KONVERSI LAHAN PERTANIAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

84 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KONVERSI LAHAN PERTANIAN

DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

MILA MULYANI A14062362

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

KONVERSI LAHAN PERTANIAN

DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

MILA MULYANI

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

SARJANA PERTANIAN

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

RINGKASAN

MILA MULYANI. Konversi Lahan Pertanian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya di Kabupaten Bandung Barat. (Dibimbing oleh SANTUN R.P SITORUS dan DYAH RETNO PANUJU).

Perkembangan suatu wilayah cenderung akan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk di suatu wilayah, sehingga menimbulkan ke khawatiran akan perubahan luasan suatu jenis penggunaan lahan. Terkonversinya lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian merupakan masalah serius pada kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menganalisis perubahan penggunaan lahan pada periode tahun 1998 dan 2008 di Kabupaten Bandung Barat, (2) menganalisis perubahan penggunaan lahan dalam berbagai kelas kemampuan lahan, (3) menetapkan hirarki kecamatan dan kaitannya dengan perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat, (4) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan.

Selama periode tahun 1998 sampai 2008 telah terjadi konversi luas lahan pertanian menjadi lahan terbangun sebesar 2249,17 ha dengan laju konversi per tahun 264 ha. Kecamatan Batujajar merupakan kecamatan yang mengalami perubahan penggunaan terluas yaitu sebesar 31,93%.

Sebaran perubahan penggunaan lahan paling luas terdapat pada kelas kemampuan lahan I sebesar 1622,22 ha yaitu konversi TPLB menjadi TPLK.

Selain itu, perubahan penggunaan lahan jenis lainnya tersebar pada kelas kemampuan lahan II, III, IV, VI, VII, dan VIII.

Perkembangan wilayah di Kabupaten Bandung Barat berdasarkan analisis skalogram tahun 2003 dan 2008, menunjukkan adanya peningkatan tingkatan hirarki tiap desa. Pada tahun 2003 persentase desa berhirarki I, II, dan III, berturut-turut sebesar 15,06%, 20,67%, dan 64,27%. Peningkatan hirarki terjadi pada hirarki II dan III, sedangkan hirarki I mengalami penurunan. Pada periode 1998 dan 2008 laju pertambahan penduduk di tiap kecamatan bervariasi. Kecamatan Ngamprah merupakan kecamatan paling besar laju pertambahan penduduknya sebesar 55,47%.

Faktor-faktor yang berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat adalah curah hujan kelas sangat rendah, rendah, dan tinggi, penggunaan lahan tahun 1998 (lahan terbangun), kepadatan penduduk, dan pertambahan fasilitas pendidikan.

(4)

SUMMARY

MILA MULYANI. Agricultural land conversion and factors influencing it, in the Regency of West Bandung. (Under Supervision of SANTUN R.P SITORUS and DYAH RETNO PANUJU).

Process of development tend to increase population in the region, then land use conversion of a specific land use was intensified. Agricultural land conversion to non-agricultural uses is a major problem in these condition. This study aims: (1) to analyze the changes in land use in the period of 1998 to 2008 in the Regency of West Bandung (2) to analyze rate of various land use change in land capability classes, (3) to establish hierarchy of sub districts in the Regency of West Bandung, and (4) to analyze factors influencing land use change.

During the period of 1998 to 2008 there were massive conversion of agricultural land at about 2249,17 hectares or 264 per annum. Batujajar sub district experienced the biggest change equals to 31, 93% per annum.

The most extensive land use changes occured in class I (1622.22 ha), wetland foodcrops (TPLB) was converted into dry land food crops (TPLK). In addition, another types of land use change were spread on land capability classes II, III, IV, VI, VII, and VIII.

Development areas of West Bandung Regency was analyzed using skalogram for the years of 2003 and 2008 indicated improving hierarchy in each village. In 2003 the percentage of the village classified as hierarchies I, II, and III, were 15.06%, 20.67% and 64.27%, respectively. Increasing percentage occurred in the hierarchies II and III, while the hierarchy I was decreasing. In the period of 1998 and 2008 the growth of population in each district was vary. Sub district Ngamprah was a district with the largest population increase at 55.47%. Factors affecting agricultural land use change in West Bandung Regency were rainfall (in very low, low, and high classes) and acreage of built up land in 1998, population density, and educational facilities.

(5)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Konversi Lahan Pertanian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya di Kabupaten Bandung Barat

Nama Mahasiswa : Mila Mulyani

Nrp : A14062362

Disetujui :

Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2

Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus Ir. Dyah Retno Panuju, M.Si NIP. 19490721 197302 1 001 NIP. 19710412 199702 2 005

Mengetahui, Ketua Departemen ITSL

Dr. Ir. Syaiful Anwar M.Sc NIP. 19621113 198703 1 003

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sumedang, 22 Juni 1988 dari pasangan Bapak Dadi Kusniandi dan Ibu Eem Sukaema sebagai anak sulung dari empat bersaudara yaitu Nina Hermawati, Ipan Sohana, dan Ayi Kusniawan.

Jenjang pendidikan yang ditempuh penulis mulai dari TK Bina Bhakti, kemudian dilanjutkan ke sekolah dasar di SDN Cipacing II dan lulus pada tahun 2000, penulis melanjutkan ke Tingkat Sekolah Lanjut Tingkat Pertama di SLTP Al-ma’soem pada 2000 sampai 2003, yang kemudian dilanjutkan di sekolah yang sama yaitu Al-ma’soem dengan tingkat Sekolah Menengah Atas pada tahun 2003 sampai 2006.

Semasa pendidikan akhir di sekolah menengah atas penulis memiliki tekad untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, yang pada akhirnya penulis mendapatkan kesempatan masuk ke Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis diterima di Fakultas Pertanian, Program Studi Manajemen Sumberdaya Lahan dengan Minor Manajemen Fungsional. Semasa menjadi mahasiswa IPB penulis mendapat kesempatan menjadi anggota DPM Faperta, dan beberapa kegiatan kepanitiaan yang diadakan oleh mahasiswa. Penulis berpartisipasi aktif menjadi asisten praktikum beberapa mata kuliah yang ada di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, diantaranya Mata Kuliah Agrogeologi pada tahun ajaran 2007/2008 dan 2008/2009, Pengantar Ilmu Tanah pada tahun ajaran 2009/2010, Perencanaan Pengembangan Wilayah pada tahun 2010 dan Perencanaan Tata Ruang dan Penatagunaan Lahan tahun 2010.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul ”Konversi Lahan Pertanian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya di Kabupaten Bandung Barat”. Kegiatan penelitian ini merupakan syarat kelulusan program sarjana Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua yang telah memberikan segalanya baik itu dalam bentuk moril dan materil, memberikan do’a serta motivasi Bapak Prof. Dr. Ir., 2. Santun R.P. Sitorus dan Ibu Ir. Dyah Retno Panuju, M.Si selaku dosen

pembimbing skripsi 1 dan 2, yang telah banyak membimbing serta memberikan saran dalam penyusunan skripsi ini,

3. Ibu Dr. Khursatul Munibah, M. Si selaku dosen penguji luar,

4. Saudara Zamzam Jamil Mahbub yang selalu menemani, mengorbankan waktu dan tenaga, serta memberikan saran selama penyusunan ini,

5. Adik-adikku tersayang (Nina ESL 45, Ipan dan Ayi) yang selalu menjadi penyemangat hidup,

6. Bapak Nur Rahman Hakim (Bidang Fisik dan Tata Ruang, Bappeda, Kabupaten Bandung Barat) yang telah membantu memperlancar pengambilan data selama penelitian,

7. Mbak Emma, Mbak Dian, dan Bapak Galuh yang telah banyak membantu atas penyediaan data dan sarannya,

8. Saudara Bambang (MSL 42), Kak Reni, dan Kak Agi yang dengan sabar mengajarkan dalam pengolahan data, Bangwilers 43 (Sony, Onie, Baeun, Ratri, Haku, dan Agatha) serta teman-teman MSL 43 untuk kebersamaan kita, penulis ucapkan terima kasih dan salam ”VIVA SOIL”,

9. Saudari Nailah, Dian, Lina, Willy, Memi, Mawar, Rime, Mike, Mesil, Arin, Sisi, Ivong dkk yang telah mendengarkan semua perasaan yang dirasa saat penyusunan skripsi ini,

(8)

10. Saudara Tommi, Riri, dan Riza (BDP 43) atas bantuannya untuk memperlancar penelitian ini, serta

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan yang telah membantu hingga penyusunan skripsi ini selesai.

Penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis memohon saran penyempurnaan yang berguna dan membangun. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, September 2010

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii 

DAFTAR GAMBAR ... iv 

DAFTAR LAMPIRAN ...

