3 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Potensi Maksimum Lestari (MSY) dan Pendugaan Populasi Induk
Pemanfaatan sumberdaya perikanan pada umumnya didasarkan pada konsep Maximum Sustainable Yield (MSY) yang dikembangkan oleh seorang ahli biologi bernama Schaefer pada tahun 1957. Inti dari konsep MSY adalah menjaga keseimbangan biologis dari sumberdaya ikan agar dapat dimanfaatkan secara maksimum dalam waktu yang panjang. Seperti yang dikutip dari Effendi (2002), bahwa MSY merupakan salah satu usaha dalam perikanan untuk menentukan penangkapan yang seimbang tetapi maksimum. Kelebihan konsep MSY adalah hanya diperlukan data yang terbatas, sederhana dalam menganalisis, dan mudah dimengerti oleh siapa saja termasuk para penentu kebijakan.
Perhitungan potensi lestari menggunakan model surplus produksi bertujuan untuk mengetahui upaya tangkap optimum dan hasil tangkap maksimum lestari dari suatu perairan. Dalam analisisnya dibutuhkan data time series upaya tangkap dan hasil tangkap per unit upaya tangkap (CPUE) minimal lima tahun. Berdasarkan data tangkapan (catch) dan upaya penangkapan (effort) ikan terbang pada Tabel 3.4 diatas, maka dilakukan perhitungan MSY berdasarkan Model Surplus Produksi Schaefer dengan menggunakan bantuan Microsoft Excel.
Berdasarkan perhitungan MSY berdasarkan Model Surplus Produksi Schaefer, diperoleh nilai intersept (a) sebesar 0.0459 dan nilai slope (b) sebesar - 0.00000065 sehingga upaya tangkap optimum (Fopt) dan hasil tangkap maksimum
lestari (MSY) berdasarkan model Schaefer dapat dihitung. Persamaan produksi lestari Schaefer berdasarkan nilai intersept dan slope adalah:
Y = 0.0458f + (-0.00000065)f2 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0
Mei Juni Juli Agustus
C P U E ( Kg/ Ka p a l) Selat Makassar 2011 Selat Makassar 2013 Laut seram 2011 Laut seram 2013
Tangkapan maksimum lestari (MSY) dan upaya tangkap optimum (Fopt)
berdasarkan model Schaefer adalah masing-masing sebesar 818 ton dan 35.711 trip. Hal ini berarti, dalam upaya memanfaatkan sumberdaya ikan terbang dengan tetap menjamin kelestariannya, ikan terbang hanya boleh ditangkap dalam satu tahun maksimal 818 ton dengan jumlah trip optimum 35.711 trip dalam satu tahun. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada perikanan ikan terbang di Kabupaten Takalar berdasarkan Model Surplus Produksi Schaefer disajikan pada Gambar 3.11.
Gambar 3.11 Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada perikanan ikan terbang di Kabupaten Takalar berdasarkan Model Surplus Produksi Schaefer
Berdasarkan pada Gambar 3.11 dapat dikatakan bahwa sumberdaya ikan terbang belum sepenuhnya mengalami overfishing. Penurunan produksi ikan terbang dikarenakan upaya penangkapan yang rendah dan terus menurun dari tahun 2006 hingga tahun 2012. Rendahnya upaya penangkapan ikan terbang yang dilakukan nelayan disebabkan karena terjadinya pengalihan usaha penangkapan di Kabupaten Takalar, yang mulanya melakukan usaha penangkapan ikan beralih menjadi penangkapan telur ikan terbang. Peralihan usaha penangkapan terjadi tidak lain karena dipicu oleh nilai ekonomi telur ikan terbang yang jauh lebih tinggi dibandingkan ikan terbang itu sendiri.
Dengan menggunakan persamaan model Schaefer tersebut diatas maka dapat dilakukan pendugaan terhadap produksi lestari setiap tahunnya. Produksi lestari (MSY), produksi aktual, dan effort aktual di Kabupaten Takalar disajikan pada Tabel 3.5, serta tingkat pemanfaatan perikanan ikan terbang berdasarkan produksi lestari model Schaefer dan produksi aktual selama 7 tahun terakhir yang disajikan pada Gambar 3.12.
