• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISA DATA

III.I.II Posisi SBMI dalam Depeda Sumut

Sejak dikeluarkannya Permenaker No 17 tahun 2005 maka mekanisme pentapan upah buruh tidal lagi seperti sebelumnya yang hanya memakai komponen KHM ( Komponen Hidup Minimum ). Mekanisme baru tersebut adalah komponen KHL ( Kebutuhan Hidup Layak ) yang dihitung oleh Depeda. Hasil jumlah dari KHL tersebutlah yang akan menjadi usulan UMP di tingkatan propinsi.

Permenaker No 17 Tahun 2005 tersebut juga telah menjadi sebuah acuan baru dalam hal pengupahan yaitu penentuan upah tidak lagi melibatkan kalangan internal Perusahaan saja tetapi telah membentuk sebuah mekanisme yang mengikutsertakan pihak buruh dalam pengupahan. Keberadaan stake holder dalam proses penentuan UMP disatukan dalam sebuah lembaga baru yang khusus membidangi masalah pengupahan, yaitu Depeda ( Dewan pengupahan Daerah ). Melalui Depeda inilah pihak buruh dikutsertakan dalam proses penetapan UMP, walaupun masalah keterbatasan peranan pihak buruh dalam Depeda adalah salah satu hal yang diragukan oleh pihak buruh sendiri.

Kehadiran lembaga Depeda dalam setiap propinsi telah melibatkan beberapa unsur didalamnya, yaitu Pengusaha melalui Apindo ( asosiasi Pengusaha Indonesia ), Pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Perguruan Tinggi dan pihak buruh melalui Serikat Buruh yang ada. Masing-masing unsur tersebutlah yang bekerja dalam setiap tahapan penentuan UMP. Walaupun pihak buruh terlibat dalam Depeda, peranan unsur buruh selalu dibatasi. Hal ini dapat dilihat dari jumlah komposisi anggota yang mewakali masing-masing unsur. Pihak buruh adalah jumlah anggota yang paling sedikit dalam setiap lembaga Depeda. Ketika sebuah keputusan diambil maka pihak buruh juga selalu kalah karena menggunakan mekanisme voting.

Depeda Propinsi Sumatera Utara misalnya mempunyai anggota yang melibatkan unsur buruh, yaitu ada SBSU dan SBMI sendiri. Sejak awal dibentuknya Depeda Sumut ini memang telah menimbulkan sikap pesimis dari pihak buruh. Pihak buruh beranggapan bahwa Depeda ini bukanlah sebuah alternatif dalam penyelesaian UMP dalam setiap propinsi. Karena arah dan manajemen dari Depeda tersebut masih dikontrol oleh Pemerintah yang tidak tertutup peluang akan melakukan lobi-lobi dengan Pihak Pengusaha. Banyak Serikat Buruh di Sumatera Utara juga masih memilih jalan mobilisasi aksi dalam menyampaikan tuntutan UMP kepada Pemerintah Propinsi. Sehingga walaupun pihak buruh melibatkan diri dalam lembaga Depeda mereka merasa bahwa aspirasi mereka tidak dapat diperjuangkan didalam.

SBMI ( Serikat Buruh Medan Independen ) adalah salah satu serikat buruh yang terlibat dalam Depeda sumut. Walaupun SBMI melibatkan diri dalam lembaga Depeda, SBMI bukanlah memberikan harapan kepada Depeda tersebut. Karena sejak awal dibentuknya lembaga Depeda Sumut, SBMI sudah pesimis akan kinerja Depeda kedepan dalam proses penentuan UMP. Tetapi karena Depeda Sumut masih diketuai oleh Pemerintah ( Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi ), SBMI berpendapat bahwa salah kontribusi yang didapat dari Depeda adalah hanya sebatas informasi dan cara kerja penetapan UMP. Dengan terlibatnya SBMI dalam Depeda maka banyak informasi yang mereka dapatkan tentang agenda kerja proses pengupahan, misalnya tentang tata cara melakukan survey KHL di setiap Kabupaten/Kota.

