TOTCPP 0,96216474 0,047 2,180 0,000 Catatan:
3. POTENSI PENGHEMATAN ENERGI DI SEKTOR PEMBANGKIT LISTRIK
3.1 SKENARIO PENINGKATAN KINERJA DAN PENURUNAN EMISI GRK
Analisis potensi penghematan energi di sektor pembangkit listrik difokuskan pada PLTU Batubara, karena jumlah total kapasitas pembangkit yang jauh lebih besar daripada pembangkit listrik fosil lainnya. Analisis potensi penghematan energi untuk PLTU Batubara dilakukan dengan cara menghitung peningkatkan kinerja pembangkit melalui peningkatan kelas rating score atau peringkat kinerja kelompok pembangkit dari group dengan peringkat Low 25% ke Medium 50% dan atau semuanya ke Top 25%, dan dari peringkat Medium 50% semuanya atau sebagian ke peringkat Top 25%.
Dengan demikian skenario peningkatan kinerja kerja PLTU Batubara yang diusulkan adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan kinerja pembangkit dengan skenario resiko rendah. 2. Peningkatan kinerja pembangkit dengan skenario resiko menengah. 3. Peningkatan kinerja pembangkit dengan skenario progresif.
3.1.1 PENINGKATAN KINERJA DAN PENURUNAN EMISI GRK DENGAN SKENARIO RESIKO RENDAH
Skenario resiko rendah adalah skenario peningkatan kinerja pembangkit yang memerlukan inisiatif perusahaan pembangkit dan ditambah dengan intervensi pemerintah melalui peraturan atau regulasi yang tidak mengikat atau bersifat menghimbau kepada perusahaan pembangkit agar melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi tersebut dengan program dan hasil yang nyata dan wajib melaporkannya kepada pemerintah. Peningkatan kinerja pembangkit dengan skenario resiko rendah juga adalah upaya peningkatan kinerja pembangkit dengan tingkat resiko yang rendah dari sudut pandang perusahaan pembangkit ketika melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi. Tingkat resiko rendah dalam hal ini dapat diukur dari besarnya biaya investasi yang dibelanjakan rendah dan kemungkinan tingkat keberhasillan yang tinggi dalam melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi. Tingkat resiko rendah dalam hal ini juga mempertimbangkan resiko teknis dan operasional. Resiko teknis yang rendah adalah resiko kegagalan implementasi rendah (melalui konstruksi dan instalasi). Resiko operasional yang rendah adalah resiko kegagalan saat pengoperasian rendah.
Namun demikian tetap diperlukan intervensi regulator melalui peraturan atau regulasi yang tidak mengikat atau bersifat menghimbau kepada perusahaan pembangkit agar melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi tersebut dengan program dan hasil yang nyata dan wajib melaporkannya kepada pemerintah. Sebagai wujud dukungan pemerintah dalam mendorong program-program efisiensi energi dan reduksi emisi GRK di pembangkit adalah dengan membuat pedoman-pedoman umum melaksanakan sertifikasi manajemen energi dan konservasi energi di pembangkit, meningkatkan kepedulian (awareness) melalui seminar, lokakarya atau konferensi.
Apabila perusahaan pembangkit melaksanakan atau tidak melaksanakan himbauan dan tidak memberikan laporannya maka tidak ada insentif atau sanksi apapun kepada perusahaan pembangkit kecuali dicatat oleh pemerintah sebagai bukti bahwa pembangkit-pembangkit tidak atau telah melaksanakan upaya-upaya efisiensi energi dan reduksi emisi GRK. Perusahaan pembangkit melaksanakan program efisiensi energi dengan inisiatif, kesadaran, dan biaya sendiri.
