• Tidak ada hasil yang ditemukan

PPOK 1. Definisi

Dalam dokumen Pdt Rehab Medid uwkk (Halaman 75-80)

PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversible atau reversible parsial, PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya.

Bronkitis kronik

Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurangnya – kurangnya dua tahun berturut-turut, tidak disebabkan penyakit lainnya. Emfisema

Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding elveoli

Etiologi : tidak jelas, faktor resiko :

 Merokok (terpenting)

 Polusi udara

 Hiperaktiviti bronkus

 Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang

 Defisiensi antitripsin alfa-1 (jarang di Indonesia) Patofisiologi

Bronkitis kronis :

Pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, gerakan silia abnormal, inflamasi, hipertrofi otot polos saluran napas serta distorsi akibat fibrosis.

Emfisema :

Pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Secara anatomik dibedakan 3 jenis emfisema :

 E,fisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus repiratori dan meluas ke perifer, terutama mengenai lobus atau paru, sering akibat kebiasaan merokok lama.

 Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyak pada lobus distal paru.

 Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisis di septa atau dekat pleura, dapat membentuk bulla pada daerah apeks dan berkibat pnumotoraks. Jarang mengakibatkan obstruksi jalan napas.

Kriteria diagnosis :

Diagnosis PPOK ditegakkan berdasarkan : a. Gambaran Klinik 1. Anamnesis :  Keluhan  Riwayat penyakit  Faktor resiko 2. Pemeriksaan fisik b. Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan rutin :

 Faal paru (spirometri dan uji bronkodilator)

 Darah rutin : Hb, Ht, leukosit

2. Pemeriksaan khusus :

 Faal paru : DLCO, Raw

 Uji provokasi bronkus

 Analisis gas darah

 CT-Scan resolusi tinggi

 Elektrokardiografi

 Pemeriksaan bakteriologi sputum

 Kadara alfa-1 antitripsin

Klasifikasi PPOK :

Klasifikasi Penyakit Gejala Spirometri

RINGAN  Tidak ada gejala waktu istirahat atau aktivitas

 Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi waktu ringan bila aktivitas sedang (jalan cepat, naik tangga)

VEP1 > 80% prediksi VEP1 < 75%

KVP

SEDANG  Tidak ada gejala waktu istirahat, tetapi ada gejala bila aktivitas ringan (misal : berpakaian)

 Gejala ringan pada istirahat

VEP1 30-80% prediksi VEP1 < 75%

KVP BERAT  Gejala sedang pada waktu istirahat

 Gejala berat pada saat istirahat

 Tanda-tanda korpulmonal

VEP1 < 30% prediksi VEP1 < 75%

KVP

Terdapat ketidaksesuaian antara nilai VEP1 dengan gejala penderita oleh sebab itu perlu diperhatikan kondisi lain. Gejala sesak napas mungkin tidak bisa diprediksi dengan VEP1 saja. 2. Gambaran Klinis

Blue Bloater : gambraan khas pada bronkitis kronik. Penderita tampak gemuk sianosis, edema tungkai dengan ronki basah di basal paru, sianosis sentral dan perifer.

Pink puffer : gambaran khas pada emfisema, penderita kurus, kulit kemerahan dan pernafasan pusedlip.

Pernapasan pusedlip spontan : bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi memanjang, sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik.

3. Pemeriksaan IKFR Anamnesis

Sesak napas atau napas pendek (shotness of breath)

 Batuk dengan atau tanpa dahak

 Dahak sulit dikeluarkan / dibatukkan

 Terbangun malam hari karena batuk atau banyak dahak atau sesak

 Sulit tidur karena batuk atau sesak

 Bila berjalan cepat letih atau sesak

 Bila melakukan aktivitas cepat letih atau sesak

 Aktifitas terganggu karena letih atau sesak

Pemeriksaan Fisik

 Frekuensi pernapasan, skala Borg untuk sesak napas, frekuensi nadi 9reguler/irreguler), tensi, tinggi badan, berat badan (hitung BMI), JVP

 Retraksi suprsternal, interkostal dan kontraksi otot abdominal, ekspresi memanjang

 Spasme otot-oto napas sekunder, upper trapezius dan toraks bagian atas.

Perubahan postur : kiposis, kiposkoliosis, barrel chest.

 Pergerakan napas (simetris/asimetris), ekspansi toraks (atas, tengah dan bawah), pernapasan paradoksal

Wheezing inspirasi/ekspirasi, ronki, dahak, gallop

 Atrofi otot-otot ekstremitas, edema tungkai Pemeriksaan Fungsional

Uji latih :

 Uji jalan 6 menit (boleh sambil istirahat, dihitung total jarak)

Sepeda statik (incremental atau steadi state)

Treadmill (incremental atau steady state)

Dari uji latih ditentukan kemampuan fungsional : meter / watt / VO2max

Standar Pemeriksaan 1. Pemeriksaan faal paru

2. Skala Borg untuk sesak napas dan kelelahan otot tungkai bawah 3. Uji latih dengan / atau tanpa alat

4. Alat ukur kualitas hidup spesifik, misal : St George Respiratory Quisioner. 4. Diagnosis

Impairment :

 Faktor local : penurunan fungsi paru akibat obstruksi jalan napas, kerusakan dinsing alveoli dan penurunan fungsi pompa ventilasi.

 Faktor sistemik : penurunan fungsi otot akibat kerusakan / atrofi dan gangguan met5abolisme otot.

