BAB V. STATUS DAN KINERJA PEMBANGUNAN MANUSIA
5.1. Umur Harapan Hidup
Sebagai salah satu indikator kesehatan, umur harapan hidup digunakan untuk mengukur pencapaian pembangunan manusia, cermin dari dimensi sehat dan berumur panjang. Angka harapan hidup pada waktu lahir (eo) adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka harapan hidup diartikan sebagai umur yang mungkin dicapai seseorang yang lahir pada tahun tertentu. Tahun 2013 umur harapan hidup di Kota Banjarmasin tercatat 66,66 tahun, yang berarti rata-rata umur yang mungkin dicapai dari sejak lahir sampai meninggal dunia penduduk Kota Banjarmasin diantara 66 sampai 67 tahun. Rata-rata umur harapan hidup penduduk Kota Banjarmasin pada tahun 2013, dapat dikatakan sama panjangnya dibanding umur harapan hidup tahun 2012 yang tercatat 66,58 tahun. Umur harapan hidup penduduk Kota Banjarmasin nampak terus membaik, pada tahun 2008 umur harapan hidup hanya mencapai 65,92 tahun, sehingga dalam jangka waktu 5 (lima) tahun umur harapan hidup, naik mendekati 1 (satu) tahun. Umur harapan hidup penduduk Kota Banjarmasin periode tahun 2008 sampai tahun 2013, selalu lebih tinggi dibandingkan umur harapan hidup Provinsi Kalimantan Selatan. Umur harapan hidup Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2008 sepanjang 63,10 tahun menjadi 64,82 tahun pada tahun 2013.
Kabupaten Tanah Laut merupakan daerah dengan umur harapan hidup tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan sepanjang tahun 2008 sampai 2013, yaitu mencapai 67,90 tahun pada tahun 2008, dan naik menjadi 69,29 tahun pada tahun 2013. Sedangkan daerah dengan umur harapan hidup terendah pada tahun 2013, adalah Kabupaten Balangan yaitu mencapai 62,50 tahun. Berdasarkan umur harapan hidup tahun 2013, di Provinsi Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin berada pada
posisi nomor urut 4 (empat) setelah Tanah Laut, Banjarbaru, dan Tapin. Umur harapan hidup yang dicapai oleh Kota Banjarmasin dan Provinsi Kalimantan Selatan, masih jauh dari sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN 2010 – 2014 yaitu mencapai 69,79 tahun pada tahun 2014.
Tabel 5.1
Perbandingan Angka Harapan Hidup di Kota Banjarmasin Tahun 2008 – 2013
Sumber: BPS Kota Banjarmasin
Seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup maka sangat diperlukan persiapan terhadap peningkatan jumlah penduduk dalam kelompok usia tua (kelompok tidak produktif). Usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu faktor yang perlu mendapat prioritas utama. Hal ini disebabkan keeratan hubungan derajat kesehatan yang sangat mempengaruhi besaran angka harapan hidup.
Tahun Angka Harapan Hidup
(1) (2)
2008 65,92
2009 66,03
2010 66,14
2011 66,36
2012 66,58
2013 66,66
Peningkatan derajat kesehatan memiliki kaitan yang sangat erat dengan faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan dan genetik. Faktor terbesar yang menentukan tingkat derajat kesehatan dari keempat faktor tersebut adalah faktor perilaku masyarakat itu sendiri. Kesadaran masyarakat terlihat dari pola pikir dalam hal kesehatan yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari seperti keadaan rumah untuk tempat tinggal, kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas buang air besar, dan lainnya.
Perencanaan dalam kehidupan berkeluarga sangat mempengaruhi kualitas kehidupan di masa depan, misalnya pembatasan umur minimal kawin pertama dan penggunaan alat kontrasepsi. Semakin muda usia seorang wanita memasuki jenjang perkawinan maka semakin panjang masa reproduksinya dan semakin besar kemungkinannya untuk memiliki anak lebih banyak. Usia perempuan kawin muda juga memiliki peluang yang besar untuk meningkatkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi yang berakibat kepada rendahnya angka harapan hidup.
