• Tidak ada hasil yang ditemukan

Populasi dan Sampling

Populasi Keong Oncomelania hupensis lindoensis:

Seluruh keong O.h.lindoensis di daerah fokus Napu Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah.

Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua keong O.h.lindoensis yang terkumpul dengan metode man per minute.

8 Besar Sampel dan cara penarikan sampel:

Besar Sampel

Semua keong O.h.lindoensis yang terkumpul dengan metode man per minute.

Cara Penarikan Sampel

Sampel keong ditentukan dengan metode non probability sampling.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inlusi:

Keong O.h.lindoensis yang berada dalam area plot sampling Kriteria eksklusi :

Keong O.h.lindoensis yang berada dalam area plot sampling tetapi tidak terambil dengan metode man per minute.

Variabel Penelitian Variabel Dependen:

Penebaran itik di daerah fokus keong O.h.lindoensis Variabel Independen:

Penurunan populasi populasi keong O.h.lindoensis di dalam plot area penelitian yang diamati pada hari ke (H0,H1,H2,H3,H4,H5,H6,H7,H8,H9,H10,H15,H20)

E. Instrumen Pengumpul Data

Instrumen: sepatu boot, pinset, petri dish, timer.

F. Bahan dan Prosedur Pengumpulan Data

Bahan : Sarung tangan, kantong keong, spidol permanen.

Data Sekunder:

Data populasi populasi keong O.h.lindoensis di daerah fokus Napu dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah.

Data Primer:

- Rancangan percobaan penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 3x3:

Faktor 1: Jumlah fokus aktif dalam satu desa (sebagai main plot), terdiri atas:

a.1. Desa dengan jumlah fokus aktif tinggi (55 fokus) a.2. Desa dengan jumlah fokus aktif sedang (11 fokus)

a.3. Desa dengan jumlah fokus aktif rendah (2 fokus)

- Penentuan kriteria desa dengan jumlah fokus aktif tinggi, sedang dan rendah berdasarkan nilai rerata jumlah fokus aktif di daerah endemis schistosomiasis Napu, yaitu 10 fokus.

faktor 2: Jumlah itik yang ditempatkan dalam plot, terdiri atas:

b.1. 15 ekor b.2. 10 ekor b.3. 5 ekor

Ulangan perlakuan dan kontrol dilakukan sebanyak tiga kali di setiap lokasi.

Skema rancangan percobaan adalah sebagai berikut:

- Pengamatan populasi keong dilakukan sebelum penyebaran itik, hari pertama sampai hari ke 10 (H1,H2,H3,H4,H5,H6,H7,H8,H9,H10), H15, dan H20 setelah penyebaran itik di daerah fokus keong.

MAIN PLOT

Desa dengan jumlah fokus aktif sedang (Watumaeta)

Desa dengan jumlah fokus aktif rendah (Maholo)

10 mengumpulkan 5 kantong / titik (5 menit x 5 kantong), maka:

Jumlah sampel= 5 org x 5 kantong= 25

- Luas satu titik selama 5 menit sama dengan luas 1 ring, yaitu 1/70 m2

-

Prosedur Kerja :

1. Pengumpulan keong untuk penghitungan populasi keong dilakukan dengan metode man per minute.

2. Keong dikumpulkan di area plot kandang itik pada H0, H1, H2, H3, H4, H5, H6, H7, H8, H9, H10, H15, H20.

3. Setiap pengambil keong mengambil keong selama 5 menit di satu titik, diulang beberapa kali sampai semua area plot tercakup.

4. Keong diambil dengan pinset, dimasukkan ke dalam kantong keong yang disediakan, dihitung di setiap titik, dan langsung dikembalikan ke titik semula.

