• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN (Analisis Deskriptif) Human Development Index Of Banjarmasin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN (Analisis Deskriptif) Human Development Index Of Banjarmasin"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN (Analisis Deskriptif)

Human Development Index Of Banjarmasin

2013

(3)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN 2013

(Analisis Deskriptif)

Human Development Index of Banjarmasin 2013

Nomor Publikasi/ Publication Number 63710.14.011

Katalog BPS/ BPS Catalogue 4102002.63.71

Naskah/ Manuscript Seksi Statistik Sosial Section of Statistics Social

Gambar Kulit/ Cover Design

Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Section of Integration Processing and Dissemination Statistics

Diterbitkan Oleh/ Published By

BPS Kota Banjarmasin/ BPS-Statistics of Banjarmasin City

Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya

May be cited with reference to the source

(4)

WALIKOTA BANJARMASIN

JALAN R.E. MARTADINATA NO.1 TELP.3352546, 3354934, 3268142-3268145 FAX. (0511) 3353933 KOTAK POS : 79 BANJARMASIN 70111

KATA SAMBUTAN

Assalamualaikum, wr.wb.

Segala puji dan syukur kita sampaikan kehadirat Allah SWT, atas kembali terbitnya laporan Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin 2013. Sebagai salah satu dari dokumen resmi pemerintah, publikasi ini mempunyai peran penting dalam memantau capaian pembangunan manusia di Kota Banjarmasin, khususnya selama periode 2011 sampai dengan 2015. Sambutan hangat dan apresiasi yang sebesar-besarnya saya berikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi atas penerbitan publikasi ini.

Visi Kota Banjarmasin saat ini adalah, “Terwujudnya masyarakat Banjarmasin yang mandiri, harmonis, religius, beriman dan bertaqwa Tahun 2015.” Pada kata mandiri termaksud keinginan yang kuat bagi Pemerintah Kota Banjarmasin untuk mewujudkan kemandirian sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mempunyai integritas, kekuatan ekonomi dan sosial, pendidikan dan kesehatan, untuk mencapai kehidupan yang adil dan sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat.

Guna mewujudkan visi tersebut diperlukan pemantauan hasil pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan. Agar manfaat dari publikasi ini dapat optimal, Saya berpesan kepada seluruh stake holder pemerintah Kota Banjarmasin khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan perekonomian memperhatikan dengan seksama hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai dan menjadikan acuan untuk penyusunan program-program strategis pembangunan manusia di Kota Banjarmasin

Akhirnya Saya ucapkan terima kasih kepada tim penyusun publikasi Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013. Saya berharap kualitas penyajian publikasi terus ditingkatkan. Semoga laporan ini bermanfaat dan dapat menjadi dasar pijakan untuk mempercepat capaian pembangunan manusia Kota Banjarmasin.

Wassalamualaikum, wr.wb.

Banjarmasin, November 2014 WALIKOTA

H. MUHIDIN

(5)
(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Sambutan ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ... vii

Daftar Gambar ... x

Daftar Lampiran ... xii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan dan Sasaran ... 5

1.3. Ruang Lingkup ... 6

BAB II. METODOLOGI. ... 7

2.1. Konsep dan Definisi Pembangunan Manusia ... 7

2.2. Demografi... 8

2.3. Prinsip Dasar Penyusunan ... 10

2.3.1. Acuan Rancangan... ... ...10

2.3.2. Prinsip-Prinsip Dasar... ... ...10

2.3.3. Kerangka Landasan Analisis.. ... ...11

2.4. Pengertian Beberapa Indikator.. ...11

2.5. Metodologi Penyusunan ... 13

2.5.1. Penentuan Lokasi Kegiatan ... 13

2.5.2. Metode Pendekatan dan Tahapan Penyusunan ... 14

(7)

BAB III. POTENSI SUMBER DAYA ... 19

3.1. Sejarah Kota Banjarmasin ... 19

3.2. Keadaan Geografi ... 20

3.3. Demografi... 22

3.4. Kegiatan Ekonomi ... 27

3.5. Ketenagakerjaan ... 31

BAB IV. SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA ... 33

4.1. Kesehatan ... 33

4.1.1. Derajat Kesehatan Masyarakat ... 35

4.1.2. Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan ... 43

4.1.3. Aksesibilitas Sanitasi, Air Minum Layak dan Perumahan ... 56

4.2. Pendidikan ... 59

4.3. Ketimpangan Distribusi Pendapatan ... 75

BAB V. STATUS DAN KINERJA PEMBANGUNAN MANUSIA ... 80

5.1. Umur Harapan Hidup ... 82

5.2. Angka Melek Hidup ... 85

5.3. Rata-Rata Lama Sekolah ... 86

5.4. Konsumsi Rill Per Kapita ... 88

5.5. Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin ... 91

5.6. Upaya Pencapaian IPM Kota Banjarmasin ... 101

BAB VI. PENUTUP ... 106

6.1. Rekomendasi dan Intervensi Kinerja Bidang Kesehatan... 106

6.2. Rekomendasi dan Intervensi Kinerja Bidang Pendidikan ... 108

6.3. Rekomendasi dan Intrevensi Kinerja Bidang Ekonomi ... 110

LAMPIRAN ... 112

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Indikator Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia ... 15 Tabel 3.1. Jumlah Kelurahan dan Luas Wilayah Kota Banjarmasin Menurut

Kecamatan Tahun 2013 ... 22 Tabel 3.2. Jumlah Penduduk Kota Banjarmasin per Kecamatan Menurut Jenis

Kelamin Tahun 2013 ... 23 Tabel 3.3 Penduduk Kota Banjarmasin Menurut Kelompok Umur Tahun

2013 ... 25 Tabel 3.4 Penduduk Kota Banjarmasin Menurut Kelompok Usia Produktif

Tahun 2013 ... 26 Tabel 3.5 Persentase Penduduk Kota Banjarmasin Usia 15 Tahun Keatas yang

Bekerja Menurut Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin Tahun 2013 ... 31 Tabel 3.6. Kondisi Ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, dan

Tingkat Pengangguran Terbuka Kota Banjamasin dan Provinsi Kalimantan Selatan Agustus 2011 - Agustus 2013 ... 32 Tabel 4.1. Angka Kesakitan dan Rata-Rata Lama Sakit Penduduk Kota

Banjarmasin Tahun 2008 - 2013 ... 43 Tabel 4.2. Jumlah Sarana Kesehatan per Kecamatan Tahun 2013 ... 45 Tabel 4.3. Persentase Penduduk Kota Banjarmasin Yang Mengalami Keluhan

Kesehatan Menurut Cara Pengobatan dan Jenis Kelamin Tahun 2013 ... 46 Tabel 4.4. Persentase Penduduk Yang Berobat Sendiri Menurut Jenis Obat

Yang Digunakan Tahun 2008-2013 ... 47

(9)

Tabel 4.5. Persentase Frekuensi Berobat Jalan Masyarakat Menurut Tempat / Cara Berobat dan Jenis Kelamin Tahun 2013 ... 49 Tabel 4.6. Persentase Persalinan Bayi Yang Ditolong Tenaga Medis di Kota

Banjarmasin Tahun 2008 - 2013 ... 50 Tabel 4.7. Persentase Balita Yang Pernah Diberi ASI Menurut Jenis Kelamin di

Kota Banjarmasin di Tahun 2013 ... 53 Tabel 4.8. Persentase Balita Yang Pernah Diberi Imunisasi Dasar Menurut

Jenis Kelamin di Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 55 Tabel 4.9. Persentase Penduduk Kota Banjarmasin Usia 15 Tahun Keatas

Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin Tahun 2013 ... 62 Tabel 4.10. Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta Menurut Tingkat Pendidikan

per Kecamatan Tahun 2013 ... 63 Tabel 4.11. Jumlah Sekolah, Murid, Guru, dan Kelas Menurut Jenjang

Pendidikan di Kota Banjarmasin Tahun 2013... 65 Tabel 4.12. Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kelompok Usia di Kota

Banjarmasin Tahun 2013 ... 67 Tabel 4.13. Angka Partisipasi Kasar Menurut Usia di Kota Banjarmasin Tahun

2013 ... 68 Tabel 4.14. Angka Partisipasi Murni Menurut Kelompok Usia di Kota

Banjamasin Tahun 2013 ... 69 Tabel 4.15. Rasio Siswa SLTA Sederajat dan Penduduk Usia 16-18 Tahun di

Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 72 Tabel 4.16. Koefisien Gini dan Distribusi Pendapatan di Kota Banjarmasin

Tahuun 2008-2013 ... 77

(10)

Tabel 5.1. Perbandingan Angka Harapan Hidup di Kota Banjarmasin Tahun 2008- 2013 ... 83 Tabel 5.2. Persentase Penduduk Melek Huruf Usia 15 Tahun Keatas di Kota

Banjarmasin Tahun 2008 - 2013 ... 86 Tabel 5.3. Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut

Jenis Kelamin Tahun 2008 - 2013 ... 88 Tabel 5.4. Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Menurut Jenis Pengeluaran

di Kota Banjarmasin Tahun 2008 - 2013 ... 90 Tabel 5.5. Indeks Komponen Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun

2008-2013 ... 94 Tabel 5.6. Status Pembangunan Manusia Berdasarkan Nilai Indeks

Pembangunan Manusia ... 95 Tabel 5.7. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi

Kalimantan Selatan Tahun 2008-2013 ... 96 Tabel 5.8. Perbandingan Peringkat Indeks Pembangunan Manusia

Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan SelatanTahun 2008-2013 .... 97 Tabel 5.9. Reduksi Shortfall Per Tahun Indeks Pembangunan Manusia Kota

Banjarmasin Tahun 2008-2013 ... 99 Tabel 5.10. Perbandingan Peringkat Reduksi Shotfall IPM Menurut

Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 ke Tahun 2013 ... 100 Tabel 5.11. Ilustrasi Perlakuan(Treatment) Pencapaian IPM Kota Banjarmasin ... 104

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Status Pembangunan Manusia ... 16

Gambar 3.1. PDRB ADHK Kota Banjarmasin Tahun 2011-2013 ... 29

Gambar 3.2. Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarmasin Tahun 2011-2013 ... 29

Gambar 3.3. Struktur Perekonomian Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 30

Gambar 4.1. Analisis Derajat Kesehatan (Konsep Hendrik L. Blum) ... 35

Gambar 4.2. Persentase Wanita menurut Kelompok Umur Perkawinan Pertama di Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 41

Gambar 4.3. Aksesibilitas Sanitasi dan Air Minum Layak di Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 57

Gambar 4.4. Status Kepemilikan Rumah dan Luas Lantai Per Kapita di Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 58

Gambar 4.5. APS SLTA Sederajat/Usia 16-18 Tahun Menurut Kuintil Pendapatan Di Kota Banjarmasin Tahun 2013 ... 74

Gambar 4.6. Rata-Rata Lama Sekolah Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Kuintil Pendapatan Di Kota Banjarmasin... 74

Gambar 4.7. Koefisien Gini Kota Banjarmasin Tahun 2013 Menurut Kurva Lorenz ... 79

Gambar 5.1. Perbandingan Angka Harapan Hidup di Kota Banjarmasin Tahun 2008-2013 ... 83

(12)

Gambar 5.2. Perbandingan Persentase Penduduk Melek Huruf Usia 15 Tahun

Ke Atas Kota Banjarmasin Tahun 2008 - 2013 ... 86 Gambar 5.3. Perbandingan Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun

KeAtas Kota Banjarmasin Tahun 2008 - 2013 ... 88 Gambar 5.4. Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga Kota Banjarmasin Tahun

2008 - 2013 ... 90

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan

Selatan Tahun 2009-2013 ... 112 Lampiran 2 Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan

Selatan Tahun 2009-2013 ... 113 Lampiran 3 Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan

Selatan Tahun 2009-2013 ... 114 Lampiran 4 Pengeluaran Riil Perkapita Yang Disesuaikan Kabupaten/Kota di

Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009-2013 ... 115 Lampiran 5 Indeks Kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan

Tahun 2009-2013 ... 116 Lampiran 6 Indeks Pendidikan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan

Selatan Tahun 2009-2013 ... 117 Lampiran 7 Indeks Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan

Selatan Tahun 2009-2013 ... 118 Lampiran 8 Indeks Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi

Kalimantan Selatan Tahun 2009-2013 ... 119 Lampiran 9 Indeks Pengeluaran Riil Perkapita Yang Disesuaikan Kabupaten/

Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009-2013 ... 120 Lampiran 10 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi

Kalimantan Selatan Tahun 2009-2013 ... 121

(14)

Lampiran 11 Peringkat Angka Harapan Hidup Ibukota Provinsi dan Kab/Kota

se-Indonesia Tahun 2013 ... 122 Lampiran 12 Peringkat Angka Melek Huruf Ibukota Provinsi dan Kab/Kota se-

Indonesia Tahun 2013 ... 123 Lampiran 13 Peringkat Rata-Rata Lama Sekolah Ibukota Provinsi di Indonesia

Tahun 2013 ... 124 Lampiran 14 Peringkat Pengeluaran Riil Per Kapita Ibukota Provinsi di

Indonesia Tahun 2013 ... 125 Lampiran 15 Peringkat Indeks Pembangunan Manusia Ibukota Provinsi di

Indonesia Tahun 2013 ... 126

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam menghadapi era perdagangan bebas, diperlukan iklim investasi yang kondusif serta peningkatan kualitas manusia sebagai bangsa Indonesia yang bersaing di era globalisasi. Regulasi pembangunan yang berpegang teguh prinsip dan konsep pembangunan manusia mutlak diperlukan dimana manusia ditempatkan sebagai tujuan akhir pembangunan. Cara pandang yang lebih luas ini memungkinkan pemerintah dapat memenuhi hak-hak warga negara serta dapat menjamin pertumbuhan ekonomi yang kuat dan mantap dalam jangka panjang.

Oleh karena itu periode 2010 – 2014, ditetapkan 11 prioritas nasional yaitu : (1) reformasi birokrasi dan tata kelola; (2) pendidikan; (3) kesehatan; (4) penanggulangan kemiskinan; (5) ketahanan pangan; (6) infrastruktur; (7) iklim investasi dan usaha; (8) energi; (9) lingkungan hidup dan bencana; (10) daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca konflik; serta (11) kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi.

Berbagai upaya pembangunan sosial budaya dan kehidupan beragama telah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, antara lain ditandai dengan membaiknya derajat kesehatan dan taraf pendidikan penduduk yang didukung oleh meningkatnya ketersediaan dan kualitas pelayanan sosial dasar bagi seluruh rakyat Indonesia. Peningkatan kualitas sumber daya manusia ditandai oleh makin

(16)

membaiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang merupakan indikator komposit dari tiga dimensi dasar kebutuhan manusia, yaitu angka harapan hidup, yang mereferensikan status kesehatan masyarakat, taraf pendidikan yang diukur dari melek huruf dan rata-rata lama sekolah, serta dari sisi ekonomi, yang ditunjukkan oleh kemampuan daya beli masyarakat.

Sumber daya manusia (SDM) adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya.

Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif (UNDP, Human Development Report 2000). Pembangunan Manusia menempatkan manusia sebagai tujuan akhir pembangunan, dan bukan sebagai alat bagi pembangunan. Keberhasilan pembangunan manusia dapat dilihat dari seberapa besar permasalahan mendasar di masyarakat dapat teratasi. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi kemiskinan, pengangguran, gizi buruk dan buta huruf.

Sebagaimana dikutip dari UNDP (1995:118), sejumlah premis penting dalam pembangunan manusia diantaranya adalah:

(1) Pembangunan harus mengutamakan penduduk sebagai fokus pembangunan (People Centered Development);

(2) Pembangunan dimaksudkan untuk memperbesar pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices), tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan mereka. Oleh karena itu, konsep pembangunan manusia harus terpusat pada penduduk secara keseluruhan, dan bukan hanya pada aspek ekonomi saja;

(3) Pembangunan manusia memperhatikan bukan hanya pada upaya meningkatkan kemampuan (kapabilitas) manusia tetapi juga pada upaya-upaya memanfaatkan kemampuan manusia tersebut secara optimal;

(17)

(4) Pembangunan manusia didukung empat pilar pokok, yaitu: produktivitas, pemerataan, kesinambungan, dan pemberdayaan; serta

(5) Pembangunan manusia menjadi dasar dalam penentuan tujuan pembangunan dan dalam menganalisis pilihan-pilihan untuk mencapainya.

Pembangunan manusia lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan manusia tidak hanya berfokus pada besarnya pertumbuhan ekonomi melainkan lebih ditekankan pada struktur dan kualitas dari pertumbuhan yang dapat dijadikan jaminan untuk mendukung perbaikan kesejahteraan manusia baik sekarang maupun di masa akan datang. Dalam perspektif pembangunan manusia pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir tetapi alat untuk mencapai tujuan akhir, yaitu memperluas pilihan bagi manusia. Walaupun demikian, tidak ada hubungan yang otomatis antara pertumbuhan ekonomi dengan kemajuan pembangunan manusia.

Dalam jangka pendek, dengan pengeluaran publik yang teratur suatu negara dapat mencapai kemajuan yang signifikan dalam pembangunan manusia, walaupun tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup berarti. Meskipun demikian adalah pandangan yang keliru untuk menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mempunyai arti penting bagi pembangunan manusia. Dalam jangka panjang tidak akan ada kemajuan yang berkelanjutan tanpa adanya pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan manusia melihat secara simultan isu-isu yang terdapat di masyarakat, mencakup pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan, perdagangan, kebebasan politik, nilai-nilai kultural, dan juga gender.

Menurut HDR 1995, halaman 12, terdapat empat komponen utama dalam paradigma pembangunan manusia, yaitu:

(18)

1. Produktivitas. Manusia harus berkemampuan untuk meningkatkan produktivitasnya dan berpartisipasi penuh dalam proses mencari penghasilan dan lapangan kerja.

