p-ISSN 1411-5212; e-ISSN 2406-9280 33
Indeks Komposit Pembangunan Infrastruktur Provinsi-Provinsi di Indonesia
Infrastructure Development Composite Index of Provinces in Indonesia
Royhan Faradisa, & Uswatun Nurul Afifaha,∗
aBadan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur
[diterima: 21 September 2018 — disetujui: 14 April 2019 — terbit daring: 18 Desember 2019]
Abstract
Infrastructure development is absolutely necessary to improve Indonesia’s economic growth which carries the principles of pro-poor, pro growth, and pro-jobs. However, the conditions of each region are different so that these objectives are always accompanied by inequality in development outcomes. This study maps areas that experience inequality into a composite index using factor analysis. This composite index was built based on the development of methods by the OECD. The results showed that Indeks Pembangunan Infrastruktur (IPI) was a valid measure. Seven provinces are categorized as inadequate located in Kalimantan and eastern Indonesia. The seven provinces have infrastructure and health and economic dimensions below the national average.
Keywords: infrastructure development; development inequality; composite index; factor analysis
Abstrak
Pembangunan infrastruktur mutlak diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengusung prinsip pro-poor, pro growth, dan pro-job. Namun, kondisi tiap wilayah berbeda sehingga tujuan tersebut selalu diiringi dengan ketimpangan hasil-hasil pembangunan. Penelitian ini memetakan daerah-daerah yang mengalami ketimpangan ke dalam suatu bentuk indeks komposit menggunakan analisis faktor. Indeks komposit ini dibangun berdasarkan pengembangan metode oleh OECD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Infrastruktur (IPI) merupakan ukuran yang valid. Tujuh provinsi dikategorikan kurang memadai yang berlokasi di Kalimantan dan daerah timur Indonesia. Ketujuh provinsi tersebut memiliki ketersediaan infrastruktur dimensi kesehatan dan ekonomi di bawah rata-rata nasional.
Kata kunci:pembangunan infrastruktur; ketimpangan pembangunan; indeks komposit; analisis faktor Kode Klasifikasi JEL:E63; F63
Pendahuluan
Capaian hasil pembangunan suatu negara dapat dilihat melalui pertumbuhan ekonominya. Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) 2000 dalam satu dekade terakhir selalu mengalami kenaikan di Indonesia. Persentase per- tumbuhan PDB ADHK pun dari tahun 2001 sampai 2018 memiliki pola naik. Tercatat di tahun 2018, Tri-
∗Alamat Korespondensi: Jln. Raya Manggarawan Kompleks Perkantoran Pemkab Belitung Timur, Kecamatan Manggar, Ka- bupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
E-mail: [email protected].
wulan I laju pertumbuhan PDB ADHK telah berada di level 5,06%.
Stabilnya pembangunan Indonesia dilihat dari pertumbuhan perekonomian ini, tidak lepas dari kontribusi faktor infrastruktur. Infrastruktur me- mang tidak dipungkiri merupakan pemicu roda perekonomian. Pembangunan infrastruktur mut- lak diperlukan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengusung prinsip pro- poor, pro growth, dan pro-job. Selain itu, infrastruktur memberikan multiplier effect yang besar dalam men- ciptakan lapangan pekerjaan serta menciptakan
pertumbuhan yang berkelanjutan. Secara umum, terdapat tiga dimensi relasi ekonomi dan infra- struktur (Dikun, 2003), yaitu: (a) Infrastruktur me- rupakan faktor yang memungkinkan terjadinya berbagai kegiatan ekonomi, seperti halnya kebera- daan minimarket, hotel, restoran, dan lain-lain; (b) Infrastruktur sebagai indirect input produksi contoh Koperasi Unit Desa (KUD); dan (c) Akses infrastruk- tur menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat, seperti halnya rumah sakit, apotek, dan puskesmas.
Dikarenakan pentingnya peran infrastruktur ter- hadap pembangunan, maka tidak heran jika Ang- garan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia untuk infrastruktur selalu mengalami kenaikan dilihat dari nilainya sejak tahun 2009 sam- pai dengan 2014. Dengan rata-rata pertumbuhan anggaran mencapai 20,57% tiap tahunnya, APBN infrastruktur naik dari angka 76,3 triliun rupiah pada tahun 2009 menjadi 206,6 triliun rupiah pa- da tahun 2014. Angka tersebut berdasarkan data yang dirilis pada Portal Data APBN Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Begitu besar dan pentingnya peranan infrastruktur menjadikannya menarik untuk dibahas. Hal-hal yang berkaitan de- ngan infrastruktur cukup mendapat sorotan dari berbagai kalangan, baik pengamat, birokrat, mau- pun masyarakat. Adapun hal-hal yang sering men- jadi perdebatan dan diskusi adalah pemerataan penyediaan, pencapaian pembangunan, dan spe- sialisasi infrastruktur setiap daerah. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki panjang 5.200 km dan lebar mencapai 1.870 km sehingga menghadirkan tantangan ter- sendiri dalam hal penyediaan infrastruktur hingga pelosok negeri.
Terjadinya kesenjangan pembangunan infrastruk- tur pada suatu wilayah menimbulkan beragam ma- salah, mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik, dan keamanan. Oleh karena itu, adanya pengelom- pokan wilayah berdasarkan tingkat pembangunan
infrastrukturnya dapat menjadi pedoman pemerin- tah dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang sesuai. Dalam upaya pengelompokan wilayah ini, diperlukan suatu dasar berupa ukuran sejauh mana pembangunan infrastruktur pada daerah-daerah di seluruh Indonesia telah tercapai. Maka dari itu, pe- nelitian ini membangun sebuah ukuran yang dapat dibandingkan berdasarkan panduan Organization for Economic and Co-operation Development (OECD).
Indeks ini dibangun dari raw data yang menyajikan sampai dengan level terkecil, yaitu level desa. Level ini nantinya akan diagregasi untuk mendapatkan ukuran di level provinsi. Ukuran ini diharapkan mampu menggambarkan pembangunan infrastruk- tur pada level provinsi di Indonesia melalui sebuah indeks komposit.
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui kegiatan Po- tensi Desa (PODES) telah merekam keberadaan infrastruktur di setiap daerah secara periodik. Dari berbagai dimensi yang ada, penelitian ini memfo- kuskan untuk melihat unit keberadaan infrastruk- tur ekonomi dan kesehatan. Hal ini dikarenakan kedua dimensi ini dapat dipastikan secara konsep dan definisi benar-benar menggambarkan keber- adaan unit fisik bangunannya, bukan dari segi ke- lembagaan seperti halnya dimensi pendidikan. Peri- ode penelitian ini dibatasi tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014 sesuai dengan periode kegiatan PODES diselenggarakan.
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk: (1) membangun suatu ukuran indeks komposit pemba- ngunan infrastruktur (IPI); (2) mengklasifikasikan provinsi-provinsi berdasarkan indeks yang telah dibangun untuk dilihat persebaran pembangunan infrastrukturnya; dan (3) menganalisis karakteris- tik provinsi-provinsi dalam setiap kategori pemba- ngunan infrastruktur. Artikel ini disusun dengan struktur penulisan berupa pendahuluan, tinjauan referensi, metode, hasil dan analisis, dan kesimpul- an.
Tinjauan Literatur
Konsep dan definisi yang digunakan dalam pe- nelitian bersumber dari penelitian-penelitian se- belumnya. Konsep dan definisi juga dibatasi agar penelitian jelas dan terarah.
Pembangunan dan Indikatornya
Tikson (2005) dalam Badruddin (2009) menyatakan bahwa pembangunan nasional dimaknai sebagai transformasi ekonomi, sosial, dan budaya yang secara pasti diarahkan sesuai tujuan melalui ke- bijakan dan strategi. Transformasi pada struktur ekonomi, contohnya mempercepat pertumbuhan di sektor industri, perdagangan, dan jasa sehingga akan berkontribusi makin besar terhadap penda- patan nasional. Transformasi di bidang sosial dapat dilihat melalui kemudahan untuk mengakses sum- ber daya ekonomi yang telah tersedia, di antaranya pendidikan, kesehatan, air bersih, perumahan layak, fasilitas rekreasi, dan partisipasi dalam berpolitik secara merata di seluruh wilayah. Pada sisi lain, transformasi budaya dimaknai dengan tertanam- nya nilai-nilai Pancasila dalam semangat kebangsa- an dan nasionalisme di masyarakat, meskipun nilai dan norma yang dianut di masyarakat telah banyak berkembang. Sementara Alexander (1994) dalam Badruddin (2009) berpendapat bahwa pembangun- an merupakan proses transformasi yang mencakup seluruh sistem sosial, seperti politik, ekonomi, in- frastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya.
Todaro dan Smith (2004) berpendapat bahwa pada dasarnya pembangunan merupakan suatu proses yang multidimensional, tidak hanya menca- kup percepatan pertumbuhan ekonomi tetapi juga menyelesaikan masalah yang harus dibenahi seper- ti ketimpangan pendapatan dan kemiskinan. Hal ini tidak dapat lepas dari transformasi mendasar di beberapa aspek, yaitu sikap masyarakat dan in- stitusi nasional yang ada. Pembangunan haruslah
mencakup perubahan secara total terhadap kompo- nen masyarakat yang menyesuaikan sistem sosial tanpa menghilangkan pemenuhan akan kebutuhan dasarnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada ha- kikatnya pembangunan merupakan transformasi secara menyeluruh menuju arah yang lebih baik, disengaja, dan menyentuh segala aspek.
