• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mangun (2007), tentang “Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten Dan Kota Di Propinsi Sulawesi Tengah”, menggunakan data sekunder kurun waktu tahun 2000-2005. Model analisis yang digunakan yakni Analisis LQ, Shift-Share,

Tipologi Klassen serta Model Rasio Pertumbuhan (MRP). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak satupun Kabupaten/Kota yang masuk kriteria pertama yakni notasi overlay ketiga komponen bertanda positif (+++), sebaliknya terdapat 4 Kabupaten yang memiliki sektor ekonomi yang bernotasi negatif untuk ketiga komponen (---) dengan sektor yang sama. Demikian pula hasil analisis Shift – Share menunjukkan bahwa tidak terdapat sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif di semua Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Tengah, tetapi memiliki spesialisasi. Di Propinsi Sulawesi Tengah tidak ada Kabupaten/Kota masuk Tipologi daerah cepat maju dan cepat tumbuh dan Tipologi daerah berkembang cepat. Tiga Kabupaten/Kota masuk Tipologi daerah maju tapi tertekan dan 7 Kabupaten masuk Tipologi daerah tertinggal. Kabupaten Tojo Una-Una mempunyai prioritas pertama untuk pengembangan wilayah semua sektor basis yang dimilikinya.

Safitri (2009), tentang “Analisis Potensi Ekonomi Derah Kabupaten Pati Pada Periode Sebelum Dan Selama Pelaksanaan Otonomi Daerah (Periode 1995 – 2006)” menggunakan data sekunder yang berupa variabel PDRB beserta komponenkomponennya di Kabupaten Pati dan Propinsi Jawa Tengah. Adapun metode analisis data yang digunakan antara lain Analisis Shift-Share, analisis LQ dan DLQ, analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP), analisis Overlay, analisis Indeks Spesialisasi, analisis tekanan penduduk dan daya dukung lahan serta Human Development Index (HDI). Selain itu, untuk menguji apakah terjadi peran sector ekonomi pada periode sebelum dan selama pelaksanaan otonomi daerah digunakan uji beda dua mean untuk sampel berpasangan. Dari hasil perhitungan

uji beda dua mean didapat hasil bahwa komponen Dij dan Mij yang berbeda secara significant (thit < ttsb) pada periode sebelum dan selama pelaksanaan otonomi daerah, sedangkan komponen Cij dan Nij tidak berbeda secara significant pada kedua era tersebut. Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan sektor basis pada kedua periode, hal ini diperkuat dengan uji beda dua mean. Berdasarkan analisis MRP menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan sektor potensial pada kedua periode, hal ini diperkuat dengan uji beda dua mean. Hasil analisis Overlay menunjukkan bahwa sektor unggulan pada periode sebelum otonomi daerah adalah sektor pertanian; pertambangan dan penggalian; listrik, gas dan air bersih; dan keuangan, sewa dan jasa perusahaan. Pada periode selama pelaksanaan otonomi daerah, sector unggulan Kabupaten Pati adalah sektor pertanian; listrik, gas dan air bersih; keuangan, sewa dan jasa perusahaan; dan jasa-jasa. Berdasarkan analisis indeks spesialisasi didapat hasil bahwa pola pertumbuhan ekonomi baik pada era sebelum maupun pada era otonomi daerah adalah semakin menyebar/tidak terspesialisasi. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa perubahan koefisien spesialisasi antara kedua era tersebut tidak terdapat perbedaan yang significant.

Rosyetti (2011), tentang “Analisis Sektor Potensial Kabupaten Kuantan Singingi”, menggunakan data time series 2001 – 2005. Metode yang digunakan adalah metode Location Quotient (LQ) dan analisis Shift Share. Dari hasil pengamatan, diperoleh temuan : (a) sektor potensial yang berpotensi dalam meningkatkan perekonomian dan penyerapan tenaga kerja adalah sektor pertanian. Sektor jasa kurang berpotensi dalam peningkatkan perekonomian daerah dan

penyerapan tenaga kerja. (b) Perubahan struktur ekonomi terjadi pada sektor pertambangan. Faktor spatial atau lokasional yang menguntungkan menyebabkan berpotensinya sektor pertambangan dalam meningkatkan kesempatan kerja wilayah.