Uji efektivitas itik untuk pengendalian keong di laboratorium dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

Jumlah sampel =

jumlah pengambil keong x jumlah titik pengambilan keong

Kepadatan keong= (jumlah keong/m2)

Jumlah keong yang didapat keseluruhan x 70 Jumlah sampel

Populasi Keong =jumlah keong pada luas tertentu:

Kepadatan keong x luas daerah fokus Rerata populasi keong =

Jumlah populasi keong pada tiga ulangan 3

a. dibuat kandang berukuran 2x2 m, dialas terpal untuk menghindari keong keluar kandang.

b. setiap kandang diisi 2 ekor itik. Kemudian dimasukkan 300 keong dalam setiap kandang itik;

c. perlakuan pertama berupa keong dicampur dalam pakan itik seperti biasa yaitu jagung dan dedak;

d. perlakuan kedua keong disebar di dasar kandang.

e. Itik di kedua kandang diberi pakan dan air yang sama.

G. Pengolahan dan Analisis Data

Manajemen data dilakukan dengan proses verifikasi data, edit data dan pembersihan data (data cleaning).

Data dianalisis dengan uji Manova untuk menganalisis beda populasi populasi keong per waktu pengamatan.

12 IV. HASIL PENELITIAN

1. Populasi keong Oncomelania hupensis lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik.

a. Populasi keong Oncomelania hupensis lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di setiap desa lokasi penelitian

Desa Mekarsari

Lokasi pegujian di fokus Desa Mekarsari berupa daerah persawahan bekas diolah dengan saluran air di bagian tepinya. Dasar plot kandang itik berupa rumput kering tetapi masih lembab di bagian bawahnya, sehingga masih banyak ditemukan keong O.h. lindoensis, dan paling banyak ditemukan di tepi saluran air. Hasil uji statistik beda mean populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Mekarsari dapat dilihat pada Tabel 1. Rerata populasi keong O.h.lindoensis dapat dilihat pada Gambar 2.

Tabel 1. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Mekarsari Tahun 2015

*berdasarkan uji Manova

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa uji secara simultan menunjukkan adanya beda nyata antara populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di daerah fokus Desa Mekarsari. Uji secara individual pada hari ke 10 dan 15 belum menunjukkan beda nyata populasi keong O.h.lindoensis. Perbedaan secara statistik baru ditemukan pada hari ke 20.

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum disebar itik (H0) dengan sesudah disebar-H10, H15, dan H-20

29.214b 0.000

2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik-H10

3.111 0.118 3 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H15

0.440 0.663 4 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H20

13.071 0.007

Gambar 2. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensisdan sebelum (H0) dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Mekarsari (H1-H20)

Desa Watumaeta

Lokasi pegujian di fokus Desa Watumaeta berupa rembesan air dari mata air di pegunugan di atasnya. Dasar plot kandang itik berupa tanah dan batuan tanpa tanaman yang menutupi, berbeda dengan daerah fokus di Mekarsari dan Maholo.

Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Watumaeta dapat dilihat pada Gambar 3.

Hasil uji statistik memperlihatkan tidak terjadi perbedaan mulai pada hari pertama penyebaran itik sampai hari kedua puluh. Hasil ini menggambarkan bahwa itik di wilayah ini tidak dapat menekan populasi keong (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Watumaeta Tahun 2015

Rerata populasi keong O.h.lindoensis selama pengujian di fokus Desa Mekarsari Tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum disebar itik (H0) dengan sesudah disebar-H10, H15, dan H-20.

9.693b 0.006

2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik-H10.

6.829 0.028 3 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H15.

1.748 0.252 4 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H20.

2.402 0.171 Waktu Pengamatan

14 Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil uji secara simultan menunjukkan tidak ada beda nyata antara penyebaran itik dengan populasi keong di Desa Watumaeta. Uji secara individual menunjukkan adanya beda nyata pada hari ke 10, tetapi menjadi tidak nyata pada hari ke 15 dan 20. Hal tersebut dapat diasumsikan bahwa penyebaran itik tidak berpengaruh lagi terhadap populasi keong.

Kemungkinan yang dapat terjadi di lapangan adalah itik tidak lagi memakan keong yang mungkin berada di bawah batu yang banyak ditemukan di daerah fokus Desa Watumaeta.

