• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

B. Liquid Petroleum Gas (LPG)

4. Posisi dan Daya tampung konsumen

Posisi dan daya tampung konsumen mengindikasikan jarak dan kapasitas konsumen akhir sebagai pengguna produk yang dihasilkan dari pemanfaatan gas flare. Konsumen dapat berupa industri kecil, industri petrokimia, domestik, dll.

2.1.2 Green Engineering

Green Engineering atau green productivity adalah suatu strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan performansi lingkungan secara bersamaan di dalam pembangunan sosial-ekonomi secara menyeluruh (Asian Productivity Organization, 2006).

Green productivity dapat diartikan sebagai produktivitas ramah lingkungan. Konsep green productivity menggabungkan upaya peningkatan produktivitas dan penanganan terhadap dampak lingkungan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Green productivity adalah suatu strategi untuk meningkatkan produktivitas bisnis dan kinerja lingkungan pada saat bersamaan dalam pengembangan sosial ekonomi secara keseluruhan.

Green Engineering atau Green Productivity mempunyai empat tujuan umum dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan dan ekonomi produksi ketika diimplementasikan pada lantai produksi, yaitu:

1. Pengurangan Limbah (Waste Reduction).

2. Manajemen Material (Material Management).

3. Pencegahan Polusi (Pollution Prevention).

4. Peningkatan Nilai Produk (Product Enhancement).

Pendekatan pencegahan polusi berbeda dari pendekatan lingkungan tradisional yang telah dilakukan. Salah satu inti prinsip organisasi untuk pencegahan polusi adalah efisiensi. Tujuan pencegahan polusi adalah untuk meminimalkan penggunaan, optimisasi penggunaan kembali atau daur ulang material berbahaya. Pencegahan polusi tidak diatur dimana batasannya dengan tujuan tunggal mencapai standar kualitas lingkungan. Kemudian, hal tersebut akan meningkatkan kualitas lingkungan dengan memberikan perhatian pada bagaimana material digunakan selama proses manufaktur. Adapun hierarki pencegahan polusi dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Hierarki Pencegahan Polusi (Sumber: Greening the industrial facility, 2004)

Hirarki pencegahan polusi telah digunakan secara luas oleh perusahaan dalam menangani pencegahan polusi. Dasar piramida menunjukkan dampak terkecil pada lingkungan dan puncak piramida menunjukkan dampak terbesar pada lingkungan. Pilihan yang paling sering dipilih yaitu pengurangan terjadinya

RELEASE

RECYCLE

REUSE

REDUCE

waste (reduce). Jika tidak memungkinkan, material harus digunakan (reuse) kembali dalam proses yang sama atau sejenis. Jika penggunaan kembali tidak memungkinkan, maka material harus didaur ulang (recycle). Daur ulang berbeda dengan penggunaan kembali karena daur ulang biasanya disertai perubahan bentuk material yang membutuhkan energi. Bila tidak ada pilihan lain yang cocok, material tersebut harus dibuang atau dilepaskan ke lingkungan sebagai buangan akhir.

2.1.3 Zero Routine Flaring

Zero Routine Flaring diperkenalkan oleh Bank Dunia dengan menyatukan pemerintah, perusahaan minyak, dan lembaga-lembaga pembangunan lainnya untuk bekerja sama secara berkelanjutan menghilangkan aktivitas pembakaran paling lambat tahun 2030. Inisiatif ini dilakukan agar pembakaran rutin tidak melebar dengan alasan keamanan.

Pembakaran gas berkontribusi terhadap perubahan iklim dan dampak lingkungan melalui emisi CO2, karbon hitam dan polutan lainnya. Hal ini juga merupakan limbah sumber daya energi berharga yang masih dapat digunakan untuk memajukan pembangunan berkelanjutan dari negara-negara produsen.

Pemerintah yang mendukung inisiatif Zero Routine Flaring akan memberikan investasi, peraturan, dan lingkungan operasi hukum yang kondusif untuk pengembangan pasar yang layak dalam pemanfaatan gas. Hal ini akan memberikan keyakinan dan insentif bagi perusahaan sebagai dasar investasi dalam solusi penghapusan flare. Pemerintah akan menetapkan penawaran prospek baru

rencana pengembangan lapangan minyak baru dengan menggabungkan pemanfaatan atau konservasi gas berkelanjutan tanpa pembakaran rutin.

Selanjutnya, pemerintah akan melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa pembakaran rutin di ladang minyak berakhir sesegera mungkin sebelum tahun 2030.

