• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5 Penutup, bagian terakhir membahas mengenai kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil analisis data yang telah dijabarkan pada bagian

B. Kajian Teori

3) Pondok Pesantren Komprehensif

Sistem pendidikan yang dipakai dalam pondok pesantren ini dengan menggabungkan antara yang tradisional dan modern.

Artinya sistem pendidikannya dengan mengajarkan kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan, namun secara regular sistem persekolahan tetap berkembang.61

Di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab Kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan. Namun secara regular sistem persekolahan terus dikembangkan. Bahkan keterampilan pun diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi pesantren salaf dan khalaf.

d. Unsur-unsur dalam Pesantren

Unsur – unsur dalam pesantren dapat disebut sebagai ciri-ciri yang secara umum dimiliki oleh Pondok Pesantren sebagai lembaga

60Mujammil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi,(Jakarta: Erlangga, 2015). 37

61 M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan,…. 14-15

pendidikan sekaligus lembaga sosial yang secara informal itu terlibat dalam pengembangan masyarakat pada umumnya. Adapun unsur-unsur pondok pesantren sendiri meliputi:

1) Kiai

Kiai adalah orang yang memiliki ilmu agama (Islam) plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmunya. Menurut SaifulAkhyar Lubis, menyatakan bahwa “Kiai adalah tokoh sentral dalam suatu pondok pesantren, maju mundurnya pondok pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kiai. Karena itu, tidak jarang terjadi, apabila sang kiai di salah satu pondok pesantren wafat, maka pamor pondok pesantren tersebut merosot karena kiai yang menggantikannya tidak sepopuler kiai yang telah wafat itu”.62

Menurut Abdullah ibnu Abbas, kiai adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu. 63Menurut Mustafa al-Maraghi, kiai adalah orang-orang yang mengetahui kekuasaan dan keagungan Allah SWT sehingga mereka takut melakukan perbuatan maksiat.

Menurut Sayyid Quthb mengartikan bahwa kiai adalah orang-orang yang memikirkan dan menghayati ayat-ayat Allah yang

62Saiful Akhyar Lubis, Konseling Islami Kyai dan Pesantren, (Yogyakarta, ELSAQ Press, 2007). 169

63Hamdan Rasyid, Bimbingan Ulama; Kepada Umara dan Umat, (Jakarta: Pustaka Beta, 2007). 18

mengagumkan sehingga mereka dapat mencapai ma`rifatullah secara hakiki.

Kiai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Ia seringkali bahkan merupakan pendirinya.

Sudahsewajarnya bahwa pertumbuhan suatu pesantren semata-mata tergantung kemampuan kepribadian kiainya. Menurut asal usulnya perkataan kiai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda :

a) Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap kramat ; umpamanya, “Kiai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Kraton Yogyakarta.

b) Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.

c) Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santri. Selain gelar kiai, ia juga disebut dengan orang alim (orang yang dalam pengetahuan keislamanya).64

Para kiai dengan kelebihan pengetahuanya dalam islam, sering kali dilihat orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, hingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tidak terjangkau, terutama oleh kebanyakan orang awam.

64Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1982). 55

Dalam beberapa hal, mereka menunjukkan kekhususan mereka dalam bentuk berpakaian yang merupakan simbol kealiman yaitu kopiah dan surban.65 Seorang pendidik atau kiai mempunyai kedudukan layaknya orang tua dalam sikap kelemah lembutan terhadap murid-muridnya, dan kecintaannya terhadap mereka. Dan ia bertanggung jawab terhadap semua muridnya dalam perihal kehadiran kiai atau pendidik.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

هتيعر نع لوؤسم مكلكو عار مكلك (هيلع كفتم )

“Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.”

(HR.Mutafaq Alaih).66 2) Masjid

Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren, masjid merupakan bangunan sentral sebuah pesantren, dibanding bangunan lain, masjidlah tempat serbaguna yang selalu ramai atau paling banyak menjadi pusat kegiatan warga pesantren.

Masjid berasal dari bahasa Arab “sajada-yasjudu-sujuudan” dari kata dasar itu kemudian dimasdarkan menjadi

65 Ibid. 56

66Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Muslim Jilid 2, (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2006). 8

“masjidan”yang berarti tempat sujud atau setiap ruangan yang digunakan untuk beribadah.67 Masjid juga bisa berarti tempat shalat berjamaah. Fungsi masjid dalam pesantren bukan hanya sebagai tempat untuk shalat saja, melainkan sebagai pusat pemikiran segala kepentingan santri termasuk pendidikan dan pengajaran.

Masjid yang telah dibangun dijadikan sebagai tempat/lembaga pendidikan bagi santri dalam pelatihan-pelatihan dan pendidikan elementer yang secara tradisional diberikan dalam pengajian-pengajian. Terkadang rumah kiai, rumah guru dan langgar- langgar juga menjadi tempat penyelenggaraan pengajian (pendidikan).

Pada sebagian pesantren masjid berfungsi sebagai tempat i’tikaf dan melaksanakan latihan-latihan, atau suluk dan dzikir, maupun amalan-amalan dalam kehidupan tarekat dan sufi.

3) Santri

Kata santri sendiri, menurut C.C Berg berasal dari bahasa India, shastri, yaitu orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Sementara itu, A.H. John menyebutkan bahwa istilah santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.68

67AlMunjid fi al lughah wal adab wal ulum, Libanon, Beirut : 1958. cet. XVIII . 321

68Babun Suharto, Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi Pesantrendi Era Globalisasi, (Surabaya: Imtiyaz, 2011). 9

Nurcholish Madjid juga memiliki pendapat berbeda. Dalam pandangannya asal usul kata “Santri” dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “Santri”

berasal dari kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum santrikelas literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata

“cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemanaguru ini pergi menetap.69

Santri adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ulama. Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik dan menjadi pengikut dan pelanjut perjuangan ulama yang setia.

Para santri menuntut pengetahuan ilmu agama kepada kiai dan mereka bertempat tinggal di pondok pesantren. Karena posisi santri yang seperti itu maka kedudukan santri dalam komunitas pesantren menempati posisi subordinat, sedangkan kiai menempati posisi superordinat.

Santri (يرتنسلا) berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah "Orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan

69Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press ,2005). 61

mengikuti sunnah Rasul SAW serta teguh pendirian.” Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya.

Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan Ilmu Agama Islam di suatu tempat yang dinamakan Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai.

Zamakhsyari Dhofir dalam Harun Nasutionet membagi menjadi dua kelompok sesuai dengan tradisi pesantren yang diamatinya, yaitu santri mukim dan santri kalong.70

Dokumen terkait