Gambar 3. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum (H0) dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Watumaeta (H1-H20)

Desa Maholo

Lokasi pegujian di fokus Desa Maholo berupa daerah persawahan dengan saluran air di bagian tepinya. Dasar plot kandang itik berupa rumput yang masih lebat dengan saluran air di tengahnya. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Maholo dapat dilihat pada Gambar 4. Hasil analisis data uji beda mean populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Maholo dapat dilihat di Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Maholo Tahun 2015

0

Rerata Populasi Keong O.h.lindoensis Selama Pengujian Di Fokus Desa Watumaeta Tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum disebar itik (H0) dengan sesudah disebar-H10, H15, dan H-20

1.261b 0.400 2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah

disebar itik-H10

0.486 0.637 3 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah

disebar itik-H15

1.430 0.311 Waktu Pengamatan

* berdasarkan uji Manova

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa baik hasil uji secara simultan maupun individual tidak terdapat beda secara statistik antara populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di daerah fokus Desa Maholo (hari 10, 15 dan 20).

Gambar 4. Fluktuasi rerata populasi keongO.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Maholo.

b. Hasil Analisis Data Populasi Keong O.h.lindoensissebelum dan sesudah penyebaran itik secara keseluruhan pada tiga desa lokasi penelitian.

Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5. Hasil analisis data uji beda mean populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Maholo dapat dilihat di Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian tahun 2015

Rerata Populasi keogn O.h.lindoensis selama pengujian Di Fokus Desa Maholo Tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol 4 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah

disebar itik-H20

1.209 0.362

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik berdasarkan daerah fokus

3.076b 0.029

2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik berdasarkan daerah fokus dan jumlah itik

2.049b 0.070

16 Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa apabila mempertimbangkan daerah fokus, terdapat perbedaan secara statistik populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian. Apabila analisis dilakukan dengan mempertimbangkan daerah fokus dan jumlah itik yang disebar, maka hasilnya adalah tidak terdapat perbedaan secara statistik populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian.

Gambar 5. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian.

0 20 40 60 80 100 120 140 160

H0 H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 H15 H20

Populasi keong

Rerata populasi keong O.h.lindoensis selama pengujian di tiga desa lokasi penelitian tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol

2. Perbandingan populasi keong O.h.lindoensis di daerah yang disebar itik dan tidak disebar itik (kontrol)

Hasil analisis data populasi keong antara daerah fokus yang diintervensi dibandingkan fokus non intervensi, sebelum dan sesudah penyebaran itik hari ke 10,15 dan 20 dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tidak disebar itik (kontrol) Tahun 2015

*berdasarkan uji Manova

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa hasil uji menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik populasi keong O.h.lindoensis pada daerah fokus yang diintervensi dan non intervensi / daerah kontrol. Dengan kata lain tidak ada perbedaan populasi keong O.h.lindoensis dengan ada atau tidaknya penyebaran itik.

Berdasarkan analisis di atas dapat digunakan sebagai jawaban atas tujuan penelitian yang kedua, yaitu membandingkan populasi keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang diintervensi dengan penyebaran itik dan fokus non intervensi.

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong diantara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi secara bersama sama pada hari H10

0.647b 0.642

2 Perbedaan populasi keong diantara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi secara bersama sama pada hari H15

0.651b 0.639

3 Perbedaan populasi keong diantara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi secara bersama sama pada hari H20

1.621 b 0.244

18 3. Kemampuan itik memakan keong O.h.lindoensis

Untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian ini maka dilakukan uji semi laboratorium, dengan membuat kandang itik di laboratorium yang diberi keong yang jumlah awalnya telah diketahui. Hasil uji tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil pengujian itik Mojosari (Anas platyrhinchos) dengan kondisi terkontrol di laboratorium selama tiga hari.

