• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prakondisi yang Dibutuhkan

BAB III PENATAAN KELEMBAGAAN DAN

C. Prakondisi yang Dibutuhkan

1. Pemikiran akan pentingnya mengikutsertakan berbagai pihak yairtu pemerintah, masyarakat, petani dan swasta (PMS) melalui proses musyawarah dalam menyelesiakan berbagai permasalahan petani. Terbukanya ruang publik ini, dimana didalamnya ada komunikasi timbal balik dan interaksi sosial berbagai pihak terutama para petani. Persoalan selama ini kelompok kelompok tani aatau para petani baru dilibatkan ketika muncul masalah. Oleh karena itu, pelibatan petani seharusnya sejak tahapan isu kebijakan, masalah kebijakan, dan implementasi kebijakan, sehingga tindakan peme-rintah dan petani mendapat legitimasi.

2. Kondisi yang kondisional artinya penyelesaian masalah dapat bersifat linier atau lingkaran, bisa dari isu kebijakan, masalah dan formulasi. Sebaliknya dari formulasi jika ada masalah konflik dapat direkronstruksi dari memahami isi-isu kebijakan. Sehinggga diharapkan model ini tidak hanya dapat diinisiasikan oleh pe-merintah, melainkan kelompok-kelompok sosial yang tumbuh cepat di era reformasi dewasa ini.

3. Model ini mengetengahkan empat variabel ekonomi-politik utama yang seringkali menimbulkan ketegangan sosial-politik yaitu; aktor, kepentingan,basis sosial,dan sumberdaya. Sepanjang yang penulis ketahui, belum ada model formulasi kebijakan publik yang meng-gunakan variabel-variebel sosial-politik tersebut.

Prakondisi penataan kelembagaan dan pemberdayaan petani didasarkan pada sudut pandang kemitraan. Adapun tahapan kemitraan yang sederhana digambarkan dengan baik oleh Jeff Campbell (1999) adalah sebagai berikut:

1. Harus duduk dan bicara bersama. Kedengarannya sederhana, tapi kadang-kadang kita tidak bicara bersama, ada satu pihak yang bicara dan ada pihak yang hanya mendengarkannya, ada pihak yang menawarkan dan ada pihak yang setuju. Contoh yang baik di keluarga.

2. Membuka hati dan menciptakan rasa saling percaya. Apabila melihat sejarah, ada sejarah yang tidak enak, tapi itu harus dihilang-kan.

3. Mencoba saling mengerti dan menghormati, bukan hanya untuk pejabat

4. Tukar menukar impian dan bayangan, biasanya sampai sekarang pembangunan dimulai dari masalah. Tapi sekarang dibalik, kita mulai dengan bayangan apa yang kita harap dari untuk anak-anak. 5. Tukar menukar informasi. Ini sukar sekali dalam dalam prakteknya,

misalnya apabila ada aturan baru apakah disebarluaskan. 6. Mencari kesamaan dan ketidaksamaan secara damai. Maksudnya

harus ada pengakuan dimana ada isu-isu yang beda, dan didiskusi-kan dan diakui secara terbuka. Sementara ini ada kebiasaan yang mendasar bahwa kita harus menyamakan pendapat dan kalau ber-beda justru diabaikan.

7. Mencari Kesepakatan yang minimal. Pasti ada beberapa hal yang sama, cari itu pada tahap awal.

penting diakui dulu, setelah diakui baru kita bias bicara, kadang-kadang ada persepsi bahwa ini adalah tujuan jelas, ini sudah ada peraturan, seharusnya semua orang sudah mempunyai persepsi yang sama, dan ada istilah sosialisasi yang berarti supaya orang lain berfikir sama seperti kita, tapi bukan belajar bersama dan melihat perbedaan persepsi dan mengakuinya.

9. Merubah ketidaksamaan yang gampang diubah. Kalau ada per-bedaan yang sifatnya kecil-kecil itu harus diubah.

10. Selalu mencoba bernegosiasi dan kompromi. Dengan era refor-masi, pemerintah baru sekarang siap bernegosiasi dan berkom-promi, termasuk melihat kembali peraturan.