Pemerintah telah menentukan umur minimum melangsungkan perkawinan untuk wanita adalah 20 tahun dan untuk pria adalah 25 tahun. Hal ini berdasarkan pada usia tersebut baik laki-laki dan perempuan diharapkan sudah siap secara fisik dan mental untuk menjalani perkawinan. Dihubungkan dengan kesehatan maka pada usia tersebut wanita telah siap untuk melahirkan. Berdasarkan penelitian bahwa angka kematian bayi dan ibu sebagian besar berada pada kelompok usia ibu di bawah 20 tahun.
Penggunaan alat kontrasepsi berguna untuk mengatur jumlah anak yang dimiliki dan jarak anak yang dilahirkan. Dengan jumlah anak yang terbatas sesuai
anjuran pemerintah ”2 anak lebih baik” akan membuat orang tua lebih mampu memberikan kesempatan dari sisi kualitas maupun kuantitas kepada anak, baik dari segi pendidikan, pemberian gizi dan sisi lainnya yang tentu berbanding terbalik seiring dengan jumlah anak yang lebih banyak.
Pelayanan, ketersediaan dan akses ke fasilitas kesehatan memiliki kontribusi tidak kalah pentingnya terhadap umur harapan hidup seseorang. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan diharapkan makin banyak penduduk yang mengalami keluhan kesehatan mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengobati penyakitnya.
5.2. ANGKA MELEK HURUF.
Keberhasilan pembangunan juga dapat dilihat dari segi pendidikan. Salah satu indikatornya yaitu meningkatnya jumlah penduduk yang melek huruf. Oleh sebab itu pemerintah telah mencanangkan program pemberantasan buta huruf. Persentase buta huruf banyak ditemukan pada usia tua, sedangkan penduduk usia muda jarang ditemukan penduduk yang buta huruf. Angka melek huruf penduduk 15 tahun keatas di Kota Banjarmasin pada tahun 2013 adalah 98,91 persen. Dibanding tahun 2012 (98,80 persen), pencapaian melek huruf di Kota Banjarmasin cenderung mengalami peningkatan.
Angka melek huruf Kota Banjarmasin (98,91 persen) ini merupakan yang tertinggi kedua di Provinsi Kalimantan Selatan setelah Kota Banjarbaru yang mencapai 99,54 persen. Pada tahun 2013, kabupaten dengan melek huruf terendah adalah Kabupaten Barito Kuala, yaitu sebesar 94,19 persen, sementara angka melek huruf untuk Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 97,18 persen.
Tabel 5.2
Persentase Penduduk Melek Huruf Usia 15 Tahun ke Atas di Kota Banjarmasin Tahun 2008 - 2013
Sumber : BPS Kota Banjarmasin
5.3. RATA-RATA LAMA SEKOLAH
Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan yang dicapai oleh masyarakat di suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Rata-rata lama sekolah yaitu rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti. Untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah, pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 12 tahun atau pendidikan menengah hingga tingkat SLTA.
Tahun Melek Huruf
(1) (2)
2008 97,94
2009 98,28
2010 98,70
2011 98,72
2012 98,80
2013 98,91
Rata-rata lama sekolah yang disajikan disini adalah rata-rata lama sekolah penduduk 15 tahun ke atas. Hal ini dikarenakan rata-rata lama sekolah sangat dipengaruhi umur dan adanya program wajib belajar 12 tahun. Pada penduduk usia 15 tahun ke bawah masih banyak penduduk yang masih bersekolah. Namun karena rata-rata lama sekolah yang dipakai mencakup penduduk usia tua yang sebagian besar tidak menamatkan SD. Rata-rata lama sekolah di Kota Banjarmasin tahun 2013 menurut penghitungan sebesar 10,06 tahun, yang berarti pada umumnya penduduk usia 15 tahun ke atas di Kota Banjarmasin rata-rata sudah menamatkan sekolah lanjutan tingkat pertama hingga sampai tingkat SLTA kelas 1. Selama tahun 2008-2013 rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan yakni dari 9,27 tahun menjadi 10,06 tahun.