Oleh karena itu, dalam penguatan landasan pem- bangunan berkelanjutan dibutuhkan dukungan ke- tersediaan infrastruktur yang cakupan di dalamnya memiliki dua poin pendekatan. Pendekatan perta- ma yaitu, dari sisi permintaan (demand approach), artinya prasarana perlu dibangun sesuai dengan ke- butuhan. Tidak hanya itu, penyediaan pemelihara- an terhadap prasana itu sendiri juga penting untuk dilaksanakan. Selanjutnya adalah pendekatan dari sisi penawaran (supply approach). Pendekatan ini fo- kus pada prasarana untuk mendorong aktivitas eko- nomi di suatu wilayah sehingga perekonomiannya dapat tumbuh bergerak positif. Bulohlabna (2008) menyatakan bahwa ketika dana yang tersedia terba- tas, maka arah prioritas sebaiknya ditujukan pada pendekatan pertama (demand approach), sedangkan ketika kondisi perekonomian menunjukkan gejala yang baik, maka pertumbuhan suatu wilayah dapat didorong dengan pembangunan prasarana yang baru.
Infrastruktur
Menurut Macmillan Dictionary of Modern Economics (Amrullah, 2006), infrastruktur adalah suatu fasi- litas bagi pembeli dan penjual untuk melakukan arus barang dalam suatu komponen struktur eko- nomi. World Bank (1994) dalam Zuvia (2012) dalam laporannya membagi infrastruktur menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Infrastruktur Ekonomi, yaitu berupa aset fi- sik yang memfasilitasi jasa untuk digunakan dalam proses produksi dan konsumsi akhir seperti prasarana umum (telekomunikasi, air minum, sanitasi, dan gas), pekerjaan umum
(bendungan, saluran irigasi, dan drainase), ser- ta sektor transportasi (jalan raya, angkutan umum, kereta api, pelabuhan, dan bandara).
2. Infrastruktur Sosial, merupakan aset untuk mendorong kemajuan kesehatan dan keahlian masyarakat yang meliputi sektor pendidikan (sekolah, pelatihan balai kerja, dan perpusta- kaan), sektor kesehatan (klinik, puskesmas, ru- mah sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya), ser- ta penyediaan tempat untuk rekreasi/hiburan (taman bermain, pantai, museum, dan lain- lain).
3. Infrastruktur Administrasi/Institusi, yakni upa- ya penegakan hukum, pengendalian untuk ter- tib administrasi dan kerja sama, serta kebuda- yaan.
Penggolongan ini tidak kaku dan dapat menye- suaikan seiring berkembangnya waktu. Misalnya, listrik yang awalnya termasuk infrastruktur peleng- kap sekarang berubah menjadi golongan infrastruk- tur utama. Menurut Prapti et al. (2015), infrastruktur secara garis besar mencakup fasilitas publik yang disediakan Pemerintah Daerah hingga Pusat seba- gai sarana pelayanan publik dalam memicu dan menunjang aktivitas ekonomi sosial masyarakat.
Dalam penelitian ini, infrastruktur yang dibahas dibatasi pada bangunan dan gedung yang dimak- nai sebagai wujud fisik, menyatu dengan tempat kedudukan, baik yang ada di atas, di bawah tanah, dan/atau di air, dan merupakan hasil pekerjaan konstruksi. Oleh karena itu, terdapat dua data in- frastruktur, yaitu ekonomi dan kesehatan yang akan dianalisis lebih lanjut. Selain itu, infrastruktur kese- hatan dapat mewakili infrastruktur sosial, sesuai de- ngan konsep dari World Bank yang telah dijelaskan sebelumnya. Permasalahan terjadi ketika mengum- pulkan data infrastruktur administrasi yang up to date, sulit untuk didapatkan karena konsepnya bu- kan kepada infrastruktur fisik melainkan jenis infra- struktur yang tidak dapat dirasakan, diraba, atau dilihat langsung dengan kasat mata. Pendataan
PODES yang menjadi rujukan data utama pada pe- nelitian ini juga tidak menyertakan secara spesifik keberadaan infrastruktur administrasi/institusi.
Pemerintah adalah pemain utama dalam hal pe- nyediaan infrastruktur. Peran pemerintah sangat besar dapat menekan ketimpangan antarwilayah le- wat pengeluaran dan investasi pemerintah (Barika, 2012). Selain itu, tidak semua pihak swasta dapat mengambil alih pembangunan ini. Dibutuhkan mo- dal yang besar untuk membangun layanan infra- struktur tertentu dan risiko investasi juga menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, sudah selayaknya pemerintah jeli terha- dap kebijakan rencana pembangunan infrastruktur agar tepat sasaran, baik dari sisi kebutuhan mau- pun pemerataan suatu wilayah. Rencana ini harus disusun secara matang dan dimasukkan ke dalam agenda pembangunan nasional agar wilayah de- ngan tingkat ketersediaan infrastruktur rendah bisa diprioritaskan.
Infrastruktur Kesehatan
Pamungkas (2009:37) menyatakan bahwa kesehat- an adalah salah satu komponen penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Pada tingkat makro, peran penduduk untuk mengentas- kan kemiskinan, menaikkan pertumbuhan ekono- mi, dan membangun perekonomian jangka panjang tidak terlepas dari tingkat kesehatan karena pendu- duk yang sehat merupakan faktor penting dalam pencapaian tersebut. Latuconsina (2017) juga me- nyebutkan bahwa peranan sarana kesehatan yang didukung oleh tenaga kesehatan yang baik dapat meningkatkan kualitas manusia di wilayah terse- but yang dicerminkan lewat Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hal ini telah dibuktikan oleh se- jarah yang mencatat bahwa terobosan di bidang kesehatan masyarakat, pemberantasan penyakit, dan peningkatan kualitas gizi berhasil membuat percepatan pertumbuhan ekonomi.
Pada tingkat mikro, kesehatan merupakan kebu-
tuhan dasar agar tercipta produktivitas kerja dan kualitas belajar bagi individu dan keluarga. Pekerja yang sehat akan lebih produktif karena fisiknya kuat, energinya besar, dan secara mental pun se- hat. Kondisi tersebut membuat kualitas pekerjaan makin baik sehingga pendapatan pun naik. Kemu- dian, anak yang sehat akan memiliki masa depan pendidikan yang baik karena kemampuan belajar yang baik. Kesehatan keluarga juga penting un- tuk pendidikan pengasuhan anak. Jadi, dibutuhkan infrastruktur kesehatan yang memadai agar terse- lenggaranya seluruh aspek kehidupan yang baik.
Yandrizal et al. (2014) menyatakan bahwa diper- lukan adanya kebijakan bersama antara seluruh stakeholeder, yakni Pemerintah Kabupaten, Provinsi, dan Pusat dengan Kementerian Kesehatan dan BPJS dalam pelaksanaan pemenuhan fasilitas pelayanan tingkat pertama. Dalam penelitian ini, infrastruktur kesehatan diwakili oleh variabel jumlah ketersedi- aan rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, puskesmas, puskesmas pembantu, tempat praktik dokter, tempat praktik bidan, pondok bersalin desa (polindes), posyandu, dan apotek.
Infrastruktur Ekonomi
Indrawan (2008:78) berkesimpulan bahwa salah sa- tu daya dukung pertumbuhan ekonomi daerah ada- lah tersedianya infrastruktur perekonomian yang memadai. Infrastruktur perekonomian dibutuhkan dunia usaha untuk meningkatkan produktivitas, memperlancar proses distribusi barang dan jasa, serta untuk dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional dunia usaha. Oleh karenanya, infrastruktur perekonomian memiliki kontribusi yang sangat penting dalam menggairahkan iklim dunia usaha dan perkembangan investasi di daerah.
Untuk itulah, pemerintah daerah kabupaten atau kota dapat memberikan perhatian dalam menye- diakan infrastruktur perekonomian di daerahnya agar perekonomian daerah dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Berbagai jenis sarana dan prasarana, yang me- rupakan infrastruktur perekonomian daerah, dibu- tuhkan dunia usaha, baik yang bersifat fisik mau- pun nonfisik. Lahan atau kawasan berupa areal un- tuk dapat berproduksi dan berusaha/bisnis. Sarana dan prasarana jalan, jembatan, dan sarana transpor- tasi seperti kereta api, transportasi darat, laut, dan udara untuk mendukung kegiatan distribusi barang dan jasa yang dihasilkan dunia usaha. Ketidakterse- diaan infrastruktur sudah pasti akan menyulitkan perkembangan dunia usaha dan peningkatan in- vestasi di daerah. Oleh karena itu, ketersediaan infrastruktur dan perbedaan penyerapan investasi sering kali dikaitkan dengan kesenjangan ekonomi antarwilayah (Sukwika, 2018).
Indikator Komposit
OECD (2008) menjelaskan bahwa secara umum, indikator merupakan ukuran kualitatif maupun ku- antitatif yang diperoleh dari pengukuran terhadap unit-unit observasi yang berada pada suatu area tertentu seiring waktu berjalan. Indikator ini sering kali digunakan untuk melihat perubahan antara unit-unit observasi dari waktu ke waktu sebagai dasar penentuan prioritas kebijakan ataupun meng- ukur kemampuan unit-unit observasi dalam hal atau aspek tertentu.