3.1.2 PENINGKATAN KINERJA DAN PENURUNAN EMISI GRK DENGAN SKENARIO RESIKO MENENGAH
Skenario Resiko Menengah adalah skenario peningkatan kinerja pembangkit dengan intervensi pemerintah melalui peraturan atau regulasi yang mengikat dengan target-target capaian yang ditentukan pemerintah secara bertahap dalam kurun waktu tertentu dengan melihat kondisi masing-masing pembangkit. Perusahaan pembangkit harus melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi dengan program dan hasil yang nyata dan wajib melaporkannya kepada pemerintah. Apabila perusahaan pembangkit melaksanakan atau tidak melaksanakan peraturan tersebut dan tidak memberikan laporannya maka ada insentif atau sanksi kepada perusahaan pembangkit yang bentuknya ditentukan pemerintah. Perusahaan pembangkit melaksanakan program efisiensi energi bukan hanya dengan inisiatif, kesadaran, dan biaya sendiri tetapi juga dengan target-target capaian yang sesuai dengan program pemerintah.
Peningkatan kinerja pembangkit dengan skenario resiko menengah juga adalah upaya peningkatan kinerja pembangkit dengan tingkat resiko menengah dari sudut pandang perusahaan pembangkit ketika melaksanakan langkah-langkah efisiensi energinya. Tingkat resiko menengah dalam hal ini dapat diukur dari besarnya biaya investasi yang dibelanjakan cukup signifikan dengan tingkat keberhasillan yang tinggi dalam melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi. Pelaksanaan langkah-langkah konservasi energi ini adalah karena adanya intervensi regulator melalui peraturan atau regulasi yang bersifat mengikat dengan batas waktu yang disesuaikan dengan kemampuan perusahaan pembangkit agar melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi tersebut dengan program dan hasil yang nyata dan wajib melaporkannya kepada pemerintah. Sebagai wujud upaya pemerintah dalam mendorong program-program efisiensi energi di pembangkit dengan skenario ini adalah dengan berkerja bersama lembaga-lembaga sertifikasi internasional (ISO) untuk menyusun atau mengadopsi standar-standar internasional dibidang manajemen energi dan konservasi energi pembangkit menjadi standar-standar nasional dalam bentuk SNI, menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dibidang energi dan konservasi energi pembangkit, dan lain-lain.
Apabila perusahaan pembangkit melaksanakan atau tidak melaksanakan peraturan yang telah ditetapkan dan tidak memberikan laporannya pada batas waktu yang telah ditentukan maka ada insentif atau sanksi kepada perusahaan pembangkit. Insentif dapat diberikan dalam bentuk: (i) pengurangan pajak investasi peralatan-peralatan konservasi energi; (ii) kredit pajak investasi (Investement Tax Credit), yang memungkinkan perusahaan pembangkit untuk mengurangi sebagian biaya invstasi dan instalasi peralatan efisiensi mereka dari pajak mereka; (iii) tax holiday untuk investment dan instalasi peralatan efisiensi energi; (iv) fuel tax reduction apabila melaksanakan cofiring dengan menggunakan bahan bakar dari sumber-sumber energi terbarukan; (v) insentif pengurangan biaya sertifikasi manajemen energi dan sertifikasi terkait lainnya; dan lain-lain. Sedangkan sanksi atau penalti dapat diberikan dalam bentuk: (i) sanksi administratif berupa surat teguran sampai dengan; (ii) sanksi membayar denda; (iii) sanksi pencabutan izin operasi pembangkit sampai pada batas waktu tertentu; dan lain-lain.
3.1.3 PENINGKATAN KINERJA DAN PENURUNAN EMISI GRK DENGAN SKENARIO PROGRESIF
Skenario Progresif adalah skenario peningkatan kinerja pembangkit yang bersifat progresif dengan intervensi pemerintah melalui peraturan atau regulasi yang mengikat dengan target-target capaian
substansial yang ditentukan pemerintah secara bertahap dalam kurun waktu tertentu yang diarahkan
pada pembangkit-pembangkit berkinerja rendah dan beremisi tinggi. Perusahaan pembangkit harus melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi dengan program dan hasil yang nyata dan wajib
melaporkannya kepada pemerintah. Apabila perusahaan pembangkit melaksanakan atau tidak melaksanakan peraturan tersebut dan tidak memberikan laporannya maka ada insentif atau sanksi ringan hingga berat kepada perusahaan pembangkit yang bentuknya ditentukan pemerintah. Sanksi yang terberat bagi perusahaan pembangkit yang tetap mengoperasikan pembangkitnya tanpa mengindahkan peraturan yang ada adalah dengan pembekuan izin operasi pembangkit. Perusahaan pembangkit melaksanakan program efisiensi energi bukan hanya dengan inisiatif, kesadaran, dan biaya sendiri tetapi juga dengan target-target capaian substansial yang sesuai dengan program pemerintah.