Dari Tabel 5.3 nampak bahwa rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun keatas dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 di Kota Banjarmasin semakin baik dan terus bertambah. Pada tahun 2013, rata-rata lama sekolah di Kota Banjarmasin, merupakan ke dua tertinggi setelah Kota Banjarbaru yang mencapai 10,68 tahun, sementara Kabupaten Balangan merupakan Kabupaten dengan angka terendah, yaitu 7,05 tahun (lihat Lampiran 3).
Rata-rata lama sekolah tingkat Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2013 mencapai 8,01 tahun, dengan angka tersebut hasil yang dicapai Kota Banjarmasin, 2 (dua) tahun lebih tinggi dari angka Provinsi Kalimantan Selatan. Rata-rata lama sekolah Kota Banjarmasin, telah melebihi dari sasaran yang ingin dicapai untuk wilayah Kalimantan Selatan dalam RPJMN 2010 – 2014 yang ditetapkan sebesar 7,96 tahun.
Partisipasi sekolah terus dipacu peningkatannya dalam mendukung pencapaian yang lebih baik. Hal ini perlu upaya strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Banjarmasin. Program wajib belajar 12 tahun seyogyanya diupayakan lebih serius bagi penduduk putus sekolah yang belum mengenyam pendidikan menengah khususnya SLTA.
Tabel 5.3
Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke atas Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008-2013
Sumber : BPS Kota Banjarmasin
5.4. KONSUMSI RIIL PER KAPITA.
Konsumsi riil per kapita memberikan gambaran tingkat daya beli masyarakat.
Sebagai salah satu komponen yang digunakan dalam melihat status pembangunan manusia di suatu wilayah, variabel ini sangat penting karena dapat mempengaruhi
Tahun Rata-rata Lama Sekolah
(1) (2)
2008 9,27
2009 9,55
2010 9,56
2011 9,57
2012 9,88
2013 10,06
derajat kesehatan untuk meningkatkan umur harapan hidup serta kemampuan menyekolahkan anak. Tingkat kesejahteraan dikatakan meningkat jika terjadi peningkatan konsumsi riil per kapita, yaitu peningkatan nominal pengeluaran rumah tangga lebih tinggi dari tingkat inflasi pada periode yang sama. Pada periode 2008-2013 terjadi kenaikan nominal pada pengeluaran konsumsi per kapita setahun. Tahun 2013, konsumsi riil per kapita di Kota Banjarmasin sebesar 654.792 rupiah per kapita per bulan. Dibandingkan pada tahun 2012 yang sebesar 651.438 rupiah maka terjadi kenaikan sebesar 0,51 persen.
Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan pada tahun 2013, tertinggi di Kabupaten Kotabaru yaitu mencapai Rp. 663.326,- per kapita/bulan, terendah adalah Kabupaten Balangan yang mencapai Rp. 629.419,- per kapita/bulan. Sementara untuk tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, rata-rata sebesar Rp. 646.768,- per kapita/bulan.
Selain kuantitas pengeluaran perkapita sebagai salah satu ukuran tingkat standar hidup layak maka perlu diperhatikan pola pengeluaran rumah tangga dalam suatu wilayah. Salah satu indikator kesejahteraan di masyarakat adalah persentase pengeluaran rumah tangga yang dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran non makanan. Umumnya pada negara berkembang pola pengeluaran rumah tangga masih terkonsentrasi pada kelompok makanan. Masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang baik maka pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi makanan lebih rendah dibandingkan untuk kelompok non makanan. Diantara pengeluaran non makanan yang penting dalam meningkatkan kualitas hidup manusia adalah pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan serta kebutuhan sekunder lainnya cenderung lebih besar dari kelompok makanan.
Tabel 5.4
Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Menurut Jenis Pengeluaran di Kota Banjarmasin Tahun 2008-2013
Sumber : BPS Kota Banjarmasin
Pada tahun 2009 sebanyak 47,92 persen pendapatan yang diperoleh rumah tangga di Kota Banjarmasin habis digunakan untuk pengeluaran kelompok makanan.