2. Ekuitas/Pemerataan. Setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik harus dihapuskan sehingga semua orang dapat berpartisipasi dan mendapatkan keuntungan dari peluang yang tersedia.

3. Keberlanjutan. Akses terhadap peluang/kesempatan harus tersedia bukan hanya untuk generasi sekarang tapi juga untuk generasi mendatang. Semua bentuk sumberdaya, baik fisik, manusia dan alam harus dapat diperbaharui.

4. Pemberdayaan. Pembangunan harus dilakukan oleh semua orang, bukan semata- mata dilakukan untuk semua orang. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan harus berpartisipasi penuh dalam pengambilan keputusan dan proses yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka.

Konsep pembangunan manusia mempunyai cakupan sangat luas melingkupi

“hampir seluruh aspek kehidupan manusia” mulai dari kebebasan menyatakan pendapat, mencapai kesetaraan gender, untuk memperoleh pekerjaan, untuk menjaga gizi anak, untuk bisa baca tulis dan sebagainya.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di lain pihak mempunyai cakupan yang lebih sempit, meskipun IPM mencoba mengukur tingkat pembangunan manusia.

Indeks ini hanya mampu mengukur sebagian saja. Hal ini disebabkan karena berbagai aspek seperti tingkat partisipasi masyarakat atau kesehatan mental, sangat sulit diukur atau dikumpulkan datanya. Jadi konsep pembangunan manusia jauh lebih luas dari sekedar IPM. Tidak mungkin memperoleh satu ukuran yang komprehensif, karena

(19)

banyak dimensi pembangunan manusia yang tidak tersedia ukurannya. Namun demikian IPM merupakan langkah yang jauh lebih maju dari pada langkah yang terdahulu yang hanya terkonsentrasi pada tingkat pendapatan saja (pertumbuhan ekonomi).

1.2. TUJUAN DAN SASARAN

Tujuan penyusunan publikasi “Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 (Analisis Deskriptif)” menyajikan analisis deskriptif perkembangan pembangunan manusia selama tahun 2009-2013. Publikasi ini memberikan gambaran capaian pembangunan manusia di Kota Banjarmasin dan perubahan-perubahan komponen penting penghitungan Indeks Pembangunan Manusia yang secara rinci bertujuan untuk:

(1) Menggambarkan situasi pembangunan manusia khususnya pada bidang pendidikan dan kesehatan di Kota Banjarmasin selama tahun 2009 hingga 2013;

(2) Mengamati perkembangan IPM Kota Banjarmasin dan masing-masing komponen IPM pada tahun 2009 hingga 2013;

(3) Mengetahui posisi relatif capaian IPM Kota Banjarmasin terhadap capaian IPM Kabupaten/Kota lain di Provinsi Kalimantan Selatan; serta

(4) Merumuskan kebijakan pembangunan terkait isu-isu penting pembangunan manusia di Kota Banjarmasin.

Sasaran yang ingin dicapai dari penyusunan publikasi Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 adalah:

(1) Tersedianya data dan informasi yang dibutuhkan dalam memantau proses pembangunan manusia di Kota Banjarmasin secara kesinambungan.

(20)

(2) Tersedianya sumber informasi dalam perencanaan pembangunan manusia pada tahap pembangunan selanjutnya.

(3) Tersedianya rujukan ilmiah bagi masyarakat pendidikan khususnya di Kota Banjarmasin dan Provinsi Kalimantan Selatan.

1.3. RUANG LINGKUP MATERI

Ruang lingkup materi penyusunan Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 (Analisis Deskriptif) adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi kondisi geografis, sejarah, dan potensi sumber daya manusia di Kota Banjarmasin.

2. Identifikasi tiga variabel dimensi dasar pembangunan manusia yaitu 1. Sehat dan berumur panjang (longevity); 2. Berilmu pengetahuan (knowledge) dan; 3.

Standar hidup yang layak (decent living).

3. Analisis situasi pembangunan manusia di Kota Banjarmasin.

4. Inventarisasi pola kebijakan dalam rangka program pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan dan peningkatan daya beli masyarakat;

(21)

BAB II METODOLOGI

2.1 KONSEP DAN DEFINISI PEMBANGUNAN MANUSIA

Pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbesar pilihan- pilihan bagi manusia (UNDP, 1990:1). Definisi pembangunan manusia tersebut pada dasarnya mencakup dimensi pembangunan yang sangat komprehensif. Pembangunan manusia mencakup aspek yang lebih luas daripada pembangunan yang hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi (biasa diukur dari PDRB). Dalam konsep pembangunan manusia, pembangunan seharusnya dianalisis serta dipahami dari sudut manusianya, bukan hanya dari pertumbuhan ekonominya.

Untuk itu diperlukan suatu indikator komposit yang dapat menggambarkan perkembangan pembangunan manusia secara komprehensif yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada dasarnya IPM mencakup tiga komponen yang dianggap mendasar bagi manusia dan secara operasional mudah dihitung untuk menghasilkan suatu ukuran yang merefleksikan upaya pembangunan manusia.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks komposit yang menyangkut tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar, yaitu peluang hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan hidup layak (decent living). Nilai Indeks Pembangunan Manusia berkisar antara 0 -100.

(22)

Komponen IPM terdiri dari 4 (empat) indikator, yaitu: angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, paritas daya beli. Definisi dari masing- masing komponen IPM tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Angka harapan hidup (AHH) adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.

(2) Angka melek huruf adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin dan huruf lainnya.

(3) Rata-rata lama sekolah (Means Year School-MYS ) adalah rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang pernah dijalaninya.

(4) Paritas daya beli (Purchasing Power Parity-PPP) adalah ukuran daya beli penduduk dalam memenuhi kebutuhan konsumsi makanan dan non-makanan. PPP memungkinkan dilakukannya perbandingan harga-harga riil antar wilayah, mengingat nilai tukar yang biasa digunakan dapat menurunkan atau menaikkan nilai daya beli yang terukur dari konsumsi per kapita yang telah disesuaikan.

Dalam konteks PPP untuk Indonesia, satu rupiah di suatu wilayah memiliki daya beli yang sama dengan satu rupiah di Jakarta. PPP dihitung berdasarkan pengeluaran riil perkapita setelah disesuaikan dengan indeks harga konsumen dan penurunan utilitas marginal.

2.2. DEMOGRAFI

Istilah demografi pertama kali dipakai oleh Achille Guillard dalam karangannya yang berjudul “Elements de Statistique Humanie on Demografic Compares” pada tahun 1885. Sejak saat itu ilmu demografi berkembang seiring dengan fenomena dan dinamika kehidupan di masyarakat. Moh. Yasin dalam

(23)

tulisannya tentang Arti dan Tujuan Demografi tahun 1981 menyimpulkan bahwa demografi adalah ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaan perubahan- perubahan penduduk yang dipengaruhi oleh komponen-komponen perubahan seperti kelahiran, kematian, dan migrasi. Dari komponen perubahan tersebut akan didapat suatu keadaan dan komposisi yang menggambarkan keadaan penduduk di suatu wilayah.

Penduduk merupakan modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan, karena penduduk merupakan subyek maupun obyek yang menjadi sasaran dalam perbaikan pembangunan, baik dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi dari hasil yang telah dicapai. Pembangunan kependudukan di Indonesia selama ini telah mempercepat terjadinya transisi demografi yang ditandai dengan peningkatan usia harapan hidup dan penurunan angka kelahiran serta kematian. Hal ini mengakibatkan turunnya angka ketergantungan, disebut bonus demografi, yaitu menurunnya proporsi jumlah penduduk usia dibawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas terhadap jumlah penduduk usia kerja atau produktif (15-64 tahun). Rasio ketergantungan diperkirakan turun dari 50,1 persen pada tahun 2005 menjadi 45,6 persen pada tahun 2025. Rasio ketergantungan terendah yaitu sebesar 45,3 persen, diperkirakan terjadi pada tahun 2022 dan 2023. Terjadinya penurunan angka ketergantungan tersebut merupakan jendela peluang (window of opportunity) untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Beberapa syarat yang harus dipenuhi agar jendela peluang dapat bermanfaat adalah : (1) meningkatnya kualitas sumber daya manusia sehingga mempunyai kompetensi dan daya saing tinggi; (2) tersedianya kesempatan kerja produktif, agar penduduk usia kerja yang jumlahnya besar dapat bekerja untuk meningkatkan tabungan rumah tangga; (3) diinvestasikannya tabungan rumah tangga untuk menciptakan kesempatan kerja produktif; dan (4) meningkatnya pemberdayaan

(24)

perempuan untuk memasuki pasar kerja. Di Indonesia jendela peluang tersebut diperkirakan hanya akan terjadi sekali sepanjang sejarah, dengan periode kejadian yang sangat pendek yaitu pada tahun 2020-2025.

