• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. STATUS DAN KINERJA PEMBANGUNAN MANUSIA

5.5. Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin

Dimasukkannya konsep pembangunan manusia ke dalam kebijakan pembangunan sama sekali tidak berarti meninggalkan berbagai strategi pembangunan terdahulu. Hal ini bertujuan untuk melengkapi gambaran/indikator kondisi masyarakat sehingga kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat lebih terarah dan berdampak lebih cepat. Perbedaan yang diperlihatkan melalui IPM adalah

sudut pandang pembangunan manusia. Semua tujuan yang disebutkan di atas diletakkan dalam kerangka untuk mencapai tujuan utama, yaitu memperluas pilihan-pilihan manusia.

Dari waktu ke waktu, berbagai laporan pembangunan manusia di tingkat global memberikan usulan kebijakan baik dalam skala internasional maupan agenda nasional. Tujuan utama dari usulan tingkat dunia adalah untuk memberi masukan bagi paradigma baru pembangunan manusia yang berkelanjutan dan berlandaskan pada keamanan manusia (human security)., kemitraan baru antara negara berkembang dan negara maju, bentuk kerjasama internasional yang baru, serta kesepakatan global yang baru. Di sisi lain, usulan tingkat nasional meletakan titik berat pada keutamaan manusia dalam proses pembangunan, pada keutuhan akan kemitraan baru antara negara dan pasar, serta bentuk kerjasama baru antara pemerintah, institusi masyarakat madani, komunitas dan rakyat.

Konsep pembangunan manusia juga telah menarik perhatian para pembuat kebijakan di Indonesia. Dibandingkan dengan pendekatan ekonomi tradisional yang lebih memperhatikan peningkatan produksi dan produktivitas, pendekatan pembangunan manusia dianggap lebih mendekati tujuan utama pembangunan sebagaimana yang dikemukakan dalam UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Indeks pembangunan manusia juga menyajikan ukuran kemajuan pembangunan yang lebih memadai dan menyeluruh dibandingkan ukuran tunggal pertumbuhan PDB perkapita. Namun demikian IPM bukan satu-satunya indikator yang mampu menjelaskan pembangunan manusia secara menyeluruh. IPM adalah

suatu ringkasan yang tidak dapat menggantikan arti dari perspektif pembangunan manusia yang sangat kaya makna sehingga bukan merupakan suatu ukuran komprehensif dari pembangunan manusia.

Publikasi Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) di tingkat provinsi telah menyita banyak perhatian. Perbandingan antar provinsi memperlihatkan bahwa propinsi-propinsi yang secara ekonomi lebih maju ternyata mempunyai tingkat pembangunan manusia yang relatif lebih rendah. Kontroversi ini berhasil memicu kesadaran daerah akan keterbatasan pendekatan ekonomi tradisional terhadap pembangunan dan lebih mengarahkan perhatian daerah pada pembangunan yang berpusat pada manusia.

Pada tahun 2013 IPM Kota Banjarmasin tercatat sebesar 75,28. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan IPM pada tahun 2012 sebesar 74,83. Kenaikan ini disebabkan adanya peningkatan pada ketiga komponen pembentuk IPM, yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan.

Indeks Kesehatan tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebesar 69,30 dan 69,43 ini menunjukkan pada komponen ini, terjadi kenaikan umur harapan hidup dibanding tahun sebelumnya. Indeks pendidikan mengalami peningkatan antara tahun 2012 dan 2013. Indeks pendidikan tahun 2013 sebesar 88,29 dipengaruhi oleh indeks melek huruf dan indeks rata-rata lama sekolah yang meningkat antara tahun 2012 dan 2013. Kenaikan kuantitas pengeluaran riil perkapita yang disesuaikan dari 654.792 rupiah pada tahun 2012 menjadi 651.438 rupiah tahun 2013 mengakibatkan peningkatan pada indeks pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan yakni 68,13.

