EFISIENSI TATANIAGA CABAI MERAH
(STUDI KASUS DESA CIBEUREUM, KECAMATAN SUKAMANTRI, KABUPATEN CIAMIS, PROVINSI JAWA BARAT)
OLEH : MEDINA RACHMA
A14104056
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan
menjadi tinta untuk menulis
Kalimat-kalimat Tuhan-ku, sungguh habislah
lautan itu sebelum habis (ditulis)
Kalimat-kalimat Tuhan-ku, meskipun Kami
datangkan tambahan sebanyak itu” (Q.S.
Maryam: 109)
RINGKASAN
MEDINA RACHMA, Efisiensi Tataniaga Cabai Merah (Studi Kasus Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis,
Provinsi Jawa Barat) di bawah bimbingan FEBRIANTINA DEWI.
Komoditas cabai merah saat ini merupakan salah satu komoditas andalan petani sayuran di Indonesia karena dapat ditanam pada berbagai lahan, tidak mengenal musim tanam, dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan, serta mempunyai nilai sosial ekonomi yang tinggi (Sugiarti, 2003). Seiring dengan berkembangnya industri pangan nasional, cabai merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan secara berkesinambungan. Cabai merah merupakan bahan pangan yang dikonsumsi setiap saat dan tidak dapat disubstitusi, maka cabai merah akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional.
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penghasil tanaman hortikultura terbesar di Indonesia, diantaranya cabai merah. Kabupaten Ciamis bagian utara termasuk dalam daerah andalan pertanian hortikultura di Jawa Barat, terutama untuk komoditas cabai merah. Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis bagian dari Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi cabai merah di Kabupaten Ciamis. Selain itu, Desa Cibeureum merupakan daerah yang dibidik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Provinsi Jawa Barat untuk dijadikan kawasan agropolitan serta proyek pembangunan pasar agro.
Selama ini petani cabai merah di Desa Cibeureum menyalurkan hasil panennya kepada pedagang pengumpul dan hanya terdapat satu pedagang pengumpul sehingga petani tidak mempunyai alternatif lain untuk dapat meningkatkan posisi tawarnya. Kondisi seperti ini menyebabkan petani berada pada posisi yang lemah. Lemahnya posisi petani juga ditunjang dengan sistem jual beli kepada pedagang pengumpul menggunakan sistem nota penjualan, sehingga menyebabkan adanya lag waktu antara penjualan dengan pembayarannya. Sistem nota penjualan ini terjadi pula di tingkat pedagang pengumpul dengan pedagang grosir.
Pendekatan yang dilakukan untuk menjawab permasalahan efisiensi tataniaga cabai merah dilakukan melalui analisis deskriptif terhadap analisis saluran, lembaga, dan fungsi tataniaga, analisis struktur dan perilaku pasar. Selain itu, analisis secara kuantitatif juga dilakukan melalui pendekatan marjin tataniaga,
farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya serta analisis harga untuk mengetahui tingkat keterpaduan pasar. Berdasarkan semua pendekatan tersebut dapat diketahui alternatif tataniaga yang paling efisien sehingga pasar dapat terintegrasi secara sempurna.
pedagang grosir, dan pedagang pengecer II. Sedangkan saluran tataniaga IV terdiri dari pedagang pengumpul, pedagang pengecer I, dan pedagang pengecer II. Saluran V terdiri dari pedagang pengumpul dan pedagang pengecer I. Berdasarkan kelima saluran tataniaga tersebut, terlihat bahwa 100 persen cabai merah dijual petani kepada pedagang pengumpul.
Setiap lembaga tataniaga terlibat memiliki fungsi tataniaga masing-masing. Fungsi tataniaga bertujuan untuk memperlancar penyaluran hasil panen dari petani ke konsumen akhir. Struktur pasar yang terjadi dalam tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum adalah monopsoni karena hanya ada satu pedagang pengumpul yang menampung langsung keseluruhan hasil pertanian cabai merah dari petani di Desa Cibeureum dan beberapa penjual di setiap tingkat lembaga tataniaga lainnya. Analisis perilaku pasar menunjukkan bahwa terjadi transaksi dengan nota penjualan antara petani, pedagang pengumpul, dan pedagang grosir. Sedangkan transaksi antara pedagang grosir, pedagang pengecer I, dan pedagang pengecer II adalah secara tunai. Lembaga penentu harga cabai merah adalah pedagang grosir.
Hasil analisis marjin tataniaga menunjukkan marjin terbesar terdapat pada saluran II, III, dan IV, sedangkan marjin terkecil terdapat pada saluran I dan V. Secara operasional dari kelima saluran tataniaga cabai merah yang ada, saluran V merupakan saluran tataniaga yang paling efisien. Hal ini terlihat dari marjin tataniaga yang rendah, farmer’s share serta rasio keuntungan dan biaya yang paling tinggi. Pada intinya analisis efisiensi tataniaga cabai merah ini adalah ingin memberikan alternatif bagi petani dalam memilih saluran tataniaga yang memberikan keuntungan paling besar, sehingga dapat meningkatkan bagian harga yang diterima oleh petani. Tetapi berdasarkan hasil penelitian, saluran tataniaga di tingkat petani cabai merah hanya ada satu yaitu kepada pedagang pengumpul. Karena itu, untuk memberikan alternatif saluran yang memberikan keuntungan bagi petani maka perlu dilakukan skenario saluran tataniaga yang belum dilakukan oleh petani dengan pendekatan marjin tataniaga, farmer’s share, dan rasio keuntungan dan biaya.
Berdasarkan analisis skenario alternatif saluran tataniaga dengan pendekatan marjin tataniaga, saluran tataniaga cabai merah yang paling efisien adalah saluran X dan XI yang memberikan marjin tataniaga paling kecil. Walaupun melayani pedagang pengecer I dan pedagang pengecer II bukan berarti petani tidak menyalurkan kepada pedagang grosir. Hal ini dikarenakan volume pembelian dari kedua jenis pedagang pengecer tersebut relatif lebih sedikit dibandingkan dengan pedagang grosir. Pedagang grosir harus tetap dijadikan tujuan distribusi utama petani karena volume pembelian yang dilakukannya relatif besar sehingga semua hasil panen petani dapat disalurkan.
Analisis keterpaduan pasar menunjukkan nilai IMC > 1, yaitu sebesar 2,205 artinya tidak ada keterpaduan jangka pendek dan nilai koefisien b2
EFISIENSI TATANIAGA CABAI MERAH
(STUDI KASUS DESA CIBEUREUM, KECAMATAN SUKAMANTRI, KABUPATEN CIAMIS, PROVINSI JAWA BARAT)
OLEH :
MEDINA RACHMA A14104056
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Pada Program Sarjana Program Studi Manajemen Agribisnis
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
Judul : EFISIENSI TATANIAGA CABAI MERAH
(Studi Kasus Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat)
Nama : Medina Rachma
NRP : A14104056
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Febriantina Dewi, SE, M.Sc. NIP. 132 149 312
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr. NIP. 131 124 019
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “EFISIENSI TATANIAGA CABAI MERAH (STUDI KASUS DESA CIBEUREUM, KECAMATAN SUKAMANTRI, KABUPATEN CIAMIS, PROVINSI JAWA BARAT)” BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN
BOGOR, MEI 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 24 Juni 1986. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Nanang Rohayat dan Ibu Maesaroh. Penulis memulai sekolah tahun 1991 pada tingkat Taman Kanak-Kanak di TK Mawar, Ciamis selesai pada tahun 1992. Penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Sukakerta, Ciamis pada tahun 1992 dan lulus tahun 1998. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dapat diselesaikan pada tahun 2001 di SMP Negeri I Panumbangan, Ciamis. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Cihaurbeuti, Ciamis. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cihaurbeuti dan pada tahun yang sama penulis melanjutkan studi S1 di Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Efisiensi Tataniaga Cabai Merah (Studi Kasus Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat)”.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi tataniaga dan memberikan alternatif skenario saluran tataniaga yang memberikan keuntungan paling besar bagi petani yang dilihat dari nilai marjin tataniaga, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta tingkat keterpaduan pasar dalam tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis dan seluruh pihak yang berkepentingan. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan.
Bogor, Mei 2008
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah mendapatkan sumbangan pikiran, bimbingan, dukungan serta dorongan dari berbagai pihak. Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada:
1. Febriantina Dewi, SE, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, menuntun, mengarahkan, dan membimbing penulis dengan sabar sejak awal hingga selesainya penulisan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Rita Nurmalina, M.S. selaku dosen penguji utama yang telah memberikan masukan koreksi dan saran bagi penulis.
3. Etriya, SP, M.M. selaku dosen penguji dari komisi pendidikan atas masukan dan kesediaan waktunya untuk berdiskusi dengan penulis.
4. Ibu Maesaroh dan Bapak Nanang Rohayat selaku orang tua tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa dan dukungannya serta adik-adiku tersayang Aliefiya dan Raihan yang telah memberikan semangat selama ini.
