• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polisemi Bentuk Kata Dasar

Dalam dokumen Polisemi Dalam Bahasa Batak Toba (Halaman 35-41)

BAB IV POLISEMI DALAM BAHASA BATAK TOBA

4.1.1 Polisemi Bentuk Kata Dasar

Polisemi bentuk kata dasar adalah polisemi yang terbentuk dari kata yang tidak mengalami proses pembubuhan afiksasi. kata dasar merupakan kata yang

dapat berdiri sendiri tanpa afiks, (Alwi dkk, 2003:100). berdasarkan bentuk dasarnya, polisemi dalam BBT banyak ditemukan. kata-kata tersebut antara lain: Pande, Godang, Ambal, Olat, Pauli, Suhat, Rade.

Untuk membuktikan bahwa kata-kata tersebut adalah polisemi yang berbentuk kata dasar, dapat dilihat dari konteks kalimat berikut:

(1) a. Pande do anak na i di singkola pintar P anak P itu di sekolah ‘Anaknya pintar di sekolah’

b. Jolma na pande do boi padenggganhon i orang P pintar P bisa memperbaiki itu ‘Orang yang sudah ahli yang bisa memperbaiki itu’ c. Pande nami, baen ma jolo gondang somba-somba i.

pintar kami, buat P dulu gendang sembah-sembah itu ‘Pemusik!, buatlah dulu gendang sembah-sembah itu’

Dari kalimat di atas, pada kalimat (1a) kata pande memiliki makna ‘pintar’ sebagai makna denotasinya, dan dalam kalimat (1b) dan (1c) kata pande memiliki makna ‘ahli’ dan ‘pemusik’ yang merupakan makna konotasi atau makna yang timbul dari makna sebelumnya. dari ketiga kalimat tersebut tampak, bahwa kata pande adalah polisemi dalam bentuk kata dasar.

Kata pande yang bermakna ‘pintar’ (sebagai makna dasar) masih memiliki hubungan dengan makna ‘ahli’ dan ‘pemusik’ (makna barunya) walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat.

banyak P kayu bakar di hutan itu. ‘Di hutan itu banyak kayu bakar’

b. Godang do harapan nami monang ibana

banyak P harapan kami menang dia “Besar harapan kami menang dia” c. Godang hian do jolma di pesta i. banyak sekali P orang di pesta itu ‘Rame orang di pesta itu’

Dari kalimat di atas, pada kalimat (2a) kata godang yang bermakna ‘banyak’ sebagai makna sebenarnya(makna dasar), sedangkan pada kalimat (2b) dan (2c) kata godang memiliki makna ‘besar’ dan ‘rame’ merupakan makna yang timbul dari makna dasarnya. dari ketiga kalimat tersebut tampak, bahwa kata godang adalah polisemi yang berbentuk kata dasar.

Kata godang yang bermakna ‘banyak’ (makna dasarnya), masih memiliki hubungan makna dengan makna ‘besar’ dan ‘rame’ walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks kalimat.

(3) a. Dang binoto tudia ambal pangguna i tidak tahu kemana tercampak cangkulnya itu. ‘Tidak tahu cangkulnya itu tercampak kemana’ b. Dang binoto be i, ambal do i hatami!

tidak tahu P itu, tercampak P itu katamu! ‘Tidak tahu lagilah, pembicaraanmu tidak berkaitan!

‘tercampak’ sebagai makna dasar atau konseptual, sedangkan pada kalimat (3b) kata ambal memiliki makna ‘tidak berkaitan’ yang merupakan makna baru setelah makna dasarnya. dari kedua kalimat tersebut tampak, bahwa kata ambal adalah polisemi berbentuk kata dasar.

Kata ambal yang bermakna ‘tercampak’ (sebagai makna dasar), masih memiliki hubungan dengan makna ‘tidak berkaitan’ walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat.

(4) a. Olat ni i majo, marsogot ma diulahi. sampai P itu dulu, besok P diulangi. ‘Sampai sinilah dulu besoklah kita ulangi’ b. Unang jolo olat i panghatai on

jangan dulu sampai itu pembicaraan ini. ‘Jangan dulu engkau halau pembicaraan ini. c. Didia do olat ni tano on?

dimana P sampai P tanah ini? ‘Dimananya batas tanah ini?