IPM Kota Banjarmasin pada tahun 2013 (75,28), merupakan tertinggi ke dua setelah Kota Banjarbaru yang mencapai 76,86. Sementara IPM Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 71,74 dan bila dibandingkan provinsi lainnya, posisi Kalimantan Selatan di urutan 26 dari 34 Provinsi. Sepanjang tahun 2008 sampai 2013, IPM Kota Banjarmasin berada pada posisi kedua setelah Kota Banjarbaru. Daerah dengan IPM terendah di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Kabupaten Balangan, dengan angka IPM sebesar 68,30.

Tabel 5.5

Indeks Komponen Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2008-2013

Sumber : BPS Kota Banjarmasin

Status pembangunan manusia di suatu wilayah yang digambarkan dengan angka IPM dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu rendah untuk wilayah dengan IPM kurang dari 50, menengah untuk wilayah dengan IPM antara 50 hingga 80 dan tinggi untuk wilayah dengan IPM di atas 80. Untuk keperluan perbandingan antar

Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Indeks Kesehatan 68,20 68,38 68,57 68,93 69,30 69,43 Indeks Pendidikan 85,89 86,74 87,04 87,09 87,83 88,29 - Indeks Melek Huruf 97,94 98,28 98,70 98,72 98,80 98,91 - Indeks Rata-rata Lama Sekolah 61,80 63,67 63,73 63,82 65,90 67,04 Indeks Pengeluaran Riil

Perkapita yang disesuaikan 64,45 65,35 65,91 66,70 67,35 68,13 Indeks Pembangunan Manusia 72,85 73,49 73,84 74,24 74,83 75,28

Kota/Kabupaten maka tingkat status menengah dipecah menjadi dua yaitu menengah bawah dan menengah atas dengan kriteria seperti terlihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6

Status Pembangunan Manusia Berdasarkan Nilai Indeks Pembangunan Manusia

No Nilai Tingkatan Status

(1) (2) (3)

1. < 50 Rendah

2. 50 ≤ IPM < 66 Menengah Bawah

3. 66 ≤ IPM < 80 Menengah Atas

4. ≥ 80 Tinggi

Sumber : Konsep UNDP (United Nations Development Programme)

Salah satu kegunaan IPM selain untuk mengukur tingkat pembangunan manusia juga digunakan untuk mengetahui perbandingan pembangunan manusia antar wilayah. Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat sejauh mana posisi pencapaian pembangunan manusia di wilayah Kalimantan Selatan.

Berdasarkan kriteria tersebut maka secara umum dapat diperoleh suatu gambaran bahwa pembangunan manusia di Kota Banjarmasin hingga tahun 2013 termasuk dalam kelompok menengah atas (nilai IPM antara 66-80) dengan nilai IPM sebesar 75,28. IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan (13 Kabupaten/Kota) berada dalam golongan menengah atas, dari terendah 68,30 dan tertinggi 76,86.

Tabel 5.7

Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2008 – 2013

Kabupaten / Kota 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Tanah Laut 70,40 70,62 71,16 72,00 72,75 73,46

Kotabaru 70,52 70,86 71,20 71,69 72,43 73,15

Banjar 70,16 70,52 70,94 71,28 71,96 72,30

Barito Kuala 66,09 66,80 67,54 68,36 68,92 69,31

Tapin 69,79 70,13 70,58 71,00 71,71 72,18

Hulu Sungai Selatan 70,11 70,50 70,83 71,20 71,64 72,00 Hulu Sungai Tengah 70,00 70,46 70,77 71,19 71,67 72,21 Hulu Sungai Utara 67,86 68,45 68,89 69,45 69,92 70,58

Tabalong 68,98 69,45 70,00 70,45 71,05 71,56

Tanah Bumbu 68,80 69,24 69,74 70,41 71,09 71,82

Balangan 65,60 66,06 66,74 67,35 67,71 68,30

Kota Banjarmasin 72,85 73,49 73,84 74,24 74,83 75,28 Kota Banjarbaru 74,09 74,43 74,74 75,43 76,28 76,86 Kalimantan Selatan 68,72 69,30 69,92 70,44 71,08 71,74 Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan

Untuk mempercepat peningkatan kapabilitas manusia di Kota Banjarmasin diperlukan modal dan investasi yang besar. Investasi tersebut diperlukan dalam rangka meningkatkan capaian atas dimensi mendasar dalam pembangunan manusia. Hal tersebut terwujud dalam bentuk perbaikan status kesehatan, pendidikan dan produktivitas penduduk. Investasi yang besar akan diperoleh melalui laju pertumbuhan PDRB per kapita yang pesat. Selanjutnya, produk dari pembangunan manusia yang

berhasil adalah terlahirnya sumber daya manusia yang berkualitas. SDM yang berkualitas merupakan modal utama dalam mengerakkan dan mempercepat laju roda perekonomian.