Tabel 3.5 Effort aktual, produksi aktual, dan produksi lestari model Schaefer penangkapanikan terbang di Kabupaten Takalar
Tahun Effort (trip) Catch (ton) TAC
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 P ro duk si ( to n) Trip Produksi Aktual
Produksi Aktual Produksi Schaefer (ton) 2006 37158 832.00 816.331 2007 34058 822.00 815.920 2008 30966 786.00 803.235 2009 20986 741.50 678.646 654,4 2010 20395 620.00 667.262 2011 12150 533.00 461.740 2012 13872 420.50 511.866
Gambar 3.12 Tingkat pemanfaatan perikanan ikan terbang berdasarkan produksi lestari Schaefer dan produksi aktual tahun 2006 - 2012
Tingkat pemanfaatan perikanan ikan terbang yang tertera pada Tabel 3.5 dan Gambar 3.12 memberikan gambaran mengenai kondisi pemanfaatan sumberdaya ikan terbang di Kabupaten Takalar. Pada tahun 2006 dan 2007 pemanfaatan sumberdaya ikan terbang telah melebihi jumlah tangkapan maksimum lestari yaitu masing - masing sebesar 832 ton dan 822 ton dalam setahun. Begitu pula pada tahun 2009 dan 2011 dimana aktvitas penangkapan ikan terbang di Kabupaten Takalar telah melebihi MSY. Namun, hal yang berbeda terjadi pada tahun 2010 dan 2012, dimana produksi ikan terbang di Kabupaten Takalar diketahui tidak melebihi dari MSY. Rendahnya produksi pada tahun tersebut dikarenakan penurunan jumlah trip penangkapan ikan terbang. Penurunan trip penangkapan ikan terbang di Kabupaten Takalar disebabkan karena beberapa faktor yaitu Pertama, hasil tangkapan ikan terbang di Selat Makassar telah dan Kedua, adanya perubahan pola penangkapan nelayan menjadi penangkapan telur ikan terbang.
Hal lain yang dapat diketahui dari Tabel 3.5 adalah Nilai TAC atau lebih dikenal dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan yaitu jumlahnya 80 % dari MSY ikan terbang yaitu 654,4 ton per tahun. Berdasarkan hal ini maka dikatakan bahwa produksi aktual ikan terbang di Kabupaten Takalar mulai tahun 2006 hingga tahun 2012 seluruhnya berada diatas titik atau nilai TAC yang ditentukan. Besarnya produksi aktual yang berada diatas nilai TAC jelas akan berdampak buruk bagi kelestarian sumberdaya ikan terbang. Menurut Nikijuluw (2002) in Supardan (2006), pengaturan penangkapan melalui penetapan Jumlah Tangkapan
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Tan gk ap an (to n ) Tahun Aktual Schaefer
ikan yang diperbolehkan (JTB) merupakan salah satu pendekatan untuk mengatasi kondisi tangkap lebih yang terjadi pada suatu perairan.
Pengelolaan sumberdaya ikan dengan pendekatan MSY memang dinilai masih memiliki beberapa kelemahan. Mengacu pada Ghofar (2003), kelemahan yang dimiliki dari konsep pengelolaan dengan pendekatan MSY antara lain adalah (I) tidak bersifat stabil karena perkiraan stok yang tidak tepat dapat mengarah ke pengurasan stok, (II) tidak memperhitungkan nilai ekonomis apabila stok ikan tdk dipanen, dan (III) sulit diterapkan pada kondisi perikanan yang memiliki ciri ragam jenis.
Analisis lain yang dilakukan dalam mengkaji aspek ekologi ikan terbang adalah pendugaan populasi induk. Pendugaan populasi ikan terbang dilakukan untuk mengetahui seberapa besarkah jumlah induk ikan terbang yang ikut tertangkap dalam aktivitas penangkapan nelayan selama satu tahun. Data yang digunakan berupa data panjang dan berat ikan, serta tingkat kematangan gonad dari ikan yang ditangkap nelayan selama satu musim penangkapan yaitu pada bulan maret – september tahun 2012. Berdasarkan data tersebut maka diketahui persentase ikan terbang yang tertangkap dalam setahun berdasarkan kategori Tingkat Kematangan Gonad ikan terbang (TKG). Informasi mengenai tingkat kematangan gonad ikan terbang juga telah dilaporkan Nessa et al. (1977) dan Ali (1981). Nessa et al. (1977) dalam penelitiannya menggunakan klasifikasi tingkat kematangan gonad dalam tujuh tahapan perkembangan gonad pada tiga spesies ikan terbang dari Selat Makassar. Ali (1981) dalam penelitiannya di Laut Flores memakai lima tahapan perkembangan gonad dan tidak menemukan ikan yang belum matang (tingkat kematangan I, II, dan III). Selain itu, Nessa et al. (1977) dan Ali (1981) juga menjelaskan bahwa rasio jenis kelamin jantan dan betina H.oxycephalus tidak berbeda secara signifikan setiap bulan, baik di perairan selat Makassar maupun di perairan Laut Flores. Komposisi TKG ikan terbang yang tertangkap satuan bulan dan tahun disajikan pada Gambar 3.13 dan 3.14.