Indikator bisa diukur dalam bentuk data abso- lut, proporsi atau persentase, rate atau tingkat, rasio atau perbandingan, serta indeks. Ditinjau dari aspek yang mampu diukur, indikator terdiri dari indika- tor tunggal dan komposit. Indikator tunggal hanya mengukur satu aspek tertentu, sedangkan indikator komposit mengukur berbagai aspek dan disusun dari indikator-indikator tunggal yang dikombina- sikan sedemikian rupa menjadi suatu indeks tung- gal (Pratiwi, 2009). Indikator komposit ini biasanya digunakan untuk mengukur konsep-konsep yang bersifat multidimensi, kompleks, dan terkadang mencakup berbagai bidang, seperti pembangunan teknologi, sosial, ekonomi, kesehatan, dan seba-
gainya yang tidak dapat diperoleh dari beberapa indikator tunggal. Indikator komposit memiliki beberapa kelebihan di antaranya lebih mudah diin- terpretasikan dibandingkan menginterpretasikan sebagai indikator secara terpisah. Selain itu, dengan menggunakan indikator komposit, jumlah variabel yang digunakan dapat diubah menjadi lebih sedi- kit dari biasanya tanpa harus kehilangan banyak informasi (OECD, 2008).
Parris (1999) menyebutkan beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih indikator, yaitu : 1. Policy relevant, sesuai dengan masalah yang berkembang dan memperhatikan ketersediaan data;
2. Analytically sound, yang berarti berdasarkan metode-metode ilmiah dengan melakukan riset dan pengembangan secara terus-menerus;
3. Easy to interpreted, atau mudah untuk diinter- pretasikan;
4. Measurement, dapat diukur dengan memperha- tikan ketersediaan data serta keefektifan biaya dalam proses pengumpulan, pengolahan, dan diseminasi data.
Metode penyusunan indeks yang digunakan da- lam penelitian ini mengadopsi metode penghitung- an Indeks Pembangunan Regional (IPR) yang dikaji oleh BPS yang juga menggunakan data OECD da- lam penyusunannya. OECD menyebutkan sepuluh langkah yang perlu dilakukan dalam penyusunan indeks komposit (OECD, 2008).
Metode
Seluruh data dalam penelitian ini menggunakan data kegiatan PODES. Pendataan PODES merupa- kan kegiatan yang independen terlepas dari sensus.
Data PODES merupakan data cross section yang di- tujukan untuk menghasilkan data secara rinci bagi keperluan pembangunan wilayah dan memberikan informasi awal tentang fakta-fakta potensi wilayah, infrastruktur/fasilitas, serta kondisi sosial-ekonomi
dan budaya di setiap desa/kelurahan. Data PODES yang diteliti adalah PODES 2006, 2008, 2011, dan 2014. Meskipun bukan data panel tahunan, data PODES dengan rentang beberapa tahun ini sudah dapat menggambarkan keadaan perkembangan pembangunan infrastruktur. Justru jika diteliti ta- hunan, maka data yang diperoleh cenderung tidak berubah karena pembangunan infrastruktur meru- pakan pembangunan yang multiyears. PODES me- rekam berbagai dimensi infrastruktur, namun yang digunakan dalam penelitian ini adalah infrastruktur dimensi kesehatan dan ekonomi, yang merupakan dua dari tiga dimensi infrastruktur yang didefini- sikan oleh World Bank (1994) dalam Zuvia (2012).
Kedua dimensi cukup mewakili infrastruktur di seluruh provinsi di Indonesia. Dalam penelitian ini, data asli yang digunakan adalah jumlah infrastruk- tur per 1.000 km2. Data luas wilayah diperoleh dari publikasi BPS dengan tujuan untuk memperoleh hasil analisis yang lebih baik dengan penimbang luas wilayah suatu provinsi.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi BPS dalam kegiatan PODES 2006, 2008, 2011, dan 2014. Data PODES yang digunakan, yaitu tujuh belas variabel yang digolongkan ke dalam dimensi ekonomi dan kese- hatan serta dilakukan terhadap seluruh provinsi di Indonesia. Pemilihan tujuh belas variabel di- dasarkan pada ketersediaan data PODES dalam meng-cover dimensi ekonomi dan kesehatan. Di- mensi ekonomi diwakili oleh tujuh variabel, yakni jumlah minimarket, restoran, warung makan, toko kelontong, hotel, penginapan/motel, dan Koperasi Unit Desa (KUD). Sementara dimensi kesehatan diwakili oleh sepuluh variabel, yakni ketersedia- an rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, puskesmas, puskesmas pembantu, tempat praktik dokter, tempat praktik bidan, polindes, posyandu, dan apotek. Tujuh belas variabel ini dianggap cukup dalam menggambarkan kedua dimensi. Dalam peri- ode tahun yang digunakan, penelitian ini memiliki
jumlah provinsi yang berbeda-beda dikarenakan terjadinya pemekaran wilayah. Hal ini tidak men- jadi masalah dikarenakan fokus pembahasan akan dilakukan independen di setiap tahunnya.
Metode Penyusunan Indeks
Terdapat beragam metode dalam penyusunan in- deks komposit. Salah satu yang paling sering digu- nakan adalah metode rata-rata aritmatik. Metode tersebut pernah digunakan dalam penghitungan IPM. Kelebihan metode rata-rata aritmatik adalah sederhana sehingga mudah diaplikasikan. Namun, metode tersebut kurang tepat untuk diaplikasikan pada penelitian ini karena mengasumsikan bah- wa semua variabel memiliki pengaruh yang sama dalam penyusunan indeks. Dengan kata lain, ca- paian yang rendah dari suatu jenis infrastruktur dapat ditutupi oleh capaian tinggi dari infratrukstur yang lain untuk suatu wilayah. Padahal untuk ka- sus infrastruktur, ketiadaan infrastruktur kesehatan seperti rumah sakit tidak dapat diganti dengan ba- nyaknya keberadaan puskesmas di wilayah yang sama. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode lain yang dapat mempertimbangkan bobot jenis infrastruktur dalam setiap dimensi. Pembobotan ini dinilai penting karena masing-masing jenis in- frastruktur memiliki kekhasan tersendiri dalam menjelaskan keberadaannya. Keberadaan satu su- mah sakit tidak bisa disamakan dengan keberadaan satu puskesmas.
OECD telah menyusun suatu metode yang mam- pu mengakomodir ciri atau kekhasan suatu variabel.
Metode tersebut tepat digunakan dalam penelitian ini karena variabel penelitian yang berupa infra- struktur dapat dilakukan pembobotan. Secara garis besar, metode pembobotan indeks yang digunakan menggunakan analisis faktor. Penggunaan analisis faktor merupakan pendekatan yang terbaik dalam kasus ini. Hal ini didasarkan pada:
1. Analisis Multivariat. Penelitian ini menggu- nakan beberapa variabel PODES yang ingin
digolongkan untuk menjadi satu skor yang me- wakili. Keterlibatan banyak variabel ini mem- buat analisis mengerucut pada metode penge- lompokan dari beberapa variabel. Dalam teori multivariat yang telah diampu oleh peneliti, terdapat tiga cara metode pengelompokan, yak- ni Principal Component Analysis (PCA), analisis faktor, dan Cluster Analysis (dendrogam). Di- karenakan yang akan dikelompokkan adalah variabel (kolom) bukannya objek (row), maka metode analisis multivariat yang digunakan adalah PCA dan analisis faktor. Matriks yang digunakan dalam proses penghitungan adalah matriks kovarian sehingga dapat dikatakan bahwa metode tersebut dapat digolongkan ke- pada analisis faktor.
2. Data Kuantitatif. Dibatasinya konsep infra- struktur sebagai infrastruktur yang dapat di- rasakan, diraba, atau dilihat langsung dengan kasat mata (tangible) menuntut data yang di- peroleh berjenis data kuantitatif. Dikarenakan datanya adalah kuantitatif, maka analisis mul- tivariat dengan metode analisis faktor dirasa sudah cukup mumpuni dalam melakukan pe- nyusunan indeks komposit.
3. Sesuai panduan OECD. Dalam Handbook on Constructing Indicators Methodology and User Gu- ide yang diterbitkan oleh OECD pada tahun 2008, terdapat sepuluh tahapan yang harus dilaksanakan dalam membentuk indeks kom- posit. Kesepuluh tahapan tersebut meliputi:
(a) penyusunan kerangka kerja teoretis, (b) pemilihan variabel,
(c) pengimputasian data-data yang tidak ter- sedia,
(d) proses analisis multivariat, (e) proses normalisasi terhadap data,
(f) penentuan penimbang serta metode agregasi,
(g) pengujian kekuatan dan kepekaan (terha- dap indeks komposit yang dihasilkan),
(h) penguraian kembali (dekomposisi) indeks komposit yang telah diperoleh,
(i) proses menghubungkan atau mengaitkan indeks komposit dengan indikator lain- nya,
(j) visualisasi hasil indeks komposit yang terbentuk.
Pada tahapan d, e, dan f dinyatakan bahwa metode yang digunakan akan dikerucutkan menjadi metode analisis multivariat. Di sini, peneliti diberikan kebebasan dalam memilih metode yang sesuai. Setelah berbagai pertim- bangan didapatkan analisis multivariat terbaik adalah dengan analisis faktor (lihat alasan per- tama) yang memanfaatkan nilai Variance Infla- tion Factor (VIF) sebagai penentuan penimbang untuk setiap dimensinya. Dengan berdasarnya penelitian ini pada panduan tersebut, maka ti- dak diragukan lagi bahwa penggunaan analisis faktor menjadi pendekatan terbaik dan cukup dalam menggabungkan variabel-variabel in- frastruktur.
