• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang telah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II STUDI PUSTAKA. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang telah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB II

STUDI PUSTAKA

2.1. Kajian Pustaka

2.1.1. Pengertian Indeks Pembangunan manusia

Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang telah dikembangkan oleh United Nations for Develpment Program (UNDP) sejak tahun 1990 merupakan indeks komposit yang merupakan gabungan dari tiga dimensi pokok kemampuan dasar (basic capabilities) penduduk yang terdiri dari : (1) dimensi ekonomi; (2) dimensi sosial ; dan (3) dimensi kesehatan (Siregar, 2005).

Dimensi ekonomi perwujudannya adalah kehidupan yang layak (decent living) yang diukur dengan pendekatan indikator pengeluaran perkapita riil dan

UNDP menggunakan indikator Pendapatan Domestik Bruto (PDB) riil (adjusted real GDP per capita). Dimensi sosial perwujudannya adalah pengetahuan (knowledge)

dengan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Indikator angka

melek huruf diperoleh dari variabel kemampuan membaca dan menulis, sedangkan

indikator rata-rata lama sekolah dihitung dengan menggunakan dua variabel secara

simultan yaitu tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani dan jenjang pendidikan

tertinggi yang ditamatkan. UNDP mengukur komponen pendidikan dengan indikator

partisipasi sekolah dasar, menengah dan tinggi sebagai pengganti rata-rata lama

sekolah yang secara global sulit diperoleh. Sedangkan dimensi kesehatan

perwujudannya yaitu umur panjang dan sehat (longevity) dengan indikator angka

harapan hidup saat lahir.

(2)

8 Menurut Todaro (2006:187 ) pembangunan manusia ada tiga komponen universal sebagai tujuan utama meliputi:

a. Kecukupan, yaitu merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisik. Kebutuhan dasar adalah kebutuhan yang apabila tidak dipenuhi akan menghentikan kehidupan seseorang, meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan dan keamanan.

Jika satu saja tidak terpenuhi akan menyebabkan keterbelakangan absolut.

b. Jati diri, yaitu merupakan komponen dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak mengejar sesuatu, dan seterusnya. Semuanya itu terangkum dalam self esteem (jati diri).

c. Kebebasan dari Sikap Menghamba, yaitu merupakan kemampuan untuk memiliki nilai universal yang tercantum dalam pembangunan manusia adalah kemerdekaan manusia. Kemerdekaan dan kebebasan di sini diartikan sebagai kemampuan berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran dari aspek-aspek materil dalam kehidupan. Dengan adanya kebebasan kita tidak hanya semata-mata dipilih tapi kitalah yang memilih.

2.1.2. Pengertian Daya Beli

Menurut Sujata Srinivasan ; purchasing power is the quantity of goods and

services that you can buy with a single dollar at different time periods. The

government increases the money supply in the economy via an expansionary

monetary policy. When more money enters the market, it ends up chasing a limited

number of goods, which results in inflation. The value of the dollar falls, so you are

forced to purchase fewer goods for the same amount of money.

(3)

9 Menurut Supawi (2016) adalah kemampuan masyarakat sebagai konsumen untuk membeli barang atau jasa yang dibutuhkan. daya beli masyarakat ini ditandai dengan meningkat ataupun menurun, dimana daya beli meningkat jika lebih tinggi dibanding periode lalu sedangkan daya beli menurun ditandai dengan lebih tingginya kemampuan beli masyarakat dari pada periode sebelumnya.

Kemampuan daya beli masyarakat merupakan cerminan dari perwujudan kehidupan yang layak (decent living) yang diukur dengan pendekatan indikator pengeluaran perkapita riil. Berdasarkan ketentuan World Bank bahwa pendapatan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan yang layak adalah USD 1 atau setara dengan Rp. 10.000 per hari per orang (Sumardjo, 2006).

Menurut Biro Pusat Statistik (2015) bahwa pengeluaran perkapita riil dihitung berdasarkan pengeluaran konsumsi (pengeluaran rumah tangga) yang datanya diperoleh dari hasil Sensus Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Komoditi untuk mengukur konsumsi/pengeluaran rumah tangga berdasarkan data Susenas ada 27 macam komoditi.

Untuk menghitung indikator konsumsi riil per kapita dilakukan melalui tahapan sebagai berikut (Bappeda dan BPS, 2015):

(a) Menghitung pengeluaran konsumsi per kapita dari data Susenas (=A).

