Populasi disini adalah pasien cedera otak dengan peningkatan sel darah putih sebanyak di RS BhayangKara Makassar.
2. Sampel
Sampel penelitian adalah pasien dengan diagnosis cedera otak yang memiliki rekam medik lengkap meliputi umur,jenis kelamin, dan jumlah leukosit.
20 D Kriteria
1. kriteria inklusi
a. semua pasien cedera otak yang telah terdata dalam rekam medik.
b. pasien cedera kepala yang telah diperiksa skor Glass Coma Scale (GCS) oleh dokter di IGD RS. Bhayangkara Makassar.
c. pasien cedera kepala yang telah diperiksa leukositnya.
2. kriteria eksklusi
pasien yang mempunyai penyakit terdahulu peningkatan kadar leukosit E. Cara pengambilan sampel
Sampel sebanyak 41
orang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yang tidak mungkin, yaitu sampel yang diminati berdasarkan pertimbangan khusus studi berdasarkan karakteristik yang diketahui atau demografis. Orang dengan rumus :
n1 = n2 = (
𝑍∝ √2𝑃𝑄+𝑍 𝛽√𝑃1𝑄1+𝑃2𝑄2 𝑃1−𝑃2)²
Kesalahan tipe I = 10% hipotesis dua arah, Z𝛼 = 1,282 untuk 𝛼 = 0,1 Keasalahn tipe II = 20%, maka Z𝛽 = 0,842 untuk 𝛽 = 0,20
P2 = propris pajanan pada kelompok kasus sebesar 0,128 P1 – P2 = 0,2
21
(
1,282 √2 𝑥 0,228 𝑥 0,772+0,842√0.328 𝑥 0.672+0.128 𝑥 0.8720,2
)²
n1 = n2 = (
0,76+0,480,2)²
n1 = n2 = (
0,960,2)² =
(4,82)² = 23,3Jadi, sampel minimal yang diteliti yaitu 24 orang.
F Jenis data dan instrument penelitian 3. Jenis data
Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis yang diteliti.
4. Instrument penelitian
Alat pengumpulan data dan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar pengisi data dengan tabel-tabel khusus untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dari rekam medis.
G Manajemen penelitian 1. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan setelah memenuhi perizinan dari pihak kampus dan pihak yang akan dilakukan penelitian, kemudian nomor rekam medik pasien cedera kepala dalam periode yang telah ditentukan akan dikumpulkan. Setelah itu dilakukan pengamatan dan pencatatan langsung ke dalam tabel yang di sediakan.
22 2 Pengelolaan data analisa data
a. Pengelolaan data
H2asil pengelolaan data akan dikumpulkan dan diolah menggunakan program SPSS yang dilakukan dengan uji chi- square yaitu uji statistic yang digunakan untuk menguji signifikan dua variable dengan tingkat kemakmaknaan p<a(0,05).
b. Analisa data
1 Analisa univariat
Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik dari variable independen dan dependen. Keseluruhan data yang ada dalam kuesioner diolah dan disajikan dalam bentuk tabel.
2 Analisa bivariat
Analisa bivariat Digunakan untuk melihat kemungkinan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Uji statistik chi-square memberikan nilai p yang menggunakan tingkat signifikansi 0,005 dalam penelitian ini.
Penyelidikan antara kedua variabel dikatakan masuk akal bila nilainya p0.05. Artinya HO akan diterima dan Ha ditolak.
3. Penyajian data
Data yang diproses ditabulasi untuk menjelaskan prevalensi pasien trauma kepala dengan peningkatan sel darah putih.
4. Alur penelitian
23 5. Etika penelitian
1. Menyertakan Lampirkan surat lamaran ke RS. Bhayangkara Makassar sebagai surat pengantar yang ditujukan kepada RS. Bhayangkara Makassar.
1. Menjaga kerahasiaan data pasien yang terdapat pada rekam medik, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian yang dilakukan.