I.  PENDAHULUAN...

1.1 Latar Belakang ... 1 

1.2 Tujuan Penelitian ... 2 

II.  TINJAUAN PUSTAKA ...

2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan, Penutupan Lahan ... 3 

2.2 Perubahan Penggunaan Lahan ... 4 

2.3 Teori Perkembangan Wilayah ... 6 

2.4 Klasifikasi Kemampuan Lahan ... 6 

2.4.1 Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut Sistem USDA (Amerika Serikat) ... 7 

2.4.2 Klasifikasi Kemampuan Lahan Tingkat Kelas ... 7 

2.5 Perkembangan Kabupaten Bandung Barat ... 10 

2.6 Studi Terdahulu terkait Perubahan Penggunaan Lahan ... 10 

III. BAHAN DAN METODE ... 14 

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 14 

3.2 Jenis Data, Sumber Data dan Alat Penelitian ... 15 

3.3 Tahapan Penelitian ... 15 

3.3.1 Tahap Persiapan dan Pengumpulan Data Penelitian ... 17 

3.3.1.1  Interpretasi Citra ... 17 

3.3.1.2  Tumpang Tindih (Overlay) ... 18 

3.3.2 Tahap Pengecekan Lapang ... 18 

3.3.3 Tahap Analisis ... 19 

3.3.3.1  Identifikasi Tingkat Perkembangan Wilayah ... 19 

3.3.3.2  Teknik Pendugaan Laju Perubahan Penggunaan Lahan ... 20 

3.3.3.3  Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan ... 21 

IV. KONDISI UMUM WILAYAH KABUPATEN BANDUNG BARAT ... 23 

4.1 Letak Geografis Kabupaten Bandung Barat ... 23 

4.2 Keadaan Iklim dan Topografi ... 23 

4.3 Kondisi Kependudukan ... 24 

(10)

V.  HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25 

5.1 Cakupan Wilayah Kabupaten Bandung Barat ... 25 

5.2 Laju dan Pola Perubahan Lahan Pertanian ... 27 

5.2.1. Pola Perubahan Penggunaan Lahan ... 30 

5.3 Sebaran Perubahan Penggunaan Lahan di Berbagai Kelas Kemampuan Lahan ... 35 

5.4 Perkembangan Wilayah Kabupaten Bandung Barat ... 38 

5.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan menjadi Lahan Terbangun ... 44 

5.6 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Lahan Tanaman Pertanian Lahan Kering menjadi Lahan Terbangun ... 46 

5.7 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Lahan Tanaman Pertanian Lahan Basah menjadi Lahan Terbangun ... 47 

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 49 

6.1 Kesimpulan ... 49 

6.2 Saran ... 50 

DAFTAR PUSTAKA ... 51 

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Kriteria Klasifikasi Kemampuan Lahan ... 10  2. Karakteristik setiap Jenis Penggunaan Lahan pada Citra

Landsat ... 17  3. Variabel Fasilitas yang Digunakan dalam Analisis

Skalogram ... 20  4. Variabel-variabel dalam Logistic Regression Analysis ... 22  5. Luas Tiap Penggunaan dan Perubahan Lahan di

Kabupaten Bandung Barat pada Tahun 1998 dan 2008 ... 27  6. Luas Perubahan Penggunaan Lahan per Kecamatan ... 28  7. Pola Perubahan Penggunaan Lahan dan Luasnya pada

Periode Tahun 1998 dan 2008 ... 30  8. Perubahan Luas Penggunaan Lahan pada Berbagai Kelas

Kemampuan Lahan ... 36  9. Perubahan Luas Penggunaan Lahan pada Berbagai Kelas

Kemampuan Lahan ... 36  10. Hasil Analisis Skalogram Desa-desa di Kabupaten

Bandung Barat Tahun 2003 dan 2008 ... 38  11. Hasil Analisis Statistik Metode Logistic Regression

Variables terhadap Perubahan Penggunaan Lahan menjadi

Lahan Terbangun ... 45  12. Hasil Analisis Logistic Regression Variables Perubahan

Lahan Tanaman Pertanian Lahan Kering menjadi Lahan

Terbangun ... 46  13. Hasil Analisis Logistic Regression Variables Perubahan

Lahan Tanaman Pertanian Lahan Basah menjadi Lahan

Terbangun ... 47  14. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Peta Batas Administrasi Kabupaten Bandung Barat

(sumber : Bappeda Kabupaten Bandung Barat 2009) ... 14 

2. Aliran Kerangka Penelitian ... 16 

3. Peta Lokasi Pengecekan Lapang di Kabupaten Bandung Barat ... 19 

4. Peta Administrasi Kabupaten Bandung Barat ... 25 

5. Luas Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Bandung Barat ... 26 

6. Beberapa Bentuk Penggunaan Lahan di Kabupaten Bandung Barat... 29 

7. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1998 dan 2008 ... 31 

8. Peta Penggunaan dan Perubahan Lahan Tahun 1998 dan 2008 ... 33 

9. Perubahan Persentase Luas Penggunaan Lahan per Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 1998 dan 2008 ... 34 

10. Kelas Kemampuan Lahan Kabupaten Bandung Barat ... 37 

11. Peta Hirarki Kabupaten Bandung Barat Tahun 2003 ... 40 

12. Peta Hirarki Kabupaten Bandung Barat Tahun 2008 ... 40 

13. Jumlah Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat pada Tahun 1998 dan 2008 ... 42 

14. Persentase Laju Pertambahan Jumlah Penduduk per Kecamatan Tahun 1998 dan 2008 ... 43   

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hasil Analisis Skalogram Tahun 2003 ... 55 

2. Hasil Analisis Skalogram Tahun 2008 ... 61 

3. Koordinat Hasil Pengecekan Lapang ... 67 

4. Perubahan Penggunaan Lahan Diberbagai Jenis Tanah ... 69 

5. Perubahan Luasan Penggunaan Lahan pada Berbagai Kelas Kemampuan Lahan ... 70 

(14)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat secara fluktuatif berdampak dan di sisi lain disebabkan oleh meningkatnya perkembangan wilayah. Perkembangan suatu wilayah ditandai, salah satunya oleh perkembangan sektor ekonomi dan peningkatan kelengkapan fasilitas-fasilitas pelayanan umum di suatu wilayah seperti sekolah, pertokoan, industri, dan lain sebagainya. Sejalan dengan itu, wilayah yang mengalami perkembangan menjadi daya tarik berpindahnya penduduk ke wilayah tersebut dan proses ini menyokong pertambahan penduduk secara signifikan.

Permasalahan yang terjadi akibat perkembangan suatu wilayah yang meningkat adalah dorongan persaingan dalam pemanfaatan lahan antara pemanfaatan lahan pertanian dan lahan non-pertanian yang semakin intensif. Persaingan pemanfaatan lahan ini dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan manusia akan sumberdaya lahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kondisi tersebut, penggunaan lahan pertanian menjadi pilihan dengan peluang terbesar untuk dialihgunakan menjadi penggunaan non-pertanian. Berdasarkan teori bahwa nilai ekonomi lahan (land rent) yang dimiliki suatu lahan pertanian yang umumnya lebih rendah dibandingkan dengan lahan non-pertanian, menjadi pendorong cepatnya perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non-pertanian.

Menurut Lopulisa (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi pola dan jenis penggunaan lahan di Indonesia adalah sifat fisik lahan (iklim, topografi, drainase, sifat fisik dan kimia tanah, dan lain-lain), kondisi faktor budaya dan ekonomi serta kebijakan pemerintah. Besarnya kontribusi faktor-faktor tersebut akan sangat beragam menurut waktu dan ruang. Selain itu, Dirjen RKLS (2008) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konversi atau perubahan penggunaan suatu lahan, diantaranya aspek fisik, ekonomi, sosial dan lain-lain.

Beberapa hasil penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan daerah-daerah yang mengalami perkembangan seperti Jakarta, Kabupaten Tangerang, dan Bogor mengalami perubahan penggunaan lahan cukup masif. Bandung merupakan

(15)

ibukota Provinsi Jawa Barat yang perkembangan wilayahnya sangat dinamis. Oleh karena itu, penelitian di Kabupaten Bandung Barat perlu dilakukan mengingat Kabupaten ini merupakan wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung yang ditetapkan berdasarkan UU No 12 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Selain itu, sebagian daerah di Kabupaten Bandung Barat dilintasi oleh akses jalan tol, dan dilihat dari potensi daerahnya sendiri kabupaten ini merupakan kawasan andalan cekungan Bandung sehingga perkembangan dan pertumbuhan wilayahnya tidak akan terlepas dari daya dukung wilayahnya sendiri. Daya dukung wilayah merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan suatu wilayah. Oleh karena itu, beberapa kasus menunjukkan pembangunan yang tidak mempertimbangkan daya dukung wilayah menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan seperti banjir dan longsor. Penelitiaan ini perlu dilakukan untuk menganalisis pola perubahan penggunaan lahan dalam berbagai kelas kemampuan lahan sebagai kunci identifikasi daya dukung wilayah serta kaitannya dengan perkembangan wilayahnya.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Menganalisis perubahan penggunaan lahan periode waktu tahun 1998 dan 2008 di Kabupaten Bandung Barat.

2. Menganalisis perubahan penggunaan lahan dalam berbagai kelas kemampuan lahan.

3. Menetapkan hirarki kecamatan dan kaitannya dengan perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat.

4. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan.

(16)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lahan, Penggunaan Lahan dan Penutupan Lahan

Lahan merupakan sumberdaya pembangunan yang memiliki karakteristik, yaitu (1) memiliki luas yang relatif tetap, dan (2) memiliki sifat fisik, kimia dan biologi serta jenis batuan, kandungan mineral, topografi dan lain sebagainya. Oleh karena itu, lahan memerlukan arahan dalam pemanfaatannya dengan kegiatan yang paling sesuai dengan sifat fisiknya (Dardak, 2008). Menurut FAO (1976) dalam Balai Penelitian Tanah (2003) lahan merupakan bagian dari bentang alam dimana lingkungan fisik seperti iklim, topografi, tanah, hidrologi dan keadaan vegetasi alami yang meliputinya serta secara potensial akan mempengaruhi penggunaan lahan. Penggunaan lahan merupakan bentuk campur tangan manusia terhadap suatu lahan dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya, baik material maupun spiritual.