Baginda Harahap mengungkapkan :

Memang sejak awal dibentuknya Depeda Sumut dan

walaupun mengikutsertakan kaum buruh didalam, kita tidak pernah percaya akan kerja-kerja yang dilakukan oleh Depeda ini. Sulit bagi

buruh sendiri untuk berjuang lewat Depeda, karena komposisi didalamnya juga sebenarnya sudah menunjukkan keberpihaannya kepada Pengusaha lewat mekanisme voting yang selalu diadakan dalam mengambil keputusan. Hal inilah yang selalu membuat posisi buruh sulit dalam Depeda, dan belum lagi adanya lobi-lobi yang dilakukan dalam Depeda Sumut. Tetapi yang kita dapat hanyalah sebatas informasi lewat rapat-rapat yang dilakukan dalam Depeda. Yaitu tentang bagimana sebenarnya mekanisme yang dilakukan oleh Depeda dalam proses penetapan UMP Sumut.29

Keterlibatan SBMI dalam lembaga Depeda Sumut adalah dimulai pada tahun 2005 sampai dengan akhir tahun 2007. Ketika pertama kali SBMI terlibat dalam Depeda mereka tidak mewakilkannya kepada anggota/Pengurus SBMI sendiri, tetapi masih mengunakan tenaga ahli dari KPS ( Kelompok pelita Sejahtera ) sebagai mitra kerja dari SBMI, yaitu Tua Hasiholan Hutabarat yang juga sebagai Koordinator Divisi Riset dan Pengembangan KPS. Masuknya Tua H. Hutabarat sebagai anggota Depeda Sumut mewakili SBMI pada waktu itu bukan karena kamauan dari SBMI sendiri, tetapi persyaratan untuk menjadi anggota Depeda pada waktu itu tidaklah memungkinkan bagi anggota/pengurus SBMI untuk menjadi anggota Depeda Sumut. Persyaratan yang tidak bisa dipenuhi tersebut adalah tingkat pendidikan minimal D III. Anggota SBMI belum ada yang memiliki tingkat pendidikan minimal D III, sehingga masuklah Tua H. Hutabarat dari KPS menjadi anggota Depeda yang kebetulan juga sudah memiliki tingkat pendidikan Strata Dua. Masuknya Tua H. hutabarat pada waktu itu juga dengan adanya asumsi dari SBMI sendiri bahwa untuk mengikuti kinerja teknis di Depeda Sumut SBMI sendiri belumlah siap secara SDM yang ada.

Ketika lembaga Depeda Sumut sudah terbentuk dengan jumlah anggota yang sudah pas, maka untuk tahap berikutnya adalah melakukan kerja-kerja yang pada intinya adalah bagaimana nantinya memberikan usulan UMP kepada Pemerintah. Survey KHL adalah adalah kerja yang harus dilakaksanakan oleh Depeda Sumut sebelum akhir tahun. Melalui hasil survey KHL tersebutlah nantinya akan ditentukan dalam rapat-rapat di Depeda Sumut berapa jumlah usulan UMP yang akan direkomendasikan kepada Pemerintah Propinsi. Kinerja yang dilakukan oleh Depeda Sumut dalam proses penetapan UMP adalah harus mengikuti ketentuan dalam Permenaker No 17 tahun 2005 yang mengharuskan penetapan UMP berdasarkan besarnya jumlah komponen KHL ( Kebutuhan Hidup Layak ) seorang buruh setiap bulan. Sehingga ketika para buruh tidak menyetujui ususlan UMP dari Depeda maka Survey KHL yang dilakukan Oleh Depeda Sumut adalah diragukan oleh buruh sendiri tentang kevalidan datanya.

Depeda Sumut dalam menjalankan kinerjanya yang terdiri dari berbagai unsur anggota didalamnya ternyata menurut para buruh sendiri mempunyai dinamika didalamnya. Dinamika yang terjadi dalam Depeda Sumut tersebut menurut para buruh adalah seolah-olah tidak terlibatnya wakil dari buruh didalam Depeda. Hal tersebut terungkap dari kinerja rutin Depeda, misalnya dalam rapat-rapat yang dilaksanakan, para anggota Depeda tidak menjalankan komunikasi yang baik kepada anggota Depeda Sumut yang mewakili unsur buruh. Anggota Depeda Sumut diluar dari unsur buruh cenderung menjauhi anggota dari serikat buruh, terutama bagi serikat buruh yang kritis.