Besarnya angka ini mengindikasikan masih sangat terbatasnya pendapatan/
pengeluaran masyarakat yang dialokasikan untuk peningkatan kualitas hidup seperti pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Pada gambar 5.4 nampak selama tahun 2008 sampai 2013 ada kecenderungan proporsi pengeluaran kelompok makanan menurun dan pada kelompok non makanan cenderung meningkat. Pada tahun 2008 pengeluaran untuk konsumsi bukan makanan sebesar 57,15 persen dan pada tahun 2013 menjadi 57,71 persen dari seluruh pengeluaran rumah tangga Kota Banjarmasin.
Tahun Makanan Bukan Makanan
(1) (2) (3)
2008 42,85 57,15
2009 47,92 52,08
2010 48,74 51,26
2011 43,68 56,32
2012 43,25 56,75
2013 42,29 57,71
Pengeluaran bukan makanan pada tahun 2013 mengalami peningkatan dibanding tahun 2012. Salah satu faktor yang mempengaruhi karena meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat tertentu sehingga cenderung mampu untuk memenuhi kebutuhan seperti perumahan, pendidikan dan kesehatan, dll, sehingga proporsi pengeluaran rumah tangga bisa dialihkan kepada konsumsi non makanan.
Faktor lain yang mempengaruhi juga karena inflasi yang cenderung stabil dalam kurun waktu dua tahun terakhir, yakni hanya 5,96 persen pada tahun 2012 dan 6,98 persen pada tahun 2013.
Salah satu upaya untuk meningkatkan IPM adalah dengan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat lebih tinggi dan memperoleh nilai tambah yang besar, sehingga pendapatan per kapita meningkat dan konsumsi per kapita jelas akan mengikutinya.
Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, maka pilihan-pilihan untuk bisa hidup sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan kebutuhan lainnya sebagai manusia dapat dipenuhi. Usaha-usaha itu dapat dilakukan dengan adanya investasi baik oleh pemerintah melalui ”Government Expenditure” (APBN dan APBD) serta munculnya entrepreneurship baru dalam aktivitas ekonomi.
5.5. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN
Dimasukkannya konsep pembangunan manusia ke dalam kebijakan pembangunan sama sekali tidak berarti meninggalkan berbagai strategi pembangunan terdahulu. Hal ini bertujuan untuk melengkapi gambaran/indikator kondisi masyarakat sehingga kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat lebih terarah dan berdampak lebih cepat. Perbedaan yang diperlihatkan melalui IPM adalah
sudut pandang pembangunan manusia. Semua tujuan yang disebutkan di atas diletakkan dalam kerangka untuk mencapai tujuan utama, yaitu memperluas pilihan-pilihan manusia.
Dari waktu ke waktu, berbagai laporan pembangunan manusia di tingkat global memberikan usulan kebijakan baik dalam skala internasional maupan agenda nasional. Tujuan utama dari usulan tingkat dunia adalah untuk memberi masukan bagi paradigma baru pembangunan manusia yang berkelanjutan dan berlandaskan pada keamanan manusia (human security)., kemitraan baru antara negara berkembang dan negara maju, bentuk kerjasama internasional yang baru, serta kesepakatan global yang baru. Di sisi lain, usulan tingkat nasional meletakan titik berat pada keutamaan manusia dalam proses pembangunan, pada keutuhan akan kemitraan baru antara negara dan pasar, serta bentuk kerjasama baru antara pemerintah, institusi masyarakat madani, komunitas dan rakyat.
Konsep pembangunan manusia juga telah menarik perhatian para pembuat kebijakan di Indonesia. Dibandingkan dengan pendekatan ekonomi tradisional yang lebih memperhatikan peningkatan produksi dan produktivitas, pendekatan pembangunan manusia dianggap lebih mendekati tujuan utama pembangunan sebagaimana yang dikemukakan dalam UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Indeks pembangunan manusia juga menyajikan ukuran kemajuan pembangunan yang lebih memadai dan menyeluruh dibandingkan ukuran tunggal pertumbuhan PDB perkapita. Namun demikian IPM bukan satu-satunya indikator yang mampu menjelaskan pembangunan manusia secara menyeluruh. IPM adalah
suatu ringkasan yang tidak dapat menggantikan arti dari perspektif pembangunan manusia yang sangat kaya makna sehingga bukan merupakan suatu ukuran komprehensif dari pembangunan manusia.
