• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A. SIKAP TERHADAP POLIGAMI

2. Poligami

a. Pengertian Poligami

Kata poligami berasal dari bahasa Yunani, dari kata “Poly” berarti banyak dan “Gamein” berarti kawin atau menikah. Dalam pengertian bahasa (laterlag), poligami memiliki arti kawin banyak atau

menikah beberapa kali dalam waktu yang bersamaan, bisa seorang pria menikah dengan banyak wanita atau seorang wanita menikah dengan banyak pria, atau juga banyak pria menikah dengan banyak wanita (Suprapto, 1990).

Menurut tinjauan Antropologi Sosial (Sosio Antropologi), poligami mempunyai pengertian seorang pria menikah dengan banyak wanita, atau sebaliknya. Pada dasarnya poligami dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Polyandri, yaitu pernikahan antara seorang wanita dengan beberapa orang pria.

2. Poligini, yaitu pernikahan antara seorang pria dengan banyak wanita.

Namun dalam perkembangannya, istilah poligini jarang sekali digunakan, bahkan bisa dikatakan istilah ini tidak dipakai lagi di kalangan masyarakat, kecuali dikalangan antropolog saja. Maka istilah poligami secara langsung menggantikan istilah poligini.

Dengan melihat penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa pengertian dari poligami yaitu pernikahan antara seorang pria dengan beberapa orang wanita.

b. Motivasi dan Tujuan Poligami

Melihat pengertian dari poligami, yaitu pernikahan antara seorang pria dengan beberapa orang wanita, maka tentu ada motivasi dibalik pernikahan yang “berbeda” ini.

Motivasi dan tujuan dari poligami dilakukan antara lain adalah (Suprapto, 1990) :

1. Motivasi seksual, yaitu motivasi yang digunakan untuk memberikan kepuasan seksual bagi yang bersangkutan.

2. Motivasi ekonomi, yaitu motivasi yang menyangkut kebutuhan materi. Seseorang melakukan poligami untuk memperbesar usahanya. Biasanya mereka menikah lagi dengan seseorang yang sudah sukses.

3. Motivasi politik, yaitu motivasi yang menyangkut kekuasaan politik atau pertimbangan politis demi keuntungan pribadi yang bersangkutan.

4. Motivasi perjuangan, yaitu baik perjuangan politik, perjuangan keagamaan, perjuangan ideologi dan sebagainya.

5. Motivasi generasi, yaitu motivasi untuk mendapatkan keturunan. 6. Motivasi kebanggaan diri, yaitu seseorang yang melakukan

poligami beranggapan bahwa mereka yang dapat melaksanakan poligami bukanlah sembarang orang, karena hanya orang-orang pilihan yang dapat melaksanakannya.

7. Motivasi keagamaan dan menalurikan sosial budaya tertentu, yaitu motivasi untuk menjalankan hal-hal yang dianjurkan atau diperbolehkan oleh agama dan motivasi untuk terus menghidupkan budaya tertentu yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka.

Ternyata pernikahan poligami memiliki beberapa motivasi dan tujuan, diantaranya yaitu motivasi seksual, motivasi ekonomi, motivasi politik, motivasi perjuangan, motivasi generasi, motivasi kebanggaan diri dan motivasi keagamaan.

c. Dampak Poligami terhadap Wanita

Dampak yang umum dialami oleh istri atau wanita yang suaminya melakukan pernikahan poligami sangat beragam. Ada dampak positif dan dampak negatif yang muncul pada diri wanita. Adapun dampak negatif pada diri wanita yang suaminya melakukan pernikahan poligami yaitu (Setiati, 2007) :

1. Dalam diri istri akan muncul perasaan inferior, menyalahkan diri sendiri, istri merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya. 2. Istri akan merasa terlantar secara ekonomi, sehingga sangat

kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini dikarenakan selama pernikahan, istri sudah mengalami ketergantungan secara ekonomi kepada suami.

3. Sering terjadi tindak kekerasan terhadap wanita dan anak-anak, baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis.

4. Muncul perasaan tidak aman pada wanita, karena pada umumnya ada banyak laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu akan secara diam-diam melakukan pernikahan dengan wanita lain di bawah tangan.

5. Kemungkinan terkena penyakit HIV atau AIDS lebih besar karena dikawatirkan poligami memunculkan praktek porstitusi dengan berhubungan seks lebih dari satu pasangan.

