BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Polusi Udara Di Dalam Ruangan Pabrik Karet
Ammonia berupa gas pada suhu kamar, sedangkan ammonium hidroksida merupakan larutan ammonia 25-29% dalam air. Ammonia digunakan dalam sintesa senyawa kimia organik, antara lain di pabrik bahan peledak, plastik, pupuk, dan sebagai refrigerant alat pendingin. Ammonia dan ammonium hidroksida bersifat korosif, langsung merusak sel, dan menyebabkan iritasi pada selaput lendir. Akibat keracunan gas ammonia dan amonium hiodroksida, terutama menyababkan iritasi. Keracunan melalui inhalasi, terutama menyebabkan edema paru, dan pneumonia. Batasan paparan ammonia 25 ppm. (Sartono, 2002)
)
1. Sifat-Sifat Fisis Dari Ammonia:
a. Gas tidak berwarna, berbau khas ammonia, iritan, muda h larut dalam air b. Titik leleh: -77,70
C
c. Titik didih : -33,40
d. Tekanan uap : 400 mmHg (-45,4 C
0
e. Kelarutan dalam air : 31g/100g (25 C)
0
f. Berat jenis : 0,682 (-33,4
C)
0
g. Berat jenis uap : 0,6 (udara=1) C)
h. Suhu kritis 1330
i. Nilai Ambang Batas (NAB): 35 mg/m C
Ammonia (NH
3
3), dalam suhu dan tekanan biasa bersifat gas dan tidak berwarna, beratnya lebih ringan dari udara, baunya merangsang. Karena ammonia bersifat gas, maka dalam penyimpanannya harus diperhatikan agar tidak meledak. Ammonia mudah larut dalam air, ammonia mempunyai sifat basa misalnya ammonia liquida, dalam air membentuk hydroxid. Larutan ammonia yang pekat mengandung 28%- 29% ammonia pada suhu 250C. Ammonia (NH3
Amonia(NH
) sering digunakan untuk membuat barang-barang sintesis bahan organic, dipakai untuk anti beku pada alat-alat pendingin, untuk membuat pupuk, dipakai dalam pembuatan sulfuric dan nitrit acid, obat-obat dan bahan lainnya (Adiwisastra, 1992)
3) dalam konsentrasi rendah dapat segera dikenal karena baunya merangsang, dalam konsentrasi tinggi (pekat) sangat berpengaruh terhadap alat-alat pernapasan dengan pengaruh (rasa pedas) mempengaruhi sel-sel yang menimbulkan rasa sakit. Besarnya pengaruh rangsangan terhadap refleks pernapasan menyebabkan batuk-batuk, ketenangan bernapas dan mendadak lemas. Selain itu mempunyai pengaruh terhadap selaput lendir mata (conjuctiva) dan kornea mata.
Akibat rangsangan (iritasi) terhadap alat pernapasan menimbulkan peradangan (bronchial
cataract) yang kronis, bertambahnya pengeluaran air liur oleh kelenjar saliva, pengeluaran urin
sedikit-sedikit (urin retention).
Menurut Adiwisastra (1992), keracunan ammonia dalam bentuk gas dapat menimbulkan peradangan basah paru-paru kronis, perubahan dalam hemoglobin darah baru terjadi kira-kira 24 jam kemudian setelah menghisap gas ammonia. Keracunan dalam bentuk gas terutama menyerang saluran/alat pernapasan yang menimbulkan iritasi pada selaput lendir (mucus
membrance) dan paru-paru atau pneumonitis, laryngitis dan tenggorokan dan selaput suara
(tracheatis).
Untuk mengidentifikasi ammonia dapat menggunakan cara-cara: a. Menggunakan alat indra manusia, amonia (NH3
b. Menggunakan kertas lakmus (indicator), lakmus merah yang lembab akan berubah menjadi warna kuning.