4. Efisiensi
Ada sebuah anekdot dalam penentuan metode penelitian, yakni “tak perlu gunakan gergaji tuk memotong bersiung-siung bawang, tapi jangan gunakan silet jika yang kau potong adalah sebongkah kayu”. Dengan dasar ini- lah penggunaan analisis faktor yang secara penghitungannya sudah disediakan di SPSS, memudahkan peneliti untuk melakukan pem- bentukan indeks.
Dalam analisis faktor tersebut ada kriteria pe- nimbangan yang digunakan, yakni statistik Keiser Meyer Olkin (KMO) dengan rumusan sebagai beri- kut:
KMO=
P
i
P
i6=jr2i j P
i
P
i6=jr2i j+ Pi
P
i6=ja2i j (1) i= 1, 2, . . . , p; j= 1, 2, . . . , p
dengan ri jadalah koefisien korelasi sederhana an- tara variabel i dan j; ai jadalah koefisien korelasi
parsial antara variabel i dan j; dan p adalah jumlah variabel.
Pada pendekatan dengan kriteria ini, variabel- variabel yang memiliki akar ciri kurang dari satu (KMO< 1) tidak masuk ke dalam model faktor dan harus dikeluarkan. Sebaliknya, faktor yang diang- gap signifikan dan selanjutnya masuk ke dalam model adalah faktor yang memiliki akar ciri lebih dari sama dengan satu (λ ≥ 1).
Metode penyusunan indeks yang digunakan da- lam penelitian ini mengadopsi metode penghitung- an IPR yang dikaji oleh BPS yang juga menggu- nakan OECD dalam penyusunannya. OECD me- nyebutkan sepuluh langkah yang perlu dilakukan dalam penyusunan indeks komposit. Kesepuluh tahapan tersebut dimulai dari menyusun kerangka kerja teoretis, memilih variabel, mengimputasi data- data yang kosong atau tidak tersedia, melakukan analisis multivariat, melakukan proses normalisa- si terhadap data, menentukan penimbang serta metode agregasi, menguji kekuatan dan kepekaan (terhadap indeks komposit yang dihasilkan), mela- kukan penguraian kembali (dekomposisi) indeks komposit yang telah diperoleh, menghubungkan atau mengaitkan indeks komposit dengan indika- tor lainnya, hingga proses visualisasi hasil indeks komposit yang terbentuk.
Kerangka Pikir
Tahap pertama adalah penyeleksian variabel meng- gunakan analisis faktor. Tahap ini dilakukan un- tuk mengetahui korelasi antarvariabel sehingga variabel-variabel yang saling berkorelasi dapat di- gunakan dalam analisis faktor. Analisis faktor di- lakukan secara terpisah di setiap tahunnya, baik dimensi ekonomi maupun kesehatan. Diperlukan konsistensi variabel yang masuk dalam membentuk skor faktor di setiap dimensinya sehingga dilaku- kanlah pemeriksaan variabel agar seragam di tiap tahunnya. Variabel-variabel yang konsisten ini se- lanjutnya disebut sebagai indikator.
Apabila terbentuk lebih dari satu faktor untuk setiap dimensi, maka kembali dilakukan analisis faktor untuk memperoleh penimbang faktor dan skor faktor. Namun, apabila hanya terbentuk satu faktor, maka otomatis skor faktor tersebut menja- di skor dimensi pada periode tersebut. Rata-rata dari kedua skor dimensi selanjutnya disebut seba- gai skor komposit. Berdasarkan besarnya indeks komposit ini, provinsi yang menjadi unit observasi akan dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yai- tu provinsi dengan infrastruktur kurang memadai, cukup memadai, dan memadai. Setelah itu, dila- kukan analisis secara deskriptif untuk mengetahui karakteristik dari provinsi-provinsi dalam ketiga kategori tersebut. Secara ringkas, rangkaian analisis di atas ditunjukkan dalam Gambar 1.
Kerangka kerja teoretis dan pemilihan variabel telah dijelaskan sebelumnya pada bagian kerang- ka pikir. Namun prinsip-prinsip dalam menyusun kerangka kerja, memilih variabel, serta melakukan tahapan-tahapan selanjutnya dalam proses penyu- sunan indeks komposit akan dijelaskan berikut ini.
1. Membangun Kerangka Kerja Teoretis dan Pe- milihan Variabel
(Lihat Gambar 2)
2. Imputasi Data yang Tidak Tersedia (Missing Value)
Penyusunan IPI ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data. Indeks komposit akan ber- hasil menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan jika data yang tersedia lengkap. Da- lam penelitian ini tidak ditemukannya missing data value. Hal ini dikarenakan peneliti meng- agregasi langsung raw data PODES untuk me- minimumkan terjadinya missing data dalam pengolahan. Di samping itu, PODES juga di- lakukan secara rutin sehingga baik raw data maupun hasil publikasi PODES tersedia leng- kap di BPS.
3. Normalisasi
Normalisasi dilakukan agar mudah diperban-
dingkan IPI antar-observasi. Namun sebelum melakukan normalisasi perlu dilihat kembali distribusi data untuk menentukan teknik nor- malisasi yang sesuai. Setelah dipertimbangkan untuk melakukan normalisasi atau tidak, maka dapat dilanjutkan melakukan agregasi seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Nor- malisasi yang digunakan dalam penyusunan IPI ini dengan menggunakan metode z-score sebagai berikut.
IPI= 1 − z(p − value) 4. Kekuatan dan Kepekaan
Dalam menyusun indeks komposit, terdapat beberapa ketidakpastian yang bisa muncul da- ri pemilihan indikator yang bersifat subjektif, termasuk di dalamnya dimasukkan atau dike- luarkannya suatu indikator dalam penyusunan indeks, metode imputasi, perbedaan metode normalisasi, perbedaan pemilihan penimbang, serta perbedaan metode agregasi. Oleh kare- na itu, perlu dilakukan analisis kekuatan dan kepekaan untuk menilai seberapa besar keti- dakpastian yang muncul. Pendekatan anali- sis ketidakpastian mengikuti langkah berikut (OECD, 2008):
(1) mencoba beberapa variabel indikator yang berbeda;
(2) memodelkan kesalahan data berdasarkan keterangan yang tersedia pada varians- nya;
(3) menggunakan rancangan alternatif pada proses imputasi data;
(4) menggunakan model alternatif pada pro- ses normalisasi;
(5) menggunakan penimbang yang berbeda;
(6) menggunakan metode agregasi yang ber- beda.
Namun demikian, pada kenyataannya, jarang sekali penggunaan analisis kepekaan pada in- deks komposit yang sudah ada. Bahkan pa- da IPM yang dihasilkan oleh United Nations
Gambar 1:Kerangka Pikir Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Development Programme (UNDP) sejak 1990 ti- dak dilakukan analisis ini. Dalam penelitian ini, analisis kekuatan dan kepekaan juga ti- dak dilakukan mengingat terbatasnya keterse- diaan data sehingga sulit melakukan penam- bahan indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur pencapaian pembangunan infrastruktur. Selain itu, mengingat keterba- tasan waktu, perbandingan metode imputasi, normalisasi, agregasi, serta penentuan penim- bang memerlukan suatu kajian tersendiri yang tidak tercakup dalam penelitian ini. Sebagai gantinya, untuk melihat seberapa baik indeks yang dihasilkan akan dilakukan analisis hu- bungan antara indeks ini dengan indikator lain yang sudah tersedia.
5. Dekomposisi Indeks Komposit
Indikator komposit menyediakan suatu titik awal untuk analisis. Penguraian indikator kom- posit ini dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi-kondisi dibalik baik buruknya indeks komposit di suatu wilayah. Dalam peneliti-
an ini, penguraian atau dekomposisi ini digu- nakan untuk melihat bagaimana karakteristik provinsi-provinsi yang berada pada katego- ri pencapaian pembangunan dari dimensi IPI ekonomi dan kesehatan.
6. Hubungan antara Indeks Komposit dengan Indikator Lain
Tujuan melihat hubungan antara indeks kom- posit dengan indikator lainnya adalah menilai seberapa baik kemampuan IPI menjelaskan fenomena yang terjadi. Hasilnya dapat digu- nakan untuk mendukung analisis kekuatan dan kepekaan yang telah dijelaskan sebelum- nya. Ada tidaknya hubungan ini dapat dilihat dari nilai dan signifikansi nilai korelasi Pearson.
Selain itu, dibantu juga dengan penggunaan scatter plot. Dalam penelitian ini akan diamati hubungan antara indeks komposit pencapaian pembangunan infrastruktur dengan indikator Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dan IPR yang dikeluarkan oleh BPS.
Gambar 2:Rincian Indikator dalam Setiap Dimensi Pembangunan Infrastruktur Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Metode Pengelompokan Provinsi
Melalui indeks komposit ini dapat diketahui penca- paian pembangunan infrastruktur di suatu provinsi, baik peran dari pemerintah maupun swasta. Na- mun, karena provinsi yang digunakan sebagai unit observasi relatif banyak, maka untuk mempermu- dah analisis, provinsi tersebut akan dikelompokkan berdasarkan indeks kompositnya. Dengan demiki- an, dapat diketahui provinsi-provinsi mana saja yang perlu mendapat prioritas perhatian karena kondisinya yang relatif masih belum baik. Selain itu, dengan adanya pengelompokan ini akan le- bih mudah melakukan analisis untuk mengetahui karakteristik dari provinsi-provinsi tersebut.
