• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PENYEBARAN ITIK DALAM PENGENDALIAN KEONG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFEKTIVITAS PENYEBARAN ITIK DALAM PENGENDALIAN KEONG"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

EFEKTIVITAS PENYEBARAN ITIK DALAM PENGENDALIAN KEONG Oncomelania hupensis lindoensis DI DAERAH FOKUS

SCHISTOSOMIASIS NAPU, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH

Oleh :

Anis Nurwidayati, S.Si., M.Sc, dkk

BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG (LITBANG P2B2) DONGGALA

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2015

(2)

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

(3)

iii

(4)
(5)

v

(6)

SUSUNAN TIM PENELITI

Sumber Dana : DIPA Balai Litbang P2B2 Donggala 2015

No. Nama Keahlian/

Kesarjanaan

Kedudukan

Dalam Tim Uraian Tugas

1. Anis Nurwidayati, S.Si., M.Sc

S2 Biologi

Molekuler Peneliti

Bertanggung jawab terhadap seluruh aspek penelitian

2. Jastal, SKM, M.Si S2 Entomologi

Kesehatan Peneliti

Membantu ketua

pelaksana dalam pengujian di lapangan

3.

Dr.Ir. Syafruddin, MP (BPT Pertanian Sulawesi Tengah)

Doktor Ilmu Kesuburan Tanah

Peneliti

Membantu ketua

pelaksana dalam analisis dan interpretasi data

4. Drh. Gunawan Dokter Hewan Peneliti

Membantu ketua

pelaksana dalam pengujian di lapangan

5. Murni, S.Si S1 Biologi Peneliti

Membantu ketua

pelaksana dalam pengujian di lapangan dan

administrasi

6.

Ir. Simpra Tajang, M.Si (Dinas Peternakan Prop. Sulawesi Tengah)

S2

Perencanaan dan

Pengembangan Wilayah Pedesaan

Peneliti

Membantu ketua pelaksana untuk

mengkoordinasi peternak itik dalam pegujian di lapangan

(7)

vii PERSETUJUAN ETIK

(8)
(9)

ix KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan semua kekuatan untuk dapat melaksanakan penelitian ini sampai selesai termasuk hingga tahap penyusunan laporan penelitian. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala Balai Litbang P2B2 Donggala atas ijin, kesempatan dan segala dukungan yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada reviewer yang telah memberikan masukan serta bimbingan atas pelaksanaan penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada anggota tim penelitian, dan petugas Laboratorium Schistosomiasis Wuasa, Lore Utara Kabupaten Poso, atas bantuan dan dukungan yang diberikan dalam pelaksaan penelitian ini.

Penelitian yang berjudul ”Efektivitas penyebaran itik dalam pengendalian keong Oncomelania hupensis lindoensis di daerah fokus schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah” ini dilaksanakan dalam rangka rekomendasi dari Tim Terpadu Pengendalian Schistosomiasis Propvinsi Sulawesi Tengah.

Tujuan penelitian ini adalah menghitung kepadatan keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penebaran itik di daerah fokus, membandingkan kepadatan keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi, enentukan kemampuan itik dalam memakan keong O.h.lindoensis, menentukan jumlah itik yang optimal untuk disebar di daerah fokus keong O.h.lindoensis.

Aspek penelitian meliputi kegiatan di lapangan berupa penghitungan kepadatan keong dalam plot berukuran 4x3 m yang diberi perlakuan itik, sejumlah 5, 10 dan 15 per plot dengan tiga kali ulangan setiap pelakuan. Pengamatan dilakukan pada sebelum disebar itik, hari 1-10, hari 15 dan hari 20 setelah penyebaran itik.

Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban secara administrasi dan merupakan penyampaian secara tertulis dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Pada laporan ini disampaikan data hasil yang diperoleh di lapangan dengan analisa dan pembahasannya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efektivitas penggunaan itik dalam pengendalian keong O.h.lindoensis, dan diharapkan dapat diperoleh masukan yang berguna bagi program pengendalian schistosomiasis, khususnya pemberantasan keong perantara schistosomiasis di daerah endemis Dataran Tinggi Napu dan Lindu, Sulawesi Tengah.

(10)

Akhirnya, penulis sangat berterima kasih kepada teman – teman yang telah membantu memberikan bahan acuan maupun diskusi dalam penyusunan laporan ini.

Penulis memberikan penghargaan setinggi – tingginya kepada mereka yang membantu secara langsung atau tidak langsung selama mempersiapkan maupun penyusunan laporan ini. Saran dan masukan yang membangun juga sangat diharapkan untuk perbaikan pada penelitian selanjutnya.

Donggala, November 2015

Anis Nurwidayati, S.Si, M.Sc

(11)

xi RINGKASAN EKSEKUTIF

“Efetivitas Penyebaran itik dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis di daerah fokus Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi

Tengah.”

Anis Nurwidayati, Jastal, Gunawan, Murni, Syafruddin, Simpra Tajang.

Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penularan terjadi melalui kulit yaitu serkaria cacing S.japonicum menginfeksi hospes mamalia melalui kulit. Penyakit ini hanya ditemukan di Propinsi Sulawesi Tengah yaitu Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi.

Peran lintas sektor dalam pengendalian schistosomiasis sudah ditetapkan dengan SK Gubernur Sulawesi Tengah Nomor: 443.2/201/DISKESDA-G.ST/2012 tentang Tim Terpadu Pengendalian Schistosomiasis Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2012-2016.

Kegiatan pengendalian schistosomiasis yang telah dilaksanakan oleh tim terpadu dari berbagai lintas sektor meliputi berbagai upaya pengendalian schistosomiasis pada manusia, hewan, pengelolaan lingkungan, serta peran serta masyarakat.

Schistosomiasis masih menjadi masalah kesehatan di daerah endemis meskipun berbagai program pengendalian telah dilaksanakan oleh tim terpadu pengendalian schistosomiasis, tetapi hasil belum maksimal. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pembagian itik oleh Dinas Peternakan di daerah endemis schistosomiasis. Kegiatan tersebut hingga saat ini belum dievaluasi tingkat keberhasilannya dalam menurunkan populasi keong. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas penyebaran itik dalam menurunkan populasi keong perantara schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis.

Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan populasi keong yang signifikan secara statistik setelah penyebaran itik di Desa Mekarsari, tetapi tidak di Watumaeta dan Desa Maholo. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi keong di daerah yang disebar itik dengan daerah non intervensi. Jumlah itik yang optimal dalam pengendalian keong O.h.lindoensis adalah sebanyak 10 ekor untuk daerah fokus seluas 12 m2.

(12)

Penyebaran itik untuk pengendalian keong O.h.lindoensis menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik pada daerah fokus tertentu, yaitu daerah fokus berupa saluran air yang tidak ditumbuhi rumput tebal, atau dengan substrat bebatuan seperti di Desa Mekarsari. Penyebaran itik di daerah fokus dengan rumput yang tebal atau bebatuan tidak efektif dalam pengendalian keong.

Saran yang dapat dikemukakan dari penelitian ini adalah perlu peninjauan kembali program penyebaran itik untuk pengendalian keong perantara schistosomiasis, yaitu dalam hal lokasi fokus untuk penempatan ternak itik. Pemilihan lokasi untuk disebar itik disarankan berupa daerah fokus berupa saluran air yang tidak ditumbuhi rumput tebal, atau dengan substrat bebatuan. Hal tersebut dapat memudahkan itik dalam mengambil keong O.h.lindoensis di daerah fokus. Itik yang disebar di daerah fokus juga harus dikandangkan dan dijaga, supaya itik tetap berada di daerah fokus keong.