Pengambilan data awal
Penetapan populasi
Penentuan sampel menggunakan consecutive sampling
Pengumpulan data menggunakan rekam medik
Pengelolaan data
Hasil dan pembahasan
Kesimpulan dan saran
24 BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Populasi/Sampel
Sebuah penelitian dilakukan pada hubungan antara cedera otak dan peningkatan jumlah sel darah putih pada pasien di Rumah Sakit Bayangala.
Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bayankara dari bulan Desember 2019 hingga Januari 2020. Data diperoleh dari rekam medis pasien di RS Bhayangkara Makassar.,
Data yang terkumpul dikompilasi ke dalam tabel induk menggunakan program Microsoft Excel. Data dari tabel master ditransfer ke perangkat komputer menggunakan program SPSS, diproses, dan kemudian ditampilkan dalam format tabel distribusi frekuensi dan tabel silang.
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Jl. Andi Mappaodang No.63, Jongaya, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90223
C. Analisis
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar. Beberapa variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh kebersihan kulit wajah terhadap kejadian akne vulgaris.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode Observasional Analitik hingga didapatkan sampel minimal sebanyak 58 orang.
25 Adapun hasil penelitian disajikan dalam tabel yang disertai penjelasan sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
1.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi
Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan karakteristik responden.
No. Variabel Subgrup Jumlah
n Persentase (%)
1. JenisKelamin Laki-laki Perempuan
37 21
64 36
Sumber : Data Primer 2020
Berdasarkandata jenis kelamin pasien diatas di simpulkan bahwa pasien yang berjenis kelamin laki-lak idi dapatkan sebanyak 37 (64%) responden, sedangkan pasien yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 (36%) responden.
1.3 Distribusi Derajat Cedera Otak
Tabel 5.2. Distribusi derajat cedera otak
Perilaku Frekuensi (n) Persentase (%)
26 CederaOtak
Ringan
24 41.4
CederaOtakSedang 11 19
CederaOtakBerat 23 39.7
Total 58 100
Sumber : Data Primer 2020
Dari data di atas disimpulkan sebanyak 24 (41.4%) pasien mengalami cedera otak ringan, 11 (19%) Pasien dengan cedera otak sedang dan sebanyak 23 (39,7%) pasien dengan cedera otak berat.
1.4 Distribusi Nilai Kadar Leukosit
Tabel 5.3. Distribusi Nilai Kadar Leukosit
Perilaku Frekuensi (n) Persentase (%)
Normal 23 39,7
Meningkat 35 60,3
Total 58 100
Sumber : Data Primer 2020
Dari 58 data pasien ditemukan sebanyak23 (39,7%) pasien memiliki kadar leukosit normal dan sebagian dari data pasien mengalami peningkatan kadar leukosit sebanyak 35 (60,3%).
2. Analisis Bivariat
27 2.1 Tabel5.4. HubunganDerajat Cedera Kepala dengan Peningkatan Kadar Leukosit pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Sumber : Data Primer 2020
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mengalami cedera otak ringan dan hingga 16 (27,6%) jumlah sel darah putih normal.
Delapan pasien (13,8%) mengalami cedera otak ringan dan peningkatan kadar leukositosis.Sebagian juga pasien dengan cedera otak sedang dan kadar leukosit yang normal didapatkan sebanyak 7 orang (12,1%), untuk
28 pasien dengan cedera otak sedang dan kadar leukosit yang meningkat sebanyak 4 orang (6,9%). Selanjutnya sebanyak 5 orang pasien (8,6%) dengan cedera otak berat dan kadar leukosit normal, kemudian sebanyak 18 orang pasien (31,0%) mengalami cedera otak berat dengan kadar leukosit meningkat.
Hasil Analisa di dapatkan menggunakan uji korelasi yaitu :nilai p=0.004 yang menunjukkan bahwa adanya Hubungan Derajat Cedera Otak Dengan Peningkatan Kadar LeukositPadaPasien RS Bhayangkara Makassar.