Perlakuan H0 H1 H2

1 (keong dicampur dalam pakan itik) 300 104 11 2 (keong disebar di lantai kandang) 300 97 0

Uji ini dilakukan sebagai data pendukung untuk pemastian bahwa itik yang dibagi oleh Dinas Peternakan Propinsi selama ini di daerah endemis schistosomiasis memang mau memakan keong. Itik yang digunakan berumur seragam yaitu umur tiga bulan dari jenis itik Mojosari (Anas platyrhinchos).

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa kemampuan itik dalam memakan keong adalah sekitar 50 keong per itik setiap hari. Dari Tabel 6 juga dapat dilihat bahwa keong yang disebar di dasar kandang lebih cepat habis dibandingkan keong yang dicampur dalam pakan itik. Hal tersebut dapat terkait dengan perilaku makan itik yang menyosor, jadi saat itik menyosor untuk minum, keong yang berada di dasar kandang ikut terambil. Berbeda dengan yang dicampur di pakan, keong dapat juga terikut saat itik makan, tetapi itik tidak selamanya makan dalam sehari, sehingga keong masih ditemukan dalam sisa pakan itik (dapat terlihat pada perlakuan 1).

Dengan demikian, keong tersebut hanya termakan oleh itik secara tidak sengaja dan sudah tersedia, bukan itik yang sengaja mencari keong sebagai kebutuhan pakannya.

4. Jumlah itik yang optimal dalam pengendalian keong O.h.lindoensis

Untuk dapat menjawab tujuan penelitian yang keempat, dilakukan analisis Manova dengan pengujian secara individual untuk mengetahui jumlah itik yang optimal dalam pengendalian keong O.h.lindoensis (Tabel 7).

Tabel 7. Pengaruh jumlah penyebaran itik terhadap populasi keong O.h.lindoensis tahun 2015

No Uraian F* P value*

1 Berdasarkan daerah fokus:

Penyebaran 5 ekor itik terhadap populasi keong.

1.436 0.258 Penyebaran 10 ekor itik terhadap 13.840 0.000

*berdasarkan uji Manova

Analisis dengan mempertimbangkan daerah fokus menunjukkan jumlah penyebaran itik yang menyebabkan perbedaan populasi keong adalah 10 ekor. Hasil yang sama juga diperoleh pada analisis dengan mempertimbangkan daerah fokus dan populasi keong di setiap daerah fokus.

Jumlah penyebaran itik 5 dan 15 ekor ternyata tidak menyebabkan perbedaan populasi keong secara statistik, namum secara kasat mata populasi keong terlihat berfluktuasi selama waktu pengamatan. Berdasarkan analisis tersebut terlihat bahwa jumlah itik yang optimal dalam menurunkan populasi keong adalah sebanyak 10 ekor untuk daerah fokus seluas 12 m2.

populasi keong.

Penyebaran 15 ekor itik terhadap populasi keong.

1.030 0.372 2 Berdasarkan daerah fokus dan

populasi keong:

Penyebaran 5 ekor itik terhadap populasi keong.

0.451 0.837 Penyebaran 10 ekor itik terhadap

populasi keong.

6.341 0.000 Penyebaran 15 ekor itik terhadap

populasi keong.

0.578 0.744

20 V. PEMBAHASAN

Itik yang dipakai dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis oleh Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah adalah jenis itik Mojosari (Anas platyrhinchos). Umur itik yang digunakan adalah seragam yaitu berumur tiga bulan dengan kondisi sehat.

Pada penelitian ini itik diberi pakan dengan pakan yang terdiri atas jagung dan dedak dengan porsi setengah dari normal, sebanyak dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Pemberian porsi setengah pakan dimaksudkan supaya itik tetap mencari keong O.h.lindoensis sebagai sumber pakan. Pada saat survei keong di daerah fokus yang diintervensi dengan penyebaran itik, terlihat bahwa masih banyak keong dan jagung sisa makanan yang ditemukan di bawah rumput. Hal tersebut menunjukkan bahwa itik tidak mencari keong sampai di bawah rumput, sehingga populasi keong tetap berfluktuasi. Hasil pengamatan di lapangan sejalan dengan analisis statistik secara keseluruhan yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik.

