V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
5.3. Karakteristik Petani Responden
5.3.8. Pola Tanam
Berdasarkan hasil penelitian, di Desa Perbawati,, Kecamatan Sukabumi terdapat empat musim tanam cabai merah. Empat musim tanam tersebut, yaitu pertama pada bulan September-Februari (2010), kedua April-Oktober (2010), ketiga Desember-Juni (2011), dan keempat September-Februari (2012). Tingkat produktivitas keempat musim tanam tersebut berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh faktor iklim dan cuaca. Hasil tertinggi diperoleh pada musim ketiga, yaitu pada rentang waktu antara bulan Desember hingga Juni 2011. Pada rentang bulan
tersebut merupakan musim panas, dimana musim yang sangat tepat untuk penanaman cabai. Selain itu, pada waktu tersebut jumlah hama dan penyakit tanaman pada cabai merah relatif sedikit. Sementara hasil terendah biasanya diperoleh pada musim pertama dan keempat, yaitu pada rentang waktu antara bulan September hingga Februari. Hal ini dikarenakan pada waktu tersebut merupakan musim hujan, sehingga terdapat banyak hama dan penyakit.
Adapun pola tanam yang dilakukan oleh petani cabai di Desa Perbawati adalah monokultur dengan luasan lahan rata-rata satu hektar setiap musim tanam. Hal ini dikarenakan karakteristik tanaman cabai yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit, serta banyak menyerap unsur hara. Selama dua bulan masa bera, maka diselangi dengan tanaman lainnya yaitu tanaman yang memiliki umur pendek dan yang dapat mengembalikan unsur hara tanah, seperti kacang panjang, kubis, pakcoy atau bawang daun.
Pola tanam pada Gambar 8 merupakan pola tanam petani responden secara umum. Pada praktiknya, tidak seluruh petani menanam cabai merah secara serentak dalam satu waktu. Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada responden, keputusan petani dalam menanam sangat dipengaruhi oleh ketersediaan modal. Selain faktor tersebut, faktor alam seperti iklim dan cuaca, serta harga benih dan obat juga sangat mempengaruhi keputusan petani dalam menanam cabai merah. Pola tanam cabai merah yang dominan dilakukan oleh petani cabai merah di Desa Perbawati, yaitu sebagai berikut:
Pola tanam cabai merah – kacang panjang+kubis+bawang daun – cabai merah - kacang panjang+kubis+bawang daun – cabai merah (Gambar 8)
Luas lahan
September Februari April Oktober Desember Juni September Februari Bulan
Gambar 8. Pola Tanam Petani Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Tahun
2009-2012 Cabai merah Kubis Cabai merah Kacang panjang Cabai merah pakcoy Cabai merah
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Penggunaan Input Usahatani Cabai Merah
Penggunaan input pada usahatani cabai merah cukup berbeda antar musim tanam. Adapun yang dimaksud dengan input usahatani dalam penelitian ini adalah meliputi pupuk, kapur, benih, obat-obatan, tenaga kerja, dan mulsa. Perbedaan penggunaan input setiap musim terdapat pada obat-obatan, yaitu insektisida, fungisida, perekat, dan perangsang tumbuh. Hal ini terjadi karena penggunaan obat-obatan ini tergantung dengan kondisi lingkungan (iklim dan cuaca). Sementara penggunaan untuk input lainnya setiap musimnya tetap, untuk pupuk kandang dan kapur digunakan hanya saat pembukaan lahan, yaitu satu kali dalam dua musim tanam cabai merah. Rata-rata penggunaan input pada usahatani cabai merah menurut musim tanam dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Rata-rata Penggunaan Input dan Produktivitas pada Usahatani Cabai
