• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 KONTEKS PROGRAM DAN POTENSI DAMPAK LINGKUNGAN DAN

3.3 Potensi Manfaat Sosial, Dampak, dan Tindakan Mitigasinya

 Gangguan habitat alam, seperti daerah karang dan tanaman bakau, dari kegiatan

pariwisata.

40. Di Indonesia, kerangka hukum dan kelembagaan untuk kajian dampak lingkungan

termasuk aspek yang terkait pengelolaan dampak langsung, dampak ikutan (induced) dan

dampak kumulatif dikembangkan dengan baik dan komprehensif di dalam undang-undang.

Namun demikian, terdapat kesenjangan antara kapasitas dan intensitas penegakan hukum di

berbagai wilayah di negara ini, dalam fungsi-fungsi seperti administrasi pengembangan lahan

dan penegakan hukumnya yang menghambat pengelolaan dampak ikutan yang tepat.

3.3 Potensi Manfaat Sosial, Dampak, dan Tindakan Mitigasinya

41. Secara keseluruhan, kegiatan untuk mencapai empat wilayah hasil dalam Program harus

menghasilkan dampak sosial yang positif. Program Pembangunan Pariwisata (TDP - Tourism

Development Program) dan program pemerintah PPNPPI yang lebih luas diharapkan dapat

berkontribusi pada dampak positif yang tinggi bagi masuknya pengunjung/wisatawan

mancanegara dan domestik serta pendapatan devisa, lapangan kerja, dan kontribusi PDB, serta

daya saing pariwisata. Program ini diharapkan dapat meningkatkan lapangan kerja, mendorong

partisipasi warga setempat dalam ekonomi pariwisata, dan memelihara dan/atau memperbaiki

sumber daya alam, budaya lokal, tradisi, dan aset yang merupakan daya tarik daerah tujuan

wisata. Kegiatan konstruksi di Wilayah Hasil 1 diharapkan dapat memperbaiki dan memperluas

infrastruktur dan layanan yang pada akhirnya akan meningkatkan keberlanjutan dan daya dukung

daerah tujuan wisata. Masyarakat setempat akan mendapatkan keuntungan dari pembangunan

infrastruktur dan layanan yang lebih baik, karena mereka memiliki kesempatan untuk

membangun atau memperluas kegiatan ekonomi mereka saat ini atau usaha yang berkaitan

dengan pariwisata, dan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Potensi dampak dan risiko sosial

negatif yang merugikan yang berkaitan dengan kegiatan konstruksi (seperti pemeliharaan,

rehabilitasi atau perbaikan jalan dan trotoar; penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, fasilitas

sanitasi, fasilitas dan kenyamanan wisatawan) di Wilayah Hasil 1 dan kegiatan pembangunan di

tingkat hilir yang mungkin dihasilkan oleh tiga wilayah hasil Program lainnya (seperti usaha

baru yang terkait pariwisata) diperkirakan bersifat sedang. Potensi dampak risiko sosial akan

terjadi terutama karena adanya pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali, termasuk

pembatasan akses terhadap barang publik dan sumber daya alam, serta gangguan (misalnya,

gangguan terhadap mata pencaharian, kesehatan, kenyamanan, dll.) selama masa konstruksi.

Karena Kebijakan PforR mengenai larangan terhadap “kegiatan yang dinilai memiliki dampak

negatif yang signifikan, sensitif, beragam, atau penyebarannya luas pada lingkungan dan/atau

orang-orang yang terkena dampak”, skala pembebasan lahan/pengadaan tanah untuk setiap

kegiatan akan berskala kecil sampai sedang, dan tidak akan ada relokasi rumah tangga atau

kegiatan usaha dalam skala yang besar. Kegiatan yang melibatkan dampak sosial berskala besar

dan/atau signifikan, termasuk dampak samping sosial, tidak akan didanai oleh Program ini.

42. Dampak sosial potensial lainnya dari pembangunan pariwisata (di luar dampak

pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali) dapat mencakup: kesenjangan ekonomi dan

sosial yang lebih besar dan akses masyarakat yang terbatas terhadap sumber daya alam milik

publik (seperti pantai) karena pembangunan “daerah kantong (enclave) wisata”; konflik internal

di dalam masyarakat karena ketidaksetaraan kapasitas untuk memanfaatkan peluang baru,

terutama bagi orang yang kurang berpendidikan, masyarakat termiskin, orang tua, dan orang

32

cacat; Kehilangan pekerjaan karena peralihan kawasan untuk kegiatan pertanian menjadi

kawasan pembangunan yang terkait dengan pariwisata; gangguan dan komersialisasi yang tidak

berkelanjutan terhadap budaya, praktik, dan nilai-nilai; kehilangan mata pencaharian dan harta

milik karena pembebasan lahan. Gangguan terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat juga

mungkin menjadi masalah, terutama penyakit menular dan bahaya lalu lintas yang ramai. Selain

itu, jika tidak dikelola dengan baik, mungkin terjadi pertumbuhan permukiman liar dan/atau

usaha kecil yang tidak terkendali di sekitar obyek-obyek wisata.