(13)

xiii ABSTRAK

The Effectivity of Duck as Snails Control in Schistosomiasis Focci Area Napu, Poso District, Central Sulawesi Province

Anis Nurwidayati1, Jastal1, Gunawan1, Murni1, Syafruddin2, Simpra Tajang3

1. Vector Borne Diseases Research Unit Donggala, NIHRD, Ministry of Health RI

2. Assesment Institute of Agricultural Technology, Central Sulawesi Province

3. Veteriner District Office, Central Sulawesi Province

Corresponding address:

Anis Nurwidayati

Vector Borne Diseases Research Unit Donggala, Jalan Masitudju no 58 Labuan Panimba, Labuan, Donggala, Sulawesi Tengah.

telp: +62-81328848488; email: [email protected] ABSTRACT

Schistosomiasis is still a health problem in endemic areas Napu, Poso, Central Sulawesi.

Snail Oncomelania hupensis lindoensis, intermediate schistosomiasis is widespread in the region Napu. One of the snail control is using the duck for reduce the snail population in focci area. This research aimed to determine the effectivity of duck in snail control. This research was conducted from March to December 2015 in three village, that were Mekarsari Village, Maholo Village and Watumaeta village. The examination used 5, 10, 15 ducks with three repeat and one control. The result showed that duck using was effective only in Mekarsari village, not in Watumaeta and Maholo Village. There was no significant difference between snail population in intervention area and non intervention area. The number of duck that optimal to snail control was 10 ducks in 12 m2. From the result can be conclude that using duck to snail control was only effective in spesific type of focci that was not full of grass and has no stone substrat.

Keywords: Schistosomiasis, duck, Oncomelania hupensis lindoensis snails, Napu

(14)

Efektivitas Penyebaran Itik Dalam Pengendalian Keong Oncomelania hupensis lindoensis Di Daerah Fokus Schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah

Anis Nurwidayati1, Jastal1, Gunawan1, Murni1, Syafruddin2, Simpra Tajang3

1. Balai Litbang P2B2 Donggala, Badan Litbang Kesehatan RI

2. Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian

3. Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah

Intisari

Schistosomiasis saat ini masih menjadi masalah kesehatan di daerah endemis Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Keong Oncomelania hupensis lindoensis, perantara schistosomiasis tersebar luas di wilayah Napu. Salah satu upaya pengendalian yang dilakukan adalah penyebaran itik di daerah fokus keong O.h.lindoensis. Penelitian ini bermaksud untuk menentukan efektivitas penyebaran itik dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis di Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – Desember 2015 di daerah fokus keong Desa Mekarsari, Desa Maholo, dan Desa Watumaeta, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Desain Penelitian Penelitian menggunakan 5,10,15 ekor itik di setiap lokasi fokus dengan tiga ulangan dan satu kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan populasi keong yang signifikan secara statistik setelah penyebaran itik di Desa Mekarsari, tetapi tidak di Watumaeta dan Desa Maholo. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi keong di daerah yang disebar itik dengan daerah non intervensi. Jumlah itik yang optimal dalam pengendalian keong O.h.lindoensis adalah sebanyak 10 ekor untuk daerah fokus seluas 12 m2. Penyebaran itik untuk pengendalian keong O.h.lindoensis menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik pada daerah fokus tertentu, yaitu daerah fokus berupa saluran air yang tidak ditumbuhi rumput tebal, atau dengan substrat bebatuan seperti di Desa Mekarsari.

Kata kunci: Schistosomiasis, itik, keong Oncomelania hupensis lindoensis, Napu.

(15)

xv DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

SK Peneliti ... ii

Susunan Tim Peneliti ... vi

Persetujuan Etik ... vii

Persetujuan Atasan ... viii

Kata Pengantar ... ix

Ringkasan Eksekutif ... xi

Abstrak ... xiii

Daftar Isi ... xv

Daftar Tabel ... xvii

Daftar Gambar ... xviii

Daftar Lampiran ... xix

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 2

B. Perumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

III. METODE PENELITIAN ... 6

A. Kerangka Konsep, hipotesis dan definisi operasional ... 6

B. Desain Penelitian ... 7

(16)

C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 7

D. Populasi dan Sampling ... 7

E. Instrumen Pengumul Data ... 8

F. Bahan dan Prosedur Pengumpulan Data ... 8

G. Pengolahan dan Analisis Data ... 11

IV. HASIL PENELITIAN ... 12

V. PEMBAHASAN ... 20

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 26

LAMPIRAN ... 28

(17)

xvii DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Mekarsari ... 16 Tabel 2. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah

penyebaran itik di Desa Watumaeta ... 17 Tabel 3. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah

penyebaran itik di Desa Maholo ... . 18 Tabel 4. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah

penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian ... . 19 Tabel 5. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang

disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi ... . 21 Tabel 6. Hasil pengujian itik dengan kondisi terkontrol di laboratorium selama tiga

hari ... ...22 Tabel 7. Pengaruh jumlah penyebaran itik terhadap populasi keong O.h.lindoensis..22

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Keong Oncomelania hupensis lindoensis ... ... 4 Gambar 2. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensisdan sebelum dan

sesudah penyebaran itik di fokus Desa Mekarsari ... .. ... 17 Gambar 3. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan

sesudah penyebaran itik di fokus Desa Watumaeta .... ... 18 Gambar 4. Fluktuasi rerata populasi keongO.h.lindoensis sebelum dan

sesudah penyebaran itik di fokus Desa Maholo ... 19 Gambar 5. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan

sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian ... ... 20

(19)

xix DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Formulir pengamatan populasi keong Lampiran 2. Output uji statistik

Lampiran 3. Surat izin penelitian (KP2TD) Lampiran 3. Foto kegiatan penelitian

(20)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Schistosomiasis merupakan salah satu penyakit parasit terpenting dalam kesehatan masyarakat di dunia. Laporan WHO tahun 2010 schistosomiasis telah menginfeksi 230 juta orang yang terdapat di 77 negara dan 600 juta orang berisiko terinfeksi. Penyebaran penyakit ini cukup luas yaitu di negara-negara berkembang baik tropik maupun subtropik. Schistosomiasis di Asia ditemukan di wilayah Asia Timur (China dan Jepang) dan di Asia Tenggara (Philipina, Indonesia, Vietnam, Laos, Thailand, Kamboja).1

Di Indonesia schistosomiasis disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penularan terjadi melalui kulit yaitu serkaria cacing S.japonicum menginfeksi hospes mamalia melalui kulit. Penyakit ini hanya ditemukan di Propinsi Sulawesi Tengah yaitu Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi.

Proporsi schistosomiasis di Lindu dan Napu berfluktuasi pada lima tahun terakhir. Proporsi kasus schistosomiasis di Lindu tahun 2008 – 2013 yaitu 1,4%, 2,32%, 3,21%, 2,67%, 0,76%, 0,71%. Proporsi kasus schistosomiasis di Napu tahun 2008 – 2013 yaitu 2,44%, 3,8%, 4,78%, 2,15%, 1,44%, 2,24%. Survei keong tahun 2012 menunjukkan infection rate masih tinggi yaitu 1,79% di Napu dan 2,53% di Lindu. Disamping jumlah kasus schistosomiasis pada manusia, angka infeksi pada keong dan tikus juga diamati. Pada tahun 2012, infection rate pada keong adalah sebesar 1,8% di Lindu dan 1,1% di Napu sedangkan infection rate pada tikus mencapai sebesar 16% di lindu dan sebesar 7,3% di Napu.2

Pengendalian schostosomiasis memerlukan komitmen yang kuat dari lintas sektor supaya pengendalian dapat dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan.