5. Dede Iim Setiawan, S.T. sebagai sumber inspirasi yang telah berbagi kesabaran, kesetiaan, motivasi serta memberikan curahan kasih sayangnya. 6. Bapak Pipin selaku ketua Kelompok Tani Karang Sari atas kerjasamanya. 7. Bapak Iya Sugiya selaku Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Agro Jawa Barat yang telah berbaik hati untuk menjadi mitra diskusi.
8. Bapak Yasin selaku Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan atas informasi serta kesediaannya untuk berdiskusi.
9. Mba Dewi dan Mba Dian yang telah memberikan kemudahan dalam administrasi.
11.Teman-teman Harmony I Widya, Mita, Brigtha, Pungki, Nisa, Niken, Prima, Roisah, Alda, Resti, Endah, Ninon, Zissalwa, Enti, Vera atas kebersamaannya.
12.Dinna Sabriani yang telah bersedia menjadi pembahas dalam seminar saya.
13.Teman-teman seperjuangan, Wahid, Dini, Biblio yang telah berbagi semangat, suka, dan duka serta atas kebersamaannya selama penyusunan karya tulis.
14.Teman-teman seperjuangan KKP Jalancagak, Subang (Yuddy, Imadh, Yuli, Risa, Sita, Agus) atas kekompakan serta pengertiannya.
15.Dita, Dhania dan Klory atas kepedulian dan kebersamaannya. 16.Dian Kristiyani atas masukan dan motivasinya.
DAFTAR ISI 1.1. Latar belakang... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Kegunaan Penelitian ... 7
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Cabai Merah ... 8
2.2. Hasil Penelitian Terdahulu... 9
III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 14
3.1.1. Teori Tataniaga ... 14
3.1.2. Konsep Saluran Tataniaga ... 14
3.1.3. Konsep Lembaga dan Fungsi Tataniaga ... 16
3.1.4. Konsep Struktur Pasar ... 19
3.1.5. Konsep Perilaku Pasar ... 21
3.1.6. Konsep Efisiensi Tataniaga ... 21
3.1.6.1. Konsep Marjin Tataniaga ... 22
3.1.6.2. Konsep Farmer’s Share... 24
3.1.6.3. Konsep Rasio Keuntungan dan Biaya... 25
3.1.6.4. Konsep Keterpaduan Pasar ... 25
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 27
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 30
4.2. Jenis dan Sumber Data ... 30
4.3. Teknik Penarikan Sampel ... 31
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 32
4.4.1. Analisis Saluran Tataniaga... 32
4.4.2. Analisis Lembaga dan Fungsi Tataniaga ... 33
4.4.3. Analisis Struktur Pasar... 33
4.4.4. Analisis Perilaku Pasar... 34
4.4.5. Analisis Efisiensi Tataniaga... 34
4.4.5.1. Analisis Marjin Tataniaga ... 34
4.4.5.2. Analisis Farmer’s Share... 35
4.4.5.3. Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya... 36
4.4.5.4. Analisis Keterpaduan Pasar... 36
4.4.5.4.2. Pengujian Hipotesis Keterpaduan Pasar
Jangka Panjang... 39
4.5. Definisi Operasional ... 40
V GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1. Keadaan Umum Wilayah Desa Cibeureum ... 42
5.2. Karakteristik Petani Responden ... 43
5.3. Karakteristik Pedagang Responden ... 44
5.4. Gambaran Umum Usahatani Cabai Merah di Lokasi Penelitian ... 45
5.4.1. Penyiapan Lahan ... 46
5.4.2. Penyemaian Benih dan Pembibitan... 46
5.4.3. Pemasangan Mulsa... 46
5.4.4. Penanaman ... 47
5.4.5. Pemeliharaan ... 47
5.4.6. Pemanenan ... 48
VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Saluran dan Lembaga Tataniaga Cabai Merah ... 50
6.2. Fungsi Tataniaga ... 53
6.2.1. Fungsi Tataniaga di Tingkat Petani ... 55
6.2.2. Fungsi Tataniaga di Tingkat Pedagang Pengumpul... 56
6.2.3. Fungsi Tataniaga di Tingkat Pedagang Grosir... 59
6.2.4. Fungsi Tataniaga di Tingkat Pedagang Pengecer Besar ... 62
6.2.5. Fungsi Tataniaga di Tingkat Pedagang Pengecer Kecil... 63
6.3. Struktur Pasar ... 64
6.3.1. Struktur Pasar di Tingkat Petani ... 65
6.3.2. Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Pengumpul... 66
6.3.3. Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Grosir... 67
6.3.4. Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Pengecer Besar dan Pedagang Pengecer Kecil... 67
6.4. Perilaku Pasar... 68
6.4.1. Praktek Pembelian dan Penjualan ... 68
6.4.1.1. Praktek Penjualan di Tingkat Petani ... 68
6.4.1.2. Praktek Pembelian dan Penjualan di Tingkat Pedagang Pengumpul ... 69
6.4.1.3. Praktek Pembelian dan Penjualan di Tingkat Pedagang Grosir ... 70
6.4.1.4. Praktek Pembelian dan Penjualan di Tingkat Pedagang Pengecer Besar dan Pedagang Pengecer Kecil ... 71
6.4.2. Sistem Penentuan Harga ... 72
6.4.3. Kerjasama antar Lembaga Tataniaga ... 73
6.5. Efisiensi Tataniaga ... 74
6.5.1. Analisis Marjin Tataniaga ... 74
6.5.1.1. Analisis Marjin Tataniaga Saluran I ... 76
6.5.1.2. Analisis Marjin Tataniaga Saluran II ... 77
6.5.1.3. Analisis Marjin Tataniaga Saluran III... 78
6.5.1.4. Analisis Marjin Tataniaga Saluran IV ... 78
6.5.1.5. Analisis Marjin Tataniaga Saluran V... 79
6.5.3. Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya... 83 6.5.4. Skenario Saluran Tataniaga, Marjin Tataniaga, Farmer’s Share serta Rasio Keuntungan dan Biaya ... 84
6.5.4.1. Analisis Skenario Alternatif Marjin Tataniaga Saluran VI.... 88 6.5.4.2. Analisis Skenario Alternatif Marjin Tataniaga Saluran VII .. 89 6.5.4.3. Analisis Skenario Alternatif Marjin Tataniaga Saluran VIII . 89 6.5.4.4. Analisis Skenario Alternatif Marjin Tataniaga Saluran IX.... 90 6.5.4.5. Analisis Skenario Alternatif Marjin Tataniaga Saluran X ... 90 6.5.4.6. Analisis Skenario Alternatif Marjin Tataniaga Saluran XI.... 90 6.5.5. Keterpaduan Pasar... 95 VII KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 Produksi Nasional Komoditas Cabai Merah Besar (Ton)... 2 2 Karakteristik Struktur Pasar ... 20 3 Tingkat Pendidikan Petani Responden... 43 5 Pengalaman Berdagang dan Bentuk Usaha dari
Masing-Masing Jenis Pedagang yang Terlibat dalam
Tataniaga Cabai Merah Desa Cibeureum ... 45 Luas Lahan Cabai Merah di Tingkat Petani Responden... 44 6 Biaya Produksi Cabai Merah per 1.000 m2 (1.000 Kg) Selama
Satu Masa Tanam (MST) di Desa Cibeureum ... 49 7 Fungsi-Fungsi Tataniaga pada Setiap Saluran tataniaga Cabai Merah di Desa Cibeureum... 54 8 Analisis Marjin Tataniaga Cabai Merah di Desa Cibeureum ... 75 9 Persentase Biaya Tataniaga, Keuntungan, Marjin Tataniaga, Rasio
Keuntungan terhadap Biaya Tataniaga (π/c) Cabai Merah di Desa
Cibeureum pada Bulan Maret 2008 ... 83 10 Skenario Marjin Tataniaga Cabai Merah pada Setiap Alternatif
Saluran Tataniaga Bagi Petani ... 87 11 Skenario Persentase Biaya Tataniaga, Keuntungan, Marjin Tataniaga, Rasio Keuntungan terhadap Biaya Tataniaga (π/c) Cabai Merah di
Desa Cibeureum pada Bulan Maret 2008 ... 93 12 Koefisien Regresi Integrasi Pasar antara Pasar di Tingkat Petani dengan
Pasar Induk Caringin di Bandung untuk Komoditi Cabai Merah ... 96 13 Hasil Analisis Keterpaduan Pasar antara Petani Cabai Merah Desa
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1 Produksi Cabai Merah Provinsi Jawa Barat Periode 2003-2006 ... 3 2 Contoh Saluran Tataniaga dengan Beberapa Tingkat... 15 3 Proses Terjadinya Marjin dan Nilai Marjin Tataniaga... 23 4 Kerangka Pemikiran Operasional Efisiensi dan Keterpaduan Pasar
Tataniaga Cabai Merah ... 28 5 Skema Saluran Tataniaga Cabai Merah dari
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1 Peta Lokasi Penelitian ... 104 2 Biaya Rata-Rata Tataniaga Cabai Merah di Desa Cibeureum pada
Setiap Lembaga Tataniaga yang Terlibat... 105 3 Skenario Biaya Rata-Rata Tataniaga Cabai Merah di Desa Cibeureum pada Setiap Lembaga Tataniaga yang Terlibat ... 110 4 Harga Rata-rata Mingguan Cabai Merah di Pasar Lokal (Tingkat Petani) dan Pasar Acuan (Tingkat Pedagang Grosir) ... 116 5 Persamaan Regresi Keterpaduan Pasar Tingkat Petani Cabai Merah
di Desa Cibeureum dengan Pasar Induk Caringin di Bandung... 117 6 Pengujian Keterpaduan Pasar Jangka Pendek dan Jangka Panjang
antara Tingkat Petani di Desa Cibeureum dengan
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman hortikultura merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi mayarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat (Sugiarti, 2003). Produksi hortikultura yaitu sayuran dan buah-buahan menyumbang pertumbuhan sektor pertanian nasional masing-masing sebanyak 3,1 juta ton dan 2,6 juta ton (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2006). Hortikultura merupakan komoditas pertanian khas tropis yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan memiliki prospek yang cerah di masa mendatang sekaligus sebagai sumber perolehan devisa bagi Indonesia. Nilai ekspor hortikultura pada bulan Februari 2007 mengalami peningkatan sebesar 34,46 persen dari bulan Januari 2007 (Departemen Pertanian, 2007). Hal ini didukung oleh pendapat Rachman, Supriyati, dan Saptana (2001) bahwa permintaan pasar domestik maupun pasar internasional terhadap komoditas hortikultura di masa mendatang diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan tingkat pendapatan.
