BAB ENAM
PEDOMAN PEMBINAAN KARIR PEGAWAI NEGERI SIPIL SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI
H. POLA DASAR KARIER
I. POLA PERPINDAHAN (ALUR KARIR) JABATAN STRUKTURAL
1. Umum
a. Setjen DPR RI dalam melakukan pembinaan karir menerapkan sistem merit.
b. Setjen DPR setiap tahun melaporkan kepada KASN mengenai pelaksanaan sistem merit untuk mendapatkan persetujuan.
51 2. Perpindahan Jabatan
Perpindahan jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) dalam rangka pembinaan karir atau untuk kepentingan dinas dilaksanakan dengan cara dipindahkan dari instansi di mana pegawai dipekerjakan atau diperbantukan atau dapat juga melalui perpindahan antar unit kerja. Perpindahan jabatan dan atau perpindahan unit kerja dilaksanakan secara teratur antara 2 (dua) tahun sampai dengan 5 (lima) tahun sejak seseorang menduduki satu jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) tertentu. Pola perpindahan jabatan secara struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi), yaitu:
a. Perpindahan jabatan secara horizontal adalah perpindahan jabatan dari eselon yang sama (rotasi);
b. Perpindahan jabatan secara vertikal adalah perpindahan jabatan yang rendah ke eselon yang lebih tinggi (promosi); dan
c. Perpindahan jabatan secara diagonal adalah perpindahan dari jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) ke jabatan fungsiona.
d. Perpindahan jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) yang eselonnya lebih tinggi ke jabatan struktural yang eselonnya lebih rendah harus dihindari.
e. Perpindahan tersebut dari jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) yang eselonnya lebih tinggi ke jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) yang eselonnya lebih rendah dilakukan karena punishment.
3. Perpindahan Jabatan Secara Horizontal
Perpindahan jabatan secara vertikal adalah perpindahan jabatan yang rendah ke yang lebih tinggi (promosi); dan Pejabat struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) yang telah mengalami perpindahan jabatan secara horizontal dapat dilakukan perpindahan jabatan secara vertikal yaitu:
a. Jabatan Struktural Eselon IV (Pengawas).
1. Dalam rangka penguasaan, pengembangan dan pemantapan tugas, diperlukan perpindahan jabatan dalam eselon yang sama pada unit kerja Eselon II.
2. Perpindahan jabatan secara horizontal sekurang-kurangnya 2 kali.
b. Jabatan Struktural Eselon III (Administrator).
1) Dalam rangka penguasaan dan pengembangan kemampuan yang bersifat teknis dan analisis manajerial, diperlukan perpindahan jabatan dalam eselon yang sama pada unit kerja Eselon II.
2) Dimungkinkan perpindahan jabatan dalam eselon yang sama antar unit kerja Eselon II, pada Eselon I yang sama.
52
3) Perpindahan jabatan secara horizontal sekurang-kurangnya 2 kali.
c. Jabatan Struktural Eselon II (Pimpinan Tinggi Pratama).
1) Dalam rangka penguasaan, pengembangan kemampuan, dan pemantapan yang bersifat manajerial, diperlukan perpindahan antar unit kerja pada Eselon I yang sama.
2) Dimungkinkan perpindahan jabatan antar unit kerja, pada Eselon I yang berbeda.
3) Apabila diperlukan dimungkinkan perpindahan jabatan antar Kementerian/Instansi.
4) Perpindahan jabatan secara horizontal sekurang-kurangnya 2 kali.
d. Jabatan Struktural Eselon I (Pimpinan Tinggi Madya).
1) Dalam rangka penguasaan, pengembangan kemampuan, dan pemantapan yang bersifat manajerial, diperlukan perpindahan antar unit kerja pada Eselon I yang berbeda.
2) Apabila diperlukan dimungkinkan perpindahan jabatan antar Kementerian/Instansi.
