METODELOGI PENELITIAN
C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Dalam sebuah penelitian, tidak akan terlepas dari adanya penetapan mengenai populasi dan sampel. Ini terjadi karena populasi dan sampel merupakan sebjek penelitian dan keduanya merupakan sumber data dalam sebuah penelitian. Agar tujuan dari suatu penelitian dapat tercapai dengan baik, maka adanya populasi dan sampel yang diambil harus tepat. Sampel yang diambil harus representatif atau dapat mewakili populasi, dalam arti semua ciri-ciri dan karakteristik yang ada pada populasi yang tercermin pada sampel.
1. Populasi
Dalam suatu penelitian, pengambilan individu sebagai subjek yang diteliti merupakan masalah yang sangat penting. Populasi dalam suatu penelitian merupakan suatu kelompok individu yang menjadi objek yang diselidiki tentang aspek-aspek yang ada dalam kelompok tersebut. Aspek-aspek yang akan diungkapkan dalam penelitian ini adalah aspek pola asuh orang tua, aspek status sosial ekonomi dan prestasi belajar siswa. Berikut adalah beberapa pengertian dari populasi yang disampaikan oleh para ahli :
lx
a. Menurut Hadari Nawawi (1995: 141) bahwa “Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian”.
Maksud dari pendapat tersebut adalah bahwa populasi merupakan semua atau keseluruhan dari objek dalam sebuah penelitian. Objek penelitian ini dapat berupa manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala, hasil tes atau peristiwa yang memiliki karakteristik tertentu yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai batasan dalam penentuan populasi.
b. Menurut Saifuddin Azwar (2002: 77) “Populasi didefinisikan sebagai kelompok subyek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian”.
Pendapat tersebut memiliki arti bahwa populasi adalah sekelompok subjek yang telah ditentukan oleh peneliti sebagai subjek penelitian yang nantinya akan dikenai generalisasi hasil penelitian.
c. Sedangkan Y. Slamet (2006: 40) menyebutkan bahwa “Populasi adalah keseluruhan daripada unit-unit analisis yang memiliki spesifikasi atau ciri-ciri tertentu”.
Pernyataan diatas memiliki makna bahwa populasi merupakan keseluruhan dari unit-unit analisis yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik tertentu. Dengan kata lain sebelum melakukan proses penelitian, seorang peneliti harus menentukan atau membuat spesifikasi mengenai batasan yang digunakan untuk menentukan populasi terlebih dahulu.
Dari beberapa pendapat tersebut maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah manusia yaitu semua siswa siswi. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban Tahun Pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 298 yang terbagi dalam 7 kelas yaitu X.1, X.2, X.3, X.4, X.5, X.6, X.7.
2. Sampel
lxi a. Pengertian Sampel
Dalam penelitian sosial, tidak selalu seluruh populasi dikenakan dalam penelitian. Hal tersebut mengingat besarnya jumlah populasi dan keterbatasan biaya, waktu dan tenaga. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu adanya pembatasan yaitu dengan menetapkan jumlah sampel yang representatif yang dapat mewakili populasi. Berikut adalah beberapa pengertian dari populasi yang disampaikan oleh para ahli :
1) Menurut Hadari Nawawi (1995: 144) bahwa “Sampel secara sederhana diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian”.
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang akan menjadi sumber data, artinya bahwa populasi tidak diteliti seluruhnya namun hanya sebagian saja, bagian inilah yang disebut sampel.
2) Menurut Winarno Surakhmad (1994: 93) bahwa “Sampel adalah sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi”.
Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang sebelumnya telah ditentukan dengan cara sampling. Hasil penelitian dari sampel ini nantinya akan mewakili seluruh populasi penelitian.
Dari beberapa pendapat tersebut, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa sampel adalah sebagian individu yang menjadi anggota populasi yang di peroleh dengan cara – cara tertentu untuk menjadi wakil dari populasi yang diteliti.
