BAB IV PEMBAHASAN MASALAH
A. PRAKTEK PERNIKAHAN DALAM MASA IDDAH DI DUSUN
2. Apakah faktor yang mendorong adanya pernikahan dalam masa iddah di Dusun Ngebuk Desa Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. 3. Bagaimana peran pegawai kantor pencatatan pernikahan dalam pernikahan
pada masa iddah di KUA Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui praktek pernikahan dalam masa iddah yang terjadi di Dusun Ngebuk Desa Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. 2. Untuk mengetahui faktor yang menjadi pendorong akan adanya pernikahan
dalam masa iddah di Dusun Ngebuk Desa Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.
3. Untuk mengetahui peran pegawai kantor pencatatan pernikahan dalam pernikahan pada masa iddah yang terjadi di KUA Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis
Diharapkan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang legalitas pernikahan dalam masa iddah di masyarakat. Selain itu penelitian
6
ini juga diharapkan sebagai bahan pustaka bagi Institut Agama Islam Negeri Salatiga Fakultas Syariah Jurusan Hukum Keluarga Islam (IAIN Salatiga).
2. Manfaat Praktis
Selain memberikan manfaat teoritis penelitian ini juga mempunyai manfaat praktis dan akademis.Sebagai sumbangan referensi kepada para pihak yang terkait yaitu tokoh masyarakat setempat, tokoh agama dalam menanggapi pernikahan dalam masa iddah.
E. PENEGASAN ISTILAH
Adapun penegasan istilah dalam penulisan ini yaitu: 1. Legalisasi
Legalisasi/ pengesahan ( menurut undang-undang atau hukum ): tidak menolong usaha pelembagaan perkawinan di masyarakat.Melegalisasi membuat menjadi legal; mengesahkan surat dan sebagainya. (KBBI)
2. Iddah
Iddah (Arab: ةدع; "waktu menunggu") di dalam agama Islam adalah sebuah masa di mana seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, baik diceraikan karena suaminya mati atau karena dicerai ketika suaminya hidup, untuk menunggu dan menahan diri dari menikahi laki-laki lain. ( Ibnu Mas'ud dan Zainal Abiding 2007: 375 )
3. Kasus
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), Kasus adalah keadaan yang sebenarnya dari suatu urusan atau perkara; keadaan atau
7
kondisi khusus yang berhubungan dengan seseorang atau suatu hal; soal; perkara;.
F. TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan penelusuran pustaka yang telah dilakukan, tentang masa iddah sudah dituangkan dalam beberapa penelitian, diantara penelitian – penelitian tersebut yang mirip dengan penelitian yang penyusun tulis antara lain :
Pada tahun 2012, dalam skripsi yang berjudul ―Pelaksanaan Pernikahan Dalam Masa Iddah Ditinjau Menurut Hukum Islam (Studi kasus di Tnajung Samak Kecamatan Rangsang Kabupaten Kepulauan Maranti). Karya Siti Anisah memfokuskan pemahasannya pada faktor yang menjadi pendorong masyarakat melakukan pernikahan dalam masa iddah. Dari hasil penelitian diatas adalah kebanyakan masyarakat di desa tersebut kurang memahami tentang batasan dan larangan dalam masa iddah sehingga tidak ada yang menghiraukan tentang masa iddah. Bedanya dari penulisan skripsi yang akan dibuat adalah peran pegawai pencatat perninakan dan faktor yang utama mendasari terlaksananya pernikahan dalam masa iddah.
Pada tahun 2015, karya Ita Nurul Asna dalam skripi yang berjudul ―Pelanggaran Masa Iddah di Masyarakat ( Studi Kasus di Dusun Gilang, Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru )‖. Skripsi ini memfokuskan pada bentuk pelanggaran dalam masa iddah yang dilakukan wanita. Hasil dari penelitian ini adalah bagaimana dan apa saja pelanggaran yang dilakukan wanita dalam masa iddah. Bedanya dari penulisan skripsi yang akan dibuat adalah peran pegawai
8
pencatat pernikahan dan faktor yang utama mendasari terlaksananya pernikahan dalam masa iddah.
