IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi umum daerah penelitian
4.1.8 Potensi perikanan
Teluk Pacitan khususnya di kawasan Pantai Teleng Ria dan Tamperan kaya akan potensi perikanan. Perikanan merupakan salah satu sub sektor ekonomi yang mempunyai peranan sebagai penyedia bahan pangan protein bagi sebagian besar penduduk. Komoditas perikanan yang dihasilkan terdiri dari beberapa jenis antara lain ikan pelagis besar (yaitu ikan yang mempunyai habitat di tengah sampai permukaan laut dan pada umumnya berukuran besar), ikan pelagis kecil (yaitu ikan yang mempunyai habitat di tengah sampai permukaan laut dan pada umumnya berukuran kecil), ikan demersal besar (yaitu ikan yang mempunyai habitat di dasar laut dan pada umumnya berukuran besar) dan ikan demersal kecil (yaitu ikan yang mempunyai habitat di dasar laut dan pada umumnya berukuran kecil). Jenis – jenis ikan yang dihasilkan disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Jenis – jenis ikan yang dihasilkan.
No Nama ikan Nama ilmiah Gambar
1 2 3 4
1 Ikan pelagis besar
Tuna Thunnus sp
Cakalang Katsuwonus pelamis
Tongkol Auxis thazard
Tengiri Scomberomorus
1 2 3 4
Marlin Makaira indica
Lemadang Coryphaena
hippurus
2 Ikan pelagis kecil
Kembung Rastrelliger sp
Lemuru Sardinella lemuru
Teri Stelophorus
commersoni
Kuwe Caranx sexfasciatus
Pisang – pisang Caesio chrysozonus
Julung – julung Hemirhamphus far
Layang Decapterus russelli
Kuniran Upeneus
moluccensis
Golok – golok Chirosentrus dorab
Lencam Lethrinus lentjam
3 Ikan demersal besar
1 2 3 4
Pari Trygon sephen
Tiga waja Johnius dussumieri
Kakap merah Lutjanus sanguineus
Kakap putih Lates calcarifer
Kerapu Epinephelus
4 Ikan demersal kecil
Layur Trichiurus savala
Manyung Arius thallasinus
Sebelah Psetodes erumei
Bawal putih Pampus argentus
Bawal hitam Formio niger
Pepetek Leiognatus splendens Kurisi Nemipterus nematophorus Kuro Eletheronema tetradactylum
Ikan – ikan yang dihasilkan ditangkap di sekitar Teluk Pacitan. Hasil tangkapan tiap jenis ikan yang di daratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan dari tahun 2003 sampai tahun 2007 disajikan pada Lampiran 12. Perkembangan produksi perikanan tangkap yang di daratkan di Pantai Tamperan disajikan pada Gambar 12.
0 300,000 600,000 900,000 1,200,000 1,500,000 1,800,000 2,100,000 2003 2004 2005 2006 2007 Pr od uk si (k g) Tahun
Ikan pelagis besar Ikan pelagis kecil Ikan demersal besar Ikan demersal kecil Lain - lain
Gambar 12. Perkembangan produksi perikanan tangkap (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2008)
Produksi ikan demersal kecil dari tahun 2003 – 2006 lebih besar jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya. Sementara itu, produksi ikan pelagis kecil menduduki peringkat kedua sepanjang periode yang sama. Fenomena peningkatan produksi yang sangat signifikan terjadi pada ikan pelagis besar yang mengalami peningkatan dari 257.357 kg pada tahun 2006 menjadi 2.080.357 kg pada tahun 2007. Hal ini terjadi karena jumlah permintaan pasar yang cukup banyak terhadap ikan pelagis besar, sehingga upaya penangkapan yang dilakukan oleh nelayan lebih tinggi. Peresmian PPP Tamperan sebagai tempat pendaratan ikan juga menjadi salah satu alasan. Beroperasinya PPP Tamperan tersebut membuat nelayan andon (dari luar Pacitan) semakin banyak yang berdatangan ke kawasan ini untuk melakukan aktivitas penangkapan. Bertambahnya armada tersebut membuat aktivitas penangkapan semakin meningkat sehingga hasil yang diperoleh pun juga meningkat.