Penentuan sampel ini hendaknya disesuaikan dengan jumlah populasi, karena nantinya hasil penelitian dari sampel ini nantinya akan digeneralisasikan kepada populasi. Jadi sampel harus representatif atau mewakili populasi penelitian.
Mengenai besar kecilnya pengambilan sampel, pada prinsipnya tidak ada peraturan yang mutlak untuk menentukan ukuran sampel.
b. Teknik Sampling
lxii
Untuk memperoleh sejumlah sampel dalam penelitian, maka digunakanlah teknik sampling agar jumlah sampel sesuai dengan jumlah populasi yang ada.
Maksudnya adalah agar peneliti mendapatkan sampel yang representatif atau dapat mewakili populasi yang ada. Banyak para ahli yang mendefinisikan teknik sampling menurut pandangannya masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Menurut Sutrisno Hadi (2000: 75) mengemukakan bahwa “Sampling adalah cara yang digunakan untuk mengambil sampel”.
Pendapat tersebut mengandung arti bahwa teknik sampling adalah cara-cara yang digunakan untuk mengambil atau menentukan jumlah sampel yang akan diteliti. Hal ini karena di dalam sebuah penelitian, jumlah populasi biasanya tidak dikenai penelitian semua, namun hanya sebagian saja atau yang disebut sebagai sampel.
2) Hadari Nawawi (1995: 152) menyatakan bahwa teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif atau benar-benar mewakili populasi”.
Maksud dari pendapat tersebut adalah bahwa teknik sampling merupakan cara atau upaya pengambilan sampel yang sesuai. Sampel ini nantinya akan dijadikan data yang sebenarnya, artinya bahwa tidak semua populasi dikenai penelitian namun hanya sebagian saja yang akan diteliti.
3) Sugiyono (2005 : 56) menyatakan bahwa “Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel”.
Pendapat tersebut memiliki arti bahwa teknik sampling adalah suatu cara pengambilan sampel yang representative (mewakili) dari populasi dalam suatu penelitian.
Dari beberapa definisi yang telah disebutkan diatas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa teknik sampling adalah teknik atau cara yang digunakan
lxiii
oleh peneliti untuk menentukan jumlah sampel yang akan mewakili jumlah populasi dalam suatu penelitian. Sampel yang diambil ini diharapkan dapat mewakili populasi yang ada karena nantinya hasil penelitian yang dikenakan pada sampel ini akan digunakan sebagai penggeneralisasian terhadap populasi penelitian.
Menurut Sutrisno Hadi (2000: 75) ada dua macam teknik sampling, yaitu:
1) Teknik Random Sampling
Prosedur random sampling meliputi :
a) Cara undian, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara undian.
b) Cara ordinal, yaitu memilih nomor genap atau ganjil atau kelipatan tertentu dari suatu daftar yang telah disusun.
c) Cara randomisasi dari tabel bilangan random.
2) Teknik Non Random Sampling meliputi :
a) Proporsional sampling yaitu cara pengambilan sampel dari tiap- tiap sub populasi dengan memperhitungkan sub- sub populasi.
b) Teknik stratified sampling yaitu pengambilan sampel apabila populasi terdiri dari susunan kelompok- kelompok yang bertingkat.
c) Teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan ciri- ciri atau sifat- sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
d) Teknik quota sampling yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan ada quantum.
e) Teknik double sampling yaitu cara pengambilan sampel yang mengusahakan adanya sampel kembar.
f) Teknik area probability sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan cara pembagian sampel berdasarkan pada area.
g) Teknik cluster sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan atas kelompok yang ada pada populasi.
Untuk memperjelas kita dalam memahami teknik sampling diatas maka penulis akan menguraikannya sebagai berikut :
1) Teknik Random Sampling
Teknik random sampling adalah pengambilan sampel secara random atau tanpa pandang bulu. Dalam random sampling semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan
lxiv
yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Adapun cara-cara yang digunakan dalam random sampling adalah sebagai berikut :
a) Cara Undian
Cara ini dilakukan sebagaimana kita melakukan undian. Jika cara ini dilakukan terhadap semua individu dalam populasi maka teknik ini disebut unrestricted random sampling atau random sampling tak bersyarat.