), dapat dikenal karena baunya merangsang.
c. Mencampurkan gas hydrogen chlorat ke dalam gas ammonia, maka akan terjadi kabut putih. 2. Gejala Klinis
a. Keracunan amonia melalui inhalasi menyebabkan iritasi saluran napas bagian atas, disertai batuk, muntah, selaput lendir hidung dan faring menjadi merah. Jika kadarnya besar, dapat menyebabkan sesak napas, edema paru, sianosis, dan puls menjadi cepat namun lemah. Jika mata terkontaminasi ammonia, menyebabkan rasa sakit disertai edema konjungtiva dan kekaburan kornea. Selanjutnya dapat menyebabkan terjadi katarak, atropi retina dan iris.
b. Dalam bentuk uap/gas menyebabkan rangsanangan (iritasi) dengan membentuk gelembung-gelembung kecil berisi air pada selaput lendir mata, selaput lendir alat pernapasan. Dalam keadaan pekat dapat menyebabkan radang mata (conjucvitis), radang pangkal tenggorok (laryngitis), pulmonary edema (pneumonitis), mati lemas (suffocation), hal ini disebabkan kekejangan (spasm) dari katup pangkal tenggorok (glottis)
c. Kontak dengan kulit atau dengan jalan tertumpah ke kulit dapat menimbulkan luka bakar kimia (chemichal burn) dan kulit menjadi melepuh (vesication), yaitu selaput tanduk kulit terangkat ke atas.
d. Larutan amonia yang tertelan/terminum dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan patologis, yaitu gangguan terhadap organ-organ dalam seperti hati, ginjal dan menimbulkan komplikasi-komplikasi seperti yang terdapat pada keracunan oleh bahan-bahan korosif alkali lainnya.
3. Keselamatan Dan Pengamanan di Lingkungan Industri a. Penanganan Dan Penyimpanan
Hindari gas berada dalam ruangan kerja, hindari dari loncatan api dan sumber panas. Simpan pada tempat dingin, kering dan berventilasi dan jauh dari populasi. Hindarkan dari asam, oksidator, halide, etoksi, logam alkali dan kalium klorat.
b. Tumpahan Dan Bocoran
Bila terjadi tumpahan atau bocoran, harus ditangani oleh orang yang terlatih dengan memakai alat pelindung diri. Jauhkan dari sumber api. Kabut ammonia dapat di semprot oleh air.
c. Alat Pelindung Diri
2) Mata : safety goggles dan pelindung muka 3) Kulit : gloves ( neoprene, karet, PVC karet) d. Pertolongan Pertama
1) Terhirup : bawa ketempat aman dan udara yang segar, beri pernapasan buatan jika perlu, segera ke dokter.
2) Terkena mata : cuci dengan air bersih dan mengalir selama 20 menit dan segera bawa ke dokter
3) Terkena kulit : cuci dengan air bersih dan mengelir selama 20 menit, lepaskan pakaian yang terkontaminasi
e. Pemadam Api :
Hentikan kebocoran gas dengan aman, gunakan semprotan air sebagai pendingin. Media pemadaman CO2
2.4.2. Asam Asetat/ Asam cuka
, halon, bubuk kimia kering.
Asam Asetat ( Acetic Acid, Ethanoic Acid, Methyl Carboxylic Acid ) adalah senyawa kimia dengan rumus molekul CH3
Asam asetat atau cuka dihasilkan dari proses destilasi, asam asetat atau cuka dalam kadar tertentu digunakan sebagai pencipta rasa asam pada makanan tetapi dalam kadar yang berlebihan asam asetat dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan tubuh manusia.
COOH, berupa cairan jernih tidak berwarna, berbau tajam, dan berasa asam. Pada konsentrasi tinggi akan menimbulkan korosi pada berbagai jenis logam.
Asam asetat atau cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam asetat murni (disebut asam asetat glacial) adalah cairan bigros kapis tak berwarna. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer, seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain.
Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Dirumah tangga, asam asetat encer mencapai 6,5 juta ton/tahun. 1,5 juta ton/tahun diperoleh dari hasil daur ulang, biasanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayat. Asam asetat yang kita gunakan di rumah memiliki pH sekitar 2. karena sifatnya yang mudah larut dan bercampur, ini membuat asam asetat digunakan luas di industri kimia.
Asam asetat pekat bersifat korosif dan karena itu digunakan dengan hati-hati. Asam asetat dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen, serta iritasi pada membran mukosa. Luka bakar atau lepuhan bisa jadi tidak terlihat hingga beberapa jam setelah kontak. Sarung tangan Latex tidak melindungi dari asam asetat, sehingga dalam menangani senyawa ini perlu digunakan sarung tangan berbahan karet nitril. Asam asetat juga dapat terbakar dilaboratorium. Namun dengan sulit, ia menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 390C (1020
Larutan asam asetat dengan konsentrasi lebih dari 25% harus ditangani di sungkup asap (fumebad) karena uapnya yang korosif dan berbau. Asam asetat encer seperti cuka, tidak berbahaya. Namun konsumsi asam asetat yang lebih pekat adalah berbahaya bagi manusia maupun hewan. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan sistem pencernaan, dan perubahan yang mematikan pada keasaman.