Disability

 Sesak napas atau napas pendek

 Penurunan kapasitas fisik yang berakibat penurunan kemampuan berjalan, naik tangga, penurunan aktivitas kehidupan sehari-hari

 Rasa cemas sampai depresi Handicap

Gangguan pola tidur dan insomnia, penurunan rasa percaya diri, terganggunya aktivitas social, meningkatnya hari mangkir kerja.

5. Prognosis

Prognosis penyakit : progresif lambat

Progresif harapan hidup : dipengaruhi oleh paparan dengan factor risiko (terutama merokok) Prognosis fungsional dipengaruhi oleh paparan dengan factor risiko (terutama merokok) Prognosis fungsional dipengaruhi oleh

 Sering / tidaknya eksaserbasi akut

 Keberhasilan penanganan rehabilitasi

 Nutrisi yang adekuat

Prognosis fungsional tidak berhubungan langsung dengan berat / ringannya klasifikasi PPOK 6. Prinsip pengelolaan

Fase akut : Tujuan :

 Mengatasi sesak napas

 Membantu ekspektorasi dahak bila perlu

 Mencegah sindroma dekondisi Penatalaksanaan (dirumah sakit)

 Medikamentosa untuk mengatasi sesak : oksigen (bila perlu), bronkodilator, steroid, mukolitik dan antibiotika (bila perlu) diberikan secara oral, parenteral atau inhalasi.

 Edukasi untuk posisi mengurangi sesak (waktu berbaring, duduk, berdiri)

 Relaksasi dengan imagery dan pernapasan pursedlip (dengan sugesti musik)

 Latihan ankle pumping aktif / pasif

 Latihan lingkup gerak sendi ke 4 ekstremitas

 Postural drainage, vibrasi, assited coughing (bila perlu)

 Mobilisasi dini bila sesak berkurang Fase pemulihan

Tujuan : mencegah dan mengurangi frekuensi eksaserbasi, memperbaiki pola napas, meningkatkan toleransi latihan, meningkatkan kemampuan AKS / aktivitas kerja.

Penatalaksanaan (dirumah sakit, rawat jalan, home program) : Edukasi :

 Program berhenti merokok

 Penggunaan obat dan tujuan / manfaat latihan

 Strategi pernapasan optimal

 Tehnik konservasi energi dan penyederhanaan kerja : - Posisi tubuh yang benar

- Penyesuaian aktivitas dengan pola napas - Tehnik paced breathing

- Perencanaan dan prioritas aktivitas / kerja - Pemakaian alat bantu

Program latihan :

 Latihan relaksasi pernapasan (PLB dan inspirasi dalam sesuai toleransi) dan toleransi jacobson

 Terapi fisik dada :

 Kelenturan otot leher, bahu dan mobilitas dinding dada serta koreksi postur (bila perlu)

 Latihan pernapasan dalam dan torakal / diafragma, latihan pernapasan segmental

Postural drainage, vibrasi, huffing / coughing efektif (bila perlu)

Latihan kombinasi : active cycle breathing technique Latihan rekondisi :

 Rekondisi grup otot ekstremitas atas dan bawah

Unsupported arm exercise training dengan atau tanpa beban

 ILatihan penguatan otot Quadriceps

Latihan penguatan abdominal dengan half sit up

Rekondisi otot pernapasan dengan parasat Muller atau incentive spirometri

 Pertimbangkan pemakaian oksigen selama latihan (bila perlu) Fase lanjut

Tujuan :

 Mencegah eksaserbasi akut

 Mempertahankan kapasitas fungsi / latihan optimal

Mempertahankan kapasitas AKS / aktivitas kerja / psikososial dengan coping skill yang optimal

Penatalaksanaan (rawat jalan, home program, latihan kelompok di masyarakat) :

 Edukasi :

Pemakaian obat, kontrol faktor resiko, program latihan yang kontinyu terutama latihan rekondisi.

 Melanjutkan latihan pada fase pemulihan.

Untuk latihan rekondisi : meningkatkan intensitas, mempertahankan frekuensi dan durasi latihan

Frekuensi : 3 – 5 x / minggu

Durasi : 30 menit, dalam bentuk latihan kontinyu atau interval Intensitas ditentukan sesuai uji latihan berkala (2 – 3 bulan)

 Mengikuti latihan kelompok senam asma Tindak lanjut / Evaluasi

 Spirometri : setiap bulan, bila stabil setiap 3 bulan, atau bila eksaserbasi akut.

 Kemampuan fungsional : dengan uji latih, bila stabil setiap 3 bulan

 Kualitas hidup : alat ukur kualitas hidup spesifik St George Respiratory Quesioner (setiap 6 bulan), membaik bila nilai total makin rendah

Sistim rujukan

Spesialis paru bila eksaserbasi akut

Spesialis jantung bila ada tanda-tanda korpulmonale Pencegahan komplikasi sekunder

Medis : Vaksinasi influenza

Terapi latihan : hindari over execise, nutrisi adekuat

Edukasi : Hindari faktor resiko, support psikologi dan motivasi untuk melakukan latihan seumur hidup

WEWENANG

 Dokter Spesialis Rehab Medis, PPDS Rehab Medis, Dokter UGD dan Dokter Umum yang bekerja di bagian Rehab Medis.

UNIT YANG MENANGANI

 Bagian Ilmu Rehab Medis UNIT TERKAIT

Dalam dokumen Pdt Rehab Medid uwkk (Halaman 75-80)

Dokumen terkait