• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN LSM KOTA MEDAN

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisis Tabel Tunggal

4.3.2 Polling Sebagai Metode Pengekspresian Pendapat Umum

4.3.2.1 Polling Sebagai Metode Pengekspresian Pendapat Umum

Tabel 4.6

Polling Sebagai Metode Pengekspresian Pendapat Umum

No. Keterangan Frekuensi Persen 1. Tidak Setuju 2 6,9 2. Kurang Sutuju 10 34,5

3. Setuju 15 51,7 4. Sangat Setuju 2 6,9 Total 29 100,0 Sumber : P.08/FC.09

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 2 orang (6.9%) tidak setuju dengan polling sebagai cara dalam pengekspresian pendapat umum. Sebanyak 10 orang (34.5%) kurang setuju, sebanyak 15 orang (51.7%) setuju, dan sebanyak 2 orang (6.9%) sangat setuju dengan polling sebagai cara dalam pengekspresian pendapat umum.

Responden yang setuju dan sangat setuju dengan pemakaian polling dalam mengekspresikan pendapat umum (58.6%), berpendapat bahwa polling merupakan cara yang paling kontemporer dalam menyampaikan pendapat umum. Hasil wawancara dengan salah satu responden yang setuju dengan metode polling (NS, Ketua Divisi Yayasan Handal Mahardika), berpendapat bahwa “dengan

menggunakan polling lembaga bisa mendapat gambaran umum tentang tema

yang diangkat di dalam polling dan polling merupakan metode yang ilmiah

sehingga data yang dihasilakan dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya”.

Responden yang kurang setuju dengan pemakaian metode polling (34.5%) berpendapat bahwa polling hanya bisa dijadikan data tambahan dalam melihat suatu permasalahan dalam masyarakat. Polling seharusnya diawali dengan pendekatan kepada responden dan hasil polling harus memiliki Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang jelas sehingga pengekspresian pendapat umum tidak hanya

sebatas keterangan dalam sebuah data statistik. Sedangkan responden yang tidak sepakat dengan pemakaian polling (6.9%) berpendapat bahwa penyelenggaraan polling dalam media membawa kepentingan dari satu golongan sehingga tidak dapat mewakili aspirasi seluruh masyarakat.

4.3.2.2 Polling sebagai Cara yang Paling Tersistematis dan Akurat

Tabel 4.7

Polling Sebagai Cara Yang Paling Tersistematis dan Akurat

No. Keterangan Frekuensi Persen 1. Tidak Setuju 4 13,8 2. Kurang Sutuju 12 41,4 3. Setuju 9 31,0 4. Sangat Setuju 4 13,8 Total 29 100,0 Sumber : P.09/FC.10

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebayak 4 orang (13.8%) yang tidak setuju dengan polling merupakan cara yang tersistematis dan akurat dalam penyampaian pendapat umum. Sebanyak 12 orang (41.4%) kurang setuju dan sebanyak 9 orang (31.4%) setuju dengan polling merupakan cara yang tersistematis dan akurat dalam penyampaian pendapat umum. Selebihnya sebanyak 4 orang (13.8%) sangat setuju.

Berdasarkan jawaban dari oertanyaan terbuka, responden yang tidak setuju dengan polling merupakan cara yang tersistematis dan akurat dalam penyampaian pendapat umum karena poling tidak dapat mewakili seluruh variabel yang kompleks dalam masyarakat dan pertanyaan dalam polling sering kali mengarahkan pada satu jawaban. Hal tersebut didukung oleh seringnya penyelenggaraan polling yang hanya dilakukan secara reaksioner sehingga tidak mepunyai follow-up yang jelas bagi masyarakat yang dijadikan sampel. Masyarakat tidak mengetahui dan mengerti latar belakang dan tujuan diadakannya polling tersebut.

4.3.2.3 Frekuensi Mengikuti Hasil Polling Dalam Rubrik Jajak Pendapat

Tabel 4.8

Frekuensi Mengikuti Hasil Polling

No. Keterangan Frekuensi Persen 1. Jarang (1-2 kali dalam sebulan) 9 31,0

2. Sering (3-4 kali dalam sebulan) 16 55,2

3. Selalu 4 13,8

Total 29 100,0

Frekuensi responden dalam mengikuti rubrik “jajak pendapat” pada Harian Kompas menjadi faktor yang cukup penting dalam penelitian ini, karena ini akan mempengaruhi pendapat responden mengenai hasil polling tersebut.

