INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
GUNUNGKIDUL 2014
HUMAN DEVELOPMENT INDEX
GUNUNGKIDUL
(HUMAN DEVELOPMENT INDEX)
2014
No. ISSN : -
No. Publikasi : 34033.15.05 Katalog BPS : 4102002.3403 Ukuran Buku : 21,3 cm x 29,2 cm Penulis : Nur Hidayati, S.ST
Editor : Kasi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kabupaten Gunungkidul
Cover : Buhari Muslim, S.ST
Diterbitkan oleh : BPS Kabupaten Gunungkidul
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 iii
SAMBUTAN KEPALA BADAN PERENCANAAN DAERAH
KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Hal ini tampaknya merupakan suatu kenyataan sederhana. Tetapi hal ini seringkali terlupakan oleh berbagai kesibukan untuk memberikan perhatian utama pada pertumbuhan ekonomi saja.
Upaya pemberdayaan manusia secara komprehensif merupakan tujuan utama pembangunan serta menjadi indikator keberhasilan pembangunan itu sendiri. Buku ini membahas aspek pembangunan manusia sebagai sasaran pembangunan dengan maksud sebagai bahan evaluasi hasil pemberdayaan manusia yang telah dicapai.
Dengan terwujudnya publikasi ini, atas bantuan dan kerjasama semua pihak yang terlibat, saya ucapkan terima kasih.
Wonosari, Oktober 2015
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Gunungkidul
Kepala,
Ir. Syarief Armunanto, M.M. NIP. 19590728 199003 1 003
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 iv
KATA PENGANTAR
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikembangkan sebagai salah satu alat evaluasi aspek pemberdayaan penduduk dalam konteks pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. IPM memiliki tiga komponen utama yakni aspek kesehatan, pendidikan, dan pendapatan yang berkaitan dengan kemampuan daya beli penduduk. Tercapainya kualitas ketiga aspek tersebut secara seimbang diharapkan mampu menempatkan manusia secara beradab dalam proses pembangunan. Sehingga pembangunan tidak hanya mengejar angka-angka target perkembangan namun juga mengandung unsur pemberdayaan penduduk baik secara ekonomi dan sosial. Pada edisi kali ini, IPM yang ditampilkan merupakan IPM yang dihitung dengan metode baru. Hal ini menyebabkan dampak secara umum level IPM menjadi lebih rendah dibandingkan dengan metode sebelumnya.
Kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya publikasi ini, khususnya kepada Bappeda Kabupaten Gunungkidul atas kerjasamanya dalam penyusunan buku ini, kami sampaikan terima kasih.
Kritik dan saran untuk penyempurnaan publikasi ini di masa mendatang sangat diharapkan. Semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca.
Wonosari, Oktober 2015
Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunungkidul
Kepala,
Agus Handriyanto, SE, M.Si NIP. 19660815 199401 1 001
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 v
DAFTAR ISI
Sambutan ... iii
Kata Pengantar ... iv
Daftar Isi ... v
Daftar Tabel ... vii
Daftar Gambar ... viii
I. Pendahuluan ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 4 II. Metodologi ... 5 2.1 Sumber Data ... 5 2.2 Metode Penghitungan ... 5
2.3 Komponen dan Indikator Penyusun IPM ... 6
2.3.1 Angka Harapan Hidup ... 6
2.3.2 Pendidikan ... 6
2.3.3 Pengeluaran per Kapita Disesuaikan ... 7
III. Deskripsi Obyek Kajian ... 10
3.1 Kondisi Geografis ... 10
3.2 Kependudukan ... 10
3.3 Ketenagakerjaan ... 12
3.3.1 Penduduk yang Bekerja dan Menganggur ... 13
3.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ... 14
3.3.3 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha ... 16
3.3.4 Bekerja Menurut Status ... 18
3.3.5 Tingkat Pengangguran Terbuka ... 19
3.3.6 Tingkat Setengah Pengangguran ... 21
IV. Potensi Ekonomi ... 24
4.1 Struktur Ekonomi ... 24
4.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi ... 26
4.3 PDRB Per kapita ... 27
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 vi
5.1 Usia Harapan Hidup ... 29
5.2 Angka Kesakitan ... 30
5.3 Fasilitas Kesehatan Masyarakat ... 31
VI. Pendidikan ... 34
6.1 Fasilitas dan Sarana Pendidikan ... 34
6.2 Rasio Murid-Guru ... 35
6.3 Tingkat Partisipasi Sekolah ... 36
6.4 Harapan Lama Sekolah ... 37
6.5 Rata-rata Lama Sekolah ... 38
VII. Posisi Pembangunan Manusia ... 39
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Konversi Tahun Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan ... 7
Tabel 2.2. Nilai Maksimum dan Minimum komponen IPM ... 9
Tabel 3.1. Gambaran Penduduk Kabupaten Gunungkidul, 2010–2014 ... 12
Tabel 3.2. Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014 ... 23
Tabel 4.1. Kinerja Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014 ... 28
Tabel 5.1. Indikator Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014 ... 33
Tabel 6.1. Indikator Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014 ... 38
Tabel 7.1. Indikator IPM Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014 ... 40
Tabel 7.2. Perbandingan Nilai IPM Kabupaten Gunungkidul dengan Daerah Lainnya di Provinsi D.I Yogyakarta, 2012-2014 ... 40
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014 (Persen) ... 15 Gambar 3.2. Komposisi Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha di
Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen) ... 17 Gambar 3.2. Komposisi Penduduk Bekerja Menurut Status Pekerjaan di
Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen) ... 18 Gambar 3.3. Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014
(Persen) ... 20 Gambar 3.4. Jumlah Penduduk Bekerja <35 Jam per Minggu di Kabupaten
Gunungkidul, 2011-2014 (Persen) ... 22 Gambar 4.1. Peranan Kategori PDRB Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen) ... 25 Gambar 4.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. Pengalaman pada dekade tersebut menunjukkan adanya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi gagal memperbaiki taraf hidup sebagaian besar penduduknya. Oleh karena itu, selama kurun waktu 1970-1980, pemerintah berupaya keras untuk menerapkan paradigma pemerataan pembangunan di seluruh wilayah. Pemerintah secara sentralistik menerapkan program-program pembangunan kepada daerah-daerah miskin dan pelosok-pelosok desa untuk mengejar ketertinggalan. Hasil akhir dari pembangunan manusia tersebut adalah lahirnya manusia yang mandiri dan mampu memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan pembangunan nasional di seluruh wilayah.
Pada tahun 1991 Bank Dunia menerbitkan laporan yang menegaskan bahwa “tantangan utama pembangunan adalah memperbaiki kualitas kehidupan”. Maka dari itu, pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur soaial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional. Sejalan dengan perkembangan pembangunan, konsep pembangunan manusia muncul untuk memperbaiki kelemahan konsep pertumbuhan ekonomi karena selain memperhitungkan aspek pendapatan juga memperhitungkan aspek kesehatan dan pendidikan.
Pembangunan manusia yang berkualitas selama ini menjadi isu utama ketika berbagai pihak berbicara mengenai tujuan pembangunan yang ingin dicapai. Komitmen ini tidak hanya menjadi isu regional atau nasional tetapi merupakan komitmen bersama seluruh masyarakat internasional seperti yang tertuang dalam Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Developnent Goals – MDG’s). Komitmen yang disepakati para pemimpin dunia dalam KTT pada bulan September 2000 memuat delapan butir pernyataan sebagai berikut :
1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan 2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua
3. Mendorong kesetaraan dan pemberdayaan jender 4. Menurunkan angka kematian anak
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 2
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup
8. Mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan
Dari butir-butir pernyataan di atas, tersirat bahwa penanggulangan kemiskinan dan upaya pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan merupakan prioritas perhatian. Sasaran semua itu adalah manusia. Keberpihakan ini tentu saja tidak cukup tertuang dalam komitmen, namun memerlukan implementasi yang nyata.