(b) Mendeflasi nilai A dengan IHK ibukota provinsi yang sesuai (=B).

(c) Menghitung daya beli per unit (=PPP/unit).

(d) Membagi nilai B dengan PPP/unit (=C).

(e) Menyesuaikan nilai C dengan formula Atkinson.

Untuk menghitung daya beli per unit (PPP/unit) menggunakan rumus sebagai berikut:

(4)

10 ∑ E(i,j)

j

PPP/unit = ________________

∑ (p(9,j), q(i,j)) j

dimana :

E(i,j) : Pengeluaran untuk komoditi j di provinsi ke-i P(9,j) : Harga komoditi j di DKI Jakarta.

Q(i,j) : Jumlah komoditi j (unit) yang dikonsumsi di provinsi ke-i.

Sedangkan untuk menyesuaikan nilai C dengan formula Atkinson menggunakan rumus matematis sebagai berikut:

C(i)* = C(i) jika C(i) ≤ Z

= Z + 2(C(i) – Z) (1/2) jika Z ≤ C(i) ≤ 2Z

= Z + 2(Z) (1/2) + 3(C(i) – 2Z) (1/3) jika 2Z ≤ C(i) ≤ 3Z

= Z + 2(Z) (1/2) + 3(Z) (1/3) + 4(C(i) – 3Z) (1/4) jika 3Z ≤ C(i) ≤ 4Z dimana :

C(i) : Konsumsi per kapita riil yang telah disesuaikan dengan PPP/unit.

Z : Threshold atau tingkat pendapatan tertentu yang digunakan sebagai batas kecukupan dimana nilai Z ditetapkan secara arbiter sebesar Rp.

547.500 per kapita setahun atau Rp. 1.500 per kapita per hari.

Konsumsi per kapita riil merupakan cerminan dari kemampuan daya beli

masyarakat. Sedangkan kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat apabila

pendapatan masyarakat tersebut juga meningkat. Peningkatan pendapatan tidak akan

terjadi apabila tidak terdapat peluang untuk bekerja bagi masyarakat. Peluang untuk

bekerja tersebut tercipta karena adanya pertumbuhan sektor-sektor lapangan usaha

(5)

11 yang terdiri dari sektor lapangan usaha di bidang pertanian, pertambangan- penggalian, industri pengolahan, listrik- gas -air bersih, bangunan, perdagangan- hotel- restoran, pengangkutan- komunikasi, keuangan- persewaan- jasa perusahaan, dan jasa-jasa.

Pertumbuhan sektor-sektor lapangan usaha tersebut dapat dipicu karena adanya investasi dan atau pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Untuk menarik dan meningkatkan investasi diperlukan promosi investasi dan insentif-disentif investasi. Sedangkan untuk mengembangkan UMKM diperlukan pengembangan sumberdaya manusia (SDM) bagi UMKM, pengembangan teknologi produksi sampai pemasaran, peningkatan manajeman usaha, dan penyediaan kredit usaha (perbankan). Insentif investasi dapat dilakukan melalui kemudahan perijinan, keringanan pajak/retribusi, ketersediaan infrastruktur, dan ketersedian sarana prasarana lainnya.

2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Daya Beli Masyarakat

Menurut David Ingram : factor influencing puchasing power in economi are price, wage and employment,currency consideration and availiability of credit.

Sedangkan menurut Osmond Vitez: factor influencing puchasing power are supply and demand, credit and interest rate, and inflation

Menurut Supawi (2006) berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat antara lain yaitu :

1. Tingkat Pendapatan

(6)

12 Pendapatan merupakan suatu balas jasa dari seseorang atas tenaga atau pikiran yang telah disumbangkan, biasanya berupa upah atau gaji. Makin tinggi pendapatan seseorang makin tinggi pula daya belinya dan semakin beraneka ragam kebutuhan yang harus dipenuhi, dan sebaliknya.

2. Tingkat Pendidikan

Makin tinggi pendidikan seseorang makin tinggi pula kebutuhan yang ingin dipenuhinya. Contohnya seorang sarjana lebih membutuhkan computer dibandingkan seseorang lulusan sekolah dasar.

3. Tingkat Kebutuhan

Kebutuhan setiap orang berbbeda-beda. Seseorang yang tinggal di kota daya belinya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang tinggal di desa.

