Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan agregat nilai tambah aktivitas perekonomian di suatu wilayah selama waktu tertentu. Angka PDRB yang dibagi dengan jumlah penduduk menghasilkan nilai PDRB per kapita. Indikator ini sering digunakan sebagai salah satu ukuran untuk melihat taraf hidup atau tingkat kemakmuran suatu daerah atau negara. Akan tetapi, banyak kritik yang menyatakan PDRB per kapita belum sepenuhnya dapat mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. PDRB per kapita hanya merupakan suatu agregat yang belum tentu dinikmati secara merata oleh seluruh penduduk dalam suatu wilayah. Bahkan tidak menutup kemungkinan pendapatan tersebut sama sekali tidak dinikmati oleh penduduk, karena nilai tambah yang tercipta tersebut langsung ditransfer ke wilayah lain. Hal itu mungkin terjadi jika faktor-faktor produksi dikuasai oleh orang/lembaga yang bukan berasal dari daerah bersangkutan.
4.1 Struktur Ekonomi
PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Gunungkidul dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend yang semakin meningkat, dari 8.848,04 milyar rupiah pada tahun 2010 hingga mencapai 12.715,58 milyar rupiah pada tahun 2014. Namun demikian, angka tersebut belum menggambarkan kondisi riil perkembangan perekonomian, karena masih dipengaruhi oleh faktor inflasi/perubahan harga. Nilai PDRB atas dasar harga konstan 2010 sebagai nilai PDRB yang sudah menghilangkan pengaruh inflasi Kabupaten Gunungkidul pada periode yang sama juga menunjukkan trend yang semakin meningkat, dari 8.848,04 milyar rupiah pada tahun 2010 menjadi 10.639,47 milyar rupiah pada tahun 2014. Nilai PDRB inilah yang menunjukkan perkembangan riil kinerja perekonomian Kabupaten Gunungkidul selama periode tersebut.
Struktur perekonomian sebagian masyarakat Gunungkidul masih didominasi kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Sumbangan kategori ini masih mencapai lebih dari seperempat nilai PDRB. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir sumbangan kategori ini semakin kecil. Sumbangan masing-masing kategori pada 2014 ini masih dipimpin oleh kategori tersebut, diikuti oleh kategori konstruksi; kategori industri pengolahan; kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib serta kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Kategori lain yang menyumbang lebih dari 5 persen adalah kategori transportasi dan pergudangan;
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 25
kategori penyediaan akomodasi dan makan minum, kategori informasi komunikasi, serta kategori jasa pendidikan. Sementara peranan kategori lainnya di bawah 5 persen.
Gambar 4.1. Peranan Kategori PDRB Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen)
Masih tingginya ketergantungan ekonomi terhadap sektor pertanian, seyogyanya membuat pemerintah harus memperhatikan kesinambungan sektor ini dalam menyerap tenaga kerja selama belum ada sektor lain yang dapat dikembangkan untuk menyerap limpahan pekerjanya. Di samping itu, penerapan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian juga diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Apalagi diketahui selama ini sektor pertanian menjadi limpahan pengangguran terselubung atau pekerja keluarga yang secara teoritis memiliki produktivitas yang rendah. Sehingga upaya untuk mendorong pertumbuhan sektor ini membutuhkan peningkatan produktivitas yang nyata.
Di masa mendatang, pengembangan sektor lainnya untuk menampung kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian perlu diperhatikan. Secara teoritis pengalihan ini tidak akan menyebabkan turunnya output sektor pertanian. Dengan asumsi marginal produktivitas tenaga kerja sektor pertanian yang rendah bahkan nol, maka relokasi tenaga kerja juga akan mendorong naiknya produktivitas pekerja sektor pertanian
Pertanian, Kehuta nan, dan Perikanan 25.77% Industri Pengolahan 9.47% Konstruksi 9.58% Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8.76% Transportasi dan Pergudangan 5.19% Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 5.71% Informasi dan Komunikasi 7.20% Administrasi Pemerintahan, Per tahanan dan Jaminan Sosial Wajib 9.17% Jasa Pendidikan 6.08% Lainnya 13.07%
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 26
sehingga peluang meningkatkan kesejahteraan penduduk yang bekerja di sektor pertanian makin terbuka.