Tabel 5.8

Perbandingan Peringkat Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2008-2013

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan

Di wilayah Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin menduduki peringkat 2 berada di bawah Kota Banjarbaru. Perlunya perhatian serius bagi pembangunan sumber daya manusia agar peringkat Kota Banjarmasin dapat meningkat, tetapi yang

Kabupaten/Kota

penting adalah terus terjadinya peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat Kota Banjarmasin, sekaligus dengan upaya agar peringkat dapat meningkat dan minimal bertahan pada posisi tersebut.

Indikator lain perlu diperhatikan adalah perbedaan laju perubahan IPM selama periode waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan rata-rata reduksi shortfall per tahun. Nilai shortfall mengukur keberhasilan dipandang dari segi jarak antara apa yang telah dicapai dengan apa yang harus dicapai, yaitu jarak dengan nilai tertinggi yang bisa dicapai oleh IPM. Kondisi ideal tertinggi yang dapat dicapai oleh IPM sebesar 100. Nilai reduksi shortfall yang besar menandakan peningkatan IPM yang lebih cepat.

Pengukuran ini didasarkan pada asumsi bahwa laju perubahan IPM tidak bersifat linear, tetapi laju perubahan cenderung melambat pada IPM yang lebih tinggi. Formula penghitungan reduksi Shortfall adalah:

 

Kecepatan perkembangan IPM yang dicapai oleh Kota Banjarmasin memiliki trend penurunan. Pada periode 2011-2012 kecepatan pembangunan manusia Kota Banjarmasin mencapai 2,28 dan kurun waktu 2012-2013 kecepatan pembangunan manusia Kota Banjarmasin melambat menjadi hanya sebesar 1,81. Besaran reduksi shortfall ini merupakan upaya maksimal yang telah dicapai dalam pengelolaan sumber daya manusia di Kota Banjarmasin dan diperlukan waktu dan perhatian bersama untuk pencapaian yang lebih maksimal.

Tabel 5.9

Reduksi Shortfall Per Tahun Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2008-2013

Tahun Reduksi Shortfall

(1) (2)

2008-2009 2,37

2009-2010 1,32

2010-2011 1,53

2011-2012 2,28

2012-2013 1,81

2008-2013 1,55

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan

Laju Pencapaian IPM (reduksishortfall) digunakan untuk mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu. Laju Pencapaian IPM menunjukkan kecepatan pengurangan jarak suatu IPM terhadap IPM ideal. Reduksi shortfall per tahun (annual reduction in shortfall) menunjukkan perbandingan antara pencapaian yang telah ditempuh dengan capaian yang masih harus ditempuh untuk mencapai titik ideal (IPM=100).

Selama periode 2008-2013, reduksi shortfall menunjukkan angka rata-rata 1,55 per tahun. Dengan asumsi situasi kondisi pelaksanaan pembangunan manusia di Kota Banjarmasin mendatang stabil dengan asumsi perlakuan (treatment) sama dengan rata-rata tahun 2008-2013 maka Kota Banjarmasin akan mencapai titik IPM ideal dalam kurun waktu 21 (dua puluh satu) tahun mendatang dari sekarang.

Tabel 5.10

Perbandingan Peringkat Reduksi Shortfall Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota Tahun 2012 ke Tahun 2013

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan

Laju perubahan yang dicapai IPM selama periode 5 tahun (2008-2013) sebesar 1,55 menunjukkan adanya peningkatan baik dari sisi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan hidup di Kota Banjarmasin sebesar 1,55 per tahun.