Peran lintas sektor dalam pengendalian schistosomiasis sudah ditetapkan dengan SK Gubernur Sulawesi Tengah Nomor: 443.2/201/DISKESDA-G.ST/2012 tentang Tim Terpadu Pengendalian Schistosomiasis Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2012-2016.

Tim tersebut terdiri dari Dinas Kesehatan, Balai Litbang P2B2 Donggala, Balitbang Daerah, Dinas Pertanian, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas PU, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pendidikan dan Pengajaran, PKK, Dinas

(21)

2 Perikanan dan Kelautan, Bappeda, BPMPD, Badan Lingkungan Hidup, dan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Penanggulangan schistosomiasis yang telah dilakukan oleh lintas sektor sudah berlangsung sejak tahun 1982 sampai dengan sekarang dan dapat dibagi menjadi lima periode. Periode pertama berlangsung sejak 1982-1986 dengan kegiatan berupa pengobatan massal dan survey tinja dan tikus tiap 6 bulan. Pada periode ini prevalensi menurun secara signifikan dan partisipasi masyarakat pada periode ini masih sangat bagus. Pengendalian periode kedua berlangsung pada tahun 1986-1990 dengan kegiatan berupa pengobatan selektif, sektor pertanian juga intensif dalam pengelolaan lahan sehingga dapat mengeleminasi daerah fokus, program transmigrasi, dan memobilisasi peran serta masyarakat. Pengendalian periode ketiga berlangsung pada tahun 1991 sampai tahun 1993, dengan kegiatan yang lebih terintegrasi. Pada periode ini sektor kesehatan bukan lagi sebagai leading sector, akan tetapi digantikan oleh Bappeda. Pada periode ini juga dibentuk Kelompok Kerja Schistosomiasis.2

Pemberantasan keong perantara merupakan upaya yang penting dalam pengendalian schistosomiasis karena dapat memutus rantai penularan. Pemberantasan keong dilakukan secara mekanik dan kimia. Pemberantasan secara mekanik dilakukan dengan perbaikan saluran air di daerah fokus, pengeringan daerah fokus dan pengolahan lahan. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menggunakan moluskisida. Moluskisida yang digunakan saat ini adalah niclosamide (Bayluscide®, Bayer, Leverkusen, Germany). Moluskisida ini sudah digunakan sejak tahun 1980-an sampai dengan saat ini. Penggunaan moluskisida sintetik memiliki kekurangan yaitu kecenderungan bersifat toksik terhadap lingkungan, ikan, biota mikroskopis (zooplankton dan fitoplankton), dan mempengaruhi vegetasi di habitat keong perantara schistosomiasis.3

B. Perumusan Masalah

Penelitian untuk mencari alternatif pengendalian keong perantara shistosomiasis menggunakan agen biologi telah banyak dilakukan di berbagai negara, diantaranya menggunakan itik, keong kompetitor, bakteri, trematoda parasit, dan lain sebagaianya.

Penelitian ini perlu dilakukan karena merupakan tindak lanjut dari salah satu rekomendasi pertemuan Tim Terpadu Pengendalian Schistosomiasis Sulawesi Tengah. Rekomendasi tersebut menyatakan perlunya dilakukan penelitian untuk

(22)

membuktikan bahwa itik dapat menurunkan populasi keong O.h.lindoensis.

Rekomendasi tersebut muncul karena pengendalian keong perantara schistosomiasis di Sulawesi Tengah menggunakan itik Mojosari (Anas platyrhinchos) yang dilakukan oleh Dinas Peternakan telah berlangsung beberapa tahun, dan belum dilakukan penelitian untuk membuktikan efektivitasnya dalam menurunkan populasi keong.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Apakah penyebaran itik di daerah fokus keong perantara schistosomiasis efektivitas dalam menurunkan populasi keong O.h.lindoensis?

C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan umum:

Menentukan efektivitas penebaran itik dalam menurunkan populasi keong perantara schistosomiasis, O.h. lindoensis.

Tujuan khusus:

1. Menghitung populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penebaran itik di daerah fokus.

2. Membandingkan populasi keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi.

3. Menentukan kemampuan itik dalam memakan keong O.h.lindoensis.

4. Menentukan jumlah itik yang optimal untuk disebar di daerah fokus keong O.h.lindoensis.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat bagi program: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap pelaksanaan program pembagian itik Mojosari (Anas platyrhinchos) di daerah fokus oleh Dinas Peternakan di Propinsi Sulawesi Tengah.

2. Manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan:Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan perkembangan ilmu pengetahuan tentang pengendalian schistosomiasis secara hayati / biologi.

3. Manfaat untuk Masyarakat Umum: Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan peran serta dalam pengendalian schistosomiasis

(23)

4 II. TINJAUAN PUSTAKA

Schistosomiasis di Sulawesi Tengah pertama kali ditemukan oleh Brug &

Tesch pada tahun 1937 di Lindu. Hospes perantaranya ditemukan tahun 1971, dan diidentifikasi oleh Davis & Carney pada tahun 1973 sebagai O. h lindoensis.Keong O.h lindoensis termasuk ke dalam famili Pomatiopsidae yang merupakan keluarga keong air tawar. Keong tersebut bersifat amphibious yaitu menyukai tempat berair yang becek. Karakter morfologi cangkang keong tersebut adalah berbentuk kerucut, permukaan halus ukuran keong dewasa maksimal 6 mm, cangkang berwarna kelabu, cokelat gelap sampai hitam. Cangkang tersusun atas 6-7 alur / suture. Bagian dalam cangkang tempat masuknya tubuh keong berwarna kuning muda sampai kuning jeruk. Upaya pengendalian keong telah dilakukan oleh program pengendalian schistosomiasis Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah dengan penyemprotan moluskisida Bayluscide setiap 6 bulan sekali.

Gambar 1. Keong Oncomelania hupensis lindoensis (sumber: Balai Litbang P2B2 Donggala)

Agen biologi yang paling banyak diteliti adalah itik (Cairina moschata), ikan Tilapia spp., Sargochromis codringtonii, Astronotus ocellatus, krustasea golongan Ostracoda sebagai predator keong perantara schistosomiasis mansoni, serta keong Bullinus tropicus, Pomacea haustrum,Helisoma duryi sebagai kompetitor keong perantara schistosomiasis mansoni di Zimbabwe dan Brazil. Bakteri Bacillus pinotti telah diteliti bersifat patogen terhadap keong Biomphalaria glabrata.9,10 Pengendalian secara biologi yang lain adalah penggunaan trematoda parasit pada keong Biomphalaria glabrata, yaitu Ribeiroia guadeloupensis.11

(24)

Itik adalah hewan yang telah didomestikasi (dipelihara) guna diambil daging, telur bahkan bulunya. Bebek yang telah didomestikasi ini berasal dari keturunan bebek liar. Nama ilmiah itik Mojosari / bebek adalah Anas platyrnchos. Klasifikasi bebek atau itik meliputi kelas aves (hewan bersayap), hewan bertulang belakang (Chordata), dari family Anatidae. Bebek sangat identik dengan kehidupannya yang selalu berkelompok dan sebagian besar bebek senang berada dipermukaan air.13

Itik dapat ditemukan diseluruh dunia kecuali di Antartika. Bebek dapat ditemukan diberbagai habitat. Seperti sungai, rawa, dan lautan. Bebek dapat di kawin silangkan, namun menghasilkan keturanan steril sehingga tidak bisa menghasilkan keturunan. Bebek termasuk hewan omnivora dimana memanfaatkan berbagai sumber makanan seperti rumput, tanaman air, serangga, amfibi kecil, cacing. Sehingga bebek memiliki kemampuan beradaptasi di lingkungan yang baru.13

Gambar 2. Itik Mojosari (Anas platyrhinchos)

Ciri-ciri itik Mojosari antara lain Warna bulu kemerahan dengan variasi coklat kehitaman, pada itik jantan ada 1-2 bulu ekor yang melengkung ke atas. Warna paruh dan kaki itik hitam. Berat badan dewasa rata-rata 1,7 kg. Produksi telur rata-rata 230- 250 butir/tahun. Berat telur rata-rata 65 gram.13

Perilaku makan itik adalah menyosor pada daerah genangan air. Perilaku tersebut sesuai apabila itik dijadikan sebagai kontrol biologi keong perantara schistosomiasis, yang hidup di daerah yang tergenang atau becek. Akan tetapi kemampuan terbatas karena keong O.h.lindoensis berada di bawah rerumputan.