Penggunaan lahan secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu penggunaan lahan pertanian dan lahan non-pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan penggunaan lahan terdiri dari faktor fisik, biologis, pertimbangan ekonomi, dan kelembagaan (Dirjen RKLS, 2008). Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), lahan merupakan suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi, dan vegetasi. Hal itu yang mempengaruhi potensi penggunaannya, disamping akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia.

Kabupaten Bandung Barat sebagian besar merupakan daerah berbukit sampai bergunung. Hasil penelitian Hidayat dan Rintang (2004) menunjukkan bahwa penggunaan lahan di daerah Bandung Barat dibedakan atas sawah 13.392 ha (24,2% dari luas daerah penelitian), tegalan atau ladang 8.379 ha (51,1%), kebun campuran 12.128 ha (21,9%), kebun teh 2.048 ha (3,7%), semak belukar 6.558 ha (11,9%), dan hutan primer 5.806 ha (10,5%).

Penggolongan penggunaan lahan secara umum adalah: pertanian tadah hujan, pertanian beririgasi, padang rumput, kehutanan, atau daerah rekreasi. Tipe pengunaan lahan merupakan penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih terinci sesuai dengan syarat-syarat teknis untuk suatu daerah dengan keadaan fisik dan

(17)

sosial ekonomi tertentu, yaitu menyangkut pengelolaan, masukkan yang diperlukan, dan keluaran yang diharapkan secara spesifik (Rayes, 2007).

Jumlah penduduk yang meningkat berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan pangan dan perumahan. Kebutuhan lahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan perumahan telah menyebabkan pergeseran pola penggunaan lahan seperti pertanian semusim di daerah-daerah yang semestinya tidak diperbolehkan. Penggunaan lahan yang tidak memperhatikan konservasi tanah dan kesesuaian lahan menyebabkan dampak lingkungan yang kurang menguntungkan, seperti terjadi erosi, menurunnya fungsi hidrologis hutan, terjadinya degradasi lahan dan meningkatnya lahan kritis serta kerusakan lingkungan (Desman, 2007).

2.2 Perubahan Penggunaan Lahan

Laju perubahan penggunaan lahan akan semakin cepat seiring dengan perkembangan pembangunan ekonomi tidak hanya pada tingkat nasional tetapi juga internasional. Meningkatnya permintaan akan sumberdaya lahan yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas pembangunan dan keterbatasan serta karakteristik sumberdaya lahan yang ada akan mendorong beralih fungsinya lahan-lahan pertanian ke non-pertanian (Lopulisa, 1995). Menurut Nasoetion dan Winoto (1996) ada dua faktor yang langsung menentukan proses alih fungsi lahan baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu : (1) sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah, dan (2) sistem non-kelembagaan yang berkembang secara alamiah dalam masyarakat. Sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah antara lain direpresentasikan dalam bentuk terbitnya beberapa peraturan mengenai konversi lahan.

Perubahan penggunaan lahan atau alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi yang terjadi pada suatu lahan dalam kurun waktu yang berbeda. Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah faktor politik dan faktor ekonomi. Faktor politik dapat mempengaruhi pola perubahan terhadap suatu lahan karena adanya kebijakan yang diambil oleh pengambil keputusan. Faktor ekonomi adalah perubahan pendapatan serta pola konsumsi yang menyebabkan kebutuhan akan ruang dan tempat rekreasi meningkat sehingga terjadi perubahan penggunaan lahan.

(18)

Menurut Witjaksono (1996) alih fungsi lahan memiliki lima faktor sosial yang mempengaruhinya, yaitu perubahan perilaku, hubungan pemilik dengan lahan, pemecahan lahan, pengambilan keputusan, dan apresiasi pemerintah terhadap aspirasi masyarakat. Menurut (Sitorus, 2004a) perubahan status kepemilikan lahan merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan. Hal ini berkaitan dengan kecenderungan masyarakat negara-negara berkembang termasuk Indonesia bahwa sebagian kelebihan daya beli pada golongan masyarakat berpenghasilan tinggi disalurkan dalam bentuk investasi pada lahan atau tanah.

Nilai keuntungan yang dimiliki suatu lahan dapat dilihat dari jenis penggunaan lahan tersebut dalam periode setahun seperti hasil penelitian (Sitorus, et al., 2007) mengenai perhitungan nilai land rent sembilan usaha dan perbandingannya terhadap nilai land rent terendah di Kecamatan Karangpandan dan Tawamangun, Kabupaten Karanganyar. Sembilan usaha yang dihitung antara lain : villa, tanaman hias, padi-padi, padi-padi-padi, padi-palawija, padi-palawija-palawija, bawang putih-bawang merah-daun bawang, wortel-bawang kubis-sawi, dan wortel-bawang merah-wortel-wortel-bawang putih-wortel-bawang merah. Penggunaan lahan dengan pola tanaman padi-padi memiliki nilai land rent terendah karena biaya input seperti tenaga kerja, pestisida, pupuk dan pengolahan tanah yang relatif tinggi dibandingkan dengan usaha lain.

Penelitian (Sitorus et al., 2007) menunjukkan bahwa di Kecamatan Sanden, Kretek, dan Srandakan, Kabupaten Bantul terjadi perubahan pola tanam yang berakibat terhadap nilai land rent. Perubahan pola tanam merupakan awal dari berubahnya komoditas padi menjadi bawang merah, yaitu semula berupa padi atau palawija menjadi bawang merah atau padi-bawang merah-cabai merah-padi-bawang merah. Perhitungan nilai land rent untuk komoditas padi pada musim tanam I dengan bawang merah pada musim tanam II dimana nilai land rent untuk komoditas bawang merah (berkisar antara Rp. 1.056-Rp. 2.874 per m2) lebih besar dibandingkan dengan padi (berkisar antara Rp. 14-Rp. 444 per m2). Hal ini terjadi diduga para petani cenderung untuk menanam bawang merah dengan mengubah sistem pola tanam mereka.

(19)

2.3 Teori Perkembangan Wilayah

Wilayah didefinisikan sebagai area geografis yang mempunyai ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berinteraksi. Berdasarkan definisi tersebut, dapat diturunkan tipologi-tipologi wilayah. Salah satu diantaranya tipologi wilayah nodal yang merupakan pengembangan dari konsep sel hidup. Wilayah ini diasumsikan sebagai sel hidup yang terdiri dari inti dan plasma, yang masing-masing mempunyai fungsi saling mendukung. Berdasarkan konsep wilayah nodal tersebut, pusat atau hinterland suatu wilayah dapat ditentukan dari kelengkapan fungsi pelayanan suatu wilayah dengan cara mengidentifikasi jumlah dan jenis fasilitas umum, industri, dan jumlah penduduknya serta aksesibilas ke fasilitas tersebut. Unit wilayah yang memiliki kelengkapan fasilitas relatif paling lengkap dibandingkan dengan unit wilayah yang lain maka wilayah tersebut mempunyai hirarki lebih tinggi. Sebaliknya, jika suatu unit wilayah memiliki kelengkapan fasilitas paling rendah maka wilayah tersebut merupakan wilayah hinterland dari unit wilayah yang lain (Panuju et al., 2008).

Pada tahun 1826 teori Von Thunen untuk penggunaan lahan mulai diperkenalkan yang merupakan prinsip dasar mengenai lokasi geografi secara modern. Von Thunen menyatakan dalam teorinya bahwa pola dari penggunaan lahan terkait erat dengan perbedaan nilai atau harga komoditas pertanian. Perbedaan itu dapat dinyatakan dari harga produksi dan jarak lokasi tersebut ke pusat pasar. Pola-pola tersebut biasanya tergantung pada kehomogenan suatu wilayah. Semakin homogen suatu wilayah maka akan semakin konsentris. Sebaliknya, pola akan mengikuti batas-batas alam yang sudah ada (Smith, 1976).

2.4 Klasifikasi Kemampuan Lahan

Klasifikasi kemampuan lahan (Land Capability Classification) merupakan penilaian lahan secara sistematik dengan pengelompokkannya kedalam beberapa kategori berdasarkan sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara lestari (Arsyad, 2006). Evaluasi kemampuan lahan merupakan evaluasi lahan bagi penggunaan berbagai sistem pertanian secara luas dan tidak menyangkut pada peruntukkan jenis tanaman tertentu ataupun

(20)

tindakan-tindakan pengelolaannya. Klasifikasi ini merupakan pengelompokkan lahan ke dalam satuan-satuan khusus menurut kemampuannya untuk penggunaan secara intensif dan perlakuan yang dapat diperlukan untuk dapat digunakan berkelanjutan Klasifikasi kemampuan lahan merupakan klasifikasi yang bersifat interpretatif didasarkan atas sifat-sifat permanen lahan. Penilaian kemampuan lahan dari suatu daerah dapat berubah dengan adanya reklamasi yang mengubah secara permanen keadaan alam dan atau cakupan faktor penghambat misalnya pembuatan drainase, irigasi, dan sebagainya (Sitorus, 2004b).