Dalam lingkup nasional, pemerintah dewasa ini gencar melaksanakan program-program pembangunan yang menyangkut pembiayaan untuk mengangkat kondisi sosial ekonomi masyarakat secara langsung khususnya bagi penduduk berpendapatan rendah. Program yang bersifat intervensi tersebut dianggap perlu mengingat terbatasnya akses penduduk miskin terhadap faktor-faktor produksi maupun layanan pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, Pemerintah menyalurkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu biaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah dan membantu meringankan biaya sekolah bagi murid yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Di bidang kesehatan dilakukan dengan peningkatan gizi masyarakat yang diharapkan meningkatkan kecerdasan bangsa sehingga usia hidup rata-rata bangsa Indonesia juga akan meningkat.
Dalam lingkup daerah, ada empat arah Kebijakan Pembangunan yang akan ditempuh pemerintah Kabupaten Gunungkidul baik dalam jangka panjang maupun pendek. Keempat arah kebijakan tersebut adalah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pemberdayaan masyarakat, penanggulangan pengangguran, dan pengentasan kemiskinan. Keempat arah tersebut juga telah dituangkan ke dalam sasaran pembangunan di semua sektor.
Kebijakan di atas sejalan dengan rekomendasi United Nations Development Programme (UNDP) terkait dengan kebutuhan pembiayaan yang lebih memadai bagi masyarakat miskin untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Secara eksplisit UNDP menyarankan bahwa Indonesia perlu memberikan prioritas investasi yang lebih tinggi pada upaya pembangunan manusia dan bagaimana cara pembiayaannya. Ditambahkan pula bahwa pembangunan manusia merupakan hak azasi manusia yang sangat penting untuk meletakkan dasar yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi dan menjamin keberlangsungan demokrasi dalam jangka panjang. Telah banyak kritik yang diserukan
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 3
para pengamat maupun lembaga-lembaga internasional yang meneliti tingkat ketimpangan pendapatan karena peran pembangunan ekonomi yang hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun mengabaikan kesempatan bagi manusia untuk hidup lebih berkualitas.
Teori pembangunan yang utamanya berlandaskan pada ilmu ekonomi sedikit banyak telah mengantarkan kita kepada penilaian bahwa kesejahteraan penduduk dapat diukur dengan nilai tambah ekonomi yang dihasilkan, yang umumnya dihitung dengan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk skala nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk regional. Pada era 1970-an dunia mengenal indeks PDB (atau PNB) yang digunakan sebagai indikator tunggal untuk menilai besarnya kekayaan negara. Logikanya, semakin tinggi PDB suatu negara maka semakin besar pula penghasilan penduduk dan semakin sejahtera negara itu. Namun, ternyata ada kesenjangan antara skala PDB dengan kondisi nyata di lapangan. Beberapa negara mencatat indeks PDB yang cukup mengesankan, namun ternyata kemudian diketahui masih banyak penduduknya yang tidak bisa membaca. Stewart, Streeten, dan Hicks (1981) mulai merumuskan metode pengukuran kebutuhan dasar manusia, yang dipertegas oleh Amartya Sen (1985) melalui kritiknya terhadap skala GNP. Menurut Amartya, taraf hidup manusia tidak boleh hanya dipandang dari sekadar tingkat pendapatan, namun juga kualitas hidup yang dimilikinya. Akhirnya tahun 1995, Mahbub Ul-Haq, ilmuwan Pakistan yang bekerja di UNDP mengembangkan indikator progres ekonomi baru yaitu Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan besaran agregat PNB, tingkat harapan hidup, serta harapan lamanya sekolah dan lamanya sekolah. Skala IPM hingga kini digunakan di berbagai penjuru dunia sebagai tolok ukur kesejahteraan suatu bangsa.
Meskipun demikian, IPM juga tak lepas dari kritik karena indikator ini tak dapat mengukur dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan pembangunan. Karena sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan bahwa pembangunan adalah untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengabaikan kepentingan generasi mendatang. Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini yang diakibatkan oleh pembangunan akan menurunkan kualitas hidup manusia di masa mendatang. Terlepas dari kritik di atas, pada bagian buku ini selanjutnya, kita akan membahas konsep IPM sebagai salah satu ukuran untuk melihat kualitas pembangunan manusia dengan mengabaikan isu atau kritik terhadap IPM.
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 4
IPM mencakup tiga aspek kebutuhan dasar manusia yakni kesehatan, pendidikan, dan pendapatan. Tiga aspek ini menunjukkan tingkat pembangunan manusia suatu wilayah melalui pengukuran penduduk yang sehat dan berumur panjang, berpendidikan dan berketrampilan, serta memiliki pendapatan yang memungkinkan untuk hidup layak. Pembangunan tiga aspek yang menjadi fokus perhatian dalam penghitungan IPM tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan sinergi diantara ketiganya. Diperlukan peran pemerintah sebagai penyusun kebijakan pembangunan dalam rangka memberi kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup melalui keterlibatan mereka dalam pembangunan.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan buku ini untuk mengukur pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Gunungkidul melalui pengamatan pada aspek yang menjadi indikator dalam penghitungan IPM, yakni kesehatan, pendidikan dan pendapatan penduduk. Buku ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah serta pengguna data lainnya tentang posisi pembangunan manusia di Kabupaten Gunungkidul.
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 5
II. METODOLOGI
2.1 Sumber Data
Data yang digunakan dalam pembahasan ini sebagian besar berasal dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta beberapa data penunjang yang berasal dari dinas/instansi yang terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan instansi lainnya.
2.2 Metode Penghitungan
Metode pembahasan dalam buku ini merupakan kombinasi analisis deskriptif dan analisis induktif. Dalam penghitungan IPM dibutuhkan beberapa indikator utama, antara lain lamanya hidup (longevity), pengetahuan (knowledge) dan standar hidup layak (decent living). Dalam penghitungan, masing-masing indikator tersebut diukur dengan variabel yang mewakili komponen-komponen yang menyusun IPM. Komponen usia harapan hidup diukur dengan angka harapan hidup (e0), pengetahuan diwakili oleh
harapan lama sekolah dan rata-rata lamanya sekolah. Adapun komponen standar hidup diukur dengan nilai konsumsi riil per kapita yang disesuaikan dengan rumus Atkinson.
Pada tahun 2010, UNDP memperkenalkan penghitungan IPM dengan metode baru. Tahun 2011 dan 2014 dilakukan penyempurnaan metodologi (IPM Metode Baru). Indonesia mulai menerapkan penghitungan IPM dengan metode baru ini pada tahun 2014. Adapun dampak dari perubahan metodologi baru ini secara umum level IPM dengan metode baru lebih rendah dibanding dengan IPM metode lama serta terjadi perubahan peringkat IPM, dan peringkat IPM tersebut tidak dapat diperbandingkan akibat adanya perbedaan indikator dan metodologi.
Alasan yang dijadikan dasar perubahan metodologi penghitungan IPM antar lain: yang pertama, beberapa indikator sudah tidak tepat untuk digunakan dalam penghitungan IPM. Angka melek huruf sudah tidak relevan dalam mengukur pendidikan secara utuh karena tidak dapat menggambarkan kualitas pendidikan. Selain itu, karena angka melek huruf di sebagian besar daerah sudah tinggi, sehingga tidak dapat membedakan tingkat pendidikan antardaerah dengan baik. PDRB per kapita juga tidak
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 6
dapat menggambarkan pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. Alasan kedua yaitu penggunaan rumus rata-rata aritmatik dalam penghitungan IPM menggambarkan bahwa capaian yang rendah di suatu dimensi dapat ditutupi oleh capaian tinggi dari dimensi lain. Artinya, untuk mewujudkan pembangunan manusia yang baik, ketiga dimensi harus memperoleh perhatian yang sama besar karena sama pentingnya.
Pada metodologi yang baru ini indikator angka melek huruf pada metode lama diganti dengan angka harapan lama sekolah. Sedangkan metode penghitungan secara diubah dari rata-rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik.
2.3 Komponen dan Indikator Penyusun IPM 2.3.1 Angka Harapan Hidup
Angka harapan hidup penduduk pada waktu lahir yang biasa dilambangkan dengan e0 adalah rata-rata jumlah tahun yang akan dijalani oleh sekelompok orang yang
dilahirkan pada suatu waktu tertentu jika pola mortalitas untuk kelompok umur tersebut bersifat tetap pada masa mendatang.
