V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2.5. Pola Tanam yang Layak Diusahakan
Hasil analisis IRR, NPV dan BCR menunjukkan bahwa pola tanam I, II, IV, dan VII layak untuk diusahakan. Hipotesis yang menyatakan bahwa budidaya tanaman hortikultur mempunyai kelayakan finansial yang lebih baik dari budidaya padi ditolak, karena ada beberapa pola tanam hortikultur justru tidak layak untuk diusahakan. Jenis analisis finansial yang harus digunakan oleh petani apabila ingin mengajukan kredit ke bank adalah IRR sedangkan untuk mengetahui apakah usaha tani yang dijalankan mendatangkan keuntungan atau tidak maka analisis finansial yang harus dilakukan adalah NPV.
5.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Land rent Komoditas Padi dan Hortikultur
Hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat kepercayaan 95% terhadap nilai land rent tertera pada Tabel 8.
Tabel 8. Faktor Berpengaruh terhadap Land rent pada 8 Pola Tanam
Faktor berpengaruh Pola Tanam
Positif Negatif
I Produksi Tenaga kerja, pupuk, alat, pestisida, pajak, dan benih II Alat dan luas tanam Pestisida
III Luas tanam, produksi dan sisa alat Pestisida dan benih IV Produksi Pestisida dan pajak
V Produksi Pestisida, pupuk dan pajak VI Produksi dan pajak Benih
VII Produksi dan pestisida Tenaga kerja
VIII Produksi dan luas tanam Tenaga kerja, pupuk dan pajak
Uraian untuk masing-masing faktor akan dikemukakan berikut ini :
a.Luas Tanam
Hasil analisis pada Tabel 8 menunjukkan faktor luas tanam hanya berpengaruh pada pola tanam II, III dan VIII. Luas tanam juga mempunyai pengaruh yang positif terhadap nilai land rent yang diperoleh. Luas tanam berpengaruh positif terhadap nilai land rent berarti bahwa luas tanam mampu meningkatkan nilai land rent atau dengan kata lain dengan penambahan luas tanam sebesar 1 m2 dapat meningkatkan nilai land rent sejumlah koefisien yang ditunjukkan pada persamaan pada Tabel 9. Tetapi dari antara tiga pola tanam, yang berpengaruh nyata hanya pola tanam II artinya luas tanam pada pola tanam II mampu meningkatkan nilai land rent yang secara statistik nyata sedangkan untuk pola tanam III dan VIII tidak dapat meningkatkan nilai land rent yang secara statistik tidak nyata. Berpengaruh nyata atau tidaknya luas tanam dapat dilihat dari p-levelnya (Lampiran 3), jika p-level yang diperoleh • 0.05 maka suatu peubah
penjelas dapat dikatakan mempengaruhi terhadap peubah tujuan atau peubah respon.
Sebagai contoh, untuk pola tanam II yang berpengaruh nyata, dengan adanya penambahan luas tanam sebesar 1 m2 maka nilai land rent akan meningkat sebesar Rp 0.103/m2/tahun.
Tabel 9. Persamaan Hasil Analisis Regresi Berganda dengan Land rent sebagai Fungsi Tujuan pada 8 Pola Tanam
b.Benih
Benih merupakan faktor yang berpengaruh negatif terhadap nilai land rent pada pola tanam I, III dan VI. Faktor benih pada ketiga pola tanam tersebut jelas berpengaruh nyata terhadap nilai land rent yang didapat, karena p-levelnya bernilai • 0.05. Berpengaruh negatif memiliki pengertian yang berkebalikan dengan berpengaruh positif, yaitu peubah bebas justru menurunkan peubah respon atau dalam hal ini menurunkan nilai land rent.