Secara umum produksi perikanan tangkap di laut dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau produksi ikan melimpah, sedangkan pada musim penghujan produksi ikan menurun. Hal ini disebabkan adanya angin barat yang tidak memungkinkan nelayan untuk melaut. Daerah penangkapan ikan berada disekitar rumpon – rumpon yang telah dipasang di wilayah Laut Pacitan maupun di sekitar Teluk Pacitan. Dengan demikian, nelayan tidak perlu menempuh perjalanan jauh mengingat perahu atau kapal yang digunakan umumnya masih berukuran kecil dan bertenaga penggerak berupa motor tempel dengan ukuran perahu dominan adalah < 1 GT. Jumlah nelayan, armada perikanan, dan alat tangkap yang terdapat di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan tahun 2003 – 2006 disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19. Jumlah nelayan, armada perikanan dan alat tangkap yang terdapat di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan tahun 2003 – 2006.
Armada perikanan Alat tangkap No Tahun Nelayan (orang)
Perahu yang bermesin < 1GT (buah) Perahu yang bermesin 1-10 GT (buah) Perahu tidak bermesin (buah) Payang (unit) Gillnet (unit) Parel (unit) Pancing (basket) Krendet (unit) 1 2003 1.001 264 7 21 - - - - - 2 2004 1.051 237 10 24 48 45 444 312 160 3 2005 1.027 257 10 20 213 51 381 253 187 4 2006 1.027 257 27 20 213 51 381 253 187
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan, 2008
Secara umum tidak terjadi perubahan jumlah nelayan yang signifikan. Selama periode tahun 2003 hingga 2004, jumlah nelayan mengalami peningkatan sebanyak 50 orang, sedangkan pada tahun 2005 terjadi penurunan sebanyak 24 orang. Penurunan tersebut disebabkan kurangnya kemampuan individu dalam hal penangkapan ikan dan penurunan hasil tangkapan yang diperoleh. Hal tersebut mengakibatkan nelayan berpindah ke profesi yang lain sehingga jumlahnya mengalami penurunan.
Keterbatasan ukuran dan jumlah armada perikanan menyebabkan upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan masih jauh dari optimal. Armada perikanan yang masih didominasi oleh perahu bermesin dengan ukuran <1 GT menunjukkan
bahwa kemampuan penangkapannya hanya sebatas pada perairan sekitar pantai, sedangkan potensi perikanan yang berada di laut lepas tidak mampu dijangkau oleh armada perikanan nelayan setempat. Beberapa faktor lain yang menjadi kendala dalam pemanfaatan potensi perikanan di Teluk Pacitan adalah sarana prasarana yang belum lengkap, kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah dalam hal penguasaan teknologi penangkapan ikan, lemahnya dukungan lembaga penyedia modal serta iklim usaha yang belum kondusif.
Potensi perikanan yang melimpah di suatu daerah seharusnya memberikan manfaat yang cukup besar khususnya bagi penduduk yang tinggal dan atau berusaha di daerah pesisir. Hasil tangkapan nelayan dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Potensi pasar yang sangat luas baik dikalangan penduduk setempat maupun wisatawan memberikan peluang bagi pengoptimalan pemanfaatan hasil perikanan. Wisatawan dapat membeli ikan segar di TPI Teleng Ria maupun TPI Tamperan, sedangkan untuk ikan yang sudah digoreng, asin maupun terasi dapat dibeli di kios – kios yang telah disediakan di dalam kawasan Pantai Teleng Ria. Akan tetapi perhatian terhadap kebersihan sarana, tata letak, kenyamanan dan variasi produk olahan ikan yang masih rendah menyebabkan potensi perikanan yang ada belum mampu menjadi sektor pendorong dan menjadi kekuatan yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Teleng Ria. Sebagian besar kios makanan sebaiknya menjual makanan berbahan baku ikan sehingga pemanfaatan dari hasil perikanan tersebut dapat lebih optimal.
4.2 Analisis kesesuaian wilayah sebagai kawasan wisata pantai
Kelas kesesuaian wilayah untuk wisata pantai ditentukan oleh aktivitas apa saja yang bisa dilakukan pada kawasan tersebut. Kegiatan yang dilakukan wisatawan untuk wisata pantai antara adalah berenang, berjalan – jalan di sepanjang pantai, berjemur, wisata olahraga, surfing dan aktivitas lainnya. Aktivitas surfing sangat bergantung pada kondisi ombak dan angin.
Perlu dilakukan suatu analisis untuk mengetahui kesesuaian peruntukan wilayah sebagai kawasan wisata pantai. Analisis tersebut menggunakan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW). Analisis kesesuaian diukur dengan memberikan bobot dan skor pada parameter (faktor pembatas). Hasil perhitungan indeks kesesuaian
lahan untuk wisata pada kawasan Pantai Teleng Ria disajikan pada Tabel 20 dan Lampiran 13.