11. Mulai dengan beberapa kegiatan sederhana secara bersama. Ha-rus ada kegiatan yang membuktikan bahwa ini kemitraan yang benar.

12. Sering bertemu dan sering berbicara bersama. Kita kadang-kadang apabila kita sudah duduk bersama satu atau dua kali maka kita sudah cukup, padahal perubahan selalu terjadi. Kita harus selalu adaftif dengan keadaan yang sekarang.

13. Memantau kegiatan berdasarkan indicator yang disetujui bersama. Biasanya indikator hanya satu pihak yang tahu. Mengakui indicator yang berbeda. Misalnya di TN ada kepentingan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, mungkin dari kepentingan masyarakat ada yang lagi, misalnya untuk menacari kayu bakar, jamu dsb. Tapi indicator bersama harus dipantau terus.

Bab IV

ALAT DAN

TINDAKAN PENATAAN

A. Model Kelembagaan dan Pemberdayaan Petani

Tindakan penataan kelembagaan dan pemberdayaan petani terdiri dari dua tahap dengan mengikutsertakan para pihak yaitu petani, Pelaku usaha/swasta; dan pemerintah. Adapun kedua tahap tersebut adalah sebagai berikut: pertama, kerangka dasar yang terdiri dari isi isu kebijakan, masalah, formulasi dan legitimasi kebijakan. Pada tingkat isi kebijakan keterlibatan kelompok tani sudah intens dilakukan. Semakin beragam kelompok sosial yang ikut semakin terbuka ke-mungkinan perubahan akan kesadaran pentingnya pengelolaan masalah.

Secara empirik, pada tingkat isu kebijakan ini meskipun beragam nilai yang ditawarkan namun seringkali didapatkan konsensus. Pada batas-batas tertentu memang dibutuhkan kemampuan menanamkan pengaruh dan setiap kelompok masyarakat biasanya ada yang ber-pengaruh. Tahapan ini menentukan tahapan masalah kebijakan, isu kebijakan dapat sama namun masalah yang dimunculkan sangat be-ragam. Hal ini sangat tergantung sudut pandang yang dipakai. Singkat kata, isu dapat sama namun masalahnya dapat berbeda. Secara

Bab IV

empirik, inilah sumber konflik sosial-politik yang utama dewasa ini di tingkat lokal. Model-model kelembagaan petani harus dilibatkan sejak tahapan isu kebijakan, masalah kebijakan, dan formulasi kebijakan. Sehingga tindakan pemerintah menjadi tindakan bersama dalam me-ngelola masalah petani.

Para pihak yang terkait petani, swasta, dan pemerintah terlebih dahulu diidentifikasi apa yang menjadi tujuan dan kepentingannya. La-ngkah ini mengasumsikan para aktor adalah individu atau institusi yang berupaya memaksimalkan utulitas, dan melakukan perhitungan keuntu-ngan dan kerugian sebaik-baiknya dalam mencapai tujuan. Aktor-aktor tersebut baik yang berasal dari kalangan pemerintah seperti PPL, Penghulu/Kepala Desa, Kepala-Kepala Dusun, Kerani, BPD. Mau-pun kelompok-kelompok sosial lainnya misalnya kalangan Perusahaan pengembang kebun sawit.

Para pihak yang terkait dalam pengelolaan kelembagaan dan pemberdayaan petani memiliki, preferensi masing-masing mengenai tindakan pengelolaan SISKA. Sebagaimana diketahui bahwa terdapat setidaknya empat pola kebijakan pengembangan kelapa sawit yakni Pola ; Perkebunan Besar Swasta, Perkebunan Besar Negara, Perke-bunan Rakyat, Perusahaan Inti Rakyat (PIR), dan perkePerke-bunan K2I. Dari lima pola tersebut dalam pelaksanaannya terdapat paling tidak empat isu utama, yaitu pertanahan, lapangan kerja, teknologi, dan lingkungan.

