• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 KONTEKS PROGRAM DAN POTENSI DAMPAK LINGKUNGAN DAN

3.2 Potensi Manfaat Lingkungan, Dampak, dan Tindakan Mitigasinya

36. Potensi manfaat lingkungan dari Program bersifat substansial dan jangka panjang.

Potensi manfaat tersebut dapat diringkas sebagai berikut.

a) Manfaat dari rencana induk pariwisata terpadu, dokumen dan kajian perencanaan di

tingkat hilir, dan kemampuan pengelolaan dari Program, yang didukung oleh

komponen bantuan teknis IPF dari Operasi yang menganalisis hambatan dan peluang

lingkungan dan sosial:

 Koordinasi pembangunan infrastruktur untuk mengimbangi pertumbuhan

pariwisata, sehingga dapat mencegah kerusakan lingkungan yang disebabkan

oleh volume limbah padat/sampah dan cair serta lalu lintas kendaraan dan

pejalan kaki yang melebihi kapasitas sistem pengumpulan dan pengolahan

limbah, kapasitas jalan, sarana parkir, pool bus, dan jalanan untuk pejalan kaki

(pedestrian).

 Penetapan lokasi sarana dan prasarana pariwisata terhadap lingkungan yang

sensitif.

 Rencana pengelolaan pengunjung untuk obyek wisata alam dan budaya yang

sensitif terhadap jumlah wisatawan.

 Probabilitas meningkatnya pengalaman wisata yang saling memuaskan, bagi

para pengunjung maupun bagi masyarakat tuan rumah.

b) Manfaat dari sistem yang ditingkatkan dan diperluas untuk menyediakan air bersih,

sistem pengolahan limbah cair, penghijauan, dan pengelolaan sampah:

 Promosi kesehatan yang baik di antara para penduduk dan pengunjung/

wisatawan

 Pencegahan pencemaran sumber daya alam (misalnya sungai, tanah, air tanah)

yang dihasilkan dari sampah rumah tangga dan limbah padat yang dikelola

dengan buruk

 Promosi lingkungan bersih yang berujung pada peningkatan kenyamanan bagi

masyarakat setempat dan pengunjung/wisatawan

c) Manfaat dari jalan, sarana parkir, jalanan untuk pejalan kaki, rambu-rambu, dll. yang

diperbaiki dan dikelola dengan lebih baik:

 Mengurangi kemacetan lalu lintas dengan potensi penurunan emisi udara.

 Mengurangi bahaya kecelakaan bagi kendaraan dan pejalan kaki

d) Manfaat dari pengaturan untuk pemantauan dan perlindungan sumber daya alam dan

budaya di daerah tujuan wisata:

 Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan sumber

daya yang menarik wisatawan

 Peringatan dini dari kerusakan

 Sarana bagi respons terkoordinasi terhadap kecenderungan negatif oleh semua

pelaku yang terkait

28

 Sumber informasi (ketika hasil pemantauannya positif) yang bisa digunakan

dalam promosi/iklan untuk daerah tujuan wisata tersebut

37. Risiko lingkungan yang terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dapat didukung di dalam

Program dirangkum di bawah ini.

a) Risiko yang umum terjadi pada sebagian besar kegiatan konstruksi, misalnya, jalan,

jalanan untuk pejalan kaki/pedestrian, pusat informasi, jaringan pipa, instalasi

pengolahan air dan limbah cair:

 Hilangnya tumbuh-tumbuhan dan tanah lapisan atas dari pembukaan lahan

 Erosi tanah dan sedimentasi karena aliran air

 Debu

 Kebisingan dan pencemaran udara dari alat berat

 Pembuangan limbah pekerjaan konstruksi yang tidak tepat

 Tumpahan bahan bakar dan minyak pelumas

 Kerusakan infrastruktur lain atau sumber daya budaya fisik

 Bahaya kecelakaan bagi kendaraan dan pejalan kaki dari parit/saluran air

terbuka, sarana perputaran lalu lintas

 Intrusi visual infrastruktur ke dalam lanskap alam dan budaya

b) Risiko tambahan dari pekerjaan konstruksi dan pengoperasian bendung (weir)

pasokan air dan stabilisasi aliran sungai

 Kualitas air dan kerusakan habitat perairan, terutama disebabkan oleh padatan

yang mengendap

 Hambatan pergerakan ikan ke hulu dan hilir

 Dampak pada penggunaan dan pengguna air di hilir

c) Risiko dari pengoperasian toilet umum

Pencemaran air tanah dari tangki septik (septic tank) karena lokasinya di tanah

yang tidak sesuai, tidak berfungsi, atau perawatan yang buruk

 Bau dan bahaya bagi kesehatan yang disebabkan oleh penatalayanan

(housekeeping) yang tidak memadai

d) Risiko tambahan dari pekerjaan konstruksi atau perluasan/peningkatan dan

pengoperasian instalasi pengolahan limbah cair

Eutrofikasi (eutrophication - pencemaran air yang disebabkan oleh

munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air – pent.) dari

nutrisi dalam efluen (effluent - limbah dalam bentuk padat, cair atau gas yang

memasuki lingkungan sebagai suatu produk samping dari suatu proses –

pent.)

 Kematian organisme air yang disebabkan oleh jumlah oksigen terlarut yang

rendah, atau zat beracun yang masuk ke dalam sistem pengumpulan

29

e) Risiko tambahan dari pengoperasian sistem pengolahan air

 Pembuangan lumpur dan air pembilas yang tidak tepat

 Risiko bagi para pekerja dan anggota masyarakat terkena paparan bahan kimia

dari pengolahan air selama proses distribusi dan penggunaan

f) Risiko tambahan dari pembangunan dan pengoperasian fasilitas pengumpulan dan

pembuangan sampah

 Kontaminasi air tanah oleh air lindi karena berlokasi pada tanah yang tidak

sesuai atau pelapisan dan pengumpulan air lindi yang tidak efektif

 Pencemaran air permukaan dari limpasan yang terkontaminasi atau air lindi

yang tidak tertampung atau tidak diolah secara memadai

 Asap dan api

 Serangga dan vektor penyakit

g) Alih fungsi lahan pertanian produktif ke penggunaan non-pertanian

h) Risiko di tempat kerja dan kesehatan dan keselamatan kerja

 Luka dan jatuh karena tidak menggunakan alat pelindung diri (APD)yang

tidak tepat ketika melakukan kegiatan konstruksi.

 Risiko kepada masyarakat sekitar karena tidak menyediakan penghalang atau

tanda bahaya yang cukup untuk memberi tahu risiko di batas area proyek

selama kegiatan pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung.

 Pembuangan limbah pekerjaan konstruksi dan limbah serta sampah dari kamp

pekerja tidak tepat karena beberapa kontraktor tidak menyediakan toilet

portabel dan tidak adanya praktik penatalayanan (housekeeping) yang baik.

38. Sebagian besar risiko tersebut dapat diatasi dengan memasukkan praktik konstruksi yang

baik dan langkah-langkah pengelolaan lingkungan, kesehatan dan keselamatan dasar di dalam

rencana pengelolaan lingkungan (RKL dan UKL), dengan memasukkan standar kinerja K3LL ke

dalam kontrak pekerjaan konstruksi dan dengan pengawasan serta penegakan aturan

pelaksanaannya melalui pengawasan oleh petugas K3LL, termasuk memperhatikan penyediaan

dan penggunaan APD dan penggunaan papan petunjuk serta sarana penghalang di lokasi-lokasi

yang berbahaya. Pengecualiannya adalah pada gangguan visual; hal ini perlu diperhitungkan

dalam penentuan tapak dan desain infrastruktur di dalam Rencana Induk Pariwisata Terpadu.

Hubungan dengan masyarakat yang terkena dampak selama pekerjaan konstruksi sangat penting.