F) dan dapat membentuk campuran yang mudah meledak di udara (ambang ledakan 5,4% – 16%).
1. Sifat-Sifat Fisika Dan Kimia
a. Cair, tidak berwarna, bau menyengat b. Titik nyala : 49°C c. Titik beku : 16,70 d. Titk didih : 117,9 C 0 C
e. Dalam bentuk uap dapat menimbulkan kesulitan bernapas. f. Nilai Ambang Batas (NAB) : 25 mg/m3
Menurut pendapat Abide (2010), tingkat keasaman asam asetat murni sangatlah tinggi, yang merupakan hasil dari produksi secara sintesis berbahaya bagi kesehatan manusia.
2. Efek Negatif Yang Disebabkan Asam Asetat
a. Adapun gejala yang diakibatkan terpapar asam asetat pekat yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi antara lain:
1) Kulit dan tangan akan menjadi hitam karena keasaman yang tinggi dari asam asetat murni (Jika kontak langsung dengan asam asetat pekat).
2) Kulit akan mengalami keratinisari yang berlebihan.
3) Gigi mudah rapuh/mengalami erosi dan terlihat kehitam-hitaman. 4) Peradangan pada konjungtiva, cornea dan iritasi.
5) Radang kronic pada laring dan bronchitis.
b. Efek yang di sebabkan jika masuk melalui pencernaan :
1) Sakit yang dirasakan pada mulut, paring, esophagus, dan nyeri pada perut. 2) Muntah-muntah dan hematemesis (kerusakan hati).
3) Diare
4) Radang pada laring, bronkelous, pembengkakan paru-paru dan pneumonia 5) Albuminuria dan hemateria
6) Cardiovascular callpase
1) Akar-akar tanaman akan membusuk karena keasaman tanah sangat rendah sehingga tumbuhan akan mati dan daun tanaman akan membentuk menyebabkan terhambatnya proses fotosintesis
2) Menyebabkan derajat keasaman meningkat
3) Ikan-ikan akan mati jika asam asetat mencemari badan air
4) Zat gizi lepas dari tanah sehingga tingkat keasaman tanah meningkat 3.
a. Ventilasi yang dikontrol dengan baik akan menghindari tingginya konsentrasi asam asetat pekat di udara, serta mengurangi bau tidak sedap yang berasal dari asam asetat apabila pergantian udara berlangsung dengan baik
Pencegahan
b. Penggunaan alat pelindung diri contohnya penggunaan masker dan sarung tangan karet nitril
c. Penggunaan baju pelindung karet mencegah asam asetat yang memiliki keasaman mengenai badan
d. Pemeriksaan kesehatan bagi pekerjaan terutama mata, kulit dan paru-paru 2.4.3. Bahan Bakar Kayu
Berdasarkan Mukono (2003), kayu yang digunakan sebagai bahan bakar menghasilkan bahan pencemar berupa Carbon Dioksida (CO2), Nitrogen Oksida (NO), Nitrogen Dioksida (NO2
1. Carbon Dioksida (CO ).
2
Pembakaran bahan fosil meningkatkan konsentrasi CO ) :
2 di bumi, sehingga melampaui tingkat alamiah dan dapat berakibat menaikkan suhu bumi. Kenaikan suhu akan mencairkan
es di kutub, permukaan laut akan naik, dan pantai banyak yang tenggelam. Itulah pengaruh CO2 yang dinamakan pengaruh rumah kaca (sastrawijaya, 1991).
2. Nitrogen Oksida:
Menurut Fardiaz (1992), pada konsentrasi rendah gas NO tidak mengakibatkan iritasi dan tidak berbahaya, tetapi dalam konsentrasi tinggi dapat menjadi lebih beracun. Efek lain terhadap kesehatan dapat memperlihatkan gejala paralisis system syaraf dan konvulsi. Pada penelitian lain tikus yang diberi NO sampai jumlah 2500 ppm akan hilang kesadaranya setelah 6-7 menit. Tetapi kemudian diberi udara segar sembuh kembali setelah 4-6 menit. 3. Nitrogen Dioksida (NO2
Berdasrkan pendapat Mukono (1993), Gas NO ):