(25)

6 III. METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep, hipotesis dan definisi operasional

Kerangka konsep dikembangkan dari kerangka teori, permasalahan yang akan diteliti, pertanyaan, tujuan, hipotesis, variabel dan disain penelitian. Kerangka konsep berguna untuk mendeskripsikan secara jelas variabel yang dipelajari (variabel dependen) dan variabel faktornya (variabel independen). Kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada diagram sebagai berikut.

Variabel Independen Variabel Dependen

Penjelasan kerangka konsep Variabel independen:

Penyebaran itik di daerah fokus

Hipotesis

Penurunan populasi keong pada daerah fokus yang disebar itik lebih baik dari penurunan populasi pada daerah fokus yang tidak disebar itik.

Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur satuan

1 Independen

Penyebaran itik di daerah fokus keong O.h.lindoensis

Penyebaran itik di dalam plot area berukuran 4x3 m, yang dipagar dengan kayu dan kawat kassa di bagian bawah, dengan tujuan itik dan keong tidak keluar dari plot area. Itik ditempatkan dalam plot area dengan stratifikasi 15,10,5 ekor di tiap lokasi.

Pengujian dilakukan 3 kali ulangan tiap lokasi.

Umur itik: 3 bulan Jenis kelamin itik: betina Jenis itik: Anas platyrhinchos

Penyebaran itik di daerah fokus Penurunan populasi keong Oncomelania hupensis

lindoensis

(26)

2 Desa dengan jumlah fokus aktif tinggi

Desa yang memiliki jumlah fokus aktif yang jauh lebih banyak (55)

dibandingkan jumlah rata – rata fokus aktif di daerah endemis Napu (10).

3 Desa dengan jumlah fokus aktif sedang

Desa yang memiliki jumlah fokus aktif yang hampir sama (11) dibandingkan jumlah rata – rata fokus aktif di daerah endemis Napu (10).

4 Desa dengan jumlah fokus aktif rendah

Desa yang memiliki jumlah fokus aktif yang kurang banyak (2) dibandingkan jumlah rata – rata fokus aktif di daerah endemis Napu (10).

5 Dependen

Penurunan populasi keong O.h. lindoensis

Beda mean populasi keong yang diakibatkan dari perlakuan penyebaran itik di tiap plot area di daerah fokus keong O.h.lindoensis.

Uji Manova

Beda mean populasi keong O.h.lindoensis

Rerata

B. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah penelitian intervensi dengan jenis penelitian quasi eksperimen. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 3x3.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat: daerah endemis schistosomiasis Napu (fokus Desa Mekarsari, Maholo, Watumaeta) Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah.

Waktu: Bulan Maret – Desember 2015

D. Populasi dan Sampling

Populasi Keong Oncomelania hupensis lindoensis:

Seluruh keong O.h.lindoensis di daerah fokus Napu Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah.

Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua keong O.h.lindoensis yang terkumpul dengan metode man per minute.

(27)

8 Besar Sampel dan cara penarikan sampel:

Besar Sampel

Semua keong O.h.lindoensis yang terkumpul dengan metode man per minute.

Cara Penarikan Sampel

Sampel keong ditentukan dengan metode non probability sampling.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inlusi:

Keong O.h.lindoensis yang berada dalam area plot sampling Kriteria eksklusi :

Keong O.h.lindoensis yang berada dalam area plot sampling tetapi tidak terambil dengan metode man per minute.

Variabel Penelitian Variabel Dependen:

Penebaran itik di daerah fokus keong O.h.lindoensis Variabel Independen:

Penurunan populasi populasi keong O.h.lindoensis di dalam plot area penelitian yang diamati pada hari ke (H0,H1,H2,H3,H4,H5,H6,H7,H8,H9,H10,H15,H20)

E. Instrumen Pengumpul Data

Instrumen: sepatu boot, pinset, petri dish, timer.

F. Bahan dan Prosedur Pengumpulan Data

Bahan : Sarung tangan, kantong keong, spidol permanen.

Data Sekunder:

Data populasi populasi keong O.h.lindoensis di daerah fokus Napu dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah.

Data Primer:

- Rancangan percobaan penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 3x3:

Faktor 1: Jumlah fokus aktif dalam satu desa (sebagai main plot), terdiri atas:

a.1. Desa dengan jumlah fokus aktif tinggi (55 fokus) a.2. Desa dengan jumlah fokus aktif sedang (11 fokus)

(28)

a.3. Desa dengan jumlah fokus aktif rendah (2 fokus)

- Penentuan kriteria desa dengan jumlah fokus aktif tinggi, sedang dan rendah berdasarkan nilai rerata jumlah fokus aktif di daerah endemis schistosomiasis Napu, yaitu 10 fokus.

faktor 2: Jumlah itik yang ditempatkan dalam plot, terdiri atas:

b.1. 15 ekor b.2. 10 ekor b.3. 5 ekor

Ulangan perlakuan dan kontrol dilakukan sebanyak tiga kali di setiap lokasi.

Skema rancangan percobaan adalah sebagai berikut:

- Pengamatan populasi keong dilakukan sebelum penyebaran itik, hari pertama sampai hari ke 10 (H1,H2,H3,H4,H5,H6,H7,H8,H9,H10), H15, dan H20 setelah penyebaran itik di daerah fokus keong.

MAIN PLOT

15 ekor itik 10 ekor itik 5 ekor itik kontrol

15 ekor itik 10 ekor itik 5 ekor itik kontrol

15 ekor itik 10 ekor itik 5 ekor itik kontrol

3 x ulangan

3 x ulangan

3 x ulangan Desa dengan jumlah fokus

aktif tinggi (Mekarsari)

Desa dengan jumlah fokus aktif sedang (Watumaeta)

Desa dengan jumlah fokus aktif rendah (Maholo)

(29)

10 Cara penghitungan populasi keong dengan metode survei “man per minute”12:

- Keong hasil pengumpulan keong dari satu titik dimasukkan satu kantong keong.

- Misalnya ada 5 orang pengambil keong: A,B,C,D,E masing – masing mengumpulkan 5 kantong / titik (5 menit x 5 kantong), maka:

Jumlah sampel= 5 org x 5 kantong= 25

- Luas satu titik selama 5 menit sama dengan luas 1 ring, yaitu 1/70 m2

-

Prosedur Kerja :

1. Pengumpulan keong untuk penghitungan populasi keong dilakukan dengan metode man per minute.

2. Keong dikumpulkan di area plot kandang itik pada H0, H1, H2, H3, H4, H5, H6, H7, H8, H9, H10, H15, H20.

3. Setiap pengambil keong mengambil keong selama 5 menit di satu titik, diulang beberapa kali sampai semua area plot tercakup.

