• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3.2. Postur Kerja

Postur kerja operator sangat mempengaruhi tingkat produktivitas dan kinerja yang dihasilkan oleh seorang pekerja. Konsep-konsep ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja dapat membantu untuk mendapatkan postur kerja yang baik dan nyaman bagi pekerja seperti postur kerja pada saat berdiri, duduk, mengangkat dan menurunkan barang serta postur kerja lainnya. Beberapa pekerjaan akan memerlukan postur kerja tertentu yang terkadang tidak nyaman. Kondisi kerja ini memaksa pekerja selalu berada pada postur kerja yang tidak alami dan berlangsung lama. Hal ini menyebabkan keluhan sakit pada tubuh, cacat produk bahkan cacat tubuh serta bisa menyebabkan kematian. Misalnya pekerjaan kuli panggul yang setiap saat mengangkat barang-barang, kondisi pekerjaan seperti ini tidak alami karena selain menimbulkan kelelahan pada saat bekerja juga dapat menyebabkan tubuh akan merasa sakit. Untuk menghindari sikap dan posisi kerja yang kurang mengenakkan ini pertimbangan-pertimbangan eregonomis antara lain menyarankan hal-hal sebagai berikut :

4

Sritomo, W., 1995. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu (Surabaya : Penerbit PT. Guna Widya) Edisi Pertama, hal. 76-77.

1. Mengurangi keharusan operator untuk bekerja dengan postur kerja membungkuk dengan frekuensi kegiatan yang sering atau dalam jangka waktu yang lama.

2. Operator seharusnya tidak menggunakan jarak jangkauan maksimum. Pengaturan postur kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkauan normal (konsep/prinsip ekonomi gerakan). Dalam hal-hal tertentu operator harus mampu dan cukup leluasa mengatur tubuhnya agar memperoleh postur kerja yang leluasa dalam gerakan. Untuk hal-hal tertentu operator harus mampu dan cukup leluasa mengatur tubuh agar memperoleh sikap dan posisi kerja yang nyaman.

3. Operator tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja dalam waktu yang lama dengan kepala, leher, dada atau kaki berada pada postur kerja yang miring. Demikian pula sedapat mungkin menghindari cara kerja yang memaksa operator harus bekerja dengan posisi telentang dan tengkurap.

4. Operator tidak seharusnya dipaksa bekerja dalam frekuensi atau periode dalam waktu yang lama dengan tangan atau lengan berada dalam posisi di atas level siku yang normal.

Penetapan sikap dan posisi kerja sesuai dengan Sedangkan pertimbangan- pertimbangan tersebut di atas pada dasarnya bertujuan memberikan kenyamanan pada pekerja dengan memperlihatkan sikap dan posisi bekerja yang di EANSE.

Postur kerja duduk memerlukan lebih sedikit energi dari pada berdiri, karena hal ini dapat mengurangi banyaknya otot statis pada kaki. Operator yang bekerja dalam postur kerja duduk memerlukan sedikit istirahat. Berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Sikap berdiri lebih melelahkan daripada duduk dan energi yang dikeluarkan lebih banyak 10-15% dibandingkan bekerja duduk.

3.3. Musculoskletal5

1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan.

Keluhan musculoskletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam waktu yang lama akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi. Keluhan dan kerusakan inilah yang dinamakan dengan keluhan musculosletal disorders (MSDS) atau keluhan pada sistem musculosletal. Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:

5

Tarwaka , dkk, Ergonomi Untuk Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Produktivitas, Surakarta, 2004, hal. 117.

2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut.

Keluhan otot skeletal pada umumnya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan akibat pemberian beban kerja yang terlalu berat dengan durasi pembebanan yang panjang. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal.

a. Peregangan Otot yang Berlebihan

Peregangan otot yang berlebihan (over exertion) pada umumnya sering dikeluhkan oleh para pekerja di mana aktivitas kerjanya menuntut pengarahan tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, dan menahan beban yang berat. Peregangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengerahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan, maka dapat mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan terjadinya cedera otot skeletal.

b. Aktivitas Berulang

Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu besar, angkat-angkat dan sebagainya. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secar terus-menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi.

c. Sikap Kerja Tidak Alamiah

Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat dan sebagainya. Semakin jauh posisi bagian tubuh dari pusat gravitasi tubuh, maka semakin tinggi pula resiko terjadinya keluhan otot skeletal. Sikap kerja alamiah ini pada umumnya karena karakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan stasiun kerja tidak sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan pekerja.

Sikap kerja tidak alamiah ini lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya kesesuaian antara dimensi alat dan stasiun kerja dengan ukuran tubuh pekerja. Sebagai negara berkembang sampai saat ini Indonesia masih tergantung pada perkembangan teknologi negara-negara maju, khususnya dalam pengadaan peralatan industri. Mengingat bahwa dimensi peralatan tersebut didesain tidak berdasarkan ukuran tubuh orang Indonesia, maka pada saat pekerja orang Indonesia harus mengoperasikan peralatan tersebut, terjadilah sikap kerja tidak alamiah. Hal tersebut disebabkan karena negara pengekspor di dalam mendesain

mesin-mesin tersebut hanya didasarkan anthropometri dari populasi pekerja negara yang bersangkutan, yang pada kenyataannya ukuran tubuhnya lebih besar dari pekerja kita. Sudah dapat dipastikan, bahwa kondisi tersebut akan menyebabkan sikap paksa pada waktu pekerja mengoperasikan mesin. Apabila hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama, maka akan terjadi akumulasi keluhan yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya cedera otot.

3.4. Kelelahan6

Istilah Anthropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Jadi Anthropometri adalah kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia ukuran, volume, dan berat) dan penerapan dari data tersebut untuk perancangan fasilitas/produk. Secara defenitif anthropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran, berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lain. Data

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada dasarnya kelelahan menggambarkan tiga fenomena yaitu perasaan lelah, perubahan fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja. Kelelahan merupakan suatu pertanda yang bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah melewati batas maksimal kemampuannya. Kelelahan pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang mudah dipulihkan dengan beristirahat. Tetapi jika dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja.

3.5. Anthropometri

6

Tarwaka , dkk, Ergonomi Untuk Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Produktivitas, Surakarta, 2004, hal. 107.

anthropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :

1. Perancangan area kerja. 2. Perancangan peralatan kerja. 3. Perancangan produk-produk. 4. perancangan lingkungan kerja fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikannya/menggunakan produk tersebut.

Anthropometri terbagi 2 bagian yaitu :

1. Anthropometri Statis, yaitu pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi dibakukan.

2. Anthropometri Dinamis, yaitu pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan pekerjaannya.

Dokumen terkait