Jawa Barat, selebihnya luar Jawa Barat, terutama DKI Jakarta (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Provinsi Jawa Barat, 2006).
Tabel 1 Produksi Nasional Komoditas Cabai Merah Besar
Produksi (Ton) Lokasi
2003 2004 2005 2006
Nanggroe Aceh Darussalam 30.913 30.389 31.791 43.978
Sumatera Utara 128.991 125.957 93.003 107.673
Sumatera Barat 46.928 37.975 13.458 24.766
Riau 2.326 9.250 5.912 7.968
Jambi 40.272 21.070 18.526 17.838
Sumatera Selatan 17.386 12.080 12.305 20.591
Bengkulu 31.348 32.990 30.678 31.451
Lampung 8.123 11.020 12.545 15.724
Bangka Belitung 513 1.728 893 1.501
Riau Kepulauan 0 0 0 563
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 0 0 4 3
Jawa Barat 196.481 159.320 198.343 181.366
Jawa Tengah 97.243 111.623 98.930 124.438
Daerah Istimewa Yogyakarta 17.53 12.769 18.081 12.298
Jawa Timur 82.719 78.649 60.747 75.744
Kalimantan Selatan 3.626 2.056 3.563 3.504
Kalimantan Timur 2.235 6.900 4.356 5.365
Sulawesi Utara 2.201 4.736 2.547 2.189
Sulawesi Tengah 1.360 1.844 1.243 2.086
Sulawesi Selatan 28.120 28.129 30.168 28.262
Sulawesi Tenggara 920 982 820 1.154
196.481
Produksi Cabai Merah di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 - 2006
2003 2004 2005 2006
Produksi cabai merah Jawa Barat tahun 2003 menyumbang 25,64 persen terhadap produksi cabai merah nasional. Tahun 2004 produksi cabai merah Provinsi Jawa Barat menurun hingga 18,91 persen dibandingkan tahun 2003 sehingga hanya menyumbang sebesar 22,35 persen terhadap produksi cabai merah nasional. Tetapi pada tahun 2005 produksinya naik sekitar 24,49 persen dibandingkan tahun 2004 dan menyumbang sebesar 30,07 persen terhadap produksi cabai merah nasional. Penurunan produksi cabai merah Provinsi Jawa Barat terjadi kembali pada tahun 2006, yaitu sebesar 8,56 persen dibandingkan tahun 2005 dan menyumbang terhadap produksi nasional sebesar 24,81 persen. Walaupun mengalami penurunan, tetapi Provinsi Jawa Barat tetap memberikan kontribusi yang paling besar terhadap produksi cabai merah nasional. Naik turunnya produksi cabai merah Provinsi Jawa Barat ditunjukkan oleh Gambar 1.
produksi yang ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar merupakan salah satu indikator bahwa cabai merah dapat dikategorikan sebagai komoditas komersial. Seiring dengan berkembangnya industri pangan nasional, cabai merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan secara berkesinambungan (Adiyoga, 1996). Cabai merah merupakan bahan pangan yang dikonsumsi setiap saat dan tidak dapat disubstitusi, maka cabai merah akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional1.
Menurut catatan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Provinsi Jawa Barat Tahun 2006, permintaan kebutuhan cabai merah dari konsumen rumah tangga di Jawa Barat mencapai 2.502,24 ton (97,76 persen) dengan nilai sebesar Rp 30.596.230.000, sedangkan permintaan dari industri besar dan sedang mencapai 28,61 ton (2,24 persen) dengan nilai sebesar Rp 349.050.000. Ditinjau dari segi pengembangan produk, cabai merah dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan seperti tepung cabai, pasta acar, atau sambal. Dengan demikian pengusahaan komoditi cabai merah ini memiliki peluang pasar yang cukup luas, yaitu untuk memenuhi permintaan konsumen rumah tangga dan industri pengolahan.
Kabupaten Ciamis bagian utara termasuk dalam daerah andalan pertanian hortikultura di Jawa Barat, terutama untuk komoditas cabai merah. Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis bagian dari Provinsi Jawa Barat merupakan salah sentra produksi cabai merah di Kabupaten Ciamis dan merupakan daerah yang dibidik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro
1
Pemda Tasikmalaya. 2007. Cabai Merah.
Provinsi Jawa Barat untuk dijadikan kawasan agropolitan serta proyek pembangunan pasar agro.
Semakin besar potensi cabai merah yang dihasilkan dari Desa Cibeureum, semakin besar pula tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut diantaranya adalah bagaimana mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar dengan lebih meningkatkan kinerja petani cabai merah, peranan organisasi tataniaga, dan meningkatkan kualitas cabai merah, sehingga dapat berkontribusi secara lebih signifikan bagi peningkatan kesejahteraan petani cabai merah. Salah satu cara untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan meningkatkan kinerja para petani cabai merah, yaitu melalui pemberian insentif dan penghargaan yang lebih tinggi kepada petani cabai merah. Hal ini dapat diwujudkan dengan meningkatkan bagian yang diperoleh petani (farmer’s share), menurunkan marjin tataniaga serta memfasilitasi petani dalam memperoleh informasi pasar.
1.2 Perumusan Masalah
Desa Cibeureum sebagai salah satu sentra produksi di Jawa Barat dengan rata-rata nilai produksi mencapai 900 ton per tahun2. Selama ini petani cabai merah di Desa Cibeureum menyalurkan hasil panennya kepada pedagang pengumpul dan hanya terdapat satu pedagang pengumpul sehingga petani tidak mempunyai alternatif lain untuk dapat meningkatkan posisi tawarnya. Kondisi seperti ini menyebabkan petani berada pada posisi yang lemah. Hal tersebut mengakibatkan sistem tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum memiliki kesenjangan harga dan marjin tataniaga yang cukup besar. Lemahnya posisi petani juga ditunjang dengan sistem jual beli kepada pedagang pengumpul menggunakan
2
sistem nota penjualan, sehingga menyebabkan adanya lag waktu antara penjualan dengan pembayarannya. Sistem nota penjualan ini terjadi pula di tingkat pedagang pengumpul dengan pedagang grosir.
Daya tawar petani yang lemah menyebabkan bagian yang diterima petani (farmer’s share) sedikit sedangkan marjin tataniaga semakin besar. Hal ini menunjukkan belum tercapainya efisiensi dalam tataniaga cabai merah. Keberadaan pedagang pengumpul yang hanya ada satu orang membuat petani tidak mempunyai alternatif lain untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Penciptaan skenario alternatif tataniaga cabai merah perlu dibuat untuk memberikan alternatif yang paling baik bagi petani cabai merah dalam menyalurkan hasil panennya sehingga dapat meningkatkan bagian harga yang diterima petani dan memperkecil marjin tataniaga. Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana saluran, lembaga, fungsi, serta struktur dan perilaku pasar tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis?
2. Bagaimana efisiensi tataniaga cabai merah pada setiap saluran tataniaga di Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis dengan pendekatan marjin tataniaga, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya serta tingkat keterpaduan pasar antara pasar lokal (di tingkat petani) dengan pasar acuan (Pasar Induk Caringin di Bandung)?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi saluran, lembaga, fungsi, serta menganalisis struktur dan perilaku pasar tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis.