Langkah-langkah mitigasi untuk risiko di luar hal-hal yang terkait dengan kegiatan pekerjaan

konstruksi umum, antara lain adalah sebagai berikut:

Untuk bendung (weir) dan bendungan kecil (embung), dan untuk stabilisasi aliran

sungai, penilaian dampak berdasarkan studi ekologi perairan dan penggunaan air di

hilir, ditambah studi aliran arus untuk bendung dan bendungan kecil; pengembangan

langkah-langkah mitigasi dan pemantauan termasuk aliran ekologis untuk embung

dan bendungan kecil.

30

 Untuk toilet umum, uji tanah untuk menentukan kesesuaian tangki septik;

kesepakatan yang jelas mengenai tanggung jawab dan prosedur pengelolaannya.

 Untuk instalasi pengolahan limbah cair, penentuan kapasitas percampuran air untuk

nutrisi dan bahan organik; pertimbangkan penimbunan limbah di permukaan tanah

atau penggunaan kembali limbah sebagai alternatif pembuangan ke air permukaan;

mengembangkan pedoman pengoperasian dan melatih operator; memantau kinerja

instalasi

 Untuk sistem pengolahan air, menyediakan penyimpanan bahan kimia yang aman,

mengembangkan prosedur pengiriman dan penanganan yang aman, mewajibkan

penggunaan APD.

 Untuk fasilitas pengelolaan sampah, melakukan studi tapak termasuk analisis

alternatif, mempertimbangkan karakteristik tanah dan air tanah, mempertimbangkan

jaraknya dengan air permukaan dan masyarakat; termasuk penampungan air lindi dan

pengolahannya, pengelolaan limpasan, dan zona penyangga dalam desain;

mengembangkan pedoman pengoperasian dan melatih operator; menangani

pengendalian bau dan vektor; memaksimalkan pendekatan 3R (yaitu, reduce

(kurangi), reuse (gunakan kembali), dan recycle (daur ulang)).

 Mempertimbangkan pertukaran penggunaan lahan antara pembangunan pariwisata

dan hilangnya produksi pertanian sebagai bagian dari perencanaan induk pariwisata

terpadu.

 Untuk kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, melaksanakan penggunaan APD

yang sesuai di semua situasi; menilai bahaya dan mengembangkan prosedur kerja

yang sesuai; mengikuti pelatihan keselamatan reguler untuk petugas pengawas PMU

dan petugas K3LL kontraktor.

39. Potensi dampak ikutan (induced) dan kumulatif. Secara keseluruhan, Program ini

bertujuan untuk melindungi sumber daya alam, budaya dan lingkungan. Dampak kumulatif

mungkin akan terjadi pada saat berlangsungnya pekerjaan konstruksi dan pengoperasian

beberapa jenis infrastruktur dan fasilitas di daerah terdampak yang sama. Pembangunan hotel

dan restoran untuk melayani wisatawan dapat menyebabkan peningkatan kumulatif pada lalu

lintas, limbah padat dan cair, dan hambatan tambahan akses masyarakat ke pantai dan wilayah

lainnya yang penting untuk rekreasi dan praktik budaya/adat istiadat. Proses perencanaan induk

pariwisata terpadu dimaksudkan untuk mengidentifikasi potensi dampak tersebut dan

memberikan sarana untuk menghindarinya. Hal yang harus mendapat perhatian lebih adalah

potensi dampak samping yang ditimbulkannya, karena hal tersebut lebih sulit diprediksi dan

dikelola. Contoh dari dampak samping tersebut meliputi:

 Migrasi masuknya para pencari kerja, yang menyebabkan berkembangnya

perumahan yang tidak direncanakan dan tidak sesuai standar, dan yang tidak dilayani

oleh infrastruktur sanitasi;

 Pengembangan usaha yang tidak teratur di sepanjang jalan, pantai, dan tempat

wisata;

 Kejahatan jalanan;

 Kegiatan yang tidak diinginkan termasuk penjualan narkoba, pelacuran, dan wisata

seks;