Dalam menentukan pilihan-pilihan terhadap penanganan isu-isu ini para pihak digambarkan sebagai pihak yang suka pada pola yang dapat memaksimalkan keuntungannya. Mendiskripsikan bagaimana para aktor berkoalisi dalam mencapai tujuan. Koalisi ini dilakukan dalam rangka memperkuat daya tawar terhadap kelompok lain. Para pihak terkait mengkrompomikan kepentingannya dengan pihak atau kelompok lainnya. Langkah ini antara lain bertujuan untuk men-dapatkan dukungan dalam memperkuat koalisi. Dalam kasus pemba-ngunan SISKA di Riau. Kelompok yang “mendukung” perolehan “hasil” kelapa sawit baik yang berasal dari kalangan pemerintah Daerah

maupun swasta melakukan konsolidasi. Tujuannya agar dapat me-yakinkan pihak yang menolak “rejeki” pembangunan kelapa sawit pada akhirnya dapat menerima.

Para pihak terkait misalnya petani, swasta, pemerintah atau PPL dalam memperjuangkan kepentingannya, para pihak ini dipengaruhi oleh pendekatan yang dipakai dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok sosial lainnya. Apakah memakai pendekatan “bergaining”, “persuasi”, atau “komando”, pihak yang responnya “mendukung” pembangunan perkebunan kelapa sawit baik dari Pemerintah Daerah maupun Swasta mempunyai sumber daya ekonomi-politik besar ber-kemungkinan melakukan tawar menawar atau “tekanan” kepada pihak atau kelompok yang responnya “menolak” kebijakan atau “hasil” per-kebunan kelapa sawit yang diperoleh masyarakat Riau.

Gambar 4.1 Strategi Kelembagaan dan Pemberdayaan Petani Penataan kelembagaan dan pemberdayaan petani memiliki tiga inti gagasan penjaringan:

1. Jika aspirasi mengandung unsur-unsur yang terdiri dari para aktor, kepentingan, basis sosial/institusional, dan sumberdaya. Maka har-monisasi perilaku pemerintah, masyarakat, dan swasta (PMS) da-pat diselaraskan.

2. Interaksi pengelompokan PMS merupakan bagian yang terinteg-rasi dalam setiap tahapan formulasi yang terdiri dari ISU, MASA-LAH, dan LEGITIMASI penerapam penataan kelembagaan dan pemberdaayaan petani ini sangat kondisional dapat bersifat linier atau lingkaran artinya bisa dari isu kebijakan, masalah dan for-mulasi. Sebaliknya dari formulasi jika ada masalah konflik dapat direkronstruksi dari memahami isi kebijakan, sehinggga diharapkan model ini tidak hanya dapat diinisiasikan oleh pemerintah, melainkan

ISU  MASALAH  IDIOLOGI DAN 

kelompok-kelompok sosial yang tumbuh cepat di era reformasi dewasa ini.

Sumber: Anwar, 2013

Gambar 4.2. Model Kelembagaan dan Pemberdayaan Petani

B. Peranan Pemerintah, Pelaku Bisnis, dan Masyarakat

Selaras riset Rozaki di atas, riset yang dilakukan Sulistyani layak diketengahkan guna mempertajam konsep pemberdayaan Masyarakat (terutama petani). Menurut Sulistyani (2017) dalam rangka pember-dayaan masyarakat miskin (petani) perlu dirancang kontribusi masing-masing aktor, yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat sehingga ter-bentuk model kemitraan yang diharapkan. Rancangan peran ketiga aktor tersebut tampak pada tabel berikut ini:

            ‐ AKTOR    ‐ KEPENTINGAN    ‐ BASIS SOSIAL    ‐ SUMBERDAYA      TAHAP (2)  TAHAP (1)  TAHAP (3)  umber: Anwar,2013. SKILL  MOTIVASI  IDIOLOGI &  TEKNOLOGI  EVALUASI    KELOMPOK :    ‐PEMERINTAH    ‐MASYARAKAT    ‐SWASTA 