Erawati (2012), tentang “Analisis Pola Pertumbuhan Ekonomi Dan Sektor Potensial Kabupaten Klungkung”, menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan, baik pertumbuhan, kontribusi dan per kapitanya, dan data jumlah penduduk yang tergolong angkatan kerja. Metode analisis dengan menggunakan alat analisis Tipologi Klassen, Location Quotients (LQ), Model Rasio Pertumbuhan (MRP), Overlay, dan Rasio Penduduk Pengerjaan (RPP). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ekonomi Kabupaten Klungkung periode 2008-2010 berada pada zone daerah makmur yang sedang menurun. Sektor ekonomi yang potensial dikembangkan, yaitu sektor bangunan dan jasa-jasa. Dari sektor-sektor tersebut muncul beberapa sub sektor yang potensial, yaitu sub sektor jasa swasta. Peluang/kesempatan kerja yang diciptakan sektor bangunan rata hanya 3,01 persen dan sektor jasa rata-rata 5,96 persen, masih sangat minim bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Klungkung.

Umaroh (2012), tentang “Analisis Sektor Unggulan Dalam Meningkatkan Perekonomian Dan Pembangunan Di Wilayah Kabupaten Probolinggo”, menggunakan data time series 2005 – 2009. Alat analisis yang digunakan adalah Klassen Typologi, Location Quotient, Shift Share. Hasil dari analisis Klassen Typologi dengan pendekatan sektoral, menunjukkan bahwa sektor pertambangan

dan penggalian menduduki kuadran I yaitu sektor maju dan tumbuh cepat. Disusul oleh sektor pertanian pada kuadran II yaitu sektor maju tetapi tertekan. Hasil perhitungan LQ terdapat dua sektor yang menjadi basis perekonomian Kabupaten Probolinggo yang dapat diprioritaskan menjadi sektor unggulan pada tahun 2005-2009 yaitu sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

Putra (2013), tentang “Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten Dan Kota Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, menggunakan data sekunder dalam kurun waktu tahun 2006-2010. Model analisis yang digunakan yakni Analisis LQ, Shift-Share, Tipologi Klassen serta Model Rasio Pertumbuhan (MRP). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kabupaten/kota mempunyai potensi masing-masing sesuai dengan kondisinya. Sektor Petanian, Sektor pertambangan dan penggalian, sektor Industri pengolahan serta sektor jasa-jasa merupakan sektor basis yang dominan di Provinsi DIY karena 3 Kabupatennya mempunyai basis/unggulan di sektor ini; sedangkan sektor lainnya bervariasi khusus sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor pengangkutan dan komunikasi hanya dimiliki Kota Yogyakarta sekaligus sebagai Kota yang paling banyak memiliki sektor basis sama seperti Kabupaten Sleman (5 Sektor basis). Kota Yogyakarta masuk dalam Tipologi daerah cepat maju dan cepat tumbuh. Kemudian Kabupaten Sleman yang masuk dalam Tipologi daerah berkembang cepat. Tiga kabupaten lainnya masuk dalam tipologi daerah relatif tertinggal. Dari hasil analisis LQ, Shift-Share, Tipologi daerah dan pertumbuhan sektoral dapat ditentukan kabupaten/kota yang menjadi prioritas pengembangan sektor-sektor unggulan yang dimiliki. Kota Yogyakarta

dan Kabupaten gunung Kidul mempunyai prioritas pertama untuk pengembangan wilayah atas semua sektor basis yang dimilikinya.

2.7. Kerangka Konseptual

Perekonomian daerah dapat dinilai dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapitanya. Dari total PDRB dapat dilihat sektor apa yang menjadi sektor potensial suatu daerah. Sementara dari pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita dapat ditentukan pola pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Dengan merujuk pada sektor potensial dan pola pertumbuhan ekonomi daerah, maka pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk pembangunan ekonomi daerah.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Pembangunan Ekonomi Daerah Perekonomian Daerah Kebijakan Pemerintah Daerah Pola Pertumbuhan

Ekonomi Potensi Wilayah

PDRB

Prospek Sektor Ekonomi

BAB III

Dokumen terkait