Penghitungan e0 dapat dilakukan dengan bantuan Life Table, namun hal ini belum dapat dilakukan di Indonesia. Sistem registrasi penduduk masih belum dikelola secara baik dan berkesinambungan, sehingga data yang dibutuhkan yakni data kematian menurut kelompok umur tidak tersedia. Untuk itu, ditempuh alternatif penghitungan secara tidak langsung dengan menggunakan dua variabel yakni rata-rata anak yang dilahirkan hidup (live birth) dan rata-rata anak yang masih hidup (still living) untuk setiap wanita berusia 15-49 tahun menurut kelompok umur lima tahunan. Penghitungan e0 dilakukan dengan perangkat lunak Mortpak for Windows, Version 4.0. Angka e0 yang
diperoleh dengan metode tak langsung ini merujuk pada keadaan 3-4 tahun dari tahun survei.
2.3.2 Pendidikan
Dalam penghitungan IPM ada dua indikator bidang pendidikan yang digunakan, yaitu harapan lama sekolah dan rata-rata lamanya sekolah. Angka harapan lama sekolah didefinisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada usia tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka harapan lama
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 7
sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Sedangkan rata-rata lamanya sekolah merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas. Lamanya sekolah dikonversi dari jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan seperti terlihat pada Tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1. Konversi Tahun Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Pendidikan tertinggi yang ditamatkan Lamanya Sekolah (tahun)
(1) (2)
1. Tidak/belum pernah sekolah 0
2. Sekolah Dasar 6 3. SMP 9 4. SMA 12 5. Diploma I/II 13/14 6. Akademi/Diploma III 15 7. Diploma IV/Sarjana 16 8. S2/S3 18/21
2.3.3 Pengeluaran per Kapita Disesuaikan
Pengeluaran per kapita yang disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (Purchasing Power Parity-PPP). Rata-rata pengeluaran per kapita setahun diperoleh dari susenas, rata-rata pengeluaran per kapita dibuat konstan/riil dengan tahun dasar 2012=100. Perhitungan paritas daya beli pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya merupakan komoditas nonmakanan. Metode penghitungan paritas daya beli menggunakan Metode Rao.
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 8
Dimana :
pik : harga komoditas i di Jakarta Selatan
pij : harga komoditas i di kab/kota j
m : jumlah komoditas
Sebelum dihitung menjadi sebuah indeks komposit (gabungan), masing-masing komponen IPM distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum. Rumus yang digunakan sebagi berikut :
Dimensi Kesehatan :
Dimensi Pendidikan :
Dimensi Pengeluaran :
Jadi masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan rasio selisih antara nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih antara nilai maksimum dan nilai minimum yang bersangkutan. Standar nilai masing-masing komponen IPM dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut :
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 9
Tabel 2.2. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM
Batas maksimum minimum mengacu pada UNDP kecuali indikator daya beli • Keterangan:
* Daya beli minimum merupakan garis kemiskinan terendah kabupaten tahun 2010 (data empiris) yaitu di Tolikara-Papua
** Daya beli maksimum merupakan nilai tertinggi kabupaten yang diproyeksikan hingga 2025 (akhir RPJPN) yaitu perkiraan pengeluaran per kapita Jakarta Selatan tahun 2025
Selanjutnya IPM dihitung menggunakan rumus :
Indikator Satuan Minimum Maksimum
UNDP BPS UNDP BPS
Angka Harapan Hidup saat Lahir (AHH) Tahun 20 20 85 85 Harapan Lama Sekolah (HLS) Tahun 0 0 18 18 Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Tahun 0 0 15 15 Pengeluaran per Kapita Disesuaikan 100 (PPP U$) 1.007.436* (Rp) 107.721 (PPP U$) 26.572.352** (Rp)
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 10
III. DESKRIPSI OBYEK KAJIAN
3.1 Kondisi Geografis
Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi DIY yang berada di bagian tenggara dengan luas wilayah sekitar 1.485,36 km2 atau 46,63persen
dari luas wilayah Provinsi DIY. Untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan, kabupaten ini secara berjenjang terbagi menjadi 18 kecamatan dan 144 desa. Wilayah bagian utara Kabupaten Gunungkidul berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah dan bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Adapun di bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Sleman, yang keduanya juga merupakan bagian dari Provinsi DIY serta pada bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah).
Berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten Gunungkidul terbentang pada 70 15'
hingga 80 09' Lintang Selatan dan 1100 21' hingga 1100 50' Bujur Timur. Wilayah
kabupaten ini berada pada ketinggian antara 0 hingga 700 meter di atas permukaan air laut dengan topografi wilayah yang cukup bervariasi mulai pantai, dataran, hingga lereng dan berbukit-bukit. Berdasarkan penggunaannya sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul merupakan areal pertanian. Namun demikian, sekitar 90 persennya merupakan lahan kering tadah hujan yang pemanfaatan potensinya sangat tergantung dari curah hujan yang ada.
3.2 Kependudukan
Berdasarkan Proyeksi Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010, jumlah penduduk Kabupaten Gunungkidul pada tahun2014 tercatat sebanyak698.825 jiwa.Selama periode 2010-2014, jumlah penduduk mengalami pertumbuhan rata-rata 0,79 persen per tahun. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, maka tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Gunungkidul mencapai 470,47 jiwa/km2. Dilihat menurut komposisinya, penduduk
Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 337.920 penduduk laki-laki dan 360.905 penduduk perempuan sehingga rasio jenis kelaminnya tercatat sebesar 93,63 persen. Hal ini berarti dari setiap seratus orang penduduk perempuan di Kabupaten Gunungkidul terdapat sekitar 94 orang penduduk laki-laki. Selama beberapa tahun terakhir rasio jenis kelamin penduduk di Kabupaten Gunungkidul berada pada kisaran 94 persen. Salah satu faktor yang cukup mempengaruhi adalah mobilitas penduduk laki-laki yang lebih tinggi dari
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 11
penduduk wanita, terutama pada penduduk yang sudah berusia kerja. Terbatasnya kesempatan kerja yang tersedia bagi para penduduk yang mulai memasuki usia kerja menyebabkan banyak penduduk laki-laki produktif yang ke luar Gunungkidul untuk mencari pekerjaan.
Dependency ratio , angka rasio ketergantungan yang menyatakan besarnya beban yang menjadi tanggungan kelompok umur produktif tahun 2014 terhitung sebesar 52,90 yang berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung sekitar 53 orang yang belum produktif dan sudah tidak produktif lagi. Angka tersebut didapatkan dari data jumlah penduduk kelompok umur 15-64 tahun sebanyak 457.047 jiwa atau sekitar 65,40 persen. Sedangkan sisanya, sebanyak 241.778 jiwa atau 34,60 persen merupakan penduduk kelompok umur muda (0-14 tahun) dan kelompok umur tua (65 tahun keatas). Namun demikian, ukuran ini masih sangat kasar karena hanya memandang penduduk dari sisi umur saja. Sementara sisi yang lain seperti status sekolah, status pekerjaan serta aktivitas sehari-harinya diabaikan.
Ditinjau menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan, mayoritas penduduk Kabupaten Gunungkidul yang berumur 15 tahun ke atas didominasi oleh mereka yang menamatkan tingkat pendidikan SD ke bawah. Jumlahnya mencapai 50,58 persen. Kelompok penduduk yang telah menamatkan pendidikan sampai tingkat SMP jumlahnya sekitar 23,62 persen. Adapun mereka yang menamatkan pendidikan sampai SMA tercatat sebesar 18,16 persen dan selebihnya sekitar 7,64 persen adalah penduduk yang menamatkan pendidikan tingkat Diploma ke atas.