Peningkatan kinerja pembangkit dengan skenario progresif adalah juga upaya peningkatan kinerja pembangkit dengan tingkat resiko menengah sampai dengan tinggi dari sudut pandang perusahaan pembangkit ketika melaksanakan langkah-langkah efisiensi energinya. Tingkat resiko tinggi dalam hal ini dapat diukur dari besarnya biaya investasi efisiensi energi yang dibelanjakan besar akan tetapi tingkat keberhasillan yang tinggi. Pelaksanaan program konservasi energi ini adalah karena adanya intervensi regulator melalui peraturan atau regulasi yang bersifat mengikat dengan batas waktu tertentu yang ditentukan pemerintah.
3.2 POTENSI PENGHEMATAN ENERGI DARI BERBAGAI USULAN SKENARIO PENINGKATAN KINERJA PEMBANGKIT
3.2.1 POTENSI PENGHEMATAN ENERGI DAN PENURUNAN EMISI GRK DENGAN SKENARIO RESIKO RENDAH
Pada Tabel 2-15 Rating Score grup Low 25%, Medium 50% dan Top 25% untuk PLTU Batubara, terdapat 16 PLTU batubara yang mempunyai Rating Score di grup Low 25% dan 44 PLTU batubara batubara yang mempunyai Rating Score di grup Medium 50%.
Dalam skenario ini diusulkan seluruh pembangkit di grup Low 25% dapat meningkatkan kinerjanya hingga mencapai Score Rating maksimum 75% dan sekitar separuh jumlah pembangkit (pembangkit yang terbesar) dari pembangkit di grup Medium 50% meningkatkan kinerjanya hingga mencapai score rating 100% dan/atau dengan efisiensi termal maksimum 35%. Alasan dipilihnya peningkatan Score Rating maksimum 75% untuk grup PLTU Low 25% dan score rating maksimum 100% (dan/atau dengan efisiensi termal 35%) adalah mempertimbangkan upaya minimal PLTU di grup tersebut tanpa menyebabkan resiko teknis, operasional dan finansial apabila melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi pada butir (a) sampai dengan butir (e) pada sub-bab 3.1.1 diatas dalam waktu 10 tahun kedepan. Efisiensi termal 35% adalah efisiensi yang dapat dicapai pada PLTU di grup Medium 50%, karena saat ini rata-rata efisiensi termal PLTU batubara di grup tersebut telah mencapai 32%. Dengan upaya minimal selama jangka waktu 10 tahun kedepan tentu sangat memungkinkan pembangkit-pembangkit tersebut mencapai efisiensi termal minimal 35%. Dengan skenario ini pemilik pembangkit berupaya meningkatkan kinerja dan reduksi emisi GRK pembangkit dengan cara yang dijelaskan dalam Sub-bab 3.1.1 butir (a) sampai dengan butir (e) diatas.