2.3. PRINSIP DASAR PENYUSUNAN

Prinsip dasar penyusunan publikasi ini masih merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya, yaitu tetap melakukan pengukuran terhadap kinerja pembangunan manusia yang representatif pada level kabupaten sampai dengan wilayah eks kawedanan. Sehingga untuk mendapatkan ukuran kesejahteraan masyarakat yang ditandai meningkatnya kualitas sumberdaya manusia, terciptanya lapangan kerja dan kesempatan berusaha, terpenuhinya kebutuhan pokok minimal dan kebutuhan dasar lainnya secara layak, serta meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat yang harus segera terwujud bisa terkaji dan terevaluasi secara terus menerus.

2.3.1 Acuan Rancangan

Studi ini mengacu pada sebuah konsep yang dikembangkan oleh badan dunia The United Nations Development Programe (UNDP) dalam menghitung Human Development Index (HDI). Yang kemudian dibuat sebagai acuan rancangan dalam mengevaluasi program pembangunan manusia di Kota Banjarmasin khususnya di bidang pembangunan pendidikan, kesehatan dan daya beli pada tahun 2013.

2.3.2 Prinsip-Prinsip Dasar

Beberapa prinsip dasar dalam penyusunan Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin tahun 2013 (Analisis Deskriptif) yaitu :

a. Akurat dalam memberikan rekomendasi dan intervensi apa yang perlu mendapatkan prioritas ketika program pembangunan itu diimplementasikan;

(25)

b. Validitas datanya bisa dipertanggungjawabkan dan mempunyai kesinambungan dalam mengukur pembangunan manusia khususnya di bidang pendidikan, kesehatan dan daya beli.

2.3.3 Kerangka Landasan Analisis

Kerangka landasan analisis yang digunakan dalam penyusunan Indeks Pembanguan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 (Analisis Deskriptif), berupa analisis statistik sederhana atau lazimnya disebut dengan statistik deskriptif.

2.4. PENGERTIAN BEBERAPA INDIKATOR

Untuk mendapatkan pemahaman yang sama, maka perlu disusun berbagai pengertian-pengertian yang berhubungan dengan Indeks Pembangunan Manusia.

Pengertian dimaksud telah disesuaikan dengan rumus matematis yang digunakan dalam penghitungan Indeks Pembangunan Manusia, adalah sebagai berikut:

a. Indeks secara matematis didefinisikan sebagai rasio penghitungan periode tahun tertentu terhadap periode tahun sebelumnya dikalikan seratus. Dan biasanya periode tahun sebelumnya dimaksud disepakati sebagai tahun dasar. Tahun dasar adalah tahun yang dijadikan tahun konstan bernilai seratus dan setiap tahun berjalan sesudahnya pada saat menghitung indeksnya mengacu ke tahun dasar tersebut.

b. Pembangunan Manusia adalah pembangunan manusia seutuhnya, bernilai hakiki dan sangat kompleks arti harfiahnya. Dalam kajian ini yang dimaksud dengan pembangunan manusia adalah upaya-upaya menciptakan manusia yang berpengetahuan sebagai refleksi tingkat capaian sumber daya manusia yang berkualitas, hidup sehat dan berusia panjang sehingga mampu beraktifitas secara

(26)

ekonomi untuk meperoleh penghasilan yang layak dan pada akhirnya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.

c. Indeks Pembangunan Manusia adalah indeks komposit yang terdiri dari tiga komponen dasar yaitu indeks pendidikan, indeks kesehatan dan indeks daya beli.

Indeks Pembangunan Manusia akan mempunyai makna apabila hasil penghitungan indeks kompositnya yang berupa besaran tertentu dipadukan kedalam tabel standar yang berisi ukuran status atau klasifikasi. Artinya berapa besar IPM Kota Banjarmasin dan dalam tabel standard besaran IPM dimaksud berada atau jatuh pada kolom status pembangunan manusia yang bagaimana atau klasifikasinya apa.

d. Indeks pendidikan didefinisikan sebagai refleksi keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan. Indeks pendidikan juga merupakan besaran kuantitatif tertentu sebagaimana Indeks Pembangunan Manusia. Hanya saja Indeks Pembangunan Manusia merupakan ukuran status kinerja pembangunan manusia, sedangkan indeks pendidikan merupakan derajat pendidikan yang terukur atas tingkat capaian pembangunan di bidang pendidikan.

e. Indeks kesehatan didefinisikan sebagai refleksi keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan. Indeks kesehatan juga merupakan besaran kuantitatif tertentu sebagaimana Indeks Pembangunan Manusia. Hanya saja Indeks Pembangunan Manusia merupakan ukuran status kinerja pembangunan manusia, sedangkan indeks kesehatan merupakan derajat kesehatan yang terukur atas tingkat capaian pembangunan di bidang kesehatan.

f. Indeks daya beli didefinisikan sebagai refleksi keberhasilan pembangunan di bidang kesejahteraan sosial ekonomi. Indeks daya beli juga merupakan besaran

(27)

kuantitatif tertentu sebagaimana Indeks Pembangunan Manusia. Hanya saja Indeks Pembangunan Manusia merupakan ukuran status kinerja pembangunan manusia, sedangkan indeks daya beli merupakan derajat kesejahteraan sosial ekonomi yang terukur atas tingkat capaian pembangunan di bidang ekonomi.

g. Shortfall Reduction dihitung dan didefinisikan sebagai tingkat kemajuan dari kinerja pembangunan manusia dari tahun ke tahun. Seperti halnya semua besaran indeks yang dihitung dalam kajian ini, Shortfall Reduction juga mempunyai intepretasi semakin tinggi angkanya semakin cepat pula kinerja pembangunan manusia menuju sasaran ideal. Yang dimaksud dengan sasaran ideal adalah terciptanya manusia yang berpengetahuan sebagai refleksi tingkat capaian sumber daya manusia yang berkualitas, hidup sehat dan berusia panjang sehingga mampu beraktifitas secara ekonomi untuk memperoleh penghasilan yang layak dan pada akhirnya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Manusia yang berpengetahuan diukur dengan menggunakan indikator pendidikan, hidup sehat dan berusia panjang diukur dengan indikator kesehatan dan pemenuhan hidup yang layak diukur dengan indikator daya beli.

2.5. METODOLOGI PENYUSUNAN

Metodologi penyusunan Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 (Analisis Deskriptif), disusun berdasarkan kaidah teknis sampling dengan mekanisme sebagai berikut :

2.5.1 Penentuan Lokasi Kegiatan

Lokasi kegiatan yang berupa sumber data utama untuk penyusunan publikasi ini menggunakan data primer hasil observasi lapangan secara sampel. Observasi

(28)

dilakukan pada rumahtangga yang secara acak terpilih sebagai sampel. Karena keterbatasan anggaran, jumlah sampel yang diambil ditentukan hingga memenuhi

“Minimum Sample Size” untuk menghasilkan estimasi data pada level kabupaten/kota.

Dalam survei ini wilayah pencacahan yang digunakan sebagai unit sampling bukanlah desa/kelurahan ataupun RT/RW, melainkan blok sensus. Blok sensus adalah bagian dari desa/kelurahan yang dibatasi oleh batas jelas (bisa batas alam seperti sungai maupun batas buatan misalnya jalan). Satu blok sensus biasanya terdiri dari 80-120 rumahtangga, satu desa/kelurahan terbagi habis dalam beberapa Blok Sensus.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam survei adalah Pengambilan Sampel Dua Tahap (Two Stage Random Sampling) :

1. Tahap pertama, dari kerangka sampel Blok Sensus diambil sejumlah Blok Sensus secara probability proporsional to size, dengan size banyaknya rumah tangga;

2. Tahap kedua, dari setiap blok sensus terpilih diambil 10 (sepuluh) rumahtangga secara stratified random sampling (pengambilan sampel berstrata) dengan strata golongan pendidikan kepala rumah tangga.

2.5.2 Metode Pendekatan dan Tahapan Penyusunan

Untuk memperoleh data yang akurat dengan tingkat validitasi yang tinggi dalam penyusunan Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 (Analisis Deskriptif) ini, pendekatan yang digunakan adalah metode wawancara langsung dengan responden. Setelah seluruh dokumen dari responden terpilih sampel diolah dan dianalisis, selanjutnya dilakukan penghitungan secara matematis terhadap Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2013 yang dapat diilustrasikan sebagai berikut :

(29)

Tahap pertama dari penghitungan IPM ialah menghitung indeks masing-masing komponen IPM (harapan hidup, pendidikan dan standar hidup layak) dengan formula sebagai berikut :

𝐼 (𝑖) = 𝑋 𝑋

(𝑖)

−𝑋

(𝑖)

𝑚𝑖𝑛

(𝑖)

𝑚𝑎𝑥−𝑋

(𝑖)

𝑚𝑖𝑛 ………

(1)

di mana :

I(i) : Indeks X(i); (i=1,2,3)

X(i) Maks : Nilai maksimum X(i) (lihat Tabel 3.1) ; X(i) Min : Nilai minimum X(i) (lihat Tabel 3.1) ;

Formula di atas akan menghasilkan nilai 0 ≤ Xi ≤ 1 ; untuk mempermudah cara membaca skala ini dinyatakan dalam 100. Untuk menstandarkan nilai maksimum dan nilai minimum di suatu daerah harus disepakati berapa besar nilai maksimum dan minimumnya sehingga bisa dipakai untuk membandingkan dengan daerah lain.