2. Menganalisis efisiensi tataniaga cabai merah pada setiap saluran tataniaga di Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis dengan pendekatan marjin tataniaga, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya serta tingkat keterpaduan pasar antara pasar lokal (di tingkat petani) dengan pasar acuan (Pasar Induk Caringin di Bandung).
3. Menganalisis alternatif saluran tataniaga cabai merah yang dapat memberikan keuntungan yang paling besar bagi petani
1.4. Kegunaan Penelitian
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Cabai Merah
Cabai merah (Capsicum annuum L) merupakan salah satu jenis cabai yang mempunyai daya adaptasi tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, di lahan sawah maupun lahan tegalan. Sifat inilah yang menyebabkan tanaman cabai dapat dijumpai hampir di semua daerah. Cabai merah berasal dari Mexico, sebelum abad ke-15 spesies ini lebih banyak dikenal di Amerika Tengah dan Selatan. Sekitar tahun 1513 Columbus membawa dan menyebarkan cabai merah dan diperkirakan masuk ke Indonesia melalui pedagang dari Persia ketika singgah di Aceh (Kusandriani, 1996).
Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran (hortikultura) yang banyak digemari masyarakat Indonesia dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sesuai dengan namanya, cabai merah memiliki warna kulit buah yang merah sewaktu buah sudah tua dan masak. Bentuk buahnya silindris dan mengecil ke arah ujung buah. Ciri dari jenis sayuran ini rasanya pedas dan aromanya khas dimasak atau dikonsumsi mentah, sehingga sayuran bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Selain itu, cabai merah mengandung vitamin, khususnya vitamin C (Santika, 2001).
tersebut mempunyai keuntungan, diantaranya penggunaan yang praktis, awet, serta mudah dalam mengangkut dan menyimpannya.
Cabai merah yang diusahakan petani di Desa Cibeureum adalah cabai merah jenis TW. Karakteristik cabai merah ini adalah memiliki warna merah mengkilat, bentuknya panjang dan memiliki ukuran yang relatif besar. Cabai merah ini terlihat lebih segar dibandingkan cabai merah jenis lainnya. Sebagian besar petani di desa ini bercocok tanam cabai merah di daerah lereng gunung dengan jenis lahan tegalan. Petani dan pedagang pengumpul yang ada di Desa Cibeureum hanya melakukan penjualan cabai merah dalam bentuk segar tanpa diberi perlakuan pasca panen.
2.2 Hasil Penelitian Terdahulu
pada seberapa jauh PIKJ dapat berfungsi sebagai pasar penampung dan sekaligus pendistribusi sayur-mayur ke pasar-pasar eceran di wilayah DKI Jakarta.
Mukhlis (2000) melakukan penelitian tentang Sistem Tataniaga Cabai Rawit Merah (Capsicum fruiescens) di DKI Jakarta dengan studi kasus di Pasar Induk Kramat Jati, Jatinegara dan Tanah Abang. Analisis deskriptif yang dilakukan menggunakan sistem tabulasi data. Alat analisis kuantitatif program komputer Minitab 13 for Windows serta program komputer The SAS System for Windowsv612. Hasil penelitiannya menunjukkan struktur pasar cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati cenderung berbentuk tidak bersaing sempurna (oligopoli). Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jumlah penjual, kemudahan memasuki pasar dan tidak adanya pembedaan harga cabai rawit merah. Berdasarkan analisis struktur, perilaku, dan keragaan pasar cabai rawit merah, maka disimpulkan bahwa sistem tataniaga cabai rawit merah di daerah konsumen DKI Jakarta belum efisien. Selain itu, hasil analisis marjin tataniaga dapat diketahui bahwa sebaran marjin kurang merata. Hal ini menunjukkan tataniaga cabai rawit merah belum efisien. Tataniaga cabai rawit merah dari daerah sentra produksi Pare, Kediri ke Pasar Jatinegara lebih efisien daripada ke Pasar Tanah Abang. Hal ini ditunjukkan dengan nilai farmer’s share di Pasar Jatinegara (21,15 persen) lebih besar dibandingkan nilai farmer’s share Pasar Tanah Abang (20,68 persen).
tawar-menawar, posisi pengecer berada pada pada pihak yang lemah. Sedangkan integrasi jangka pendek antara Pasar Tanah Abang dengan PIKJ secara relatif lebih mendekati efisien dan terpadu dibanding dengan Pasar Jatinegara dan PIKJ.
Analisis Efisiensi Pemasaran Komoditas Alpukat di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dilakukan oleh Parwitasari (2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga saluran pemasaran alpukat. Saluran pemasaran satu terdiri dari petani-pedagang pengumpul-pedagang grosir-pengumpul-pedagang eceran-konsumen. Saluran pemasaran dua terdiri dari petani-pedagang pengumpul-pedagang eceran-konsumen. Saluran pemasaran tiga terdiri dari petani-pedagang eceran-konsumen. Struktur pasar yang dihadapi oleh petani mengarah pada pasar oligopsoni. Keadaan ini terjadi karena jumlah penjual yang lebih banyak daripada jumlah pembeli. Sifat produk yang homogen semakin memperkuat struktur pasar oligopsoni pada sistem pemasaran alpukat. Berdasarkan hasil analisis perilaku pasar diketahui bahwa penentuan harga dilakukan oleh pihak pedagang sedangkan petani alpukat sebagai penerima harga.
Lestari (2006) melakukan Analisis Tataniaga Bengkuang (Pchyrrhizus erosus) dengan mengambil studi kasus di Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Prembun terdapat enam jalur pemasaran bengkuang. Marjin pemasaran terbesar dan nilai farmer’s share terkecil terdapat pada jalur VI karena mempunyai konsumen yang sedang bepergian dan bukan penduduk lokal sehingga pedagang menjual komoditasnya dengan harga yang tinggi. Pada jalur pemasaran II, terdapat marjin pemasaran terkecil, tetapi nilai farmer’s share
terbesar. Hal ini disebabkan daerah pemasarannya yaitu Yogyakarta dianggap cukup dekat dengan Kecamatan Prembun.
Struktur pasar yang terjadi adalah tidak bersaing sempurna. Lembaga yang terlibat dalam saluran pemasaran tidak terlalu banyak. Hal ini terjadi karena dibutuhkannya pengalaman, relasi pemasaran dan biaya. Selain itu, izin berjualan cukup sulit diperoleh pedagang grosir. Penjual dan pembeli tidak mudah keluar masuk pasar, sedangkan informasi pasar cukup sulit didapat karena lebih disukai oleh pedagang antar kota (PAK).
Hasil analisis keterpaduan pasar menunjukkan bahwa pasar di tingkat petani dengan pasar acuan tidak terpadu baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tidak terpadunya pasar dalam jangka pendek ditunjukkan oleh
Index of Market Connection (IMC) > 1, sedangkan dalam jangka panjang ditunjukkan oleh koefisien b2< 1. Hal ini menunjukkan sistem tataniaga bengkuang di Kecamatan Prembun belum efisien.
dan rasio keuntungan dan biaya serta keterpaduan pasar tataniaga cabai merah melalui pendekatan analisis harga (Rp/Kg) cabai merah. Adanya analisis mengenai efisiensi tataniaga cabai merah, dapat diketahui saluran tataniaga cabai merah yang memberikan keuntungan bagi petani dan konsumen, karena pada umumnya petani menerima harga yang rendah (tidak adanya bargaining position) dan konsumen mendapat harga yang lebih tinggi (panjangnya rantai tataniaga). Penelitian ini memberikan alternatif saluran tataniaga yang sebaiknya dijalankan oleh petani melalui pembentukan skenario-skenario saluran tataniaga yang belum pernah dijalankan oleh petani.
Analisis yang dilakukan selanjutnya yaitu analisis harga untuk melihat tingkat keterpaduan pasar tataniaga yang bertujuan untuk melihat perubahan harga cabai merah di tingkat pasar acuan (Pasar Induk Caringin di Bandung) sampai ke pasar lokal di tingkat petani. Analisis keterpaduan pasar ini diolah menggunakan
software Minitab 14 sehingga diperoleh besarnya koefisien dari masing-masing variabel dependen dan independennya serta nilai t-hitung dan F-hitung.
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Tataniaga
Tataniaga merupakan rangkaian tahapan fungsi yang dibutuhkan untuk mengubah atau membentuk input atau produk mulai dari titik produsen sampai konsumen akhir (Dahl dan Hammond, 1977). Sedangkan menurut Kohls dan Uhls (2002), tataniaga merupakan suatu peragaan dari semua aktivitas bisnis dalam aliran barang dan jasa mulai dari titik produksi sampai ke konsumen akhir. Ada dua kelompok yang berbeda kepentingan dalam memandang tataniaga. Konsumen ingin mendapatkan harga yang rendah dan produsen ingin memperoleh penerimaan yang besar atas penjualan produk.