Dalam melakukan analisis potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dengan skenario resiko rendah disini, pertama-tama perlu dihitung Rating Score masing-masing PLTU batubara disetiap grup Low 25% dan Medium 50%. Kemudian ditentukan PLTU yang mana saja didalam grup Low 25% yang perlu meningkatkan kinerjanya hingga mencapai Score Rating akhir 75%. Rating Score pada dasarnya adalah rasio efisiensi termal antara efisiensi termal aktual dengan efisiensi termal prediksi. Rasio yang lebih rendah mengindikasikan efisiensi termal aktual pembangkit lebih rendah daripada efisiensi termal
prediksinya. Efisiensi termal prediksi merupakan efisiensi termal pembangkit yang seharusnya dimiliki oleh pembangkit tersebut. Sedangkan Rating score yang lebih lebih tinggi mengindikasikan rasio efisiensi yang lebih tinggi. Apabila rating score pembangkit ditingkatkan menjadi lebih tinggi maka efisiensi aktual pembangkit harus lebih tinggi pada nilai efisiensi prediksi yang sama. Sehingga dengan demikian dapat dihitung berapa persen peningkatan efisiensi termal aktual pembangkit yang dapat dicapai. Berdasarkan metode ini, potensi penghematan energi dalam GWh/Tahun dan potensi reduksi emisi GRK dalam Ton CO2/Tahun dapat dihitung. Metode yang sama dapat dilakukan pada setengah data PLTU didalam grup Medium 50% yang ditingkatkan kinerjanya hingga mencapai Rating Score 100% dan / atau efisiensi termal 40%. Pada grup Medium 50%, pembangkit yang telah mecapai rating score lebih tinggi diatas 50%, maka peningkatan rating score hingga mencapai 100% dibatasi sampai dengan efisiensi termal maksimum 35%. Peran perangkat spreadsheet Excel benchmarking kinerja menjadi penting dalam analisis ini. Dengan perangkat ini dapat dihitung potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dari setiap pembangkit yang dipilih. Analisis potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK di PLTU batu bara dapat ditingkatkan pada sampel data yang lain (diluar 72 sample data terpilih) yaitu sejumlah 130 sampel data. Sehingga dengan demikian dapat dihitung potensi minimum dan maksimum penghematan energi dan reduksi emisi GRK dari semua data PLTU batubara dari Apple Gatrik.
Gambar 3-1 Konsumsi Energi sebelum dan sesudah langkah Efisiensi Energi dan Penghematan Energinya di PLTU batubara untuk Skenario Resiko Rendah
Gambar 3-2 Intensitas Emisi GRK sebelum dan sesudah langkah Efisiensi Enegi di PLTU batubara untuk Skenario Resiko Rendah
Potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam skenario ini untuk PLTU batubara pada masing-masing-masing PLTU batubara ditunjukkan pada Gambar 3-1 dan Gambar 3-2 diatas. Sedangkan nilai numerik potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK untuk semua PLTU batubara ditunjukkan pada Tabel 3-2 dibawah. Tabel rinci potensi penghematan energi dan reduksi
emisi GRK dalam Skenario Rendah ini untuk masing-masing PLTU diberikan dalam LAMPIRAN E. Tabel rinci potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam Skenario Rendah untuk masing-masing PLTU.
Tabel 3-1 Potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK di PLTU Batubara untuk Skenario Resiko Rendah
Target Aksi Peinngkatan Kinerja dan Reduksi
Emisi GRK
Dari 72 sample data PLTU Batu bara yang terpilih (Potensi Minimum)
Semua (130) sample data PLTU Batu bara (Potensi Maksimum) Penghematan Energi (MWh/Tahun) Penurunan emisi GRK (Ton/Tahun) Penghematan Energi (MWh/Tahun) Penurunan emisi GRK (Ton/Tahun) 100% PLTU batubara terbesar di Grup Low 25% untuk mencapai Rating Score 75%
100% PLTU batubara terbesar di Grup Medium 50% untuk mencapai Rating Score 100% dan/atau Efisiensi Termal 35%