Gambar 3.13 Komposisi TKG ikan terbang yang tertangkap setiap bulan pada tahun 2012
Komposisi TKG ikan terbang yang tersaji pada Gambar 3.13 menjelaskan bahwa dalam aktivitasnya, nelayan menangkap ikan - ikan dengan berbagai fase mulai dari ikan muda hingga ikan yang siap mijah. Pada bulan maret hingga agustus, ikan terbang yang tertangkap pada saat aktivitas penangkapan dimulai
0.0% 10.0% 20.0% 30.0% 40.0% 50.0% 60.0% 70.0% 80.0% Maret - Mei Juni - Agustus Sept - Nov TKG IV TKG III TKG II TKG I
yaitu didominasi oleh ikan-ikan dengan tingkat kematangan gonad III dan IV. Ikan dengan TKG III dan IV mempersentasekan ikan-ikan yang telah matang gonadnya dan siap memijah. Sedangkan pada bulan september hingga november, ikan terbang yang matang gonad yang tertangkap telah mengalami penurunan, dan mulai didominasi oleh ikan-ikan muda. Hal ini seiring dengan berakhirnya waktu pemijahan ikan terbang yaitu dimulai dari bulan mei hingga agustus setiap tahunnya.
Gambar 3.14 Komposisi TKG ikan terbang yang tertangkap dalam setahun pada tahun 2012
Perkiraan persentase induk ikan terbang yang tersaji pada Gambar 3.14 menjelaskan bahwa induk ikan yang tertangkap kurang lebih sekitar 80% dari jumlah total ikan yang tertangkap dalam setahun. Pada Gambar 3.14 dapat diketahui komposisi TKG ikan terbang selama setahun upaya penangkapan, dimana persentase (%) terkecil ikan yang tertangkap merupakan ikan-ikan muda (TKG I) sebesar 6 % dan persentase (%) terbesar ikan yang tertangkap merujuk pada ikan yang siap mijah atau TKG IV sebesar 50%. Hal yang sama telah dijelaskan sebelumnya oleh Ali (2005a) bahwa persentase tertinggi dijumpai pada ikan terbang dengan tingkat kematangan gonad IV mulai Maret (10.34%) hingga Juni (82.99%) dan mengalami penurunan pada bulan Juli (67.65%). Selanjutnya, Ali (2005a) melaporkan bahwa dalam penelitiannya, ikan terbang yang ditangkap mulai bulan Juni - September hanya terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok ikan matang (tingkat IV) dan kelompok ikan mijah (tingkat V). Frekuensi kelompok ikan sudah mijah (tingkat V) lebih besar daripada kelompok ikan matang (tingkat IV). Lebih lanjut Ali (2005a) menjelaskan bahwa tingkat kematangan gonad ikan yang tertangkap pada bulan Maret – Juli tahun 2004 di Laut Flores terdiri dari TKG I atau ikan muda 2.78%, TKG II atau mulai matang 10.66%, TKG III atau matang 13.60%, TKG IV atau mijah 58.87% dan TKG V atau salin 14.08%. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa distribusi tingkat kematangan gonad ikan terbang yang tertangkap dengan menggunakan jaring insang hanyut adalah sebagian besar ikan yang matang gonad atau sedang memijah dan hanya sebagian kecil ikan muda.
Berdasarkan distribusi persentase tingkat kematangan gonad ikan terbang diatas maka dilakukan perhitungan perkiraan jumlah induk ikan terbang. Hasil perhitungan dalam menduga jumlah induk ikan terbang yang tertangkap disajikan pada Tabel 3.6. TKG I 6% TKG II 14,44% TKG III 29.73% TKG IV 50%
Tabel 3.6 Hasil perhitungan dalam menduga jumlah induk ikan terbang
No Deskripsi Jumlah
1 Persentase induk (%) 80
2 MSY ikan terbang (kg/tahun) 818000
3 Berat total induk (kg/tahun) 654400
4 5
Rata-rata bobot induk individu (kg) Rata-rata bobot ikan individu (kg)
0.063 0.060 6 Rata-rata fekunditas ikan terbang (butir) menurut Ali (1981) 7077 7 Perkiraan jumlah induk ikan terbang tahun 2012 (ekor) 10418723
Hasil perhitungan dalam menduga jumlah induk ikan terbang pada Tabel 3.6 menunjukkan bahwa perkiraan jumlah induk yang tertangkap dengan menggunakan jaring insang hanyut dalam pada tahun 2012 adalah sebesar 10418732 ekor. Besarnya jumlah induk ikan terbang yang ikut tertangkap dapat menyebabkan degradasi sumberdaya ikan ini. Seperti yang diketahui bahwa ikan terbang merupakan spesies ikan dengan umur pendek (kurang lebih hanya 1 tahun dengan 1 kali pemijahan). Oleh sebab itu,, penangkapan ikan terbang khususnya induk ikan yang dilakukan sebelum waktu pemijahan akan menyebabkan putusnya siklus regenerasi dari sumberdaya ikan terbang.