Pada tahun 2017, karya Tendy Utama Halim dalam skripsi yang berjudul ―Akibat Hukum Dilanggarnya Masa Iddah Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Pernikahan Dan Kompilasi Hukum Islam ( Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Tasikmalaya Nomor:2085/Pdt.G/2004/Pa.Ts). Skripsi ini memfokuskan pada akibat hukum dari dilanggarnya masa iddah dalam undang-undang pernikahan. Hasil dari penelitian ini adalah para wanita yang melanggar masa iddah menerima hukuman menurut undang-undang pernikahan. Bedanya dari penulisan skripsi yang akan dibuat adalah peran pegawai pencatat perninakan dan faktor yang utama mendasari terlaksananya pernikahan dalam masa iddah.
Pada tahun 2015, karya Annaningtias Emmi dalam skripsi yang berjudul ―Pelaksanaan Masa Iddah ( Waktu Tunggu ) Bagi Seorang Wanita Ditinjau Dari Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam / INPRES No 1 Tahun 1991 ( Studi Kasus di Pengadilan Agama Demak ). Fokus dari skripsi ini adalah pelaksanaan masa iddah wanita menurut undang-undang pernikahan, kompilasi hukum islam dan inpres no.1 tahun 1991. Hasilnya adalah mengetahui seberapa lama masa tunggu atau masa iddah wanita sebelum menikah kembali. Bedanya dari penulisan skripsi yang akan dibuat adalah peran pegawai pencatat perninakan dan faktor yang utama mendasari terlaksananya pernikahan dalam masa iddah.
9
Pada tahun 2017, karya Siti Muthohharoh dalam skripsi yang berjudul ― Tinjauan hukum islam terhadap pernikahan dalam masa iddah pada masyarakat Dayak Bakumpai Desa Muara Bumban Kecamatan Murung kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah. Skripsi ini memfokuskan pada tinjauan dan solusi hukum pada masyarakat setempat. Hasilnya adalah masyarakat menjadi tau tentang hukum pernikahan dalam masa iddah. Bedanya dari penulisan skripsi yang akan dibuat adalah peran pegawai pencatat perninakan dan faktor yang utama mendasari terlaksananya pernikahan dalam masa iddah.
G. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian merupakan tindakan yang dapat membantu terlaksananya penelitian dengan hasil yang sangat baik.
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis pendekatan ini adalah penelitian lapangan ( Field Researd ) yang secara umum bersifat sosiologis-yuridis. Penelitian lapangan yaitu mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan
interaksi suatu sosial, individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat. ( Husaini Usman 2005: 5 ) Jadi, penelitian dengan hukum empiris harus dilakukan dilapangan dengan menggunakan metode dan teknik penelitian lapangan.
2. Sumber Data
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber asli yang memuat informasi atau data dari responden ( Amirin,1990:132 ). Dalam hal ini terdiri dari pasangan suami istri yang melakukan pernikahan
10
dalam masa iddah, tokoh masyarakat, Ulama‘, dan orangorang yang mengetahui masalah tersebut.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pihak lain,tidak secara langsung diterima oleh penulis dari subyek penelitiannya dalam format dokumentasi (Azwar,2007:91).Metode dokumentasi dilakukan dengan cara menelusuri pelaku nikah dalam masa iddah in yang menjadi obyek utama.
3. Metode Pengumpulan Data
Adapun cara penulis dalam melakukan pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Wawancara
Metode wawancara yaitu metode yang dipergunakan dalam penelitian dengan cara dialog yang dilakukan pleh pelaku sebagai pewawancara untuk memperoleh infomasi dari terwawancara ( Arikunto, 1998:145 ). Adapun metode wawancara yang dilakukan dengan cara tanya jawab secara lisan mengenai masalah yang ada dengan berpedoman pada daftar pertanyaan sebagai rujukan yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam metode ini penulis melakukan wawan cara kepada pelaku pernikahan dalam masa iddah, kepada pejabat kua setempat dan tokoh masyarakat di desa setempat sebagai informan guna mendapatkan informasi.
b. Dokumentasi
11
peristiwa yang berlaku.Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Sedangkan menurut Arikunto (1998:236) dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti notulen-notulen, lengger, agenda, dan sebagainya. 4. Metode Analisis Data
Sesudah data terkumpul kemudian data tersebut dianalisa agar memperoleh data yang matang dan akurat. Dalam penganalisaan data tersebut penulis menggunakan analisa kualitatif yaitu, analisa untuk meneliti kasus setelah terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk uraian. ( Moeloeng 2011:288 )
Pada metode ini penulis akan mengolah data yang diperoleh dari hasil wawancara dan mengamati dari sumber-sumber lain agar lebih mengetahui lebih dalam tentang terjadinya pernikahan dalam masa iddah. H. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk memudahkan dalam penulisan ini, maka penulis menyusun sistematika sebagai berikut :
Bab Pertama, Berisi tentang Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab Kedua, Berisi tentang Landasan teori masa iddah yang berisi tentang Pegertian iddah, macam-macam iddah, landasan Hukum, Pendapat ulama, dan hikmah iddah dan Tugas serta kewenangan KUA.
