HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Pra-penelitian
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini terlaksana dalam dua siklus dan dilakukan pada 6 Mei 2014 sampai 30 Mei 2014 pada materi koloid. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memperoleh data hasil penelitian berupa angka-angka yang dianalisis untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan KPS siswa setelah model pembelajaran discovery learning
dengan scientific approach diterapkan dalam pembelajaran. Data-data tersebut meliputi hasil observasi KPS siswa, hasil tes kognitif, dan hasil observasi afektif yang dilaksanakan selama penelitian.
4.1.1 Pra-penelitian
Penelitian ini diawali dengan kegiatan pra-penelitian sebelum masuk ke siklus I. Kegiatan pra-penelitian bertujuan untuk mengetahui masalah belajar siswa secara spesifik. Kolaborasi dengan guru pengampu dilakukan dalam kegiatan ini karena guru pengampu merupakan pihak yang paling mengetahui keadaan siswa.
Identifikasi masalah belajar siswa dilakukan melalui dokumentasi nilai, observasi, dan wawancara dengan guru dan beberapa siswa. Data nilai kognitif disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Analisis Nilai Ulangan Harian Siswa kelas XI IPA 1
Hasil Tes Pencapaian
Nilai tertinggi 92
Nilai terendah 60
Rata-rata nilai 79
Jumlah siswa yang tuntas 31
Jumlah siswa yang tidak tuntas 5
Presentase ketuntasan 86,11%
Berdasarkan Tabel 4.1, diketahui nilai kognitif siswa kelas XI IPA 1 sudah mencapai ketuntasan klasikal. Namun, berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan kegiatan praktikum hanya dinilai hasil akhirnya saja dan selama 2 semester hanya dilakukan sebanyak tiga kali. Keterampilan praktikum siswa rendah dan menurut guru pengampu perlu adanya upaya peningkatan. Keterampilan praktikum yang dimaksud tidak hanya keterampilan dalam melaksanakan kegiatan praktikum di laboratorium, tetapi juga keterampilan dalam proses merencanakan dan melaporkan praktikum. Serangkaian keterampilan ini disebut sebagai keterampilan proses sains (KPS). Selain itu, partisipasi siswa dalam pembelajaran masih rendah. Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, maka diterapkan model pembelajaran discovery learning dengan scientific approach.
Setelah mengetahui masalah belajar yang dialami oleh siswa dan menetapkan cara mengatasi masalah tersebut, peneliti mempersiapkan instrumen penelitian yang akan digunakan. Instrumen-instrumen yang telah dipersiapkan kemudian diujicobakan terlebih dahulu kepada siswa kelas XII
IPA 4 yang telah menerima materi koloid sebelumnya. Instrumen yang diuji meliputi lembar observasi penilaian KPS, soal pretest, tes akhir siklus, dan
post-test, serta lembar observasi afektif. Uji coba dilaksanakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen sebelum digunakan. Soal-soal untuk menguji aspek kognitif dan lembar pengamatan afektif siswa telah dinyatakan valid oleh ahli dan berdasarkan analisis data seluruh instrumen dinyatakan reliabel.
Berdasarkan hasil kegiatan pra-penelitian, peneliti mengembangkan tahap kegiatan penelitian tindakan yang didasarkan pada pendekatan yang dikembangkan oleh Lewin yang terdiri atas perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi (Suharsimi, 2006: 92). Berikut pemaparan hasil penelitian dalam siklus I dan II :
4.1.2 Siklus I
1. Perencanaan Siklus I
Perencanaan siklus I didasarkan pada identifikasi masalah yang telah dilakukan. Perencanaan tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan (Elfanany, 2013: 55). Pada penelitian ini perencanaan tindakan meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mencakup model pembelajaran
discovery learning dengan scientific approach dan mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi penilaian KPS, soal-soal untuk mengetahui ketercapaian kognitif siswa, lembar pengamatan afektif siswa, dan bahan ajar dengan materi pokok koloid.
2. Tindakan Siklus I
Tahap tindakan merupakan implementasi dari perencanaan tindakan, yaitu realisasi model pembelajaran discovery learning dengan
scientific approach untuk meningkatkan KPS siswa. Sebelum masuk ke pertemuan pertama siklus I, siswa dibagi menjadi sembilan kelompok dan tiap kelompok diberi tugas untuk merancang praktikum pengamatan larutan, koloid, dan suspensi.
Siklus I dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pada pertemuan pertama diawali dengan kegiatan presentasi alur kerja yang sudah ditugaskan oleh guru pada pertemuan sebelumnya. Presentasi dilakukan oleh perwakilan kelompok, dilanjutkan dengan diskusi kelas untuk menentukan alur kerja yang paling mungkin dilakukan dengan bimbingan guru.
Berdasarkan hasil diskusi diperoleh satu rancangan yang digunakan pada kegiatan praktikum. Dalam kegiatan praktikum yang dilaksanakan di laboratorium siswa mempraktikkan cara menentukan jenis-jenis campuran, mengetahui perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi, dan efek Tyndall.
Kegiatan presentasi dan diskusi kelas dilakukan setelah siswa melaksanakan praktikum. Kegiatan ini membahas tentang hasil praktikum dan materi-materi lain pada koloid yang tidak dipraktikumkan. Materi tersebut adalah jenis-jenis koloid dan sifat-sifat
koloid. Tes akhir siklus I dilakukan setelah siswa berdiskusi. Laporan praktikum I tiap individu dikumpulkan pada akhir pembelajaran.
3. Pengamatan Siklus I
Tahap pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Teknik pengamatan dilaksanakan menggunakan format lembar observasi terstruktur dan teruji, serta penilaian dilakukan oleh tiga
observer. Kisi-kisi lembar observasi dikembangkan berdasarkan 10 indikator keterampilan proses sains dalam lingkup materi pokok koloid.
Butir-butir KPS yang meliputi : (1) mampu merancang praktikum sesuai dengan sistematika yang tepat dan jelas, (2) membuat bagan alur kerja yang mudah dibaca dan sesuai prosedur, (3) memprediksi suatu campuran yang memiliki sifat-sifat tertentu didasarkan pada konsep yang telah dipelajari, dan (4) mengajukan hipotesis awal mengenai hasil percobaan melalui tafsiran ilmiah (dugaan sementara) diamati pada saat siswa melakukan diskusi menentukan alur kerja yang akan digunakan pada praktikum pengamatan larutan, koloid, dan suspensi. Adapun butir (5) mematuhi prosedur keselamatan kerja, (6) mengecek kebersihan dan kesiapan alat dan bahan sebelum melaksanakan praktikum, (7) menimbang bahan dengan tepat, (8) mengukur volume larutan dengan benar, (9) mencampur bahan, (10) mengamati sifat-sifat campuran dengan teliti, (11) memasukkan campuran berdasarkan pengamatan, (12) membersihkan dan merapikan kembali alat dan meja praktikum diamati ketika siswa melaksanakan praktikum di laboratorium. Laporan siswa
dan diskusi kelompok pada akhir pertemuan siklus I dinilai dengan lembar penilaian KPS siswa pada butir-butir sebagai berikut: (13) mengelompokkan berdasarkan data pengamatan, (14) menganalisis hasil praktikum berdasarkan konsep yang dipelajari, (15) menyimpulkan data dari praktikum yang telah dilaksanakan, (16) menuliskan hasil praktikum pada laporan praktikum dengan sistematika yang benar, (17) mempresentasikan hasil praktikum dengan komunikatif, kreatif, dan menarik, dan (18) mengajukan suatu permasalahan ketika diskusi kelas berlangsung.
4. Refleksi Siklus I
Tahap refleksi merupakan tahap evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan peneliti berkolaborasi dengan guru pengampu. Peneliti bersama guru pengampu mengidentifikasi kekurangan berdasarkan nilai siswa pada setiap indikator KPS untuk memperbaiki proses pembelajaran pada siklus I. Nilai per indikator KPS siklus I ditunjukkan pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Nilai Tiap Indikator KPS Siklus I
Berdasarkan Gambar 4.1, nilai rata-rata tiap butir secara umum sudah cukup baik ditunjukkan oleh dua dari sepuluh indikator memperoleh nilai rata-rata baik (75 ≤ x < 85), tiga indikator
memperoleh nilai rata-rata cukup (65 ≤ x < 75), dan lima indikator
memperoleh nilai rata-rata kurang. Kelima indikator yang mendapat nilai rata-rata kurang yakni: (1) merencanakan percobaan, (2) mengajukan hipotesis, (3) mengamati, (4) mengkomunikasikan hasil, dan (5) mengajukan pertanyaan sehingga dibutuhkan perbaikan.
Rendahnya nilai pada kelima indikator tersebut disebabkan kurangnya pengetahuan siswa dalam membuat bagan alur kerja berdasarkan langkah kerja yang mereka peroleh dan bagaimana seharusnya sebuah hipotesis dirumuskan. Selain itu, siswa merasa takut dan kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Keterangan:
1. Merencanakan percobaan 6. Mengamati
2. Meramalkan 7. Menafsirkan
3. Mengajukan hipotesis 8. Menerapkan konsep
4. Menggunakan alat dan bahan 9. Mengkomunikasikan hasil
Selain mengevaluasi hasil penilaian KPS, peneliti dan guru pengampu juga mengevaluasi aspek kognitif dan afektif siswa. Data analisis hasil pretest dan tes akhir siklus I disajikan pada Tabel 4.2. Adapun data analisis afektif siswa disajikan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.2 Analisis Hasil Pretest dan Tes Akhir Siklus I
Data Pretest Tes Akhir Siklus I
Nilai tertinggi 80 84
Nilai terendah 30 63
Rata-rata nilai 71,86 75,22
Jumlah siswa yang tuntas 21 26
Jumlah siswa yang tidak
tuntas 15 10
Berdasarkan data pada Tabel 4.2, rata-rata nilai dari pretest ke tes akhir siklus mengalami peningkatan dari 71,86 menjadi 75,22. Proporsi ketuntasan pada pretest adalah 52, 78% dan meningkat menjadi 72,22 % pada tes akhir siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan memberikan pengaruh positif pada aspek kognitif siswa.
Tabel 4.3 Analisis Hasil Afektif Siswa pada Siklus I
Kriteria Proporsi Siswa
Sangat Baik 7/36 siswa
Baik 18/36 siswa
Cukup 8/36 siswa
Kurang 3/36 siswa
Sangat Kurang 0/36 siswa
Dari Tabel 4.3 diketahui bahwa 25 siswa aspek afektifnya sudah baik dan 11 siswa masih memerlukan bimbingan dan motivasi tambahan dari guru.
Berdasarkan hasil penilaian pada siklus I rata-rata nilai KPS siswa sebesar 62,89. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai KPS dalam kategori minimal baik kurang dari 70% dan indikator keberhasilan dalam penelitian belum tercapai.
Setelah melakukan refleksi dan berdiskusi dengan guru pengampu, maka rancangan untuk dilakukan pada siklus II agar terjadi peningkatan KPS adalah dengan: (1) memberikan tugas tambahan kepada siswa untuk menggambarkan alur kerja di kertas manila sehingga alur kerja yang dibuat lebih jelas, (2) jelajah pustaka mengenai bagian-bagian
neraca o’hauss dan gelas ukur, (3) jelajah pustaka mengenai perumusan
hipotesis dan ciri-ciri hipotesis yang baik sehingga hipotesis yang dibuat selanjutnya lebih baik, (4) guru memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan daya jelajah mengenai materi dan berani menyampaikan pendapat ketika diskusi kelas berlangsung sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin berkembang.
Tindakan yang direncanakan untuk dilakukan pada siklus II sesuai dengan pendapat Roestiyah (2001: 22), yang menyatakan bahwa dalam
discovery learning siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi. Hal ini juga sesuai dengan yang disampaikan oleh Aktamis & Ergin (2008 : 5), bahwa tujuan dalam pembelajaran sains adalah untuk membuat seseorang menggunakan keterampilan proses sains.
4.1.3 Siklus II
1. Perencanaan Siklus II
Perencanaan siklus II didasarkan pada hasil refleksi siklus I. Perencanaan pada pembelajaran siklus II, dilakukan dengan revisi pada RPP kemudian dilakukan pembelajaran yang sama seperti pada siklus I dengan penekanan pada lima indikator yang nilainya masih rendah. 2. Tindakan Siklus II
Siklus II dilakukan dalam dua pertemuan. Sebelum masuk pada pertemuan pertama siklus II, siswa diberi tugas membuat rancangan praktikum pembuatan koloid lengkap dengan alur kerja yang dibuat pada kertas manila. Selain itu, siswa juga ditugaskan untuk menggambar bagian-bagian neraca o’hauss dan gelas ukur. Siswa juga
melaporkan jelajah pustaka mengenai ciri-ciri hipotesis yang baik dalam penelitian.
Pertemuan pertama dilaksanakan di kelas dengan kegiatan presentasi alur kerja praktikum pembuatan koloid oleh kelompok terpilih. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi menentukan cara kerja yang paling mungkin dilaksanakan dengan bimbingan guru.
Penugasan oleh guru kepada siswa untuk membuat alur kerja di kertas manila memberikan efek positif pada pembelajaran, yakni alur kerja yang dibuat lebih mudah dipahami. Selain itu, kelompok terpilih tidak perlu menggambar kembali alur kerja di papan tulis sehingga waktu yang digunakan lebih efektif untuk berdiskusi.
Jelajah pustaka mengenai ciri-ciri hipotesis yang baik memberikan pengetahuan baru kepada siswa mengenai penyusunan hipotesis. Siswa mendapat pengetahuan baru bahwa hipotesis menggunakan kalimat negatif dan terdapat hubungan antar-variabel dalam hipotesis tersebut.
Berdasarkan hasil diskusi diperoleh suatu rancangan yang digunakan pada kegiatan praktikum. Pada siklus II siswa melakukan praktikum pembuatan koloid secara berkelompok. Pembuatan koloid yang dipraktikkan oleh siswa meliputi pembuatan koloid secara kondensasi dan dispersi. Kelompok praktikum pada siklus II sama dengan siklus I. Pengulangan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya penguatan keterampilan praktikum yang telah dipelajari sebelumnya.
Jelajah pustaka yang dilakukan siswa mengenai bagian-bagian
neraca o’hauss dan gelas ukur menyebabkan pekerjaan siswa lebih teratur dan tidak gaduh. Masing-masing siswa sudah mengetahui cara penggunaan alat dan bahan sehingga suasana kelas lebih kondusif.
Siswa diminta menyampaikan laporan sementara secara lisan setelah siswa selesai melaksanakan praktikum kepada guru. Kemudian guru menunjukkan beberapa hasil percobaan dan memulai diskusi. Setelah diskusi selesai guru memberikan tugas kepada siswa agar menyelesaikan dan mengumpulkan laporan praktikum secara individu pada pertemuan selanjutnya. Selanjutnya dilakukan tes akhir siklus II untuk mengukur aspek kognitif siswa setelah model pembelajaran
3. Pengamatan Siklus II
Tahap pengamatan atau observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan sama seperti pada siklus I. Teknik pengamatan dilaksanakan menggunakan format lembar observasi terstruktur dan teruji, serta penilaian dilakukan oleh tiga observer. Kisi-kisi lembar observasi dikembangkan berdasarkan 10 indikator keterampilan proses sains dalam lingkup materi pokok koloid.
Butir-butir KPS yang meliputi : (1) mampu merancang praktikum sesuai dengan sistematika yang tepat dan jelas, (2) membuat bagan alur kerja yang mudah dibaca dan sesuai prosedur, (3) memprediksi suatu campuran yang memiliki sifat-sifat tertentu didasarkan pada konsep yang telah dipelajari, dan (4) mengajukan hipotesis awal mengenai hasil percobaan melalui tafsiran ilmiah (dugaan sementara) diamati pada saat siswa melakukan diskusi menentukan alur kerja yang akan digunakan pada praktikum pembuatan koloid. Adapun butir (5) mematuhi prosedur keselamatan kerja, (6) mengecek kebersihan dan kesiapan alat dan bahan sebelum melaksanakan praktikum, (7) menimbang bahan dengan tepat, (8) mengukur volume larutan dengan benar, (9) mencampur bahan, (10) mengamati sifat-sifat campuran dengan teliti, (11) memasukkan campuran berdasarkan pengamatan, (12) membersihkan dan merapikan kembali alat dan meja praktikum diamati ketika siswa melaksanakan praktikum di laboratorium. Laporan sementara siswa dan diskusi kelas pada akhir kegiatan praktikum siklus II dinilai dengan lembar penilaian
KPS siswa pada butir-butir sebagai berikut: (13) mengelompokkan berdasarkan data pengamatan, (14) menganalisis hasil praktikum berdasarkan konsep yang dipelajari, (17) mempresentasikan hasil praktikum dengan komunikatif, kreatif, dan menarik, dan (18) mengajukan suatu permasalahan ketika diskusi kelas berlangsung. Butir KPS (15) menyimpulkan data dari praktikum yang telah dilaksanakan, (16) menuliskan hasil praktikum pada laporan praktikum dengan sistematika yang benar diamati setelah siswa menyelesaikan laporan praktikum.
4. Refleksi Siklus II
Tahap refleksi merupakan tahap dimana peneliti mengevaluasi tindakan dengan melihat ketercapaian indikator keberhasilan. Nilai setiap indikator KPS siswa pada siklus II juga diidentifikasi untuk mengetahui apakah solusi pada refleksi siklus I dapat mengatasi kekurangan-kekurangan yang muncul. Nilai per indikator KPS siklus II dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Nilai Tiap Indikator KPS Siklus II
Data yang ditunjukkan oleh Gambar 4.2 menunjukkan adanya peningkatan pada lima indikator yang berada pada kategori kurang di siklus I. Indikator-indikator tersebut adalah : (1) merencanakan percobaan, (2) mengajukan hipotesis, (3) mengamati, (4) mengkomunikasikan hasil, dan (5) mengajukan pertanyaan.
Tugas yang diberikan kepada siswa untuk meningkatkan daya jelajah membuat siswa lebih tertarik dan memahami materi praktikum yang dilaksanakan sehingga berdampak baik pada kemampuan siswa dalam merencanakan percobaan, mengajukan hipotesis, mengamati, dan mengkomunikasikan hasil.
Motivasi yang diberikan oleh guru mampu meningkatkan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat. Siswa menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan berperan aktif dalam pembelajaran.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Keterangan:
1. Merencanakan percobaan 6. Mengamati
2. Meramalkan 7. Menafsirkan
3. Mengajukan hipotesis 8. Menerapkan konsep
4. Menggunakan alat dan bahan 9. Mengkomunikasikan hasil
Berdasarkan data hasil observasi, diperoleh rata-rata nilai KPS siswa adalah 76,17. Dari data tersebut diketahui 75% atau sebanyak 27 dari 36 siswa mendapat nilai lebih dari sama dengan 75 dan berada pada kategori minimal baik. Hal ini berarti indikator keberhasilan dalam penelitian telah tercapai.
Selain mengevaluasi hasil penilaian KPS, peneliti dan guru pengampu juga mengevaluasi aspek kognitif dan afektif siswa. Data analisis tes akhir siklus II dan post-test disajikan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Analisis Hasil Tes Akhir Siklus II dan Post-test
Data Tes Akhir
Siklus II
Post-test
Nilai tertinggi 92 91
Nilai terendah 67 70
Rata-rata nilai 79,77 80
Jumlah siswa yang tuntas 34 31
Jumlah siswa yang tidak tuntas 2 5
Berdasarkan data pada Tabel 4.4, proporsi ketuntasan tes akhir siklus II dan post-test sekurang-kurangnya 85%. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kognitif telah mencapai ketuntasan klasikal dan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dengan scientific approach memberikan pengaruh positif bagi kemampuan kognitif siswa.
Hasil identifikasi nilai KPS, tes akhir siklus II, dan ulangan harian siswa dapat disimpulkan bahwa kekurangan-kekurangan pada siklus I dapat diatasi dengan baik dan indikator keberhasilan PTK sudah tercapai pada siklus II.
4.2 Pembahasan
Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas adalah melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa melalui sejumlah tindakan yang dirancang sebaik-baiknya. Untuk mencapai perbaikan dan peningkatan kualitas secara maksimal, rumusan tindakan itu tidak cukup hanya dilakukan satu kali saja melainkan bersiklus secara spiral. Jumlah siklus yang muncul pada penelitian tindakan kelas tergantung pada tingkat ketercapaian perbaikan dan peningkatan kualitas. Ketika indikator keberhasilan yang dipatok sudah tercapai, maka siklus penelitian dapat dihentikan (Elfanany, 2013: 98). Pada penelitian ini karena pada siklus I indikator keberhasilan belum tercapai, maka tindakan dilanjutkan ke siklus II dengan beberapa perbaikan dari siklus I. Pada siklus II indikator keberhasilan sudah tercapai, maka siklus pada penelitian ini dihentikan pada siklus II.
Berdasarkan proses tindakan yang dilaksanakan dalam dua siklus tersebut, dapat diidentifikasi peningkatan nilai KPS siswa dari nilai rata-rata kelasnya. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus I sebesar 62,89 dan siklus II sebesar 76,17. Hasil perhitungan diperoleh peningkatan rata-rata nilai KPS siswa sebesar 13,28 %.
Data yang diperoleh dari penilaian tiap siklus menunjukkan nilai KPS siswa pada siklus I dan siklus II berdistribusi normal sehingga analisis data yang digunakan adalah analisis statistika parametrik. Berdasarkan uji peningkatan menggunakan uji t dengan derajat kebebasan 5% dan dk = 35,
diperoleh peningkatan yang signifikan dari nilai KPS pada siklus I ke siklus II. Hal ini sesuai dengan pernyataan diFuccia (2012 : 64), bahwa praktikum yang dilakukan secara berkelanjutan dimana pengembangan kurikulum sains dikembangkan berdasarkan kegiatan praktikum dan penilaian didasarkan pada proses aktivitas siswa mampu meningkatkan keterampilan praktikum siswa. Peningkatan nilai KPS juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Oloyede (2010) dan Balim (2009), yang menyatakan bahwa guided discovery mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam kimia.
Guru mengidentifikasi peningkatan nilai KPS siswa pada setiap indikator KPS. Identifikasi nilai setiap indikator KPS bertujuan untuk mengetahui kekurangan pembelajaran dan langkah perbaikannya agar indikator keberhasilan tercapai. Peningkatan nilai per indikator KPS pada siklus I dan II dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Peningkatan Nilai Tiap Indikator KPS Pada Siklus I dan II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keterangan:
1. Merencanakan percobaan 6. Mengamati 2. Meramalkan 7. Menafsirkan 3. Mengajukan hipotesis 8. Menerapkan konsep 4. Menggunakan alat dan bahan 9. Mengkomunikasikan hasil 5. Mengelompokkan 10. Mengajukan pertanyaan
Dari Gambar 4.3, ditunjukkan bahwa peningkatan yang tinggi terjadi pada indikator merencanakan percobaan, meramalkan, dan mengajukan hipotesis. Indikator ini meningkat karena siswa mulai terbiasa untuk melakukan jelajah pustaka dan memahami pembuatan diagram alur kerja. Selain itu, siswa juga mengetahui perumusan hipotesis yang baik setelah mendapat masukkan dari guru untuk mencari informasi mengenai perumusan hipotesis.
Indikator menggunakan alat dan bahan, mengamati, mengelompokkan, dan menerapkan hasil tidak mengalami peningkatan yang terlalu tinggi karena menurut guru pengampu indikator-indikator tersebut adalah indikator yang dinilai pada tahap pelaksanaan praktikum yang memerlukan pembiasaan untuk meningkatkannya. Namun, peningkatan ini dinilai baik karena dapat dicapai dalam dua siklus.
Indikator nilai KPS secara keseluruhan menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dengan scientific approach efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Penjelasan mengenai keberhasilan penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan piramida belajar pada Gambar 4.4 yang disampaikan Dale dalam Ambarjaya (2012: 115), bahwa dalam pembelajaran discovery learning dengan scientific approach siswa melakukan beberapa kegiatan sekaligus yang terdapat dalam piramida belajar. Kegiatan jelajah pustaka adalah kegiatan dalam bentuk verbal, kegiatan diskusi kelompok sebagai pembelajaran dalam bentuk partisipasi, dan melakukan eksperimen sebagai bentuk melaksanakan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat meningkatkan pencapaian dalam pembelajaran. Selain itu ilmu dikembangkan atas dasar bukti
dan yang paling utama bukti tersebut diperoleh melalui percobaan yang dilakukan dengan hati-hati (Reid, 2008: 53).
Gambar 4.4 Piramida Belajar atau Efektivitas Model Pembelajaran (Ambarjaya, 2012: 115 ) Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains siswa meningkat secara signifikan setelah penerapan model pembelajaran
discovery learning dengan scientific approach. Peningkatan tersebut terjadi karena model pembelajaran discovery learning berlandaskan pada teori-teori belajar konstruktivis (Anyafulude,2013: 2). Menurut pandangan kostruktivisme, belajar adalah proses aktif siswa dalam mengonstruksi arti, wacana, dialog, dan pengalaman fisik dimana di dalamnya terjadi proses asimilasi dan
menghubungkan pengalaman atau informasi yang sudah dipelajari (Rifa’i & Anni,
2011: 199). Selain itu, scientific approach yang digunakan dalam pembelajaran menyebabkan pengetahuan yang diperoleh siswa lebih bermakna karena pengetahuan tersebut diperoleh melalui kegiatan proses mengamati, menanya,
mencoba atau mengumpulkan data dan atau informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan (Kemendikbud, 2013: 5).
Penelitian dengan keberhasilan tindakan yang telah tercapai bukan berarti penelitian berlangsung tanpa adanya kendala. Berdasarkan evaluasi dari peneliti, kendala yang muncul berasal dari kondisi siswa dan fasilitas sarana dan prasarana di sekolah.
Siswa yang tidak terbiasa mengenal alat-alat di laboratorium dengan benar menyebabkan siswa kesulitan dalam melaksanakan praktikum sesuai rancangan praktikum. Siswa belum dapat membedakan alat-alat laboratorium kimia yang