Periode 2012-2013 reduksi shortfall tahunan menunjukkan angka 1,81 artinya terjadi peningkatan dari sisi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan hidup sebesar 1,81 selama setahun terakhir. Pencapaian ini melambat jika dibandingkan dengan periode tahun 2011-2012 yang mencapai 2,28. Reduksi shortfall 2012-2013

Kabupaten/Kota Reduksi Shortfall Peringkat

(1) (2) (3)

Tanah Laut 2,62 1

Kotabaru 2,59 2

Banjar 1,18 13

Barito Kuala 1,28 11

Tapin 1,66 10

Hulu Sungai Selatan 1,27 12

Hulu Sungai Tengah 1,91 6

Hulu Sungai Utara 2,17 5

Tabalong 1,76 9

Tanah Bumbu 2,54 3

Balangan 1,82 7

Banjarmasin 1,81 8

Banjarbaru 2,45 4

yang dicapai Kota Banjarmasin merupakan peringkat ke delapan dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Selatan seperti terlihat pada tabel 5.10.

Pencapaian ini dengan asumsi situasi kondisi pelaksanaan pembangunan manusia di Kota Banjarmasin mendatang stabil dengan asumsi perlakuan (treatment) sama dengan selama tahun 2012-2013 (seperti setahun terakhir) maka Kota Banjarmasin akan mencapai titik IPM ideal (100) dalam kurun waktu 16 (enam belas) tahun mendatang dari sekarang.

5.6. UPAYA PENCAPAIAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN Pencapaian peningkatan IPM Kota Banjarmasin selama kurun waktu 2012-2013 mengalami peningkatan yang cukup maksimal, hal ini tergambar pada Reduksi Shortfall. Pencapaian ini merupakan upaya keras dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan peran serta masyarakat dalam mendukung kebijakan atau upaya yang dilaksanakan dalam perbaikan pembangunan manusia.

Reduksi Shortfall yang dicapai pada tahun 2012-2013 sebesar 1,81 mengambarkan pencapaian IPM ideal (IPM=100) dimungkinkan 16 (enam belas) tahun lagi akan dicapai, namun upaya ini tidak semudah yang diharapkan. Kinerja dari tiga komponen indeks penghitungan IPM sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah dalam merencanakan dan menjalankan program-program pembangunan yang mengarusutamakan pembangunan sumber daya manusia, selain itu terpenting peran serta masyarakat untuk terlibat dalam proses yang terjadi, serta dilengkapi dengan konsensus bersama baik eksekutif, legislatif dan masyarakat, bahwa pembangunan manusia adalah yang utama dan menjadi sasaran prioritas untuk dicapai.

Pencapaian indeks kesehatan seperti usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu faktor yang perlu mendapat prioritas utama. Hal ini disebabkan keeratan hubungan derajat kesehatan yang sangat mempengaruhi besaran angka harapan hidup.

Peningkatan derajat kesehatan memiliki kaitan yang sangat erat dengan faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan dan genetik. Faktor terbesar yang menentukan tingkat derajat kesehatan dari keempat faktor tersebut adalah faktor perilaku masyarakat itu sendiri. Kesadaran masyarakat terlihat dari pola pikir dalam hal kesehatan yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari seperti keadaan rumah untuk tempat tinggal, kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas buang air besar, dan lainnya.

Sebaik apapun program dari pemerintah dalam upaya peningkatan indeks kesehatan tanpa didukung kesadaran masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatan hasil yang dicapai tidak akan maksimal. Peningkatan indeks ini (karena merupakan indikator dampak/impact) cenderung memerlukan waktu lama karena banyak indikator lain yang menyertai dan ikut mempengaruhi, misalnya dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarat dari sisi pola hidup untuk mengikuti Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) perlu proses, dan keterkaitan dengan sektor/bidang pendidikan, perumahan, lingkungan, sanitasi, ketersediaan infrastruktur, bahkan ekonomi.

