• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi dan Peluang Pengembangan Perikanan Tangkap

Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun diversitas. Berdasarkan hasil kajian Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan pada tahun 1998, yang kemudian dikukuhkan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/99 tentang Potensi Sumberdaya Ikan dan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB), potensi sumberdaya ikan di Perairan Indonesia adalah sebesar 6,258 juta ton pertahun, dengan rincian 4,400 juta ton pertahun berasal dari perairan territorial dan perairan wilayah, serta 1,858 juta ton pertahun dari

13

perairan ZEEI. Karena manajemen perikanan menganut azas kehatian-hatian (precautionary approach), maka JTB (Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan) ditetapkan sebesar 80% dari potensi tersebut atau sebesar 5,006 juta ton pertahun, dengan rincian 3,519 juta ton pertahun berasal dari perairan territorial dan perairan wilayah serta 1,487 juta ton pertahun dari perairan ZEEI. Pada Tabel 5,

disajikan data Potensi dan JTB menurut kelompok SDI

(Ditjen Perikanan

Tangkap, 2004).

Tabel 5. Potensi dan JTB menurut kelompok SDI, berdasarkan Kepmen Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/99

Satuan : Ribu Ton/Tahun

No Kelompok SDI Potensi JTB

1. Ikan Pelagis Besar 1.053,5 842,8

2. Ikan Pelagis Kecil 3.253,8 2.588,7

3. Ikan Demersal 1.786,4 1.429,1

4. Ikan Karang 76,0 60,7

5. Udang Penaeid 73,8 58,9

No Kelompok SDI Potensi JTB

6. Lobster 4,8 3,8

7. Cumi-Cumi 28,3 22,7

Jumlah 6.258,6 5.006,7

Sumber :

Departemen Pertanian, 1999

Dari Tabel 5 di atas terlihat bahwa kelompok SDI yang potensinya paling besar adalah ikan pelagiskecil, yakni kelompok ikan yang hidup pada kolom air dan permukaan serta secara fisik berukuran kecil. Contoh jenis ikan yang termasuk dalam kelompok ini adalah ikan kembung, alu-alu, layang, selar, tetengkek, daun bambu, sunglir, julung-julung, teri, japuh, tembang, lemuru, parang-parang, terubuk, ikan terbang, belanak, dan kacang-kacang. Kedua adalah

ikan demersal, yaitu kelompok ikan yang hidup di dasar perairan dan terdiri atas spesies antara lain : sebelah, lidah, nomei, peperek, manyung, beloso, biji nangka, kurisi, swanggi, gulamah, bawal, layur, senangin/kuro, lencam, kakap merah, kakap putih, pari, sembilang, buntal landak, kuwe, gerot-gerot, bulu ayam, kerong-kerong, payus, etelis, dan remang. Ketiga adalah ikan pelagis besar,

yakni kelompok ikan yang hidup pada kolom air dan permukaan serta secara fisik berukuran besar, yang terdiri atas spesies antara lain : tuna mata besar, madidihang, albakora, tuna strip biru selatan, cakalang, tongkol, setuhuk/marlin,

karang, yaitu kelompok ikan yang hidup di sekitar perairan karang, yang terdiri atas spesies antara lain : ekor kuning, pisang-pisang, kerapu, baronang, kakak tua, napoleon, dan kerondong (morai). Kelima adalah udang penaid, yaitu kelompok udang yang terdiri atas spesies antara lain : penaeid, kepiting, rajungan, rebon dan udang kipas. Berikutnya atau yang potensinya paling kecil adalah kelompok

cumi-cumi dan lobster

(Ditjen Perikanan Tangkap, 2005).

Pemanfaatan sumberdaya hayati laut khususnya bidang perikanan tangkap bertujuan untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya tanpa merusak kelestarian sumberdaya ikan dengan biaya operasi yang serendah mungkin (Grofit, 1980).

Setiadi (2003) menyatakan bahwa secara vertikal nilai densitas ikan pelagis kecil (ikan/1000 m3) pada setiap strata kedalaman kecenderungannya semakin menurun dengan bertambahnya kedalaman. Dari hasil kajian di Pulau Belitung, ikan paling banyak terdeteksi pada strata kedalaman 5-13 meter. Secara horizontal, ikan pelagis kecil lebih banyak terdeteksi pada sebelah barat dan timur dari perairan utara Pulau Belitung dengan kecenderungan lebih dominan ditemukan di perairan sebelah timur.

