V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Laju dan Pola Perubahan Lahan Pertanian
5.2.1. Pola Perubahan Penggunaan Lahan
Perubahan penggunaan dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu terkait faktor fisik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Perubahan penggunaan lahan dapat terjadi pada berbagai macam jenis penggunaan lahan. Di Kabupaten Bandung Barat telah terjadi konversi lahan, misalnya dari tanaman pertanian lahan basah menjadi lahan terbangun, tanaman pertanian lahan kering menjadi lahan terbangun, dan sebagainya. Berikut ini disajikan pola perubahan penggunaan lahan dan luasannya dalam hektar yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Pola Perubahan Penggunaan Lahan dan Luasnya pada Periode Tahun 1998 dan 2008
Penggunaan Lahan 1998
(ha)
Penggunaan Lahan 2008 (ha) Jumlah (ha)tahun 1998 Badan air Hutan Lahan terbangun TPLB TPLK Badan air 1.081,11 1.081,11 Hutan 13.722,07 145,48 248,37 14.115,92 Lahan terbangun 27.494,48 27.494,48 TPLB 1.241,56 29.335,57 2.114,46 32.691,59 TPLK 3,01 1.398,45 122,16 46.740,14 48.263,76 Jumlah (ha) tahun 2008 1.084,12 13.722,07 30.134,49 29.603,21 49.102,97 123.646,86 Penggunaan lahan yang banyak terkonversi adalah lahan pertanian meliputi tanaman pertanian lahan basah dan tanaman pertanian lahan kering. Selama kurun waktu sepuluh tahun yaitu tahun 1998 sampai 2008, tanaman pertanian lahan basah merupakan penggunaan lahan yang paling luas terkonversi yaitu 2.114,46 ha menjadi tanaman pertanian lahan kering. Demikian juga dengan tanaman pertanian lahan basah dan lahan kering yang berubah fungsi menjadi lahan
terbangun. Perubahan ini terkait dengan nilai dari suatu lahan yang diperoleh dari suatu jenis penggunaan tertentu. Lahan pertanian memiliki keuntungan (Land rent) yang lebih rendah dibandingkan dengan lahan non-pertanian. Oleh karena itu, konversi lahan banyak terjadi pada tanaman pertanian lahan basah menjadi tanaman pertanian lahan kering maupun lahan terbangun berupa perumahan, pertokoaan, industri dan sebagainya.
Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi TPLB dan TPLK paling banyak terjadi di Kecamatan Sindangkerta, sedangkan untuk TPLB menjadi lahan terbangun banyak terdapat di Kecamatan Sindangkerta dan Batujajar. Perubahan TPLK menjadi lahan terbangun paling luas berada pada Kecamatan Sindangkerta begitu juga dengan luas perubahan TPLB menjadi TPLK. Perubahan jenis penggunaan lahan yang paling kecil terjadi pada TPLK yang berubah menjadi badan air sebesar 3,01 ha. Perubahan tersebut terjadi di daerah sekitar pabrik tambang kapur yang berada di Kecamatan Cipatat. Penurunan atau pencemaran air yang ada di sekitar pabrik tersebut membuat jenis penggunaan lahan di sekitarnya seperti TPLK dibiarkan tergenang sehingga sebagian daerah yang semula TPLK berubah menjadi badan air. Grafik yang menunjukkan perubahan penggunaan lahan disajikan pada Gambar 7.
Gambar 7. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1998 dan 2008
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3
Badan air Hutan Lahan terbangun TPLB TPLK 0,003 -0,39 2,64 -3,09 0,84 Pe rs ent a se ( % ) Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat yang mengalami peningkatan adalah lahan terbangun, tanaman pertanian lahan kering, dan badan air masing-masing meningkat sebesar 2,64%, 0,84%, dan 0,003% sedangkan untuk penggunaan lahan seperti hutan dan tanaman pertanian lahan basah mengalami penurunan luas sebesar -0,39% untuk penggunaan hutan dan -3,09% untuk tanaman pertanian lahan basah.