Upaya peningkatan indeks pendidikan di Kota Banjarmasin perlu usaha yang secara kontinyu dan berkesinambungan, karena indeks ini harus melalui proses yang memakan waktu, indeks pendidikan ini dipengaruhi oleh angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Peningkatan melek huruf dapat dilakukan dengan program

pemerintah pengentasan buta aksara, namun untuk angka rata-rata lama sekolah tidak bisa hanya dalam satu atau dua tahun kedepan saja untuk melihat hasilnya. Program peningkatan rata-rata lama sekolah dapat difokuskan kepada peningkatan sarana prasarana sekolah tingkat menengah, yakni SMA/MA/SMK dengan distribusi pemerataan infrastruktur yang merata di setiap kelurahan dengan proporsi jumlah daya tampung sekolah dan jumlah penduduk usia 16-18 tahun. Hal ini berkaitan juga dengan capaian Angka Partispasi Kasar jenjang SLTA yang masih jauh dari target RPJMD Provinsi Kalsel 2010-2014.

Upaya peningkatan indeks standar hidup layak ini dipengaruhi oleh konsumsi riil per kapita masyarakat. Peningkatan indeks ini cukup signifikan bagi daerah perkotaan karena roda perekonomian yang baik akan memberikan kontribusi.

Terkendalinya angka inflasi dan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat akan berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan daya beli masyarakat. Iklim usaha dan investasi yang kondusif, sistem perizinan tanpa birokrasi kompleks, serta percepatan pembangunan dan perbaikan kualitas infrastruktur seperti ”PLN yang tidak byar pet” dan jalan/jembatan yang mulus sampai ke tingkat Kelurahan, juga sudah pasti akan meningkatkan geliat ekonomi daerah. Meningkatnya perekonomian Kota Banjarmasin berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya konsumsi masyarakat juga meningkat. Untuk daerah perkotaan upaya peningkatan IPM dengan mengoptimalkan indeks standar hidup layak akan lebih efektif, dibandingkan dengan indeks kesehatan dan indeks pendidikan yang memerlukan proses dalam upaya peningkatan pembangunan manusia pada umumnya.

Peningkatan ketiga indeks mempengaruhi IPM dapat dilihat dari ilustrasi upaya pencapaian pada tabel 5.11 dibawah ini.

Tabel 5.11

Ilustrasi Perlakuan (Treatment) Pencapaian IPM Kota Banjarmasin

Uraian Indeks

Perlakuan (Treatment) I Salah satu dari tiga Indeks Meningkat 1,00

75,62 1,35 21

Perlakuan (treatment) II Dua indeks dari tiga indeks meningkat masing-masing 1,00

75,95 2,70 11

Perlakuan (treatment) III Ketiga Indeks Meningkat masing-masing 1,00

76,28 4,05 7

Ilustrasi upaya perlakuan dalam peningkatan IPM Kota Banjarmasin tergambar melalui perlakuan I dimana salah satu indeks meningkat 1,00, baik indeks kesehatan, pendidikan maupun standar hidup layak akan memperoleh IPM tahun berikutnya sebesar 75,62. Reduksi Shortfall yang dihasilkan sebesar 1,35 yang berarti adanya peningkatan dari salah satu sisi kesehatan atau pendidikan maupun kesejahteraan hidup sebesar 1,35 persen, dengan pencapaian IPM ideal selama 21 tahun.

Upaya peningkatan IPM Kota Banjarmasin dengan perlakuan II, dimana dua dari tiga indeks meningkat masing-masing 1,00 akan memperoleh IPM tahun berikutnya sebesar 75,95. Reduksi Shortfall yang dihasilkan sebesar 2,70 yang berarti adanya peningkatan dari sisi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan hidup sebesar 2,70 persen, dengan pencapaian IPM ideal selama 11 tahun.

Pencapaian IPM dalam ilustrasi pencapaian IPM dengan perlakuan III memberikan gambaran peningkatan yang cukup berarti dimana ketiga indeks mengalami peningkatan masing-masing sebesar 1,00 akan memperoleh IPM tahun

berikutnya sebesar 76,28 dan besaran reduksi shortfall sebesar 4,05 yang menunjukan peningkatan dari semua sisi, baik kesehatan, pendidikan maupun kesejahteraan hidup sebesar 4,05 persen dan mengambarkan pencapaian IPM ideal selama 7 tahun.