Beradasarakan tabel di atas, dapat diketahui sebanyak 9 orang (31%) responden mengikuti 1-3 kali jajak pendapat di Harian Kompas. Sebanyak 16 responden (55.2%) mengkuti 4-6 kali dalam sebulan, dan 4 responden ( 13.8%) selalu mengikuti rubrik “jajak pendapat” pada Harian Kompas dalam setiap bulannya. Dari data tidak terdapat responden yang tidak pernah mengikuti rubrik “jajak pendapat”.

Lebih dari 50 responden sering (3-4 kali dalam satu bulan.) mengikuti rubrik “jajak pendapat di Harian kompas. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, mereka tidak selalu mengikuti hasil polling karena terkadang tema yang diangkat polling tidak relevan dengan kebutuhan lembaga.

Dalam penelitian ini peneliti menggunkan teknik penarikan sampel

purposive sampling. Teknik penarikan sampel ini mencakup orang-orang yang

diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria sampelnya adalah lembaga yang sudah berlangganan Harian Kompas minimal 3 bulan terakhir. Ini menunjukkan bahwa yang berhak menjadi sampel yaitu individu yang bekerja di lembaga yang sudah berlangganan Kompas.

4.3.2.4 Hasil Polling Secara Metode Dapat Dipertanggungjawabkan

Tabel 4.9

Hasil Polling Secara Metode Dapat Dipertanggungjawabkan

No. Keterangan Frekuensi Persen 1. Tidak Setuju 4 13,8 2. Kurang Sutuju 6 20,7 3. Setuju 18 62,1 4. Sangat Setuju 1 3,4 Total 29 100,0 Sumber : P.11/FC.12

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 4 responden (13.8%) tidak setuju dengan hasil polling secara metodologi dapat dipertanggungjawabkan, sebanyak 6 responden (20.7%) menyatakan kurang setuju, sebanyak 18 responden (62.1%) menyatakan setuju, dan sebanyak 1 responden (3.4%) menyatakan sangat setuju dengan hasil polling secara metodologi dapat dipertanggungjawabkan.

Responden yang setuju dan sangat setuju (65.5%) dengan hasil polling secara metodologi dapat dipertanggungjawabkan karena mereka berpendapat bahwa polling adalah cara pengekspresian pendapat umum dengan menggunakan

metode ilmiah yang telah terbukti kebenarannya. Polling juga bisa dijabarkan melalui data-data statistik yang bisa diuji keakuratannya. Seperti yang dilakukan oleh Harian Kompas yang selalu mempublikasikan metode apa yang digunakan dalam pengumpulan data dan penarikan sampel.

Sementara responden yang kurang setuju (20.7%) mengemukakan bahwa dalam penyelenggaraan polling, sering terjadi kesalahan penentuan sampel sehingga data yang didapatkan tidak mewakili realitas sebenarnya dan dalam penyelenggaraan polling sering terjadi pemanipulasian data. Hal tersebut didukung oleh pendapat yang disampaikan oleh responden yang tidak setuju (13.8%) menyatakan bahwa metode dalam penyelenggaraan polling seringkali dimanipulasi sesuai dengan kepentingan si penyelenggara polling.

4.3.2.5 Polling Mengangkat Isu Dengan Tema Yang Cukup Popular dan Menyangkut Hajat Hidup Orang Banyak

Tabel 4.10

Polling Mengangkat Isu Dengan Tema Yang Cukup Popular dan Menyangkut Hajat Hidup Orang Banyak

No. Keterangan Frekuensi Persen

1. Tidak Setuju 2 6,9

2. Kurang Sutuju 5 17,2

3. Setuju 22 75,9

Total 29 100,0

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 2 responden (6.9%) menyatakan tidak setuju mengenai polling mengangkat isu dengan tema yang cukup popular dan menyangkut hajjat hidup orang banyak. Sebanyak 5 responden (17.2%) kurang setuju, sebanyak 22 responden (75.9%) setuju mengenai polling mengangkat isu dengan tema yang cukup popular dan menyangkut hajjat hidup orang banyak.

Sesuai dengan tema yang diangkat dalam rubrik jajak pendapat pada Harian Kompas, peneliti mengelompokkan menjadi tiga tema besar yaitu mengangkat isu sosial, isu politik dan isu budaya.