4. Keong diambil dengan pinset, dimasukkan ke dalam kantong keong yang disediakan, dihitung di setiap titik, dan langsung dikembalikan ke titik semula.

Uji efektivitas itik untuk pengendalian keong di laboratorium dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

Jumlah sampel =

jumlah pengambil keong x jumlah titik pengambilan keong

Kepadatan keong= (jumlah keong/m2)

Jumlah keong yang didapat keseluruhan x 70 Jumlah sampel

Populasi Keong =jumlah keong pada luas tertentu:

Kepadatan keong x luas daerah fokus Rerata populasi keong =

Jumlah populasi keong pada tiga ulangan 3

(30)

a. dibuat kandang berukuran 2x2 m, dialas terpal untuk menghindari keong keluar kandang.

b. setiap kandang diisi 2 ekor itik. Kemudian dimasukkan 300 keong dalam setiap kandang itik;

c. perlakuan pertama berupa keong dicampur dalam pakan itik seperti biasa yaitu jagung dan dedak;

d. perlakuan kedua keong disebar di dasar kandang.

e. Itik di kedua kandang diberi pakan dan air yang sama.

G. Pengolahan dan Analisis Data

Manajemen data dilakukan dengan proses verifikasi data, edit data dan pembersihan data (data cleaning).

Data dianalisis dengan uji Manova untuk menganalisis beda populasi populasi keong per waktu pengamatan.

(31)

12 IV. HASIL PENELITIAN

1. Populasi keong Oncomelania hupensis lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik.

a. Populasi keong Oncomelania hupensis lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di setiap desa lokasi penelitian

Desa Mekarsari

Lokasi pegujian di fokus Desa Mekarsari berupa daerah persawahan bekas diolah dengan saluran air di bagian tepinya. Dasar plot kandang itik berupa rumput kering tetapi masih lembab di bagian bawahnya, sehingga masih banyak ditemukan keong O.h. lindoensis, dan paling banyak ditemukan di tepi saluran air. Hasil uji statistik beda mean populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Mekarsari dapat dilihat pada Tabel 1. Rerata populasi keong O.h.lindoensis dapat dilihat pada Gambar 2.

Tabel 1. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Mekarsari Tahun 2015

*berdasarkan uji Manova

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa uji secara simultan menunjukkan adanya beda nyata antara populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di daerah fokus Desa Mekarsari. Uji secara individual pada hari ke 10 dan 15 belum menunjukkan beda nyata populasi keong O.h.lindoensis. Perbedaan secara statistik baru ditemukan pada hari ke 20.

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum disebar itik (H0) dengan sesudah disebar-H10, H15, dan H-20

29.214b 0.000

2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik-H10

3.111 0.118 3 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H15

0.440 0.663 4 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H20

13.071 0.007

(32)

Gambar 2. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensisdan sebelum (H0) dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Mekarsari (H1-H20)

Desa Watumaeta

Lokasi pegujian di fokus Desa Watumaeta berupa rembesan air dari mata air di pegunugan di atasnya. Dasar plot kandang itik berupa tanah dan batuan tanpa tanaman yang menutupi, berbeda dengan daerah fokus di Mekarsari dan Maholo.

Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Watumaeta dapat dilihat pada Gambar 3.

Hasil uji statistik memperlihatkan tidak terjadi perbedaan mulai pada hari pertama penyebaran itik sampai hari kedua puluh. Hasil ini menggambarkan bahwa itik di wilayah ini tidak dapat menekan populasi keong (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Watumaeta Tahun 2015

*berdasarkan uji Manova

0 20 40 60 80 100 120 140 160

H0 H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 H15 H20

Populasi keong

Rerata populasi keong O.h.lindoensis selama pengujian di fokus Desa Mekarsari Tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum disebar itik (H0) dengan sesudah disebar-H10, H15, dan H-20.

9.693b 0.006

2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik-H10.

6.829 0.028 3 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H15.

1.748 0.252 4 Perbedaan populasi keong sebelum

dan sesudah disebar itik-H20.

2.402 0.171 Waktu Pengamatan

(33)

14 Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil uji secara simultan menunjukkan tidak ada beda nyata antara penyebaran itik dengan populasi keong di Desa Watumaeta. Uji secara individual menunjukkan adanya beda nyata pada hari ke 10, tetapi menjadi tidak nyata pada hari ke 15 dan 20. Hal tersebut dapat diasumsikan bahwa penyebaran itik tidak berpengaruh lagi terhadap populasi keong.

Kemungkinan yang dapat terjadi di lapangan adalah itik tidak lagi memakan keong yang mungkin berada di bawah batu yang banyak ditemukan di daerah fokus Desa Watumaeta.

Gambar 3. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum (H0) dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Watumaeta (H1-H20)

Desa Maholo

Lokasi pegujian di fokus Desa Maholo berupa daerah persawahan dengan saluran air di bagian tepinya. Dasar plot kandang itik berupa rumput yang masih lebat dengan saluran air di tengahnya. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Maholo dapat dilihat pada Gambar 4. Hasil analisis data uji beda mean populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Maholo dapat dilihat di Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Maholo Tahun 2015

0 50 100 150 200 250 300 350

H0 H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 H15 H20

Populasi Keong

Rerata Populasi Keong O.h.lindoensis Selama Pengujian Di Fokus Desa Watumaeta Tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum disebar itik (H0) dengan sesudah disebar-H10, H15, dan H-20

1.261b 0.400 2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah

disebar itik-H10

0.486 0.637 3 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah

disebar itik-H15

1.430 0.311 Waktu Pengamatan

(34)

* berdasarkan uji Manova

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa baik hasil uji secara simultan maupun individual tidak terdapat beda secara statistik antara populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di daerah fokus Desa Maholo (hari 10, 15 dan 20).

Gambar 4. Fluktuasi rerata populasi keongO.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di fokus Desa Maholo.

b. Hasil Analisis Data Populasi Keong O.h.lindoensissebelum dan sesudah penyebaran itik secara keseluruhan pada tiga desa lokasi penelitian.

Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5. Hasil analisis data uji beda mean populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di Desa Maholo dapat dilihat di Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian tahun 2015

*berdasarkan uji Manova

0 10 20 30 40 50 60 70 80

H0 H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 H15 H20

Populasi Keong

Rerata Populasi keogn O.h.lindoensis selama pengujian Di Fokus Desa Maholo Tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol 4 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah

disebar itik-H20

1.209 0.362

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik berdasarkan daerah fokus

3.076b 0.029

2 Perbedaan populasi keong sebelum dan sesudah disebar itik berdasarkan daerah fokus dan jumlah itik

2.049b 0.070

(35)

16 Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa apabila mempertimbangkan daerah fokus, terdapat perbedaan secara statistik populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian. Apabila analisis dilakukan dengan mempertimbangkan daerah fokus dan jumlah itik yang disebar, maka hasilnya adalah tidak terdapat perbedaan secara statistik populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian.

Gambar 5. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum dan sesudah penyebaran itik di tiga desa lokasi penelitian.