Tabel 2.1.

Indikator Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia Komponen IPM [=Xi] Satuan Nilai

Maks

Nilai

Min Keterangan

(1) (2) (3) (4) (5)

Angka Harapan Hidup Tahun 85 25 Standar global (UNDP)

Angka Melek Huruf % 100 0 Standar global (UNDP)

Rata-Rata Lama Sekolah Tahun 15 0 Standar global (UNDP) menggunakan combined gross enrolment ratio Konsumsi per Kapita

yang Disesuaikan

Rupiah 732.720 360.000 Keterangan : 737.720 perkiraan maksimum pada akhir PJP II tahun 2018,

360.000 penyesuaian garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan baru

(30)

Tahap kedua, ialah dengan menghitung rata-rata sederhana dari masing-masing indeks X(i). Formula untuk menghitung rata-rata ini adalah sebagai berikut:

𝐼𝑃𝑀 = 1 3 (𝑋 1 + 𝑋 2 + 𝑋 3 ) ………

(2)

dimana :

X(1) : Indeks harapan hidup;

X(2) : Indeks pendidikan = 2/3 (indeks melek huruf)+1/3 (indeks rata-rata lama sekolah);

X(3) : Indeks hidup layak.

Hasil penghitungan IPM akan memberikan gambaran seberapa jauh suatu wilayah telah mencapai sasaran yang ditentukan. Seperti angka harapan hidup 85 tahun, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali sudah memenuhi kriteria dari program Wajib Belajar Sembilan Tahun serta tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup layak. Semakin dekat besaran IPM suatu wilayah terhadap angka 100 akan semakin dekat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran pembangunan manusia seutuhnya.

UNDP membagi tingkat status pembangunan manusia suatu wilayah ke dalam tiga golongan yaitu rendah (apabila IPM kurang dari 50), sedang atau menengah (IPM antara 50 dan 80) dan tinggi (IPM di atas 80). Untuk keperluan

Gambar 2.1

Status Pembangunan Manusia

(31)

perbandingan antar wilayah kabupaten/kota golongan menengah dipecah lagi menjadi dua yaitu menengah atas (antara 66 dan 80) dan menengah bawah (antara 50 dan kurang dari 66).

Sebagai ukuran kemajuan pembangunan manusia, IPM dapat digunakan untuk mengkaji kemajuan pembangunan manusia dalam dua aspek. Pertama, untuk perbandingan antarwilayah yang memperlihatkan posisi suatu wilayah relatif terhadap wilayah berdasarkan besaran IPM yang disusun dalam suatu peringkat dari kemajuan pembangunan manusia di berbagai wilayah dalam kawasan yang sama. Kedua, untuk mengkaji kemajuan dari pencapaian setelah berbagai program diimplementasikan dalam suatu periode. Pengukuran tingkat kemajuan pencapaian terhadap sasaran ideal IPM dihitung setiap tahun dalam suatu periode. Pengukuran tingkat kemajuan pencapaian terhadap sasaran ideal IPM dihitung setiap tahun dalam suatu periode disebut shortfall reduction per tahun. Penghitungannya dengan formula sebagai berikut :

𝑟 = [ 𝐼𝑃𝑀 𝐼𝑃𝑀

𝑡1

−𝐼𝑃𝑀

𝑡0

𝑟𝑒𝑓

−𝐼𝑃𝑀

𝑡0

𝑥 100]

1

𝑡

………

(3)

dimana :

IPMt0 = IPM tahun dasar IPMt1 = IPM tahun terakhir

IPMref = IPM acuan atau ideal yang dalam hal ini sama dengan 100

Semakin besar shortfall reduction per tahun semakin besar kemajuan yang dicapai daerah tersebut dalam periode itu. Dengan menggunakan shortfall reduction

(32)

per tahun ini maka dapat dilihat seberapa besar kemajuan pencapaian pembangunan manusia tiap tahun di semua wilayah, sehingga akan diketahui wilayah-wilayah mana yang maju lebih cepat dibanding dengan wilayah lainnya.

Kriteria Shortfall Reduction ( r ):

1. Sangat lambat : r <1,30 2. Lambat : 1,30 ≤ r <1,50 3. Menengah : 1,50 ≤ r <1,70 4. Cepat : r ≥ 1,70

(33)

BAB III POTENSI SUMBER DAYA

3.1 SEJARAH KOTA BANJARMASIN

Asal mula nama kota Banjarmasin berasal dari sejarah panjang Kerajaan Banjar. Pada saat itu dikenal istilah Banjarmasih. Sebutan ini diambil dari nama salah seorang Patih yang sangat berjasa dalam pendirian kerajaan Banjar, yaitu Patih Masih, yang berasal dari Desa Oloh Masih yang dalam bahasa Ngaju berarti Orang Melayu atau Kampung Orang Melayu. Desa Oloh Masih inilah yang kemudian menjadi Kampung Bandar Masih.

Patih Masih bersama dengan beberapa patih lainnya sepakat mengangkat Pangeran Samudera menjadi Raja. Pangeran Samudera ini adalah seorang putera Kerajaan Daha yang terbuang dan mengasingkan diri di Desa Oloh Masih. Sejak itu terbentuklah Kerajaan Banjar. Pangeran Samudera kemudian menaklukkan Muara Bahan dan kerajaan kecil lainnya serta menguasai jalur-jalur sungai sebagai pusat perdagangan pada waktu itu.

Kemajuan Kerajaan Banjar ini tentu saja mengusik kekuatan Pangeran Temenggung, Raja Daha yang juga paman Pangeran Samudera. Sehingga terjadi penyerbuan oleh Daha. Peperangan yang berlarut-larut menyebabkan Pangeran Samudera terdesak, dan meminta bantuan Kerajaan Demak yang merupakan Kerajaan Islam Pertama dan terbesar di Nusantara. Demak bersedia membantu Kerjaan Banjar, dengan syarat raja dan rakyatnya masuk Islam. Pangeran Samudera setuju dan tentara

(34)

Demak datang bersama Khatib Dayan yang kemudian Meng-Islam-kan rakyat. Sejak itulah Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah.

Dengan bantuan Demak, Banjar menyerbu Daha dan mengalahkannya.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 24 September 1526, sehingga tanggal tersebut dijadikan sebagai :

1. Hari Kemenangan Pangeran Samudera, dan cikal bakal Kerajaan Islam Banjar.

2. Penyerahan Kerajaan Daha kepada Kerajaan Banjar.

3. Hari jadi Kota Bandjarmasih sebagai ibukota kerajaan baru yang menguasai sungai dan daratan Kalimantan Selatan.

Nama Banjarmasih inilah kemudian disebut orang Belanda Banjarmasih.

Sampai dengan tahun 1664 surat-surat Belanda ke Indonesia untuk kerajaan Banjarmasin masih menyebut kerajaan Banjarmasin dalam ucapan Belanda

”Bandzermash”. Setelah tahun 1664 sebutan itu berubah menjadi Bandjarmassingh, dan pertengahan abad 19, sejak jaman Jepang kembali disebut Bandjarmasin atau dalam ejaan baru bahasa Indonesia menjadi Banjarmasin.

3.2 KEADAAN GEOGRAFI

Kota Banjarmasin terletak antara 3164”-32254” lintang selatan dan terletak antara 1143140”-1143955” bujur timur serta berada pada ketinggian rata-rata 0,16 m di bawah permukaan laut dengan kondisi daerah berpaya-paya dan relatif datar.

Kota Banjarmasin secara geografis berbatasan dengan dua wilayah Kabupaten dalam wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Selatan. Di sebelah utara dan barat

(35)

berbatasan dengan Kabupaten Barito Kuala serta berbatasan dengan Kabupaten Banjar di sebelah timur dan selatan.

Sebagai ibukota provinsi maka Kota Banjarmasin merupakan salah satu muara mengalirnya pengembangan aspek ekonomi dan sosial budaya baik di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan maupun wilayah provinsi lainnya, terutama Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Dalam MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), dalam koridor ekonomi Kalimantan, Kota Banjarmasin dan 3 (tiga) Ibukota Provinsi Kalimantan ditetapkan sebagai pusat ekonomi, dengan tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional.

Dengan posisi ini maka ke depan, denyut nadi dan perekonomian Kota Banjarmasin semakin hidup, sebagai ibukota provinsi adalah juga pusat pemerintahan dalam menjalankan roda pembangunan Kalimantan Selatan dengan dukungan berbagai sarana dan prasana yang memadai.