Pencapaian peningkatan IPM ini akan sangat berarti bila semua pihak, baik pemerintah sebagai pemegang regulasi/kebijakan program pembangunan maupun masyarakat saling mendukung dalam melakukan upaya-upaya pencapaian.

BAB VI PENUTUP

Pencapaian pembangunan manusia di Kota Banjarmasin, terus menerus membaik, yang ditunjukkan oleh terus naiknya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yaitu sebesar 72,58 pada tahun 2008 menjadi 75,28 pada tahun 2013. Artinya bahwa status pembangunan manusia kota Banjarmasin berada pada kelompok menengah atas (66,00-80,00). Keterbandingan antar wilayah kabupaten/kota, posisi IPM Kota Banjarmasin berada di peringkat 2 dan berada di atas rata-rata IPM Provinsi Kalimantan Selatan yang angka IPMnya pada tahun 2013 mencapai level 73,46.

Akan tetapi, jika dicermati mengenai posisi peringkat reduksi shortfall Kota Banjarmasin pada tingkat kabupaten/kota di provinsi Kalimantan Selatan tahun 2013, maka perlu komitmen, konsistensi dan upaya yang komprehensif dalam melaksanakan prioritas program pembangunan yang berkorelasi kuat terhadap percepatan capaian pembangunan manusia, sehingga berada pada posisi ideal dan mencapai target RPJM Provinsi Kalimantan Selatan 2010-2014.

6.1. REKOMENDASI DAN INTERVENSI KINERJA BIDANG KESEHATAN

Peningkatan indeks terjadi pada semua komponennya, dimana angka harapan hidup terus membaik setiap tahun, bila pada tahun 2008 sebesar 66,03 tahun, maka pada tahun 2013 menjadi 66,66 tahun. Artinya bahwa rata-rata umur yang mungkin dicapai dari sejak lahir sampai meninggal dunia penduduk Kota Banjarmasin diantara 66 sampai 67 tahun. Umur harapan hidup yang dicapai oleh Kota Banjarmasin dan

Provinsi Kalimantan Selatan, masih jauh dari sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014 yaitu mencapai 69,79 tahun pada tahun 2014.

Berkaitan dengan kondisi Umur Harapan Hidup di atas yang masih belum mencapai target, maka perlu komitmen kuat dan berkelanjutan pada upaya-upaya/kebijakan strategis, antara lain:

1. Pelaksanaan akselerasi perbaikan gizi melalui SUN (Scaling Up Nutrition) Movement atau Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan 1000 HPK terdiri dari intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive. Kegiatan inetrvensi gizi spesifik bersifat jangka pendek berupa: imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI Ekslusif, MP-ASI, dsb. Sedangkan kegiatan intervensi gizi sensitif bersifat jangka panjang berupa: penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, keseteraan gender, dll.

2. Program Jaminan Persalinan (Jampersal) dari Pemerintah, harus disosialisasikan secara masif, pembangunan sanitasi yang layak dan sehat tentunya perlu terus ditingkatkan dan dipetakan dengan cermat.

3. Revitalisasi dan Pemberdayaan pos pelayanan terpadu (Posyandu) di Kelurahan dan pemukiman-pemukiman warga untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Revitalisasi posyandu diharapkan mampu memonitor bagaimana kondisi generasi akan datang : karena sasaran dari kegiatan ini yaitu : ibu hamil, bayi sampai usia 2 tahun dan remaja putri (wanita usia subur) yang siap menikah, ibu menyusui.

4. Upaya terpadu dan komprehensif serta berkesinambungan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif (UU.No. 36 Tahun 2010 tentang Kesehatan Pasal 46). Meningkatkan upaya paradigma kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif.

5. Peningkatan implementasi punishment bagi pelanggar Perda Kota Banjarmasin No.7 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Hal ini berkaitan dengan data Riskesdas 2013 yang menunjukkan bahwa Provinsi Kalsel berada pada posisi no.2 tertinggi se-Indonesia tentang Rata-Rata Batang Rokok yang dihisap per hari.

