• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktek Pembelian dan Penjualan

Dalam dokumen bisnis dalam pengembangan (Halaman 85-89)

6.4. Perilaku Pasar

6.4.1. Praktek Pembelian dan Penjualan

Petani cabai merah di Desa Cibeureum yang menjadi responden dalam penelitian ini menjual seluruh hasil panennya kepada pedagang pengumpul. Panen cabai merah dapat dilakukan setiap minggu setelah 3 bulan MST (Masa Setelah Tanam). Produksi rata-rata cabai merah petani sebanyak 59,52 kilogram per 1.000 m2 setiap kali panen. Dengan adanya perbedaan masa tanam cabai merah setiap petani, cabai merah dapat dihasilkan setiap hari. Berdasarkan data yang diperoleh dari pedagang pengumpul, petani cabai merah di Desa Cibeureum mampu menghasilkan cabai merah sebanyak 3.000 kilogram per hari.

Sistem penjualan yang dilakukan oleh petani tersebut adalah dengan menggunakan nota penjualan. Pedagang pengumpul mengambil sendiri hasil panen petani di lahan petani sehingga petani hanya menanggung biaya panen, sedangkan biaya pengangkutan ditanggung oleh pedagang pengumpul. Petani hanya menyalurkan hasil panennya kepada pedagang pengumpul, karena petani merasa risiko yang ditanggungnya lebih rendah, seperti risiko tidak laku terjual dan risiko pembebanan biaya pengangkutan menjadi tidak ada.

6.4.1.2 Praktek Pembelian dan Penjualan di Tingkat Pedagang Pengumpul Sistem pembelian yang dilakukan oleh pedagang pengumpul sama dengan sistem penjualan yang dilakukan oleh petani. Pedagang pengumpul mendatangi lahan petani untuk mengambil hasil panen yang telah dilakukan oleh petani. Selain dari petani cabai merah yang ada di Desa Cibeureum, pedagang pengumpul juga melakukan pembelian dengan pedagang pengumpul lainnya yang membawa cabai merah dari luar Desa Cibeureum. Proporsi pembelian yang dilakukan oleh pedagang pengumpul dari petani lebih banyak dibandingkan dengan pedagang pengumpul lainnya. Sumber pembelian dari petani rata-rata sebanyak 3.000 kilogram per hari (85,71 persen), sedangkan sumber pembelian dari pedagang pengumpul lainnya hanya sebanyak 500 kilogram per hari (14,29 persen). Dalam analisis tataniaga cabai merah ini yag dilihat adalah sumber pembelian dari petani karena proporsinya relatif lebih besar dan dilakukan secara berkesinambungan.

Sebagian besar penjualan langsung dilakukan kepada pedagang grosir, yaitu Pasar Induk Caringin Bandung (70 persen), Pasar Senen (20 persen), dan Pasar Induk Kramat Jati Jakarta (10 persen). Pedagang pengumpul mengirim cabai merah ke Pasar Induk Caringin, sehingga biaya pengangkutan ditanggung oleh pedagang pengumpul. Sebaliknya, Pasar Senen dan Pasar Induk Kramat Jati mengambil sendiri cabai merah ke tempat pedagang pengumpul, sehingga biaya angkutan ditanggung oleh pedagang grosir. Hal ini dilakukan pedagang pengumpul dengan pertimbangan cabai merah yang diperdagangkan ke pasar grosir di Jakarta hanya sedikit, berbeda dengan pasar grosir di Bandung. Selain itu, jauhnya jarak tempuh ke Jakarta bila dibandingkan dengan Bandung menjadi pertimbangan pedagang pengumpul dalam mengambil pilihan ini. Dalam

penelitian ini, pedagang grosir yang menjadi responden adalah pedagang grosir di Pasar Induk Caringin Bandung, karena proporsi penjualan dari pedagang pengumpul paling besar,yaitu mencapai 70 persen. Penjualan yang dilakukan kepada pedagang grosir sebanyak 2.850 kilogram (95 persen)

Selain pedagang grosir, pedagang pengumpul juga melakukan penjualan kepada pedagang pengecer I, yaitu sebanyak 150 kilogram (5 persen) dengan cara pedagang pengecer I datang sendiri ke tempat pedagang pengumpul. Hal ini tidak menjadi prioritas utama pedagang pengumpul, karena jumlah yang dibeli pedagang pengecer I sedikit.

6.4.1.3 Praktek Pembelian dan Penjualan di Tingkat Pedagang Grosir

Pedagang grosir (responden) melakukan pembelian cabai merah dari pedagang pengumpul Desa Cibeureum dengan transaksi setiap hari rata-rata mencapai 2.850 kilogram (95 persen). Sistem pembelian dari pedagang pengumpul tidak dilakukan secara tunai, tetapi dengan menggunakan nota penjualan. Pembayaran dengan nota penjualan yakni pembayaran dilakukan tidak langsung saat transaksi, tetapi saat transaksi berikutnya. Sistem pembayaran dilakukan seperti ini karena harga cabai merah belum terbentuk. Pedagang grosir merupakan penentu harga cabai merah. Penentuan harga cabai merah berdasarkan kondisi terhadap permintaan cabai merah di pasar induk, sehingga harga cabai merah dapat berfluktuasi setiap hari. Harga yang diterima pedagang pengumpul berimplikasi pada harga yang akan diterima oleh petani, karena pembelian di tingkat pedagang pengumpul terhadap petani juga menggunakan sistem nota penjualan.

Kegiatan penjualan yang dilakukan kepada pedagang pengecer I sebanyak 2.275 kilogram (79,82 persen) dan pedagang pengecer II sebanyak 575 kilogram (20,18 persen). Sistem penjualan yang dilakukan bagi kedua jenis pedagang pengecer ini adalah dengan sistem tunai, yaitu penjualan dilakukan saat transaksi jual beli dilaksanakan.

6.4.1.4 Praktek Pembelian dan Penjualan di Tingkat Pedagang Pengecer I dan Pedagang Pengecer II

Sumber pembelian pedagang pengecer I adalah pedagang gosir dan pedagang pengumpul. Pedagang pengecer I di daerah Tasikmalaya umumnya melakukan pembelian dari kedua sumber tersebut. Responden pedagang pengecer I dalam penelitian ini adalah pedagang pengecer I yang berada di daerah Tasikmalaya (Pasar Cikurubuk). Alasan pemilihan responden ini karena pedagang pengecer I di daerah Tasikmalaya dapat mengakses cabai merah secara dari pedagang pengumpul di sentra produksi dan pedagang grosir.

Pembelian yang dilakukan pedagang pengecer I Pasar Cikurubuk adalah secara tunai baik kepada pedagang grosir maupun pedagang pengumpul, yakni dengan mendatangi sendiri sumber pembelian. Cabai merah yang dibeli oleh pedagang pengecer I dari pedagang grosir rata-rata sebanyak 2.275 kilogram (93,81 persen), sedangkan pembelian dari pedagang pengumpul rata-rata sebanyak 150 kilogram (6,19 persen) setiap transaksi.

Kegiatan penjualan dilakukan ke pedagang pengecer II dan langsung ke konsumen. Penjualan ke pedagang pengecer II rata-rata sebanyak 2.393 kilogram (98,68 persen), sedangkan penjualan yang langsung ke konsumen rata-rata sebanyak 32 kilogram (1,32 persen) setiap kali transaksi. Pedagang pengecer II merupakan perpanjangan saluran tataniaga cabai merah untuk disalurkan langsung

kepada konsumen. Keberadaan pedagang pengecer II memberikan kemudahan kepada konsumen untuk memperoleh cabai merah. Pedagang pengecer II melakukan pembelian cabai merah dari pedagang pengecer I sebanyak 2.393 kilogram (80,62 persen) dan pedagang grosir sebanyak 575 kilogram (19,38 persen). Masing-masing pembelian tersebut dilakukan secara tunai saat transaksi jual beli berlangsung. Tujuan penjualan pedagang pengecer II adalah langsung kepada konsumen. Penjualan kepada konsumen dilakukan secara tunai saat transaksi jual beli berlangsung.

Dalam dokumen bisnis dalam pengembangan (Halaman 85-89)

Dokumen terkait