0 20 40 60 80 100 120 140 160

H0 H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 H15 H20

Populasi keong

Rerata populasi keong O.h.lindoensis selama pengujian di tiga desa lokasi penelitian tahun 2015

15 itik 10 itik 5 itik kontrol

(36)

2. Perbandingan populasi keong O.h.lindoensis di daerah yang disebar itik dan tidak disebar itik (kontrol)

Hasil analisis data populasi keong antara daerah fokus yang diintervensi dibandingkan fokus non intervensi, sebelum dan sesudah penyebaran itik hari ke 10,15 dan 20 dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil Uji beda mean populasi keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tidak disebar itik (kontrol) Tahun 2015

*berdasarkan uji Manova

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa hasil uji menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik populasi keong O.h.lindoensis pada daerah fokus yang diintervensi dan non intervensi / daerah kontrol. Dengan kata lain tidak ada perbedaan populasi keong O.h.lindoensis dengan ada atau tidaknya penyebaran itik.

Berdasarkan analisis di atas dapat digunakan sebagai jawaban atas tujuan penelitian yang kedua, yaitu membandingkan populasi keong O.h.lindoensis antara daerah fokus yang diintervensi dengan penyebaran itik dan fokus non intervensi.

No Uraian F* P value*

1 Perbedaan populasi keong diantara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi secara bersama sama pada hari H10

0.647b 0.642

2 Perbedaan populasi keong diantara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi secara bersama sama pada hari H15

0.651b 0.639

3 Perbedaan populasi keong diantara daerah fokus yang disebar itik dengan daerah fokus tanpa intervensi secara bersama sama pada hari H20

1.621 b 0.244

(37)

18 3. Kemampuan itik memakan keong O.h.lindoensis

Untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian ini maka dilakukan uji semi laboratorium, dengan membuat kandang itik di laboratorium yang diberi keong yang jumlah awalnya telah diketahui. Hasil uji tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil pengujian itik Mojosari (Anas platyrhinchos) dengan kondisi terkontrol di laboratorium selama tiga hari.

Perlakuan H0 H1 H2

1 (keong dicampur dalam pakan itik) 300 104 11 2 (keong disebar di lantai kandang) 300 97 0

Uji ini dilakukan sebagai data pendukung untuk pemastian bahwa itik yang dibagi oleh Dinas Peternakan Propinsi selama ini di daerah endemis schistosomiasis memang mau memakan keong. Itik yang digunakan berumur seragam yaitu umur tiga bulan dari jenis itik Mojosari (Anas platyrhinchos).

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa kemampuan itik dalam memakan keong adalah sekitar 50 keong per itik setiap hari. Dari Tabel 6 juga dapat dilihat bahwa keong yang disebar di dasar kandang lebih cepat habis dibandingkan keong yang dicampur dalam pakan itik. Hal tersebut dapat terkait dengan perilaku makan itik yang menyosor, jadi saat itik menyosor untuk minum, keong yang berada di dasar kandang ikut terambil. Berbeda dengan yang dicampur di pakan, keong dapat juga terikut saat itik makan, tetapi itik tidak selamanya makan dalam sehari, sehingga keong masih ditemukan dalam sisa pakan itik (dapat terlihat pada perlakuan 1).

Dengan demikian, keong tersebut hanya termakan oleh itik secara tidak sengaja dan sudah tersedia, bukan itik yang sengaja mencari keong sebagai kebutuhan pakannya.

4. Jumlah itik yang optimal dalam pengendalian keong O.h.lindoensis

Untuk dapat menjawab tujuan penelitian yang keempat, dilakukan analisis Manova dengan pengujian secara individual untuk mengetahui jumlah itik yang optimal dalam pengendalian keong O.h.lindoensis (Tabel 7).

Tabel 7. Pengaruh jumlah penyebaran itik terhadap populasi keong O.h.lindoensis tahun 2015

No Uraian F* P value*

1 Berdasarkan daerah fokus:

Penyebaran 5 ekor itik terhadap populasi keong.

1.436 0.258 Penyebaran 10 ekor itik terhadap 13.840 0.000

(38)

*berdasarkan uji Manova

Analisis dengan mempertimbangkan daerah fokus menunjukkan jumlah penyebaran itik yang menyebabkan perbedaan populasi keong adalah 10 ekor. Hasil yang sama juga diperoleh pada analisis dengan mempertimbangkan daerah fokus dan populasi keong di setiap daerah fokus.

Jumlah penyebaran itik 5 dan 15 ekor ternyata tidak menyebabkan perbedaan populasi keong secara statistik, namum secara kasat mata populasi keong terlihat berfluktuasi selama waktu pengamatan. Berdasarkan analisis tersebut terlihat bahwa jumlah itik yang optimal dalam menurunkan populasi keong adalah sebanyak 10 ekor untuk daerah fokus seluas 12 m2.

populasi keong.

Penyebaran 15 ekor itik terhadap populasi keong.

1.030 0.372 2 Berdasarkan daerah fokus dan

populasi keong:

Penyebaran 5 ekor itik terhadap populasi keong.

0.451 0.837 Penyebaran 10 ekor itik terhadap

populasi keong.

6.341 0.000 Penyebaran 15 ekor itik terhadap

populasi keong.

0.578 0.744

(39)

20 V. PEMBAHASAN

Itik yang dipakai dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis oleh Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah adalah jenis itik Mojosari (Anas platyrhinchos). Umur itik yang digunakan adalah seragam yaitu berumur tiga bulan dengan kondisi sehat.

Pada penelitian ini itik diberi pakan dengan pakan yang terdiri atas jagung dan dedak dengan porsi setengah dari normal, sebanyak dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Pemberian porsi setengah pakan dimaksudkan supaya itik tetap mencari keong O.h.lindoensis sebagai sumber pakan. Pada saat survei keong di daerah fokus yang diintervensi dengan penyebaran itik, terlihat bahwa masih banyak keong dan jagung sisa makanan yang ditemukan di bawah rumput. Hal tersebut menunjukkan bahwa itik tidak mencari keong sampai di bawah rumput, sehingga populasi keong tetap berfluktuasi. Hasil pengamatan di lapangan sejalan dengan analisis statistik secara keseluruhan yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan populasi keong sebelum dan sesudah penyebaran itik.

Analisis data populasi keong O.h.lindoensis yang dilakukan secara terpisah pada setiap fokus menunjukkan bahwa penyebaran itik di Desa Mekarsari menunjukkan perbedaan populasi keong O.h.lindoensis yang signifikan secara statistik, sebelum dan sesudah penyebaran itik. Kondisi aliran air di Desa Mekarsari berbeda dengan aliran air di Desa Maholo, karena terdapat bendungan di bagian hulu saluran air, sehingga aliran air relatif stabil pada saat turun hujan. Aliran air di daerah fokus lokasi penelitian Desa Mekarsari bersubstrat lumpur, sehingga keong tidak terlindung dan bisa terambil saat itik minum air dengan menyosor di aliran air tersebut. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan berdasar kriteria jumlah fokus aktif di daerah fokus Napu, dipilih yang paling banyak, sedang dan rendah.

Hasil analisis di Desa Maholo tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik. Hal tersebut sejalan dengan kondisi di lapangan. Banyak faktor yang terjadi di lapangan yang tidak dapat dikontrol selama penelitian yang dapat mempengaruhi populasi keong. Faktor tersebut antara lain turun hujan yang mempengaruhi debit air di saluran air, sehingga keong dapat terbawa aliran air. Faktor lain adalah rumput yang lebat di plot Desa Maholo, sehingga banyak keong di bawah rumput yang tidak termakan oleh itik.