Guna memberikan akses yang lebih cepat dalam pelayanan kepada masyarakat dan mempercepat proses pembangunan Kota Banjarmasin, berdasarkan wilayah administrasi saat ini Kota Banjarmasin dibagi menjadi 5 wilayah kecamatan dan 52 wilayah kelurahan.

Luas Kota Banjarmasin data terdahulu tercatat 72,00 km2, dengan pemetaan terbaru via satelit, ternyata luas Kota Banjarmasin sebenarnya seluas 98,46 km2 dengan Kecamatan terluas adalah Kecamatan Banjarmasin Selatan dengan luas sekitar 38,87 persen terhadap luas wilayah Kota Banjarmasin. Kecamatan dengan luas terkecil adalah Banjarmasin Tengah dengan luas wilayah hanya 6,66 km2 atau sekitar 6,76 persen dari luas wilayah Kota Banjarmasin.

(36)

Tabel 3.1.

Jumlah Kelurahan dan Luas Wilayah Kota Banjarmasin Menurut Kecamatan Tahun 2013

Kecamatan Jumlah

Kelurahan Luas (km2)

(1) (2) (3)

Banjarmasin Selatan 12 38,27

Banjarmasin Timur 9 23,86

Banjarmasin Barat 9 13,13

Banjarmasin Tengah 12 6,66

Banjarmasin Utara 10 16,54

Kota Banjarmasin 52 98,46

Sumber : BPS Kota Banjarmasin

Sesuai dengan kondisinya Kota Banjarmasin mempunyai banyak sungai dan anak sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana transportasi dan penggunaan lainnya seperti mandi, cuci dan lainnya, selain penggunaan jalan darat yang sudah ada.

3.3. DEMOGRAFI

Penduduk Kota Banjarmasin pada pertengahan tahun 2013 tercatat berjumlah 656.778 jiwa, terdiri dari 328.367 laki-laki dan 328.411 perempuan (berdasarkan angka hasil proyeksi). Berdasarkan data tersebut rasio jenis kelamin penduduk kota Banjarmasin tahun 2013 sebesar 99,99. Artinya jumlah penduduk jenis kelamin laki- laki sama dengan jenis kelamin perempuan. Jika dibandingkan dengan angka revisi proyeksi penduduk tahun 2012 sebesar 647.403 jiwa, angka laju pertumbuhan penduduk tahun 2012-2013 diperkirakan berada pada kisaran 1,45 persen.

(37)

Tabel 3.2.

Jumlah Penduduk Kota Banjarmasin per Kecamatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2013

Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Penduduk

Kepadatan Penduduk/Km2

(1) (2) (3) (4) (5)

Banjarmasin Selatan 77.228 76.026 153.254 4.005

Banjarmasin Timur 58.134 58.592 116.726 4.892

Banjarmasin Barat 74.769 72.713 147.482 11.232 Banjarmasin Tengah 46.108 47.552 93.660 14.063

Banjarmasin Utara 72.128 73.528 145.656 8.806

Kota Banjarmasin 328.367 328.411 656.778 6.671 Sumber : BPS Kota Banjarmasin (Proyeksi Penduduk Tahun 2013)

Melihat persebaran jumlah penduduk per kecamatan maka terlihat bahwa penyebaran penduduk Kota Banjarmasin cenderung relatif merata. Penduduk terbanyak (23,33 persen) terdapat di Kecamatan Banjarmasin Selatan yakni 153.254 jiwa, populasi penduduk terendah di Kecamatan Banjarmasin Tengah yaitu 93.660 jiwa atau sekitar 14,38 persen dari jumlah penduduk Kota Banjarmasin. Kecamatan Banjarmasin Selatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di antara lima kecamatan lainnya, namun kepadatan penduduknya rendah, karena kecamatan ini memiliki luas wilayah yang cukup luas bila dibandingkan dengan kecamatan lain yang ada di Kota Banjarmasin.

Berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah setiap kecamatan, maka Kecamatan Banjarmasin Tengah memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tertinggi, yaitu sebesar 14.063 jiwa per km2. Hal ini disebabkan Kecamatan Banjarmasin Tengah

(38)

merupakan wilayah dengan luasan lahan yang paling kecil (hanya 6,66 km2), sementara dihamparannya merupakan pusat-pusat bisnis dan perkantoran, sehingga pemukiman penduduk yang beraktivitas ekonomi umumnya juga tinggal disekitarnya.

Wilayah ini merupakan pusat perkantoran, bisnis dan pusat perdagangan (merupakan lokasi keberadaan Pasar Besar dan Pusat Perbelanjaan) sehingga pemukiman penduduk sebagian besar, beralih fungsi menjadi pusat bisnis dan kegiatan perdagangan, ditambah dengan program pembebasan bantaran sungai dari bangunan, maka sebagian besar rumah penduduk telah dibebaskan. Hal ini berimbas kepada relatif rendahnya pertumbuhan populasi penduduk di Kecamatan Banjarmasin Tengah.

Dari kelompok umur dapat dilihat gambaran komposisi penduduk Kota Banjarmasin, apakah termasuk dalam kelompok umur muda atau tua. Bila dilihat dari tabel di bawah nampak populasi terbesar penduduk Kota Banjarmasin pada kelompok umur 0-4 tahun sampai dengan kelompok umur 30-34 tahun, sehingga dapat dikatakan secara umum termasuk kelompok umur muda.

Tabel 3.3. memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2013 penduduk Kota Banjarmasin kelompok umur 0-4 tahun lebih besar jika dibandingkan kelompok umur di atasnya (5-9 tahun). Jumlah penduduk menurut kelompok usia produktif (15-64 tahun) terbesar terdapat pada kelompok umur 20-24 tahun sebesar 62.787 jiwa (9,56%). Kondisi ini mengambarkan komposisi penduduk yang dominan pada usia produktif. Agar jendela peluang (window of opportunity) dari bonus demografi di tahun 2020-2025 bisa dimanfaatkan secara maksimal maka pemerintah diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia usia muda baik dari segi kesehatan maupun pendidikan, sehingga mempunyai kompetensi dan daya saing tinggi.

(39)

Tabel 3.3.

Penduduk Kota Banjarmasin Menurut Kelompok Umur Tahun 2013

Kelompok Umur

Kecamatan

Banjarmasin Bjm

Selatan

Bjm Timur

Bjm Barat

Bjm Tengah

Bjm Utara

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

0-4 16,245 11,792 14,877 8,607 15,706 67,227 5-9 14,588 10,232 13,351 7,576 13,265 59,012

10-14 13,419 9,267 12,057 7,030 11,960 53,733

15-19 13,425 9,682 12,367 7,640 13,200 56,314

20-24 14,053 11,141 13,532 9,072 14,989 62,787

25-29 12,959 10,712 12,975 8,671 13,356 58,673

30-34 12,983 10,408 13,266 8,226 12,721 57,604

35-39 12,594 9,708 12,934 7,598 11,863 54,697

40-44 11,578 8,836 11,810 7,013 10,637 49,874

45-49 9,596 7,388 9,621 6,069 8,696 41,370

50-54 7,655 6,020 7,494 5,204 6,850 33,223

55-59 5,819 4,732 5,573 4,282 5,172 25,578

60-64 3,261 2,735 3,082 2,538 2,957 14,573

65-69 2,263 1,899 2,100 1,813 2,056 10,131

70-74 1,403 1,118 1,253 1,128 1,184 6,086

75+ 1,413 1,056 1,190 1,193 1,044 5,896

Total 153,254 116,726 147,482 93,660 145,656 656,778 Sumber : BPS Kota Banjarmasin (Proyeksi Penduduk Tahun 2013)

Menurut usia produktif maka penduduk Kota Banjarmasin dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) sebanyak 27,40 persen, kelompok usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 69,23 persen dan kelompok usia lanjut (65 tahun lebih) sebanyak 3,37 persen.

(40)

Tabel 3.4.

Penduduk Kota Banjarmasin Menurut Kelompok Usia Produktif Tahun 2013

Kelompok Umur Jumlah Persen (%)

(1) (2) (3)

Usia Muda (0-14 tahun) 179.972 27,40

Usia Produktif (15-64 tahun) 454.693 69,23

Usia Lanjut (65+ tahun) 22.113 3,37

Jumlah 656.778 100,00

Sumber : BPS Kota Banjarmasin (Proyeksi Penduduk Tahun 2013)

Berdasarkan kelompok umur dapat dihitung besarnya Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang belum produktif (umur di bawah 15 tahun) dan kelompok umur sudah dianggap tidak produktif (65 tahun ke atas) dengan banyaknya orang yang termasuk kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun). Dari tabel di atas diperoleh Angka Ketergantungan Penduduk Kota Banjarmasin pada tahun 2013 sebesar 44,44 persen. Ini berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif harus menanggung 44-45 orang usia tidak produktif.

Komposisi penduduk menurut struktur umur dapat menjadi dasar atau panduan untuk perencanaan, evaluasi dan penyusunan program pembangunan dari berbagai aspek seperti pendidikan, penciptaan lapangan kerja dan sarana kesehatan masyarakat serta beberapa perencanaan untuk pelayanan jasa publik.