Akan tetapi sangat sulit untuk melakukan cara ini jika jumlah subjek dalam populasi sangat banyak atau jika kita belum mengatahui secara pasti semua individu dalam populasi.
b) Cara Ordinal
Cara ini dilakukan dengan mengambil subjek dari atas ke bawah. Ini dilakukan dengan mengambil mereka-mereka yang bernomor ganjil genap, nomor kelipatan angka tiga, lima sepuluh dan sebagainya tergantung ketentuan yang dibuat oleh peneliti yang sebelumnya telah disusun.
c) Randomisasi dari Tabel Bilangan Random
Tabel bilangan random umumnya terdapat pada buku-buku statistik.
Cara ini paling banyak digunakan oleh para peneliti. Hal ini karena selain prosedurnya sangat sederhana, kemungkinan penyelewengan juga dapat dihindari. Randomisasi dapat dikenakan pada semua subjek atau individu dalam populasi.
2) Teknik Non Random Sampling
Semua sampling yang dilakukan bukan dengan teknik random sampling disebut nonrandom sampling. Dalam sampling ini tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel. Generalisasi dalam nonrandom sampling tidak dapat memberikan taraf keyakinan yang tinggi kecuali apabila peneliti memiliki keyakinan dan dapat membuktikan bahwa populasi relatif sangat homogen.
Jenis-jenis nonrandom sampling adalah sebagai berikut :
lxv a) Proporsional sampling
Proporsional sampel adalah sampel yang terdiri dari sub-sub sampel yang pertimbangannya mengikuti pertimbangan sub-sub populasi, artinya adalah bahwa besarnya sampel ditentukan atau tergantung besar kecilnya dari tiap sub populasi. Individu yang ditugaskan untuk menjadi sampel diambil secara random dari sub populasi. Cara ini disebut dengan proporsional random sampling.
b) Teknik stratified sampling
Stratified sampling biasa digunakan jika populasi terdiri dari kelompok-kelompok yang mempunyai susunan bertingkat. Banyaknya tingkat harus diperhatikan, kemudian setiap tingkatan harus mewakilkan anggotanya untuk menjadi sampel dalam penelitian. Dalam hal ini proporsi dari jumlah subjek yang ada dalam tiap-tiap tingkatan dalam populasi yang harus dicerminkan dalam sampel sehingga mereka dapat dipandang sebagai wakil terbaik bagi populasi.
c) Teknik purposive sampling
Dalam purposif sampling pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri atau sifat tertentu yang dianggap memiliki kesamaan dengan ciri yang telah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu keadaan dan informasi mengenai populasi tidak perlu diragukan lagi. Secara intensional peneliti tidak meneliti semua daerah atau kelompok dalam populasi, namun peneliti hanya perlu mengambil beberapa kelompok kunci saja.
d) Teknik quota sampling
Dalam quota sampling yang harus dan penting untuk dilakukan adalah penetapan jumlah subjek yang akan diteliti. Kemudian permasalahan mengenai siapa yang akan diinterview atau yang menjadi responden diserahkan kepada sebuah tim. Tim ini bertugas untuk mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan dalm penelitian. Ciri
lxvi
utama dari quota sampling adalah jumlah subjek yang sudah ditentukan akan dipenuhi, permasalahan apakah subjek tersebut mewakili populasi atau sub populasi tidaklah menjadi persoalan.
e) Teknik double sampling
Teknik ini sangat baik digunakan apabila penelitian menggunakan angket yang dikirimkan dengan menggunakan jasa pos sebagai usaha penampungan bagi mereka yang tidak mengembalikan angket. Responden yang telah mengembalikan daftar angket dimasukkan kedalam sampel pertama, sedangkan responden yang tidak mengembalikan daftar angket dimasukkan ke dalam sampel kedua. Pengumpulan data dari sampel kedua dapat ditempuh dengan jalan interview.