Sejauh ini belum terdapat kriteria yang baku un- tuk mengelompokkan suatu observasi berdasarkan pembangunan infrastrukturnya, namun penelitian ini akan menggunakan nilai kuartil indeks di tiap tahunnya. Distribusi data IPI yang tidak normal ada- lah alasan memilih metode karena tidak memung- kinkan untuk mengategorikan berdasarkan sebaran datanya terhadap rata-rata. Provinsi-provinsi ter- sebut akan dibagi ke dalam tiga kategori, yakni di atas kuartil atas (Q3), di bawah kuartil bawah (Q1),
dan antara kuartil atas dan kuatil bawah. Notasi pengategorian provinsi disajikan sebagai berikut:
IPI> Q3t= Infrastruktur Memadai
Q1t≤ IPI< Q3t= Infrastruktur Cukup Memadai IPI ≤ Q1t= Infrastruktur Kurang Memadai
Hasil dan Analisis
Hasil pemilihan indikator dimensi kesehatan tahun 2006 pada tahap pertama telah menunjukkan bahwa dalam matriks anti image nilai Measure of Sampling Adequacy (MSA) 10 variabel dimensi kesehatan ber- nilai lebih dari 0,5 kecuali variabel polindes (0,234).
Nilai MSA yang lebih dari 0,5 ini menunjukkan bahwa variabel dimensi kesehatan layak untuk di- analisis lebih lanjut menggunakan analisis faktor.
Sementara polindes yang memiliki nilai anti image di bawah 0,5 menunjukkan bahwa variabel terse- but harus direduksi karena tidak layak dianalisis lebih lanjut dengan analisis faktor. Pada tahap ke- dua, ketika tersisa 9 variabel, menunjukkan nilai MSA seluruh variabel dimensi kesehatan lebih dari 0,5, sedangkan dilihat dari statistik KMO, dimensi kesehatan tahun 2006 bernilai 0,747. Artinya, ber-
dasarkan teori pengategorian KMO pada bagian sebelumnya, kesembilan variabel dalam dimensi kesehatan dikategorikan sebagai data yang agak baik untuk dianalisis faktor (KMO antara 0,7 dan 0,8).
Sementara itu, pada tahap pertama pemilihan indikator dimensi kesehatan tahun 2008 menun- jukkan nilai KMO 0,74, namun variabel puskesmas pembantu dan polindes memiliki nilai MSA masing- masing 0,428 dan 0,492. MSA yang bernilai kurang dari 0,5 ini mengindikasikan bahwa kedua variabel ini perlu untuk direduksi. Dengan tidak menyerta- kan kedua variabel tersebut pada tahap kedua, nilai KMO naik menjadi 0,758, namun variabel posyandu memiliki nilai MSA hanya 0,157. Dengan perlaku- an yang sama, maka variabel posyandu direduksi.
Pada tahap ketiga pengujian, diperoleh bahwa nilai KMO makin membaik ke angka 0,794 dan semua variabel yang tersisa memiliki nilai MSA di atas 0,5. Dengan demikian, pada tahun 2008, terdapat 7 variabel yang layak untuk dianalisis sebagai indi- kator dimensi kesehatan. Variabel-variabel dimensi kesehatan yang layak digunakan dalam analisis faktor tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014 (per 1.000 km2) dapat dilihat pada Tabel 1.
Dengan perlakuan yang sama, pada tahun 2011 dan 2014 secara berturut-turut menghasilkan jum- lah variabel layak sebanyak 9 dan 8. Statistik KMO juga berada dalam kategori yang sama, yakni an- tara 0,8 dan 0,9. Dari Tabel 1 terlihat bahwa hanya terdapat 7 variabel yang konsisten layak untuk dia- nalisis faktor dari tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014.
Variabel-variabel tersebut adalah jumlah rumah sa- kit, jumlah rumah sakit bersalin, jumlah poliklinik, jumlah puskesmas, jumlah tempat praktik dokter, jumlah tempat praktik bidan, dan jumlah apotek.
Dengan demikian, hanya ketujuh variabel ini yang ditetapkan sebagai indikator dimensi kesehatan dalam penyusunan indeks komposit.
Untuk dimensi ekonomi, hasil tahap pertama di tahun 2006 menunjukkan ketujuh variabel dapat
dianalisis dengan analisis faktor karena dianggap layak. Statistik KMO dimensi ekonomi tahun 2006 bernilai 0,732. Artinya berdasarkan teori pengatego- rian KMO pada bagian sebelumnya, seluruh varia- bel dalam dimensi ekonomi dikategorikan sebagai data yang agak baik untuk dianalisis faktor (KMO antara 0,7 dan 0,8). Sementara itu, jika dilihat dari matriks anti image, seluruh variabel memiliki nilai MSA di atas 0,5. Berdasarkan kriteria nilai MSA dan KMO tersebut, variabel-variabel dimensi kesehatan tahun 2006 tidak perlu ada yang direduksi.
Kondisi tersebut juga terjadi pada tahun 2008 dan 2011. Secara berturut-turut berdasarkan krite- ria KMO dan MSA berkesimpulan bahwa seluruh variabel layak untuk digunakan dalam analisis fak- tor. Namun, pada uji tahap pertama tahun 2014, nilai MSA variabel KUD jatuh di angka 0,239. Hal ini menunjukkan diperlukannya reduksi terhadap variabel KUD. Pada tahap kedua dengan meniada- kan variabel KUD dalam pengujian, menunjukkan peningkatan nilai KMO dari 0,735 menjadi 0,720. Di samping itu, seluruh nilai MSA variabel yang tersi- sa berada di atas 0,5. Variabel-variabel yang layak digunakan dalam analisis faktor dimensi ekonomi setiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan bahwa hanya terdapat 6 va- riabel yang konsisten layak untuk dianalisis faktor dari tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014. Variabel- variabel tersebut adalah jumlah minimarket, res- toran, warung makan, toko kelontong, hotel, dan penginapan/motel. Dengan demikian, hanya kee- nam variabel ini yang ditetapkan sebagai indikator dimensi kesehatan dalam penyusunan indeks kom- posit.
Akhirnya dalam penelitian ini digunakan tiga belas indikator. Indikator-indikator tersebut terdiri dari 7 indikator dalam dimensi kesehatan dan 6 in- dikator dalam dimensi ekonomi. Rincian indikator dalam setiap dimensi dapat dilihat pada Gambar 2.
Tabel 1:Variabel-Variabel yang Dinyatakan Layak
2006 2008
(1) (2)
1. Jumlah Rumah Sakit 1. Jumlah Rumah Sakit 2. Jumlah Rumah Sakit Bersalin 2. Jumlah Rumah Sakit Bersalin 3. Jumlah Poliklinik 3. Jumlah Poliklinik
4. Jumlah Puskesmas 4. Jumlah Puskesmas
5. Jumlah Puskesmas Pembantu 5. Jumlah Tempat Praktik Dokter 6. Jumlah Tempat Praktik Dokter 6. Jumlah Tempat Praktik Bidan 7. Jumlah Tempat Praktik Bidan 7. Jumlah Apotek
8. Jumlah Posyandu 9. Jumlah Apotek
2011 2014
(3) (4)
1. Jumlah Rumah Sakit 1. Jumlah Rumah Sakit 2. Jumlah Rumah Sakit Bersalin 2. Jumlah Rumah Sakit Bersalin 3. Jumlah Poliklinik 3. Jumlah Poliklinik
4. Jumlah Puskesmas 4. Jumlah Puskesmas
5. Jumlah Puskesmas Pembantu 5. Jumlah Tempat Praktik Dokter 6. Jumlah Tempat Praktik Dokter 6. Jumlah Tempat Praktik Bidan 7. Jumlah Tempat Praktik Bidan 7. Jumlah Posyandu
8. Jumlah Posyandu 8. Jumlah Apotek 9. Jumlah Apotek
Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Tabel 2:Variabel-Variabel pada Dimensi Ekonomi yang Layak Digunakan dalam Analisis Faktor Tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014 (per 1.000 km2)
2006 2008
(1) (2)
1. Jumlah Minimarket 1. Jumlah Minimarket 2. Jumlah Restoran 2. Jumlah Restoran 3. Jumlah Warung Makan 3. Jumlah Warung Makan 4. Jumlah Toko Kelontong 4. Jumlah Toko Kelontong
5. Jumlah Hotel 5. Jumlah Hotel
6. Jumlah Penginapan/Motel 6. Jumlah Penginapan/Motel 7. Jumlah Koperasi Unit Desa (KUD) 7. Jumlah Koperasi Unit Desa (KUD)
2011 2014
(3) (4)
1. Jumlah Minimarket 1. Jumlah Minimarket 2. Jumlah Restoran 2. Jumlah Restoran 3. Jumlah Warung Makan 3. Jumlah Warung Makan 4. Jumlah Toko Kelontong 4. Jumlah Toko Kelontong
5. Jumlah Hotel 5. Jumlah Hotel
6. Jumlah Penginapan/Motel 6. Jumlah Penginapan/Motel 7. Jumlah Koperasi Unit Desa (KUD)
Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Pembentukan Faktor dan Penghitungan Penimbang Faktor dalam Setiap Dimensi Pembangunan Infrastruktur
Analisis faktor akan digunakan sekali lagi untuk menghasilkan faktor-faktor dominan dalam seti- ap dimensi pencapaian pembangunan. Banyaknya faktor dominan yang dapat mencirikan suatu di-
mensi didasarkan pada kriteria Kaiser yang mana faktor-faktor dengan akar ciri (eigen value) bernilai kurang dari satu tidak diikutsertakan sebagai fak- tor dominan (OECD, 2008). Jika menghasilkan satu saja faktor dominan, maka faktor tersebut otomatis akan menjadi skor dimensi tersebut. Namun, apa- bila terdapat faktor dominan lebih dari satu, maka dilakukan teknik agregasi dengan penimbang. Ca-
ra memperoleh penimbang faktor adalah dengan membandingkan antara keragaman suatu faktor terhadap keragaman total. Penimbang faktor dihi- tung hanya dari faktor dominan di suatu dimensi.