Dengan diketahuinya jumlah induk ikan terbang (ekor) maka dapat dilakukan perkiraan jumlah butir telur (fekunditas) yang mungkin dikeluarkan pada waktu pemijahan. Menurut Nikolsky (1969) in Ali (2005), Fekunditas adalah jumlah telur matang yang akan dikeluarkan oleh induk betina atau jumlah telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan. Menurut Ali (2005a), Rata-rata fekunditas total yang dimiliki ikan terbang adalah 22668 yang terdiri dari telur – telur matang dan telur belum matang. Telur matang terdapat 9485 butir dengan rata – rata diameter 1,2092±0.009 mm sebagai fekunditas total. Hasil penelitian lain mengenai fekunditas ikan terbang di Selat Makassar juga dilaporkan oleh Nessa et al. (1977) dan Ali (1981). Menurut Nessa et al. (1977) telur matang rata – rata 4793 butir sedangkan Ali (1981) rata – rata 7077 butir dengan diameter 1.49 – 1.79 mm. Berdasarkan informasi ini maka diperkirakan 73.662.936.218 butir telur yang mungkin telah dikeluarkan dari sekitar 10418732 ekor induk ikan terbang. Perkiraan jumlah butiran telur yang dikeluarkan pada tahun tersebut didasarkan pada asumsi bahwa setiap ekor (individu) ikan terbang memiliki fekunditas minimal sekitar 7077 butir seperti yang telah dilaporkan Ali (1981).
Selanjutnya Ali (2005a) menggambarkan distribusi diameter telur ikan terbang Hyrundichthys oxycephalus berdasarkan tingkatan TKG yaitu pada TKG I (belum matang) didominasi dengan kelompok telur muda berdiameter antara 0.03 – 0.44 mm, belum terdapat telur berkembang maupun matang. TKG II (mulai matang) berdiameter antara 0.07 – 0.99 mm yang terbagi menjadi dua kelompok telur yaitu telur muda (0.07 – 0.46 mm sekitar 67.5%) dan telur mulai berkembang (0.50 – 0.99 mm sebesar 32.5%). TKG III (matang) memiliki diameter telur berkisar antara 0.07 – 1.19 mm yaitu telur muda (diamater 0.07 – 0.47 mm sebesar 48.5%), telur berkembang (diamater telurnya 0.55 – 0.95 mm sebesar 37%), dan telur matang dengan jumlah yang rendah sebanyak 14.5% dengan diameter telur 1.03 – 1.19 mm. TKG IV (mijah) memiliki diameter telur antara 0.14 – 1.75 mm terdiri dari telur muda (diamater 0.14 – 0.44 mm sebesar 18%), telur mulai berkembang (diamater telurnya 0.54 – 0.94 mm sebesar 18%),
dan telur matang dengan diameter telur yang lebih besar yang siap dipijahkan (sekitar 1.04 – 1.75 mm sebanyak 64%). TKG V (salin) diameter telurnya berkisar 0.07 – 1.26 mm yang terdiri dari telur muda (diamater 0.07 – 0.41 mm sebesar 52.50%), telur mulai berkembang (diamater telurnya 0.50 – 0.92 mm sebesar 43.5%), dan telur matang sebagai telur sisa (sekitar 1.01 – 1.26 mm sebanyak 4%). Namun sayangnya, analisis lebih dalam mengenai fekunditas ikan terbang tidak dapat dilakukan karena terbatasnya informasi mengenai aspek ini termasuk didalamnya informasi mengenai berat dan jumlah butiran telur dalam setiap kilogram (kg).
Besarnya jumlah populasi induk ikan terbang yang tertangkap dalam aktivitas penangkapan nelayan mencerminkan kurangnya pengaturan dalam kegiatan perikanan yang ada di Kabupaten Takalar. Informasi mengenai jumlah induk ikan terbang jelas sangat diperlukan dalam upaya mengelola aktivitas pemanafaatan sumberdaya perikanan khususnya komoditas ikan terbang agar tetap lestari untuk masa yang akan datang.