Daerah perkiraan produktivitas tinggi dan sedang ikan pelagis spesies layang dan tongkol di Laut Cina Selatan cenderung tersebar pada perairan bagian utara (di atas 0O) Laut Cina Selatan dan jauh dari perairan pantai, sedangkan daerah perkiraan produktivitas tinggi dan sedang spesies selar di Laut China selatan cenderung tersebar pada perairan pantai dan di bagian selatan (di bawah 0O) perairan Laut Cina Selatan (Almuas dan Jaya, 2003).

Pemanfaatan sumberdaya perikanan tidak merata untuk setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan, bahkan di beberapa wilayah pengelolaan telah terjadi over fishing seperti di Perairan Selat Malaka (176,29 %), Laut Jawa dan Selat Sunda (171,72 %) serta Laut Banda (102,74 %). Tingkat pemanfaatan di wilayah pengelolaan lainnya berturut-turut adalah Laut Flores dan Selat Makassar sebesar 88,12 %, Samudera Hindia 72,41 %, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik 46,84 %, Laut Natuna dan Cina Selatan 44,92 %, Laut Arafura 42,67 % dan Laut

15

Maluku, Teluk Tomini dan Seram 41,83 %. Adapun Tingkat Pemanfaatan menurut Kelompok sumberdaya ikan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan No Kelompok SDI Potensi (Ton/Th) JTB (Ton/Th) Produksi (Ton) Tingkat Pemanfaatan (%)

1 Ikan Pelagis Besar 1.165.360 932.288 736.170 78,97

2 Ikan Pelagis Kecil 3.605.660 2.884.528 1.784.330 61,86

3 Ikan Demersal 1.365.090 1.092.072 1.085.500 99,40 4 Ikan Karang 145.250 116.200 156.890 135,02 5 Udang Penaeid 94.800 75.840 259.940 342,75 6 Lobster 4.800 3.840 4.080 106,25 7 Cumi-Cumi 28.250 22.600 42.510 188,10 Jumlah 6.409.210 5.127.368 4.069.420 79,37 Sumber : BRKP – DKP (2001)

Dari data tingkat pemanfaatan sebagaimana pada Tabel 6, bahwa peluang pengembangan masih dapat dilakukan di Wilayah Pengelolaan Perikanan : - Laut Cina Selatan dan Natuna untuk SDI pelagis besar, pelagis kecil dan

demersal;

- Laut Flores dan Selat Makasar untuk SDI pelagis besar dan pelagis kecil; - Laut Banda untuk SDI pelagis besar;

- Laut Maluku, Teluk Tomini dan Laut Seram untuk SDI pelagis besar, pelagis kecil dan demersal;

- WPP Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik untuk SDI pelagis kecil dan

demersal;

- Laut arafura untuk SDI pelagis kecil;

- Samudera Hindia untuk SDI pelagis kecil dan pelagis besar.

Demikian pula dari sisi permintaaan atau demand side, potensi dan peluang pasar hasil laut dan ikan relatif baik. Pada tahun 1994, impor dunia hasil perikanan sekitar 52.493 juta ton. Indonesia termasuk peringkat ke-8 dalam produksi ikan (peringkat ke-5 untuk udang, dan peringkat ke-2 untuk tuna); peringkat ke-9 untuk ekspor ikan (peringkat ke-4 untuk udang, dan peringkat ke-1 untuk tuna). Permintaan ikan tahun 2010, diperkirakan akan mencapai 105 juta ton. Potensi pasar dalam negeri juga relatif masih baik; total konsumsi ikan dalam

21,71 kg/kap/tahun. Sementara itu konsumsi ikan yang direkomendasikan dalam Lokakarya Nasional Widya Karya Pangan dan Gizi untuk mencukupi kebutuhan gizi sekitar 26,55 kg/kap/tahun. Jadi masih jauh dari yang direkomendasikan (Pusat Riset Perikanan Tangkap, 2001).

Pemanfaatan sumberdaya pelagis kecil salah satunya adalah dengan menggunakan alat tangkap bagan rambo yang merupakan perkembangan terakhir dari bagan apung di Indonesia. Jumlah tangkapan dan keragaman spesies dengan menggunakan bagan rambo pada bulan terang dan bulan gelap menunjukkan perbedaan yang signifikan (Baskoro, et.al., 2002).

Untuk mengefektifkan penangkapan ikan pelagis besar nelayan sekarang cenderung untuk menggunakan rumpon sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan agar lebih mudah, efektif dan lebih efisien. Dalam pengoperasian pole and line dan tonda di sekitar rumpon perlu diperhatikan mengenai pola waktu makan ikan dan jenis umpan yang disenangi cakalang. Sedangkan dalam pengoperasian purse seine, drift gill net perlu memperhatikan faktor jalar ruaya dan tingkah laku schooling cakalang terhadap rumpon (Simbolon, 2004).

Dokumen terkait