1. Populasi
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki (Sutrisno Hadi, 1990:70). Pengertian populasi menurut Bambang Prasetyo (2005: 119) adalah keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian. Jadi, yang dimaksud dengan populasi adalah keseluruhan objek yang menjadi sumber data dalam suatu penelitian. Apabila jumlah populasi dibawah seratus maka populasi tersebut dijadikan sampel oleh peneliti, sebaliknya jika di atas seratus maka digunakan perumusan dalam penarikan sampel.
Populasi dalam metode penelitian digunakan untuk menyebutkan serumpun atau kelompok objek yang menjadi masalah sasaran penelitian (Masyhuri dan M. Zainuddin, 2008:151). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat yang telah ditetapkan dalam daftar pemilih tetap (DPT). Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti, jumlah seluruh penduduk Pekon Sebarus adalah 2.600 jiwa yang terdiri dari laki-laki 1.325 jiwa dan perempuan 1.375 jiwa. Masyarakat Pekon Sebarus yang ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap sebanyak 1.961 orang. Jadi, total populasi yang diteliti oleh peneliti berjumlah 1.961 orang.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian. Menurut Hadari Nawawi (1991:144), sampel adalah sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi. Sampel juga diartikan sebagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Burhan Bungin, 2005:106). Penentuan banyaknya sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Husein Umar (1998:108). Rumusannya adalah sebagai berikut:
N n = 1 + Ne² Keterangan: n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi
e = Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih ditolerir (ditetapkan 0,1 yaitu penyimpangan dalam pemakaian sampel sebesar 10 %)
1 = Bilangan konstanta
Berdasarkan rumus tersebut maka sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah :
1.961 n = 1 + (1.961)(0,1)² 1.961 n = 1 + (1.961)(0,01) 1.961 n = = 95,148 20,61
Jadi, besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 95,148 dibulatkan menjadi 96 orang.
3. Teknik Pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
stratified sampling atau sampel yang bertingkat atau berstrata. Burhan
Bungin (2005:112), menjelaskan bahwa stratified sampling digunakan apabila populasi menunjukan sifat berstrata, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan pada waktu menggunakan teknik sampling ini, yaitu:
1. Setiap unit strata harus memiliki kriteria yang jelas, yang dipergunakan sebagai dasar dalam menentukan anggota unit strata. 2. Setiap unit strata harus dapat diketahui secara pasti jumlah anggotanya.
Misalnya, kalau populasi dibagi menjadi tiga strata, yaitu anggota Karang Taruna RT I, RT II, dan RT III. Masing-masing anggota Karang Taruna tersebut harus diketahui dengan pasti berapa jumlahnya.
Setelah syarat-syarat di atas terpenuhi, langkah selanjutnya adalah menentukan jumlah masing-masing perwakilan dari setiap strata yang ada. Apabila berbicara teknik ini secara khusus, penentuan jumlah perwakilan setiap strata yang bergabung dalam struktur sampel penelitian tidak menjadi persoalan. Hal yang terpenting bahwa setiap unit strata dalam keseluruhan populasi penelitian yang ada wakilnya dalam struktur sampel, ini sebenarnya esensi dari stratified sampling (Burhan Bungin, 2005:112). Alasan lain menggunakan teknik ini karena populasi terdiri dari beberapa
wilayah yang masing-masing berbeda jumlah subjeknya. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (1998:127) yang menyatakan untuk memperoleh sampel yang representatif, pengambilan subjek dari setiap strata atau setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subjek dalam masing-masing strata atau wilayah. Jadi, sampel yang diambil di setiap dusun sebanding dengan banyaknya sub populasi di masing-masing dusun yang kemudian diambil secara acak sesuai dengan jumlah sampel yang ditentukan di setiap dusun. Oleh karena itu, banyaknya sampel setiap dusun ditentukan menggunakan rumus:
Ni x n
Nh = N Keterangan:
Nh = Banyaknya sampel yang dibutuhkan dari setiap kelompok n = Jumlah sampel yang mewakili populasi
Ni = Banyaknya sub populasi dari setiap kelompok N = Jumlah populasi
(Moh. Musa dan Titi Nurfitri, 1988:85)
Berdasarkan rumusan di atas maka didapatkan sampel dari setiap dusun adalah sebagai berikut :
Jungku Kota Raja = 347 x 96 = 17
1.961
Jungku Umbulioh = 282 x 96 = 14
1.961
Jungku Pekon Tengah = 253 x 96 = 12
1.961
Jungku Tikoran = 228 x 96 = 11
Jungku Pelita = 216 x 96 = 11
1.961
Jungku Sembayung = 192 x 96 = 9
1.961
Jungku Sabah Berak = 188 x 96 = 9
1.961 Jungku Sukajaya = 146 x 96 = 7 1.961 Jungku Tanjung = 109 x 96 = 6 1.961 F. Sumber Data
Sumber data atau informasi adalah salah satu yang paling vital dalam penelitian. Kesalahan dalam menggunakan atau memahami sumber data, maka data yang diperoleh juga akan meleset dari yang diharapkan. Menurut Arikunto (1998:114), sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Sumber data utama dalam penelitian menurut Lofland dan Lofland dalam Basrowi dan Suwandi (2008:169) ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Menurut Burhan Bungin (2010:122), sumber data terdiri dari:
1. Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung dari responden yang berkaitan dengan pemilukada Kabupaten Lampung Barat 2012 dan kondisi orientasi politik masyarakat Pekon Sebarus. Data ini merupakan hasil penyebaran daftar pertanyaan atau kuisioner. Berdasarkan permasalahan dari obyek penelitian
maka yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah masyarakat Pekon Sebarus yang berjumlah 96 orang sebagai sampel yang telah ditetapkan dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pekon Sebarus pada pemilukada tahun 2012.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder dari data-data yang dibutuhkan peneliti. Data sekunder juga diperlukan untuk melengkapi informasi dan mendukung fakta yang sebenarnya atau untuk mengecek kembali data yang sudah ada sebelumnya. Data tersebut dapat bersumber dari situs internet, pustaka, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005, Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Barat Nomor 15 Tahun 2006, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008, monografi dan profil Pekon Sebarus.