3) Perpindahan jabatan secara horizontal sekurang-kurangnya 1 (satu) kali.
4. Perpindahan Jabatan Secara Vertikal
Perpindahan jabatan secara vertikal adalah perpindahan jabatan yang rendah ke yang lebih tinggi (promosi); dan Pejabat struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) yang telah mengalami perpindahan jabatan secara horizontal dapat dilakukan perpindahan jabatan secara vertikal yaitu:
a. Pejabat struktural Eselon IV (Pengawas) dapat dipindahkan melalui perpindahan jabatan secara vertikal ke dalam jabatan struktural Eselon III (Administrator).
b. Pejabat struktural Eselon III (Administratur) dapat dipindahkan melalui perpindahan jabatan secara vertikal ke dalam jabatan struktural Eselon II (Pimpinan Tinggi Pratama) pada eselon I yang sama atau Eselon I yang tugas dan fungsinya berdekatan.
c. Pejabat struktural Eselon II (Pimpinan Tinggi Pratama) dapat dipindahkan melalui perpindahan jabatan secara vertikal ke dalam jabatan struktural Eselon I (Pimpinan Tinggi Madya) pada eselon I yang sama atau Eselon I yang tugas dan fungsinya berdekatan.
5. Perpindahan Jabatan Secara Diagonal
Perpindahan jabatan secara diagonal adalah perpindahan dari jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) ke jabatan fungsional dan sebaliknya. Pejabat struktural dan fungsional dapat dipindahkan melalui perpindahan jabatan secara diagonal yaitu perpindahan jabatan secara diagonal dari jabatan struktural (Pengawas, Administratur dan Pimpinan Tinggi) ke jabatan fungsional dilakukan
53
dalam upaya pengembangan profesionalisme bagi Pegawai Negeri Sipil yang telah mencapai kondisi puncak dan kariernya tidak dapat berkembang lagi sesuai ketentuan yang berlaku.
6. Perpindahan Jabatan Pimpinan Tinggi a. Umum
1) Sepanjang Setjen DPR RI belum mendapatkan persetujuan KASN, maka pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi mengikuti ketentuan UU No.5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
2) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi jen DPR RI.
3) Dalam membentuk panitia seleksi Pejabat Pembina Kepegawaian berkoordinasi dengan KASN.
4) Panitia seleksi Setjen DPR RI terdiri dari unsur internal maupun eksternal Instansi Pemerintah yang bersangkutan. 5) Panitia seleksi dipilih dan diangkat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian berdasarkan pengetahuan, pengalaman, kompetensi, rekam jejak, integritas moral, dan netralitas melalui proses yang terbuka.
6) Panitia seleksi melakukan seleksi dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan latihan, rekam jejak jabatan, integritas, dan penilaian uji kompetensi melalui pusat penilaian (assesment center) atau metode penilaian lainnya.
7) Panitia seleksi menjalankan tugasnya untuk semua proses seleksi pengisian jabatan terbuka untuk masa tugas yang ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.
b. Pengisian Jabatan Tinggi Madya (Sekjen DPR RI)
1) Pengisian jabatan pimpinan tinggi madya pada (Setjen DPR RI) dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan latihan, rekam jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan lain yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Pengisian jabatan pimpinan tinggi madya (Setjen DPR RI) dilakukan pada tingkat nasional.
3) Untuk pengisian jabatan pimpinan madya (Sekjen DPR RI), panitia seleksi DPR RI memilih 3 (tiga) nama calon untuk setiap 1 (satu) lowongan jabatan.
4) Tiga nama calon pejabat impinan madya (Sekjen DPR RI) yang terpilih disampaikan kepada Pimpinan DPR.
54
5) Pimpinan DPR mengusulkan 3 (tiga) nama calon kepada Presiden.