2.2 Tabel 5.5Hubungan Perbedaan kadar Leukosit pada Cedera Otak Ringan dengan Sedang pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
CO Ringan CO Sedang
p*
Mean SD Mean SD
KDR Leukosit (mm/3)
14.63 336.50 23.50 258.50 0.015
Sumber :Data sekunder 2020
Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Kadar Leukosit pada cedera otak Sedang adalah 23.50 (SD 258.50) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Kadar Leukosit cedera otak ringan yaitu 14.63 (SD
29 336.50). Ada perbedaan yang bermakna antara Kadar leukosit pada cedera otak ringan dan berat (p=0.015)
2.3 Tabel 5.6 Perbedaan kadar Leukosit pada Cedera Otak Ringan dengan Berat pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
CO Ringan CO Berat
p*
Mean SD Mean SD
KDR Leukosit (mg/dl)
13.96 335.00 34.48 793.00 0.00
menunjukkan bahwa rata-rata jumlah sel darah putih pada kerusakan otak berat adalah 34,48 (SD 793,00), lebih tinggi dari rata-rata jumlah sel darah putih pada kerusakan otak ringan 13,96 (SD 335.00).
Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar sel darah putih pada kerusakan otak ringan dan berat (p=0,00).
2.4 Tabel 5.7 Perbedaan kadar Leukosit pada Cedera Otak sedang dengan Berat pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
CO Sedang CO Berat
p*
Mean SD Mean SD
30 KDR Leukosit
(mm/3)
10.18 112.00 21.00 483.00 0.003
Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Kadar leukosit pada cederakepalaBerat adalah 21.00 (SD 483.00) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Kadar leukoosit cedera kepala sedang yaitu 21.00 (SD 112.00) Ada perbedaan yang bermakna antara kadar Leukosit pada cedera kepala sedang dan berat (p=0.003)
31 BAB VI
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar. Beberapa variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah hubungan antara kerusakan otak ringan hingga berat dengan peningkatan kadar sel darah putih. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitis sehingga diperoleh jumlah sampel minimal 42 orang.
Berdasarkan jenis kelamin, pasien laki-laki sebanyak 37 (64%) responden, sedangkan pasien perempuan sebanyak 21 (36%) responden.
asien dengan cedera otak traumatis ringan dan jumlah sel darah putih normal sebanyak 11 pasien (19,0%). Pasien dengan kerusakan otak ringan dan jumlah sel darah putih tinggi sebanyak 13 pasien (22,4%). Selain itu, pasien dengan cedera otak traumatis sedang dan jumlah sel darah putih normal sebanyak 7 pasien (12,1%), pasien dengan cedera otak sedang dan jumlah sel darah putih tinggi sebanyak 4 pasien (6,9%). Selama periode ini, 5 pasien (8,6%) mengalami cedera otak traumatis berat dan kadar sel darah putih normal dan 18 pasien (31,0%) mengalami cedera otak traumatis berat dengan peningkatan kadar sel darah putih.
Sun et al menyatakan bahwa peningkatan jumlah sel darah putih merupakan prediksi kerusakan saraf. penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan peradangan setelah pendarahan otak dikaitkan dengan kerusakan neurologis dini.Respons inflamasi, aktivasi sel endotel, dan pelepasan mediator
32 inflamasi pada cedera otak dapat meningkatkan jumlah leukosit. Kerusakan otak dikaitkan dengan respon fase akut yang ditandai dengan leukositosis karena peningkatan epinefrin dan kortisol. Pada cedera otak traumatis, terjadi ruptur mikrovaskular traumatis, diikuti oleh emboli fisik. Sifat sel darah putih adalah sulit berubah bentuk dibandingkan dengan sel darah merah, sehingga diperlukan tekanan yang lebih besar agar sel darah putih dapat melewati kapiler darah yang berdiameter kecil. Dalam situasi hipoperfusi jaringan, kapiler berfungsi sebagai filter untuk leukosit, yang menyebabkan leukositosis dalam darah perifer. Setelah terperangkap di kapiler, terjadi adhesi leukosit dengan endotel sehingga leukosit tidak akan terlepas walau tekanan perfusi kembali normal.10
Untuk menentukan hubungan antara cedera otak ringan sampai berat dengan derajat leukositosis. Para peneliti menggunakan uji statistik chi-kuadrat.
