• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian

4.3.1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah semua mahasiswa FK USU 2010 yang memakai lensa kontak da berada di kampus yaitu Semester 2, 4 dan 6.

4.3.2. Sampel

Pada penelitian ini, dilakukan accidental sampling di mana sampel diambil pada semua populasi di FK USU 2010 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eklusi. Untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000, dapat menggunakan formula yang lebih sederhana lagi seperti berikut (Notoatmodjo, 2009):

N n =

1 + N (d2)

Keterangan:

N = Besar populasi n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan dalam penelitian ini adalah 10% atau 0.1

n = 112 1 + 112 (0.12)

n = 52.83  dibulatkan n = 60 orang.

Sampel penelitian yang telah dipilih adalah kira-kira 60 mahasiswa FK USU 2010 yang memenuhi kriteria inklusi akan diberi kuesioner. Antara kriteria inklusi adalah:

1) Pengguna lensa kontak

2) Pengguna lensa kontak yang bersetuju untuk menjawab kuesioner. Antara kriteria eklusi adalah:

1) Pengguna lensa kontak yang masih memakai lensa kontak kurang dari tempoh sebulan.

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Data ini telah dikumpulkan melalui kuesioner. Data yang diambil adalah data primer kerana diambil terus dari mahasiswa dan tiada perantaraan. Kuesioner diberikan dan juga wawancara terpimpin agar responden dapat memahami kuesioner

dan mendapatkan data yang benar daripada responden. Skala pengukuran variabel yang diteliti menggunakan skala berbentuk ordinal.

4.5. Pengolahan dan Analisa Data

Data yang diperoleh dikumpulkan, diolah secara manual dengan langkah-langkah editing, koding dan tabulasi.Selanjutnya diolah secara statistik dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar dengan menggunakan program SPSS 13.0.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian berbentuk deskriptif analitik ini dijalankan di Universitas Sumatera Utara, Medan.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Responden yang dikaji adalah mahasiswa FK USU seramai 60 orang yang mempunyai rentang usia 20-25 tahun. Pada survei awal, didapati seramai 112 orang mahasiswa yang memakai lensa kontak. Akibat keterbatasan waktu,peneliti hanya menetapkan seramai 60 responden untuk diteliti dengan menggunakan quota sampling. Dalam penelitian ini, tiada karakteristik khas bagi setiap responden ditetapkan tetapi distribusi mahasiswa mengikut jenis kelamin adalah 11 orang pria (18.3%) dan 49 wanita (81.7%).

Tabel 5.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dan semester

Kategori Jumlah (orang) Persentase (%) Semester 6 Lelaki 4 12 Perempuan 28 88 Total 32 100 Semester 4 Lelaki 5 42 Perempuan 7 58 Total 12 100 Semester 2

Lelaki Perempuan Total 2 14 16 12 88 100

5.1.3. Hasil Analisa Data

Setelah dianalisa dengan menggunakan SPSS. Didapati bahwa distribusi tindakan mahasiswa FK USU yang terkait dengan resiko terjadijnya keratitis adalah seperti berikut:

Tabel 5.2. Distribusi tindakan mahasiswa berdasarkan kategori.

Kategori Jumlah (orang) Persentase(%)

Baik 54 90

Sedang 6 10 Kurang 0 0

Gambar 1. Persantase tindakan mahasiswa yang dikaitkan dengan resiko terjadinya keratitis.

Dari jumlah keseluruhan responden yang diteliti sebanyak 90% yang berada pada kategori baik mempunyai kemungkinan resiko rendah untuk terkena keratitis manakala sebanyak 10% kategori sedang mempunyai kemungkinan resiko sedang untuk terkena keratitis.

90% 10%

Kategori

Gambar 2. Kekerapan pemakaian lensa kontak pada mahasiswa

Sebahagian besar mahasiswa FK USU adalah pengguna daily wear yaitu sebanyak 59%. Dari persantase pengguna daily wear, 100% pengguna memilih untuk menggunakan lensa kontak jenis lunak. Sebanyak 38% adalah pengguna jarang-jarang. Selebihnya adalah terdiri dari pengguna extended wear yaitu 3%.