6. Peningkatan pola pikir masyarakat melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Misalnya : pemahaman tentang resiko/dampak Usia Perkawinan Muda kepada masyarakat, peningkatan efektifitas program “Saya Suami Siaga (Siap Antar Jaga)”, peningkatan kualitas Sanitasi Layak melalui SPAL, dan pembangunan MCK Komunal di wilayah kumuh, pengurangan mengkonsumsi makanan yang rendah gizi dan tidak sehat, dsb.

7. Alokasi anggaran bidang kesehatan untuk program yang mendorong pencapaian angka harapan hidup yang lebih baik, menjadi prioritas dan mendapat alokasi yang memadai.

6.2. REKOMENDASI DAN INTERVENSI KINERJA BIDANG PENDIDIKAN

Komponen angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, angka melek huruf pada tahun 2008 sebesar 98,28 persen meningkat menjadi 98,91 persen pada tahun 2013, sementara pada periode yang sama rata-rata lama sekolah juga cenderung meningkat dari 9,55 tahun menjadi 10,06 tahun. Meskipun selalu berada diatas angka Provinsi Kalimantan Selatan dan sudah melebihi target RPJMN tahun 2010-2014

terutama untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah serta melek huruf, akan tetapi dari Kota Banjarmasin selalu berada di peringkat 2, di bawah kota Banjarbaru yang pada tahun ini Angka Melek Hurufnya berada pada posisi 99,54 persen dan rata-rata lama sekolahnya menembus level 10,68 tahun.

Berkaitan dengan kondisi indikator pendidikan tersebut diatas, maka perlu adanya perubahan perilaku/mindset bagi semua stakeholder dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan strategis, antara lain:

1. Transparansi dan akuntabilitas dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) baik dari APBN maupun APBD agar bisa dikontrol bersama oleh masyarakat sehingga penyimpangan yang terjadi dapat ditekan secara maksimal.

2. Penetapan sasaran Bantuan Siswa Miskin/Program Kartu Indonesia Pintar dapat disosialiasikan secara transparan kepada semua pihak, agar masyarakat dapat mengetahui berapa dan siapa yang seharusnya berhak menerima.

3. Tersedianya basis data nama dan alamat yang akurat dan mutakhir tentang penduduk usia 7-18 tahun yang tidak/belum bersekolah dan putus sekolah pendidikan dasar dan menengah, dan penduduk semua usia yang mengalami buta huruf, sehingga program percepatan pencapaian pembangunan manusia di bidang pendidikan lebih tepat manfaat dan tepat sasaran.

4. Mengimplementasikan Program Wajib Belajar 12 Tahun, mengingat kondisi Angka Partisipasi jenjang SLTA yang masih rendah.

5. Meningkatkan akses sarana pendidikan terutama SLTA di kecamatan/kelurahan yang belum/masih sedikit ketersediaan SLTA guna mendukung Program Wajib Belajar 12 Tahun tesebut di atas, seperti kelurahan dengan status kewilayahan perdesaan (misal: kelurahan Mantuil).

6. Peningkatan kompetensi guru dalam hal cara mendidik dan mengajar siswa agar bermoral baik dan berotak cerdas, dibarengi dengan pengawasan intensif dari pihak terkait.

7. Butir ke-8 Nawacita Jokowi-JK untuk rakyat Indonesia, adalah melakukan revolusi karakter bangsa (Revolusi Mental). Salah satu prinsip Revolusi Mental adalah nilai-nilai yang dikembangkan bertujuan mengatur kehidupan sosial (moralitas publik) bukan mengatur moralitas privat. Berkaitan dengan hal tersebut, para guru

7. Butir ke-8 Nawacita Jokowi-JK untuk rakyat Indonesia, adalah melakukan revolusi karakter bangsa (Revolusi Mental). Salah satu prinsip Revolusi Mental adalah nilai-nilai yang dikembangkan bertujuan mengatur kehidupan sosial (moralitas publik) bukan mengatur moralitas privat. Berkaitan dengan hal tersebut, para guru