Kondisi daerah fokus di lokasi penelitian Desa Watumaeta berupa aliran air lambat dengan substrat batu dan lumpur. Daerah fokus di lokasi tersebut merupakan

(40)

rembesan dari mata air yang bersumber dari perbukitan di atasnya. Hal tersebut menyebabkan pada saat turun hujan aliran air menjadi lebih cepat dan keong bisa terbawa aliran air. Keberadaan substrat berbatu dapat menjadi tempat perlindungan keong O.h.lindoensis, terbukti pada saat survei penghitungan keong yang dilakukan setiap hari selama waktu penelitian, keong yang berada di bawah batu tidak berkurang dan tetap berada di tempatnya.

Pada dasarnya itik membutuhkan keong sebagai makanan untuk sumber kalsium, tetapi keong yang dimakan adalah yang berukuran besar, seperti bekicot (Achatina fulica), keong mas (Pilla sp). Tetapi tidak demikian dengan keong O.h.lindoensis, mungkin karena ukurannya terlalu kecil habitatnya yang sulit dijangkau oleh itik misalnya di balik batu, di bawah rumput yang tebal.

Pada penelitian ini juga dilakukan pengamatan populasi keong pada daerah fokus yang tidak disebar itik (daerah kontrol). Populasi keong pada daerah fokus yang tidak disebar itik selama penyebaran itik juga berfluktuasi. Sebagaimana halnya di daerah fokus yang diintervensi dengan penyebaran itik, berbagai faktor yang terjadi di lapangan dapat mempengaruhi populasi keong. Seperti halnya hujan yang turun dapat meningkatkan aliran air sehingga keong terbawa air. Akan tetapi pada penelitan ini tidak dilakukan pengamatan berbagai faktor yang mempengaruhi populasi keong di daerah fokus.

Hasil tersebut diperkuat dengan analisis statistik yang menunjukkan bahwa populasi keong di daerah fokus yang disebar itik tidak berbeda signifikan secara statistik dengan populasi keong di daerah fokus yang tidak disebar itik. Dengan kata lain tidak ada perbedaan yang signifikan populasi keong dengan ada atau tidaknya penyebaran itik.

Berdasarkan uji di laboratorium menunjukkan bahwa keong dimakan oleh itik.

Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Rauf pada tahun 1999 yang menggunakan 75 keong dalam setiap kandang uji. Metode uji laboratorium penelitian ini juga hampir sama dengan penelitian sebelumnya oleh Rauf (1999), dalam hal rancangan yaitu RAL (Rancangan Acak Lengkap). Akan tetapi terdapat beberapa perbedaan, seperti jumlah itik dan keong yang digunakan, waktu penyebaran itik dan penghitungan keong. Jumlah keong pada penelitian tersebut dihitung setelah lima jam itik dimasukkan dalam kandang setiap harinya. Penelitian tersebut menyatakan bahwa itik menunjukkan pengaruh dalam penurunan jumlah keong dalam kandang uji.14

(41)

22 Dari tabel 6 juga dapat dilihat bahwa keong yang disebar di dasar kandang lebih cepat habis dibandingkan keong yang dicampur dalam pakan itik. Hal tersebut dapat terkait dengan perilaku makan itik yang menyosor, jadi pada waktu itik menyosor untuk minum, keong yang berada di dasar kandang ikut terambil. Berbeda dengan yang dicampur di pakan, keong dapat juga terikut saat itik makan, tetapi itik tidak selamanya makan dalam sehari, sehingga keong masih ditemukan dalam sisa pakan itik (dapat terlihat pada perlakuan 1). Dengan demikian, keong tersebut hanya termakan oleh itik secara tidak sengaja dan sudah tersedia, bukan itik yang sengaja mencari keong sebagai kebutuhan pakannya.

Pada penelitian ini juga dilakukan pembedahan saluran pencernaan itik untuk mendapatkan informasi yang memperkuat apakah keong dimakan oleh itik.

Pembedahan dilakukan pada seekor itik dan di saluran pencernaan itik, yaitu tembolok dan usus ditemukan cangkang keong O.h.lindoensis dalam kondisi sudah hancur. Hal tersebut menunjukkan bahwa itik sebenarnya bisa memakan keong, akan tetapi karena ukuran yang terlalu kecil dan habitat keong yang tersembunyi, sehingga keong sulit terambil oleh itik.

Berdasarkan analisis dengan mempertimbangkan variabel populasi keong saja, jumlah penyebaran itik 15 dan 10 ekor menunjukkan perbedaan populasi keong yang signifikan secara statistik (nilai p = 0,000). Analisis dengan mempertimbangkan variabel daerah fokus saja, menunjukkan hasil yang berbeda, yaitu jumlah itik 10 ekor menunjukkan perbedaan populasi keong yang signifikan secara statistik (nilai p

= 0,000). Jumlah itik 5 dan 15 ekor tidak berpengaruh secara statistik terhadap populasi keong. Pada saat analisis dilakukan dengan menggabungkan variabel populasi keong dan daerah fokus, diperoleh hasil bahwa jumlah itik sebanyak 10 ekor menunjukkan perbedaan populasi keong yang signifikan secara statistik (nilai p = 0,000). Jumlah itik 5 dan 15 ekor juga tidak berpengaruh secara statistik terhadap populasi keong. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka jumlah itik 10 ekor optimal untuk menurunkan populasi keong di daerah fokus seluas 12 m2.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin besar jumlah itik belum tentu menimbulkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap populasi keong. Hal ini terbukti dari analisis bahwa Jumlah itik 5 dan 15 ekor tidak berpengaruh secara statistik terhadap populasi keong. Penyebaran itik tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang sama untuk setiap daerah fokus. Penyebaran itik di

(42)

lapangan perlu mempertimbangkan jenis daerah fokus dan populasi keong, bukan hanya jumlah itik saja.

Penelitian terkait penggunaan itik dalam pengendalian keong perantara schistosomiasis diantaranya adalah oleh Chimbary et al., di Brazil pada tahun 2000 yaitu penyebaran itik (Cairina muschata) dengan jumlah 1 dan 2 ekor pada kolam yang berbeda. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara jumlah itik 1 dan 2 ekor pada kolam terhadap penurunan populasi keong.9

Keterbatasan penelitian ini adalah penelitian dilakukan di lapangan sehingga terdapat bias seleksi / selection bias berupa faktor yang tidak bisa dikendalikan.

Faktor tersebut misalnya turun hujan pada saat penelitian sehingga mempengaruhi debit air di saluran air, faktor rumput yang lebat di daerah fokus, serta bebatuan di dasar fokus menyebabkan naik turunnya populasi keong yang disurvei selama waktu pengaatan. Bias seleksi lain adalah tidak dapat mengontrol populasi keong di setiap plot penelitian. Bias lain adalah bias pengukuran atau selection bias yaitu dalam hal pemastian bahwa populasi keong berkurang karena dimakan itik atau faktor lain, seperti terhanyut aliran air saat banjir. Banyaknya bias dalam penelitian ini membuktikan bahwa penyebaran itik harus dievalusi untuk mengendalikan keong perantara schistosomiasis. Hal tersebut juga menyebabkan kurangnya internal validity, sehingga apabila akan dilakukan penelitian seperti ini lagi perlu dilakukan dengan pengontrolan bias yang lebih baik.

Hasil penelitian di lapangan dan uji statistik yang dilakukan dapat menjawab tujuan umum penelitian. Penyebaran itik untuk pengendalian keong O.h.lindoensis menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik pada daerah tertentu saja, atau bersifat lokal spesifik.