7.152.135 2.567.506 5.793.007 2.079.600
Total 7.544.030 2.708.190 11.012.989 3.953.493
Persentase
Penghematan Energi dari Total Konsumsi Energi sebelumnya (%) 3,64 22,31 Penurunan rata-rata Intensitas Emisi GRK (Ton CO2/MWh) (%) (0,04 Ton CO2/MWh) (3,9%) (0,26 Ton CO2/MWh) (20,7%)
Tabel 3-2 diatas menunjukkan besarnya potensi penghematan energi pertahun (GWh/Tahun) dan
reduksi emisi GRK pertahun (Ton CO2/Tahun) yang dapat dicapai dalam penerapan Skenario Resiko Rendah. Pada skenario ini besarnya biaya investasi yang dibelanjakan rendah akan tetapi akan mempunyai tingkat keberhasillan yang tinggi dalam melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi karena resiko teknis, operasional dan finansial yang sangat kecil/rendah. Namun demikian, tetap diperlukan intervensi regulator melalui peraturan atau regulasi yang tidak mengikat atau bersifat menghimbau kepada perusahaan pembangkit agar melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi tersebut dengan program dan hasil yang nyata dan wajib melaporkannya kepada pemerintah. Skenario ini telah sejalan dengan semangat dan himbauan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi. Pasal 12 dalam Peraturan Pemerintah tersebut dengan jelas mensyaratkan bahwa konservasi dalam pemanfaatan energi melalui manajemen energi wajib dilaksanakan, terutama kepada pengguna energi primer lebih besar dari 6000 TOE/Tahun (Ton of Oil Equivalent), setara dengan 69780 MWh/Tahun. PLTU batubara terkecil mengkonsumsi energi primer batubara jauh lebih besar dari 6000 TOE. Karena itu wajib bagi semua PLTU batubara mengikuti PP 70. Sebagai wujud dukungan pemerintah dalam mendorong program-program efisiensi energi dan reduksi emisi GRK di PLTU batubara adalah dengan membuat pedoman-pedoman umum melaksanakan sertifikasi Manajemen Energi dan Konservasi Energi di pembangkit, meningkatkan kepedulian (awareness) melalui seminar, lokakarya atau konferensi. Diharapkan pedoman-pedoman yang perlu dipersiapkan oleh pemerintah dalam skenario ini adalah pedoman-pedoman dalam melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi pada butir (a) sampai dengan butir (e) diatas pada sub-bab 3.1.1 diatas. Potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK di sektor pembangkit dengan Skenario Resiko Rendah dapat memberikan kontribusi penghematan energi dan penurunan emisi GRK cukup signifikan pertahun. Apabila komitmen pengurangan emisi GRK di sektor energi pada tahun 2030 sebesar 314 Juta Ton CO2 dengan upaya sendiri dan 398 Juta Ton CO2 dengan dukungan internasional, maka upaya mitigasi dengan Skenario Resiko Rendah di sektor PLTU batubara mampu menyumbang minimal sekitar 8,6% reduksi emisi GRK dan maksimal sekitar 12.6% reduksi GRK pertahun dari target upaya sendiri. Sedangkan berdasarkan kalkulasi yang hasilnya dicantumkan di Tabel 3-1, intesitas emisi GRK di PLTU batubara mampu ditekan minimal rata-rata 0.06 Ton CO2/MWh (atau 6,9% dari intensitas sebelum efisiensi energi) sampai dengan rata-rata maksimal mencapai 0.26 Ton CO2/MWh (20,7%) untuk setiap pembangkit. Tabel rinci terkait prediksi intensitas emisi GRK setelah efisiensi energi untuk skenario ini
pada masing-masing PLTU diberikan pada LAMPIRAN E. Tabel rinci potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam Skenario Rendah untuk masing-masing PLTU.
3.2.2 POTENSI PENGHEMATAN ENERGI DAN PENURUNAN EMISI GRK DENGAN SKENARIO MENENGAH
Pada Tabel 2-15 Rating Score grup Low 25%, Medium 50% dan Top 25% untuk PLTU Batubara, terdapat 16 PLTU batubara yang mempunyai Rating Score di grup Low 25% dan 44 PLTU batubara batubara yang mempunyai Rating Score di grup Medium 50%.