Pola Tanam Persamaan R 2 I y = -0.005x2 – 0.047x3 – 0.008x4 – 0.256x5 - 0.010x6 - 0.019x7 + 0.990x8 0.999 II y = 0.103x1 - 1.256x6 + 0.441x7 0.999 III y = 0.013x1 - 0.271x2 - 0.505x4 + 0.575x8 + 0.036x9 0.999 IV y = -0.174x4 - 0.141x6 + 1.194x8 0.999 V y = -0.581x3 - 0.326x4 - 0.007x6 + 0.195x8 0.999 VI y = -0.381x2 + 0.028x6 + 1.267x8 0.999 VII y = 0.056x4 - 0.215x5 + 1.153x8 0.999 VIII y = 0.107x1 - 0.081x3 - 0.151x5 - 0.026x6 + 0.770x8 0.999
Harga benih yang mahal atau jauh diatas standar harga yang ditetapkan merupakan salah satu penyebab faktor benih berpengaruh negatif terhadap nilai land rent. Harga benih mahal dengan kualitas yang rendah dapat menyebabkan peningkatan biaya produksi yang dapat merugikan petani karena para petani membeli benih dengan harga tinggi tetapi hasil yang didapat tidak seperti yang diharapkan sehingga produksi dan keuntungan pun ikut menurun yang akhirnya berpengaruh terhadap nilai land rent yang semakin rendah.
c.Pupuk
Pupuk berpengaruh negatif terhadap pola tanam I, V dan VIII, tetapi hanya pada pola tanam I dan V, pupuk berpengaruh negatif nyata. Bila suatu tanaman membutuhkan pupuk dalam jumlah yang cukup banyak maka akan berimbas pada biaya produksi yang semakin besar sehingga nilai land rent semakin rendah. Kemungkinan lain pupuk berpengaruh negatif diduga karena tidak adanya respon dari tanaman yang diberi pupuk atau pupuk yang diberikan jenisnya tidak cocok dengan yang dibutuhkan tanaman yang sedang diusahakan.
d.Pestisida
Tabel 8 menunjukkan bahwa pestisida merupakan faktor yang paling banyak berpengaruh negatif terhadap nilai land rent. Pestisida memiliki pengaruh negatif pada pola tanam I, II, III, IV dan V. Sebaliknya, untuk pola tanam VII pestisida justru memiliki pengaruh positif terhadap nilai land rent. Pada pola tanam I, II, III, IV, dan V, pestisida berpengaruh negatif nyata terhadap penurunan nilai land rent sedangkan pada pola tanam
VII walaupun pestisida berpengaruh positif tetapi secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan nilai land rent.
Pemberian pestisida pada tanaman seharusnya meningkatkan hasil produksi karena dengan adanya pemberian tersebut hama ataupun penyakit yang menyerang dapat diatasi sehingga tidak menurunkan produksinya. Dalam hal pestisida yang diberikan malah menurunkan produksi, diduga dikarenakan dosis yang diberikan terlalu banyak atau pestisida yang diberikan tidak cocok sehingga dapat menimbulkan keracunan atau bahkan berakibat kematian yang berimbas pada rendahnya produksi dan keuntungan.
e. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor kelima yang memiliki pengaruh negatif terhadap nilai land rent. Tenaga kerja hanya berpengaruh negatif nyata secara statistik terhadap pola tanam I dan VII, sedangkan untuk pola tanam VIII tenaga kerja tidak berpengaruh nyata secara statistik terhadap penurunan nilai land rent. Semakin banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan maka semakin besar pula biaya yang dikeluarkan untuk membayar upah tenaga kerja. Hal ini dapat menyebabkan biaya produksi semakin besar, sehingga keuntungan yang didapat semakin kecil dan akhirnya berimbas pada nilai land rent yang diperoleh akan semakin rendah pula.