Menurut Limbong dan Sitorus (1987) tataniaga adalah serangkaian proses kegiatan atau aktivitas yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik dari barang-barang hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari tangan produsen ke konsumen. Dalam proses distribusi dapat terjadi kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan bentuk dari produk untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk mempermudah penyalurannya, meningkatkan nilai dan meningkatkan kepuasan konsumen.
3.1.2 Konsep Saluran Tataniaga
ke konsumen. Saluran pemasaran merupakan rangkaian lembaga-lembaga niaga yang dilalui barang dalam penyalurannya dari produsen ke konsumen (Limbong dan Sitorus, 1987).
Limbong dan Sitorus (1987) berpendapat bahwa saluran pemasaran dapat dicirikan dengan memperhatikan banyaknya tingkat saluran. Panjangnya saluran tataniaga akan ditentukan oleh banyaknya tingkat perantara yang dilalui oleh suatu barang dan jasa. Pada Gambar 2 ditunjukkan beberapa saluran tataniaga yang panjangnya berbeda-beda. Saluran nol tingkat (zero level channel) atau dinamakan juga sebagai saluran tataniaga langsung, adalah saluran yang memperlihatkan produsen atau pabrikan secara langsung menjual produknya kepada konsumen.
Gambar 2 Contoh Saluran Tataniaga dengan Beberapa Tingkat.
Saluran satu tingkat (one level channel), adalah saluran yang menggunakan perantara. Dalam pasar konsumsi, perantara ini adalah pengecer sedangkan dalam pasar industrial perantara tersebut adalah agen penjualan atau pialang. Pada saluran dua tingkat (two level channel) mencakup dua perantara.
Dalam pasar konsumsi mereka ini adalah grosir dan pengecer, sedangkan dalam pasar industrial perantara tersebut adalah distributor dan dealer industrial.
Pada saluran tiga tingkat (three level channel) didapati tiga perantara. Dalam hal ini, selain grosir dan pengecer ditemui pedagang pemborong atau
jobber. Pemborong tersebut membeli barang dari pedagang grosir dan menjualnya ke pedagang pengecer, yang pada umumnya tidak dapat dilayani oleh pedagang grosir.
3.1.3 Konsep Lembaga dan Fungsi Tataniaga
Limbong dan Sitorus (1987) menyatakan bahwa proses penyampaian barang dari produsen ke konsumen memerlukan berbagai tindakan atau kegiatan. Kegiatan tersebut dinamakan sebagai fungsi-fungsi tataniaga. Pendekatan fungsi tataniaga yang sering dilakukan oleh pelaku tataniaga mencakup:
• Fungsi pertukaran, merupakan kegiatan yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dari barang atau jasa yang dipasarkan. Fungsi pertukaran ini terdiri atas fungsi pembelian dan fungsi penjualan.
• Fungsi fisik, adalah semua tindakan yang berhubungan langsung dengan barang atau jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, waktu dan bentuk. Fungsi ini dibagi menjadi fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan dan fungsi pengolahan.
Dalam menyampaikan suatu barang atau jasa terlibat beberapa badan mulai dari produsen, lembaga-lembaga perantara dan konsumen. Karena jarak antara produsen yang menghasilkan barang atau jasa sering berjauhan dengan konsumen, maka fungsi badan perantara sangat diharapkan kehadirannya untuk menggerakan barang-barang dan jasa-jasa tersebut dari titik produsen ke titik konsumsi. Lembaga-lembaga ini bisa dalam bentuk perseorangan, perserikatan maupun perseroan yang akan melakukan fungsi-fungsi tataniaga, baik fungsi pertukaran, fungsi fisik maupun fungsi fasilitas. Penggolongan lembaga tataniaga menurut Limbong dan Sitorus (1987), didasarkan pada fungsi, penguasaan terhadap suatu barang, kedudukan dalam suatu pasar serta berdasarkan bentuk usahanya, yaitu:
1. Penggolongan lembaga tataniaga berdasarkan fungsi yang dilakukan, yaitu:
• Lembaga tataniaga yang melakukan kegiatan pertukaran, seperti pengecer, grosir, dan lembaga perantara lainnya.
• Lembaga tataniaga yang melakukan kegiatan fisik, seperti badan pengangkutan/transportasi, pengolahan, dan penyimpanan.
• Lembaga tataniaga yang menyediakan fasilitas-fasilitas tataniaga, seperti informasi pasar dan kredit desa. Lembaga ini dapat berupa KUD (Kantor Unit Desa), Bank Unit Desa, dan yang lainnya.
2. Penggolongan lembaga tataniaga berdasarkan penguasaan terhadap suatu barang, yaitu:
• Lembaga tataniaga yang menguasai tetapi tidak memiliki barang yang dipasarkan, seperti agen, makelar atau broker, dan lembaga pelelangan.
• Lembaga tataniaga yang tidak menguasai dan tidak memiliki barang yang dipasarkan, seperti lembaga pengangkutan, pengolahan, dan perkreditan. 3. Penggolongan tataniaga berdasarkan kedudukannya dalam suatu pasar, yaitu:
• Lembaga tataniaga bersaing sempurna, seperti pengecer beras dan pengecer rokok.
• Lembaga tataniaga monopolistis, seperti pedagang bibit dan pedagang benih.
• Lembaga tataniaga oligopolis, seperti importir cengkeh dan perusahaan semen.
• Lembaga tataniaga monopolis, seperti perusahaan kereta api serta perusahaan pos dan giro.
4. Penggolongan lembaga tataniaga juga dilakukan berdasarkan bentuk usahanya, yaitu:
• Berbadan hukum, seperti perseroan terbatas, firma, dan koperasi.
• Tidak berbadan hukum, seperti perusahaan perseorangan, pedagang pengecer, dan tengkulak.
3.1.4 Konsep Struktur Pasar
Struktur pasar adalah dimensi yang menjelaskan sistem pengambilan keputusan oleh perusahaan maupun industri, jumlah perusahaan dalam suatu pasar, konsentrasi perusahaan, jenis-jenis dan diferensiasi produk serta syarat-syarat masuk pasar. Struktur pasar harus dapat diketahui oleh produsen dan konsumen. Ada tiga hal yang perlu diketahui agar produsen dan konsumen dapat melakukan sistem tataniaga yang efisien, yaitu: (1) konsentrasi pasar dan jumlah produsen, (2) sistem keluar masuk barang yang terjadi di pasar, dan diferensiasi produk (Limbong dan Sitorus, 1987).
Menurut Dahl dan Hammond (1977), struktur pasar menggambarkan fisik dari industri atau pasar. Terdapat empat faktor penentu dari karakteristik struktur pasar, yaitu (1) jumlah atau ukuran perusahaan atau usahatani di dalam pasar, (2) kondisi atau keadaan produk yang diperjualbelikan, (3) pengetahuan informasi pasar, dan (4) hambatan keluar masuk pasar bagi pelaku tataniaga, misalnya biaya, harga, dan kondisi pasar antara partisipan.
Tabel 2 Karakteristik Struktur Pasar
Karakteristik Struktur Pasar
No Jumlah
Sisi Pembeli Sisi Penjual
1 Banyak Banyak Homogen Sedikit Rendah Persaingan murni
Persaingan murni
2 Banyak Banyak Diferensiasi Sedikit Tinggi Persaingan monopolistik
Persaingan monopolistik
3 Sedikit Sedikit Homogen Banyak Tinggi Oligopsoni murni
Oligopoli murni
4 Sedikit Sedikit Diferensiasi Banyak Tinggi Oligopsoni diferensiasi
Oligopoli diferensiasi 5 Satu Satu Unik Banyak Tinggi Monopsoni Monopoli
Sumber: Dahl dan Hammond, 1977.
Berdasarkan struktur pasarnya, pasar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar tidak bersaing sempurna (Kotler, 2002). Ciri-ciri pasar yang harus dipenuhi agar dapat digolongkan kedalam struktur pasar bersaing sempurna, yaitu:
• Terdapat banyak penjual dan pembeli
• Harga ditentukan melalui mekanisme pasar
• Penjual dan pembeli bertindak sebagai price taker
• Produk homogen
• Penjual dan pembeli bebas keluar masuk pasar
3.1.5 Konsep Perilaku Pasar
Dahl dan Hammond (1997) menyatakan bahwa perilaku pasar sebagai suatu pola atau tingkah laku dari lembaga-lembaga tataniaga yang menyesuaikan dengan struktur pasar, lembaga-lembaga tersebut melakukan kegiatan penjualan dan pembelian serta menentukan bentuk-bentuk keputusan yang harus diambil dalam menghadapi struktur pasar tersebut. Perilaku pasar adalah strategi produksi dan konsumsi dari lembaga tataniaga dalam struktur pasar tertentu yang meliputi kegiatan pembelian, penjualan, penentuan harga serta kerjasama antar lembaga tataniaga. Para pelaku tataniaga perlu mengetahui perilaku pasar sehingga mampu merencanakan kegiatan tataniaga secara efisien dan terkoordinasi. Selanjutnya akan tercipta kinerja keuangan yang memadai di sektor pertanian dan berbagai sektor komersial lainnya.