Berdasarkan hasil uji statistik, nilai signifikansi 0,004 menunjukkan korelasi yang signifikan, artinya ada hubungan antara cedera otak traumatis ringan sampai berat dengan peningkatan gula darah, yang berarti hipotesis alternatif (Ha) diterima. . dan hipotesis nol ditolak. (Ho)didukung oleh penelitian lain oleh (Rovlias dan Kotsu pada Tahun 2001) Menyatakan bahwa pasien dengan parah cedera otak dengan mengklasifikasikan berdasarkan nilai GCS memiliki jumlah WBC yang lebih tinggi secara signifikan. Studi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah WBC, semakin rendah tingkat klinisdan semakin buruk hasil neurologis.
Tentu saja, jumlah WBC normal tidakmelindungi terhadap banyak komplikasi pasca-trauma yang serius, juga tidak menjamin klinis yang baik .
33 Dalam penelitian ini juga menunjukkan nilai Rata- rata perbedaan kadar leukosit pada cedera otak ringan, sedang dan berat dimana p = 0,000 yang artinya terdapat perbedaan rata rata kadar leuosit pada cedera otak ringan dan sedang, sedang dan berat, ringan dan berat yang bermakna yang artinya hipotesis alternatif diterima dan hipotesis Nol ditolak. Hal ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Wayan Niryana, dkk 2018 menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan hitung leukosit antar keparahan derajat kepala, Menurut Polapa dkk. peningkatan jumlah sel darah putih total pada cedera kepala berisiko tinggi dengan rata-rata jumlah sel darah putih total awal 20,6x.103/μL; rata-rata tingkat leukosit dalam 24 jam pasca-cedera 22.4x103/μL;
dan tingkat leukosit rata-rata 48 jam setelah cedera adalah 24,8x103/μL.
Peningkatan yang signifikan dalam sel darah putih terjadi sedini 3 jam setelah cedera kepala, dan neutrofil menumpuk hingga 48 jam setelah cedera.
Efek yang dapat terjadi pada pasien yang menagalami cederakepala dengan peningkatan kadar leukosit ialah terjadinya Cedera sekunder berkembang selama berjam-jam, dan termasuk pelepasan neurotransmitter (eksitotoksisitas), pembangkitan radikal bebas, kerusakan yang dimediasi kalsium, aktivasi gen, disfungsi mitokondria, pengaruh massa, iskemia, dan respons inflamasi.Pada akhirnya, proses ini akan menyebabkan degradasi membranstruktur vaskular dan seluler, lalu diikuti kematian sel nekrotik atauterprogram (apoptosis).
Setelah mengetahui penjelasan mengenai cedera otak traumatis yang di ketahui dari hasil penelitian maka hendaklah berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti berkendaraan agar selalu mengingat Allah swt baik dalam rumah maupun diluar rumah, karena musibah bisa datang kapan saja tidak
34 ada yang mengetahuinya. Musibah adalah ujian atau peringatan yang Allah berikan kepada umatnya untuk melihat betapa indahnya keyakinan umatnya.
Kekuatan iman Anda ditunjukkan dalam cara Anda menghadapi malapetaka yang menimpa Anda. Orang yang tahan bencana selalu sabar, jujur, bahagia, dan dapat dipercaya. Mereka melihat semua ini sebagai ujian dari Allah swt untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan mereka. Jangan biarkan mereka tertidur dalam kegembiraan dunia yang sementara. Orang yang lemah imannya, dalam menghadapi musibah selalu berputus asa dan mempertikaikan musibah yang menimpa mereka. Bahkan mereka lupa bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik Allah swt yang dititipkan dan akan diambil kembali bila waktu yang telah ditentukan tiba, Dalam QS al taghabun/64: 11. Allah SWT menjelaskan bahwa ,musibah tidak akan terjadi kecuali atas izin Allah SWT.