2.4.1 Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut Sistem USDA (Amerika Serikat)

Sistem klasifikasi kemampuan lahan yang banyak digunakan adalah Sistem dari United States Department of Agriculture (USDA). Sistem ini mengenal tiga kategori yaitu kelas, sub-kelas, dan unit, yang didasarkan atas kemampuan lahan tersebut untuk memproduksi pertanian secara umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Sifat-sifat tanah yang digunakan hanyalah sifat-sifat fisik atau morfologi tanah dan lahan yang datanya dapat langsung diamati di lapangan, sedangkan untuk sifat kimia itu sendiri tidak dapat digunakan dalam sistem ini karena sifat kimia sangat mudah berubah, sehingga kurang relevan untuk digunakan (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).

2.4.2 Klasifikasi Kemampuan Lahan Tingkat Kelas

Klasifikasi kemampuan lahan tingkat kelas menunjukkan kesamaan besarnya faktor-faktor penghambat. Lahan dikelompokkan ke dalam delapan kelas, yaitu kelas I sampai VIII. Tingkatan kelas yang lebih tinggi menunjukkan kualitas lahan yang semakin buruk karena resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat bertambah, serta pilihan penggunaan lahan yang dapat diterapkan semakin terbatas. Kelas I sampai IV merupakan lahan yang sesuai untuk pertanian, sedangkan kelas V sampai VIII tidak sesuai untuk usaha pertanian atau memerlukan biaya yang besar untuk pengelolaannya. Adapun secara ringkas klasifikasi kemampuan lahan tingkat kelas adalah sebagai berikut (Sitorus, 2004b; Arsyad, 2006):

(21)

a. Kelas I

Lahan kelas I sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan konservasi yang khusus. Tindakan pemupukan dan usaha-usaha pemeliharaan tanah yang baik diperlukan untuk menjaga kesuburan dan mempertahankan produktivitas.

b. Kelas II

Lahan kelas II mempunyai beberapa penghambat yang dapat mengurangi beberapa pilihan jenis tanaman. Oleh karena itu, diperlukan usaha konservasi yang tingkatnya sedang, seperti pengolahan tanah menurut kontur, pergiliran tanaman dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau, atau guludan, dan tindakan pemupukan seperti pada kelas I.

c. Kelas III

Kelas III sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan yang lebih besar dari kelas II. Tindakan konservasi tanah yang diperlukan kelas ini, meliputi penanaman dalam strip, pembuatan teras, pergiliran dengan tanaman penutup tanah dimana waktu untuk tanaman tersebut lebih lama, serta tindakan-tindakan untuk memelihara atau meningkatkan kesuburan tanah.

d. Kelas IV

Kelas IV memiliki hambatan dan ancaman yang lebih besar dari kelas III, sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian yang memerlukan tindakan seperti konservasi tanah yang lebih berat dan lebih terbatas waktu. Jika digunakan untuk tanaman semusim diperlukan pembuatan teras atau perbaikan drainase atau pergiliran dengan tanaman penutup tanah seperti makanan ternak atau pupuk hijau selama 3-5 tahun.

e. Kelas V

Lahan kelas ini memiliki sedikit atau tanpa bahaya erosi, tetapi memiliki penghambat lain yang sukar dihilangkan, sehingga dapat membatasi penggunaan

(22)

lahan ini. Lahan ini juga sesuai untuk tanaman makanan ternak secara permanen atau dihutankan.

f. Kelas VI

Lahan yang termasuk ke dalam kelas ini tidak sesuai untuk usaha pertanian karena memiliki penghambat yang sangat berat. Kelas ini hanya cocok untuk padang rumput atau dihutankan.

g. Kelas VII

Kelas VII tidak sesuai sama sekali untuk usaha pertanian, tetapi lebih sesuai untuk ditanami vegetasi permanen. Jika Penggunaan lahan sebagai padang rumput atau hutan maka pengambilan rumput atau penebangan harus dilakukan secara hati-hati.

h. Kelas VIII

Lahan kelas ini tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian dan harus dibiarkan pada keadaan alami dibawah vegetasi hutan. Lahan ini dapat digunakan untuk cagar alam, daerah rekreasi atau hutan lindung (Arsyad, 2006).

Penentuan kelas kemampuan lahan dengan sistem kategori dilakukan dengan cara menguji nilai-nilai dari sifat tanah dan lokasi terhadap semua kriteria untuk masing-masing kategori melalui proses seleksi atau penyaringan. Pertama-tama diuji ke dalam kelas yang memiliki kriteria baik dan jika tidak dapat dipenuhi kriterianya maka secara otomatis akan ditetapkan ke dalam kelas yang lebih rendah, yaitu kelas yang memiliki faktor penghambat yang lebih besar dibandingkan kelas di atasnya (Sitorus, 2004b). Adapun kriteria klasifikasi kelas kemampuan lahan disajikan pada Tabel 1.

(23)

Tabel 1. Kriteria Klasifikasi Kemampuan Lahan

No Faktor Kelas Kemampuan Lahan

I II III IV V VI VII VIII

1 Tekstur tanah (t) a. lapisan atas (40 cm) t2-t3 t1-t4 t1-t4 * * * * t5 b. lapisan bawah t2-t4 t1-t4 t1-t4 * * * * t5 2 Lereng permukaan (%) 0-3 3-8 8-15 15-30 * 30-45 45-65 >65 3 Drainase b-ab aj J Sj ** * * * 4 Kedalaman efektif >90 >90 90-50 50-25 * <25 * * 5 Keadaan erosi T R R Sj * B Sb * 6 Kerikil/batuan (%volume) 0-15 0-15 0-15 15-50 50-90 * * >90

7 Banjir Oo Oi Oii Oiii Oiv * * *

Keterangan :

*) dapat mempunyai sembarang sifat faktor penghambat dari kelas yang lebih rendah

**) permukaan tanah selalu tergenang air

Tekstur : t1 = halus; t2 = agak halus; t3 = agak kasar; t4 = kasar; t5 = sedang Erosi : t = tidak ada; r = ringan; s = sedang; b = berat; sb =sangat berat Drainase : b = baik; ab = agak baik; aj = agak jelek; j = jelek;sj = sangat jelek Sumber : Arsyad,(2006).

2.5 Perkembangan Kabupaten Bandung Barat

Kabupaten Bandung Barat merupakan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Bandung pada tahun 2007, berdasarkan UU No 12 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Ngamprah merupakan Ibu Kota dari Kabupaten Bandung Barat.

Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu wilayah yang terdapat dalam kawasan andalan di wilayah Cekungan Bandung. Sebagai salah satu wilayah yang terdapat dalam kawasan andalan Cekungan Bandung, perkembangan dan pertumbuhan wilayahnya tidak akan terlepas dari daya dukung wilayahnya sendiri.

2.6 Studi Terdahulu terkait Perubahan Penggunaan Lahan

Beberapa studi terdahulu terkait dengan penelitian ini akan diuraikan berikut ini. Secara umum penelitian terkait konversi lahan telah banyak dilakukan di berbagai lokasi berbeda diantaranya di Kota Tangerang (Kusnitarini, 2006),

(24)

Babelan (Sari, 2004), Ciampea (Suparman, 2002) dan Kecamatan Lembang Parongpong, 2005) dan Serang (Munibah, 2006). Satu per satu beberapa penelitian tersebut akan diuraikan ringkasan hasilnya sebagai bahan perbandingan dengan penelitian ini.

Hasil penelitian Kusnitarini (2006), menunjukkan bahwa luas penggunaan lahan di Kota Tangerang banyak mengalami perubahan dalam kurun waktu 1991 sampai 2005, namun perubahan luas area tersebut berbeda-beda antar wilayah. Beberapa wilayah mengalami peningkatan luas penggunaan dan sebaliknya wilayah lain mengalami penurunan pada jenis penggunaan yang sama. Konversi lahan antara kedua tahun tersebut terlihat sangat nyata dimana perubahan tersebut didominasi oleh perubahan penggunaan lahan ke arah penggunaan untuk perkotaan (urban).

Pada tahun 2005 di Timur dan Utara Kota Tangerang terlihat masih banyak penggunaan lahan sawah. Wilayah Utara Kota Tangerang merupakan wilayah yang diperuntukan sebagai bandara udara Soekarno-Hatta sehingga berdasarkan RTRW yang ada, wilayah ini dibatasi penggunaannya. Penggunaan lahan yang ada lebih diperuntukan untuk penggunaan lahan yang tidak menggangu aktifitas bandara seperti penggunaan lahan sawah. Wilayah Timur merupakan wilayah dengan pertanian dan irigasi yang baik sehingga wilayah ini dipertahankan untuk penggunaan lahan sawah.

Penggunaan lahan secara agregat di Kota Tangerang untuk penggunaan lahan tegalan, sawah, air, dan hutan masih relatif banyak. Pada tahun 2005 penggunaan lahan untuk sawah, tegalan, dan air mengalami penggunaan lahan dari 50%, bahkan perubahan sebesar 100% artinya telah habis terkonversi. Penggunaan lahan untuk perkotaan dari tahun 1999 sampai 2005 telah mengalami peningkatan sebesar 31,5%.

