima dengan pasien sebanyak 6. Yang termasuk dalam gangguan sistem endokrin dan metabolik yang ditemukan yaitu diabetes melitus tipe 2, hiperurisemia, dan asidosis metabolik berat. Pasien dengan diabetes melitus lebih mudah terkena infeksi bakteri daripada pasien non diabetes melitus. Ulkus kaki diabetika

merupakan komplikasi yang sering terjadi karena adanya infeksi Staphylococcus aureus. Prevalensi abses hati karena Klebsiella pneumoniae juga lebih besar pada penderita diabetes (Gan, 2013). Dari 6 pasien yang mengalami gangguan sistem endokrin dan metabolik, terdapat 3 pasien yang dilakukan uji kultur bakteri. Spesimen yang digunakan pada ketiga pasien tersebut adalah jaringan, sputum, dan urine. Jenis bakteri yang ditemukan dapat dilihat pada lampiran 5.

Gangguan ginjal menempati urutan keenam dengan jumlah pasien sebanyak 5. Gangguan ginjal yang ditemukan yaitu gagal ginjal kronis (GGK), insufisiensi renal, epidermoid ginjal. Terdapat beberapa faktor risiko yang membuat pasien dengan GGK dan penyakit ginjal tahap akhir mudah terkena infeksi, yaitu umur, penyakit penyerta, hipoalbuminemia, terapi imunosupresif, sindrom nefrotik, urinemia, anemia, dan malnutrisi (Dalrymple dan Go, 2008). Dilakukan uji kultur bakteri pada 2 pasien yang mengalami gangguan ginjal. Spesimen yang paling banyak digunakan yaitu sputum. Jenis bakteri pada spesimen sputum dan pus dapat dilihat pada lampiran 5.

Gangguan sistem kardiovaskuler menempati urutan ketujuh dengan pasien sebanyak 4. Gangguan sistem kardiovaskuler yang ditemukan yaitu gagal jantung kongestif dan syok kardiogenik. Gagal jantung kongestif merupakan penyakit yang berhubungan dengan terjadinya endokarditis. Endokarditis (infeksi bakteri pada endotelium dan katup jantung) lebih banyak terjadi pada orang dengan panyakit jantung daripada orang dengan jantung yang normal (Cabell, Abrutyn, dan Karchmer, 2003). Bakteri yang umum menyebabkan endokarditis yaitu Staphylococcus aureus, Enterococcus, Streptococcus (Vyas., 2012).

Kombinasi ampisilin dan seftriakson atau kombinasi ampisilin dan gentamisin dapat digunakan untuk mengatasi endokarditis karena infeksi Enterococcus faecalis (Brusch et al., 2013). Dilakukan uji kultur bakteri pada dua pasien dengan spesimen sputum. Jenis bakteri pada spesimen sputum dan pus dapat dilihat pada lampiran 5.

Gangguan sistem hematologi merupakan urutan kedelapan dengan pasien sebanyak 3. Gangguan sistem hematologi yang ditemukan yaitu anemia dengan bisitopenia dan AIHA (Autoimmune Hemolitic Anemia). Produksi antibodi melawan sel darah merah dapat dikarenakan oleh infeksi Mycoplasma pneumoniae. Bakteri ini berkaitan dengan perkembangan AIHA. Antibodi dan anemia cenderung berkurang setelah infeksi benar-benar diselesaikan (IHTC, 2011). Dilakukan uji kultur bakteri pada dua pasien dengan gangguan sistem hematologi. Spesimen yang digunakan yaitu sputum dan urine. AIHA dapat disebabkan oleh antibodi yang berhubungan dengan infeksi, seperti Mycoplasma pneumoniae. Bakteri ini dapat menyebabkan pneumonia pada pasien dengan umur di bawah 40 tahun (Jovinelly, 2012). Jenis bakteri lain yang terdapat pada sputum dan urine dapat dilihat pada lampiran 5.