Dari kalimat di atas, pada kalimat (4a) kata olat memiliki makna ‘sampai’ sebagai makna dasar dari kata tersebut, sedangkan pada kalimat (4b) dan (4c) kata olat memiliki makna ‘halau’ dan ‘batas’ yang merupakan makna baru dari makna asalnya. dari ketiga kalimat tersebut tampak, bahwa kata olat adalah polisemi berbentuk kata dasar.

Kata olat yang bermakna ‘sampai’ (makna dasarnya) masih memiliki hubungan makna dengan makna ‘halau’ dan ‘batas’ (sebagai makna baru setelah

makna dasarnya) walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat.

(5) a. Pauli jolo miak on! simpan dulu minyak ini! ‘Simpan minyak ini! b. Pauli jolo handang i!

simpan dulu pagar itu! ‘Perbaiki dulu pagar itu!

Dari kalimat di atas, pada kalimat (5a) kata pauli memiliki makna ‘simpan’ sebagai makna dasar dari kata tersebut, sedangkan pada kalimat (5b) kata pauli memiliki makna ‘perbaiki’ yang merupakan makna baru yang timbul setelah makna dasarnya. dari kedua kalimat tersebut tampak, bahwa kata pauli adalah polisemi berbentuk kata dasar.

Kata pauli yang bermakna ‘simpan’ masih memiliki hubungan makna dengan makna ‘perbaiki’ (makna baru yang muncul setelah makna dasarnya). walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat.

(6) a. Suhat i jolo boras i hitung itu dulu beras itu! ‘Hitung dulu beras itu!

b. Dang tarsuhatan be i bagas ni Tao i. tidak terhitung P itu, dalam P Danau itu. ‘Tidak bisa itu di ukur, dalamnya Danau itu’

sebagai makna dasar dari kata tersebut, sedangkan pada kalimat (6b) kata suhat memiliki makna ‘ukur’ yang merupakan makna baru yang timbul setelah makna dasarnya. dari kedua kalimat tersebut tampak, bahwa kata suhat adalah polisemi berbentuk kata dasar.

Kata suhat yang bermakna ‘hitung’ (sebagai makna dasar) masih memiliki hubungan makna dengan makna ‘ukur’ (makna baru yang muncul setelah makna dasar) walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat.

(7) a. Nungnga rade, hami bahen sude sudah siap, kami buat semua ‘Semuanya sudah kami siapkan’

b. Rade do hami manjanghon haroro muna i siap P kami menerima kedatangan kalian itu. ‘Kami bersedia menerima kedatangan kalian’

c. Nungnga di rade i sude angka na hombar tu ulaon i sudah di siap kan semua segala P perlu untuk pesta itu. Sudah di lengkap i apa yang perlu untuk pesta itu.

Dari kalimat di atas, pada kalimat (7a) kata rade memiliki makna ‘siap’ adalah makna dasar dari kata tersebut, sedangkan kalimat (7b) dan (7c) kata rade memiliki makna ‘bersedia’ dan ‘lengkap’ yang merupakan makna yang muncul setelah makna dasarnya. dari ketiga kalimat tersebut tampak, bahwa kata rade adalah polisemi berbentuk kata dasar.

dengan makna ‘bersedia’dan ‘lengkap’(sebagai makna baru dari makna dasar) walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat. (8) a. Nungnga tubu anakni si Bonar.

sudah lahir anaknya si Bonar ‘Anak si Bonar sudah lahir’

b. Nungnga tubu duhut di haumana i. sudah lahir rumput di sawahnya itu.

‘Di sawahnya rumput sudah tumbuh’

c. Gabe tubu do hata na so denggan di ulaon i. jadi lahir P kata P tidak baik di pesta itu. ‘Di pesta itu timbul pembicaraan yang tidak baik’

Dari kalimat di atas, pada kalimat (8a) kata tubu memiliki makna ‘lahir’ adalah makna dasar dari kata tersebut, sedangkan pada kalimat (8b) dan(8c) yang bermakna ‘tumbuh’ dan ‘timbul’ merupakan makna baru setelah makna dasar. dari ketiga kalimat tersebut tampak, bahwa kata tubu adalah polisemi berbentuk kata dasar.

kata tubu yang bermakna ‘lahir’(sebagai makna dasarnya) masih memiliki hubungan makna dengan ‘tumbuh’ dan ‘timbul’ (makna baru setelah makna dasarnya) walau hanya sedikit atau pun berupa kiasan dalam konteks pemakaian kalimat.

Dalam dokumen Polisemi Dalam Bahasa Batak Toba (Halaman 35-41)

Dokumen terkait