Kedudukan faktor berbanding lurus dengan penim- bangnya. Dengan demikian, faktor yang memiliki penimbang besar akan memiliki kedudukan yang makin penting dalam suatu dimensi. Tabel 3 adalah daftar penimbang yang diperoleh untuk dimensi kesehatan. Sementara penimbang untuk dimensi ekonomi disajikan dalam Tabel 4.
Berdasarkan hasil analisis faktor pada dimensi kesehatan tahun 2006, hanya terdapat satu faktor yang memiliki akar ciri lebih dari 1. Artinya, lang- sung terdapat 1 faktor dominan yang membentuk dimensi kesehatan tahun 2006 yang sekaligus men- jadi skor dimensi kesehatan 2006. Sementara itu, berdasarkan tabel Component Matrix menunjukkan bahwa indikator rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, puskesmas, tempat praktik dokter, tem- pat praktik bidan, dan apotek secara berturut-turut memiliki nilai communalities sebesar 0,998; 0,999;
0,992; 0,999; 0,997; 0,973; dan 0,998. Besarnya nilai communalities menunjukkan besarnya variasi vari- abel asal yang dapat dijelaskan oleh faktor yang terbentuk. Selain tahun 2006, pada tahun 2008, 2011, dan 2014 memberikan hasil yang sama terkait jum- lah faktor yang dominan dalam dimensi kesehatan.
Hal serupa juga terjadi pada dimensi ekonomi.
Dengan menggunakan kriteria Kaiser, selama ta- hun 2006, 2008, 2011, dan 2014 diperoleh satu faktor dominan yang menyusun dimensi ini. Dengan kata lain, faktor dominan tersebut akan otomatis men- jadi skor dimensi ekonomi pada tahun yang berse- suaian. Nilai communalities yang dihitung dengan metode PCA menunjukkan bahwa absolute loading dari setiap tahun memiliki nilai yang cukup tinggi, yang mengindikasikan keeratannya dengan skor dimensi yang terbentuk.
Walaupun terdapat satu faktor dominan saja da- lam setiap dimensi, namun telah dapat menggam-
barkan keragaman seluruh indikatornya dengan cukup baik. Hal ini dijelaskan dari statistik Total Va- riance Explained by factor yang cukup besar. Sebagai contoh, nilai total variance explained untuk dimensi kesehatan tahun 2006 adalah 99,35% yang artinya varians indikator-indikator pembentuk dimensi ke- sehatan tahun 2006 dapat dijelaskan oleh variasi skor faktor dominan yang terbentuk sebesar 99,35%, sisanya dijelaskan oleh faktor lain.
Hasil Perhitungan Indeks Komposit Pembangunan Infrastruktur
Indeks komposit pembangunan infrastruktur ada- lah rata-rata dari skor dimensi kesehatan dan ekono- mi. Artinya bahwa kedua dimensi tersebut memiliki bobot yang sama. Karena analisis faktor dilakukan dengan menggunakan data transformasi melalui z-score, hasil transformasi bisa bertanda positif jika nilai asli data suatu provinsi lebih besar dari rata- rata seluruh provinsi, dan bertanda negatif jika nilai asli data lebih kecil dari rata-ratanya, ataupun ber- nilai 0 jika nilai asli data sama dengan rata-ratanya.
Dengan kata lain, IPI yang dihasilkan bisa bertanda positif, nol, dan negatif karena disusun dari skor dimensi yang bertanda positif, nol, dan negatif juga.
Skor komposit dalam bentuk ini tentu menyulitkan untuk dibandingkan karena tidak memiliki nilai mi- nimum dan maksimum yang jelas. Oleh karena itu, skor komposit yang ada ditransformasi ke dalam bentuk peluang kumulatif dengan pendekatan bah- wa data mengikuti distribusi normal baku (rata-rata 0 dan varians 1). Bentuk transformasi ini sebelum- nya sudah pernah digunakan oleh BPS dalam Kajian Indeks Pembangunan Regional maupun negara India ketika menyusun Enviromental Sustainability Index 2009.
Indeks komposit pembangunan infrastruktur yang terbentuk di atas mengukur ketersediaan in- frastruktur kesehatan dan ekonomi di setiap provin- sinya. Provinsi dengan nilai indeks di atas 0, maka provinsi tersebut secara agregat memiliki keterse-
Tabel 3:Penimbang Dimensi Kesehatan Masing-masing Variabel
No Indikator Kesehatan Component Score Coefficient Matrix
2006 2008 2011 2014
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Rumah Sakit 0,144 0,148 0,145 0,144
2 Rumah Sakit Bersalin 0,144 0,149 0,145 0,144
3 Poliklinik 0,143 0,149 0,145 0,144
4 Puskesmas 0,144 0,149 0,145 0,144
5 Tempat Praktik Dokter 0,144 0,15 0,145 0,144 6 Tempat Praktik Bidan 0,142 0,133 0,144 0,141
7 Apotek 0,144 0,148 0,141 0,144
Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Tabel 4:Penimbang Dimensi Ekonomi Masing-masing Variabel
No Indikator Ekonomi Component Score Coefficient Matrix
2006 2008 2011 2014
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Minimarket 0,183 0,168 0,176 0,173
2 Restoran 0,18 0,169 0,176 0,173
3 Warung 0,185 0,168 0,175 0,173
4 Toko Kelontong 0,184 0,167 0,174 0,172
5 Hotel 0,184 0,168 0,169 0,173
6 Penginapan 0,138 0,167 0,163 0,159
Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
diaan infrastruktur di atas rata-rata ketersediaan infrastruktur nasional dari segi dimensi kesehatan atau ekonomi. Begitu juga sebaliknya jika suatu pro- vinsi memiliki indeks di bawah 0 (negatif). Secara detail, perolehan indeks setiap provinsi disajikan dalam Tabel 5.
Indeks ini menekankan pada perbandingan keter- sediaan infrastruktur antarprovinsi di tahun yang sama, namun belum bisa melihat perkembangan ke- tersediaan infrastruktur dari waktu ke waktu. Hal ini dikarenakan rata-rata dan varians yang digu- nakan dalam standarisasi z-score dalam membentuk skor dimensi kesehatan dan ekonomi berbeda-beda antartahun sehingga tidak terdapat suatu standar untuk melakukan perbandingan antarwaktu. Mes- kipun demikian, indeks ini dapat menjawab ke- tersediaan infrastruktur di suatu provinsi relatif terhadap provinsi lainnya dari waktu ke waktu se- lama penimbang indikatornya tetap (Pratomo dan Sumargo, 2016).
DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali selalu ber- ada konsisten di tiga besar provinsi dengan nilai IPI tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga
provinsi tersebut memiliki jumlah ketersediaan in- frastruktur yang relatif stabil lebih baik daripada provinsi-provinsi lainnya. Untuk IPI DKI Jakarta, terlihat bahwa nilainya terlalu tinggi sehingga out- lier dan jauh berbeda dengan provinsi lainnya. Hal ini dikarenakan penggunaan variabel luas wila- yah dalam penghitungan IPI. Variabel luas wilayah sangat memengaruhi pembobotan IPI yang digu- nakan sebagai pembagi. Penggunaan variabel luas wilayah sebagai pembobot dianggap akan lebih merepresentasikan ketersediaan infrastruktur di su- atu daerah. Jumlah infrastruktur saja tidak cukup mewakili ketersediaan suatu infrastruktur namun harus memperhatikan kepadatan infrastruktur.
Di samping itu, terdapat tren yang menarik dari provinsi yang baru saja terbentuk sepuluh tahun belakangan ini. Sebagai contoh nilai indeks di tahun 2014, yakni Kalimantan Utara (32), Papua Barat (33), dan Sulawesi Barat (21), provinsi-provinsi ini selalu berada pada peringkat yang rendah berdasarkan IPI. Hal ini mengindikasikan bahwa tantangan dari provinsi yang baru saja terbentuk adalah pengada- an infrastruktur yang memadai di daerah tersebut.