Penyakit hati menempati urutan kesembilan dengan jumlah pasien sebanyak 2. Penyakit hati yang ditemui yaitu sirosis hati dan hepatitis. Pasien dengan sirosis hati memiliki risiko terhadap perkembangan infeksi bakteri serius. Infeksi yang paling sering terjadi pada sirosis yaitu Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP), diikuti dengan pneumonia dan bakteremia. Bakteri yang sering menginfeksi pada pasien dengan sirosis hati yaitu Escherichia coli,

Staphylococcus aureus, Enterococcus faecalis, dan Streptococcus pneumoniae

(Taneja, 2011). Dari dua pasien yang mengalami penyakit hati, terdapat satu pasien yang mendapat kultur bakteri. Spesimen yang digunakan yaitu sputum. Bakteri yang ditemukan adalah Pseudomonas putrefactiens dan Seratia rubideae.

Penyakit infeksi nemempati urutan kesepuluh dengan jumlah pasien sebanyak 2. Penyakit infeksi yang ditemukan adalah peritonitis. Peritonitis adalah peradangan peritonium yang merupakan selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan organ-organ dalam. Peradangan ini disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur yang dapat menyebar luas ke tubuh. Dari dua pasien yang mengalami penyakit infeksi, terdapat satu pasien yang dilakukan uji kultur bakteri. Spesimen yang digunakan yaitu sputum, urine, dan cairan intra abdominal. Jenis bakteri yang terdapat pada masing-masing spesimen dapat dilihat pada lampiran 5.

Gangguan sistem urologi menempati urutan kesebelas sedangkan astenia menempati urutan keduabelas. Jumlah pasien yang mengalami gangguan sistem urologi dan astenia masing-masing satu pasien. Gangguan sistem urologi yang ditemukan yaitu Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). BPH merupakan penyakit pada laki-laki yang sering ditemukan pada usia diatas 50 tahun. Berdasarkan letak anatomi prostat, pembesaran prostat akan menekan lumen uretra sehingga hal ini akan menyumbat aliran kandung kemih. Kerusakan kandung kemih kronis dapat menyebabkan retensi urin, insufisiensi ginjal, dan infeksi saluran kemih (Deters, 2014). Tidak dilakukan uji kultur bakteri pada pasien dengan gangguan sistem urologi sedangkan pada pasien dengan astenia dilakukan uju kultur bakteri.

Spesimen yang digunakan yaitu urine, dengan jenis bakteri Enterobacter aerogenes.

Terdapat 12 golongan diagnosis penyakit utama yang ditemukan pada 62 pasien ICU yang menerima antibiotika:

Gambar 3. Distribusi jumlah pasien ICU berdasarkan diagnosis

B. Pola peresapan antibiotika pada pasien Intensive Care Unit Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Juli-Desember 2012

Pada pasien ICU hampir seluruh jenis antibiotika yang digunakan melalui rute parenteral (96,049%), hanya tetrasiklin yang digunakan melalui rute oral (3,951%). Terdapat 3 pasien yang menggunakan antibiotika tetrasiklin namun ketiga pasien tersebut juga menggunakan antibiotika lain dengan rute parenteral.

Tidak menutup kemungkinan bahwa 62 pasien yang dirawat di ICU menerima lebih dari satu jenis antibiotika dengan rute atau durasi yang berbeda. Enam puluh dua pasien ICU yang dirawat pada periode Juli-Desember 2012

20,97 % 19,35% 11,29% 9,68% 9,68% 8,06% 6,45% 4,84% 3,23% 3,23% 1,61% 1,61%

Gangguan sistem neurologi

Penyakit infeksi sitemik

Gangguan sistem gastrointestinal

Gangguan sistem pernapasan

Gangguan sistem endokrin dan metabolik

Gangguan ginjal

Gangguan sistem kardiovaskuler

Gangguan hematologi

menggunakan 12 golongan antibiotika. Dua belas golongan tersebut adalah karbapenem, fluorokuinolon, sefalosporin generasi kedua, sefalosporin generasi ketiga, sefalosporin generasi keempat, derivat imidazol, aminoglikosida lain, tetrasiklin, glikopeptida, amfenikol, streptomisin, dan golongan antibakterial lain.