59%

3% 38%

Kekerapan pemakaian lensa

Gambar 3. Jenis-jenis lensa yang digunakan

Lebih dari separuh mahasiswa menggunakan lensa lunak yaitu sebanyak 97% manakala hanya 3% yang memilih untuk menggunakan lensa keras. Tiada di antara mereka yang menggunakan lensa RGP (rigid gas permeable).

97% 3%

Jenis lensa

Lensa lunak Lensa keras

73% 7%

20%

Membasuh tangan sebelum memegang lensa

Gambar 4. Membasuh tangan sebelum memegang lensa

Tujuh puluh tiga persen didapati akan membasuh tangan sebelum memegang lensa. Manakala 20% menyatakan kadang-kadang mereka tidak membasuh tangan sebelum memegang lensa. Hanya sebagian kecil tidak membasuh tangan langsung yaitu sebanyak 7%.

Gambar 5. Perlepasan lensa kontak sebelum tidur

Bagi tindakan melepaskan atau tidak lensa kontak sebelum tidur, didapati bahwa 80% mahasiswa akan melepaskan dahulu lensa kontak mereka sebelum tidur manakala 20% mahasiswa kadang-kadang tidak melepaskan lensa kontak terlebih dahulu sebelum tidur. Antara 80% melepaskan lensa kontak sebelum tidur terdiri dari 92% wanita dan selebihnya adalah pria yaitu 8%.

80% 20%

Perlepasan lensa kontak sebelum tidur

Gambar 6. Cara mahasiswa mencuci lensa kontak.

Sebanyak 81% mahasiswa akan menggunakan solusi serbaguna untuk mencuci lensa kontak mereka. Manakala 11% akan menggunakan saline dan menggosok lensa kontak tersebut. Hanya sedikit yang menggunakan pencuci dan saline yaitu sebanyak 8%.

11% 8%

81%

Cara pencucian lensa kontak

Gambar 7. Pencucian bekas penyimpanan lensa kontak

Berdasarkan carta pai di atas, 62% mahasiswa akan mencuci bekas penyimpanan lensa kontak setelah menggunakannya. Selain itu, 33% kadang-kadang akan mencucinya. Manakala, 5% mahasiswa tidak pernah mencuci bekas penyimpanan tersebut.

62%

5%

33%

Mencuci bekas penyimpanan lensa kontak

Gambar 8. Tindakan mahasiswa dalam mengatasi komplikasi mata

Sebagian besar responden akan sentiasa menjaga kebersihan untuk mencegahnya terjadi komplikasi mata. Manakala sebanyak 19% responden bertindak dengan berkonsultasi pada dokter apabila terjadinya komplikasi mata. Selebihnya memililh untuk menukar produk yang lain.

5.2. Pembahasan

Penelitian ini secara khusus untuk mengetahui populasi pengguna lensa kontak di FK USU dan bagaimana mereka mengamalkan pemakaian lensa kontak. Kemudian dari gambaran tindakan penggunaan lensa kontak tersebut dikaitkan dengan kemungkinan resiko untuk terjadinya keratitis. Di Indonesia, jumlah pemakai lensa kontak masih tidak diketahui namun terdapat sebilangan besar orang menggunakannya. Kebanyakan dari mereka memakai lensa kontak untuk mengoreksi gangguan refraksi dan tujuan kosmetik dengan mengubah warna mata mereka (Quraisy,2009). Masalah yang ditimbulkan dengan pemakaian lensa kontak

8%

19%

73%

Pencegahan komplikasi mata

tergantung pada beberapa faktor, seperti bahan lensa, modalitas pemakaian, kebersihan lensa, jenis cairan pencuci lensa, tingkat kerelaan pengguna lensa pada pemakaian lensa dan rutin pencuciannya, pemakaian lensa yang berlamaan, tidur tanpa melepaskan lensa, frekuensi penukaran lensa dan kebersihan tempat penyimpanan lensa. Penggantian lensa kontak yang kerap adalah penting. Pemakaian semula lensa kontak lebih dari masa yang telah ditetapkan oleh pembekal lensa kontak akan menyebabkan pemakai terdedah kepada komplikasi pada mata. Pemakai lensa kontak yang tidur tanpa melepaskan lensa kontak lebih cenderung untuk terkena komplikasi yang disebabkan oleh durasi kontak mata dengan lensa yang lama sehingga terjadinya anoxia kornea.