Hasil penelitian Sari (2004) tentang land rent di lahan pertanian dan lahan permukiman di Kecamatan Babelan, menunjukan nilai rata-rata land rent pada lahan sawah sebesar Rp. 138,270/m2/tahun, sedangkan nilai land rent pada lahan permukiman pada kondisi semi-permanen sebesar Rp. 148,055/m2/tahun. Salah satu faktor yang menyebabkan nilai land rent lahan pemukiman lebih tinggi

(25)

daripada lahan sawah adalah jarak dan lokasi lahan sehingga konversi lahan dari pertanian ke non-pertanian tidak dapat dihindarkan.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan Suparman (2002) selama kurun waktu 1992 hingga 2000, di Kecamatan Ciampea, menunjukkan bahwa wilayah tersebut mengalami perubahan lahan sawah cukup besar. Tiap desa memiliki perubahan luas sawah yang berbeda, ada yang bertambah dan ada yang berkurang luasannya. Penambahan dan pengurangan luas sawah memiliki faktor-faktor penyebab yang bervariasi yang masih terkait dengan proses suburbanisasi. Penurunan luas sawah di Kecamatan Ciampea mengalami penurunan rata-rata sebesar 13,2% per tahun. Hal ini berarti selama kurun waktu tersebut, luas sawah di Kecamatan Ciampea menurun karena terjadi kegiatan alih fungsi lahan sawah menjadi penggunaan lainnya yang bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di Kecamatan Ciampea.

Berikutnya penelitian Ruswandi (2005) menunjukkan konversi lahan pertanian di Kecamatan Lembang dan Parongpong Kabupaten Bandung Barat mengalami peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun (1992-2002) sebesar 3.134,49 ha (25%) dengan rata-rata 313,5 ha per tahun. Selama kurun waktu 10 tahun (1992-2002) lahan sawah telah menyusut sebesar 157,63 ha (62,43%), dari 252,48 ha pada tahun 1992 menjadi 94,85 ha tahun 2002.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Rosnila (2004) terkait dengan penurunan situ menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1991-2001 penggunaan lahan terlantar di DTA (Daerah Tangkapan Air) Situ Jatijajar mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan sebesar 15,76% per tahun. Rata-rata laju penambahan pemukiman lebih tinggi diantara yang lainnya sebesar 7,66% per tahun dijumpai di DTA Situ Pedongkelan. Hal ini berbeda dengan tegalan dan vegetasi yang mengalami penurunan cukup besar dengan rata-rata laju penurunan luas berturut-turut sebesar -12,71% dan -12,28% per tahun. Demikian juga hal yang sama terjadi pada lahan sawah yang mengalami penurunan sebesar -586% di DTA Situ Pedongkelan.

Penelitian Munibah et al. (2006) menyatakan bahwa telah terjadi perubahan penggunaan lahan pada DAS Cidanau yang berlokasi di Provinsi Banten mencakup Kabupaten Serang (Kecamatan Cinangka, Mancak, Pabuaran, Ciomas,

(26)

Padarincang) dan Kabupaten Pandeglang (Kecamatan Mandalawangi dan Pandeglang). Luas lahan non-pertanian dan tanaman tahunan mengalami penambahan luas pada periode tahun 1982-1994 dan 1994-2006. Penambahan lahan non-pertanian sebesar 0,4% pada tiap periode dan perubahan tersebut paling luas terjadi di sepanjang jalan yang melewati Kecamatan Padarincang dan Ciomas. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dalam penelitian ini adalah elevasi, jarak dari jalan raya, dan kepadatan penduduk.

(27)

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung Barat yang merupakan kabupaten baru di Provinsi Jawa Barat hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang di sebelah barat dan utara, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi di sebelah timur, serta Kabupaten Cianjur di sebelah barat dan timur. Secara spasial disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Batas Administrasi Kabupaten Bandung Barat (sumber : Bappeda Kabupaten Bandung Barat 2009)

Cakupan wilayah Kabupaten Bandung Barat, meliputi 15 kecamatan yang terdiri dari: Kecamatan Padalarang, Cikalongwetan, Cililin, Parongpong, Cipatat, Cisarua, Batujajar, Ngamprah, Gununghalu, Cipongkor, Cipeundeuy, Lembang, Sindangkerta, Cihampelas dan Rongga. Pengolahan data dilakukan di Studio Perencanaan Pengembangan Wilayah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Agustus 2010.

(28)

3.2 Jenis Data, Sumber Data dan Alat Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yang diperoleh dari beberapa instansi terkait. Data primer seperti data Citra Landsat 1998 dan 2008 diperoleh dari biotrop. Data sekunder berupa Peta Administrasi, Peta Jenis Tanah, Peta Curah Hujan, Peta Lereng, Peta Tekstur, Peta Jalan, dan informasi terkait dengan Kabupaten Bandung Barat. Data Kabupaten Dalam Angka tahun 1998 dan 2008 diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data Potensi Desa diperoleh dari Studio Bagian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Alat yang digunakan dalam penelitian adalah komputer dengan software Arcview 3.3, SPSS 16, Microsoft office, dan GPS (Global Positioning System).

3.3 Tahapan Penelitian

Penelitian ini terbagi atas tiga tahapan, yaitu : (1) tahap persiapan dan pengumpulan data (2) tahap pengecekan lapang (3) tahap analisis data. Adapun diagram alir penelitian disajikan pada Gambar 2.

(29)

Gambar 2. Aliran Kerangka Penelitian Jumlah Penduduk 1998 dan 2008 A B C Tabulasi Laju Pertambahan Penduduk Laju perubahan Lahan Pola Perubahan Penggunaan Lahan Analisis Statistik

Faktor yang Mempengaruhi Podes 2003 Podes 2008 Analisis Hirarki Join Data Peta Hirarki 2003 Peta Hirarki 2008 Digitasi Overlay Peta Kelas Kemampuan Lahan Peta Desa D P eta Je nis Ta na h Pe ta Cu ra h Hu ja n Peta Ke mir in ga n Peta T ekstu r B Overlay A

Kelas Kemapuan lahan per kecamatan Tabulasi

Perubahan Penggunaan Lahan per Kecamatan

Luas Perubahan Penggunaan Lahan pada

Berbagai Kelas Kemampuan Lahan Pengecekan Lapang Peta Perubahan Penggunaan Lahan 1998 dan Overlay A Overlay Digitasi Interpretasi Peta Penggunaan Lahan 1998 Peta Penggunaan Lahan 2008 Peta A dministrasi Koreksi Geometri Citra Landsat 1998 Citra Landsat 2008 Peta Sebaran Penggunaan Lahan pada Berbagai Kelas Kemampuan Lahan Centroid Jarak Jalan tol dan Kabupaten Luas poligon C 16

(30)

3.3.1 Tahap Persiapan dan Pengumpulan Data Penelitian

Tahap ini merupakan tahap persiapan studi literatur dan pengumpulan data. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Citra Landsat 1998 dan 2008, Peta Administrasi, Peta Jalan, Peta Curah Hujan, Peta Jenis Tanah, Peta Lereng, dan Peta Tekstur. Proses selanjutnya adalah koreksi geometri dari masing-masing peta sehingga mempunyai koordinat yang sama. Proses pertama untuk Citra Landsat tahun 1998 dan 2008 adalah penyatuan 7 band yang kemudian dikoreksi geometri. Setelah itu, pemotongan daerah penelitian dengan melakukan subset dengan Peta Administrasi yang kemudian siap untuk didigitasi.

3.3.1.1 Interpretasi Citra

Citra Landsat yang telah melalui tahap pertama dapat langsung didigitasi dengan menggunakan band layer 5,4,2. Digitasi dilakukan dengan menggunakan software Arc View 3.3 dengan teknik on screen digitizing. Demikian juga hal yang sama dilakukan dengan peta-peta yang didigitasi lainnya seperti Peta Curah Hujan, Peta Jenis Tanah, Peta Lereng, dan Peta Tekstur. Namun, untuk interpretasi Citra Landsat setiap jenis penggunaan lahan dianalisis secara visual berdasarkan unsur-unsur interpretasi citra seperti rona, pola, tekstur, ukuran, bayangan, site, situasi, dan asosiasi. Karakteristik setiap kelas penggunaan lahan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik setiap Jenis Penggunaan Lahan pada Citra Landsat

No. Penggunaan Lahan Karakteristik

1 Badan air (kolam,

waduk, dan danau.) Berwarna gelap, bentuk berkelok-kelok (sungai), memiliki batas-batas yang jelas 2 Hutan Warna hijau kegelap-gelapan

3 Lahan terbangun Berwarna magenta tua, pola memanjang sepanjang jalan atau tidak teratur, membentuk poligon, berbentuk kotak-kotak kecil

4 Tanaman pertanian lahan

basah (TPLB) • fase air : tektur halus, warna biru tua • fase vegetatif : tektur halus, berwarna hijau • fase generatif :tektur halus, berwarna

kuning

• sawah bera : tektur halus, berwarna magenta 5 Tanaman pertanian lahan

kering (TPLK) Tektur kasar, pola tidak teratur, berwarna cokelat kehijauan Sumber : Putri, (2009).