Dalam skenario ini diusulkan semua pembangkit di grup Low 25% ditingkatkan kinerjanya hingga mencapai score rating 100% atau efisiensi termal tertinggi 35% dan semua pembangkit di grup Medium 50% ditingkatkan kinerjanya hingga mencapai score rating 100% dan/atau dengan efisiensi termal minimal 35% serta 25% pembangkit (pembangkit terbesar) di grup Top 25% ditingkatkan dengan efisiensi termal minimal 35%. Alasan dipilihnya peningkatan Score Rating maksimum 100% atau efisiensi termal tertinggi 35% untuk grup Low 25% dan grup Medium 50% adalah dengan mempertimbangkan upaya minimal PLTU di grup-grup tersebut karena adanya inisiatif sendiri dan intervensi pemerintah dalam bentuk regulasi mengikat. Dengan berbagai alternatif langkah-langkah efisiensi energi (dengan biaya), efisiensi termal 35% adalah efisiensi yang dapat dicapai pada PLTU di grup Low 25% dan Medium 50%. Diperlukan pembiayaan yang cukup signifikan di PLTU grup Low 25% untuk mencapai kinerja yang diusulkan di skenario ini. Tingkat resiko teknis, operasional dan finansial pelaksanaan efisiensi energi di PLTU grup Low 25% cukup tinggi. Namun demikian mengingat pembangkit-pembangkit di grup ini rata-rata beroperasi dengan kinerja yang rendah dan berkontribusi emisi GRK yang tinggi maka harus ada peningkatan yang terukur minimal pembangkit mampu mencapai kinerja yang sama dengan pembangkit-pembangkit di grup Medium 50%. Pembangkit di grup Low 25% memerlukan peningkatan efisiensi 10% sampai dengan 15%. Sedangkan pembangkit di grup Medium 50%, memerlukan upaya yang lebih serius untuk mencapai kinerja dengan efisiensi termal 35%, karena umumnya pembangkit di grup ini memerlukan peningkatan efisiensi rata-rata 7%. Peningkatan sebesar itu dapat dicapai apabila langkah-langkah efisiensi energi pada butir (a) sampai dengan butir (e) pada sub-bab 3.1.2 diatas dilaksanakan dalam kurun waktu sampai dengan10 tahun kedepan.
Potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam skenario ini untuk PLTU batubara pada masing-masing-masing PLTU batubara ditunjukkan pada Gambar 3-1dan Gambar 3-2 diatas. Sedangkan nilai numerik potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK untuk semua PLTU batubara ditunjukkan pada Tabel 3-1 dibawah. Tabel rinci potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam Skenario Rendah ini untuk masing-masing PLTU diberikan dalam LAMPIRAN F. Tabel rinci potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam Skenario Menengah untuk masing-masing PLTU.
Gambar 3-3 Konsumsi Energi sebelum dan sesudah langkah Efisiensi Energi dan Penghematan Energinya di PLTU batubara untuk Skenario Resiko Menengah
Gambar 3-4 Intensitas Emisi GRK sebelum dan sesudah langkah Efisiensi Energi di PLTU batubara untuk Skenario Resiko Menengah
Tabel 3-2 Potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK di PLTU batubara untuk Skenario Resiko Menengah
Target Aksi Peningkata KInerja dan Reduksi Emisi GRK
Dari 72 sample data PLTU Batu bara yang terpilih (Potensi Minimum)
Dari 130 sample data PLTU Batu bara (Potensi Maksimum) Penghematan Energi (MWh/Tahun) Penurunan emisi GRK (Ton/Tahun) Penghematan Energi (MWh/Tahun) Penurunan emisi GRK (Ton/Tahun) 100% PLTU batubara terbesar
di Grup Low 25% untuk mencapai Rating Score 100%
1.735.144 622.890 6.441.478 2.312.391
50% PLTU batubara terbesar di Grup Medium 50% untuk mencapai Rating Score 100% dan/atau Efisiensi Termal 40%
13.164.784 4,725.954 7.399,951 2.656.468
25% PLTU batubara terbesar di Grup Top 25% untuk mencapai Efisiensi Termal 40%
1,136.064 407.829 11.767.992 4.224.527