f. Pajak
Faktor pajak memiliki pengaruh negatif terhadap pola tanam I, IV, V, VIII dan berpengaruh positif hanya pada pola tanam VI. Pajak hanya
berpengaruh negatif nyata pada pola tanam I, IV dan V sedangkan untuk pola tanam VI pajak juga berpengaruh positif nyata. Bila pajak yang dikenakan semakin tinggi maka biaya yang dikeluarkan untuk membayar juga semakin besar akibatnya terjadi penurunan nilai land rent maka pajak berpengaruh negatif. Dalam hal pajak berpengaruh positif, mungkin pengaruhnya secara tidak langsung. Dua kemungkinan pajak berpengaruh tidak langsung yang bersifat positif dilihat dari aksesibilitas dan kualitas lahan yang ada. Bila suatu lahan dekat dengan jalan atau mempunyai lokasi yang dekat dengan pasar, maka pajak yang dikenakan akan semakin besar tetapi keuntungannya petani tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi untuk menjual panennya. Begitu juga dengan kualitas lahan yang ada, semakin subur lahan maka pajak yang dikenakan juga semakin besar tetapi hasil yang didapat dari lahan subur tersebut juga memberikan keuntungan yang besar.
g.Alat
Alat tidak banyak berpengaruh pada beberapa jenis pola tanam yang diteliti hanya pada pola tanam I dan II. Pada pola tanam I, alat berpengaruh negatif nyata sedangkan pada pola tanam II alat berpengaruh positif nyata. Alat berpengaruh negatif nyata disebabkan umur produktivitas yang sudah lewat batas atau rusak sehingga tidak dapat digunakan semaksimal mungkin sedangkan alat berpengaruh positif nyata diduga karena dengan adanya sarana pengolahan atau alat pertanian yang masih layak digunakan, para petani menjadi tertolong dalam mengusahakan tanamannya atau mungkin dengan alat tersebut petani tidak perlu untuk
mempekerjakan orang sehingga dapat menurunkan biaya produksi, akibatnya nilai land rent yang diperoleh juga tinggi.
h.Produksi
Produksi merupakan faktor yang paling banyak memiliki pengaruh positif terhadap nilai land rent pada berbagai pola tanam yang ada. Hampir semua pola tanam memiliki produksi sebagai peubah positif kecuali pola tanam II. Produksi tidak berpengaruh terhadap nilai land rent pada pola tanam II tetapi untuk pola tanam I, III, IV, V, VI, VII, dan VIII produksi justru berpengaruh positif nyata terhadap nilai land rent. Dapat dipastikan bahwa semakin besar produksi maka semakin tinggi pula keuntungan yang didapat. Jika keuntungan yang diperoleh semakin tinggi maka nilai land rent akan semakin tinggi juga.
i. Sisa Alat atau Penyusutan Alat
Sisa alat atau penyusutan alat hanya berpengaruh positif nyata pada pola tanam III. Nilai sisa alat yang dihitung berdasarkan data produktivitas atau umur pakai sarana pengolahan pertanian secara tidak langsung ikut berpengaruh terhadap peningkatan nilai land rent pada pola tanam III sebesar Rp 0.036 /m2/tahun.
R-square yang diperoleh dari hasil analisis regresi berganda dengan metode Forward Stepwise untuk pola tanam I sampai pola tanam VIII menunjukkan nilai yang sama yaitu sebesar 0.999 atau 99%, yang artinya bahwa model yang dipergunakan dapat menerangkan keragaman data sebesar 99%. Nilai R-square semakin mendekati 100% maka hasil analisis dengan menggunakan model tersebut dapat dikatakan mewakili
keragaman dari hampir seluruh data yang digunakan. Nilai R-square yang hampir mendekati 100% juga dapat berarti bahwa model yang digunakan yaitu Forward Stepwise relatif tepat untuk menganalisis data tersebut.
Hasil analisis regresi berganda metode Forward Stepwise menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap land rent tidak hanya produksi dan harga jual melainkan ada beberapa faktor yang lain yaitu benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, alat, pajak, dan nilai sisa alat. Oleh karena itu, hipotesis yang diberikan ditolak karena ternyata masih banyak faktor lain yang berpengaruh terhadap land rent.
5.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Komoditas Padi dan