HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Pemerintah Daerah se-provinsi Jawa tengah baik kabupaten dan kota yang berjumlah 35 kabupaten dan kota. Metode yang digunakan dalam pengambilan sample menggunakan metode sensus dimana keseluruhan jumlah populasi diambil sebagai data penelitian, yaitu laporan realisasi APBD Pemerintah Daerah se-provinsi Jawa tengah selama 4 tahun berturut-turut yaitu tahun 2008-2011. Semua Kota/kabupaten di Jawa Tengah dapat diambil data laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sehingga data yang diambil sebagai sensus secara keseluruhan berjumlah 140. Selanjutnya data sensus yang diambil digunakan untuk menghitung variabel Pertumbuhan ekonomi, Efisiensi, Efektivitas, Kemandirian dan Kapasitas Pemerintah kota/kabupaten se-Jawa Tengah.
Sensus yang dilakukan meliputi Kota/Kabupaten se-Provinsi Jawa Tengah dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:
52
Tabel 1. Sensus Kota/Kabupaten se-Provinsi Jawa Tengah No Kota/ Kabupaten No Kota/ Kabupaten 1 Kab. Banjarnegara 19 Kab. Pemalang 2 Kab. Banyumas 20 Kab. Purbalingga
3 Kab. Batang 21 Kab. Purworejo
4 Kab. Blora 22 Kab. Rembang
5 Kab. Boyolali 23 Kab. Semarang
6 Kab. Brebes 24 Kab. Sragen
7 Kab. Cilacap 25 Kab. Sukoharjo
8 Kab. Demak 26 Kab. Tegal
9 Kab. Grobogan 27 Kab. Temanggung
10 Kab. Jepara 28 Kab. Wonogiri
11 Kab. Karanganyar 29 Kab. Wonosobo
12 Kab. Kebumen 30 Kota Magelang
13 Kab. Kendal 31 Kota Pekalongan
14 Kab. Klaten 32 Kota Salatiga
15 Kab. Kudus 33 Kota Semarang
16 Kab. Magelang 34 Kota Surakarta
17 Kab. Pati 35 Kota Tegal
18 Kab. Pekalongan Sumber: www.bps.go.id. 2. Deskripsi Variabel Penelitian
a. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi daerah dihitung dari perubahan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada harga konstan dari tahun sekarang dengan tahun sebelumnya dengan satuan persentase (%). Deskripsi Pertumbuhan Ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Jawa
53
Tengah selama 2008 - 2011 secara ringkas dapat dilihat pada tabel 2 berikut:
Tabel 2. Deskripsi Variabel Penelitian
Variabel Minimal Maksimal Rata-rata Standar deviasi
Pertumbuhan ekonomi 1,7271 7,4499 4,8680 0,8821
Efisiensi 35,2627 98,7836 77,5083 10,6475
Efektivitas 76,9024 252,2676 118,8327 18,3339
Kemandirian 4,5878 25,3923 9,4929 3,8068
Kapasitas 23,9611 26,6251 25,4298 0,4169
Sumber: Olahan data SPSS
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah 4,8680. Pertumbuhan ekonomi terendah terjadi pada Kabupaten Klaten tahun 2010 yaitu sebesar 1,7271. Pertumbuhan Ekonomi tertinggi terjadi pada tahun 2010 oleh Kabupaten Kendal yaitu sebesar 7,4499. Standar deviasi variabel pertumbuhan ekonomi sebesar 0,8821 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2008-2011 tidak terlalu variatif.
b. Efisiensi
Efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara input dan output atau realisasi belanja dengan realisasi pendapatan daerah. Deskripsi Efisiensi kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama 2008 - 2011 secara ringkas dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata Efisiensi kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah 77,5083. Efisiensi terendah
54
terjadi pada Kota Salatiga tahun 2009 yaitu sebesar 35,2627. Efisiensi tertinggi terjadi pada tahun 2010 oleh Kabupaten Pati yaitu sebesar 98,7836. Standar deviasi variabel Efisiensi sebesar 10,6475 yang menunjukkan bahwa efisiensi pada kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2008-2011 tidak terlalu variatif.