Tabel 5:Nilai IPI Setiap Provinsi dalam Setiap Tahun Penelitian
No Provinsi 2006 2008 2011 2014
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh -0,284 -0,263 -0,251 -0,249
2 Bali 0,464 0,225 0,421 0,369
3 Banten 0,114 0,158 0,055 0,082
4 Bengkulu -0,279 -0,244 -0,239 -0,231
5 DI Yogyakarta 0,544 0,440 0,438 0,405
6 DKI Jakarta 5,221 5,428 5,453 5,553
7 Gorontalo -0,292 -0,260 -0,253 -0,244
8 Jambi -0,289 -0,277 -0,262 -0,258
9 Jawa Barat 0,153 0,265 0,128 0,164
10 Jawa Tengah 0,094 0,322 0,066 0,077
11 Jawa Timur 0,033 0,132 -0,028 -0,015
12 Kalimantan Barat -0,305 -0,306 -0,277 -0,275 13 Kalimantan Selatan -0,260 -0,256 -0,247 -0,244 14 Kalimantan Tengah -0,310 -0,310 -0,281 -0,278 15 Kalimantan Timur -0,309 -0,308 -0,279 -0,273
16 Kalimantan Utara 0,000 0,000 0,000 -0,281
17 Kepulauan Bangka Belitung -0,290 -0,278 -0,258 -0,249 18 Kepulauan Riau -0,191 -0,197 -0,165 -0,146
19 Lampung -0,247 -0,201 -0,210 -0,201
20 Maluku -0,306 -0,305 -0,275 -0,270
21 Maluku Utara -0,309 -0,304 -0,270 -0,269
22 NTB -0,231 -0,225 -0,221 -0,207
23 NTT -0,296 -0,281 -0,255 -0,260
24 Papua -0,318 -0,315 -0,284 -0,282
25 Papua Barat 0,000 -0,314 -0,283 -0,281
26 Riau -0,291 -0,284 -0,261 -0,254
27 Sulawesi Barat 0,000 -0,289 -0,266 -0,262
28 Sulawesi Selatan -0,263 -0,238 -0,230 -0,226 29 Sulawesi Tengah -0,303 -0,299 -0,271 -0,266 30 Sulawesi Tenggara -0,292 -0,289 -0,262 -0,255 31 Sulawesi Utara -0,202 -0,209 -0,196 -0,194
32 Sumatra Barat -0,254 -0,243 -0,266 -0,224
33 Sumatra Selatan -0,274 -0,274 -0,261 -0,254
34 Sumatra Utara -0,227 -0,200 -0,209 -0,201
Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Urgensi pengembangan infrastruktur makin tera- sa karena dihadapkan dengan banyak tantangan mulai dari perkembangan teknologi, perumusan kebijakan, hingga dinamisnya isu politik (Posumah, 2015).
Indeks ini juga sensitif menggambarkan keter- sediaan infrastruktur di suatu wilayah. Sebagai contoh, ranking indeks Sumatra Barat tahun 2008 masih berada pada urutan 14, tetapi pada tahun 2011 merosot tajam ke urutan 24 akibat gempa tahun 2009 yang merusak tatanan infrastruktur daerah tersebut. Namun, provinsi ini dapat kembali bang- kit membenahi infrastrukturnya, yang tercermin pada nilai IPI tahun 2014 yang naik lagi ke urutan 14 secara nasional.
Apabila didekomposisi di tahun 2014 berdasar- kan infrastruktur kesehatan dan ekonominya masing-masing, terlihat bahwa kedua dimensi terse- but memiliki tren yang positif, artinya makin tinggi skor ekonominya, makin tinggi pula skor kesehatan- nya. Pada Gambar 3, empat kuadran yang dibentuk oleh gambar scatter plot, provinsi-provinsi di Indo- nesia tersebar di kuadran I dan III saja. Kuadran I menunjukkan provinsi dengan ketersediaan infras- truktur ekonomi dan kesehatan per 1.000 km2di atas rata-rata nasional, sedangkan kuadran III menun- jukkan provinsi dengan ketersediaan infrastruktur ekonomi dan kesehatan per 1.000 km2kurang dari rata-rata nasional. Dari Gambar 3 juga terlihat be- berapa provinsi yang tampak lebih menonjol salah
Gambar 3: Scatter PlotSkor Ekonomi dan Kesehatan di Tahun 2014 Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
satu dimensi infrastruktur saja. Sebagai contoh, Bali memiliki skor ekonomi yang jauh lebih baik dari skor kesehatannya. Hal ini mengindikasikan bahwa di tahun 2014 ketersediaan infrastruktur ekonomi per 1.000 km2di Bali lebih melimpah dibandingkan infastruktur kesehatannya per 1.000 km2walaupun ketersediaan infrastruktur kedua dimensi tersebut berada di atas rata-rata nasional.
Hubungan Antara Indeks Komposit Pembangunan Infrastruktur dengan IPR, IPM, dan PDRB
BPS membuat IPR pada tahun 2009. Indeks ini dapat mengukur pembangunan antardaerah dari dimensi yang kompleks, yaitu ekonomi, sosial, in- frastruktur, pelayanan publik, lingkungan hidup, serta teknologi, informasi, dan komunikasi. Pada kajian tersebut, periode tahun yang diteliti adalah tahun 2008 dan 2009. Oleh karena itu, dalam pemba- hasan ini korelasi yang dihitung, yakni pada tahun 2008 karena merupakan tahun irisan dari PODES dan penelitian IPR. IPR hadir untuk memperbaha- rui keterbatasan yang dimiliki oleh IPM dari segi dimensi pembentuk indeksnya. Dilihat dari indi- kator pembentuknya, yakni angka harapan hidup, harapan lama sekolah (sebelumnya: angka melek
huruf), rata-rata lama sekolah, dan kemampuan daya beli, menjadikan IPM sebagai ukuran yang kurang dinamis. Hal ini dikarenakan untuk me- ningkatkan IPM suatu daerah diperlukan jangka waktu yang lama sehingga tidak cocok sebagai da- sar rancangan kerja suatu wilayah dalam jangka waktu yang pendek. Namun, indeks ini masih se- ring digunakan karena praktis, data pendukung mudah diperoleh, dan dirasa cukup menggambark- an keadaan multidimensi.
Selain IPR dan IPM, PDRB dipilih karena me- rupakan indikator yang secara umum dijadikan acuan produktivitas suatu daerah. PDRB meru- pakan total nilai output yang dihasilkan di suatu wilayah. Faktor produksi yang merupakan pem- bentuk nilai tambah PDRB sangat dipengaruhi oleh infrastruktur daerah. Seperti yang dinyatakan oleh Sembanyang (2011), ketersediaan infrastruktur di- butuhkan dalam menggerakkan PDRB dikarenakan ketersediaan infrastruktur secara langsung meme- ngaruhi peningkatan perolehan pajak. Maka dari itu, kepekaan dari IPI layak untuk dikorelasikan dengan nilai PDRB. Secara detail hasil korelasi IPI, IPM, IPR, dan PDRB di tahun 2008 dijelaskan dalam Tabel 6.
Pada tabel korelasi diperoleh bahwa IPR dan PDRB memiliki korelasi yang cukup kuat, posi-
Tabel 6: Output SPSS Bivariate Correlationantara IPI 08, IPR 08, PDRB 08, dan IPM 08
IPR 08 PDRB 08 IPM 08 IPI 08 Pearson Correlation 0,687** 0,741** 0,405*
Sig.(2-tailed) 0,000 0,000 0,019 Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder
Keterangan: * nilai korelasi signifikan pada 0,05 (2-tailed)
** nilai korelasi signifikan pada 0,01 (2-tailed)
tif, dan signifikan. Hal ini mengindikasikan bah- wa IPI yang terbentuk cukup kuat dan peka da- lam menerangkan fenomena yang terkait kinerja pembangunan wilayah. Hubungan yang positif an- tara IPI dan IPR menunjukkan bahwa keduanya mengakomodir beberapa dimensi ekonomi dan ke- sehatan, meskipun dalam pembentukan IPI lebih menekankan kepada kuantitas infrastruktur dari kedua dimensi tersebut. Hubungan yang positif dengan nilai PDRB mengindikasikan bahwa IPI merupakan suatu ukuran yang dapat menggam- barkan kehadiran faktor produksi di suatu wila- yah sehingga dapat meningkatkan produktivitas daerah. Meskipun tidak sekompleks IPR, namun dengan analisis korelasi ini telah membuktikan bah- wa ukuran IPI mempunyai validitas yang cukup baik dalam menerangkan pembangunan wilayah dari sisi ketersediaan infrastruktur.
Selanjutnya, fakta menarik diperoleh ketika menganalisis IPI dan IPM. Walaupun hasil anali- sis korelasi yang digunakan menunjukkan korelasi yang positif, namun tidak cukup kuat yakni hanya 0,405. Indeks IPI dibentuk berdasarkan kuantitas ketersediaan infrastruktur ekonomi dan kesehatan, seperti halnya minimarket, restoran, hotel, rumah sakit, puskesmas, poliklinik, dan lain-lain, sedangk- an IPM dibentuk berdasarkan pencapaian kualitas manusia di suatu wilayah. Pertama, indikator angka harapan hidup mempresentasikan dimensi umur panjang dan kesehatan. Kedua, angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah mencerminkan output dari dimensi pengetahuan atau pendidikan.
Terakhir, indikator kemampuan daya beli diguna- kan untuk mengukur dimensi kehidupan yang la-
yak. Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah untuk dapat meningkatkan kualitas pembangun- an manusia, diperlukan ketersediaan infrastruktur yang berorientasi kualitas, bukan hanya kuantitas.