(41)

3.4. KEGIATAN EKONOMI

Pembangunan bidang ekonomi ditujukan untuk menjawab berbagai permasalahan dan tantangan di berbagai bidang dan pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu, pembangunan bidang ekonomi harus dilaksanakan secara sinergi dengan bidang-bidang lain. Dalam rangka penciptaan peningkatan kesejahteraan rakyat, dalam RPJM Nasional 2011-2014 kondisi utama yang harus diciptakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; (2) penciptaan stabilitas ekonomi yang kokoh; serta (3) pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menggambarkan terjadinya peningkatan dan perluasan kegiatan ekonomi suatu negara, yang akan mendorong terbukanya kesempatan kerja baru, alih dan penguasaan teknologi akan meningkat, serta terbentuknya akumulasi modal (baik fisik maupun sumber daya manusia) yang akan berdampak positif pada produktivitas.

Dalam rangka terwujudnya pertumbuhan yang berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2011-2014 diharapkan meningkat rata-rata 6,3-6,8 persen per tahun. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh pertumbuhan investasi sebesar 9,1-10,8 persen, pertumbuhan ekspor sebesar 10,7- 11,6 persen, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,3-5,4 persen serta pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 10,6-11,7 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi didukung oleh pertumbuhan sektor pertanian rata-rata sebesar 3,6-3,7 persen dan pertumbuhan sektor industri pengolahan sebesar rata-rata 5,5-6,0

(42)

persen per tahun. Dalam rangka menciptakan stabilitas ekonomi yang kokoh, stabilitas harga dan stabilitas nilai tukar rupiah harus dapat dijaga, inflasi diharapkan berada pada kisaran rata-rata 4,0-6,0 persen per tahun, serta terjaganya volatilitas nilai tukar rupiah, dan seiring dengan itu cadangan devisa negara terus menaik atau meningkat.

Dalam rangka terciptanya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan, pada tahun 2014 tingkat kemiskinan diharapkan dapat diturunkan menjadi sekitar 8,0-10,0 persen, dan tingkat pengangguran dapat diturunkan menjadi 5,0-6,0 persen.

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat suatu wilayah ditentukan oleh kondisi alam serta pola pikir masyarakat di wilayah tersebut. Interaksi dari faktor tersebut dan faktor luar seperti kebijakan pemerintah yang menentukan corak kehidupan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Salah satu corak yang terbentuk dari interaksi faktor tersebut adalah sektor pekerjaan masyarakat pada wilayah tersebut.

Berdasarkan kondisi wilayah dan pola kehidupan maka penduduk Kota Banjarmasin telah mengalami pergeseran dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang perekonomiannya bertumpu pada sektor sekunder dan tersier. Sektor yang menjadi lapangan usaha masyarakat Kota Banjarmasin, seperti pada sektor bangunan/

konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi serta sektor bank dan lembaga keuangan lainnya termasuk jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Hal ini mengakibatkan sektor primer yaitu pertanian semakin menurun kontribusinya dalam perekonomian Kota Banjarmasin. Sesuai dengan statusnya sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, maka sebagian besar lahan difungsikan sebagai lahan non pertanian, terbesar adalah untuk pemukiman penduduk. Sehingga konversi lahan pertanian ke non pertanian sangat cepat, akibatnya lahan bagi usaha pertanian semakin terbatas ditambah keengganan tenaga kerja usia muda memasuki sektor

(43)

primer ini menyebabkan semakin berkurangnya produksi dan nilai tambah yang mampu dihasilkan sektor pertanian dalam denyut perekonomian Kota Banjarmasin.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK) Kota Banjarmasin pada tahun 2013 mencapai 5,99 trilyun rupiah, kecenderungan dari tahun ke tahun terus menaik, pada tahun 2011 sebesar 5,26 trilyun rupiah menjadi 5,59 trilyun rupiah pada tahun 2012. Dengan PDRB sebesar itu, pertumbuhan ekonomi Kota Banjarmasin pada tahun 2013 sebesar 7,17 persen, cenderung meningkat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun 2012 yang mencapai 6,31 persen. PDRB per kapita atas dasar harga konstan penduduk Kota Banjarmasin juga kecenderungannya terus meningkat bila pada tahun 2011 sebesar Rp. 8.240.936,- pada tahun 2012 naik menjadi Rp. 8.631.592.,- dan pada tahun 2013, sebesar Rp.

9.118.778,-

Ditinjau dari sisi pendapatan regional tanpa minyak bumi, gas dan pertambangan batubara maka sektor angkutan dan komunikasi adalah sektor penyumbang terbesar dalam pembentukan pendapatan regional daerah Banjarmasin tahun 2013 sebesar 22,77 persen, sektor Perdagangan, Restoran dan Perhotelan sebesar 21,29 persen dan sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan sebesar 16,41 persen. Selama 3 tahun ini ada kecenderungan peningkatan kontribusi pada

(44)

Sektor Konstruksi; Sektor Perdagangan, Restoran dan Perhotelan; Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; dan Sektor Jasa-Jasa. Sedangkan sektor lainnya mengalami kecenderungan penurunan kontribusi dalam proporsi penurunan yang berbeda.

Inflasi di Kota Banjarmasin pada tahun 2013 sebesar 6,98 persen, lebih tinggi dibandingkan yang dicatat pada tahun 2012 yang mencapai 5,96 persen dan tahun 2011 yang hanya mencapai 3,98 persen. Inflasi Kota Banjarmasin tahun 2013 sebesar 6,98 persen tercatat lebih rendah dari inflasi nasional yakni sebesar 8,38 persen.

Sedangkan dua tahun sebelumnya inflasi Kota Banjarmasin cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi nasional pada tahun 2011 dan tahun 2012 yang masing- masing sebesar 3,79 persen, dan 4,30 persen. Peningkatan angka inflasi di tahun 2013 disebabkan oleh kenaikan harga barang dan jasa hampir disemua paket komoditas sebagai dampak dari kebijakan pemerintah per tanggal 22 Juni 2013 mengurangi subsidi BBM, dari harga Rp 4.500/liter menjadi Rp 6.500 liter untuk jenis premium Ron 88 dan Rp 4.500/liter menjadi Rp 5.500/liter untuk jenis bahan bakar solar.

(45)

3.5. KETENAGAKERJAAN

Komposisi penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha, memberikan gambaran roda perekonomian Kota Banjarmasin. Seperti terlihat pada Tabel 3.5 menunjukkan sektor perdagangan, dan sektor jasa adalah lapangan usaha yang banyak menyerap lapangan pekerjaan. Persentase penduduk Kota Banjarmasin usia 15 tahun ke atas yang bekerja terbesar di sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 38,13 persen, sektor jasa-jasa dan lainnya sebesar 31,47 persen.

Tabel 3.5

Persentase Penduduk Kota Banjarmasin Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin Tahun 2013

Lapangan Pekerjaan Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4)

01. Pertanian 1,83 0,58 2,41

02. Pertambangan & Energi 0,87 0,10 0,97

03. Industri Pengolahan 5,60 1,64 7,24

04. Listrik dan Gas 0,19 0,00 0,19

05. Konstruksi 8,11 0,58 8,69

06. Perdagangan, Hotel dan Restoran 20,27 17,86 38,13

07. Angkutan & Komunikasi 8,20 0,29 8,49

08. Keuangan 1,45 0,97 2,41

09. Jasa-Jasa dan Lainnya 17,09 14,38 31,47

Jumlah 63,61 36,40 100,00

Sumber : BPS Kota Banjarmasin (Backcasting Survei Sosial Ekonomi Nasional 2013)

(46)

Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Kota Banjarmasin pada Agustus 2013 berada di kisaran angka sebesar 62,77 persen, dengan jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja mencapai 284.685 orang pada tahun 2013. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2013 (Agustus 2013) sebesar 5,04 persen, dengan jumlah penganggur (penduduk usia kerja atau 15 tahun ke atas) sekitar 15.114 orang.

Tabel 3.6.

Kondisi Ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja,

dan Tingkat Pengangguran Terbuka Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan Agustus 2012 - Agustus 2013

Kondisi Ketenagakerjaan

Agustus 2012 Agustus 2013

Banjarmasin Kalimantan

Selatan Banjarmasin Kalimantan Selatan

(1) (2) (3) (4) (5)

Bekerja (jiwa) 293.300 1.839.386 284.685 1.830.813

Pengangguran (jiwa) 22.094 99.679 15.114 69.537

Angkatan Kerja (jiwa) 315.394 1.939.065 299.799 1.900.350

TPAK (%) 66,96 72,01 62,77 69,31

TPT (%) 7,01 5,14 5,04 3,66

Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan (Angka Revisi Hasil Backcasting)

(47)

BAB IV SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA

4.1. KESEHATAN

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2010 tentang Kesehatan mencantumkan azas pembangunan kesehatan adalah perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender, dan nondiskriminasi dan norma-norma agama. Sedangkan tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Pencapaian status kesehatan dan gizi masyarakat merupakan kinerja sistem kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah serta berbagai komponen masyarakat. Kinerja pembangunan kesehatan dicapai melalui pendekatan enam sub sistem dalam sistem kesehatan nasional (SKN), yaitu sub sistem : (1) upaya kesehatan; (2) pembiayaan kesehatan; (3) sumber daya manusia kesehatan; (4) sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan; (5) manajemen dan informasi kesehatan; (6) pemberdayaan masyarakat. Ke enam sub sistem tersebut saling terkait dengan berbagai sistem lain diluar SKN antara lain sistem pendidikan, sistem ekonomi, dan sistem budaya.