4. Kebiasaan Masyarakat

Di zaman yang serba modern muncul kecenderungan konsumerisme didalam masyarakat. Penerapan pola hidup ekonomis yaitu dengan membeli b arang dan jasa yang benar-benar dibutuhkan, maka secara tidak langsung telah meningkatkan kesejahteraan hidup.

5. Harga Barang

Jika harga barang naik maka daya beli konsumen cenderung menurun sedangkan jika harga barang dan jasa turun maka daya beli konsumen akan naik. Hal ini sesuai dengan hokum permintaan.

6. Mode

(7)

13 Barang-barang yang baru menjadi mode dalam masyarakat biasanya akan laku keras di pasar sehingga konsumsi bertambah. Dengan demikian mode dapat mempengaruhi konsumsi.

2.2. Penelitian Terdahulu

Penelitian Ginting (2008) tentang “Indeks Pembangunan Manusia Indonesia”.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi rumah tangga untuk makanan dan bukan makanan, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan, rasio penduduk miskin dan krisis ekonomi terhadap pembangunan manusia di Indonesia pada 26 Propinsi pada periode 1996 , 1999, 2002, 2004, 2005 dan 2006.

Penelitian Sukmaraga (2011) menganalisis mengenai pengaruh variabel Indeks Pembangunan Manusia, PDRB per kapita, dan jumlah pengangguran terhadap jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008.

Penelitian Siletty (2012) mengenai “Kinerja Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Maluku Tahun 2005-2009”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pendapatan domestik regional bruto (PDRB) per kapita, dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) bidang pendidikan dan kesehatan tingkat kabupaten/kota terhadap pembangunan manusia di Provinsi Maluku.

Penelitian Mirza (2012) bertujuan untuk menganalisis seberapa besar

Pengaruh Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Belanja Modal terhadap Indeks

Pembangunan Manusia di Jawa Tengah tahun 2006-2009.

(8)

14 2.3. Keterkaitan Penelitian ini dengan Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya tentang bagaimana indeks pembangunan manusia mempengaruhi kemiskinan sedangkan penelitian ini tentang bagaimana meningkatkan strategi peningkatan daya beli masyarakat yang diukur melalui indeks daya beli. Sementara itu indeks daya beli merupakan salah satu indikator untuk merngukur indeks pembangunan manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berkaitan dengan penelitian sebelumnya.

2.4. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1.

Kerangka Pemikiran

DAYA BELI

PENDAPATAN

PELUANG BEKERJA

PERTUMBUHAN SEKTOR LAPANGAN USAHA

INVESTASI

PENGEMBANGAN UMKM DAN SEKTOR INFORMAL

PROMOSI INVESTASI

INSENTIF

INVESTASI SDM

TEKNOLOGI MANAJEMEN

KREDIT

PERIJINAN PAJAK/

RETRIBUSI

INFRASTRUKTUR DAN PRASARANA

LAINNYA

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang setiap siklusnya terdiri dari 3 kali pertemuan yaitu 2 kali pertemuan untuk pemberian tindakan, dan

Institusi perlawanan yang digunakan oleh ulama Minangkabau untuk menentang kebijakan kolonial tentang ordonansi guru (1928) dan sekolah liar (1932) bukanlah dalam bentuk

Bahwa menurut data perolehan suara yang direkapitulasi oleh Pemohon sebagaimana terbaca dalam tabel di atas Pemohon memperoleh suara terbanyak kedua sebesar 7.749

Skripsi yang berjudul “ Pergerakan Nitrat pada Lubang Resapan Biopori Sebagai Indikator Pencemaran Air “ ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar di mayor

43 PURWANTO SD NEGERI 1 SUNGAPAN Galur SMP N 1 LENDAH. 44 WAHYU SUDARMOKO SD NEGERI PLERET KIDUL Panjatan SMP N

Kunjungan neonatal adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonates sedikitnya 2 kali, selama periode 0 - 28 hari

Menyebabkan pelanggan potensial tidak dapat menilai suatu jasa sebelum mengkosumsinya. Ini menyebabkan resiko yang dipersepsikan konsumen dalam keputusan pembelian

Projek bertajuk Aplikasi Seni Cahaya Dalam Seni Lukisan Berus China telah disediakan oleh Nelly Kii Nga Lee dan telah diserahkan kepada Fakulti Seni Gunaan dan