3.1.6 Konsep Efisiensi Tataniaga
3.1.6.1 Konsep Marjin Tataniaga
Insentif ekonomi merupakan salah satu faktor yang mampu memotivasi petani dalam melakukan kegiatan produksi. Insentif ekonomi tersebut dapat diketahui melalui besarnya keragaan dan perkembangan marjin tataniaga. Kohls dan Uhls (2002) mendefinisikan marjin tataniaga sebagai perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima oleh petani. Marjin tataniaga ini terdiri dari dua komponen yaitu besarnya biaya pemasaran (marketing cost) dan keuntungan pemasaran (marketing profit). Sedangkan Limbong dan Sitorus (1987) menambahkan definisi marjin tataniaga sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan tataniaga mulai dari tingkat produsen hingga tingkat konsumen akhir.
Setiap lembaga tataniaga yang terlibat dalam sistem tataniaga memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan atau imbalan dari pengorbanan yang diberikan. Artinya, dengan pengorbanan tertentu yang disumbangkan, akan diusahakan untuk mendapatkan manfaat dan keuntungan maksimal atau dengan keuntungan tertentu akan diusahakan meminimumkan pengorbanannya.
Perbedaan harga jual dari lembaga yang satu dengan lembaga lain sampai ke tingkat konsumen akhir disebabkan karena adanya perbedaan kegiatan dari setiap lembaga. Semakin banyak lembaga tataniaga yang terlibat dalam penyaluran suatu komoditas dari titik produsen sampai ke titik konsumen, maka akan semakin besar perbedaan harga komoditas tersebut di titik produsen dibandingkan harga yang akan dibayarkan oleh konsumen.
disebut sebagai marjin tataniaga. Definisi marjin tataniaga juga digambarkan oleh kurva marjin tataniaga (Gambar 3).
(Pr-Pf)Qr,f
Gambar 3 Proses Terjadinya Marjin dan Nilai Marjin Tataniaga. Sumber: Dahl dan Hammond, 1977.
Keterangan:
Pf = Harga di tingkat produsen
Pr = Harga di tingkat konsumen
Df = Kurva permintaan produsen
Dr = Kurva permintaan konsumen
Sf = Kurva penawaran produsen
Sr = Kurva penawaran konsumen
Qr,f = Jumlah keseimbangan di tingkat produsen dan konsumen
(Pr - Pf) = Marjin tataniaga
(Pr - Pf) Qr,f = Nilai marketing marjin yang merupakan hasil kali antara jumlah
yang terjual dengan selisih harga di tingkat konsumen dan harga di tingkat produsen.
Selama barang bergerak dari petani sampai ke konsumen terjadi pertambahan nilai pada barang yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tataniaga sehingga tingkat kepuasan konsumen dapat ditingkatkan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga tataniaga diharapkan balas jasa yang memadai bagi setiap pelakunya dan hal ini akan menambah nilai produk. Perlakuan yang diberikan
P
Pr
Pf
Sr
Sf
Dr
Df
oleh lembaga-lembaga tataniaga terdiri dari beberapa komponen antara lain tenaga kerja, modal, dan manajemen yang masing-masing memberikan komponen proporsi tertentu. Jumlah dari komponen ini jika ditambah dengan keuntungan dari lembaga tataniaga disebut marjin tataniaga bagi lembaga yang bersangkutan. Dengan demikian, marjin tataniaga secara keseluruhan dari produsen ke konsumen adalah jumlah saluran marjin tataniaga dari lembaga tataniaga.
3.1.6.2. Konsep Farmer’s Share
Farmer’s share merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi tataniaga yang dilihat dari sisi pendapatan petani. Kohls dan Uhls (2002) mendefinisikan farmer’s share sebagai persentase harga yang diterima oleh petani sebagai imbalan dari kegiatan usahatani yang dilakukannya dalam menghasilkan suatu komoditas.
Menurut Kohls dan Uhls (2002), farmer’s share dapat dipengaruhi oleh tingkat pengolahan, keawetan produk, ukuran produk, jumlah produk, dan biaya transportasi. Nilai farmer’s share ditentukan oleh besarnya rasio harga yang diterima produsen (Pf) dan harga yang dibayarkan oleh konsumen (Pr). Secara
matematik dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:
% 100
x P P F
r f s =
Keterangan: Fs = Farmer’ share
f
P = Harga di tingkat petani Pr= Harga di tingkat konsumen
melalui harga beli, sehingga harga yang diterima petani lebih rendah. Biaya tataniaga yang tinggi menyebabkan besarnya perbedaan harga di tingkat petani dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen sehingga akan menurunkan nilai
farmer’s share. Sebaliknya pada saluran tataniaga yang efektif dan efisien, marjin dan biaya tataniaga menjadi lebih rendah sehingga perbedaan harga petani dengan konsumen lebih kecil dan nilai farmer’s share akan meningkat.
3.1.6.3 Konsep Rasio Keuntungan dan Biaya
Besarnya rasio keuntungan dan biaya digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi tataniaga. Semakin menyebarnya rasio keuntungan dan biaya, maka dari segi operasional sistem tataniaga akan semakin efisien. Secara matematik, rasio keuntungan dan biaya dalam setiap lembaga tataniaga dapat dirumuskan sebagai berikut:
i i
C biaya dan keuntungan
Rasio = π
Keterangan: πi = Keuntungan lembaga tataniaga Ci = Biaya tataniaga
3.1.6.4 Konsep Keterpaduan Pasar
menjelaskan harga konsumen. Efisiensi harga dapat dilihat dari tingkat keterpaduan atau integrasi pasar antara pasar acuan sebagai penentu harga dengan pasar lokal sebagai pengikut harga.
Menurut Azzaino (1982), keterpaduan pasar menekankan pada keterkaitan harga antar berbagai tingkat lembaga tataniaga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen yang disebabkan karena adanya perubahan tempat, waktu maupun bentuk komoditas. Efisiensi harga dapat dicerminkan oleh besarnya koefisien korelasi harga. Kunci dari keadaan efisiensi tersebut adalah adanya sebaran dan ketersediaan informasi pasar yang lancar serta akurat. Hubungan harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dapat didekati dengan pendekatan korelasi harga dan model keterpaduan pasar yang dikembangkan oleh Ravallion (1986) dan dilanjutkan oleh Heytens (1986).
Model keterpaduan pasar dapat digunakan untuk mengukur bagaimana harga di pasar lokal dipengaruhi oleh harga di pasar referensi (acuan) dengan mempertimbangkan harga pada waktu tertentu (t) dan harga pada waktu sebelumnya (t-1). Aktivitas pasar-pasar tersebut dihubungkan oleh adanya arus komoditas, sehingga harga dan jumlah komoditas yang dipasarkan akan berubah apabila terjadi perubahan harga di pasar lain (Ravallion, 1986).
pasar ke pasar lainnya. Semakin cepat laju penyalurannya, semakin terpadu kedua pasar tersebut.
Pendekatan korelasi harga dalam melihat integrasi pasar suatu komoditas terkadang kurang memuaskan karena adanya anggapan bahwa perubahan harga di tingkat produsen dan konsumen bergerak bersamaan. Dengan adanya anggapan tersebut, Ravallion (1986) dan dilanjutkan oleh Heytens (1986) mengembangkan suatu model integrasi yang disebut model Autoregressive Distributed Lag. Model autoregresi dapat mengurangi kelemahan model analisis korelasi harga.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Index of Market Connection (IMC) untuk mengukur keterpaduan pasar. Model keterpaduan pasar ini dapat digunakan untuk mengukur bagaimana harga di pasar produsen dipengaruhi oleh harga di pasar konsumen dengan mempertimbangkan harga pada waktu sebelumnya dan harga saat ini.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Dasar penelitian ini diawali dengan melihat fakta bahwa seiring dengan berkembangnya industri pangan nasional, cabai merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan secara berkesinambungan. Cabai merah merupakan bahan pangan yang dikonsumsi setiap saat dan tidak dapat disubstitusi, maka cabai merah akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional.
Gambar 4 Kerangka Pemikiran Operasional Efisiensi Tataniaga Cabai Merah.