Dalam lima tahun terakhir proporsi penduduk yang hanya berpendidikan SD ke bawah berkisar pada angka 48 hingga 50 persen. Sedang persentase mereka yang berpendidikan SMP berada pada rentang antara 23-30 persen dari penduduk usia 15 tahun ke atas dan yang berpendidikan SMA menjadi 18,16 persen dari 18,3 persen pada tahun sebelumnya. Adapun penduduk yang mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi naik dari angka 4 persen menjadi 7 persen.
Namun demikian, jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Provinsi DIY, Kabupaten Gunungkidul masih memiliki persentase penduduk yang menamatkan pendidikan sampai dengan tingkat SD yang terbesar. Hal ini menandakan secara relatif rata-rata tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Gunungkidul masih lebih rendah dibandingkan daerah lainnya. Kondisi ini membawa konsekuensi perlunya upaya lebih kuat untuk meningkatkan tingkat pendidikan penduduk baik melalui jalur pendidikan
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 12
formal maupun non formal. Berdasarkan klasifikasi wilayahnya juga terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara daerah perkotaan dan pedesaan seputar pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduknya. Hal ini terkait dengan belum meratanya persebaran fasilitas dan sarana belajar serta jumlah pengajar pada masing-masing tingkat sekolah.
Tabel 3.1. Gambaran Penduduk Kabupaten Gunungkidul, 2010 – 2014
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 1 2 3 4 5 6 1. Jumlah Penduduk 1) 675 428 677 998 680 406 683 735 698 825 a. Laki-laki 326 725 327 841 328 878 330 461 337 920 b. Perempuan 348 703 350 157 351 528 353 274 360 905 2. Penduduk menurut Kelompok Umur a. 0 - 14 147 571 150 177 148 133 148 329 151 095 b. 15 - 64 437 040 434 800 443 416 447 448 457 047 c. 65 ke atas 90 704 88 953 88 857 87 958 90 983 3. Rasio Beban Ketergantungan 54,52 55,93 53,45 52,80 52,90 4. Tingkat Pendidikan Penduduk Usia 15+ (%) a. SD ke bawah 48,8 48,2 48,6 49,2 50,58 b. Tamat SMP 26,8 30,6 30,8 28,3 23,62 c. Tamat SMA 19,8 17,2 17,4 18,3 18,16 d. Diploma/Universitas 4,6 4,1 3,2 4,1 7,64
Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul Catatan : 1) Jumlah penduduk menggunakan data hasil proyeksi
3.3 Ketenagakerjaan
Sasaran yang ingin dicapai dalam bidang pembangunan sumberdaya manusia adalah memperluas kesempatan berusaha bagi penduduk, baik di sektor formal maupun sektor informal. Sasaran ini dapat dicapai jika terjadi keseimbangan antara penawaran (supply) dan permintaan (demand) di pasar kerja. Kenyataannya, kedua faktor tersebut tidak pernah mencapai keseimbangan, sehingga terjadi akumulasi pencari kerja baik karena ketiadaan lapangan pekerjaan atau karena ketrampilan yang dimiliki para pencari
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 13
kerja tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Pilihan bekerja pada sektor informal tak dapat dihindari karena terbatasnya penciptaan lapangan kerja di sektor formal. Di samping itu, masih besarnya porsi tenaga kerja tidak trampil (unskilled labor) turut memicu pertumbuhan sektor informal, karena hanya sektor ini yang bisa menampung mereka.
Tekanan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pasca krisis ekonomi berdampak besar pada pertumbuhan lapangan kerja. Kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat di satu sisi dengan tingginya penawaran tenaga kerja di sisi lain menyebabkan upaya penciptaan kesempatan kerja bagi penduduk menjadi terganggu
.
Berdasarkan konsep dari International Labour Organization (ILO), penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) dibagi menjadi dua golongan yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Termasuk dalam kelompok angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan penduduk yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan (menganggur). Sedangkan bukan angkatan kerja mencakup penduduk yang berstatus sekolah, mengurus rumah tangga, pensiunan dan lain-lain. Konsep bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan tujuan memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan dan dilakukan paling sedikit selama satu jam berturut-turut dalam satu minggu. Sedangkan pengangguran didefinisikan sebagai penduduk usia kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan suatu usaha atau sudah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja atau mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
Beberapa aspek ketenagakerjaan yang dibahas dalam publikasi ini mengkaitkan beberapa hal, diantaranya adalah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), tingkat pengangguran terbuka, tingkat setengah pengangguran, kualitas tenaga kerja yang tersedia serta daya serap masing-masing sektor ekonomi.
3.3.1 Penduduk yang Bekerja dan Mengganggur
Berdasarkan hasil Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2014, jumlah penduduk yang berusia kerja (15 tahun ke atas) di Kabupaten Gunungkidul mencapai 555.830 jiwa atau 79,54 persen dari seluruh penduduk. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah penduduk berusia kerja naik sebanyak 1,20 persen.
Penduduk usia kerja terbagi menjadi dua golongan, yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja terdiri dari penduduk yang statusnya bekerja dan
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 14
pengangguran terbuka. Jumlah penduduk bekerja di Kabupaten Gunungkidul dari hasil estimasi Sakernas tahun 2014 tercatat sebanyak 424.669jiwa. Jumlah ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya dengan kenaikan sebesar 1.00 persen. Jumlah penduduk bekerja di gunungkidul menjadi sangat mudah berubah presentasenya karena berpindahnya status sebagian penduduk bukan angkatan kerja karena alasan mengurus rumah tangga, sekolah atau yang lainnya yang mulai bekerja namun hal ini banyak terjadi pada penduduk bekerja yang berstatus sebagai pekerja tak dibayar/pekerja keluarga yang umumnya memiliki jam kerja di bawah jam kerja normal.
Jumlah penduduk yang menganggur pada tahun 2014 tercatat sebanyak 6.943 jiwa. Yang jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah pengangguran mengalami penurunan sebesar 3,93 persen. Adapun angka pengangguran terbuka ini sebesar 1,61 persen dari penduduk angkatan kerja. Hal ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang sebesar 1,69 persen, yang berarti masih ada penduduk angkatan kerja yang belum terserap di pasar kerja. Walaupun angkanya cukup kecil, tetapi perlu diupayakan oleh pihak terkait untuk menambah bekal penduduk angkatan kerja tersebut antara lain melalui pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
Laju pertumbuhan ekonomi tahun 2014 yang relatif rendah yaitu sebesar 4,54 persen diduga sebagai penyebab banyaknya angkatan kerja yang tidak tertampung dalam pasar kerja. Angka ini turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 4,97 persen. Pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga dapat memacu pertumbuhan lapangan kerja baru. Adapun sektor swasta dapat membuka penanaman modal baru yang mendorong naiknya kapasitas produksi sehingga dapat menciptakan lowongan kerja baru.
3.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
TPAK merupakan rasio antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk yang berusia kerja. Angkatan kerja mencakup penduduk berumur 15 tahun ke atas yang berstatus bekerja, atau mempunyai pekerjaan namun sementara sedang tidak bekerja dan pengangguran. Secara umum indikator ini menunjukkan persentase penduduk yang terlibat aktif dalam dunia kerja dan yang membutuhkan pekerjaan (aktif secara ekonomi).
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 15 Gambar 3.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014 (Persen)
TPAK Kabupaten Gunungkidul selama periode 2010-2014 menunjukkan pola yang menarik dicermati terutama pergerakan tahun 2012. Pada tahun 2010 angka TPAK tercatat 73.39 yang naik menjadi 75,93 persen, dan kemudian mengalami kenaikan lagi hingga 80,43 persen pada tahun 2012 atau yang tertinggi dalam kurun lima tahun terakhir. Namun turun kembali tahun 2013 dan 2014 menjadi 77,87 persen dan 77,65 persen. Secara umum, TPAK pada tahun 2014 ini menggambarkan besarnya jumlah penduduk Kabupaten Gunungkidul yang terlibat aktif dalam kegiatan perekonomian. Walaupun tingkat partisipasi sekolah pada jenjang SMA terus meningkat namun masih banyak diantara anak-anak sekolah tersebut yang ikut membantu pekerjaan keluarganya walaupun hanya sebagai pekerja keluarga.