Tabel 20. Indeks kesesuaian lahan untuk wisata pada kawasan Pantai Teleng Ria
Keterangan Parameter
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Nilai Skor Bobot
Jumlah (∑)
Kedalaman perairan 2.7 3 2,5 0 – 3 3 5 15
Tipe pantai Pasir putih
Pasir putih Pasir putih, kecoklatan Pasir putih 3 5 15 Lebar pantai 100 110 102 >15 3 5 15 Material dasar perairan
Pasir Pasir Pasir Pasir 3 3 9
Kecepatan arus (m/dtk) 0,23 0,22 0,25 0,23 – 0,25 2 3 6 Kemiringan pantai (o) 3 3 5 <10 3 3 9 Kecerahan perairan (m) 1,38 1,34 1,13 <2 0 1 0 Penutupan lahan
pantai terbuka, Lahan kelapa Lahan terbuka, kelapa Lahan terbuka, kelapa Lahan terbuka, kelapa 3 1 3 Biota berbahaya Tidak
ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 3 1 3 Ketersediaan air tawar 0,15 km 0,15 km 0,15 km <0,5 km 3 1 3 Total 78 Persentase 92,86 Tingkat Kesesuaian S 1
Sumber : Data primer diolah, 2008
Penghitungan IKW dilakukan pengukuran pada tiga stasiun yaitu stasiun 1 yang terletak pada 08° 13,329’ LS dan 111° 04,920’ BT; stasiun 2 terletak pada 08° 13,445’ LS dan 111° 04,823’ BT serta stasiun 3 yang terletak pada 08° 13,557’ LS dan 111° 04,722 BT. Titik – titik stasiun tersebut berada sejajar dengan garis pantai dimana dilakukan pengukuran kedalaman, material dasar perairan, kecepatan arus, kecerahan perairan dan biota berbahaya. Sementara itu, pengukuran tipe pantai, lebar pantai, kemiringan pantai, penutupan lahan pantai dan ketersediaan air tawar dilakukan pada daerah yang berdekatan dengan stasiun – stasiun tersebut.
Kedalaman Pantai Teleng Ria berkisar antara 2,5 sampai 3 meter. Tipe Pantai Teleng Ria adalah pasir putih kecoklatan dengan lebar pantai yang dapat digunakan untuk kegiatan wisata antara 102 sampai dengan 110 meter. Material dasar laut di Pantai Teleng Ria adalah pasir, kecepatan arusnya berkisar antara
0,22 sampai dengan 0,25 meter/detik, penutupan lahan pantai adalah lahan terbuka dan terdapat pohon kelapa. Sepanjang kawasan Pantai Teleng Ria tidak ditemukan adanya biota berbahaya. Ketersediaan air tawar di Pantai Teleng Ria sekitar 0,15 km dari garis pantai.
Nilai kesesuaian kawasan Pantai Teleng Ria masuk pada kriteria S1 yaitu sangat sesuai. Kriteria tersebut menunjukkan bahwa kawasan Pantai Teleng Ria tidak mempunyai faktor pembatas yang cukup serius untuk dijadikan sebagai kawasan wisata pantai dengan aktivitas seperti berenang, surfing, rekreasi pantai dan aktivitas lainnya di sepanjang pantai. Hasil perhitungan diperoleh nilai IKW kawasan Pantai Teleng Ria adalah 143. Walaupun masuk dalam kategori S1, bila dilihat dari masing – masing parameter secara individu terdapat faktor pembatas yaitu kecerahan perairan yang termasuk dalam kategori tidak sesuai. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kawasan Pantai Teleng Ria sesuai untuk dijadikan kawasan wisata pantai dimana tidak mempunyai faktor pembatas yang cukup serius.
4.3 Daya dukung kawasan untuk wisata pantai
Kawasan pesisir sangat rentan terhadap dampak dari aktivitas manusia seperti kegiatan wisata. Perlu diperhatikan daya dukung kawasan untuk pengembangan kegiatan wisata pantai. Kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan Pantai Teleng Ria terkait oleh berbagai faktor. Analisa daya dukung kawasan Pantai Teleng Ria untuk kegiatan wisata pantai dilakukan terhadap parameter panjang pantai berpasir, ketersediaan lahan untuk penginapan dan ketersediaan air bersih (air tawar). Analisa tersebut dilakukan berdasarkan standar yang digunakan Amerika dan Eropa (Wong, 1991).