(31)

3.3.1.2 Tumpang Tindih (Overlay)

Peta-peta yang telah melalui tahapan digitasi kemudian di Overlay, seperti pembuatan Peta Kelas Kemampuan Lahan yang merupakan hasil overlay dari peta-peta fisik, sedangkan untuk Peta Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1998 dan 2008 dilakukan proses Overlay kedua peta hasil digitasi. Peta Perubahan penggunaan lahan pada berbagai kelas kemampuan lahan dihasilkan dari overlay dua peta, yaitu Peta Kelas Kemampuan Lahan dan Peta Perubahan Penggunaan Lahan.

3.3.2 Tahap Pengecekan Lapang

Pengecekan lapang dilakukan pada setiap kecamatan, untuk mengambil data-data penggunaan lahan aktual dan memverifikasi ulang jenis tanah dengan kelas kemampuan lahannya. Pengecekan lapang dilakukan untuk memperkuat hasil analisis dan interpretasi terutama dalam kaitannya dengan pengoreksian peta penggunaan lahan seperti jenis penggunaan lahan, topografi, lereng, dan tekstur. Data lapang yang diperoleh dicocokkan dengan data hasil analisis. Pengecekkan lapangan berjumlah 70 titik lokasi yang titik lokasinya dapat dilihat pada Gambar 3.

(32)

Gambar 3. Peta Lokasi Pengecekan Lapang di Kabupaten Bandung Barat

3.3.3 Tahap Analisis

Tahap analisis terbagi atas dua tahapan, yakni analisis skalogram dan teknik pendugaan laju perubahan lahan.

3.3.3.1 Identifikasi Tingkat Perkembangan Wilayah

Perkembangan wilayah dianalisis dengan menggunakan metode skalogram. Penetapan hirarki di suatu wilayah didasarkan pada jumlah dan jenis fasilitas, serta jarak ke fasilitas tersebut. Dalam penelitian ini dibagi berdasarkan fasilitas ekonomi, sosial dan pendidikan, serta jarak ke fasilitas. Pada Tabel 3 disajikan variabel data yang digunakan dalam analisis skalogram.

(33)

Tabel 3. Variabel Fasilitas yang Digunakan dalam Analisis Skalogram Kelompok Indeks Perkembangan

Wilayah Variabel yang Digunakan

Fasilitas Pendidikan

• Jumlah TK negeri dan swasta • Jumlah SD negeri dan swasta • Jumlah SLTP negeri dan swasta • Jumlah SLTA negeri dan swasta • Jumlah Perguruan Tinggi

• Jumlah Madrasah Fasilitas Sosial • Jumlah Mesjid • Jumlah Surau • Jumlah Gereja • Jumlah Wihara Fasilitas Ekonomi

• Jumlah Industri besar • Jumlah Industri kecil • Jumlah pasar dan pertokoan • Jumlah Koperasi

Aksesibilitas Pendidikan

• Jarak ke TK terdekat • Jarak ke SD terdekat • Jarak ke SLTA terdekat Aksesibilitas Ekonomi • Jarak pertokoan terdekat • Jarak pasar terdekat

Adapun kriteria pengelompokkan hirarki, adalah :

• Hirarki I : Jika nilai Indeks Perkembangan Kecamatan lebih besar dari nilai Stdev dan Rata-rata (IPK>(Stdev+Average)).

• Hiraki II : Jika nilai Indeks Perkembangan Kecamatan lebih besar sama dengan rata-rata (IPK>=Average).

• Hirarki III : Jika nilai Indeks Perkembangan Kecamatan lebih kecil dari rata-rata (IPK<Average).

3.3.3.2 Teknik Pendugaan Laju Perubahan Penggunaan Lahan

Teknik pendugaan perubahan dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan seiring dengan waktu, ukuran, atau jarak. Rumus matematik dari teknik pendugaan perubahan adalah:

∆ Keterangan :

(34)

Variabel yang digunakan dalam model pertumbuhan ini dapat berupa luas tiap penggunaan lahan, kepadatan penduduk tiap tahun, penduduk menurut lapangan usaha dan PDRB menurut lapangan usaha. Dalam penelitian ini perhitungan menggunakan jumlah penduduk dan luasan penggunaan lahan yang terdapat dalam suatu wilayah penelitian.

3.3.3.3 Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan

Analisis statistik yang digunakan adalah Logistic Regression Analysis. Logistic Regression merupakan pendekatan pemodelan matematik yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan hubungan dari beberapa variabel penduga (X1,

X2,…, Xk ) dengan variabel tujuan. Berikut ini merupakan persamaan dari model

logistik :

∑ Keterangan :

Y = Variabel binomial β = Konstanta X = Variabel penduga βj = Koefisien variabel

Variabel penduga (Y) merupakan variabel yang berdasarkan prinsip statistik dengan sebaran binomial. Misalnya dalam penelitian ini variabel penduga adalah jenis penggunaan dengan lahan terbangun diberi kode 1 (satu), selain itu diberi kode 0 (nol). Analisis tersebut dapat menunjukkan peluang (kemungkinan) terjadinya perubahan penggunaan lahan (Kleinbaum, et al., 2008).

Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah Logistic Regression Analysis dengan prinsip Forward Stepwise yang terdiri dari satu variabel tujuan yaitu perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbangun, sedangkan variabel penduga terdiri dari 13 variabel. Tabel 4 menyajikan variabel-variabel yang digunakan dalam analisis tersebut.

(35)

Tabel 4. Variabel-variabel dalam Logistic Regression Analysis

Variabel Tujuan (Y) Variabel Penduga (X) Variabel Perubahan penggunaan lahan 1. Jenis tanah

(0 = tidak berubah; 1= berubah) 2. Kemiringan lereng 3. Curah hujan 4. Tekstur

5. Luas tiap penggunaan lahan 6. Pertambahan jumlah penduduk 7. Pertambahan fasilitas pendidikan 8. Pertambahan fasilitas ekonomi 9. Pertambahan fasilitas sosial 10. Jarak ke jalan tol

11. Jarak ke kabupaten

12. Jumlah penduduk 13. Kepadatan penduduk

Dalam proses analisis data-data penduduk dan data sosial ekonomi berbasis wilayah administratif, sedangkan data penggunaan lahan dan sebaran karakteristik untuk membangun kemampuan lahan berbasis poligon. Untuk melakukan matching data basis administratif dan data basis poligon tersebut digunakan asumsi bahwa penduduk dan segala aktifitas sosial ekonomi tersebar proporsional sesuai luasan setiap poligon penggunaan lahan terbangun.

(36)

IV. KONDISI UMUM WILAYAH KABUPATEN BANDUNG

BARAT

4.1 Letak Geografis Kabupaten Bandung Barat

Rata-rata ketinggian di Kabupaten Bandung Barat berkisar dari 110 meter hingga 2.242 meter dari permukaan laut. Secara geografis letak Kabupaten Bandung Barat adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Sumedang.

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Cianjur.

Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.

4.2 Keadaan Iklim dan Topografi

Curah hujan rata-rata tahunan di wilayah Kabupaten Bandung Barat 1500-3500 mm/tahun. Wilayah-wilayah yang datar atau relatif datar memiliki curah hujan 1500 mm/tahun, wilayah tersebut mencakup sebagian Kecamatan Batujajar dan Padalarang. Wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan 1500-2000 mm/tahun meliputi Kecamatan Batujajar, Cihampelas, Ngamprah, Padalarang dan Parongpong. Wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan 2000-2500 mm/tahun meliputi sebagian wilayah Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, Ngamprah, Cipatat, Cipongkor, dan Sindangkerta.

Wilayah yang mempunyai curah hujan 2500-3000 mm/tahun adalah sebagian Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, Cikalongwetan, Cipeundeuy, Cipatat, Rongga, Gununghalu dan Sindangkerta, sedangkan wilayah yang memiliki curah hujan paling tinggi adalah daerah yang berada di pegunungan bagian utara Kabupaten Bandung Barat yaitu sebesar 3000-3500 mm/tahun mencakup sebagian wilayah Kecamatan Cikalongwetan dan Cipeundeuy.

Topografi Kabupaten Bandung Barat beragam, mulai dari yang datar, berbukit, sampai bergunung. Apabila ditinjau secara regional Kabupaten Bandung

(37)

Barat merupakan dataran tinggi yang dikelilingi perbukitan dan gunung kuarter. Kemiringan lereng yang terdapat di wilayah tersebut, terdiri dari kemiringan sangat terjal (>40%) mendominasi atau terluas sebesar 13.480 ha di Kabupaten Bandung Barat mencakup Kecamatan Gununghalu. Kemiringan lereng kedua yang terluas adalah kemiringan datar berkisar 0-8% dengan wilayah terluas terdapat di Kecamatan Batujajar, sedangkan untuk kemiringan lereng 8-15% berada di beberapa kecamatan-kecamatan lainnya.

4.3 Kondisi Kependudukan

Jumlah penduduk di Kabupaten Bandung Barat pada 3 titik waktu yaitu tahun 1998, 2007, dan 2008, masing- masing adalah 1.082.741 jiwa, 1.493.238 jiwa, dan 1.456.920 jiwa. Dilihat dari komponen pendidikan pada tahun 2007, Angka Melek Huruf (AMH) sebesar 98,25% dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 8,12 tahun. Berdasarkan data tahun 2007, jumlah penduduk di Kabupaten Bandung Barat berjumlah 1.493.238 jiwa dengan jumlah rumah tangga (kepala keluarga) sebanyak 298.648 kepala keluarga (KK). Jumlah penduduk Kabupaten Bandung Barat terdiri dari 758.670 jiwa penduduk laki-laki dan 734.568 jiwa penduduk perempuan yang tersebar di 15 kecamatan dan 165 desa.