Publikasi Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) di tingkat provinsi telah menyita banyak perhatian. Perbandingan antar provinsi memperlihatkan bahwa propinsi-propinsi yang secara ekonomi lebih maju ternyata mempunyai tingkat pembangunan manusia yang relatif lebih rendah. Kontroversi ini berhasil memicu kesadaran daerah akan keterbatasan pendekatan ekonomi tradisional terhadap pembangunan dan lebih mengarahkan perhatian daerah pada pembangunan yang berpusat pada manusia.
Pada tahun 2013 IPM Kota Banjarmasin tercatat sebesar 75,28. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan IPM pada tahun 2012 sebesar 74,83. Kenaikan ini disebabkan adanya peningkatan pada ketiga komponen pembentuk IPM, yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan.
Indeks Kesehatan tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebesar 69,30 dan 69,43 ini menunjukkan pada komponen ini, terjadi kenaikan umur harapan hidup dibanding tahun sebelumnya. Indeks pendidikan mengalami peningkatan antara tahun 2012 dan 2013. Indeks pendidikan tahun 2013 sebesar 88,29 dipengaruhi oleh indeks melek huruf dan indeks rata-rata lama sekolah yang meningkat antara tahun 2012 dan 2013. Kenaikan kuantitas pengeluaran riil perkapita yang disesuaikan dari 654.792 rupiah pada tahun 2012 menjadi 651.438 rupiah tahun 2013 mengakibatkan peningkatan pada indeks pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan yakni 68,13.
IPM Kota Banjarmasin pada tahun 2013 (75,28), merupakan tertinggi ke dua setelah Kota Banjarbaru yang mencapai 76,86. Sementara IPM Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 71,74 dan bila dibandingkan provinsi lainnya, posisi Kalimantan Selatan di urutan 26 dari 34 Provinsi. Sepanjang tahun 2008 sampai 2013, IPM Kota Banjarmasin berada pada posisi kedua setelah Kota Banjarbaru. Daerah dengan IPM terendah di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Kabupaten Balangan, dengan angka IPM sebesar 68,30.
Tabel 5.5
Indeks Komponen Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2008-2013
Sumber : BPS Kota Banjarmasin
Status pembangunan manusia di suatu wilayah yang digambarkan dengan angka IPM dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu rendah untuk wilayah dengan IPM kurang dari 50, menengah untuk wilayah dengan IPM antara 50 hingga 80 dan tinggi untuk wilayah dengan IPM di atas 80. Untuk keperluan perbandingan antar
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Indeks Kesehatan 68,20 68,38 68,57 68,93 69,30 69,43 Indeks Pendidikan 85,89 86,74 87,04 87,09 87,83 88,29 - Indeks Melek Huruf 97,94 98,28 98,70 98,72 98,80 98,91 - Indeks Rata-rata Lama Sekolah 61,80 63,67 63,73 63,82 65,90 67,04 Indeks Pengeluaran Riil
Perkapita yang disesuaikan 64,45 65,35 65,91 66,70 67,35 68,13 Indeks Pembangunan Manusia 72,85 73,49 73,84 74,24 74,83 75,28
Kota/Kabupaten maka tingkat status menengah dipecah menjadi dua yaitu menengah bawah dan menengah atas dengan kriteria seperti terlihat pada tabel 5.6.
Tabel 5.6
Status Pembangunan Manusia Berdasarkan Nilai Indeks Pembangunan Manusia
No Nilai Tingkatan Status
(1) (2) (3)
1. < 50 Rendah
2. 50 ≤ IPM < 66 Menengah Bawah
3. 66 ≤ IPM < 80 Menengah Atas
4. ≥ 80 Tinggi
Sumber : Konsep UNDP (United Nations Development Programme)
Salah satu kegunaan IPM selain untuk mengukur tingkat pembangunan manusia juga digunakan untuk mengetahui perbandingan pembangunan manusia antar wilayah. Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat sejauh mana posisi pencapaian pembangunan manusia di wilayah Kalimantan Selatan.