Untuk melihat kualitas pekerja, dapat kita cermati dari komposisi mereka yang bekerja ditinjau dari jenjang pendidikan yang mereka tamatkan. Pada tahun 2014, kelompok penduduk yang bekerja didominasi oleh mereka yang hanya berpendidikan SD ke bawah yakni sekitar 53.10 persen. Kelompok berikutnya adalah mereka yang berpendidikan SMP sebesar 20,36 persen dan SMA 17,94 persen. Sedangkan sisanya, sekitar 8,60 persen penduduk yang bekerja mengenyam pendidikan sampai tingkat diploma/universitas. Kecenderungan meningkatnya penduduk bekerja berpendidikan rendah dan menurunnya yang berpendidikan menengah dan tinggi menyiratkan kurangnya lapangan kerja yang tersedia untuk golongan pencari kerja berpendidikan sehingga menyebabkan adanya migrasi ke kota-kota lain pada golongan ini.
73.39 75.93 80.43 77.87 77.65 68 70 72 74 76 78 80 82 2010 2011 2012 2013 2014
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 16
Hal ini juga berimplikasi kepada adanya kesimpulan bahwa pengembangan usaha yang membutuhkan tenaga terampil dan skill yang tinggi tentu akan sulit dikembangkan di daerah ini karena pasar kerja yang tersedia tidak akan bergeser secara drastis dari kondisi saat ini. Persoalan masih rendahnya tingkat pendidikan pekerja, akan mempengaruhi produktivitas kerja yang cenderung lebih rendah, sehingga balas jasa yang diterima juga rendah. Dampak akhirnya adalah kesejahteraan sulit terangkat walau mereka telah berusaha untuk bekerja secara maksimal.
Upaya untuk lebih meningkatkan kemampuan kerja mereka dapat ditempuh dengan berbagai program, antara lain melalui pelatihan ketrampilan serta pengetahuan untuk berusaha secara mandiri/wiraswasta dengan menggunakan ketrampilan dasar yang telah dikuasai. Berusaha secara mandiri merupakan pilihan yang realistis karena mereka akan sulit bersaing untuk bekerja di lapangan kerja formal yang umumnya mensyaratkan pendidikan dan ketrampilan yang lebih tinggi. Upaya sinkronisasi antara kebutuhan dunia kerja terhadap pekerja dengan tingkat ketrampilan yang dimiliki oleh pekerja yang dihasilkan oleh dunia pendidikan juga perlu mendapat perhatian serius dari pihak-pihak yang berwenang.
Kecenderungan naik turunnya mobilitas pekerja antar sektor khususnya sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh kualitas pekerja dan faktor musiman. Ini terjadi pada pekerja yang memiliki ketrampilan terbatas dengan status sebagai buruh atau pekerja lepas yang banyak terjadi di sektor pertanian. Kelompok ini terdiri dari pekerja yang bisa berganti pekerjaan tergantung permintaan tenaga kerja yang tersedia. Pekerja di sektor pertanian umumnya memiliki mobilitas tinggi untuk berganti pekerjaan dan tergantung musim tanam komoditas pertanian. Ketika musim kering, umumnya pekerja sektor pertanian melakukan mobilitas kerja karena tidak mungkin mengandalkan dari hasil pertanian yang sebagian besar diusahakan di lahan kering/tadah hujan. Berganti lapangan usaha lainnya atau berusaha bekerja pada sektor informal di kota menjadi pilihan sambil menunggu musim tanam kembali. Keterbatasan pilihan dan posisi tawar yang lemah mendorong mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang bersifat temporer yang umumnya banyak tersedia di sektor informal.
3.3.3 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Struktur perekonomian Kabupaten Gunungkidul masih didominasi oleh kategori pertanian. Hal ini tercermin dari dominannya kategori pertanian dalam menyerap tenaga
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 17
kerja yakni mencapai 52,61 persen, kemudian disusul oleh kategori perdagangan yakni sebesar 13,17 persen serta kategori kontruksi dan industri yang masing-masing sebesar 8,04 persen dan 7,13 persen, sedangkan kategori yang lain nilainya masing-masing dibawah 5 persen.
Gambar 3.2. Komposisi Penduduk Bekerja menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen)
Kecenderungan tingginya pekerja pada kategori pertanian sangat dipengaruhi oleh keadaan alam di Gunungkidul. Pertanian yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul sebagian besar adalah lahan kering tadah hujan yang tergantung pada daur iklim khususnya curah hujan. Lahan sawah beririgasi relatif sempit dan sebagian besar sawah tadah hujan. Pekerja di kategori pertanian umumnya memiliki mobilitas tinggi untuk berganti pekerjaan dan tergantung musim tanam komoditas pertanian. Ketika musim kering, umumnya pekerja pertanian melakukan mobilitas kerja karena tidak mungkin mengandalkan dari hasil pertanian yang sebagian besar diusahakan di lahan kering/tadah hujan. Berganti lapangan usaha lainnya atau berusaha bekerja pada sektor informal di
Pertanian, Kehuta nan, dan Perikanan 52.61% Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
13.17% Konstruksi 8.04% Industri Pengolahan 7.13% Jasa Pendidikan 4.62% Lainnya 14.42%
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 18
kota menjadi pilihan sambil menunggu musim tanam kembali. Keterbatasan pilihan dan posisi tawar yang lemah mendorong mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang bersifat temporer yang umumnya banyak tersedia di sektor informal.
3.3.3 Bekerja Menurut Status
Status bekerja menunjukkan posisi seseorang dalam suatu wadah dimana seseorang atau sekelompok orang sepakat untuk melakukan suatu kegiatan ekonomi dengan mekanisme kerja dan tujuan yang disepakati bersama. Posisi ini juga memperlihatkan kemampuan baik manajerial maupun ketrampilan seseorang ketika berperan di dalam kelompoknya. Jika seseorang tak ingin melibatkan diri pada kelompok tertentu, dia dapat memilih mengelola usaha sendiri dimana dia berperan sebagai manajer sekaligus pekerja.
Gambar 3.3. Komposisi Penduduk Bekerja menurut Status Pekerjaan di Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen)
Secara umum kualitas penduduk yang berstatus bekerja di Kabupaten Gunungkidul masih relatif rendah. Hal ini tercermin dari besarnya persentase penduduk yang berstatus sebagai pekerja tidak dibayar atau pekerja keluarga. Jumlahnya mencapai 28,14 persen dari seluruh penduduk yang bekerja pada tahun 2014. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk yang berusaha dengan dibantu oleh pekerja tidak dibayar/pekerja tidak tetap juga cukup tinggi, yakni sekitar 29,06 persen. Kenyataan ini menjadi nilai
Berusaha sendiri 10.02% Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tak dibayar 29.06% Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar 2.06% Buruh/karyawan /pegawai 21.52% Pekerja bebas di pertanian 1.52% Pekerja bebas di non pertanian 7.69% Pekerja keluarga/tak dibayar 28.14%
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 19
pengurang terhadap rendahnya angka pengangguran di Gunungkidul. Sebagian besar diantaranya melakukan kegiatan usaha pada sektor pertanian atau sektor perdagangan, hotel dan restoran yang umumnya bekerja membantu kepala rumah tangga tanpa memperoleh bayaran/upah.
Penduduk bekerja yang berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai juga cukup banyak, yakni mencapai 21,52 persen. Sedangkan jumlah penduduk yang berusaha sendiri sekitar 10,02 persen. Umumnya mereka memiliki keterbatasan ketrampilan dan kemampuan secara ekonomi. Sehingga bekerja secara mandiri bagi mereka merupakan alternatif untuk dijalani karena kesulitan bersaing dengan pekerja lainnya. Disamping itu, sektor formal lebih memilih untuk menampung pekerja dengan ketrampilan dan kemampuan yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka ”terpaksa” bekerja pada sektor pertanian maupun sektor informal yang lainnya.