Golongan antibiotika yang paling banyak digunakan adalah karbapenem dengan jumlah pasien yang menggunakan sebanyak 51 pasien. Pada golongan karbapenem, 45 pasien menggunakan meropenem, 4 pasien menggunakan doripenem, dan 2 pasien menggunakan imipenem. Karbapenem merupakan antibiotika berspektrum luas, aktif terhadap bakteri gram positif, bakteri gram negatif, dan bakteri anaerob. Karbapenem dapat digunakan sebagai pengobatan awal infeksi kronis bronkus, infeksi intra abdominal, alternatif untuk pengobatan kontaminasi akut luka abdominal, pengobatan dengan rute parenteral untuk infeksi saluran kemih, sebagai terapi empiris pengobatan sepsis intra abdominal, kulit dan jaringan lunak yang didapat di rumah sakit. Karbapenem juga diindikasikan untuk pengobatan patogen resisten seperti Enterobacteriaceae, P. aeruginosa pada pasien dengan penyakit kritis (Dipiro et al., 2008). Hal ini yang mengakibatkan karbapenem menjadi golongan yang paling banyak digunakan pada pasien ICU.

Golongan antibiotika urutan kedua terbanyak yaitu golongan sefalosporin generasi ketiga dengan jumlah pasien yang menggunakan sebanyak 30 pasien. Kebanyakan jenis antibiotika yang termasuk golongan ini kurang aktif melawan bakteri gram positif dibandingkan dengan golongan sefalosporin generasi pertama dan kedua, namun lebih aktif melawan bakteri gram negatif. Sefalosporin generasi

ketiga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang didapat di rumah sakit. Sefalosporin generasi ketiga juga memiliki penetrasi yang baik pada sistem saraf pusat, sehingga antibiotika ini dapat digunakan untuk mengobati meningitis yang disebabkan oleh pneumococci, meningococci, H. influenzae dan Klebsiella

(Prasad, Kumar, Singhal, Gupta, 2013). Jenis antibiotika yang paling banyak digunakan pada golongan ini yaitu sefoperazon + sulbaktam dengan jumlah pasien yang menggunakan sebanyak 11 pasien.

Urutan ketiga golongan antibiotika yang paling banyak digunakan yaitu fluorokuinolon dengan jumlah pasien yang menggunakan sebanyak 27 pasien. Fluorokuinolon merupakan antibiotika berspektrum luas, terutama aktif terhadap bakteri patogen gram negatif, memiliki sifat bakterisida cepat. Fluorokuinolon merupakan antibakterial yang sering digunakan dan sering dikombinasikan dengan antibakterial lain (makrolida dan rifampin) untuk meningkatkan perlawanan terhadap bakteri gram positif. Fluorokuinolon dapat digunakan untuk terapi penyakit paru obstruksi kronis dengan eksaserbasi yang rumit (>4 eksaserbasi per tahun), eksaserbasi yang rumit dengan risiko Pseudomonas aeruginosa, pengobatan nosokomial pneumonia, infeksi saluran napas bawah (Dipiro et al., 2008). Jenis antibiotika yang paling banyak digunakan pada golongan ini yaitu levofloksasin dengan jumlah pasien yang menggunakan sebanyak 26 pasien.

Tiga golongan antibiotika yang paling banyak digunakan oleh pasien ICU secara berturut-turut yaitu karbapenem, sefalosporin generasi ketiga, dan

fluorokuinolon. Tiga jenis antibiotika yang paling banyak digunakan oleh pasien ICU secara berturut-turut yaitu meropenem, levofloksasin, dan metronidazol.

Tabel III. Distribusi persentase pasien yang menggunakan antibiotika tiap golongan dan jenis (n=165)

No Golongan antibiotika Persentase

pasien Jenis antibiotika

Persentase pasien 1. Karbapenem 30,91 Meropenem 27,27 Doripenem 2,42 Imipenem 1,21 2. Sefalosporin generasi ketiga 18,18 Sefoperazon+sulbaktam 6,67 Seftriakson 4,85 Seftazidim 4,85 Seftizoksim 0,61 Sefotaksim 1,21 3. Fluorokuinolon 16,35 Levofloksasin 15,76 Siprofloksasin 0,61

4. Derivat imidazol 13,33 Metronidazol 13,33

5. Aminoglikosida lain 10,30 Amikasin 8,48 Gentamisin 1,21 Netilmisin 0,61 6. Sefalosporin generasi keempat 2,42 Sefepim 1,82 Sefpirom 0,61 7. Tetrasiklin 2,42 Tetrasiklin 1,82 Tigesiklin 0,61