Berdasarkan jawaban dari pertanyaan terbuka responden yang tidak setuju dan kurang setuju (24.1%) berpendapat bahwa isu atau tema yang diangkat dalam setiap penyelenggaraan polling selalu disesuaikan dengan kebutuhan si penyelenggara polling bukan berdasarkan dari kebutuhan masyarakat.

Sementara responden yang setuju (75.9%) berpendapat bahwa polling yang diselenggarakan setiap lembaga survei dan media selalu mempunyai latar belakang dari realitas yang terjadi di dalam masyrakat. Suatu isu hangat yang kontroversial dalam masyarakat selalu menjadi tema poling-poling yang diadakan. Teori yang berhubungan dengan pendapat umum juga memaparkan bahwa yang berhak menjadi isu dalam sebuah pendapat umum adalah isu yang kontroversial dalam masyarakat dan menyangkut kepentingan orang banyak.

4.3.2.6 Hasil Polling Menggambarkan Sikap atau Perilaku Masyarakat Indonesia

Tabel 4.11

Hasil Polling Menggambarkan Sikap atau Perilaku Masyarakat Indonesia

No. Keterangan Frekuensi Persen 1. Tidak Setuju 5 17,2 2. Kurang Sutuju 5 17,2 3. Setuju 18 62,1 4. Sangat Setuju 1 3,4 Total 29 100,0 Sumber : P.11/FC.14

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 5 responden (17.2%) tidak setuju mengenai hasil polling menggambarkan sikap atau perilaku masyarakat Indonesia. Sebanyak 5 responden (17.2%) kurang setuju, 18 responden menyatakan setuju, dan sebanyak 1 orang menyatakan sangat setuju mengenai hasil polling menggambarkan sikap atau perilaku masyarakat Indonesia.

Responden yang tidak setuju dan kurang setuju berpendapat bahwa polling hanya dapat mendeskripsikan realitas sosial secara umum dan dianggap belum mampu berperan sebagai suara masyarakat seutuhnya atau menggambarkan sikap dan perilaku masyarakat secara holistik.

Sementara responden yang setuju (62.1%) dan sangat setuju memberikan argumen bahwa polling dapat menggambarkan sikap masyarakat

Indonesia dalam mengahadapi isu yang diangkat sebagai tema polling. Hal ini dikarenakan responden yang diambil sebagai sampel dari setiap penyelenggaraan polling adalah orang yang melek dam kritis menyikapi persoalan bangsa dan tidak apatis dengan kondisi bangsa. Pernyataan ini juga didukung oleh argumen bahwa dalam melakukan atau menyelenggarakan polling, setiap lembaga survei atau media menggunakan metode penarikan sampel yang sudah teruji secara ilmiah, sehingga hasil yang didapatkanpun dapat mewakili seluruh populasi yang ditentukan dalam penelitian.

4.3.2.7 Pendapat Responden Mengenai "Hasil Polling Menggambarkan Fakta Secara Sistematis dan Akurat".

Tabel 4.12

Hasil Polling Menggambarkan Fakta Secara Sistematis dan Akurat

No. Keterangan Frekuensi Persen 1. Tidak Setuju 4 13,8 2. Kurang Sutuju 12 41,4 3. Setuju 9 31,0 4. Sangat Setuju 4 13,8 Total 29 100,0 Sumber : P.11/FC.15

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebayak 4 orang (13.8%) yang tidak setuju dengan polling merupakan cara yang tersistemats dan akurat dalam penyampaian pendapat umum. Sebanyak 12 orang (41.4%) kurang setuju dan sebanyak 9 orang (31.4%) setuju dengan polling merupakan cara yang tersistematis dan akurat dalam penyampaian pendapat umum. Selebihnya sebanyak 4 orang (13.8%) sangat setuju.

Sesuai dengan yang dipaparkan pada tabel di atas responden tidak setuju dan kurang setuju dengan hasil polling menggambarkan fakta secara tersistematis dan akurat dalam penyampaian pendapat umum karena poling tidak dapat mewakili seluruh variabel yang kompleks dalam masyarakat dan pertanyaan dalam polling sering kali mengarahkan pada satu jawaban. Mereka juga berpendapat bahwa pemilihan sampel yang dilakuakn secara reaksioner tanpa adanya pendekatan terlebih dahulu, membuat jawaban yang diberikan oleh responden adalah jawaban yang tidak sesuai dengan relitas sebenarnya.

4.3.3 Peran Polling Pada Harian Kompas dalan Penentuan Kebijakan

Dokumen terkait