Kelompok penduduk bekerja yang memiliki jiwa kewirausahaan relatif lebih tinggi adalah mereka yang berstatus bekerja dengan dibantu oleh pekerja dibayar. Persentase penduduk dalam kelompok ini terbilang kecil, hanya 2,06 persen dari seluruh penduduk bekerja. Angka ini lebih kecil sedikit jika dibandingkan dengan angka tahun sebelumnya yang angkanya juga hanya mencapai 2,89 persen.
3.3.4 Tingkat Pengangguran Terbuka
Permasalahan umum yang sering dijumpai dalam bidang ketenagakerjaan di semua wilayah/negara di dunia adalah tingkat pengangguran yang cenderung tinggi. Tingginya angka pengangguran mempunyai implikasi sosial yang sangat luas, karena akan semakin besar pula potensi kerawanan sosial yang ditimbulkan. Sebaliknya, semakin rendah angka pengangguran maka stabilitas sosial dalam masyarakat akan semakin baik. Indikator yang digunakan untuk mengukurnya adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT). TPT dihitung dari perbandingan antara penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja yang berstatus menganggur dengan jumlah penduduk yang termasuk angkatan kerja pada periode tertentu.
TPT Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 tercatat sebesar 1,61 persen, lebih rendah dibandingkan TPT tahun 2013 yang sebesar 1,69 persen. Dalam beberapa tahun terakhir TPT Gunungkidul cenderung menurun dengan landai, jika kurun waktu sebelum 2012 berada dalam kisaran 2-4 persen, dan pada tahun 2012-2014 TPT di Gunungkidul berada pada kisaran di bawah 2 persen. Meskipun angka TPT ini relatif kecil, namun tetap
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 20
mengindikasikan adanya permasalahan dalam penciptaan lapangan kerja baru, sehingga mereka yang siap untuk bekerja tidak tertampung oleh bursa tenaga kerja. Akumulasi pencari kerja yang tidak tertampung akan semakin besar dari tahun ke tahun. Jika kondisi ini tidak segera dipecahkan, dalam beberapa tahun mendatang akan terjadi akumulasi yang semakin besar yang dapat berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Di masa mendatang program pembangunan untuk menciptakan peluang ketersediaan lapangan pekerjaan serta upaya memberi ketrampilan bagi penduduk agar berusaha mandiri perlu diprioritaskan melalui program pendidikan ketrampilan bagi penduduk usia kerja. Peran pemerintah sebagai regulator kebijakan hendaknya diarahkan pada upaya yang memungkinkan terbukanya lapangan kerja baru dengan memberi insentif serta pembinaan yang berkelanjutan bagi usaha-usaha tersebut.
Gambar 3.4. Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014 (Persen)
Untuk mengetahui kualitas penduduk yang menganggur dapat dicermati dari jenjang pendidikan yang ditamatkan. Sekitar 50,22 persen penduduk yang mencari kerja berlatar belakang pendidikan SMA sederajat dengan 27,74 persen diantaranya adalah SMA. Komposisi terbesar berikutnya adalah penduduk yang berlatar belakang pendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 22,35 persen, dan penganggur yang berlatar belakang
4.04 2.23 1.38 1.69 1.61 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 2010 2011 2012 2013 2014
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 21
pendidikan SMP sederajat sekitar 18,00 persen. Sisanya sebesar 9,41 persen merupakan penduduk menganggur yang berpendidikan tinggi (Diploma ke atas).
Besarnya persentase penduduk menganggur yang berpendidikan SMA ke atas lebih banyak disebabkan karena terbatasnya jumlah kesempatan kerja yang tersedia, sehingga mereka terpaksa menunggu untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian pergi ke luar Gunungkidul untuk mencari pekerjaan yang sesuai. Kenyataan ini menuntut perlunya kebijakan khusus dalam memilih jenis investasi untuk pembukaan lapangan kerja baru di Kabupaten Gunungkidul. Jika pemerintah lebih berorientasi pada lapangan usaha yang relatif padat modal dan menuntut pekerja dengan kualitas tinggi maka dikhawatirkan banyak pencari kerja yang tidak dapat memenuhi spesifikasi keahlian yang diminta.
Diamati berdasarkan usianya, sebagian besar penduduk yang menganggur didominasi oleh mereka yang berusia produktif. Sebanyak 74,85 persen merupakan penduduk yang berusia 15-25 tahun. Mereka inilah yang terlibat aktif untuk mencari pekerjaan atau mempersiapkan usaha baru.
3.3.5 Tingkat Setengah Pengangguran
Selain masalah pengangguran terbuka, hal yang cukup menarik pula untuk dicermati adalah masalah penganggur terselubung atau yang biasa dikenal dengan istilah setengah pengangguran. Penganggur tipe ini adalah mereka yang berstatus bekerja namun memiliki jam kerja kurang dari 35 jam selama seminggu. Dengan profil ketenagakerjaan yang didominasi oleh pekerja yang berpendidikan relatif rendah, maka bekerja di bawah jam kerja normal berimplikasi pada produktivitas yang rendah. Kondisi ini tidak dapat dielakkan karena umumnya mereka bekerja hanya membantu pekerjaan kepala rumah tangga atau sebagai pekerja tidak dibayar. Penduduk yang termasuk dalam kelompok ini juga sangat rentan terpengaruh kondisi makro perekonomian, sehingga jika tidak mendapatkan perhatian serius dari semua pihak kelompok ini sangat potensial menambah jumlah pengangguran terbuka.
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 22
Gambar 3.5. Persentase Penduduk Bekerja <35 Jam per Minggu di Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014
Persentase penduduk yang tergolong sebagai pengganggur terselubung di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 tercatat sekitar 32,67 persen. Jika dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan, sebanyak 63,29 persen penduduk yang termasuk dalam kelompok penganggur terselubung berpendidikan SD ke bawah. Sebanyak 19,87 persen hanya berpendidikan setingkat SMP. Yang perlu menjadi perhatian lebih adalah jumlah pengangguran terselubung berusia kurang dari 50 tahun berjumlah 49,89 persen yang menunjukkan kurang produktifnya penduduk usia produktif di Gunungkidul.
Karakteristik lain dari penganggur terselubung Gunungkidul adalah didominasi oleh anggota rumah tangga yang membantu kepala rumah tangga yang umumnya sebagai pekerja keluarga atau pekerja tidak dibayar (49,35 persen). Sebanyak 68,35 persen dari penganggur terselubung berjenis kelamin perempuan dan bekerja untuk sekedar membantu kepala rumah tangga dalam meringankan beban ekonomi keluarga. Dalam gambaran budaya agraris hal itu merupakan hal yang wajar.
Gambaran ini mengisyaratkan bahwa ketergantungan ekonomi daerah ini yang masih tinggi kepada sektor pertanian diikuti dengan produktivitas pekerja yang rendah. Hal ini disebabkan besarnya pekerja yang hanya berstatus membantu pekerja kepala rumah tangga atau anggota rumah tangga lainnya sebagai pekerja tak dibayar.
41.41 38.92 57.83 32.67 0 10 20 30 40 50 60 70 2011 2012 2013 2014
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 23
Tabel 3.2. Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014
Uraian 2011 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) 1. Angkatan Kerja 408 157 437 001 427 681 431 612 a. Bekerja 399 049 430 991 420 454 424 669 b. Pengangguran Terbuka 9 108 6 010 7 227 6 943 2. TPAK (%) 75,93 80,43 77,87 77,65 3. Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 2,23 1,38 1,69 1,61
4. Bekerja Kurang dari 35 Jam
Seminggu (%) 41,41 38,92 57,83 32,17
6. Bekerja Menurut Status (%)
a. Berusaha Sendiri 10,76 10,38 9,58 10,01
b. Berusaha Dgn Buruh Tdk
Tetap 34,48 30,17 32,43 29,06
c. Berusaha Dgn Buruh Tetap 2,43 2,32 2,89 2,06
d.Buruh/Karyawan/Pegawai 26,84 26,56 26,96 21,52
e. Pekerja Tidak Dibayar 25,49 30,56 28,14 28,14
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 24
IV. POTENSI EKONOMI
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan agregat nilai tambah aktivitas perekonomian di suatu wilayah selama waktu tertentu. Angka PDRB yang dibagi dengan jumlah penduduk menghasilkan nilai PDRB per kapita. Indikator ini sering digunakan sebagai salah satu ukuran untuk melihat taraf hidup atau tingkat kemakmuran suatu daerah atau negara. Akan tetapi, banyak kritik yang menyatakan PDRB per kapita belum sepenuhnya dapat mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. PDRB per kapita hanya merupakan suatu agregat yang belum tentu dinikmati secara merata oleh seluruh penduduk dalam suatu wilayah. Bahkan tidak menutup kemungkinan pendapatan tersebut sama sekali tidak dinikmati oleh penduduk, karena nilai tambah yang tercipta tersebut langsung ditransfer ke wilayah lain. Hal itu mungkin terjadi jika faktor-faktor produksi dikuasai oleh orang/lembaga yang bukan berasal dari daerah bersangkutan.