Total 16.035.992 5.756.673 25.609.421 9.193.386
Persentase Penghematan Energi dari Total Konsumsi Energi sebelumnya (%)
5,43 7,13
Penurunan rata-rata Intensitas Emisi GRK (Ton CO2/MWh) (%)
(0,10 Ton CO2/MWh) (9,0%) (0,30 Ton CO2/MWh) (23,13%)
Tabel 3-2 diatas menunjukkan besarnya potensi penghematan energi pertahun (GWh/Tahun) dan
reduksi emisi GRK pertahun (Ton CO2/Tahun) yang dapat dicapai dalam penerapan Skenario Resiko Menengah. Pada skenario ini diperlukan biaya investasi untuk melakukan perbaikan-perbaikan, modifikasi atau retrofit peralatan-peralatan hemat energi. Biaya investasi, desain rekayasa, konstruksi dan instalasi dapat menjadi cukup signifikan akan tetapi dengan tingkat keberhasillan yang tinggi. Selain dengan inisiatif sendiri, diperlukan intervensi regulator melalui peraturan atau regulasi yang mengikat kepada perusahaan pembangkit agar melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi tersebut dengan program dan hasil yang nyata dan wajib melaporkannya kepada pemerintah. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi masih dapat digunakan sebagai dasar dalam mengikat perusahaan pembangkit untuk penghematan energi di pembangkitnya masing-masing. Pasal 12 dalam PP 70 tersebut dengan jelas mensyaratkan bahwa konservasi dalam pemanfaatan energi melalui manajemen energi wajib dilaksanakan, terutama kepada pengguna energi primer lebih besar dari 6000 TOE/Tahun (Ton of Oil Equivalent), setara dengan 69780 MWh/Tahun. Sebagai bentuk implementasi dan penegakan PP 70 tersebut diperlukan prosedur dan arahan yang jelas yang dituangkan dalam Peraturan Menteri ESDM dan/atau Permen Lingkungan Hidup, atau revisi PP 70 yang dengan spesifik mensyaratkan
perusahaan pembangkit harus melaksanakan efisiensi energi dan reduksi emisi GRK untuk mencapai target-target capain yang ditentukan pemerintah. Sebagai wujud dukungan pemerintah dalam mendorong program-program efisiensi energi dan reduksi emisi GRK di pembangkit adalah dengan membuat pedoman-pedoman umum melaksanakan sertifikasi manajemen energi dan konservasi energi di pembangkit, meningkatkan kepedulian (awareness) melalui seminar, lokakarya atau konferensi. Diharapkan pedoman-pedoman yang perlu dipersiapkan oleh pemerintah dalam skenario ini adalah pedoman-pedoman dalam melaksanakan langkah-langkah efisiensi energi pada butir (a) sampai dengan butir (e) diatas pada sub-bab 3.1.1 diatas.
Potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK di sektor pembangkit dengan Skenario Resiko Rendah dapat memberikan kontribusi penghematan energi dan penurunan emisi GRK cukup signifikan pertahun. Apabila komitmen pengurangan emisi GRK di sektor energi pada tahun 2030 sebesar 314 Juta Ton CO2 dengan upaya sendiri dan 398 Juta Ton CO2 dengan dukungan internasional, maka upaya mitigasi dengan Skenario Resiko Rendah di sektor PLTU batubara mampu menyumbang minimal sekitar 19% reduksi emisi GRK dan maksimal sekitar 28% reduksi GRK pertahun dari target upaya sendiri. Sedangkan berdasarkan kalkulasi yang hasilnya dicantumkan di Tabel, intesitas emisi GRK di PLTU batubara mampu ditekan minimal rat-rata 0,10 Ton CO2/MWh (atau 9,0% dari intensitas sebelum efisiensi energi) sampai dengan rata-rata maksimal mencapai 0,30 Ton CO2/MWh (23,1%) untuk setiap pembangkit. Tabel terkait intensitas emisi untuk berbagai skenario penghematan energi ditampilkan pada LAMPIRAN F. Tabel rinci potensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK dalam Skenario Menengah untuk masing-masing PLTU.
3.2.3 POTENSI PENGHEMATAN ENERGI DAN PENURUNAN EMISI GRK DENGAN SKENARIO PROGRESIF