12
Bab Ketiga, Berisi tentang Hasil penelitian yang berisi tentang gambaran lokasi penelitian.
Bab keempat, Berisi tentang Pembahasan yang berisikan pemaparan tentang skripsi yang dibuat.
Bab kelima, Berisi tentang Penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran.
13 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Masa Iddah
1. Pengertian Masa Iddah
Menurut bahasa iddah berasal dari kata al-‗adad yang berarti menghitung. Kata al-‗adad memiliki arti ukuran dari sesuatu yang dihitung dan jumlahnya. Secara etimologi iddah berarti:menghitung atau hitungan.Kata ini digunakan untuk maksud Iddah karena wanita yang beriddah menunggu waktu berlakunya.( Syarifuddin, 2006, h.303)
Pengertian iddah secara istilah ,para ulama banyak memberikan pengertian yang beragam, seperti Muhammmad al-Jaziri memberikan pengertian bahwa iddah merupakan masa tunggu seorang perempuan yang tidak hanya didasarkan pada masa haid atau sucinya tetapi kadang-kadang juga didasarkan pada bilangan bulan atau dengan melahirkan dan selama masa tersebut seorang perempuan dilarang untuk menikah dengan laki-laki.( Al-Jaziri,1969,jilid 4: 513 )
Pengertian yang tidak terlalu beda, juga diungkapkan oleh Sayyid Sibiq bahwa ‗iddah merupakan sebuah nama bagi masa lamanya perempuan (istri) menunggu dan tidak boleh kawin setelah kematian suaminya atau setelah pisah dari suaminya.kedua pengertian ulama ini sedikit beriringan yang menekankan pada masa menunngu dan ketentuan untuk menikah dalam masa tunggu tersebut. ( Sabiq,2009: 196 )
14
Selain kedua pendapat diatas juga ada sebuah pendapat mengenai Iddah dari Abu Yahya Zakariya al-Ansari yaitu ‗iddah sebagai masa tunggu seorang perempuan untuk mengetahui kesucian rahim untuk ta‘abbud (beribadah) atau untuk tafajju‘ (bela sungkawa) terhadap suaminya.(Al-Ansari,1998:103)
Dari definifi diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa pada masa tunggu yang ditetapkan bagi perempuan setelah kematian suami atau putusnya perkawinan baik berdasarkan masa haid atau suci, bilangan bulan atau dengan melahirkan untuk mengetahui kesucian rahim, beribadah atau ta‘abbud maupun bela sungkawa atau tafajju‘ atas suaminya.selama masa tersebut seorang perempuan (istri) dilarang untuk menikah dengan laki-laki lain.
2. Landasan Hukum Masa Iddah Hukum iddah wajib,dasarnya:
a. Al Quran firman allah.
ٍءوُرُ ق َةَث َلََث َّنِهِسُفْ نَأِب َنْصَّبَرَ تَ ي ُتاَقَّلَطُمْلاَو
ۚ
“ Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diti (menuggu) tiga kali quru”.(QS. Al-Baqarah (2): 228).
Az—Zamakhsyari berkata: ayat ini berbentuk berita dalam makna perintah Asal perkataan: Hendaklah wanita-wanita itu menunggu , mengeluarkan perintah dalam bentuk kalimat berita bermakna penguat perintah dan memberi isyaarat termasuk sesuatu yang wajib diterima dengan segera agar dipatuhi. Mereka seakan telah
15
patuh terhadap perintah menunggu kemudian Allah memberitakan apa adanya. Perumpamaan perkataan mereka:‖semoga Allah merahmatimu‖kalimat ini dikeluarkan dalam bentuk berita karena percaya terkabulnya,seolah telah ad rahmat kemudian diberitakan. Dalam alquran allah telah memberitakan tentang masa iddah.
b. Sunnah sebagaimana dijelaskan dalam shahih muslim dari fathimah binti qais bahwa Rasulullah bersabda kepadanya:
موتكم ما نب ا كمع نبا تيب ئف يدتعا
“hendaklah enkau di rumah pamanmu ibnu umi maktum”.(muslim : 1\94)
Dan sabda nabi kepada wanita yang khulu‘: dan hendaklah engkau ber-iddah sekali haid.sebagai mana dalam bab khulu‘ dan hadis lain. c. Ijma‘ umat islam sepakat wajibnya iddah sejak masa Rasulullah
sampai sekarang.