6) Presiden memilih 1 (satu) nama dari 3 (tiga) nama calon yang disampaikan untuk ditetapkan sebagai pejabat impinan madya (Sekjen DPR RI).
c. Pengisian Jabatan Tinggi Madya (Wakil Sekjen DPR RI dan Deputi)
1) Pengisian jabatan pimpinan tinggi madya pada (Wakil Sekjen DPR RI dan Deputi) dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan latihan, rekam jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan lain yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2) Pengisian jabatan pimpinan tinggi madya (Wakil Sekjen DPR
RI dan Deputi) dilakukan pada tingkat nasional.
3) Untuk pengisian jabatan pimpinan madya (Wakil Sekjen DPR RI dan Deputi), panitia seleksi Setjen DPR RI memilih 3 (tiga) nama calon untuk setiap 1 (satu) lowongan jabatan.
4) Tiga nama calon pejabat pimpinan madya (Wakil Sekjen DPR RI dan Deputi) yang terpilih disampaikan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian.
5) Pejabat Pembina Kepegawaian mengusulkan 3 (tiga) nama calon kepada Presiden.
6) Presiden memilih 1 (satu) nama dari 3 (tiga) nama calon yang disampaikan untuk ditetapkan sebagai pejabat pimpinan madya (Wakil Sekjen DPR RI dan Deputi).
d. Pengisian Jabatan Tinggi Pratama (Kepala Biro/Pusat)
1) Pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan pelatihan, rekam jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan jabatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan secara terbuka dan kompetitif pada tingkat nasional atau antarkabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi.
3) Pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama (Kepala Biro/Pusat) dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi.
4) Panitia seleksi memilih 3 (tiga) nama calon pejabat pimpinan tinggi pratama (Kepala Biro/Pusat) untuk setiap 1 (satu) lowongan jabatan.
55
5) Tiga nama calon pejabat pimpinan tinggi pratama (Kepala Biro/Pusat) yang terpilih disampaikan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian melalui Pejabat yang Berwenang. 6) Pejabat Pembina Kepegawaian memilih 1 (satu) dari 3 (tiga)
nama calon yang diusulkan dengan memperhatikan pertimbangan Pejabat yang Berwenang untuk ditetapkan sebagai pejabat pimpinan tinggi pratama (Kepala Biro/Pusat).
e. Pemberhentian Pimpinan Tinggi
1) Pejabat Pembina Kepegawaian dilarang mengganti Pejabat Pimpinan Tinggi selama 2 (dua) tahun terhitung sejak pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi, kecuali Pejabat Pimpinan Tinggi tersebut melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dan tidak lagi memenuhi syarat jabatan yang ditentukan.
2) Penggantian pejabat pimpinan tinggi utama dan madya sebelum 2 (dua) tahun dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Presiden.
3) Jabatan Pimpinan Tinggi hanya dapat diduduki paling lama 5 (lima) tahun.
4) Jabatan Pimpinan Tinggi dapat diperpanjang berdasarkan pencapaian kinerja, kesesuaian kompetensi, dan berdasarkan kebutuhan instansi setelah mendapat persetujuan Pejabat Pembina Kepegawaian dan berkoordinasi dengan KASN. 5) Pejabat Pimpinan Tinggi harus memenuhi target kinerja
tertentu sesuai perjanjian kinerja yang sudah disepakati dengan pejabat atasannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
6) Pejabat Pimpinan Tinggi yang tidak memenuhi kinerja yang diperjanjikan dalam waktu 1 (satu) tahun pada suatu jabatan, diberikan kesempatan selama 6 (enam) bulan untuk memperbaiki kinerjanya.
7) Dalam hal Pejabat Pimpinan Tinggi tidak menunjukan perbaikan kinerja maka pejabat yang bersangkutan harus mengikuti seleksi ulang uji kompetensi kembali.
8) Berdasarkan hasil uji kompetensi, Pejabat Pimpinan Tinggi dimaksud dapat dipindahkan pada jabatan lain sesuai dengan kompetensi yang dimiliki atau ditempatkan pada jabatan yang lebih rendah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.