Sikap eksklusif sering ditunjukkan oleh anggota Depeda yang diluar unsur buruh. Hal ini juga mengindikasikan bahwa kinerja dari lembaga Depeda Sumut yang tidak demokratis. Bagaimana mungkin keputusan yang dihasilkan adalah hasil sebuah

kesepakatan yang baik ketika komunikasi tidak berjalan lancar antara sesama anggota Depeda Sumut. Adanya ketidaksepahaman tentang bagaimana UMP yang layak bagi buruh telah menimbulkan faksi sendiri dalam lembaga Depeda sumut. Faksi yang selalu menuntut UMP yang layak bagi buruh adalah hanya serikat buruh yang kritis terhadap Depeda, termaksud adalah SBMI. Faksi lainnya adalah yang sepakat dengan pihak pengusaha, yaitu Apindo, Pemerintah dan bahkan serikat buruh juga ada.

Banyaknya Serikat Buruh yang pesimis terhadap kinerja Depeda sumut ini dapat juga dilihat dari mekanisme kerja didalamnya yang selalu dalam setiap menetapkan keputusan penting melewati jalan voting. Ketika voting dilaksanakan maka posisi SBMI sendiri didalam menjadi sebuah dilema. Ketidakmampuan SBMI dalam menjalankan aspirasi buruh terletak dalam kekalahan voting. Hal tersebutlah yang selalu terjadi dalam lembaga Depeda Sumut setiap menetapkan keputusan penting.

Sikap Pemerintah yang dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja selaku Ketua Depeda Sumut cenderung berpihak kepada kepentingan Pengusaha. Walaupun terkadang paham bagaimana kondisi buruh yang sebenarnya, namun keberpihakan Pemerintah kepada Pengusaha selalu dengan asumsi bahwa Pemerintah juga harus memperhatikan kondisi dunia usaha dan perkembangan ekonomi. Asumsi tersebut selalu menjadi alasan Pemerintah dalam menetapkan UMP Sumut setiap tahunnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja Depeda Sumut sesungguhnya menurut para buruh sendiri cenderung berpihak kepada kepentingan Pengusaha. Perjuangan SBMI didalam Depeda Sumut untuk memperjuangkan UMP yang layak setiap tahunnya tidak lah dapat berjalan secara maksimal.

Salah satu hal yang diperjuangkan SBMI dalam Depeda Sumut adalah menjalankan survey KHL secara tepat, karena melalui jumlah KHL inilah nantinya akan didapat jumlah UMP bagi buruh. Peluang untuk mendapatkan UMP yang layak menurut SBMI sendiri adalah dengan mendapatkan data survey KHL yang valid dan juga harus sesuai dengan kebutuhan buruh. Tetapi dalam menjalankan survey KHL di setiap wilayah Kabupaten/Kota kinerja Depeda Sumut sendiri juga masih jauh dari harapan buruh. Survey KHL yang dilakukan oleh Depeda cenderung asal-asalan sehingga hal inilah yang mendorong para buruh untuk melakukan survey KHL tandingan. Survey KHL tandingan pernah dilakukan oleh SBMI bersama dengan KPS dan SBSU tahun 2005. Hasil Survey KHL tandingan tersebut ternyata berbeda dengan yang dilakukan oleh lembaga Depeda sendiri. Perbedaan KHL antara buruh dengan Depeda juga disebabkan oleh tidak adanya parameter yang jelas dalam menentukan komponen KHL ( Kebutuhan Hidup layak ). Survey KHL yang sah yang diusulkan kepada Pemerintah adalah data dari Depeda Sumut. Sehingga valid tidaknya data KHL yang didapatkan oleh Depeda adalah sangat berdampak kepada buruh sendiri .