Merah per Musim Tanam di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi Tahun 2009/2012 Uraian Musim Tanam 1 Musim Tanam 2 Musim Tanam 3 Musim Tanam 4 Pupuk ponska (kg) 605.57 605.57 605.57 605.57 Pupuk kandang (krng) 520.215 520.215 520.215 520.215 Kapur (kg) 888.26 888.26 888.26 888.26 Benih (pack) 13.59 13.59 13.59 13.59 Obat insek (cc) 22,260.87 33,391.30 33,391.30 27,826.09 Obat fungi (gr) 13,356.52 20,034.78 20,034.78 16,695.65 Obat perekat (cc) 8,904 13,357.00 13,357.00 11,130 Obat perangsang (cc) 4,452.17 6,678.26 6,678.26 5,565.22 TK luar keluarga (HOK) 7 7 7 7
Mulsa (roll) 12 12 12 12
Produktivitas
(kwintal/Ha) 13.93 116.12 185.80 23.22
Tabel 21 menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan tertinggi saat musim tanam kedua dan ketiga karena pada musim kedua merupakan musim dengan curah hujan yang tinggi, dimana hama yang sering muncul yaitu layu bakteri, bercak buah dan daun (patek) , serta busuk buah dan daun, sehingga penyemprotan lebih sering dilakukan dan dosis obatnya pun lebih tinggi. Namun, penggunaan obat pada musim ketiga pun juga sama tingginya, meskipun pada
musim ketiga adalah musim kemarau. Hal ini disebabkan adanya hama dan penyakit yang menyerang cabai merah, yaitu Trips, lalat buah, dan Tungau, sehingga dosis dan periode penyemprotan pun lebih sering dilakukan. Penggunaan pupuk pada usahatani cabai merah ini tetap pada setiap musimnya, karena berdasarkan hasil wawancara di lapangan bahwa penggunaan pupuk kimia dan kompos tidak begitu berpengaruh. Para petani hanya memupuk tanaman satu hingga dua kali setiap musimnya. Pemupukan biasanya dilakukan bersamaan dengan pembukaan lahan, yaitu pupuk kompos dicampurkan dengan pupuk ponska, atau pada saat tanaman berumur dua minggu setelah tanam dan saat tanaman berumur dua bulan. Adapun dosis pada saat pemupukan pertama dan kedua tidak berbeda jauh, begitu pula untuk setiap petani, yaitu berkisar tiga kwintal. Jenis pupuk yang digunakan pun relatif sama antara satu petani dengan petani lainnya, yaitu pupuk ponska. Sementara petani cabai di Desa Perbawati juga menggunakan kapur (dolomit) dalam kegiatan usahataninya. Penggunaan kapur ini dimaksudkan untuk mengembalikan pH tanah sehingga tidak terlalu asam. Penggunaan kapur ini biasanya dilakukan saat pembukaan lahan, yaitu satu kali dalam dua musim tanam dan rata-rata penggunaannya sebanyak 1.000 hingga 2.000 kg per hektar.
Penggunaan obat-obatan oleh petani cabai merah di Desa Perbawati banyak jenisnya dan relatif sama untuk setiap petani cabai. Jenis obat-obatan tersebut diantaranya fungisida, insektisida, perekat obat, perangsang tumbuh daun, perangsang tumbuh bunga dan lainnya. Intensitas rata-rata penyemprotan obat-obatan ini dilakukan dua hingga tiga hari sekali bahkan saat musim hujan dilakukan setiap hari. Rata-rata untuk penyemprotan satu hektar lahan digunakan dua drum, dimana setiap drumnya berisi 200 liter dengan biaya rata-rata Rp 250.000,00 – Rp 500.000,00 per drum. Oleh karena itu, dengan keterbatasan modal yang dimiliki petani maka mereka meminjam kepada pengumpul untuk membeli obat-obatan tersebut. Hal ini membuat petani secara psikologis akan menjual hasil panen cabai kepada para pengumpul.
Input usahatani cabai merah yang penting lainnya adalah benih cabai. Kualitas benih ini menentukkan produktivitas cabai merah. Pada umumnya, petani cabai di Desa Perbawati menggunakan 12 pack benih cabai merah per hektar.