Gambaran tindakan penggunaan lensa kontak di kalangan mahasiswa FK USU rata-rata adalah berada pada kategori baik. Maka mereka mempunyai resiko yang rendah untuk terjadinya keratitis. Ini mungkin kerana tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU mengenai komplikasi mata sudah adekuat dan mereka tahu bagaimana untuk mencegah komplikasi itu terjadi. Peneliti menjangkakan ada sedikit perbedaan pada tindakan mahasiswa Semester 7 berbanding Semester 5 dan 3 kerana mereka telah diberi Blok Special Sense System. Namun setelah diberi kuesioner dan diproses dengan SPSS, tiada perbedaan ketara antara Semester 6, 4 dan 2. Ternyata tingkat pengetahuan pada mahasiswa tidak mempengaruhi tindakan mereka pada pemakaian lensa kontak.

Pemakaian lensa kontak lunak dengan penggantian sering dipakai sehari-hari adalah jenis paling umum dan dipilih ramai oleh mahasiswa FK USU dengan bilangan wanita mendominasi bilangan pria. Melalui wawancara ringkas yang diperoleh dari beberapa mahasiswa, mereka lebih tertarik untuk memakai lensa kontak lunak kerana mudah didapati, murah dan senang dijaga. Lensa kontak lunak yang mempunyai kandungan air yang tinggi menyebabkan oksigen mudah diserap namun dapat menyebabkan perlekatan deposit protein yang tinggi. Maka, mahasiswa perlu menggosok lensa kontak tersebut sewaktu mencucinya atau penggunakan tablet enzim untuk melepaskan deposit protein tersebut. Tetapi sebahagian besar mahasiswa

memilih solusi serbaguna sebagai pencuci lensa kontak. Deposit protein yang berlamaan akan meningkatkan resiko terjadinya keratitis (Ibrahim, 2007).

Salah-satu faktor untuk mendapatkan resiko keratitis adalah tidur tanpa melepaskan lensa kontak. Pada mahasiswa FK USU tidak dijumpai yang sering tidur tanpa melepaskan lensa kontak mereka. Namun, ada segelintir antara mereka kadang-kadang tidak melepaskannya sewaktu tidur. Sebanyak 20% mahasiswa mengaku kadang-kadang tidak melepaskannya atas sebab terlupa dan malas. Mahasiswa yang memakai lensa kontak saat tidur lebih rentan terhadap komplikasi mata yang disebabkan kontak lensa pada kornea pada jangka waktu yang lama akan mengakibatkan anoxia kornea. Insidens yang signigikan tinggi didapati di UK, yaitu sebanyak 96.4% orang dilaporkan oleh Morgan (2005) terkena keratitis berat kerana tidur dengan lensa kontak berbanding orang yang memakai lensa kontak saat terjaga sahaja.

Penggantian solusi penyimpanan lensa kontak adalah sangat penting kerana kemungkinan untuk terjadinya kontaminasi patogen sangat tinggi. Tambahan lagi, ketika disimpan multiplikasi patogen dan perlekatan yang lebih dalam pada lensa kontak menyebabkan lensa kontak menjadi vektor yang baik untuk terjadinya infeksi apabila ditempatkan di atas mata (John T, 1991). Selain itu, penting juga bahwa solusi penyimpanan itu adalah dari solusi steril yang dibekalkan oleh pembekal itu sendiri. Campuran solusi penyimpanan yang dibuat sendiri selalunya cenderung terkontaminasi. Bagi tindakan mahasiswa FK USU, sebahagian besar dari mereka akan menggantikan cairan lensa kontak setelah digunakan dan tiada di antara mereka yang menggunakan air kran sebagai pengganti cairan lensa kontak.