Salah satu sentra produksi cabai merah adalah Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri. Dalam proses tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum ini, petani tidak mempunyai alternatif saluran tataniaga lain yang dapat memberikan keuntungan lebih besar bagi petani karena hanya ada satu pedagang
- Perbedaan marjin harga yang relatif besar - Hanya terdapat satu pedagang pengumpul
sehingga tidak ada alternatif bagi petani - Sistem nota penjualan menyebabkan adanya
lag waktu antara penjualan dengan pembayaran yang diterima petani
Permintaan cabai merah meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional
Alternatif Tataniaga Cabai Merah yang Paling Efisien dan
Pasar yang Terintegrasi Sempurna
Analisis Harga
Efisiensi dan Keterpaduan Pasar Tataniaga Cabai Merah
Petani Produsen Cabai Merah
Analisis Marjin Tataniaga,
Farmer’s Share serta Rasio Keuntungan dan Biaya
pengumpul. Sistem nota penjualan yang dilakukan setiap transaksi antara petani dengan pedagang pengumpul menambah lemahnya posisi petani. Sistem nota penjualan ini menyebabkan adanya lag waktu antara penjualan dengan pembayaran yang diterima petani dan harga pada saat transaksi jual beli dilakukan belum terbentuk. Petani hanya mengetahui harga cabai akan rendah pada musim panen raya dan akan tinggi pada musim panceklik dan menjelang hari raya, padahal harga cabai merah cenderung berfluktuasi setiap harinya. Berdasarkan fakta di atas perlu dilakukan analisis efisiensi dan keterpaduan pasar tataniaga cabai merah untuk sehingga dapat memberikan alternatif bagi petani dalam menentukan alternatif tataniaga yang memberikan keuntungan paling besar.
Pendekatan yang dilakukan untuk menjawab efisiensi dan keterpaduan pasar tataniaga cabai merah dilakukan melalui analisis deskriptif terhadap analisis saluran, lembaga, dan fungsi tataniaga, analisis struktur dan perilaku pasar. Selain itu, analisis secara kuantitatif juga dilakukan melalui pendekatan marjin tataniaga,
IV METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) karena Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri merupakan sentra pertanian khususnya komoditas sayuran (cabai merah) yang berada di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Selain itu, Desa Cibeureum merupakan daerah yang dibidik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Provinsi Jawa Barat untuk dijadikan kawasan agropolitan serta proyek pembangunan pasar agro. Waktu pengambilan data dilaksanakan pada bulan Maret 2008.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan pembagian daftar pertanyaan yang telah disiapkan dengan teknik wawancara langsung kepada petani dan lembaga-lembaga tataniaga yang terlibat. Data-data ini kemudian diolah untuk kepentingan analisa lebih lanjut.
Data-data sekunder juga diperoleh melalui beberapa literatur berupa hasil-hasil pertanian yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian ini.
4.3 Teknik Penentuan Sampel
Penentuan responden dilakukan secara sensus untuk responden petani dan
purposive untuk responden pedagang berdasarkan alur distribusi cabai merah yang diperoleh berdasarkan informasi dari lembaga tataniaga sebelumnya. Penelusuran awal dilakukan di petani ditelusuri ke pedagang responden yang telah membeli cabai merah dari petani. Dilanjutkan dengan penelusuran arus distribusi barang dari pedagang pertama yang membeli cabai merah dari petani hingga pedagang yang menyampaikan langsung cabai merah kepada konsumen untuk mengetahui lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran cabai merah.
Pengambilan petani responden berdasarkan jumlah populasi petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Karang Sari, Desa Cibeureum yang berjumlah 25 orang. Pemilihan Kelompok Tani Karang Sari atas dasar pertimbangan bahwa Kelompok Tani Karang Sari merupakan kelompok tani yang paling produktif diantara delapan kelompok tani lainnya yang berada di Desa Cibeureum. Selain itu, Kelompok Tani Karang Sari memberikan kontribusi paling besar terhadap produksi cabai merah Desa Cibeureum yaitu sekitar 75 persen dan memproduksi cabai merah secara berkesinambungan.
Pedagang responden pengumpul berada di Desa Cibeureum sedangkan pedagang responden grosir berada di Pasar Induk Caringin Bandung. Dipilih pedagang grosir di Pasar Induk Caringin karena 70 persen pedagang pengumpul memasarkan cabai merah melalui Pasar Induk Caringin. Pedagang pengecer terdiri sari pengecer I dan pengecer II. Pedagang pengecer I berada di Tasikmalaya yaitu Pasar Cikurubuk sedangkan pedagang pengecer II yang berada di Ciamis terdiri dari sembilan orang berada di Pasar Panumbangan, tiga orang di Pasar Banjar, dua orang berada di Pasar Kawali, serta dua orang di Pasar Sadang Serang Bandung.
4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif, kemudian dilakukan langkah pengolahan dan analisis data. Analisis kualitatif bertujuan untuk menganalisis saluran tataniaga, struktur pasar dan perilaku pasar, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk analisis marjin tataniaga, framer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta keterpaduan pasar.
4.4.1 Analisis Saluran Tataniaga
tataniaga, maka saluran tersebut akan semakin tidak efisien karena marjin yang tercipta antara produsen dan konsumen akan semakin besar.
4.4.2 Analisis Lembaga dan Fungsi Tataniaga
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui lembaga-lembaga tataniaga yang melakukan fungsi-fungsi tataniaga, baik fungsi pertukaran, fungsi fisik maupun fungsi fasilitas. Lembaga-lembaga ini melakukan pengangkutan barang dari tingkat produsen sampai tingkat konsumen, juga berfungsi sebagai sumber informasi pasar. Analisis fungsi-fungsi tataniaga diperlukan antara lain untuk mengetahui fungsi-fungsi atau kegiatan yang dilakukan oleh setiap lembaga tataniaga yang terlibat serta mengetahui kebutuhan biaya dan fasilitas yang dibutuhkan. Lebih lanjut, dari analisis lembaga dan fungsi tataniaga ini akan dapat dihitung besarnya marjin tataniaga.
4.4.3 Analisis Struktur Pasar
4.4.4 Analisis Perilaku Pasar
Perilaku pasar diasumsikan bagaimana pelaku pasar, yaitu petani, lembaga tataniaga dan konsumen menyesuaikan diri terhadap situasi penjualan dan pembelian yang terjadi. Tingkah laku pasar dapat dianalisis dengan mengamati praktek penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh pelaku pasar, sistem penentuan dan pembayaran harga, serta kerjasama diantara lembaga tataniaga. 4.4.5 Analisis Efisiensi Tataniaga
4.4.5.1 Analisis Marjin Tataniaga
Tingkat efisiensi suatu tataniaga dapat dilihat dari penyebaran marjin tataniaga, farmer’s share serta rasio terhadap keuntungan dan biaya. Melalui marjin tataniaga dapat diketahui besarnya biaya dan keuntungan dalam tataniaga tersebut. Bersamaan dengan penelusuran saluran tataniaga diharapkan dapat diperoleh informasi tentang marjin tataniaga pada tiap lembaga tataniaga. Perhitungan marjin tataniaga diperoleh dari selisih harga di satu titik rantai tataniaga dengan harga di titik lainnya. Selain itu, besarnya nilai marjin tataniaga juga dapat diperoleh penjumlahan biaya dan keuntungan pada masing-masing lembaga tataniaga. Menurut Limbong dan Sitorus (1987), secara matematik akan diperoleh perhitungan sebagai berikut:
Mi = Pi – Pi-1 ... (1)
Mi = Bi + πi ... (2)
Maka besarnya marjin tataniaga dengan menggunakan (1) dan (2) adalah sebagai berikut:
mi = ∑ Mi ... (3)
Dengan demikian keuntungan lembaga tataniaga pada tingkat ke-i adalah: πi = Pi – Pi-1 + Bi ... (4)
Keterangan:
Mi = Marjin pada lembaga tataniaga ke-i
Pi = Harga penjualan pada lembaga tataniaga ke-i
Pi-1 = Harga penjualan pada lembaga tataniaga ke-i atau harga pembelian pada
lembaga tataniaga ke-i
Bi = Biaya tataniaga pada lembaga tataniaga ke-i
πi = Keuntungan yang diperoleh pada lembaga tataniaga ke-i
mi = Total marjin tataniaga
Dalam pasar persaingan sempurna, perjalanan suatu produk selalu melibatkan banyak lembaga tataniaga sehingga marjin tataniaga total yang terjadi merupakan penjumlahan marjin tataniaga dari setiap lembaga tataniaga.