B. Masa Iddah MenurutUndang-Undang No.1 Tahun 1974 Dan Kompilasi Hukum Islam
1) Menurut UU No.1 Tahun 1974 Pasal 11
a. Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu. b. Tenggang waktu jangka waktu tersebut dalam ayat (1) akan di atur
dalam pengaturan pemerintah lebih lanjut. 2) Menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 153-154
16
a. Bagi seorang istri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qobla al dukhul dan perkawinannya putus bukan karena kematian suami.
b. Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut:
1) Apabila putus karena kematian, walaupun qobla al dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 hari;
2) Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih haid 3(tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkannya 90 hari;
3) Apabila perkawinan putus karena perceraian sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu sampai melahirkan;
4) Apabila perkawinan putus karena kematian, janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu sampai melahirkan.
c. Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya qobla al dukhul. d. Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu
dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan agama yang mempunyai kekuatan hukum tetap,sedangkan perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami. e. Waktu tunggu bagi isteri yang pernah haid sedang waktu menjalani
17
f. Dalam hal keadaan pada ayat (5) bukan karena menyusui, maka iddahnya selama 1 tahun, akan tetapi bila dalam waktu setahun tersebut ia haid kembali, maka iddah nya menjadi 3 kali suci.
Pasal 154 apabila isteri bertalak raj‘i kemudian dalam waktu iddah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) huruf b, ayat (5) dan ayat (6) pasal 153, ditinggal mati oleh suaminya, maka iddahnya berubah menjadi 4 bulan 10 hari terhitung saat matinya bekas suaminya.
C. Perhitungan Masa Iddah
Secara umum pembagian iddah sebagai berikut:
1. Iddah seorang isteri yang sudah tidak haid ( menopause ) yaitu tiga bulan: 2. Iddah seorang isteri yang ditinggal mati oleh suaminya adalah empat bulan
sepuluh hari jika ia tidak dalam keadaan hamil.
3. Iddah seorang isteri yang hamil yaitu sampai melahirkan, Dari keempat bagian itu jika diperincikan terbagi menjadi:
a. Iddah berdasarkan haid
Apabila terjadi putus perkawinan disebabkan karena talaq, baik raj‘i maupun ba‘in, baik ba‘in sughra maupun kubra atau karena fasakh seperti murtadnya suami atau khiyar bulug dari perempuan sedangkan isteri masih mengalami haid maka ‗Iddahnya dengan tiga kali haid. Sekalipun ketentuan ini harus memenuhi syarat.( Sabiq,2007: 278. ) Selain itu ada pula ketentuan bahwa iddah berdasarkan haid juga berkaitan dengan isteri yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia tidak
18
dalam keadaan hamil dalam dua keadaan. Pertama, apabila ia dicampuri secara syubhat dan sebelum putus perkawinannya suaminya meninggal maka ia wajib beriddah berdasarkan haid. Kedua, apabila akadnya fasid dan suaminya meninggal maka ia ber‘iddah dengan berdasarkan haid tidak dengan empat bulan sepuluh hari yang merupakan ‗Iddah atas kematian suami karena hikmah ‗Iddah di sini adalah untuk mengetahui kebersihan rahim dan tidak untuk berduka terhadap suami karena dalam hal mencampuri secara syubhat tidak ada suami dan dalam akad yang fasid tidak ada suami secara syar‘i maka tidak wajib berduka atas suami.
b. Iddah berdasarkan bilangan bulan
Apabila perempuan (istri) merdeka dalam keadaan tidak hamil dan telah dicampuri baik secara hakiki atau hukmi dalam bentuk perkawinan sahih dan dia tidak mengalami haid karena sebab apapun baik karena dia masih belum dewasa atau sudah dewasa tetapi telah menopause yaitu sekitar umur 55 tahun atau telah mencapai umur 15 tahun dan belum haid kemudian putus perkawinan antara dia dengan suaminya karena talak, atau fasakh atau berdasarkan sebab-sebab yang lain maka ‗Iddahnya adalah tiga bulan penuh berdasarkan firman Allah dalam Surat at-Talaq (65): 4.