4.4 Fasilitas Pelayanan

Perkembangan penduduk yang semakin pesat di Kabupaten Bandung Barat mendorong meningkatnya kebutuhan akan perumahan, khususnya di Kecamatan Padalarang dan Lembang. Jumlah perumahan di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2006 sebanyak 82 lokasi perumahan dengan 13,858 unit rumah.

Kabupaten Bandung Barat memiliki sarana pemerintahan dan pelayanan umum, seperti kantor bupati, kantor kecamatan, dan kantor desa. Jumlah sarana pemerintahan dan pelayanan umum ini sesuai dengan jumlah kecamatan dan desa yang ada di Kabupaten Bandung Barat. Adapun jumlah sarana pemerintahan dan pelayanan umum adalah 15 kantor kecamatan yang terdapat di setiap kecamatan dan 165 kantor desa yang terdapat di setiap desa yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

(38)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Cakupan Wilayah Kabupaten Bandung Barat

Kabupaten Bandung Barat terdiri dari 13 kecamatan dan 165 desa. Beberapa kecamatan terbentuk melalui proses pemekaran. Kecamatan yang mengalami pemekaran tersebut adalah Kecamatan Cililin dan Gununghalu. Kecamatan Cililin dimekarkan menjadi Kecamatan Cililin dan Cihampelas, sedangkan Kecamatan Gununghalu dimekarkan menjadi Kecamatan Gununghalu dan Rongga. Peta Administrasi Kabupaten Bandung Barat tertera pada Gambar 4. Luas wilayah per kecamatan di Kabupaten Bandung Barat tertera pada Gambar 5.

(39)

Gambar 5. Luas Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Kecamatan Gununghalu merupakan kecamatan yang paling luas diantara kecamatan lainnya yaitu 27391.57 ha, sedangkan kecamatan yang memiliki luas paling kecil adalah Kecamatan Ngamprah sebesar 3608.55 ha. Kecamatan-kecamatan lainnya memiliki luasan yang beragam, Kecamatan Batujajar (8368.34 ha), Cikalongwetan (11209.05 ha), Cililin (12817.19 ha), Cipatat (12549.64 ha), Cipeundeuy (10124.69 ha), Cipongkor (7614.7 ha), Cisarua (5543.1 ha), Lembang (9736.65 ha), Padalarang (5157.56 ha), Parongpong (4512.49 ha), dan Sindangkerta (12034.83 ha).

Kabupaten Bandung Barat dilintasi oleh Jalan Tol Cipularang yang menghubungkan Kota Jakarta dan Bandung. Tol ini membentang dari Cikampek-Purwakarta sampai Padalarang. Sesuai dengan kondisi topografi dari Kabupaten Bandung Barat yang berbukit maka kondisi jalannya juga naik turun, namun lintasan dari jalan tol ini hanya mencakup 3 kecamatan saja dari Kabupaten Bandung Barat, yaitu Kecamatan Cikalongwetan, Cipatat, dan Padalarang. Suatu wilayah yang berlokasi dekat atau dilalui sarana transportasi seperti jalan tol atau jalan raya dikhawatirkan akan mengalami peningkatan laju konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun.

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 Luas (ha) Kecamatan 8368,34 11209,05 12817,19 12549,64 10124,69 7614,7 5543,1 27391,57 9736,65 3608,55 5157,56 4512,49 12034,83

(40)

5.2 Laju dan Pola Perubahan Lahan Pertanian

Kabupaten Bandung Barat memiliki sebaran penggunaan lahan yang beragam, namun dalam penelitian ini hanya dianalisis lima jenis penggunaan lahan yaitu badan air, hutan, lahan terbangun, tanaman pertanian lahan basah, dan lahan kering. Hal ini sehubungan dengan data yang digunakan dalam mengidentifikasi jenis penggunaan lahan yaitu Citra Landsat sehingga kelima jenis penggunaan lahan tersebut lebih mudah diidentifikasi kenampakannya. Hasil analisis penggunaan lahan menunjukkan terdapat perubahan penggunaan lahan, salah satunya dari tanaman pertanian lahan basah menjadi lahan terbangun.

Perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat memiliki peningkatan dan penurunan luasnya untuk tiap jenis penggunaan lahan pada tahun 1998 dan 2008. Luas tiap penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat disajikan di Tabel 5.

Tabel 5. Luas Tiap Penggunaan dan Perubahan Lahan di Kabupaten Bandung Barat pada Tahun 1998 dan 2008

Penggunaan lahan Luas (ha) Perubahan (ha per tahun) 1998 2008 Badan air 1081,11 1084,12 0,301 Hutan 14115,92 13722,07 -39,39 Lahan terbangun 27494,48 30134,49 264,01 TPLB 32691,59 29603,21 -308,84 TPLK 48263,76 49102,97 83,92

Lahan Pertanian (TPLB & TPLK) 80955,35 78706,18 -224,91

Pada tahun 1998 jenis penggunaan lahan yang paling besar digunakan untuk tanaman pertanian lahan kering yaitu 48263,76 ha, sedangkan untuk jenis penggunaan lahan terkecil sebesar 1081,11 ha untuk badan air. Demikian juga pada tahun 2008 penggunaan lahan terbesar adalah jenis penggunaan tanaman pertanian lahan kering sebesar 49102,97 ha, dan jenis penggunaan lahan terkecil luasnya adalah badan air sebesar 1084,12 ha.

Peningkatan jenis penggunaan lahan pada tahun 1998 dan 2008 paling besar terjadi pada jenis penggunaan lahan terbangun sebesar 264 ha per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya penambahan pembangunan baik berupa fasilitas-fasilitas umum maupun pemukiman penduduk. Tanaman pertanian lahan kering dan badan air meningkat luas penggunaannya masing-masing sebesar 83,92 ha per

(41)

tahun dan 0,301 ha per tahun. Penurunan luas penggunaan lahan terjadi pada jenis penggunaan tanaman pertanian lahan basah dan hutan masingmasing sebesar -308,84 ha per tahun dan -39,39 ha per tahun. Adapun data luas perubahan penggunaan lahan per kecamatan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Luas Perubahan Penggunaan Lahan per Kecamatan No Nama Kecamatan Hutan -TPLB Hutan -TPLK TPLB -LT TPLB -TPLK TPLK-Badan air TPLK -LT TPLK-TPLB Total (ha) 1 Batujajar 66,59 823,2 4 799,1 7 1689 2 Cikalongwetan 92,73 19,95 8,15 120,83 3 Cililin 99,63 59,4 159,03 4 Cipatat 78,89 147,63 83,55 47,3 357,37 5 Cipeundeuy 101,26 232,96 334,22 6 Cipongkor 12,9 0,27 13,17 7 Cisarua 122,01 122,01 244,02 8 Gununghalu 25,4 35,34 366,77 427,51 9 Lembang 21,19 91,35 0,15 112,69 10 Ngamprah 26,29 183,05 511,57 720,91 11 Padalarang 130,76 870,46 21,87 1023,09 12 Parongpong 43,66 12,48 56,14 13 Sindangkerta 32,14 32,14 Total 145,48 248,89 1246,82 2122,56 19,95 1384,26 122,16 5290,12

Kecamatan Batujajar merupakan kecamatan yang banyak mengalami perubahan penggunaan lahan dari TPLB menjadi lahan terbangun sebesar 823,24 ha. Kecamatan Batujajar merupakan kecamatan yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan sementara untuk Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, kecamatan tersebut merupakan kawasan industri sehingga perubahan penggunaan lahan di daerah ini terjadi secara intensif. Perubahan TPLK menjadi lahan terbangun terluas terjadi di Kecamatan Ngamprah dan Gununghalu masing-masing sebesar 511,57 ha dan 366,77 ha. Sebaran perubahan penggunaan lahan tersebut terpusat hanya pada daerah-daerah tertentu dimana lokasi tersebut dekat dengan pusat pertumbuhan serta memiliki akses jalan yang baik.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Ruswandi et al. (2007) mengenai perubahan penggunaan lahan di Bandung Utara yang menunjukkan bahwa berdasarkan interpretasi Citra Landsat tahun 1992 dan tahun 2002 diketahui luas lahan pertanian tahun 1992 sebesar 12.069 hektar dan tahun 2002

(42)

menjadi 8.935 ha dengan demikian telah terjadi konversi lahan pertanian sebesar 3.134 ha (25%), dengan laju konversi 2,96% per tahun. Perbedaan ini terjadi karena Kabupaten Bandung Barat memiliki jarak relatif jauh terhadap pusat Kota Bandung (pusat pertumbuhan).