Terdapat pelbagai gejala pada mata yang beresiko dihidapi pada pengguna lensa kontak seperti kekeringan pada mata, sensasi berpasir pada mata, kemerahan, nyeri, kekaburan, fotosensitivitas, dan halo (Khoo CY, 1985). Pada wawancara ringkas, kebanyakan responden pada penelitian ini pernah menghadapi komplikasi-komplikasi tersebut seperti sensasi berpasir dan kemerahan. Meskipun begitu, segelintir daripada responden mengambil tindakan dengan menukar produk lensa

kontak lain dari pasaran berbanding berkonsultasi kepada dokter. Namun adalah sebaiknya pemakai lensa kontak sentiasa menjaga higienes supaya tidak terjadi infeksi. Edukasi perlu diberi bahwa tindakan yang sebaiknya adalah menghentikan pemakaian lensa kontak apabila mula menyedari tanda-tanda awal terjadi infeksi.

Penelitian ini dijalankan untuk menilai tindakan pemakaian lensa kontak dan kemungkinan resiko untuk terjadi keratitis atas tindakan yang diambil oleh mahasiswa yang merupakan populasi berpendidikan tinggi dalam masyarakat kita. Rata-rata mahasiswa mengamalkan tindakan pemakaian yang betul dalam mencegah terjadinya keratitis walaupun masih ada segelintir dari mereka mengabaikan kebersihan lensa kontak. Namun begitu terdapat beberapa kelemahan pada penelitian ini. Pada penelitian ini tidak dilakukan observasi pada responden atas sebab keterbatasan waktu. Dengan itu, responden bisa sahaja tidak menjawab betul kuesioner tersebut berdasarkan cara pemakaian lensa kontak mereka.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai gambaran penggunaan lensa kontak pada mahasiswa FK USU dikaitkan dengan kemungkinan resiko terjadinya keratitis, diperoleh kesimpulan bahwa sebahagian besar yaitu sebanyak 90% mempunyai kemungkinan resiko rendah untuk terkena keratitis dengan mengamalkan pemakaian lensa kontak yang baik dari segi jenis, cara penggunaan dan cara perawatan lensa kontak. Sebanyak 20% mahasiswa mempunyai kemugkinan resiko keratitis sedang kerana mengamalkan cara pemakaian lensa kontak yang kurang baik. Manakala resiko keratitis tinggi tidak didapati pada mana-mana mahasiswa FK USU. Namun begitu terdapat beberapa kelemahan pada penelitian ini. Pada penelitian ini tidak dilakukan observasi pada responden atas sebab keterbatasan waktu. Dengan itu, responden bisa sahaja tidak menjawab betul kuesioner tersebut berdasarkan cara pemakaian lensa kontak mereka.

6.2. Saran

Antara saran bagi penelitian selanjutnya adalah:

a) Menilai tingkat pengetahuan dan sikap dalam pemakaian lensa kontak pada mahasiswa.

b) Mengkaji faktor-faktor lain sebagai penyebab terjadi keratitis pada pemakai lensa kontak.

c) Melakukan juga observasi pada responden supaya data-data yang diperolehi benar dan tidak hanya direka semata-mata.

DAFTAR PUSTAKA

Bennet, S.E., 2010. Acanthamoeba Keratitis: What Contact Lens Wearers Need To Know. All About Vision. Available from :

[ Accessed 15 April 2010 ]

Butrus, S.L., Klutz, S.A., 1990. Contact lens surface deposits increase the adhesions of pseudomonas aeroginosa. Curr Eye Res; 9: 717-724

Cheng, K.H., et al, 1999. Incidence of contact lens- associated microbial keratitis in human eyes and its related morbidity. Lancet; 354: 181-185

Cho, P., Cheng, S.Y., Chan, W.Y., Yip, W.K., 2009. Soft contact lens cleaning: rub or no-rub? Ophthalmic Physio Opt. 29: 49-57

Cohen, E.J., et al, 1996. Trends in contact lens-associated corneal ulcers. Cornea; 15: 566-570.

Holden, B.A., et al, 2003. Microbial keratitis and vision loss with contact lenses. Eye Contact Lens.