َُ َّاللَّ وََُۚه بْل قَِدْه يَِ َّلِلاِبَ ْنِمْؤُيَ ْن م وََِۗ َّاللََِّنْذِإِبَ َّلَِإٍَة بيِصُمَ ْنِمَ با ص أَا م
ٌَميِل عٍَءْي شَِّلُكِب
Terjemahannya :
”Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS al-Taghabun : 11)”
Seseorang tidaklah ditimpa sesuatu yang tidak diinginkannya kecualidengan izin Allah, ketetapan, dan takdirNYa. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah membimbing hatinya untuk menerima perintahNya dan rela kepada keputusanNYa, Allah membimbingnya kepada keadaan, perkataan dan perbuatan terbaik, sebab dasar hidayah adalah hati, sementara anggota badan adalah pengikut. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sedikit pun yang samar bagiNya.
35 Tidak ada musibah apapun yang menimpa seseorang (yaitu setiap sesuatu ditunjukkan kepadanya baik kebaikan maupun keburukan dan menimpa dirinya atau hartanya) tanpa sepengetahuan Allah, kehendak, takdir dan kuasaNya.
Barangsiapa benar-benar beriman kepada Allah, maka hatinya akan ditunjukkan pada kebaikan, kesabaran, dan keridhaan atas musibah itu. Dia juga akan mengetahui bahwa sesungguhnya musibah itu dari Allah.
Sebagian ulama salaf terdahulu menafsirkan bahwa iman di ayat ini adalah iman kepada takdir Allah dan penyerahan diri secara total kepada-Nya ketika musibah menimpa. Pendapat Ibnu Abbas menyatakan bahwa maksudnya adalah Allah memberikan hidayah yang mutlak kepada hatinya, membukanyaa untuk menyingkap hakikat’laduni’ yang tersembunyi, serta menghubungkannya dengan segala sumber dari segala sesuatu dan segala kejadian. Sehingga, dia dapat melihatnya bahwa di sana penciptaannya dan puncaknya. Oleh karena itu, dia pun menjadi tenang, stabil, dan damai.
Kemudian dia mengetahuinya dengan suatu pengetahuan yang menghubungkannya kepada kaidah umum dan universal. Sehingga, dia tidak membutuhkan lagi penglihatan dan pandangan yang bersifat parsial yang biasanya sering salah dan terbatas.27
36 BAB VII
PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan dari penelitian hubungan cedera otak traumatic dengan
peningkatan kadar leukosit, adalah sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara cedera otak traumatis dan tingkat peningkatan leukosit di RS Bhayangkara Makassar. Hal ini berdasarkan uji statisik yang menunjukkan p =0,000 hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak.
2. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Kadar Leukosit pada cedera otak Sedang adalah 23.50 (SD 258.50) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Kadar Leukosit cedera otak ringan yaitu 14.63 (SD 336.50). Ada perbedaan yang bermakna antara Kadar leukoosit pada cedera otak ringan dan berat (p=0.015)
3.Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Kadar leukoosit pada cedera otak berat adalah 34.48 (SD 793.00) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Kadar leukoosit cedera otak ringan yaitu 13.96 (SD 335.00). Ada perbedaan yang bermakna antara kadar Leukosit pada cedera otak ringan dan berat (p=0.00).
4. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Kadar leukosit pada cedera otak berat adalah 21.00 (SD 483.00) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Kadar leukosit cedera otak sedang yaitu 21.00 (SD 112.00) Ada perbedaan yang bermakna antara kadar Leukosit pada cedera otak sedang dan berat (p=0.003)
37 B. Saran
1. Penelitian lebih lanjut mengenai peningkatan kadar leukosit pada derajat cedera otak
2. Diharapkan bagi penelitian selanjutnya agar lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang berhubungan dengan cedera otak.
3. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan data yang lebih merata didistribusinya pada setiap derajat cedera otak.