Beberapa regulasi yang berkaitan dengan penanganan gas flare menurut Sugito (2011) adalah sebagai berikut:

a. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.129 tahun 2003 yang mengatur tentang baku mutu emisi usaha dan kegiatan minyak dan gas bumi. Kepmen ini menitik beratkan pada upaya monitoring emisi gas yang dihasilkan dari aktivitas produksi minyak dan gas, serta melarang pembakaran limbah gas secara terbuka.

b. Peraturan Pemerintah No.34 tahun 2005 yang mengatur tentang kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. Pada Peraturan Pemerintah tersebut dimuat beberapa kewajiban dari badan usaha hulu minyak dan gas bumi untuk mengelola lingkungan hidup sesuai regulasi yang ada, termasuk pengelolaan gas flare.

c. Undang-Undang No.17 tahun 2004 tentang ratifikasi Kyoto Protocol dalam kaitannya dengan perubahan iklim. Untuk mencapai zero flare tahun 2012 perlu dilakukan pengurangan gas flare sebesar 30-60% per tahun.

d. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.13 tahun 2009 tentang pengaturan baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi kegiatan minyak dan gas bumi. Pada permen ini diatur baku mutu emisi terkait pembakaran gas flare, baik dalam operasi di lapagan maupun pembakaran untuk pembangkit listrik.

Perusahaan minyak yang mendukung inisiatif Zero Routine Flaring akan mengembangkan ladang minyak baru dan beroperasi sesuai dengan menggabungkan pemanfaatan atau konservasi gas berkelanjutan tanpa pembakaran rutin. Lembaga pembangunan yang mendukung inisiatif Zero Routine Flaring akan memfasilitasi kerjasama dan monitoring penggunaan keuangan serta langkah-langkah kebjakan lainnya. Perusahaan minyak yang mendukung inisiatif Zero Routine Flaring akan melaporkan secara terbuka dan kontinu aktivitas pembakaran gas sisa secara tahunan kepada Bank Dunia demi kemajuan program Zero Routine Flaring.

2.1.4 Konsep Tekno Ekonomi

Analisis ekonomi teknik (engineering economic analysis) adalah bagian dari ilmu ekonomi yang diaplikasikan pada proyek-proyek teknik. Digunakan oleh para insinyur untuk mencari solusi terbaik dengan mengukur nilai ekonomi dari setiap alternatif solusi yang potensial. Masalah yang dapat diselesaikan menggunakan analisis ekonomi teknik adalah masalah yang memiliki tiga karakteristik sebagai berikut:

1. Masalah itu cukup penting, dan memerlukan pemikiran dan usaha serius dalam pemecahannya.

2. Masalah tersebut memerlukan analisis secara teliti yang mengorganisasikan setiap elemen masalah dan semua konsekuensi yang mungkin terjadi, dan tidak dapat diselesaikan sekaligus.

3. Masalah itu memiliki aspek ekonomis yang cukup penting sebagai komponen yang mengarahkan analisis pada keputusan.

Alternatif-alternatif timbul karena adanya keterbatasan dari sumber daya (manusia, material, uang, mesin, kesempatan, dll). Dengan berbagai alternatif yang ada tersebut maka diperlukan sebuah perhitungan untuk mendapatkan pilihan yang terbaik secara ekonomi, baik ketika membandingkan berbagai alternatif rancangan, membuat keputusan investasi modal, mengevaluasi kesempatan finansial dan lain sebagainya.

Analisa tekno ekonomi melibatkan pembuatan keputusan terhadap berbagai penggunaan sumber daya yang terbatas. Konsekuensi terhadap hasil keputusan biasanya berdampak jauh ke masa yang akan datang, yang konsekuensinya itu tidak bisa diketahui secara pasti, merupakan pengambilan keputusan dibawah ketidakpastian.

2.1.4.1 Pengertian Studi Kelayakan Proyek Investasi

Studi kelayakan proyek investasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau setidaknya usaha tersebut

dijalankan. Manfaat dilakukannya studi atau analisa kelayakan proyek adalah untuk memfokuskan suatu rencana bisnis yang mempunyai suatu urutan logis yang memungkinkan untuk menjangkau sasaran. Selain itu, manfaat dari studi kelayakan yaitu untuk menghindarkan perusahaan dari penanaman modal yang tidak ekonomis.

Tujuan dilakukannya studi kelayakan sebelum mendirikan suatu usaha atau proyek yaitu:

1. Menghindari resiko kerugian di masa yang akan datang karena masa yang akan datang adalah kondisi yang tidak pasti.

2. Memudahkan pelaksanaan pekerjaan, rencana yang sudah disusun dijadikan acuan dalam mengerjakan setiap tahap yang sudah direncanakan.

3. Memudahkan pengawasan agar jalannya usaha tidak keluar dari rencana yang sudah disusun.

4. Memudahkan dalam pengendalian tujuan dengan mengembalikan pelaksanaan pekerjaan yang melenceng ke arah sesuai rencana sehingga tujuan perusahaan bisa tercapai.

2.1.4.2 Kriteria Kelayakan Investasi

Dalam analisis proyek ada beberapa kriteria yang sering dipakai untuk menentukan diterima atau tidaknya suatu usulan proyek, atau untuk menentukan pilihan antara berbagai macam usulan proyek. Beberapa kriteria tersebut adalah:

Dokumen terkait