َْلَ ىِ ََّّٰلٱَو ٍرُهْشَأ ُةَثََّٰلَ ث َّنُهُ تَّدِعَف ْمُتْبَ تْرٱ ِنِإ ْمُكِئاَسِّن نِم ِضيِحَمْلٱ َنِم َنْسِئَي ى ََّّٰلٱَو
َنْضَِيَ
ۚ
َّنُهَلَْحْ َنْعَضَي نَأ َّنُهُلَجَأ ِلاَْحَْْلْٱ ُتََّٰلوُأَو
ۚ
َو
ُوَّل لَعَْيَ َوَّللٱ ِقَّتَ ي نَم
ۥ
ِهِرْمَأ ْنِم
ۦ
اًرْسُي
19
“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya”. (Q.S. At-thalak: 4).
Dalam hal ini bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia tidak dalam keadaan hamil dan masih mengalami haid iddahnya empat bulan sepuluh hari berdasarkan firman allah Surat al- Baqarah (2) : 234.
اًرْشَعَو ٍرُهْشَأ َةَعَ بْرَأ َّنِهِسُفْ نَأِب َنْصَّبَرَ تَ ي اًجاَوْزَأ َنوُرَذَيَو ْمُكْنِم َنْوَّ فَوَ تُ ي َنيِذَّلاَو
ۚ
اَذِإَف
ِفوُرْعَمْلاِب َّنِهِسُفْ نَأ ِفِ َنْلَعَ ف اَميِف ْمُكْيَلَع َحاَنُج َلََف َّنُهَلَجَأ َنْغَلَ ب
ۚ
اَِبِ ُوَّللاَو
َخ َنوُلَمْعَ ت
ٌيِب
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat”. (Q.S.Al-Baqarah: 234)
c. Iddah berdasarkan meninggalnya suami
Dalam poin ini, terbagi menjadi dua bagian , diantaranya:
Pertama, istri yang tidak dalam keadaan hamil ‗Iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari berdasarkan surat al-Baqarah (2) :234.
اًرْشَعَو ٍرُهْشَأ َةَعَ بْرَأ َّنِهِسُفْ نَأِب َنْصَّبَرَ تَ ي اًجاَوْزَأ َنوُرَذَيَو ْمُكْنِم َنْوَّ فَوَ تُ ي َنيِذَّلاَو
ۚ
اَذِإَف
اَنُج َلََف َّنُهَلَجَأ َنْغَلَ ب
ِفوُرْعَمْلاِب َّنِهِسُفْ نَأ ِفِ َنْلَعَ ف اَميِف ْمُكْيَلَع َح
ۚ
اَِبِ ُوَّللاَو
ٌيِبَخ َنوُلَمْعَ ت
20
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat‖. (Q.S.Al-Baqarah: 234)
Dalam hal ini tidak aada perbedaan baik istri masih kecil atau sudah dewasa , muslim atau kitabiyah begitu pula apakah sudah melakukan hubungan atau belum karena ‗iddahnya dalam kondisi seperti ini adalah untuk menunjukkan kesedihan dan rasa belas kasih atas kematian suami sehingga diisyaratkan bahwa akadnya sahih , jika akadnya fasid maka ‗iddahnya dengan haid karena untuk mengetahui kebersihan rahim.Semua ketentuan ini adalah bagi istri yang merdeka sementara jika istri aadalah hamba sahaya dan hamil maka ‗iddahnya sama dengan istri yang merdeka yaitu sampai melahirkan dan jika tidak hamil dan masih mengalami haid ‗iddahnya adalah dua kali suci. Kedua , apabila istri dalam keadaan hamil ‗iddahnya sampai melahirkan.
d. Iddah bagi perempuan yang belum di dukhul
Adapun jika putusnya perkawinan terjadi sebelum di dukhul (hubungan suami istri) apabila disebabkan oleh kematian suami maka wajib bagi istri untuk beriddah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dan jika putusnya perkawinan disebabkan karena talaq atau fasakh maka tidak ada kewajiban ‗iddah bagi istri. Jika nikahnya berdasarkan akad sahih tidak disyaratkan adanya dukhul ( hubungan suami istri ) hakiki akan tetapi adanya khalwat shahih sudah
21
mewajibkan untuk ber‘iddah sebaliknya jika berdasarkan akad fasid
maka tidak wajib ber‘iddah kecuali telah terjadi dukhul hakiki ( hubungan suami istri ).Dan tidak ada kewajiban ‗iddah bagi istri yang
dicerai sebelum dicampuri ( qabla ad-dukhul ) berdasrkan firman allah dalam surat al-Ahzab (33):49.