43. Pemerintah daerah di daerah tujuan wisata (seperti Kabupaten Magelang dan Kabupaten

Lombok Tengah) ditantang untuk: mengendalikan penggunaan lahan dan pembangunan

struktur/bangunan, termasuk perambahan atau alih fungsi sawah beririgasi ke kegiatan yang

berhubungan dengan pariwisata; melindungi pasar tradisional; dan mendorong masuknya

masyarakat setempat ke kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata. Selanjutnya, usaha

pariwisata tradisional atau informal saat ini yang telah beroperasi untuk beberapa waktu seperti

penyewaan perahu dan penyewaan mobil berikut sopirnya, snorkeling dan penyelaman, pemandu

wisata lokal, dan lain-lain, mungkin juga merasa terancam oleh pemain besar padat modal, di

dalam kegiatan-kegiatan ini karena terbatasnya kapasitas untuk bersaing. Terdapat juga

kekhawatiran yang diungkapkan oleh para pemangku kepentingan setempat di beberapa daerah

tujuan wisata bahwa budaya/adat istiadat, nilai, dan praktik lokal yang ada dari daerah yang

memiliki potensi pengembangan wisata akan terdegradasi dan diganti dengan model modern dan

“impor” untuk pembangunan pariwisata. Para pemangku kepentingan ini menyarankan agar

pembangunan pariwisata peka terhadapnya dan berada dalam nilai sosial, tradisi, dan praktik

masyarakat saat ini sehingga kawasan ini dapat berkembang sebagai tujuan wisata yang unik

tanpa biaya sosial (yang negatif dan merugikan) yang besar dan biaya investasi yang besar,

dengan cara yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

44. Menurut Badan Pertanahan Kabupaten Lombok Barat, terdapat potensi konflik sosial

terkait dengan masalah pertanahan: beberapa dekade yang lalu, beberapa investor membebaskan

lahan dalam jumlah besar untuk tujuan membangun investasi terkait pariwisata dan kemudian

menelantarkan lahan yang belum dikembangkan tersebut untuk beberapa tahun. Selama masa

jeda itu, sebagian tanah telah diserobot, diduduki, dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Situasi ini menciptakan konflik tanah pada saat pemiliknya merencanakan untuk

mengembangkan lahan tersebut.

45. Program dapat memberi manfaat dan/atau menimbulkan dampak buruk pada Penduduk

Asli/Masyarakat Adat. Dalam banyak kasus, situs, kehidupan budaya, kekayaan dan sumber

daya alam yang diandalkan oleh Masyarakat Adat setempat juga merupakan obyek wisata utama.

Masyarakat Adat akan mendapatkan keuntungan dari pembangunan pariwisata melalui

penciptaan lapangan kerja dan perluasan produk berkualitas, mendapatkan penghasilan dari jasa

yang diberikan oleh keunikan dan nilai kekayaan budaya mereka, sementara juga mendapat

dukungan dari pemerintah untuk melindungi kekayaan fisik dan budaya mereka. Namun, jika

proses pemanfaatan jasa pariwisata dari obyek wisata ini tidak dikelola dengan baik, Program

dapat menyebabkan komersialisasi yang tidak berkelanjutan dari kekayaan fisik dan sumber daya

budaya serta kekayaan budaya Masyarakat Adat, di mana kualitasnya akan terdegradasi dan

tidak lagi menarik bagi para wisatawan, dan pada akhirnya akan berdampak negatif bagi

Masyarakat Adat maupun bagi kekayaan/aset mereka.

33

46. Potensi persoalan dan risiko sosial yang dibahas di atas dapat dikurangi melalui inklusi

para pemangku kepentingan yang lebih luas, termasuk masyarakat setempat dan Masyarakat

Adat; penyediaan informasi yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan pariwisata

disampaikan terlebih dahulu kepada masyarakat; konsultasi dan partisipasi yang inklusif dan

bermakna dalam penyusunan, pelaksanaan, dan pemantauan serta evaluasi Rencana Induk

Pariwisata Terpadu; meningkatkan konsistensi dalam pelaksanaan undang-undang dan peraturan

yang ada saat ini terkait dengan pembebasan lahan, Masyarakat Adat, serta proses perencanaan

pemerintah daerah dan desa melalui pengembangan pedoman praktis; dan penyediaan program

pembangunan kapasitas dan peningkatan kesadaran serta survei kepuasan masyarakat di Wilayah

Hasil 4. Hal yang lebih penting lagi adalah bahwa Rencana Induk Pariwisata Terpadu dan

implementasinya, serta penguatan kapasitas bagi pemerintah daerah dan masyarakat harus peka

dan dibangun di atas budaya, nilai, dan praktik masyarakat setempat untuk memastikan

terwujudnya pembangunan pariwisata berkelanjutan.

34