Perubahan penggunaan lahan mengindikasikan bahwa di daerah tersebut telah terjadi pengalihfungsian lahan akibat perkembangan wilayah yang ditandai dengan pembangunan banyak fasilitas pelayanan bagi masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Rustiadi dan Wafda (2007) bahwa lahan pertanian meskipun lebih lestari kemampuannya, namun memberikan sedikit keuntungan material dibandingkan sektor industri. Akibatnya lahan pertanian sering terkonversi menjadi lahan non-pertanian seperti pemukiman, industri dan lain sebagainya yang memberikan keuntungan lebih besar. Gambar 6 merupakan contoh dokumentasi berupa foto dari beberapa bentuk penggunaan lahan yang berada di Kabupaten Bandung Barat.

a. TPLB (107,49;-6,86) b. TPLK (107,35;-6,87)

c. Hutan (107,32;-6,81) d. Lahan terbangun (107,59;-6,79)

e. Badan Air (107,33;-6,78)

(43)

Hasil pengecekan di lapang menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan terjadi oleh beberapa agen pengubah, yaitu masyarakat, swasta, dan pemerintah. Beberapa jenis penggunaan lahan, misalnya tanaman pertanian lahan basah dan lahan kering biasanya berubah menjadi lahan terbangun berupa perumahan, pertokoan, industri, yang memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian.

5.2.1. Pola Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu terkait faktor fisik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Perubahan penggunaan lahan dapat terjadi pada berbagai macam jenis penggunaan lahan. Di Kabupaten Bandung Barat telah terjadi konversi lahan, misalnya dari tanaman pertanian lahan basah menjadi lahan terbangun, tanaman pertanian lahan kering menjadi lahan terbangun, dan sebagainya. Berikut ini disajikan pola perubahan penggunaan lahan dan luasannya dalam hektar yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 seperti pada Tabel 7.

Tabel 7. Pola Perubahan Penggunaan Lahan dan Luasnya pada Periode Tahun 1998 dan 2008

Penggunaan Lahan 1998

(ha)

Penggunaan Lahan 2008 (ha) Jumlah (ha)tahun 1998 Badan air Hutan Lahan terbangun TPLB TPLK Badan air 1.081,11 1.081,11 Hutan 13.722,07 145,48 248,37 14.115,92 Lahan terbangun 27.494,48 27.494,48 TPLB 1.241,56 29.335,57 2.114,46 32.691,59 TPLK 3,01 1.398,45 122,16 46.740,14 48.263,76 Jumlah (ha) tahun 2008 1.084,12 13.722,07 30.134,49 29.603,21 49.102,97 123.646,86 Penggunaan lahan yang banyak terkonversi adalah lahan pertanian meliputi tanaman pertanian lahan basah dan tanaman pertanian lahan kering. Selama kurun waktu sepuluh tahun yaitu tahun 1998 sampai 2008, tanaman pertanian lahan basah merupakan penggunaan lahan yang paling luas terkonversi yaitu 2.114,46 ha menjadi tanaman pertanian lahan kering. Demikian juga dengan tanaman pertanian lahan basah dan lahan kering yang berubah fungsi menjadi lahan

(44)

terbangun. Perubahan ini terkait dengan nilai dari suatu lahan yang diperoleh dari suatu jenis penggunaan tertentu. Lahan pertanian memiliki keuntungan (Land rent) yang lebih rendah dibandingkan dengan lahan non-pertanian. Oleh karena itu, konversi lahan banyak terjadi pada tanaman pertanian lahan basah menjadi tanaman pertanian lahan kering maupun lahan terbangun berupa perumahan, pertokoaan, industri dan sebagainya.

Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi TPLB dan TPLK paling banyak terjadi di Kecamatan Sindangkerta, sedangkan untuk TPLB menjadi lahan terbangun banyak terdapat di Kecamatan Sindangkerta dan Batujajar. Perubahan TPLK menjadi lahan terbangun paling luas berada pada Kecamatan Sindangkerta begitu juga dengan luas perubahan TPLB menjadi TPLK. Perubahan jenis penggunaan lahan yang paling kecil terjadi pada TPLK yang berubah menjadi badan air sebesar 3,01 ha. Perubahan tersebut terjadi di daerah sekitar pabrik tambang kapur yang berada di Kecamatan Cipatat. Penurunan atau pencemaran air yang ada di sekitar pabrik tersebut membuat jenis penggunaan lahan di sekitarnya seperti TPLK dibiarkan tergenang sehingga sebagian daerah yang semula TPLK berubah menjadi badan air. Grafik yang menunjukkan perubahan penggunaan lahan disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1998 dan 2008

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3

Badan air Hutan Lahan terbangun TPLB TPLK 0,003 -0,39 2,64 -3,09 0,84 Pe rs ent a se ( % ) Penggunaan Lahan

(45)

Penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat yang mengalami peningkatan adalah lahan terbangun, tanaman pertanian lahan kering, dan badan air masing-masing meningkat sebesar 2,64%, 0,84%, dan 0,003% sedangkan untuk penggunaan lahan seperti hutan dan tanaman pertanian lahan basah mengalami penurunan luas sebesar -0,39% untuk penggunaan hutan dan -3,09% untuk tanaman pertanian lahan basah.

Persentase perubahan penggunaan lahan pada setiap bentuk penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat masih kecil. Hal ini berkaitan dengan keadaan di daerah tersebut yang masih belum banyak mengalami perkembangan karena baru pada tahun 2007 Kabupaten Bandung Barat secara resmi berdiri sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung. Berikut ini dikemukakan gambaran secara spasial penggunaan dan perubahan penggunaan lahan (Gambar 8).

(46)

Gambar 8. Peta Penggunaan dan Perubahan Lahan Tahun 1998 dan 2008

Keterangan : A) Peta Penggunaan Lahan Tahun 1998

B) Peta Penggunaan Lahan Tahun 2008

(47)

Gambaran secara spasial mengenai jenis penggunaan lahan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa luasan lahan terbangun terpusat di daerah yang mendekati pusat kota yaitu Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Bandung melakukan pemekaran terhadap daerahnya yang sekarang menjadi Kabupaten Bandung Barat. Melalui pemekaran ini diharapkan dapat memberikan pembangunan yang lebih terarah dan menyebar. Hasil analisis tahun 2008 menunjukkan terdapat penambahan luasan jenis penggunaan lahan terbangun, sehingga mengurangi luas lahan untuk jenis penggunaan lahan lainnya (Gambar 8).

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perkembangan di Kabupaten Bandung Barat adalah akses jalan, topografi dan bentuk lahan di suatu wilayah. Perubahan persentase luas penggunaan lahan per kecamatan, disajikan dalam bentuk grafik perubahan persentase luas penggunaan lahan per kecamatan seperti pada Gambar 9.

Gambar 9. Perubahan Persentase Luas Penggunaan Lahan per Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 1998 dan 2008

Persentase perubahan luas penggunaan lahan per kecamatan di Kabupaten Bandung Barat memiliki perubahan yang beragam. Kecamatan Batujajar menunjukkan persentase perubahan yang paling besar sebesar 31,93% dari jumlah perubahan penggunaan lahan kecuali lahan terbangun menjadi lahan terbangun,

31,92 2,28 3,01 6,76 6,32 0,25 4,61 8,08 2,13 13,63 19,34 1,06 0,61 0 5 10 15 20 25 30 35 Pe rs ent a se ( % ) Kecamatan

(48)

sedangkan yang terkecil Kecamatan Cipongkor sebesar 0,25%. Adapun persentase perubahan penggunaan lahan untuk masing-masing kecamatan, adalah Kecamatan Gununghalu (8,08%), Cikalongwetan (2,28%), Cililin (3,01%), Cipatat (6,76%), Cipeundeuy (6,32%), Ngamprah (13,63%), Cisarua (4,61%), Lembang (2,13%), Padalarang (19,34%), Parongpong (1,06%), dan Sindangkerta (0,61%).

Perubahan yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat masih belum terlihat pada daerah ibu kota kabupatennya yaitu Kecamatan Ngamprah dibandingkan dengan Kecamatan Batujajar. Hal ini terjadi karena tidak semua desa yang ada di kecamatan tersebut yang akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan hanya 4 desa yang akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan yaitu Desa Mekarsari, Cilame, Pakuhaji, dan Tanimulya, Hal ini berkenaan dengan ketetapan wilayah Kabupaten Bandung Barat yang termasuk ke dalam wilayah konservasi untuk budidaya tanaman pertanian. Selain itu, Kecamatan Ngamprah merupakan kecamatan yang memiliki luasan terkecil dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung Barat.

Perubahan yang paling besar terjadi di Kecamatan Batujajar karena kecamatan ini merupakan kawasan industri, selain itu juga dijadikan pusat pemerintahan sementara Kabupaten Bandung Barat sebelum beralih ke Ngamprah. Hal ini menyebabkan banyaknya pembangunan yang terjadi di Kecamatan Batujajar sehingga dapat menjadi pusat pertumbuhan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat setempat.

5.3 Sebaran Perubahan Penggunaan Lahan di Berbagai Kelas Kemampuan Lahan

Pembagian kelas kemampuan lahan menunjukkan kesamaan faktor-faktor penghambat. Kelas kemampuan lahan terbagi ke dalam delapan kelas. Semakin besar kelas suatu lahan maka lahan tersebut memiliki faktor penghambat yang semakin besar. Perubahan penggunaan lahan tidak secara langsung dipengaruhi oleh kelas kemampuan lahan tetapi yang lebih berpengaruh adalah aksesibilitas dan pusat pertumbuhan di suatu wilayah. Namun dalam setiap perubahan penggunaan lahan dapat dilihat pula penyebarannya yang terjadi diberbagai kelas kemampuan lahan. Di Kabupaten Bandung Barat perubahan penggunaan lahan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :