Kumpulan gejala kelainan neurologis fokal yang timbul mendadak akibat gangguan peredaran darah di otak, yang merupakan akibat berbagai penyakit atau keadaan lain yang juga merupakan faktor resiko dan dapat disertai atau tidak disertai dengan gangguan kesadaran, manifestasi klinis tergantung lokasi lesi neuronatomis sentral yang terkena.
2. Klasifikasi
Kortikal
Subkortikal
Batang otak
2.2 Berdasar letak gangguan sirkulasi di otak (Bamford Clinical Classification of Stroke)
Sirkulasi anterior total
Sirkulasi anterior parsial
Sirkulasi posterior
Sirkulasi lakunar
Sisi dekstra atau sinistra atau bilateral 2.3 Berdasar sifat gangguan aliran darah
Non hemoragik - TIA - RIND - Trombosis - Emboli Hemoragik - Perdarahan intracerebri - Perdarahan subarachnoid 2.4 Berdasar waktu terjadinya.
Stroke in progression
Completed stroke
Stroke pertama
Stroke berulang
2.5 Berdasar ada tidaknya penyakit penyerta / faktor resiko 2.6 Berdasar ada tidaknya komplikasi / faktor penyulit 3. Gambaran Klinis
Hemiplegi / parese / satu sis atau bilateral
Hemihipesthesi, spastisitas
Disarthria, disphagia
Gangguan akibat lesi, saraf kranial
Aphasia dan gangguan / disfungsi cerebral luhur / kognisi lainnya
Gangguan fungsi berkemih seperti unhibited neurogenic bladder dan lain-lain
Tergantung lokasi lesi dengan derajat yang berbeda. 4. Pemeriksaan IKFR
4.1 Anamnesa
Faktor-faktor resiko stroke
Gejala / tanda kelainan neurologis
Komplikasi / faktor penyulit
Diagnosis / catatan medis dan diagnosis deferensial dokter pengirim (bilaman ada) 4.2 Pemeriksaan fisik, dengan memperhatikan
Gejala-gejala / sindroma-sindroma beruap defisit neurologis baik bentuk fisik, psikis maupun perilaku termasuk kortikol luhur (behaviour neurology)
Komplikasi yang timbul akibat kejadian stroke maupun efek tirah baring lama
Pemeriksaan fisik meliputi :
- Pemeriksaan general (status umum) termasuk tanda – tanda vital, kardiovaskular dan respirasi
- Pemeriksaan khusus :
o Pemeriksaan kesadaran : Glasglow Coma Scale o Fungsi cerebral luhur dengan test mini mental
- Penilaian gerak / mobilitas (volunter dan involunter), koordinasi keseimbangan dan analisa pola jalan.
o Penilaian sensasi / persepsi, visuospasial o Penilaian mengunyah dan menelan o Penilaian fungsi komunikasi
o Penilaian fungsi berkemih dan defekasi 4.3 Pemeriksaan penunjang
Index Bartel dengan modifikasi (Kisworowati)
Laboratorium darah dan urin
EKG
CT Scan
Sesuai kebutuhan / indikasi dan penyakit – penyakit dasarnya, bila perlu dan fasilitas memungkinkan neurosongrafi, MRI
5. Diagnosis
Diagnosis medis
Diagnosis fungsiobal menurut WHO 1980 berdasarkan Klasifikasi International Classification of Impairment, Disabilities and Handicaps (IC, DH) yang meliputi patologi, impairment dan disabilitas dan handicaps dengan memperhatikan faktor resiko, usia, penyakit penyerta dan komplikasi.
6. Prognosis
6.1 Prognosis penyakit : stroke berulang 6.2 Prognosis harapan hidup, tergantung :
Faktor resiko
Usia saat terkena
Penyakit penyerta
Komplikasi 6.3 Prognosis fungsional
Luas dan lokasi lesi neuroanatomis
Sifat, berat, ringannya gangguan peredaran darah / aliran darah otak
Proses pemulihan neuronal (plastisitas sentral)
Ada tidaknya penyakit dasar / penyerta
Komplikasi
Saran, Sumber Daya Manusia (SDM) pelayanan rehabilitasi
Yang kesemuanya akan mempengaruhi prognosis penyakit, harapan hidup dan fungsional
7. Prinsip pengelolaan
Tujuan / goal yang diharapkan
Mandiri total, dapat bekerja kembali seperti semula
Mandiri untuk AKS, bekerja dengan supervisi atau pinda pekerjaan atau bekerja paruh waktu
Mandiri untuk AKS, tidak bekerja
Mandiri hanya pada perawatan diri tapi tergantung atau dibantu pada AKS yang lain
Tergantung sebagian (dibantu sebagian)
Tergantung total (dibantu seluruhnya) 7.1 Penatalaksanaan fase akut
Kondisi medis terutama neurologis dan hemodinamis belum stabil lebih diutamakan penatalaksanaan perawatan rehabilitasi medik (nursing rehabilitation care)
Tujuan rehabilitasi fase akut
Mencegah atau meminimalkan defisit neurologis
Mencegah komplikasi tirah baring Program rehabilitasi fase akut
Pengetahuan-pengetahuan tentang posisi untuk mencegah dekubitus dan kontraktur
Mempertahankan integritas kulit
Stimulasi multi sensoris yang lebih banyak bersifat pasif
Cegah komplikasi kardio-vaskular
Evaluasi fungsi menelan dan nutrisi
Evaluasi fungsi berkemih dan defekasi 7.2 Penatalaksanaan fase pemulihan
Kondisi medis terutama neurologis dan hemodinamis sudah stabil
Tujuan rehabilitasi
Mengembalikan fungsi terutama AKS semaksimal mungkin dengan peningkatan program yang bersifat lebih aktif
Mencegah komplikasi sekunder
Program rehabilitasi fase pemulihan
Semua pada 7.1 ditambah dengan
Terapi bersifat stimulasi-fasilitasi-inhibisi sesuai fase pemulihan neurologis
Evaluasi fungsi serebral luhur (kognisi)
Evaluasi fungsi komunikasi
Evaluasi AKS, vokasioanal termasuk penggunaan alat bantu
Pelatihan / stimulasi fungsi menelan, berkemih dan defekasi
Cegah komplikasi
7.3 Penatalaksanaan Fase lanjut Merupakan tahap persiapan pulang
Tujuan rehabilitasi fase lanjut
- Resosialisasi kembali ke masyarakat
- Mempertahankan kemampuan fungsioanl selama mungkin - Cegah stroke berulang
Program rehabilitasi
- Evaluasi situasi rumah, lingkungan dan pekerjaan (vokasional) - Konseling keluarga
- Home program
7.4 Follow up / tidak lanjut
Tiap bulan selama tiga bulan pertama, setiap tiga bulan selama setahun pada tahun pertama dan untuk selanjutnya disarankan kontrol setiap enam bulan
Pada saat follow up dilakukan evaluasi :
Anamnesis masalah yang timbul
Evaluasi medis dan neurologis
Laboratorium rutin
Laboratorium profil lemak darah, hemostasis, gula darah, urin, EKG, neruosonografi, foto X-ray, CT Scan, MRI (bila perlu dan fasilitas ada)
Psikososial
Fungsional
Evaluasi penanganan rehabilitasi
Mengatasi masalah / komplikasi
Melakukan rujukan bila perlu
Edukasi dan home program 7.5 Sistem rujukan
Rujukan spesialis lain bila perlu seperti dokter saraf, dokter bedah saraf, dokter jantung / penyakit dalam, endokrinologi, ortopedi dan lain-lain
Rujukan pada institusi / rumah sakit yang lebih lengkap 7.6 Pencegahan komplikasi
Dengan edukasi bagi pasien dan pelaku rawat
Mengendalikan faktor resiko
Supervisi program yang diberikan
Kontrol / evaluasi berkala dan bilamana perlu dilakukan rujukan Komplikasi / faktor penyulit :
Faktor resiko yang memang sudah ada, subluksasi sendi bahu, gangguan menelan, komplikasi tirah baring lama, gangguan kognisi luhur (higher cerebral dysfunction) termasuk komunikasi dan lain-lainnya
WEWENANG
Dokter Spesialis Rehab Medis, PPDS Rehab Medis, Dokter UGD dan Dokter Umum yang bekerja di bagian Rehab Medis.
UNIT YANG MENANGANI
Bagian Ilmu Rehab Medis UNIT TERKAIT
DISTROPHIA MUSCULORUM PROGRESIFA (D-M-P)
1. DefinisiKelainan distrofi otot yang bersifat progresif disebabkan abnormalitas ada beberpa tipe D.M.P yaitu :
Duchenne Muscular Dystrophy (DMD) : pada laki-laki, diturunkan secara X-finked, abnormalitas pada gen Xp.21. Onset penyakit sekitar usia 3 – 6 tahun biasa meninggal pada dekade kedua.
Becker Muscular Dystrophy (BMD) : kelainan ini sama seperti DMD, hanya onset penyakit lebih belakang dan perjalanan penyakit lebih ringan.
Severe Childhood Autosomal Recessive Muscular Dystrophy (SCARMD). Prevalensi pada anak laki-laki sama dengan perempuan, onset sekitar usia 3 – 12 tahun, distribusi kelemahan sama dengan DMD, tetapi kurang progresif.
Congenital Muscular Dystrophy (DMD) : ditandai hipotoni saat lahir, mengenai otot ekstremitas dan wajah. Progresif lambat, sering terjadi kontraktur. Fukuyuma CMD dihubungkan juga dengan retardasi mental, abnormalitas pada gen 9q 31 – 33.
Facioscapulohumeral Muscular Dystrophy (FMD) : Distrofi otot terutama wajah dan gelang bahu, diturunkan secara autosom, dominant pada gen 4q 35.
Emery Dreifus Muscular Dystrophy (EMD) Distrofi otot terutama pada otot bicep dan betis. Diturunkan secara X-linked resesif.
Limb-Girdle Dystrophy (LGD) : predominan kelemahan pada bagian proksimal otot gelang panggul dari pada gelang abhu. Diturunkan secara autonom resesif, prevalensi pada anak laki-laki sama dengan perempuan.
2. Gambaran Klinis
Biasa kelemahan otot baru diketahui saat anak sudah berjalan sekitar usia 3 – 6 tahun pada DMD dan belakang pada BMD, kecuali pada CMD yang terlihat hipotoni saat lahir.
Gejala berupa sering jatuh, kesulitan menaiki tangga dan “toe walking”. Umumnya mengeluh nyeri dan terlihat pembesaran otot terutama bagian betis. Kelemhan paling dahulu terlihat adalahfleksor leher pada usia prasekolah. Kelemahan bersifat umum tetapi predominal bagian progsimal lebih dahulu. Gelang panggul mendahului gelang bahu beberapa tahun sebelumnya. Dorsifleksor kaki lebih lemah dari plantar fleksor, abduktor lebih lemah dari adductor, ekstensor lebih lemah dari fleksor.
Kelemahan berlanjut sampai anak tidak dapat berjalan mandiri dan memerlukan kursi roda sekitar usia 7 – 13 tahun pada IMD. Bila sampai usia di atas 16 tahun masih ambulasi bukan termasuk kriteria DMD tetapi BMD.
50% DMD menderita scoliosis pada usia 12 – 15 tahun. Kelainan otot dijumpai juga pada mycardium.
3. Pemeriksaan IKFR 3.1 Anamnesis
Orang tua sering cerita riwayat keterlambatan motorik dan hipotoni dari anaknya. Biasanya orang tua baru menyadari adanya kelainan saat anak sudah bisa berjalan.
Adanya kesulitan menaiki tangga, sering jatuh saat berjalan, toe walking.
Kelemahan otot-otot bertambah buruk dengan bertambahnya usia.
Kelainan dijumpai pada anak laki-laki (DMD, BMD, EMD)
Perlu ditelusuri saudara laki-laki dari jalur keturunan pihak ibu untuk mencari carrier X-linked (DMD, BMD, EMD)
Sedang pada CARMD, dan LGD yang bersifat autosom resesif kelainan bisa, terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan, perlu ditelusuri saudara-saudara dan keluarga besar penderita (extended family)
3.2 Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Gower‟s sidn : kesulitan bangkit dari lantai (bertumpu pada lutut dan tangan, lutut ekstensi sementara lengan ke depan selanjutnya lengan mampu pada paha sementara bangkit ke posisi tegak sehingga, tercapai ekstensi hip maksimal)
Posterior tubuh : pada posisi abduksi sendi bahu 90º dan siku fleksi 90º terlihat “linier” atau “oval depresi” pada lipat posterior axilla karena hipertrofi M. Infrespinatus inferomedial
Hipertrofi otot betis
Hipertrofi lidah (macroglosia)
Pada FSH : wajah tanpa ekspresi karena kelemahan otot-otot orbicularis oculi, zygomaticus, orbicularis oris. Kesulitan menutup, mata tapi bukan ptosis. Scapular winging
Hipertordosis lumbal, scoliosis
Nadi ; aritmia, pernapasan : dangkal (restriktif)
Jantung : bunyi jantung tidak normal
Manual Muscle Test :
- Otot ekstensor lebih aman dari fleksor - Otot evertor lebih aman dari invertor - Otot abductor lebih aman dari edductor
Lingkup gerak sendi (ukur dengan goniometri) sebab sering terjadio kontradur fleksi ekstrimitas inferior pada DMED yang memakai kursi roda sepanjang hari.
3.3 Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : serum creatin kinase pada fase awal DMD & BMD, dapat 50 – 100 X normal, pada CMD, creatin kinase dapat normal atau sedikit jenis lain moderate. Elektrodiagnostik : EMG dan konduksi saraf
Biopsi otot. 4. Diagnosis
Impairment otot lurik, otot jantung, sendi, paru-paru Disability Muskuloskeletal, kardiorespirasi
Handicap Ambulasi, mobilsasi, psikososial 5. Prognosis
5.1 Prognosis penyakit : progresif
5.2 Prognosis harapan hidup : tidak berpengaruh, keciali pada DMD meninggal sekitar dekade 2
5.3 Prognosis fungsional : Tahap-tahap fungsional DMD
Berjalan dan naik tangga tanpa bantuan
Berjalan dan naik tangga dengan bantuan “railling”
Berjalan dan naik tangga perlahan dengan bantuan”raifing” (8 langkah pada waktu > dari 25 detik)
Berjalan tanpa bantuan dan bangkit dari kursi tetapi tidak dapat naik tangga
Berjalan tanpa bantuan tapi tidak dapat bangkit dari kursi maupun naik tangga
Berjalan dengan bantuan atau tanpa bantuan tetapi pakai long leg brace
Berjalan dengan long leg brace tetapi perlu bantuan untuk keseimbangan
Berdiri dengan long leg brace, tidak dapat berjalan walau dengan bantuan
Hanya duduk di kursi roda di tempat tidur. 6. Prinsip Pengelolaan
6.1 Penatalaksanaan
Tujuan : pencegahan dan mempertahankan / memperbaiki fungsi ketidakmampuan yang sudah terjadi
Program latihan perlu terstruktur baik dengan tujuan akhir memperpanjang kualitas hidup yang mandiri dan ambulasi.
Latihan lingkup gerak sendi dan peregangan otot terutama M. Tensor fascia lata, M. Lliopsoas
M. Hamstring, Tendon Achilles, otot-otot fleksor lengan dan tangan, memelihara postur
Kesegarisan tubuh saat berdiri maupun duduk
Latihan penguatan otot dengan beban submaksimal. Berenang emrupakan latihan yang bagus untuk kondisi umum, lingkup gerak sendi dan pernapasan
Memelihara fungsi motorik ekstremitas superior dan aktifitas menolong diri sendiri
A.F.O atau KAFO berbahan ringan
Crutch, walker, kursi roda sesuai fungsional motorik individu
Sling untuk bahu, forearm ortosis
Modifikasi alat-alat di dalam rumah untuk mempermudah ambulasi dan mobilisasi
Psikosupportif : konseling untuk pasien dan keluarga 6.2 Tindak lanjut :
Kesehatan umum : paru-paru, jantung
Monitor teratur lingkup gerak sendi baik oleh fisioterapis maupun okupasi terapis.
Monitor kemampuan fungsional pasien 6.3 Sistem rujukan
Kardiologi
Pulmonolog
Ortopedic
6.4 Pencegahan komplikasi sekunder
Medis : ditujukan untuk komplikasi kardiopulmoner
Latihan pernapasan rutin untuk mencegah komplikasi kardiopulmonar
Latihan lingkup gerak sendi, peregangan dan postur untuk pencegahan kontraktur sendi
Semua latihan diedukasikan kepada pasien dan keluarga WEWENANG
Dokter Spesialis Rehab Medis, PPDS Rehab Medis, Dokter UGD dan Dokter Umum yang bekerja di bagian Rehab Medis.
UNIT YANG MENANGANI
Bagian Ilmu Rehab Medis UNIT TERKAIT