Berdasarkan kriteria tersebut maka secara umum dapat diperoleh suatu gambaran bahwa pembangunan manusia di Kota Banjarmasin hingga tahun 2013 termasuk dalam kelompok menengah atas (nilai IPM antara 66-80) dengan nilai IPM sebesar 75,28. IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan (13 Kabupaten/Kota) berada dalam golongan menengah atas, dari terendah 68,30 dan tertinggi 76,86.
Tabel 5.7
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2008 – 2013
Kabupaten / Kota 2008 2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Tanah Laut 70,40 70,62 71,16 72,00 72,75 73,46
Kotabaru 70,52 70,86 71,20 71,69 72,43 73,15
Banjar 70,16 70,52 70,94 71,28 71,96 72,30
Barito Kuala 66,09 66,80 67,54 68,36 68,92 69,31
Tapin 69,79 70,13 70,58 71,00 71,71 72,18
Hulu Sungai Selatan 70,11 70,50 70,83 71,20 71,64 72,00 Hulu Sungai Tengah 70,00 70,46 70,77 71,19 71,67 72,21 Hulu Sungai Utara 67,86 68,45 68,89 69,45 69,92 70,58
Tabalong 68,98 69,45 70,00 70,45 71,05 71,56
Tanah Bumbu 68,80 69,24 69,74 70,41 71,09 71,82
Balangan 65,60 66,06 66,74 67,35 67,71 68,30
Kota Banjarmasin 72,85 73,49 73,84 74,24 74,83 75,28 Kota Banjarbaru 74,09 74,43 74,74 75,43 76,28 76,86 Kalimantan Selatan 68,72 69,30 69,92 70,44 71,08 71,74 Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan
Untuk mempercepat peningkatan kapabilitas manusia di Kota Banjarmasin diperlukan modal dan investasi yang besar. Investasi tersebut diperlukan dalam rangka meningkatkan capaian atas dimensi mendasar dalam pembangunan manusia. Hal tersebut terwujud dalam bentuk perbaikan status kesehatan, pendidikan dan produktivitas penduduk. Investasi yang besar akan diperoleh melalui laju pertumbuhan PDRB per kapita yang pesat. Selanjutnya, produk dari pembangunan manusia yang
berhasil adalah terlahirnya sumber daya manusia yang berkualitas. SDM yang berkualitas merupakan modal utama dalam mengerakkan dan mempercepat laju roda perekonomian.
Tabel 5.8
Perbandingan Peringkat Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2008-2013
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan
Di wilayah Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin menduduki peringkat 2 berada di bawah Kota Banjarbaru. Perlunya perhatian serius bagi pembangunan sumber daya manusia agar peringkat Kota Banjarmasin dapat meningkat, tetapi yang
Kabupaten/Kota
penting adalah terus terjadinya peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat Kota Banjarmasin, sekaligus dengan upaya agar peringkat dapat meningkat dan minimal bertahan pada posisi tersebut.
Indikator lain perlu diperhatikan adalah perbedaan laju perubahan IPM selama periode waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan rata-rata reduksi shortfall per tahun. Nilai shortfall mengukur keberhasilan dipandang dari segi jarak antara apa yang telah dicapai dengan apa yang harus dicapai, yaitu jarak dengan nilai tertinggi yang bisa dicapai oleh IPM. Kondisi ideal tertinggi yang dapat dicapai oleh IPM sebesar 100. Nilai reduksi shortfall yang besar menandakan peningkatan IPM yang lebih cepat.
Pengukuran ini didasarkan pada asumsi bahwa laju perubahan IPM tidak bersifat linear, tetapi laju perubahan cenderung melambat pada IPM yang lebih tinggi. Formula penghitungan reduksi Shortfall adalah:
Kecepatan perkembangan IPM yang dicapai oleh Kota Banjarmasin memiliki trend penurunan. Pada periode 2011-2012 kecepatan pembangunan manusia Kota Banjarmasin mencapai 2,28 dan kurun waktu 2012-2013 kecepatan pembangunan manusia Kota Banjarmasin melambat menjadi hanya sebesar 1,81. Besaran reduksi shortfall ini merupakan upaya maksimal yang telah dicapai dalam pengelolaan sumber daya manusia di Kota Banjarmasin dan diperlukan waktu dan perhatian bersama untuk pencapaian yang lebih maksimal.