4.1 Struktur Ekonomi
PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Gunungkidul dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend yang semakin meningkat, dari 8.848,04 milyar rupiah pada tahun 2010 hingga mencapai 12.715,58 milyar rupiah pada tahun 2014. Namun demikian, angka tersebut belum menggambarkan kondisi riil perkembangan perekonomian, karena masih dipengaruhi oleh faktor inflasi/perubahan harga. Nilai PDRB atas dasar harga konstan 2010 sebagai nilai PDRB yang sudah menghilangkan pengaruh inflasi Kabupaten Gunungkidul pada periode yang sama juga menunjukkan trend yang semakin meningkat, dari 8.848,04 milyar rupiah pada tahun 2010 menjadi 10.639,47 milyar rupiah pada tahun 2014. Nilai PDRB inilah yang menunjukkan perkembangan riil kinerja perekonomian Kabupaten Gunungkidul selama periode tersebut.
Struktur perekonomian sebagian masyarakat Gunungkidul masih didominasi kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Sumbangan kategori ini masih mencapai lebih dari seperempat nilai PDRB. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir sumbangan kategori ini semakin kecil. Sumbangan masing-masing kategori pada 2014 ini masih dipimpin oleh kategori tersebut, diikuti oleh kategori konstruksi; kategori industri pengolahan; kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib serta kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Kategori lain yang menyumbang lebih dari 5 persen adalah kategori transportasi dan pergudangan;
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 25
kategori penyediaan akomodasi dan makan minum, kategori informasi komunikasi, serta kategori jasa pendidikan. Sementara peranan kategori lainnya di bawah 5 persen.
Gambar 4.1. Peranan Kategori PDRB Kabupaten Gunungkidul, 2014 (Persen)
Masih tingginya ketergantungan ekonomi terhadap sektor pertanian, seyogyanya membuat pemerintah harus memperhatikan kesinambungan sektor ini dalam menyerap tenaga kerja selama belum ada sektor lain yang dapat dikembangkan untuk menyerap limpahan pekerjanya. Di samping itu, penerapan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian juga diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Apalagi diketahui selama ini sektor pertanian menjadi limpahan pengangguran terselubung atau pekerja keluarga yang secara teoritis memiliki produktivitas yang rendah. Sehingga upaya untuk mendorong pertumbuhan sektor ini membutuhkan peningkatan produktivitas yang nyata.
Di masa mendatang, pengembangan sektor lainnya untuk menampung kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian perlu diperhatikan. Secara teoritis pengalihan ini tidak akan menyebabkan turunnya output sektor pertanian. Dengan asumsi marginal produktivitas tenaga kerja sektor pertanian yang rendah bahkan nol, maka relokasi tenaga kerja juga akan mendorong naiknya produktivitas pekerja sektor pertanian
Pertanian, Kehuta nan, dan Perikanan 25.77% Industri Pengolahan 9.47% Konstruksi 9.58% Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8.76% Transportasi dan Pergudangan 5.19% Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 5.71% Informasi dan Komunikasi 7.20% Administrasi Pemerintahan, Per tahanan dan Jaminan Sosial Wajib 9.17% Jasa Pendidikan 6.08% Lainnya 13.07%
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 26
sehingga peluang meningkatkan kesejahteraan penduduk yang bekerja di sektor pertanian makin terbuka.
4.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi yang dihitung berdasarkan perubahan PDRB atas dasar harga konstan tahun yang bersangkutan terhadap tahun sebelumnya merupakan salah satu indikator makro untuk melihat kinerja perekonomian riil di suatu wilayah. Pengaruh perubahan harga/tingkat inflasi sudah dihilangkan, sehingga nilai pertumbuhan yang diperoleh merupakan penambahan kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan dan bukan penambahan nilai yang disebabkan oleh perubahan harga. Pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai pertambahan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua sektor kegiatan ekonomi yang ada di suatu wilayah selama kurun waktu setahun.
Perekonomian Gunungkidul pada tahun 2014 mengalami perlambatan dibandingkan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Gunungkidul tahun 2014 mencapai 4,54 persen, sedangkan tahun 2013 sebesar 4,97 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh kategori Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 11,05 persen. Seluruh kategori ekonomi PDRB yang lain pada tahun 2014 mencatat pertumbuhan yang positif, kecuali kategori pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh negatif 0,62 persen.
Adapun kategori-kategori lainnya berturut-turut mencatat pertumbuhan yang positif, di antaranya kategori Jasa Keuangan dan Asuransi mencatat 11,05 persen, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat sebesar 8,61 persen, kategori Jasa Pendidikan sebesar 8,13 persen, kategori Real Estat 8,09 persen, kategori Informasi dan Komunikasi 7,60 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 7,37 persen, kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 6,77 persen, kategori jasa lainnya 6,42 persen, kategori Jasa Perusahaan 6,37 persen, diikuti kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 5,79 persen dan kategori Konstruksi 5,06 persen. Adapun kategori yang pertumbuhannya kurang dari lima persen adalah kategori Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 4,22 persen, kategori Industri Pengolahan 4,11 persen, kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 3,88 persen, kategori Transportasi dan Pergudangan sebesar 2,43 persen, kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 1,60 persen.
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 27
Gambar 4.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, 2011-2014 (Persen)
4.3 PDRB Per kapita
PDRB per kapita menyatakan rata-rata nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh setiap penduduk di suatu daerah dalam waktu setahun. Salah satu komponen dalam nilai tambah tersebut adalah upah dan gaji yang diterima masyarakat sebagai balas jasa tenaga kerja. Jika PDRB per kapita meningkat, secara hipotesis pendapatan masyarakat juga akan meningkat. Ukuran ini sering dijadikan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat.
Secara nominal, PDRB per kapita Kabupaten Gunungkidul terus mengalami peningkatan dari 13,06 juta rupiah pada tahun 2010 menjadi 17,97 juta rupiah pada tahun 2014. Dengan pertumbuhan sebesar 9,09 persen, Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya yang secara berturut-turut sejak 2012 sebesar 8,85 persen, 7,09 persen dan 8,15 persen. Peningkatan tersebut mengisyaratkan terjadinya peningkatan pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Peningkatan pendapatan ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat. Namun demikian, PDRB per kapita nominal ini belum menggambarkan kenaikan kesejahteraan masyarakat secara riil.