Persentase perubahan penggunaan lahan pada setiap bentuk penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat masih kecil. Hal ini berkaitan dengan keadaan di daerah tersebut yang masih belum banyak mengalami perkembangan karena baru pada tahun 2007 Kabupaten Bandung Barat secara resmi berdiri sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung. Berikut ini dikemukakan gambaran secara spasial penggunaan dan perubahan penggunaan lahan (Gambar 8).
Gambar 8. Peta Penggunaan dan Perubahan Lahan Tahun 1998 dan 2008
Keterangan : A) Peta Penggunaan Lahan Tahun 1998
B) Peta Penggunaan Lahan Tahun 2008
Gambaran secara spasial mengenai jenis penggunaan lahan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa luasan lahan terbangun terpusat di daerah yang mendekati pusat kota yaitu Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Bandung melakukan pemekaran terhadap daerahnya yang sekarang menjadi Kabupaten Bandung Barat. Melalui pemekaran ini diharapkan dapat memberikan pembangunan yang lebih terarah dan menyebar. Hasil analisis tahun 2008 menunjukkan terdapat penambahan luasan jenis penggunaan lahan terbangun, sehingga mengurangi luas lahan untuk jenis penggunaan lahan lainnya (Gambar 8).
Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perkembangan di Kabupaten Bandung Barat adalah akses jalan, topografi dan bentuk lahan di suatu wilayah. Perubahan persentase luas penggunaan lahan per kecamatan, disajikan dalam bentuk grafik perubahan persentase luas penggunaan lahan per kecamatan seperti pada Gambar 9.
Gambar 9. Perubahan Persentase Luas Penggunaan Lahan per Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 1998 dan 2008
Persentase perubahan luas penggunaan lahan per kecamatan di Kabupaten Bandung Barat memiliki perubahan yang beragam. Kecamatan Batujajar menunjukkan persentase perubahan yang paling besar sebesar 31,93% dari jumlah perubahan penggunaan lahan kecuali lahan terbangun menjadi lahan terbangun,
31,92 2,28 3,01 6,76 6,32 0,25 4,61 8,08 2,13 13,63 19,34 1,06 0,61 0 5 10 15 20 25 30 35 Pe rs ent a se ( % ) Kecamatan
sedangkan yang terkecil Kecamatan Cipongkor sebesar 0,25%. Adapun persentase perubahan penggunaan lahan untuk masing-masing kecamatan, adalah Kecamatan Gununghalu (8,08%), Cikalongwetan (2,28%), Cililin (3,01%), Cipatat (6,76%), Cipeundeuy (6,32%), Ngamprah (13,63%), Cisarua (4,61%), Lembang (2,13%), Padalarang (19,34%), Parongpong (1,06%), dan Sindangkerta (0,61%).
Perubahan yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat masih belum terlihat pada daerah ibu kota kabupatennya yaitu Kecamatan Ngamprah dibandingkan dengan Kecamatan Batujajar. Hal ini terjadi karena tidak semua desa yang ada di kecamatan tersebut yang akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan hanya 4 desa yang akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan yaitu Desa Mekarsari, Cilame, Pakuhaji, dan Tanimulya, Hal ini berkenaan dengan ketetapan wilayah Kabupaten Bandung Barat yang termasuk ke dalam wilayah konservasi untuk budidaya tanaman pertanian. Selain itu, Kecamatan Ngamprah merupakan kecamatan yang memiliki luasan terkecil dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung Barat.
Perubahan yang paling besar terjadi di Kecamatan Batujajar karena kecamatan ini merupakan kawasan industri, selain itu juga dijadikan pusat pemerintahan sementara Kabupaten Bandung Barat sebelum beralih ke Ngamprah. Hal ini menyebabkan banyaknya pembangunan yang terjadi di Kecamatan Batujajar sehingga dapat menjadi pusat pertumbuhan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat setempat.
5.3 Sebaran Perubahan Penggunaan Lahan di Berbagai Kelas Kemampuan