Analisis data populasi keong O.h.lindoensis yang dilakukan secara terpisah pada setiap fokus menunjukkan bahwa penyebaran itik di Desa Mekarsari menunjukkan perbedaan populasi keong O.h.lindoensis yang signifikan secara statistik, sebelum dan sesudah penyebaran itik. Kondisi aliran air di Desa Mekarsari berbeda dengan aliran air di Desa Maholo, karena terdapat bendungan di bagian hulu saluran air, sehingga aliran air relatif stabil pada saat turun hujan. Aliran air di daerah fokus lokasi penelitian Desa Mekarsari bersubstrat lumpur, sehingga keong tidak terlindung dan bisa terambil saat itik minum air dengan menyosor di aliran air tersebut. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan berdasar kriteria jumlah fokus aktif di daerah fokus Napu, dipilih yang paling banyak, sedang dan rendah.

Hasil analisis di Desa Maholo tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik. Hal tersebut sejalan dengan kondisi di lapangan. Banyak faktor yang terjadi di lapangan yang tidak dapat dikontrol selama penelitian yang dapat mempengaruhi populasi keong. Faktor tersebut antara lain turun hujan yang mempengaruhi debit air di saluran air, sehingga keong dapat terbawa aliran air. Faktor lain adalah rumput yang lebat di plot Desa Maholo, sehingga banyak keong di bawah rumput yang tidak termakan oleh itik.

Kondisi daerah fokus di lokasi penelitian Desa Watumaeta berupa aliran air lambat dengan substrat batu dan lumpur. Daerah fokus di lokasi tersebut merupakan

rembesan dari mata air yang bersumber dari perbukitan di atasnya. Hal tersebut menyebabkan pada saat turun hujan aliran air menjadi lebih cepat dan keong bisa terbawa aliran air. Keberadaan substrat berbatu dapat menjadi tempat perlindungan keong O.h.lindoensis, terbukti pada saat survei penghitungan keong yang dilakukan setiap hari selama waktu penelitian, keong yang berada di bawah batu tidak berkurang dan tetap berada di tempatnya.

Pada dasarnya itik membutuhkan keong sebagai makanan untuk sumber kalsium, tetapi keong yang dimakan adalah yang berukuran besar, seperti bekicot (Achatina fulica), keong mas (Pilla sp). Tetapi tidak demikian dengan keong O.h.lindoensis, mungkin karena ukurannya terlalu kecil habitatnya yang sulit dijangkau oleh itik misalnya di balik batu, di bawah rumput yang tebal.

Pada penelitian ini juga dilakukan pengamatan populasi keong pada daerah fokus yang tidak disebar itik (daerah kontrol). Populasi keong pada daerah fokus yang tidak disebar itik selama penyebaran itik juga berfluktuasi. Sebagaimana halnya di daerah fokus yang diintervensi dengan penyebaran itik, berbagai faktor yang terjadi di lapangan dapat mempengaruhi populasi keong. Seperti halnya hujan yang turun dapat meningkatkan aliran air sehingga keong terbawa air. Akan tetapi pada penelitan ini tidak dilakukan pengamatan berbagai faktor yang mempengaruhi populasi keong di daerah fokus.

Hasil tersebut diperkuat dengan analisis statistik yang menunjukkan bahwa populasi keong di daerah fokus yang disebar itik tidak berbeda signifikan secara statistik dengan populasi keong di daerah fokus yang tidak disebar itik. Dengan kata lain tidak ada perbedaan yang signifikan populasi keong dengan ada atau tidaknya penyebaran itik.

Berdasarkan uji di laboratorium menunjukkan bahwa keong dimakan oleh itik.

Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Rauf pada tahun 1999 yang menggunakan 75 keong dalam setiap kandang uji. Metode uji laboratorium penelitian ini juga hampir sama dengan penelitian sebelumnya oleh Rauf (1999), dalam hal rancangan yaitu RAL (Rancangan Acak Lengkap). Akan tetapi terdapat beberapa perbedaan, seperti jumlah itik dan keong yang digunakan, waktu penyebaran itik dan penghitungan keong. Jumlah keong pada penelitian tersebut dihitung setelah lima jam itik dimasukkan dalam kandang setiap harinya. Penelitian tersebut menyatakan bahwa itik menunjukkan pengaruh dalam penurunan jumlah keong dalam kandang uji.14

22 Dari tabel 6 juga dapat dilihat bahwa keong yang disebar di dasar kandang lebih cepat habis dibandingkan keong yang dicampur dalam pakan itik. Hal tersebut dapat terkait dengan perilaku makan itik yang menyosor, jadi pada waktu itik menyosor untuk minum, keong yang berada di dasar kandang ikut terambil. Berbeda dengan yang dicampur di pakan, keong dapat juga terikut saat itik makan, tetapi itik tidak selamanya makan dalam sehari, sehingga keong masih ditemukan dalam sisa pakan itik (dapat terlihat pada perlakuan 1). Dengan demikian, keong tersebut hanya termakan oleh itik secara tidak sengaja dan sudah tersedia, bukan itik yang sengaja mencari keong sebagai kebutuhan pakannya.

Pada penelitian ini juga dilakukan pembedahan saluran pencernaan itik untuk mendapatkan informasi yang memperkuat apakah keong dimakan oleh itik.

Pembedahan dilakukan pada seekor itik dan di saluran pencernaan itik, yaitu tembolok dan usus ditemukan cangkang keong O.h.lindoensis dalam kondisi sudah hancur. Hal tersebut menunjukkan bahwa itik sebenarnya bisa memakan keong, akan tetapi karena ukuran yang terlalu kecil dan habitat keong yang tersembunyi, sehingga keong sulit terambil oleh itik.

Berdasarkan analisis dengan mempertimbangkan variabel populasi keong saja, jumlah penyebaran itik 15 dan 10 ekor menunjukkan perbedaan populasi keong yang signifikan secara statistik (nilai p = 0,000). Analisis dengan mempertimbangkan variabel daerah fokus saja, menunjukkan hasil yang berbeda, yaitu jumlah itik 10 ekor menunjukkan perbedaan populasi keong yang signifikan secara statistik (nilai p

= 0,000). Jumlah itik 5 dan 15 ekor tidak berpengaruh secara statistik terhadap populasi keong. Pada saat analisis dilakukan dengan menggabungkan variabel populasi keong dan daerah fokus, diperoleh hasil bahwa jumlah itik sebanyak 10 ekor menunjukkan perbedaan populasi keong yang signifikan secara statistik (nilai p = 0,000). Jumlah itik 5 dan 15 ekor juga tidak berpengaruh secara statistik terhadap populasi keong. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka jumlah itik 10 ekor optimal untuk menurunkan populasi keong di daerah fokus seluas 12 m2.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin besar jumlah itik belum tentu menimbulkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap populasi keong. Hal ini terbukti dari analisis bahwa Jumlah itik 5 dan 15 ekor tidak berpengaruh secara statistik terhadap populasi keong. Penyebaran itik tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang sama untuk setiap daerah fokus. Penyebaran itik di

lapangan perlu mempertimbangkan jenis daerah fokus dan populasi keong, bukan hanya jumlah itik saja.

Penelitian terkait penggunaan itik dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis diantaranya adalah oleh Chimbary et al., di Brazil pada tahun 2000 yaitu penyebaran itik (Cairina muschata) dengan jumlah 1 dan 2 ekor pada kolam yang berbeda. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang

Penelitian terkait penggunaan itik dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis diantaranya adalah oleh Chimbary et al., di Brazil pada tahun 2000 yaitu penyebaran itik (Cairina muschata) dengan jumlah 1 dan 2 ekor pada kolam yang berbeda. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang

Dokumen terkait