c. Efektifitas
Efektivitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Deskripsi Efektivitas kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama 2008 - 2011 secara ringkas dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata Efektivitas kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah 118,8327. Efektivitas terendah terjadi pada Kabupaten Klaten tahun 2010 yaitu sebesar 76,9024. Efektivitas tertinggi terjadi pada tahun 2010 oleh Kabupaten Banyumas yaitu sebesar 252,2676. Standar deviasi variabel Efektivitas sebesar 18,3339 yang menunjukkan bahwa efektivitas pada kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2008-2011 tidak terlalu variatif. d. Kemandirian Keuangan Daerah
Kemandirian keuangan daerah merupakan salah satu aspek yang sangat penting dari otonomi daerah secara keseluruhan. Rasio kemandirian keuangan daerah atau sering disebut sebagai otonomi fiskal menunjukan kemampuan daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat
55
yang telah membayar pajak dan restribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan. Deskripsi Kemandirian kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama 2008 - 2011 secara ringkas dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata Kemandirian kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah 9,4929. Kemandirian terendah terjadi pada Kabupaten Batang tahun 2008 yaitu sebesar 4,5878. Kemandirian tertinggi terjadi pada tahun 2011 oleh Kota Semarang yaitu sebesar 25,3923. Standar deviasi variabel Kemandiran sebesar 3,8068 yang menunjukkan bahwa kemandirian pada kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2008-2011 cukup variatif.
e. Kapasitas Pelayanan Pemerintah Daerah
Kapasitas pelayanan pemerintah daerah adalah besarnya ukuran kemampuan pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan kepada publik yang dihitung dari belanja pemerintah daerah (Harimurti, 2007), khususnya belanja modal. Deskripsi Kapasitas kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama 2008 - 2011 secara ringkas dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata Kapasitas kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah 25,4298. Kapasitas terendah terjadi pada Kabupaten Batang tahun 2010 yaitu sebesar 23,9611. Kapasitas tertinggi terjadi pada tahun 2011 oleh Kota Semarang yaitu sebesar 26,6251. Standar deviasi variabel Kapasitas sebesar 0,4169 yang menunjukkan bahwa kapasitas pada kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2008-2011 tidak variatif.
56
B. Analisis Data 1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Untuk menguji normalitas dilakukan analisis Kolmogorov Smirnov test. Hasil perhitungan uji normalitas data dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Uji normalitas data
One -Sam ple Kolm ogorov-Sm irnov Te s t
140 ,0000 ,9855 ,0816 ,0816 -,0730 ,9652 ,3092 N Mean Std. Deviation Normal Parameters a,b
A bsolute Positive Negative Most Extreme Dif f erences Kolmogorov-Smirnov Z A symp. Sig. (2-tailed)
Standardized Residual
Sumber: Lampiran 7
Dari table 3 di atas diketahui nilai Asymp.Sign sebesar 0,3092 atau lebih besar dibandingkan nilai alphanya ( = 0,05), sehingga distribusi data pada variable tersebut adalah normal, dan bias dilanjutkan ke analisi sselanjutnya.
b. Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan prosedur SPSS yaitu dengan melihat hasil collinearity statistics pada kolom VIF. Pengujian multikolinearitas variabel penelitian dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
57
Tabel 4. Nilai kolom VIF untuk pengujian multikolinearitas
No Variabel VIF 1 Efisiensi 1,2315 2 Efektivitas 1,1116 3 Kemandirian 1,2568 4 Kapasitas 1,0381 Sumber: Lampiran 8
Berdasarkan perhitungan pada tabel 4 dapat diketahui nilai VIF untuk variabel Efisiensi, Efektivitas, Kemandirian dan Kapasitas pelayanan pemerintah daerah adalah kurang dari 5 sehingga dapat dikatakan tidak terdapat multikolinearitas antar variabel bebasnya, sehingga variabel bebas yang digunakan sebagai prediktor dalam penelitian ini bersifat independen.
c. Uji heteroskedastisitas
Hasil perhitungan uji heteroskedastisitas dengan metode Gleyser antara variabel independen dengan nilai residu absolut dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut.
Tabel 5. Uji heteroskedastisitas
Sumber: Lampiran 9
Dari tabel 5 dapat disimpulkan bahwa nilai probabilitas untuk variabel pola Efisiensi, Efektivitas, Kemandirian, dan Kapasitas pelayanan pemerintah daerah lebih besar dari nilai alphanya (0,05), yang
(Constant) Ef isiensi Ef ektivitas Kemandirian Kapasitas l 1,5317 ,1279 73 -1,4561 ,1477 72 ,4152 ,6787 42 -,2544 ,7996 13 -1,1702 ,2440 t Sig.
58
artinya tidak terdapat heteroskedastisitas dalam model penelitian yang digunakan.