38 DAFTAR PUSTAKA
1. Dwiphrahasto & Wijanarka, hubungan antara status glassgow coma scale dengan angka leukosit pada pasien trauma kepala yang dirawat inap di rsud dr moewardi surakarta,2005.
2. Rimer et al, hubungan antara status glassgow coma scale dengan angka leukosit pada pasien trauma kepala yang dirawat inap di rsud dr moewardi surakarta.1996.
3. Narayan et al, makalah tentang cedera otak.1996.
4. Badan penelitian dan pengembangan kementrian kesehatan.2013.
5. Wayan Niryana, Thomas Arie Satya Wardhana, Citra Aryanti,Sri Maliawan,Hubungan antara hitung leukosit dalam darah dengan derajat cedera kepala, adanya fokal lesi dan perdarahan subaraknoid traumatik di RSUP Sanglah Denpasar.2019.
6. Quran surah Al-Qashas ayat 83.https://tafsirweb.com/10955-quran-surat-al-qashas-ayat-83.html
7. Ika setyo Rini.2019.pertolongan pertama Gawat Darurat :120 8. Centers for Disease Control and Prevention.2010.
9. Nazaruddin Umar. Penatalaksanaan Perioperatif Cedera Kepala Traumatik yang Terlambat.2016.
10. Brain Injury Association Of America
11. Ma J,Zhang K, Wang Z, Chen G.2016. Prgogress of research on diffuse axonal injury after traumatic brain injury. Neural plasticity,2006.
39 12. Cantik Maharendra Putri, Rahayu, Bragastio Sidharta. Hubungan Antara
Cedera Kepala Dan Terjadinya Vertigo.2016
13. Fonda Simanjuntak ,Danny J, Ngantung Corry N, Mahama. Gambaran Pasien Cedera Kepala Di Rsup. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2013 – Desember 2013.
14. Adhimarta, W, Islam A. Inflammation Process And Glukoneogenesis Process At Severe Head Injury, Jakarta : The Indonesian Journal of Medical Science, Volume 1 ; 2009.
15. Ainur Rozin.Penafsiran ayat-ayat musibah dalam al-quran.2015.
16. Quran surah Asy- syura ayat 30.https://tafsirweb.com/10954-quran-surat-asy-syura-ayat-30.html.
17. Mayer, Cynthia L., Huber BR, and Peskind E. Traumatic Brain Injury, Neuroinflammation, and Post-Traumatic Headaches, London : Springer ; 2013.
18. Zasler,ND dkk, Brain injury medicine.,2013.
19. Mahinda Yogarajah, Neurologi Yogarajah Edisik ke 1 hal 483, 2013 20. Lauralee Sherwood, Fisiologi Manusia Edisi ke 8 hal 425, 2016
21. Brain BJ, Lewis SM, Bates I. Basic haematological techniques. In : Dacie and Lewis Practical Haematology. 10th ed. Churchill Livingstone. Philadephia 2006. 25-78.
22. Wayan Niryana, Thomas Arie Satya Wardhana,Citra Aryanti, Sri Maliawan.
Hubungan antara hitung leukosit dalam darah dengan derajat cedera kepala,
40 adanya fokal lesi dan perdarahan subaraknoid traumatik di RSUP Sanglah Denpasar.2018
23. Lauralee Sherwood, Fisiologi Manusia Edisi ke 8 hal 425, 2016
24. Sun W, Peacock A, Becker J, Philips-Bute B, Laskowitz DT,James ML, et al.
Correlation of leukocytosis with early neurological deterioration following supratentorial intracerebral hemorrhage. J Clin Neurosci. 2012;19(8): 1096-100
25. Rovlias, A., & Kotsou, S. (2001). The blood leukocyte count and its prognostic significance in severe head injury. Surgical Neurology, 55(4), 190–196
26. Werner C, Engelhard K. 2007. Pathophysiology of traumatic brain injury.
British Journal of Anaesthesia, 99(1).
27. Tafsir Fi Zhilalil-Quran XI. Surah At-Taghaabun diturunkan di madinah jumlah ayat 18, 300.
41