Tabel 4.1. Peran Tiga Aktor dalam Pemberdayaan Masyarakat

Sumber: Sulistyani, 2017: 97-98

Masih menurut Sulistiyani bahwa berdasarkan pemetaan tiga aktor dalam table d iatas, pemerintah lebih banyak berperan pada penentuan rambu-rambu dan aturan main secara umum. Peran pemerintah yang paling menonjol sesungguhnya terletak pada peran pengambilan kepuitusan dan pendanaan. Namun mengingat adanya kemungkinan terjadi sengketa di dalam perjalanan pembangunan tersebut maka diperlukan peran mediasi,terutama untuk mengontrol peran swasta supaya berjalan wajar tidak merugikan masyarakat. Selanjtnya, swasta mempunyai ;peran lebih banyak pada implementasi peraturan langkah/policy action bersama masyarakat.

Peran swasta dalam implementasi kebijakan pemberdayaan masyarakat juga mencakup kontribusi dana melalui investasi swasta yang bermanfaat untuk mendukung proses pemebrdayaan masyarakat. Lebih jauh Sulistiayani menjelaskan bahwa peran masyarakat dalam konteks pemberdayaan diberikan dalam bentuk partisipaasi baik pada level komunitas, implementasi, monitoring maupun evaluasi.Tinggi rendahnya partisipasi yang diberikan akan berdasarkan pada tingkat keberdayaan yang dilimiki oleh masyarakat,dan kemampuan

Aktor Peran dalam

pemberdayaan

Bentuk Output peran Fasilitasi

Pemerintah Formulasi dan Penetapan

policy. Implementasi

Monitoring dan Evaluasi Mediasi

Kebijkaan Politik, Umum, Khusus/Departemental/Sektoral Penganggaran, Juknis dan Juklak, penetapan indikator keberhasilan. Peraturan Hukum, penyelesaian sengketa

Dana, jaminan, alat, teknologi, network, system manajemen informasi, edukasi Swasta Kontribusi pada formulasi,

implementasi, Monitoring dan evaluasi

Konsultasi & Rekomendasi kebijakan, tindakan dan langkah/policy action implementasi, donator, private

investment pemeliharaan

Dana, alat, teknologi, tenaga ahli dan sangat terampil

Masyarakat Partisipasi dalam formulasi, Implementasi, monitoring dan Evaluasi

Saran, input, kritik, rekomendasi, Keberatan dukungan dalam formulasi kebijakan. Policy

action, dana swadaya Menjadi

objek, partisipan, pelaku utama/subjek. Menghidupkan fungsi sosial control

Tenaga terdidik, tenaga terlatif, setengah terdidik dan Setengah terlatih

pemahaman pada setiap level dalam proses kebijakan publik. Di Riau, tingkat keberdaayaan sesuai dengan bentuk kegiatan ekonomi masyarakat. Menurut Mubyarto (1995) bentuk ekonomi masyarakat Riau terbagi kepada tiga subsistem, yaitu: subsitem eko-nomi moderen sepertii perkebunan besar, subsistem ekoeko-nomi tradisional agraris tradisional sepertii perkebunan kecil, dan subsistem ekonomi penduduk asli Riau daratan seperti orang sakai,talang mamak ,suku laut. Masyarakat dalam sub-sistem ekonomi modren tingkat keberdayaan ekonomi jauh lebih baik daripada kelompok masyarakat dalam sub-sistem ekonomi tradisional. Dalam kondisi seperti itu, di Riau terjadi pertumbuhan yang tidak seimbang antara perkebunan besar kelapa sawit dengan perkebunan kelapa sawit rakyat.

Dalam kaitan dengan revitalisasi perternakan,menurut Daryanto (2017) dapat dilihat dalam dua aras yaitu: a) aras makro yang mem-fokuskan pada domain aturan main (rules of the games). Aturan main ini pada dasarnya akan mempengaruhi tatanan perilaku dan kinerja dari para pelaku yang terlibat dalam proses transaksi dan; b) aras mikro yang lebih memfokuskan pada institusional arrangement, sebagai upaya mengatur antar unit sosial-ekonomi mengenai cara-cara be-kerjasama dan berkompetisi di antara anggotanya dalam mencapai tujuan.

Selanjutnya Daryanto menjelaskan bahwa pemahaman akan makna institusi ini menjadi penting artinya karena aktivitas di ektor peternakan baik dalam produksi, distribusi dan konsumsi melibatkan banyak pihak yang berkepentingan. Hambatan yang sering dijumpai (pemberdayaan) di sektor peternakan adalah upaya untuk meng-akomodasikan berbagai kepentingan yang seringkali bertentangan satu dengan yang lainnya. Salah satu kunci sukses keberhasilan program revitalisasi pembangunan peternakan terletak sejauhmana kita akan melakukan penguatan kelembagaan.

Selaras dengan penelitian di atas, Elizabeth (2007) melakukan riset penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung

pengembangan agribisnis kedelai. Menurut Elizabeth lembaga di pedesaan lahir untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakatnya. Sifatnya tidak linier, namun cenderung merupakan kebutuhan individu anggotanya berupa: kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman (safe), kebutuhan hubungan sosial (social affiliattion), pengakuan (esteem), dan pengembangan pengakuan (self actualization). Manfaat utama lembaga adalah mewadahi kebutuhan salah satu sisi kehidupan sosial masyarakat, dan sebagai social control, sehingga setiap orang dapat mengatur perilakunya menurut kehendak masyarakat.

Lebih jauh Elizabet (2007) menjelaskan bahwa lembaga yang ada sekarang berkembang di pedesaan merupakan lembaga modern, karena umumnya telah memiliki: 1) struktur dan tata nilai yang jelas; 2) telah diformalkan (dengan terdapatnya kepastian anggota dan proses pelaksanaan); 3) adanya aturan tertulis dalam anggaran dasar dan rumah tangga; 4) adanya kepemimpinan yang resmi; dan 5)biasanya sengaja dibentuk karena tumbuhnya kesadaran pentingnya keberadaan lem-baga tersebut.

Selaras dengan penelitian di atas, Sutoro Eko (2013) meneliti pembangunan dan kesejahteraan di pedesaan. Menurut Sutoro bahwa inkulisifitas daerah banyak ditentukan oleh proses pelembagaan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Demikian pula, Amin Tohari (2013) menunjukkan bahwa perangkap demokrasi populer dan liberal memang tidak memikirkan persoalan kesejahteraan. Karena itu kita harus keluar dari perangkap demokrasi minimalis tersebut dan melakukan pemberdayaan,basis empiris masyarakat argraris terletak pada penguasaan tanah dan ternyata konflik penguasaan tanah memiliki kaitan erat dengan kelembagaan demokrasi.

Berbagai studi diatas pada dasarnya memfokuskan diri pada isu pemberdayaan pembangunan ekonomi dan kebijakan perkebunan. Penelitian yang diusulkan ini fokusnya pada strategi pemberdayaan di tingkat lokal yang menggunakan isu kebijakan SISKA yang diterapkan di kebun swadaya sebagai pintu masuk. Studi mengenai pemberdayaan petani selama ini tidak mengkaitkannya dengan persoalan politik lokal.

Konseptualisasi yang diajukan para kaum pluralis diatas sudah di-kualifikasi oleh teori “group politics”, dan “local politics” dan bisa dipakai untuk merumuskan kerangka teoritik pemberdayaan petani swadaya pola SISKA di Riau.

C. Strategi Pemberdayaan Petani

Strategi pemberdayaan petani era reformasi berbeda dengan sebelum reformasi. Jika sebelum 1998, pemberdayaan petani terfokus pada lembaga-lembaga petani di desa. Sesudah 1998, pemberdayaan petani hendaknya mengarah kepada kepentingan petani yaitu, bagaimana membangun struktur yang dapat menjamin mengatasi masalah Pasar Input, Pasar Output dan Pasar Konsumsi para pe-tani. Proses kelembagaan ini menekankan kepada langkah membangun struktur penopang pemberdayaan. Tujuannya adalah agar petani memiliki akses (berdaya) dalam proses kebijakan di tingkat lokal. Proses pemberdayaan ini dimulai dari langkah pertama, Pemkab melakukan komunikasi terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Proses komunikasi ini dimasudkan untuk memperkuat iden-tifikasi terhadap berbagai kepentingan petani misalnya pupuk,bibit sapi sarana dan prasaran pendukung lainnya. Legitimasi DPRD penting dalam memformulasikan, mengimplementasikan, dan evaluasi regulasi pemberdayaan. Materi yang harus diketahui oleh para politisi adalah isu-isu strategis baik yang berdampak lokal, nasional, dan global. Isu-isu ini diperbincangkan dan diperdebatkan di tengah-tengah masya-rakat. Pemetaan terhadap isu-isu strategis menjadi bahan untuk me-ngidentifikasi kebijakan.

Langkah kedua,sosialisasi bagi pelaku Bisnis (perusahaan). Tujuannya adalah agar para petani mendapatkan akses/jaringan pemasaran lebih luas dalam berusaha. Pada umumnya, program-program pemberdayaan perusahaan perkebunan lebih duluan dikem-bangkan ditengah-tengah masyarakat. Sosialisasi yang disampaikan ini dimaksudkan untuk memperkuat identifikasi terhadap berbagai

kepentingan petani dalam pemberdayaan. Sosialisasi kepada para pelaku bisnis mengacu pada dokumen yang sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama yaitu visi dan misi pemerintah Daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). RPJMD tertuang dalam Kebijakan, program, kegiatan dalam rentang waktu lima tahun. RENSTRA Dinas peternakan. Langkah ketiga, Sosialisasi dan Diskusi publik terhadap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Sosialisasi SKPD ini dimaksudkan untuk memper-kuat identifikasi terhadap unsur-unsur kepentingan petani meliputi; bibit sapi, pemasaran dan konsumsi petani. Setiap masalah itu diidentifikasi isu kebijakan (hal-hal yang dipandang sebagai kebutuhan petani), ma-salah kebijakan dan formula kebijakan itu sendiri.

Substansi materinya adalah: Pertama; materi yang harus diketahui oleh para satuan kerja adalah isu-isu strategis baik yang berdampak lokal, nasional, dan global. Isu-isu ini diperbincangkan dan diperdebat-kan di tengah-tengah masyarakat. Pemetaan terhadap isu-isu strategis menjadi bahan untuk mengidentifikasi masalah-masalah petani. Adapun cara kerja yang dipakai dalam diskusi adalah tatap muka, wawancara,

Focus Group Discusion, diskusi kelompok, dilanjutkan dengan

ce-ramah. Metode yang paling tepat untuk para SKPD adalah metode tukar pengalaman, FGD, seminar dan loka karya. Foto, gambar, ani-masi, brosur, liflet, materi yang su-dah dimasukan dalam power point, lap-top, LCD dan Listrik, konsultasi publik (ditempat tertutup/terbuka), materi yang telah ditulis sebagai bahan diskusi,dan table matrik berisikan pertanyaan penuntun.

Langkah ketiga, sosialisasi dan diskusi kepada Para Camat, Ke-pala Desa dan PPL yang berpusat pada profesionalisme kinerja birokrasi. Bahan sosialisasi ini dimasudkan untuk memperkuat iden-tifikasi terhadap upaya mengatasi berbagai kepentingan petani yang sudah disepakati dengan DPRD dan SKPD. Struktur pemerintah Desa dan PPL diharapkan dapat mendukung kegiatan-kegiatan pember-dayaan petani. Oleh karena itu kebijakan, program, kegiatan dan

pendanaan dan stndar operasional prosedur (SOP) pemberdayaan dapat tersosialisasikan dengan baik di tingkat PPL. Secara teknis struktur inilah yang menjadi ujung tombak berbagai kegiatan pem-berdayaann kelemgaan bagi petani. PPL diharapkan tidak lagi bekerfja sendiri dalam melakukan kegiatan penyuluhan dan pembinaan kepada petani. Pada akhirnya para petani benar-benar berdaya dalam mem-buat keputusan dan mendapatkan akses dalam proses kebijakan di Daerah.

D. Ilustrasi Penataan Kelembagaan

1. Identifikasi para Pihak

Identifikasi terhadap para aktor dalam penataan kelembagaan dan pemberdayaan program integarsi sapi-kelapa sawit di Riau diperlukan upaya mengelompokkan para pihak yang bertindak sesuai dengan posisi dan kewenangannya yaitu, para elit yang bersifat men-dukung, menolak, dan menerima dengan syarat kebijakan. Dinamika respon para pihak tersebut sangat menentukan karakteristik regulasi, lembaga dan mobisasi sumberdaya dalam percepatan pembangunan ekonomi lokal di Riau.

Identifikasi dilakukan kepada Pertama, kelompok mendukung yang diwakili Dinas peternakan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA), Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa dan para penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Para aktor masa reformasi ini, memperebutkan kendali atas kebijakan integrasi sapi- kelapa sawit dan secara individual atau terlembaga misalnya tidak hanya bertumpu pada asumsi mengejar devisa, melainkan termotivasi juga mengejar target Pajak Bumi Bangunan (PBB), lahan Hak Guna Usaha (HGU), dukungan suara dalam pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkada-L) seperti yang diungkapkan oleh salah seorang informan. Dalam era reformasi ini sarana, basis dukungan, dan aktor yang berkompetisi semakin kompleks dan tumpang tindih

Dalam kaca mata Pemda Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Kampung/Desa bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan SDA daerah yang harus dikelola secara berkelanjutan. Namun potensi perkebunan sawit ini belum sepenuhnya teroptimalkan baik oleh masyarakat maupun pemerintah itu sendiri. Selama ini hasil yang diperoleh hanya mempunyai nilai pada tandan buah, sementara rumput, pelepah, dan daunnya masih menjadi limbah. Oleh karna itu Pemerintah Kabupaten menerapkan Sistem Integrasi Sapi - Kelapa Sawit untuk mengoptimalkan potensi perkebunan sawit tersebut.

Sejumlah informan kembali berpendapat bahwa Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit merupakan perpaduan antara manajemen perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi. Perkebunan kelapa swit dikelola agar hasil samping tanaman terutama pelepah dapat tersedia sepanjang hari untuk pakan sapi yang dimanfaatkan sebagai pengendali rumput/gulma sekitar perkebunan sawit, pengangkut buah sawit dan penghasil kotoran sebagai pupuk organik dan biogas. Bagi Pemerintah Kabupaten, program SISKA merupakan salah satu usaha program percepatan swasembada daging sapi selain sebagai peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Usaha untuk mensejahterakan mas-yarakat merupakan fokus utama pemerintah yang memanfaatkan potensi lokal.

Kedua, kelompok menerima dengan syarat yang diwakili Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Riau. DPRD sebenarnya mem-punyai kekuasaan politik yang sangat besar sebagai representasi dari seluruh rakyat yang diplih melalui Pemilu legislatif (Pileg). Kedaulatan masyarakat lokal menguat setelah diterapkannya desentralisasibagi aktor yang menerima dengan syarat kebijakan integrasi sapi-sawit berpendapat bahwa dalam menerapkan program ini diperlukan pe-ngawasan dilakukan oleh DPRD. Menurut informan ini bahwa DPRD melakukan pengawasan pada tahap penganggaran dan distribusi sapi, sementara untuk redistribusi yang dilakukan oleh pemerintah bukan lagi menjadi domain kami. Oleh karena gaduhan ternak ini sifatnya

Dokumen terkait