4.52 4.84 4.97 4.54 0 1 2 3 4 5 6 7 8 2011 2012 2013* 2014**
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 28
Tabel 4.1. Kinerja Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, 2010-2014
Uraian 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. PDRB atas dasar harga
berlaku (juta Rp) 8,848,037.9 9,739,094.4 10,545,354.5 11,530,340.8 12,715,578.4 2. Struktur Ekonomi (%) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 26.94 26.21 26.92 26.43 25.77 Industri Pengolahan 9.94 10.07 9.07 9.42 9.47 Konstruksi 9.21 9.32 9.52 9.62 9.58
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda 8.66 8.76 8.87 8.7 8.76
Transportasi dan
Pergudangan 5.59 5.37 5.23 5.23 5.19
Penyediaan Akomodasi
dan Makan Minum 5.22 5.25 5.16 5.45 5.71
Informasi dan
Komunikasi 7.53 7.72 7.66 7.42 7.2
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
8.49 8.43 8.82 9.1 9.17
Jasa Pendidikan 12.37 12.72 12.78 12.74 13.07
Lainnya 26.94 26.21 26.92 26.43 25.77
3. PDRB atas dasar harga
konstan 2010 (juta Rp) 8,848,037.9 9,248,010.9 9,695,979.8 10,177,432.5 10,639,465.7 4. Pertumbuhan ekonomi (%) 3.64 4.52 4.84 4.97 4.54 5. PDRB Per kapita (juta Rp) 13.06 14.22 15.23 16.47 17.97 Ket : *) Angka sementara **) Angka sangat sementara
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 29
V. KESEHATAN
Pembangunan bidang kesehatan bertujuan meningkatkan derajat kesehatan penduduk yang ditandai dengan kemampuan yang lebih besar untuk melaksanakan pola hidup sehat. Untuk itu, terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh, merata dan terpadu serta dapat terjangkau oleh sebagian besar masyarakat menjadi sangat penting. Proses pembangunan kesehatan yang baik akan ditandai oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses serta memperoleh layanan kesehatan serta meningkatnya kemampuan ekonomi untuk belanja kesehatan. Upaya pelayanan kesehatan dilakukan oleh pemerintah maupun swasta dimaksudkan untuk menjangkau masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan.
Indikator yang dapat mengukur pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya adalah usia harapan hidup dan angka kematian bayi (infant mortality rate - IMR). Disamping itu, ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi indikator tersebut seperti: angka kesakitan, lamanya sakit serta rasio ketersediaan fasilitas kesehatan.
5.1 Usia Harapan Hidup
Indikator ini menunjukkan kondisi dan sistem pelayanan kesehatan masyarakat, karena mampu merepresentasikan output dari upaya pelayanan kesehatan secara komprehensif. Hal ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa jika seseorang memiliki derajat kesehatan yang semakin baik maka yang bersangkutan akan berpeluang memiliki usia lebih panjang atau mempunyai angka harapan hidup yang tinggi. Angka harapan hidup merupakan indikator yang cukup efektif untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada khususnya. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan di suatu wilayah akan disertai oleh peningkatan usia harapan hidup penduduknya, namun sebaliknya semakin rendah usia harapan hidup di suatu wilayah mencerminkan buruknya kualitas pembangunan kesehatan. Angka harapan hidup menggambarkan perkiraan rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Usia harapan hidup penduduk Kabupaten Gunungkidul selama periode 2010-2014 menunjukkan tren yang semakin meningkat. Pada tahun 2010, usia harapan hidup penduduk mencapai 73,35 tahun, dan terus meningkat menjadi 73,39 tahun pada tahun 2014. Secara umum, angka ini menunjukkan usia rata-rata yang akan dijalani oleh
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 30
seorang bayi yang dilahirkan hidup pada tahun 2014 adalah mencapai 73,39 tahun. Peningkatan usia harapan hidup ini secara tidak langsung menunjukkan adanya perbaikan kualitas kesehatan penduduk. Program perbaikan kualitas kesehatan penduduk terutama pada kelompok yang berpendapatan rendah selama beberapa tahun terakhir dilakukan melalui program Askeskin (asuransi kesehatan bagi keluarga miskin), jamkesmas dan jamkesos. Program intervensi ini diharapkan dapat menaikkan kualitas kesehatan penduduk secara umum dengan sasaran utama mereka yang memiliki daya beli rendah terhadap pelayanan kesehatan.
Sebagai perbandingan, usia harapan hidup rata-rata secara nasional pada tahun 2014 sekitar 70,59 tahun, sedangkan di Provinsi DIY sekitar 74,50 tahun. Dengan demikian seperti tahun-tahun sebelumnya, rata-rata angka harapan hidup penduduk Kabupaten Gunungkidul masih berada di bawah rata-rata angka harapan hidup penduduk DIY, namun jika dibandingkan dengan rata-rata Indonesia, angka harapan hidup kabupaten ini berada di atas rata-rata nasional.
5.2 Angka Kesakitan
Salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat dalam suatu wilayah adalah angka kesakitan penduduk dan rata-rata lamanya sakit. Angka kesakitan penduduk merupakan proporsi penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari, baik bekerja, sekolah maupun yang lainnya. Sedangkan rata-rata lamanya sakit menyatakan rata-rata lamanya hari penduduk mengalami keluhan sampai menyebabkan terganggunya aktivitas. Rata-rata lamanya sakit menunjukkan tingkat keparahan penduduk akibat dari akumulasi sakit yang dirasakan penduduk. Kedua ukuran ini dihitung berdasarkan data hasil Susenas. Waktu rujukan yang digunakan untuk mengamati indikator ini adalah selama sebulan yang lalu dari saat pencacahan. Besaran ini menggambarkan derajat kesehatan penduduk yang diwakili oleh angka kesakitan dan rata-rata lama sakit.
Berdasarkan hasil Susenas, persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan selama tahun 2014 tercatat sebanyak 41,84 persen. Sedikit mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 38,3 persen. Akan tetapi tingkat keparahan penyakit yang diukur dari rata-rata lamanya sakit mengalami penurunan dari 4,70 hari pada tahun 2013 menjadi 4,68 hari pada tahun 2014. Fenomena ini mengindikasikan insiden kesakitan yang terjadi pada masyarakat relatif meningkat
Indeks Pembangunan Manusia Gunungkidul, 2014 31
akan tetapi berkurangnya angka rata-rata lama kesakitan mengindikasikan tingkat pelayanan fasilitas kesehatan yang lebih baik. Angka kesakitan penduduk yang cukup tinggi ini membutuhkan perhatian serius melalui upaya peningkatan kualitas pelayanan dan penanganan penyakit yang diderita oleh penduduk.
Keluhan kesehatan yang banyak dialami oleh masyarakat adalah penyakit akibat perubahan musim seperti pilek, batuk dan panas. Penyebab utama jenis penyakit tersebut adalah daya tahan tubuh yang kurang menunjang, disamping faktor kesehatan lingkungan serta perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak. Selama tahun 2014, tercatat sebanyak 19,6 persen penduduk menderita keluhan batuk dan 17,5 persen penduduk menderita pilek. Adapun penyakit lainnya yang cukup banyak dikeluhkan penduduk adalah sakit panas yang dialami sekitar 11,8 persen penduduk.
5.3 Fasilitas Kesehatan Masyarakat
Upaya mengatasi keluhan kesehatan yang diderita penduduk harus didukung oleh ketersediaan fasilitas dan sarana kesehatan yang mudah diakses oleh penduduk. Disamping itu, keterjangkauan akses dari sisi harga juga perlu diperhatikan. Karakteristik ekonomi sebagian besar masyarakat Kabupaten Gunungkidul yang masih lemah, harus ditanggulangi dengan memberikan kesehatan relatif murah. Jenis fasilitas kesehatan yang masih menjadi rujukan utama penduduk dalam berobat adalah puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu). Ketersediaan fasilitas kesehatan masyarakat milik Pemerintah yang berbiaya murah ini serta dekat dengan lingkungan penduduk sekitarnya diharapkan mampu memberi layanan kesehatan yang umumnya diderita oleh penduduk seperti penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi, bukan penyakit degeneratif.
Sampai dengan tahun 2014, jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Gunungkidul yang terdiri dari 1 rumah sakit, 30 puskesmas dan 110 puskesmas pembantu. Jika diasumsikan setiap penduduk memiliki akses yang sama terhadap fasilitas tersebut, maka setiap unit puskesmas memiliki beban untuk melayani 23.294 jiwa penduduk dan setiap pustu melayani 6.352 jiwa penduduk. Sehingga rata-rata sebuah fasilitas kesehatan baik rumah sakit, puskesmas maupun pustu di Kabupaten Gunungkidul memiliki beban untuk melayani 4.956 penduduk. Angka ini masih lebih rendah dari rekomendasi PBB yang menyatakan setiap fasilitas puskesmas dan pustu kesehatan yang tersedia maksimal melayani sebanyak 10.000 penduduk.