4.4.5.2 Analisis Farmer’s Share
Indikator lain untuk menentukan efisiensi tataniaga suatu komoditas adalah melalui perhitungan farmer’s share. Farmer’s share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga. Farmer’s share dipengaruhi oleh tingkat pengolahan, keawetan produk, ukuran produk, jumlah produk, dan biaya produksi. Nilai
farmer’s share ditentukan oleh besarnya rasio harga yang diterima produsen (Pf)
Secara matematik dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut: 4.4.5.3 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya
Tingkat efisiensi sebuah sistem tataniaga juga dapat dilihat dari rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga. Dengan semakin meratanya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga, maka secara teknis (operasional) sistem tataniaga tersebut semakin efisien. Untuk mengetahui penyebaran rasio keuntungan dan biaya pada masing-masing lembaga tataniaga dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan: πi = Keuntungan lembaga tataniaga Ci = Biaya tataniaga
4.4.5.4 Analisis Keterpaduan Pasar
Caringin di Bandung. Analisis dilakukan secara statistik dengan menggunakan model Indeks of Market Connection (IMC) melalui pendekatan model
Autoregressive Distributed Lag (Ravallion, 1986). Model ekonometrika
Autoregressive Distributed Lag diduga dengan Metode Kuadrat Terkecil Biasa (Ordinary Least Square, OLS) sebagai berikut:
t
P = Harga cabai merah di pasar lokal pada minggu ke-t (Rp/Kg)
1
− it
P = Lag harga cabai merah di pasar lokal pada minggu ke-t (Rp/Kg) jt
P = Harga cabai merah di pasar acuan pada minggu ke-t (Rp/Kg)
1
− jt
P = Lag harga cabai merah di pasar acuan pada minggu ke-t (Rp/Kg) i
b = Parameter estimasi (bi= 1,2,3,….) t
e = Random error (galat)
Koefisien b2 mengukur sejauh mana perubahan harga di tingkat pasar acuan, yaitu Pasar Induk Caringin Bandung diteruskan terhadap harga di pasar lokal (harga di tingkat petani). Keterpaduan pasar jangka panjang dicapai apabila koefisien b2 = 1, artinya perubahan harga yang terjadi adalah netral dan proporsional jika dihitung dalam persentase. Jika b2 lebih besar dari 1, maka perubahan harga yang terjadi di pasar acuan (harga di tingkat pasar induk) akan sangat berpengaruh terhadap harga di tingkat pasar lokal. Jika b2 = 0 yang menunjukkan tidak adanya perubahan harga di tingkat pasar induk setiap bulannya dan tidak memberikan pengaruh terhadap pasar petani, maka koefisien
2
pedagang pengumpul hanya dipengaruhi oleh harga di tingkat pedagang grosir, dengan koefisien b1 dan b3. Apabila kedua koefisien terbsebut telah diketahui, maka dapat diperoleh indeks keterpaduan pasar (IMC) yang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut (Heytens, 1986):
IMC =
3 1 b b
Nilai IMC menggambarkan sejauh mana keterpaduan pasar jangka pendek antara pasar ke-1 dengan pasar acuan bagi pasar ke-i yang bersangkutan. Sedangkan keterpaduan jangka panjang, yang diwakili oleh nilai b2 melihat bagaimana perubahan jangka panjang di pasar ke-i dipengaruhi oleh perubahan jangka pendek yang terjadi diantara pasar ke-i dengan pasar acuan ke-j. Perubahan harga di pasar ke-i juga dipengaruhi oleh perubahan marjin pada waktu sebelumnya (time lag) antara pasar ke-i dengan pasar acuan.
4.4.5.4.1 Pengujian Hipotesis Keterpaduan Pasar Jangka Pendek
Pengujian hipotesis untuk masing-masing koefisien pada analisa keterpaduan pasar jangka pendek dilakukan dengan uji t-student. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah:
H0 : b1 = 0
H1 : b1 ≠ 0
Perhitungan t-hitung diperoleh dari:
t-hitung =
Apabila nilai t-hitung ≤ t-tabel maka hipotesis nol diterima secara statistik atau dengan kata lain kedua pasar terpadu dalam jangka pendek. Sebaliknya, apabila nilai t-hitung ≥ t-tabel maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima secara statistik. Artinya, kedua pasar tidak terpadu dalam jangka pendek.
4.4.5.4.2 Pengujian Hipotesis Keterpaduan Pasar Jangka Panjang Hipotesis untuk keterpaduan jangka panjang adalah:
H0 : b2 = 1
H1 : b2 ≠ 1
Pengujian hipotesis terhadap keterpaduan pasar jangka panjang ini dilakukan dengan menggunakan rumus t-hitung sebagai berikut:
Apabila nilai t-hitung < dari t-tabel, maka hipotesis nol diterima secara
statistik. Artinya, kedua pasar terpadu dalam jangka panjang. Sebaliknya jika t-hitung > t-tabel, maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima
secara statistik. Artinya kedua pasar tidak terpadu dalam jangka panjang.
Pengujian terhadap hipotesis jangka pendek dan jangka panjang dilakukan untuk melihat apakah suatu pengamatan atau penentuan cukup dekat dengan nilai yang dihipotesiskan, sehingga membawa kita untuk menerima yang dinyatakan yaitu dalam hal ini hipotesis nol (Ravallion, 1986).
4.5 Definisi Operasional
1. Harga cabai merah di tingkat petani produsen pada waktu t adalah harga cabai merah yang diterima petani pada saat menjual cabai merah pada periode ke-t. Peubah ini diukur dalam rupiah per kilogram.
2. Harga cabai merah di tingkat pedagang pada waktu t adalah harga cabai merah yang diterima pedagang pada saat menjual cabai merah pada periode ke-t. Peubah ini diukur dalam rupiah per kilogram.
3. Pedagang pengumpul adalah pedagang yang memperoleh cabai merah sebagai barang niaga langsung dari petani produsen dan biasanya bertempat tinggal dekat dengan daerah produksi.
4. Pedagang grosir adalah pedagang yang memperoleh cabai merah dari pedagang pengumpul yang menyalurkannya kepada pedagang pengecer.
6. Pedagang pengecer II adalah pedagang yang melakukan pembelian dari pedagang grosir atau pedagang pengecer I dengan jumlah pembelian tidak lebih dari lima kilogram serta menyalurkannya kepada konsumen akhir tanpa melakukan fungsi sortasi.
7. Marjin tataniaga adalah perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani yang dinyatakan dalam Rp/Kg atau persentase.
8. Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan dalam mendistribusikan produk dari sentra produksi sampai ke konsumen akhir dinyatakan dalam Rp/Kg. 9. Analisis harga keterpaduan pasar adalah harga rata-rata mingguan cabai merah
V GAMBARAN UMUM PENELITIAN
5.1 Keadaan Umum Wilayah Desa Cibeureum
Desa Cibeureum merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Desa ini terletak di daerah dataran tinggi dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut dan merupakan daerah sekitar hutan, tepatnya di daerah kaki Gunung Sawal. Desa Cibeureum terletak di sebelah utara Kabupaten Ciamis, tepatnya berada di Kecamatan Sukamantri. Berdasarkan data dari Monografi Desa Cibeuruem tahun 2006, luas wilayah Desa Cibeureum sekitar 20.281,226 m2, yang terdiri dari 70 persen lahan pertanian. Penduduk Desa Cibeureum berjumlah 3.477 jiwa. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh tani (66 persen). Wilayah Desa Cibeureum mempunyai batas administrasi sebagai berikut:
- sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka - sebelah timur berbatasan dengan Desa Sindanglaya
- sebelah selatan berbatasan dengan Desa Maparah dan Desa Bahara - sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamantri
5.2 Karakteristik Responden Petani
Responden petani dalam penelitian ini adalah petani cabai merah di Desa Cibeureum yang merupakan anggota Kelompok Tani Karang Sari, yaitu sebanyak 25 orang. Kelompok Tani Karang Sari didirikan pada tahun 2002 dengan fokus kegiatan pada masalah budidaya pertanian. Cara bercocok tanam yang digunakan oleh petani responden adalah dengan menggunakan sistem monokultur, yakni hanya menanam cabai merah saja. Petani responden memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, karena ada beberapa petani yang sudah menyelesaikan pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi. Persentase pendidikan petani responden tertinggi adalah tingkat sekolah dasar sebesar 28 persen, sedangkan persentase terendah adalah tingkat perguruan tinggi, yaitu 8 persen (Tabel 3). Tabel 3 Tingkat Pendidikan Petani Responden
Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
SD 7 28
SMP 10 40
SMA 6 24
S1 2 8
Jumlah 25 100
Tabel 4 Luas Lahan Cabai Merah di Tingkat Petani Responden Luas Lahan (m2) Jumlah (orang) Persentase (%)
≤ 1.000 6 24
1.001 – 4.000 5 20
4.001 – 7.000 7 28
7.001 – 11.000 5 20
≥ 11.000 2 8
Jumlah 25 100
Status kepemilikan lahan petani responden sebagian besar (92 persen) merupakan lahan sewa. Hanya sebagian kecil dari luas lahan petani responden yang merupakan milik sendiri. Umumnya petani responden yang mempunyai luas lahan yang cukup besar, sebagian lahannya merupakan lahan milik sendiri dan yang lainnya merupakan lahan sewa.
5.3 Karakteristik Responden Pedagang
Pedagang yang dijadikan responden dalam penelitian ini sebanyak 22 orang yang terlibat dalam saluran tataniaga cabai merah di Desa Cibeureum melalui Pasar Induk Caringin. Pedagang responden terdiri dari satu orang pedagang pengumpul, tiga orang pedagang grosir, dua orang pedagang pengecer I, dan 16 orang pedagang pengecer II.