Selain dampak negatif, adapun dampak positif yang dialami wanita atau istri, yaitu (Setiati, 2007) :

1. Melatih sabar, yaitu berusaha memandang poligami sebagai bagian dari tujuan Tuhan untuk menguji tingkat kesabaran dan kesolehan sebagai seorang wanita, istri, dan ibu dalam mengendalikan amarah, cemburu dan hal-hal lain yang bersifat duniawi.

2. Melatih ikhlas dalam berbagi kebahagiaan dengan wanita lain, yaitu berusaha memandang bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya bersifat sementara, dan lebih baik melatih diri untuk mengikhlaskan segala sesuatu sehingga kelak mendapat pahala dimata Tuhan.

3. Melatih berpasrah hati semata-mata karena Tuhan.

4. Melatih hidup sehat dan bersih, yaitu dengan berpoligami istri menjaga agar suami terhindar dari hubungan seks bebas dan hidup sehat juga bersih dimata Tuhan.

5. Melatih diri untuk selalu meningkatkan kualitas, yaitu dengan berpoligami akan membuat setiap istri termotivasi untuk selalu menjaga dan memperbaiki kualitas diri sehingga suami tidak lagi berusaha mencari wanita lain.

6. Melatih untuk tidak memiliki sifat dengki, karena dengan dengki istri akan semakin depresi dan tidak akan menarik dimata suami maupun orang banyak. Maka dengan berpoligami, istri berlatih untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Demikianlah telah diuraikan dampak positif dari poligami yaitu, melatih kesabaran istri, melatih ikhlas, melatih berpasrah pada Tuhan, melatih hidup sehat dan bersih, dan juga melatih untuk tidak memiliki sifat dengki dengan terus meningkatkan kualitas diri. Disamping itu juga dampak negatif dari poligami pada wanita, yaitu munculnya perasaan inferior, tidak aman, kemungkinan terkena penyakit kelamin, dan muncul tindak kekerasan baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. Poligami akan membawa dampak positif atau negatif, hal itu tergantung dari bagaimana wanita menikah memandang poligami.

d. Poligami dari Sudut Pandang Islam

Umat Islam mengenal poligami sejak zaman Nabi Muhammad. Ketika itu, poligami tidak menjadi perdebatan orang. Keputusan Nabi untuk melakukan poligami dengan wanita-wanita (diantaranya ada wanita janda dan perawan) dilandasi oleh satu tujuan mulia, yaitu untuk melindungi, menjaga harkat dan martabat mereka sebagai wanita di mata masyarakat (Suprapto, 1990).

Poligami dalam Islam adalah mubah (boleh) dan halal. Islam pada dasarnya menganut sistem monogami, namun memberikan

kelonggaran dengan diperbolehkannya poligami terbatas. Islam tidak menutup rapat-rapat kemungkinan adanya laki-laki tertentu untuk poligami, tetapi tidak semua laki-laki harus berbuat demikian, karena tidak semua memilki kemampuan untuk berpoligami (Hamidy, 1983).

Dikatakan poligami terbatas karena poligami menurut Islam bukanlah poligami mutlak (sebebas-bebasnya), tetapi dibatasi oleh syarat-syarat tertentu sebagai berikut (Hamidy, 1983) :

1. Jumlah istri yang dipoligami paling banyak empat orang wanita. Seandainya salah satu diantaranya ada yang meninggal atau dicerai, laki-laki tersebut bisa mencari ganti asalkan jumlahnya tidak melebihi empat orang pada waktu yang sama.

2. Laki-laki harus mampu berbuat adil pada istri-istrinya, lebih baik jika laki-laki tersebut mampu dari segi ekonomi.

Dengan adanya dua syarat diatas untuk dapat melaksanakan poligami, maka dapat diketahui bahwa konsekuensi terberat adalah konsekuensi keadilan. Bersikap adil dalam poligami sesungguhnya adalah hal yang tidak mudah. Hal ini karena bentuk perkawinan poligami tidak seperti dalam perkawinan monogamy, dimana suami hanya memiliki satu orang istri dan hak-hak dalam tali perkawinan otomatis hanya menjadi milik istri seorang (Hakeem, 2005).

Dalam perkawinan poligami, syarat mutlak yang harus dimiliki laki-laki / suami adalah ia harus memiliki sikap adil yang merata pada isti-istri yang dinikahinya. Sikap adil yang dimaksudkan

tidak hanya pemerataan dalam pembagian waktu terhadap anak dan istri-istri secara bergilir, tetapi juga sesuai dengan yang diajarkan Nabi, yaitu seorang suami harus bisa bersikap adil dalam pemberian materi, cinta, perhatian, kasih sayang, dan komunikasi (Hakeem, 2005).

Dokumen terkait