Berdasarkan nilai IPM dan IPI, provinsi-provinsi di Indonesia dikelompokkan ke dalam empat kua- dran. Pada Gambar 4, garis absis merupakan IPM, sedangkan garis ordinat merupakan IPI dengan titik perpotongan kuadran, yaitu 71,17;50. Angka 71,17 pada IPM merupakan nilai IPM nasional dan angka 50 pada IPI merupakan rata-rata ketersedia- an infrastruktur nasional secara agregat. Provinsi yang berada di Kuadran I merupakan provinsi de- ngan kuantitas infrastruktur yang lebih baik dari rata-rata nasional dan kualitas sumber daya ma- nusia yang lebih tinggi dari IPM nasional. Dengan kata lain, melimpahnya sarana di wilayah tersebut berjalan selaras dengan kualitas manusianya yang lebih baik. Kuadran II merupakan provinsi dengan ketersediaan infrastruktur di atas rata-rata, namun tidak tercerminkan melalui kualitas sumber daya manusianya yang dilihat dari nilai IPM yang jatuh di bawah IPM nasional. Kuadran III adalah provinsi dengan kuantitas infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia yang jatuh di bawah angka nasio- nal. Sementara kuadran IV adalah provinsi dengan ketersediaan infrastruktur di bawah rata-rata nasio- nal, namun diduga memiliki kualitas infrastruktur yang baik sehingga tercermin dari angka IPM yang berada di atas angka IPM nasional.
Kelompok provinsi berdasarkan daerah kuadran scatter plot IPI 08 dan IPM 08:
• Kuadran I (Kuantitas dan Kualitas): DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah
• Kuadran II (Kuantitas): Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Banten
• Kuadran III (Tidak Keduanya): Maluku, Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Papua Barat, Nusa Tenggara
Gambar 4: Scatter PlotIPI 08 dan IPM 08 Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua
• Kuadran IV (Kualitas): Sulawesi Utara, Riau, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belutung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi
Pengelompokan Provinsi berdasarkan Indeks Komposit Pembangunan Infrastruktur
Tujuan dari pengelompokan yang dilakukan da- lam penelitian ini adalah memudahkan penilai- an dan analisis pembangunan infrastruktur suatu daerah. Urgensi dari pengelompokan provinsi ini adalah tidak memungkinkannya analisis satu per satu provinsi dalam periode 4 tahun sekaligus. Se- suai dengan pembahasan pada bab sebelumnya terkait metode dan dasar pengelompokan provinsi berdasarkan indeks IPI, maka disajikanlah visuali- sasi pencapaian pembangunan infrastruktur setiap provinsi di Indonesia melalui peta tematik (lihat Gambar 5).
Berdasarkan hasil pengelompokan ini dapat dike- tahui provinsi mana saja yang memiliki ketersedia- an infrastruktur yang memadai, cukup memadai,
dan kurang memadai sehingga membantu dalam mengambil kebijakan terkait prioritas pengadaan infrastruktur daerah selanjutnya. Kesimpulan ber- dasarkan peta dari tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014 adalah provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Bali mempunyai nilai IPI yang konsisten lebih tinggi (in- frastruktur lebih memadai) dibandingkan provinsi- provinsi di luar Pulau Jawa. Hal ini ditunjukkan dengan persebaran daerah dengan warna hitam pekat terkonsentrasi hanya di Pulau Jawa dan Bali.
Mayoritas provinsi di Pulau Sumatra berkatego- ri infrastruktur cukup memadai. Sementara Pulau Kalimantan memiliki provinsi berkategori kurang memadai, kecuali Kalimantan Selatan. Hal ini men- jadi wajar karena terdapat penimbang luas wilayah dalam penyusunan indeks, sementara di lain si- si, Pulau Kalimantan memiliki provinsi-provinsi dengan luas wilayah terbesar di Indonesia yang mengakibatkan nilai IPI-nya kecil. Daerah dengan ketersediaan infrastruktur kurang memadai (dae- rah berwarna abu-abu) tersebar di daerah timur Indonesia, yaitu Pulau Maluku dan Papua dan se- bagian provinsi di Pulau Sulawesi.
Pada tahun 2006 ke 2008, beberapa provinsi berge- rak secara relatif ke arah ketersediaan infrastruktur yang lebih memadai. Kepulauan Riau yang awal-
Gambar 5:Peta Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014 Sumber: Hasil Pengolahan Penulis
nya berkategori cukup memadai menjadi memadai, sedangkan Nusa Tenggara Timur bergerak dari ka- tegori kurang memadai menjadi cukup memadai. Per- gerakan kedua provinsi ke level kategori yang lebih baik dikarenakan bertambahnya jumlah provinsi di Indonesia atau dengan kata lain provinsi yang baru terbentuk memiliki infrastruktur yang relatif kurang memadai dibandingkan provinsi yang telah lama terbentuk sebelumnya. Kepulauan Riau men- jadi satu-satunya provinsi di kepulauan Sumatra yang berkategori memadai. Hal ini mengindikasikan infrastruktur di Kepulauan Riau tersebar merata di seluruh wilayahnya, padahal provinsi tersebut memiliki jumlah pulau terbanyak di Indonesia yang mencapai 2.408 pulau. Berikut daftar provinsi yang konsisten sebagai provinsi dengan kategori mema- dai dan kurang memadai dari tahun 2006, 2008, 2011, dan 2014.
Daftar provinsi yang konsisten berada di kategori infrastruktur memadai:
– DKI Jakarta – Jawa Barat – Jawa Tengah – Jawa Timur – DI Yogyakarta – Banten – Bali
Daftar provinsi yang konsisten berada di kategori infrastruktur kurang memadai:
– Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah – Kalimantan Timur – Maluku
– Maluku Utara – Papua Barat – Papua
Pengategorian IPI dalam penelitian ini merupa- kan pengategorian yang statis. Hal ini terlihat dari tahun 2008 ke 2011 dan tahun 2011 ke 2014 tidak ada perubahan atau perpindahan provinsi ke kate-
gori yang lebih baik atau sebaliknya. Selain karena penggunaan penimbang luas wilayah yang cende- rung konstan dari tahun ke tahun, pengadaan infra- struktur membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Dengan demikian, perubahan jumlah infrastruktur yang tidak signifikan, tidak akan cepat mengubah kategori ketersediaan infrastruktur provinsi terse- but.
Dekomposisi Indeks Komposit Pembangunan Infrastruktur Menurut Dimensi Pembentuknya
Melakukan dekomposisi atau penguraian kembali dimensi pembentuk IPI bertujuan untuk melihat konsistensi dimensi dalam membentuk indeks kom- posit melalui keterkaitannya. Grafik klaster batang digunakan untuk melihat keterkaitan ini. Warna hi- tam pekat, abu-abu pekat, dan abu-abu pudar pada grafik menunjukkan secara berturut-turut bahwa provinsi tersebut berkategori infrastruktur yang memadai, cukup memadai dan kurang memadai.
Namun, secara vertikal menunjukkan besarnya skor setiap provinsi dalam dimensi tertentu.
Gambar 6 cukup menunjukkan bahwa skor di- mensi kesehatan memiliki hubungan yang linier dengan IPI. Hal ini terlihat dari provinsi dengan in- deks infrastruktur yang memadai (berwarna pekat) berada di daerah dengan skor dimensi kesehatan yang positif (di atas). Artinya hampir semua pro- vinsi dengan pencapaian pembangunan yang baik memiliki skor kesehatan yang baik pula.
Hampir sama dengan dimensi kesehatan, dimen- si ekonomi memiliki hubungan yang linier dengan indeks komposit. Provinsi dengan IPI yang tinggi selalu memiliki skor ekonomi yang tinggi pula, hal ini terlihat dari degradasi warna yang teratur da- ri atas ke bawah yang makin memudar (Gambar 7). Dilihat dari pengaruh antardimensi terhadap terbentuknya indeks komposit pencapaian pemba- ngunan, kedua dimensi ini memiliki peranan yang
sama pentingnya. Terbukti dari kedua grafik cluster batang (Gambar 6 dan 7), dimensi kesehatan dan ekonomi memiliki hubungan yang linier terhadap pencapaian pembangunan infrastruktur Indonesia.
Dengan kata lain, kedua dimensi ini harus tetap selaras dan seimbang dalam hal pemenuhan keter- sediaannya.
Kesimpulan
Penelitian ini memberikan beberapa rekomenda- si, baik bagi penelitian selanjutnya maupun bagi pemerintah,terkait dengan kebijakan keberlanjut- an ketersediaan infrastruktur, yaitu pertama, untuk penelitian yang akan datang, dapat dilakukan pe- ngembangan dalam metode yang digunakan dalam proses standarisasi dengan patokan yang seragam sehingga selain bisa dibandingkan antarprovinsi bisa juga diperbandingkan antarwaktu. Selain itu, dapat pula menambahkan dimensi dalam pemben- tukan indeks pencapaian pembangunan infrastruk- tur sehingga makin kompleks lagi dimensi yang dapat digambarkan oleh indeks tersebut seperti hal- nya dimensi transportasi. Kedua, bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, pengambilan kebijakan dapat didasarkan pada karakteristik ketersediaan dimensi infrastruktur tiap provinsi. Sebagai contoh, walaupun infrastruktur ekonomi Provinsi Bali sa- ngat baik namun infrastruktur kesehatannya jatuh di bawah rata-rata nasional sehingga perlu diambil kebijakan yang mendukung pengadaan infrastruk- tur kesehatan. Selain itu, pengambilan kebijakan dapat didasarkan pada kategori pencapaian pemba- ngunan infrastrukturnya. Seperti halnya prioritas pembangunan yang mulai perlahan-lahan disebar- kan ke daerah timur Indonesia, menjadi salah satu langkah yang tepat dalam memulai pemerataan in- frastruktur karena sebagian besar provinsi dengan kategori infrastruktur kurang memadai tersebar di wilayah timur Indonesia.