Hughes, R., Kilvington, S., 2001. Comparison of hydrogen peroxide contact lens disinfection systems and solution against Acanthamoeba polyphaga. Antimicrob Ag Chemother.

Ibrahim, W.Y., Boase, D.L., Cree, I.A., 2007. How could contact lense wearers be at risk of Acanthamoeba infection. J Optom; 2: 60-66

John, T., 1991. Interaction of bacteria and amoeba with ocular biomaterials. Cells and Materials.

Jones, L., et al, 2003. Lysozyme and lipid deposition of silicone hydrogel contact lens material. Eye Contact Lens.

Kelly, L.D., Xu, L., 1995. The effect of Acanthamoeba concentration to adherence to four types of unworn soft contact lenses. CLAO J (21): 27-30.

Liesegang, T.J., 2000. Physiologic Changes of The Cornea with Contact Lens Wear. CLAO J; 28: 12-27.

Lin, M.C., et al.2002. Impact of rigid gas permeable contact lens extended wear of corneal epithelial barrier function. Invest Opthalmol Vis Sci.

Lopez, F.H., 2010. Keratitis Bacterial. Available from [ Accessed 21 April 2010 ]

Manikandan, P., 2004. Acanthamoeba keratitis - A six year epidemiological review from a tertiary care eye hospital in South India. Indian Journal of

Microbiology. Vol.22, No.4:226-230.

Martinez, A.J., Janitschke, 1985. Acanthamoeba, an opportunistic microorganism: a review. Infection; 13: 251-256.

Moore, M.B., 1990. Acanthamoeba keratitis and contact lens wear: the patient is at fault. Cornea (9): S33-S35.

Niszl, I.A., Markus, M.B., 1996. Treatment of Acanthamoeba keratitis. S Afr Med J (86): 566.

Notoatmodjo, S., 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta. Novina, T.J., et al, 2008. Microbial keratitis: aetiological diagnosis and clinical

features in patients admitted to Hospital Universiti Sains Malaysia.

Singapore Med J: 49(1): 67

Pratomo, H. 1990. Pedoman Usulan Penelitian Badan Kesehatan Masyarakat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Quraisy, M.N., Khan B, 2009. Awareness of Contact Lens Care Among Medical Students.Ophthalmology, Vol.15, No.4.

Radford, et al, 1995. Risk factors of Acanthamoeba keratitis in contact lens users: a case-control study. BMJ.

Rapkin, J.S., 1988. The effect of daily wear time on contact lens complications.

CLAO J; 14: 139-142.

Schein, O.D., et al, 1994. The impact of overnight wear on the risk of contact lens- associated ulcerative keratitis. Arch Opthalmol.

ScienceDaily, 2006. Reports Characterize Fungal Eye Infections Among Soft

Contact Lens Wearers. Available from:

[

Accessed 21 April 2010 ]

Sharma, S., Ramachandran L, 1995. Adherence of cysts and trophozoites of Acanthamoeba to unworn rigid gas permeable and soft contact lenses.

Simmons, P.A., 1996. Effect of patient wear and extent of protein deposition on adsorption of Acanthamoeba to five types of hydrogel contact lens. Optom Vis Sci; 73: 362-368.

Turnel, et al, 1993. Compliance and contact lens care: A New Assessment Method. American Optometry Academy. Vol.70, No.12: 998-1004

Tutt, T., Bradley, A., Begley, Thibos, L.N., 2000. Optical and visual impact of tear break-up in human eyes. Invest Opthalmol Vis Sci; 41: 4117-4123

Weissman, B., Mandino, B.J., 2003. Why daily wear is still better than extended wear. Eye Contact Lens.

LAMPIRAN I Informed consent

Gambaran Penggunaan Lensa Kontak di Kalangan Mahasiswa FK USU Dikaitkan dengan Resiko Terjadinya Keratitis

Saya adalah peneliti dari Fakultas Kedokteran , Universitas Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran penggunaan lensa kontak di kalangan mahasiswa FK USU dikaitkan dengan resiko terjadinya keratitis

Untuk mendukung penelitian ini , saya menyebarkan kuesioner ini untuk mendapatkan data- data yang dibutuhkan. Oleh karena itu , saya berharap kesediaan setiap partisipan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Setiap data yang ada di kuesioner ini tidak akan disebarluaskan. Data – data tersebut hanya akan digunakan sebagai penelitian.