Pemilihan lokasi untuk disebar itik disarankan berupa daerah fokus seperti di Desa Mekarsari, yang berupa saluran air dengan bendungan di bagian hulu, dan dasar saluran berupa lumpur tanpa rumput yang menutupi. Pennyebaran itik tidak disarankan dilakukan di daerah fokus berupa saluran air tidak ditumbuhi rumput tebal, atau dengan substrat bebatuan seperti di Desa Maholo dan Watumaeta. Hal tersebut dapat memudahkan itik dalam mengambil keong O.h.lindoensis di daerah fokus.

Pada penelitian ini penyebaran itik menunjukkan hasil yang signifikan di Desa

(43)

24 air, juga karena itik dikandangkan dan dijaga dengan baik. Itik yang disebar di daerah fokus perlu dikandangkan dan dijaga, supaya itik tetap berada di daerah fokus keong dan tidak hilang selama di daerah fokus.

(44)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan:

Penyebaran itik untuk pengendalian keong O.h.lindoensis menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik pada daerah fokus tertentu, yaitu daerah fokus berupa saluran air yang tidak ditumbuhi rumput tebal, atau dengan substrat bebatuan seperti di Desa Mekarsari. Penyebaran itik di daerah fokus dengan rumput yang tebal atau bebatuan tidak efektif dalam pengendalian keong.

Saran:

Pemilihan lokasi untuk disebar itik disarankan yaitu daerah fokus dengan dasar berupa lumpur tanpa rumput yang menutupi, sehingga itik lebih mudah dalam mengambil keong O.h.lindoensis di daerah fokus. Itik yang disebar perlu dikandangkan dan dijaga, supaya itik tetap berada di daerah fokus keong dan tidak hilang selama di daerah fokus.

(45)

26 UCAPAN TERIMAKASIH

Terima kasih sebesar – besarnya kami ucapkan kepada Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Penyakit Bersumber Binatang (Litbang P2B2) Donggala, Bapak Jastal, SKM, M.Si atas izin dan dukungan pembiayaan atas penelitian ini. Terima kasih kami ucapkan kepada Ketua Komisi Etik Badan Litbang Kesehatan (Prof. Dr.

M. Sudomo), Ketua PPI Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat (DR. Ir.

Anies Irawati, M.Kes) dan Reviewer PPI (Prof. Dr. Amrul Munif dan Bapak Suwito) atas masukan, saran, dan bimbingan dalam pelaksaan penelitian ini. Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Ir. Syafruddin MP atas masukan dan bimbingannya.Terima kasih untuk semua anggota tim penelitian itik yang sudah berpanas – panas di tengah fokus di Napu. Terima kasih kepada Pak Kaleb dan rekan – rekan di Laboratorium Schistosomiasis Wuasa, Lore Utara. Terimakasih kepada Bapak Abdul Rauf, SKM dan Bapak Opyn Mananta, M.Epid, atas dukungan dan kerjasamanya dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu penelitian ini sampai dengan selesai.

Donggala, Desember 2015

Ketua Pelaksana,

Anis Nurwidayati, S.Si, M.Sc

NIP.198311212006042001

(46)

DAFTAR PUSTAKA

1. Schistosomiasis Fact Sheet, WHO, 2010. http://www.who.int.

2. Anonim, Prevalensi Schistosomiasis di Sulawesi Tengah. Progam Pemberantasan Schistosomiasis. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah. 2012.

3. Ojewole J.A.O. Indigenous plants and Schistosomiasis Control In South Africa:

Molluscicidal Activity of Some Zulu Medicinal Plants. Boletin Latinoamericano y del Caribe de Plantas Medicinales y Aromaticas, enero. 2004. Vol 3 (2) pp: 8-22.

4. Lemma A, Yau P. Studies on the molluscicidal properties of Endod (Phytolacca dodecandra). II. Comparative toxicity of various molluscicides to fish and snails. Ethiop. Med. J. 1974. 12.pp: 109-113.

5. Kloos H, McCullough FS. Plant Molluscides. Planta Medica. 1982. 46. pp: 195- 209.

6. Farnsworth NR. The Role of of ethnopharmacology in drug development. In: ” Bioactive Compounds from Plants”. Chadwick DJ, marsh J (Eds), John Willey and Sons, Chichesters. 1991. pp: 2-21.

7. Al-Zanbangi NA, Barret J, Banaja AA. laboratory Evaluation of the molluscicidal properties of some Saudi Arabian euphorbiales against Biomphalaria pfeifferi. Acta Tropica. 2001. 78.pp: 23-29.

8. Hostettmann K, Kizu H, Tomimori T. Molluscicidal properties of various saponins. Planta Medica. 1982. 44. pp: 34-35.

9. Chimbari, MJ, Ndela, B. A preliminary assessment of the potential of the Muschovy duck (Cairina maschata) as a biocontrol agent of schistosomiasis intermediate host snails. Journal of Parasitology Research Volume 2012. Available from:http://dx.doi.org/10.1155/2012/353768 10. Souza, Molluscicide Control of Snail Vectors of Schistosomiasis. Mem Inst

Oswaldo Cruz, Rio de Janeiro. Vol. 90(2): 165-168, 1995. Available from: http://www.scielo.br/pdf/mioc/v90n2/vol90%28f2%29_029- 032.pdf.

11. Pointier,JP and Jourdane J. Biological control of the snail hosts of schistosomiasis in areas of low transmission: the example of the Carribean area. Acta Tropica vol 77. 2000. pp: 53-60.

(47)

28 12. Anonim. Petunjuk Teknis Pemberantasan Schistosomiasis. 1989. Sub Direktorat Filariasis dan Schistosomiasis. Direktorat P2B2. Ditjen.PPM &PLP.

Departemen Kesehatan RI. 1989. Hal: 17-18.

(48)

Gambar

Gambar  1.  Keong  Oncomelania  hupensis  lindoensis  (sumber:  Balai  Litbang  P2B2 Donggala)
Gambar 2. Itik Mojosari (Anas platyrhinchos)
Gambar  2.  Fluktuasi  rerata  populasi  keong  O.h.lindoensisdan  sebelum  (H0)  dan  sesudah penyebaran itik di fokus Desa Mekarsari (H1-H20)
Gambar 3. Fluktuasi rerata populasi keong O.h.lindoensis sebelum (H0) dan sesudah  penyebaran itik di fokus Desa Watumaeta (H1-H20)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Bukti pergerakan abu hasil pembakaran ini terlihat dengan meningkatnya BD pada kedalaman 10-20 cm (Gambar 3) Selain itu penurunan kemampuan gambut untuk mengikat

Kelompok hewan dibagi menjadi terinfeksi dan tidak terinfeksi oleh cacing didasarkan pada perhitungan telur cacing per gram tinja (EPG) atau larva cacing per gram tinja

Pada dasarnya masyarakat Sasak tidak mengenal istilah teater, musik, atau tari dalam seni tradisi mereka, misalnya teater Cupak Gerantang hanya disebut Cupak Gerantang

Faktor teknis adalah faktor penyebab banjir perkotaan yang diakibatkan oleh kondisi sungai atau saluran yang sudah tidak memadai lagi, sedimentasi yang terjadi di sungai atau

Dari hasil penelitian Komunikasi dalam pelaksanaan program paket B di Kabupaten Bangka tengah Provinsi kepulauan Bangka belitung melibatkan banyak pihak diantaranya staf

V LM35 = Tegangan yang dihasilkan sensor LM35 (Volt) Suhu = Keterangan intentitas panas (°C).. Secara prinsip sensor akan melakukan penginderaan pada saat perubahan suhu

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun gaharu serta adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun

Berdasarkan hasil wawancara pembahasan mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tugas dan fungsi KUA Kecamatan Mandau dalam Melaksanakan Pelayanan dan Bimbingan