Tabel 5.9
Reduksi Shortfall Per Tahun Indeks Pembangunan Manusia Kota Banjarmasin Tahun 2008-2013
Tahun Reduksi Shortfall
(1) (2)
2008-2009 2,37
2009-2010 1,32
2010-2011 1,53
2011-2012 2,28
2012-2013 1,81
2008-2013 1,55
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan
Laju Pencapaian IPM (reduksishortfall) digunakan untuk mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu. Laju Pencapaian IPM menunjukkan kecepatan pengurangan jarak suatu IPM terhadap IPM ideal. Reduksi shortfall per tahun (annual reduction in shortfall) menunjukkan perbandingan antara pencapaian yang telah ditempuh dengan capaian yang masih harus ditempuh untuk mencapai titik ideal (IPM=100).
Selama periode 2008-2013, reduksi shortfall menunjukkan angka rata-rata 1,55 per tahun. Dengan asumsi situasi kondisi pelaksanaan pembangunan manusia di Kota Banjarmasin mendatang stabil dengan asumsi perlakuan (treatment) sama dengan rata-rata tahun 2008-2013 maka Kota Banjarmasin akan mencapai titik IPM ideal dalam kurun waktu 21 (dua puluh satu) tahun mendatang dari sekarang.
Tabel 5.10
Perbandingan Peringkat Reduksi Shortfall Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota Tahun 2012 ke Tahun 2013
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan
Laju perubahan yang dicapai IPM selama periode 5 tahun (2008-2013) sebesar 1,55 menunjukkan adanya peningkatan baik dari sisi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan hidup di Kota Banjarmasin sebesar 1,55 per tahun.
Periode 2012-2013 reduksi shortfall tahunan menunjukkan angka 1,81 artinya terjadi peningkatan dari sisi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan hidup sebesar 1,81 selama setahun terakhir. Pencapaian ini melambat jika dibandingkan dengan periode tahun 2011-2012 yang mencapai 2,28. Reduksi shortfall 2012-2013
Kabupaten/Kota Reduksi Shortfall Peringkat
(1) (2) (3)
Tanah Laut 2,62 1
Kotabaru 2,59 2
Banjar 1,18 13
Barito Kuala 1,28 11
Tapin 1,66 10
Hulu Sungai Selatan 1,27 12
Hulu Sungai Tengah 1,91 6
Hulu Sungai Utara 2,17 5
Tabalong 1,76 9
Tanah Bumbu 2,54 3
Balangan 1,82 7
Banjarmasin 1,81 8
Banjarbaru 2,45 4
yang dicapai Kota Banjarmasin merupakan peringkat ke delapan dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Selatan seperti terlihat pada tabel 5.10.
Pencapaian ini dengan asumsi situasi kondisi pelaksanaan pembangunan manusia di Kota Banjarmasin mendatang stabil dengan asumsi perlakuan (treatment) sama dengan selama tahun 2012-2013 (seperti setahun terakhir) maka Kota Banjarmasin akan mencapai titik IPM ideal (100) dalam kurun waktu 16 (enam belas) tahun mendatang dari sekarang.
5.6. UPAYA PENCAPAIAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN Pencapaian peningkatan IPM Kota Banjarmasin selama kurun waktu 2012-2013 mengalami peningkatan yang cukup maksimal, hal ini tergambar pada Reduksi Shortfall. Pencapaian ini merupakan upaya keras dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan peran serta masyarakat dalam mendukung kebijakan atau upaya yang
5.6. UPAYA PENCAPAIAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA BANJARMASIN Pencapaian peningkatan IPM Kota Banjarmasin selama kurun waktu 2012-2013 mengalami peningkatan yang cukup maksimal, hal ini tergambar pada Reduksi Shortfall. Pencapaian ini merupakan upaya keras dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan peran serta masyarakat dalam mendukung kebijakan atau upaya yang