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar sesuai dengan hati nurani saudara/i. Saudara/i bebas memilih jawaban karena tidak ada patokan jawapan yang benar atau salah.

( ) ( FATIN AMIRAH KAMARUDDIN)

LAMPIRAN II

KUESIONER PENELITIAN

Gambaran Penggunaan Lensa Kontak di Kalangan Mahasiswa FK USU Dikaitkan dengan Resiko Terjadinya Keratitis

DATA RESPONDEN

NIM : ... UMUR : ... JENIS KELAMIN : a) Pria

b) Wanita

FAKULTAS : ... SEMESTER : ...

1. Seberapa kerapkah anda memakai lensa kontak?

A. Daily wear

B. Extended wear (lebih dari 1 bulan)

C. Pengguna jarang-jarang

2. Apakah jenis lensa yang anda gunakan? A. Lensa lunak

B. Lensa keras

C. Lensa RGP (rigid gas permeable)

3. Adakah anda melepaskan lensa kontak sebelum tidur? A. Ya

B. Tidak

C. Kadang-kadang

4. Adakah anda membasuh tangan sebelum memegang lensa? A. Ya

B. Tidak

C. Kadang-kadang

5. Adakah anda mencuci lensa kontak? A. Ya

6. Jika ya, seberapa kerap?

A. Setiap kali setelah memakai lensa B. Seminggu sekali

C. Tergantung waktu

7. Bagaimanakah cara anda mencuci lensa kontak tersebut? A. Menggosok + saline

B. Pencuci + saline C. Solusi serbaguna

8. Apakah anda membilas lensa setelah mencucinya? A. Tidak dibilas

B. Dibilas beberapa kali C. Dibilas dengan air kran

9. Apakah anda menggantikan cairan lensa kontak setelah digunakan? A. Ya

B. Tidak

C. Kadang-kadang

10.Apakah anda mencuci bekas penyimpanan lensa kontak? A. Ya

C. Kadang-kadang

11.Apakah anda melepaskan lensa kontak terlebih dahulu sebelum berenang, menyelam atau mencuci muka?

A. Ya B. Tidak

C. Kadang-kadang

12.Seberapa kerapkah anda mencuci lensa kontak dengan menggunakan air kran? A. Selalu

B. Kadang-kadang C. Tidak pernah

13.Apakah anda masih memakai lensa kontak yang telah tamat tarikh lupus ataupun rusak?

A. Ya B. Tidak

C. Kadang-kadang

14.Seberapa kerapkah anda melakukan pemeriksaan mata dengan dokter mata? A. 6 bulan sekali

B. Kadang-kadang C. Tidak pernah

15.Sekiranya anda mengalami masalah setelah memakai lensa kontak, adakah anda masih meneruskan pemakaiannya?

A. Ya B. Tidak

16.Apakah tindakan anda untuk mencegah komplikasi infeksi mata akibat pemakaian lensa kontak?

A. Menukarkan produk lensa kontak yang lain yangbterdapat di pasaran

B. Berjumpa dokter dan mendapatkan nasihat dokter atau optalmologi C. Sentiasa menjaga hygiene dalam penjagaan lensa kontak

LAMPIRAN II

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Tempat/ Tanggal Lahir : Kelantan, Malaysia/02 Juni 1988 Agama : Islam

Alamat : Kepala Batas, Pulau Pinang Riwayat Pendidikan :1. Sek. Keb. Sultan Ibrahim (3)

2. MRSM Pengkalan Chepa

3. Allianze College Of Medical Sciences 4. Universitas Sumatera Utara (USU) Riwayat Pelatihan :1. Pelatihan Biro Tatanegara Malaysia

Riwayat Organisasi :1. Ahli Persatuan Mahasiswa Malaysia USU 2. Ahli Persatuan Medical Emergency Team USU

Dokumen terkait