(48)

Untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya-upaya melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, penyehatan lingkungan dan pemukiman, perbaikan gizi, penyediaan air bersih, penyuluhan kesehatan serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. Strategi yang ditempuh melalui pengelolaan kesehatan terpadu yaitu dikembangkannya upaya-upaya yang lebih mendorong peran serta masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan, baik yang berkaitan dengan jangkauan maupun kemampuannnya agar masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah dapat menikmati pelayanan yang berkualitas, terus memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran secara serasi dan bertanggung jawab, pengadaan dan peningkatan kualitas sarana kesehatan, kemampuan dan persebaran tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan lainnya.

Sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014 di bidang kesehatan diantaranya adalah : (1) pemberian imunisasi dasar pada 90 persen balita pada 2014;

(2) akses air bersih 67 persen penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas 75 persen penduduk sebelum 2014; (3) angka kematian ibu sebesar 118 per 100 ribu kelahiran dan angka kematian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup pada 2014, untuk wilayah Kalimantan Selatan angka kematian bayi diharapkan dari 34 pada tahun 2011 menjadi 30 pada tahun 2014; (4) penerapan asuransi kesehatan nasional untuk seluruh keluarga miskin 100 persen pada 2012 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara 2012-2014; (5) peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta selama 2011 – 2014.

(49)

4.1.1. Derajat Kesehatan Masyarakat

Menurut Henrik L. Blum (www.depkes.go.id) peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang dapat diukur dari tingkat mortalitas dan morbiditas penduduk dipengaruhi oleh empat faktor penentu, yaitu: faktor-faktor lingkungan (45 persen), perilaku kesehatan (30 persen), pelayanan kesehatan (20 persen), dan kependudukan/keturunan (5 persen). Hubungan derajat kesehatan dengan keempat faktornya digambarkan Henrik L.Blum dalam Gambar 2.4. Berdasarkan teori tersebut faktor terbesar yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang yaitu faktor lingkungan. Sepertinya memang sulit mewujudkan kehidupan yang sehat jika tinggal di lingkungan yang tidak sehat. Kondisi lingkungan di Indonesia sendiri tampaknya belum seluruhnya mencerminkan lingkungan yang sehat.

Gambar 4.1

Analisis Derajat Kesehatan (Konsep Henrik L. Blum)

DERAJAT KESEHATAN Morbiditas dan Mortalitas

LINGKUNGAN (45 persen)

PELAYANAN KESEHATAN (20

persen)

PERILAKU KESEHATAN (30

persen) KETURUNAN

(5 persen)

(50)

Berdasarkan data Susenas tahun 2010, masih terdapat 18,54 persen rumah tangga di Indonesia yang tidak memiliki tempat buang air besar. Kemudian sebanyak 39,13 persen tidak memiliki sumber air minum bersih dan 11,50 persen jenis lantai rumahnya masih tanah. Tentu hal ini perlu mendapat perhatian yang besar karena jika masih banyak rumah tangga yang tinggal di lingkungan yang kurang sehat maka harapan untuk mencapai kondisi penduduk Indonesia dengan derajat kesehatan yang baik mungkin akan sulit tercapai. Sebagai dampaknya pada kualitas pembangunan manusia adalah lambatnya peningkatan komponen kesehatan. Jika dilihat berdasarkan usia maka kelompok yang paling rentan terkena gangguan kesehatan adalah balita terutama pada kelompok umur di bawah 1 tahun (bayi) karena daya tahan tubuh mereka masih belum sempurna. Angka kematian balita (AKBA) memiliki hubungan yang erat dan terbalik dengan AHH karena di dalam AKBA tercakup pula angka kematian bayi (AKB) yang merupakan komponen input dalam penghitungan AHH (metode tidak langsung). Artinya, bahwa semakin rendah AKBA maka semakin tinggi AHH. Penurunan AKBA sebesar dua per tiga dari tahun 1990 - 2015 merupakan salah satu poin target Millenium Development Goals ( MDG’s) dalam bidang kesehatan.

Hasil Riskesdas 2013, proporsi kehamilan umur 10-54 tahun di Indonesia adalah 2,68 persen, di perkotaan (2,8%) lebih tinggi dibanding perdesaan (2,55%).

Pola kehamilan berbeda menurut kelompok umur dan tempat tinggal. Di antara penduduk perempuan umur 10-54 tahun tersebut, terdapat kehamilan pada umur sangat muda (<15 tahun), meskipun dengan proporsi yang sangat kecil (0,02%), terutama terjadi di perdesaan (0,03%). Proporsi kehamilan pada umur remaja (15-19 tahun) adalah 1,97 persen, perdesaan (2,71%) lebih tinggi dibanding perkotaan (1,28%).

(51)

Angka kematian bayi hasil SDKI 2012 adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup dan kematian balita adalah 40 kematian per 1.000 kelahiran hidup. SDKI 2007 angka kematian bayi sebesar 35 kematian, angka kematian balita sebesar 45 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Sama dengan pola SDKI 2007, lebih dari tiga perempat dari semua kematian balita terjadi dalam tahun pertama kehidupan anak dan mayoritas kematian bayi terjadi pada periode neonatus (bulan pertama setelah lahir = 0 – 28 hari).

Semakin menurunnya AKBA di Indonesia merupakan dampak dari semakin meningkatnya kesadaran penduduk untuk bersalin dengan pertolongan tenaga medis.

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir persentase kelahiran balita yang ditolong oleh tenaga medis semakin meningkat. Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan program terobosan Kementerian Kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat tentang kesehatan ibu sebagai upaya untuk menurunkan kematian ibu (Factsheet Ditjen Bina Kesehatan Ibu). Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten merupakan salah satu indikator MDGs target kelima. Tenaga kesehatan yang kompeten sebagai penolong persalinan (linakes) menurut PWS-KIA adalah dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter umum dan bidan.

Kementerian Kesehatan menetapkan target 90 persen persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 2012 (Depkes, 2000c).

Setiap ibu hamil menghadapi risiko terjadinya kematian, sehingga salah satu upaya menurunkan tingkat kematian ibu adalah meningkatkan status kesehatan ibu hamil sampai bersalin melalui pelayanan ibu hamil sampai masa nifas. Pada Riskesdas 2013, indikator cakupan pelayanan ibu hamil sampai masa nifas diperoleh dari

Gambar

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa masih ada sebesar 9,61 persen penduduk Kota  Banjarmasin berusia 15 tahun ke atas yang tidak memiliki ijazah SD
Tabel  4.15  menggambarkan  bahwa  Kecamatan  Banjarmasin  Selatan  menjadi  prioritas  utama  bagi  Pemerintah  Kota  Banjarmasin  untuk  segera  menambah  sarana  pendidikan  di  jenjang  SLTA  sederajat,  karena  rasio  murid  dan  penduduk  usia  16-18

Referensi

Dokumen terkait

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif yang digunakan untuk melihat pengaruh Indeks

Ada tiga kabupaten yang memiliki IPM tertinggi yaitu Kota Bukitinggi, Kota Padang, dan Kota Padang Panjang untuk merencanakan pembangunan di Sumatera Barat harus

IPM adalah indeks komposit yang dipengaruhi oleh tiga indikator dasar meliputi indikator kesehatan yang diukur dari Umur Harapan Hidup (UHH), indikator pendidikan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari pengeluaran pemerintah sektor pendidikan dan kesehatan, pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan terhadap

Dalam publikasi ini disajikan informasi mengenai gambaran sosial ekonomi Kabupaten Pulau Morotai Tahun 2015 dan komponen penghitungan Indeks Pembangunan Manusia antara lain

IPM dihitung berdasarkan informasi yang dapat menggambarkan tiga komponen yakni angka harapan hidup yang merepresentasikan bidang kesehatan; angka melek huruf dan

Dalam publikasi ini disajikan informasi mengenai gambaran sosial ekonomi Provinsi Maluku Utara Tahun 2013 dan komponen penghitungan Indeks Pembangunan Manusia antara lain berupa

Pengaruh Pengangguran Terbuka, Pengeluaran Pemerintah, Indeks Pembanguna Manusia secara simultan terhadap Kemiskinan Berdasarkan hasil estimasi bahwa variabel pengangguran terbuka,