Petani cabai di Desa Perbawati ini tidak ada yang membuat benih sendiri karena menurut hasil wawancara di lapangan, bahwa benih cabai yang dibuat oleh petani hasilnya akan berbeda dengan benih yang dibeli. Jenis benih yang biasa digunakan petani adalah Hibrida, dimana benih cabai ini merupakan benih lokal. Petani cabai di Desa Perbawati sering mendapatkan penyuluhan untuk jenis-jenis benih cabai yang unggul dan penyuluhan yang lainnya, sehingga meskipun pendidikan petani rendah namun pengetahuan petani mengenai budidaya cabai yang baik dan benar cukup luas.
Kegiatan usahatani cabai merah di Desa Perbawati masih tergolong tradisional, hal ini dapat dilihat belum adanya teknologi yang moderen yang digunakan dalam usahatani. Kegiatan usahatani cabai merah masih menggunakan tenaga kerja manusia, dimana rata-rata tenaga kerja tetap yang digunakan petani sebanyak lima hingga tujuh orang per hektar. Namun, untuk musim panen atau musim tanam tenaga kerja yang digunakan biasanya lebih banyak dan didominasi oleh perempuan. Adapun biaya tenaga kerja di Desa Perbawati berkisar Rp 12.000,00 per HOK untuk perempuan dan Rp 20.000,00 per HOK untuk tenaga kerja laki-laki dengan waktu kerja lima jam per hari.
Kegiatan usahatani cabai merah di Desa Perbawati ini menggunakan mulsa untuk mengurangi waktu tenaga kerja dalam bekerja. Penggunaan mulsa ini dapat mengurangi gulma-gulma atau tanaman pengganggu pada tanaman cabai, sehingga waktu tenaga kerja dapat dilakukan untuk hal lainnya. Rata-rata untuk
satu hektar lahan digunakan 12 roll mulsa dengan 800 m2 per roll. Biaya untuk
mulsa berkisar Rp 400.000,00 – Rp 500.000,00 per roll dan biasanya mulsa yang berkualitas yaitu yang memiliki tekstur tebal dan tidak mudah robek akan dapat digunakan dua kali musim.
6.2. Struktur Pendapatan Usahatani Cabai Merah 6.2.1. Biaya Produksi
Pada kegiatan usahatani cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, komponen biaya produksi terdiri dari biaya benih, biaya pupuk, biaya obat-obatan, biaya kapur, biaya tenaga kerja, sewa lahan, dan mulsa. Dari komponen biaya tersebut, biaya pupuk kompos, kapur, sewa lahan, dan mulsa
tidak setiap musim dikeluarkan petani. Biaya kapur dan pupuk kompos dikeluarkan petani cabai hanya saat pembukaan lahan, sedangkan untuk sewa lahan dan mulsa dikeluarkan setiap dua musim sekali. Adapun rata-rata biaya produksi pada usahatani cabai merah per hektar lahan di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi dijelaskan pada Lampiran 4.
Besarnya biaya yang ditanggung oleh petani cabai berbeda satu dengan lainnya. Dari analisis usahatani yang dilakukan, rata-rata total biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani cabai adalah sebesar Rp 47.870.826,09 pada musim pertama (bulan September-Februari), Rp 61.758.826,09 pada musim kedua (bulan April-Oktober), Rp 65.353.521,75 pada musim ketiga (bulan Desember-Juni), dan Rp 54.109.521,75 pada musim keempat (bulan September-Februari). Sementara rata-rata biaya total yang ditanggung oleh petani cabai yaitu sebesar Rp 54.493.492,76 pada musim pertama, Rp 68.381.492,76 pada musim kedua, Rp 71.976.188,42 pada musim ketiga, dan Rp 60.732.188,42 pada musim keempat.
Diantara komponen biaya produksi secara keseluruhan, komponen biaya produksi tertinggi adalah biaya tenaga kerja dan biaya obat-obatan. Rata-rata biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh petani cabai setiap musim tanam adalah sebesar Rp 14.820.000,00 dan obat sebesar Rp 28.100.000,00. Sementara komponen biaya produksi terendah adalah biaya kapur (dolomit) dan pupuk ponska. Biaya rata-rata yang dikeluarkan petani cabai untuk kapur sebesar Rp 690.130,43 dan pupuk ponska sebesar Rp 1.414.076,09 setiap musim tanam.