Selama ini, data KHL yang didapat oleh Depeda Sumut yang kemudian disepakati untuk diusulkan kepada Pemerintah selalu lebih rendah dan cenderung tidak sesuai dengan kebutuhan buruh setiap bulannya. Besarnya jumlah KHL yang didapat oleh Depeda ini tergantung dari bagaimana Depeda melakukan survey KHL dalam setiap wilayah Kabupaten/Kota. Rendanya data KHL yang didapat oleh Depeda Sumut ini juga selalu dengan asumsi bahwa dalam menghitung komponen KHL harus mempertimbangkan kondisi ekonomi yang dalam hal ini adalah tingkat Inflasi dalam

wilayah Sumatera Utara. Adanya asumsi tersebut juga selalu membuat posisi SBMI dalam Depeda Sumut tidak bisa berbuat apa-apa bagi perjuangan buruh.

Banyaknya mekanisme dan keputusan yang tidak bulat dalam Depeda Sumut telah menimbulkan sebuah dinamika dalam lembaga Depeda Sumut sendiri. Dinamika yang terjadi dalam Depeda Sumut tersebut tak jarang juga membuat posisi kaum buruh khususnya bagi SBMI sulit untuk berjuang melalui Depeda Sumut.30 Disatu sisi SBMI selalu berharap UMP sesuai dengan tuntutan mereka melalui data KHL yang diperoleh Depeda Sumut, tetapi pada sisi lain penentuan usulan UMP selalu diputuskan lewat mekanisme voting yang tentu saja membuat posisi SBMI dalam Depeda Sumut tidak bisa berharap lagi dalam mendapatkan UMP yang layak bagi mereka. Sehingga peranan SBMI dalam proses menentukan kebijakan UMP Sumut adalah cenderung tidak ada. Karena setiap tahapan dalam proses penetapan kebijakan UMP masih didominasi oleh Pemerintah dan pihak Pengusaha sendiri. SBMI sendiri hanya bisa membangun isu dalam tataran buruh melalui aksi yang dilakukan kepada pihak pemerintah.

Pada tahun 2005 misalnya UMP Sumut adalah Rp. 600.000. Keputusan UMP tersebut ditetapkan oleh Pemerintah dengan asumsi sudah sesuai dengan usulan Depeda Sumut dan juga telah mempertimbangkan kondisi dunia usaha di Sumatera Utara. Walaupun UMP tersebut sudah ditetapkan berdasarkan usulan Depeda Sumut, namun tetap saja UMP yang ditetapkan sebesar Rp. 600.000 masih jauh dari harapan pihak buruh yang menginginkan UMP Sumut sebesar Rp. 1.000.000. Perbedaan usulan UMP tersebut juga disebabkan oleh adanya perbedaan dalam data KHL yang didapat oleh Depeda Sumut dengan pihak buruh sendiri.

30Diperoleh dari tabloid protes, dalam kolom oponi “Dilema keterlibatan serikat buruh kritis dalam dewan pengupahan daerah” oleh Tua H Hutabarat.

Posisi SBMI dalam Depeda Sumut selalu tidak bisa berbuat apa-apa bagi memperjuangkan tuntutan buruh. Hal ini jelas terlihat dari selama SBMI terlibat dalam Depeda Sumut, yaitu UMP Sumut selama tahun 2005 sampai dengan 2007 ternyata tidak pernah sesuai dengan tuntutan kaum buruh. Hal tersebut sebenarnya sudah jauh disadari oleh SBMI sendiri bahwa lembaga Depeda Sumut tidak dapat menjawab tuntutan kaum buruh dalam menetapkan UMP setiap tahunnya. Sehinga perjuangan SBMI untuk menuntut UMP yang layak lebih banyak dilakukan diluar lembaga Depeda Sumut. Kontribusi yang didapat hanyalah sebatas informasi tentang pengupahan karena posisi SBMI dalam Depeda Sumut cenderung tidak dapat memperjuangkan kaum buruh.

Dokumen terkait