f) Teknik area probability sampling
Area probabiliti sampling membagi daerah-daerah populasi menjadi sub-sub populasi, dan sub populasi ini dibagi lagi kedalam daerah yang lebih kecil dan apabila diperlukan maka daerah kecil ini dapat dibagi lagi kedalam daerah-daerah yang lebih kecil lagi. Adapun besarnya subjek yang akan diteliti dari masing-masing daerah tersebut tidak dapat ditetapkan secara umum. Hal ini sangat tergantung pada situasi khusus yang dihadapi oleh peneliti.
g) Teknik cluster sampling
Dalam cluster sampling satuan-satuan sampel tidak terdiri dari individu melainkan kelompok-kelompok atau cluster. Sampling ini dipandang ekonomik karena observasi-observasi yang dilakukan terhadap cluster dipandang lebih murah dan mudah dari pada observasi terhadap individu yang terpencar-pencar.
Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster proporsional random sampling. Teknik ini merupakan gabungan antara teknik random sampling dan non random sampling yaitu teknik cluster sampling.
lxvii
Alasan dipilihnya teknik ini adalah karena jumlah populasi penelitian cukup banyak dan terbagi ke dalam kelas-kelas atau kelompok. Selain itu, dengan teknik ini setiap individu dalam populasi akan mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel dan dari keseluruhan kelas dapat terwakili secara proporsional. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Mengambil lokasi penelitian, yaitu di SMA Negeri 1 Mojolaban
(2) Menetapkan populasi penelitian, yaitu siswa kelas X
(3) Seluruh populasi terbagi menjadi 7 kelas yaitu X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7 (4) Mengambil sampel secara random dari 7 kelas tersebut
(5) Sampel diambil 20% dari jumlah populasi yaitu sejumlah 59 siswa yang kemudian dibulatkan menjadi 60 siswa.
c. Teknik Pengambilan Sampel
Tidak ada peraturan yang tegas yang mengatur tentang jumlah sampel yang dipersyaratkan untuk suatu penelitian dari populasi yang tersedia. Selain itu juga tidak ada batasan yang jelas mengenai sampel yang besar dan sampel yang kecil.
Jumlah sampel juga banyak tergantung pada faktor-faktor seperti biaya, fasilitas, waktu yang tersedia, jumlah populasi yang ada atau bersedia untuk dijadikan sampel serta tujuan penelitian. Namun dalam penelitian ini peneliti berkiblat pada pendapat para ahli berikut ini :
1) Sutrisno Hadi (2001: 221) menyebutkan bahwa “Sampel adalah bagian objek yang diteliti untuk menetapkan besarnya sampel, langkah yang dilakukan adalah apabila subjeknya kurang dari 100 atau lebih dari 100 maka sampel yang diambil adalah 20% sampai 25%”.
2) Donald Ary terjemahan Arief Furchan (1982: 198) menjelaskan bahwa besarnya sampel sebaiknya menggunakan sampel yang sebesar mungkin namun disarankan agar penulis memasukkan sedikitnya tiga puluh subyek ke dalam sampelnya, karena jumlah ini memungkinkan penggunaan statistik sampel besar. Penelitian deskriptif biasanya menggunakan sampel yang lebih
lxviii
besar; kadang-kadang dianjurkan untuk mengambil 10 sampai 20 persen dari populasi yang dapat dijangkau.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 298 yang terbagi dalam 7 kelas yaitu X.1, X.2, X.3, X.4, X.5, X.6, dan X.7. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diatas maka peneliti menetapkan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 20% dari jumlah populasi. Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sejumlah 59 siswa yang kemudian dibulatkan menjadi 60 siswa.
D. Metode Pengumpulan Data