8. Antibakterial lain 2,42 Fosfomisin 2,42

9. Glikopeptida 1,82 Teikoplanin 1,82

10. Sefalosporin generasi

kedua 0,61 Sefuroksim 0,61

11. Amfenikol 0,61 Kloramfenikol 0,61

12. Streptomisin 0,61 Streptomisin 0,61

Durasi penggunaan antibiotika untuk terapi empiris, atau sebelum diketahui dengan pasti bakteri penyebab, menurut Permenkes RI tahun 2011 yaitu selama 48-72 jam. Menurut American Thoracic Society, infeksi pernapasan bawah karena H. influenza dan S. aureus sebaiknya diberikan terapi antibiotika 7-10 hari, sedangkan infeksi yang disebabkan karena P. aeruginosa dan jenis Acinetobacter

Berdasarkan Drug Information Handbook kebanyakan antibiotika diberikan dengan durasi 5-7 hari dan 7-14 hari. Berdasarkan pertimbangan tersebut, peneliti membagi durasi antibiotika dalam 6 kelompok, yaitu <2 hari, 2-3 hari, 4-7 hari, 8-14 hari, 15-21 hari, >21 hari.

Tiga puluh satu pasien menerima antibiotika dengan durasi <2 hari. Terdapat 15 jenis antibiotika yang diberikan selama <2 hari, yaitu meropenem, levofloksasin, metronidazol, amikasin, seftriakson, seftazidim, sefepim, tetrasiklin, doripenem, teikoplanin, imipenem, siprofloksasin, kloramfenikol, sefpirom, dan streptomisin. Antibiotika hanya diberikan selama <2 hari dikarenakan terdapat 9 pasien ICU meninggal sebelum terapi antibiotika selesai diberikan, dapat juga dikarenakan pasien mengalami alergi, atau hasil kultur telah didapatkan dan antibiotika diganti atau tidak digunakan lagi.

Durasi pemberian antibiotika selama 2-3 hari menempati urutan kedua dengan jumlah pasien sebanyak 29 pasien. Terdapat 13 jenis antibiotika yang diberikan selama 2-3 hari, yaitu meropenem, levofloksasin, metronidazol, amikasin, sefoperazon+sulbaktam, seftriakson, seftazidim, fosfomisin, sefepim, tetrasiklin, imipenem, gentamisin, dan sefotaksim.

Urutan ketiga durasi antibiotika yang paling banyak diberikan yaitu durasi 4-7 hari dengan jumlah pasien sebanyak 26 pasien. Terdapat 14 antibiotika yang diberikan selama 4-7 hari, yaitu meropenem, levofloksasin, metronidazol, amikasin, sefoperazon+sulbaktam, seftriakson, seftazidim, fosfomisin, sefepim, tetrasiklin, doripenem, siprofloksasin, tigesiklin, dan seftizoksim.

Urutan keempat adalah durasi pemberian antibiotika 8-14 hari dengan jumlah pasien sebanyak 17. Terdapat 12 jenis antibiotika yang diberikan selama 8-14 hari, yaitu meropenem, levofloksasin, metronidazol, amikasin, sefoperazon+sulbaktam, sefepim, tetrasiklin, doripenem, teikoplanin, gentamisin, netilmisin, dan sefuroksim.

Durasi pemberian antibiotika 15-21 hari dan >21 hari menempati urutan kelima dan enam dengan jumlah pasien masing-masing sebanyak 1 pasien. Hanya terdapat 1 jenis antibiotika yang diberikan selama 15-21 hari yaitu sefoperazon+sulbaktam, sedangnya antibiotika yang diberikan >21 hari yaitu doripenem.

Tabel IV. Distribusi persentase pasien yang menggunakan antibiotika berdasarkan durasi (n=105)

No. Durasi Persentase pasien

1. <2 hari 29,52 2, 2-3 hari 27,62 3. 4-7 hari 24,76 4. 8-14 hari 16,19 5. 15-21 hari 0,95 6. >21 hari 0,95

C. Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan dosis, kultur dan

Dokumen terkait