4.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi yang dihitung berdasarkan perubahan PDRB atas dasar harga konstan tahun yang bersangkutan terhadap tahun sebelumnya merupakan salah satu indikator makro untuk melihat kinerja perekonomian riil di suatu wilayah. Pengaruh perubahan harga/tingkat inflasi sudah dihilangkan, sehingga nilai pertumbuhan yang diperoleh merupakan penambahan kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan dan bukan penambahan nilai yang disebabkan oleh perubahan harga. Pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai pertambahan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua sektor kegiatan ekonomi yang ada di suatu wilayah selama kurun waktu setahun.
Perekonomian Gunungkidul pada tahun 2014 mengalami perlambatan dibandingkan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Gunungkidul tahun 2014 mencapai 4,54 persen, sedangkan tahun 2013 sebesar 4,97 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh kategori Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 11,05 persen. Seluruh kategori ekonomi PDRB yang lain pada tahun 2014 mencatat pertumbuhan yang positif, kecuali kategori pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh negatif 0,62 persen.
Adapun kategori-kategori lainnya berturut-turut mencatat pertumbuhan yang positif, di antaranya kategori Jasa Keuangan dan Asuransi mencatat 11,05 persen, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat sebesar 8,61 persen, kategori Jasa Pendidikan sebesar 8,13 persen, kategori Real Estat 8,09 persen, kategori Informasi dan Komunikasi 7,60 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 7,37 persen, kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 6,77 persen, kategori jasa lainnya 6,42 persen, kategori Jasa Perusahaan 6,37 persen, diikuti kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 5,79 persen dan kategori Konstruksi 5,06 persen. Adapun kategori yang pertumbuhannya kurang dari lima persen adalah kategori Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 4,22 persen, kategori Industri Pengolahan 4,11 persen, kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 3,88 persen, kategori Transportasi dan Pergudangan sebesar 2,43 persen, kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 1,60 persen.
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 27
Gambar 4.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014 (Persen)
4.3 PDRB Per kapita
PDRB per kapita menyatakan rata-rata nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh setiap penduduk di suatu daerah dalam waktu setahun. Salah satu komponen dalam nilai tambah tersebut adalah upah dan gaji yang diterima masyarakat sebagai balas jasa tenaga kerja. Jika PDRB per kapita meningkat, secara hipotesis pendapatan masyarakat juga akan meningkat. Ukuran ini sering dijadikan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat.
Secara nominal, PDRB per kapita Kabupaten Gunungkidul terus mengalami peningkatan dari 13,06 juta rupiah pada tahun 2010 menjadi 17,97 juta rupiah pada tahun 2014. Dengan pertumbuhan sebesar 9,09 persen, Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya yang secara berturut-turut sejak 2012 sebesar 8,85 persen, 7,09 persen dan 8,15 persen. Peningkatan tersebut mengisyaratkan terjadinya peningkatan pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Peningkatan pendapatan ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat. Namun demikian, PDRB per kapita nominal ini belum menggambarkan kenaikan kesejahteraan masyarakat secara riil.
4.52 4.84 4.97 4.54 0 1 2 3 4 5 6 7 8 2011 2012 2013* 2014**
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 28
Tabel 4.1. Kinerja Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014
Uraian 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. PDRB atas dasar harga
berlaku (juta Rp) 8,848,037.9 9,739,094.4 10,545,354.5 11,530,340.8 12,715,578.4 2. Struktur Ekonomi (%) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 26.94 26.21 26.92 26.43 25.77 Industri Pengolahan 9.94 10.07 9.07 9.42 9.47 Konstruksi 9.21 9.32 9.52 9.62 9.58
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda 8.66 8.76 8.87 8.7 8.76
Transportasi dan
Pergudangan 5.59 5.37 5.23 5.23 5.19
Penyediaan Akomodasi
dan Makan Minum 5.22 5.25 5.16 5.45 5.71
Informasi dan
Komunikasi 7.53 7.72 7.66 7.42 7.2
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
8.49 8.43 8.82 9.1 9.17
Jasa Pendidikan 12.37 12.72 12.78 12.74 13.07
Lainnya 26.94 26.21 26.92 26.43 25.77
3. PDRB atas dasar harga
konstan 2010 (juta Rp) 8,848,037.9 9,248,010.9 9,695,979.8 10,177,432.5 10,639,465.7 4. Pertumbuhan ekonomi (%) 3.64 4.52 4.84 4.97 4.54 5. PDRB Per kapita (juta Rp) 13.06 14.22 15.23 16.47 17.97 Ket : *) Angka sementara **) Angka sangat sementara
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 29