َكَن اَذِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي
اَمَف َّنُىوُّسََتَ ْنَأ ِلْبَ ق ْنِم َّنُىوُمُتْقَّلَط َُّثُ ِتاَنِمْؤُمْلا ُمُتْح
اَهَ نوُّدَتْعَ ت ٍةَّدِع ْنِم َّنِهْيَلَع ْمُكَل
ۚ
ًلَيَِجَ اًحاَرَس َّنُىوُحِّرَسَو َّنُىوُعِّ تَمَف
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yangkamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaikbaiknya”.(Q.S al-Ahzab (33) : 49)
e. Iddah wanita istihadah adalah sama dengan kebiasaan haidnya.
Namun apabila tergolong wanita yang menopause maka iddah-nya akan berakhir setelah melewati masa tiga bulan.
Adapun perhitungan masa iddah yang diatur dalam Pasal 153 Ayat 2 Kompilasi Hukum Islam bahwa masa iddah bagi wanita yang ditinggal mati adalah 130 hari. Masa iddah perceraian bagi wanita yang masih haid adalah tiga kali suci atau sekurang-kurangnya 90 hari, dan masa iddah bagi wanita menopause adalah 3 bulan atau 90 hari. Masa iddah bagi janda yang berada dalam keadaan hamil adalahsampai ia melahirkan. Serta masa iddah bagi wanita yang ditinggal mati sedang ia dalam kondisi hamil, maka iddahnya hanya sampai ia melahirkan.( Zainuddin Ali,2000: 88.)
22
Penulis memahami bahwa dalam Hukum Pernikahan di Indonesia, memiliki ikhtiyati yang tinggi terhadap iddah Diketahui bahwa masa „iddah bagi wanita ba‟da dukhul adalah tiga kali quru‟. Sedangkan siklus haid dan kesucian wanita itu bersifat subjektif, sehingga tercapainya kesempurnaan iddah juga berbeda, ada yang kurang dari tiga bulan dan ada yang lebih. Maka Hukum Perkawinan di Indonesia yang tertuang dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mencoba untuk berhati-hati dalam memberikan ketentuan masa iddah. Dan sejalan dengan hukum administratif di Indonesia tentang pernikahan dan talak,bahwa wanita janda (talak raj‟i) boleh menikah kembali saat mencukupi masa „iddah tiga kali quru‟ yaitu 90 hari.
D. Hikmah Iddah
Mayoritas fuqoha‘berpendapat bahwa semua iddah tidak lepas dari maslahat yang dicapai,yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui tentang kebebasan rahim dari percampuran nasab. (Ash-Shabuni,2008:261)
2. Memberikan kesempatan bagi suami agar dapat intropeksi diri dan kembali kepada istri yang dicerai.
3. Berkabungnya wanita yang ditinggal mati suami untuk memenuhi dan menghormati perasaan keluarganya.
23
4. Mengagungkan urusan nikah,karena ia tidak sempurna kecuali dengan terkumpulnya kaum laki-laki dan tidak melepas kecuali dengan penantian yang lama.
Ibnu Al- Qoyyim (Al-Mahally:2010:257) berpendapat bahwa iddah adalah diantara perkara yang bersifat ibadah (ta‘abbudi) yang tidak tidak menemukan hikmahnya selain allah karena kita berhajat mengetahui kebebasan rahim wanita yang mandul ketika dicerai dan tidak ada kesempatan rujuk dalam talak ba‘in.
Pendapat yang shahih seperti apa yang dikemukakan mayoritas fuqoha‘diatas dari beberapa hikmah iddah. Sesungguhnya iddah hukumnya wajib sehingga wanita yang mandul pun,dalam keadan talak ba‘in dan fasakh akad sebab apapun agar dapat melintasi seluruh bab dalam satu bentuk.
E. Hak Dan Kewajiban Wanita Ber-Iddah
Wanita ber-iddah talak raj‘i (setelah talak tidak boleh rujuk kembali), para fuqoha‘tidak berbeda pendapat bahwa suami berkewajiban memberikan tempat tinggal dirumah suami dan memberi nafkah. Sedangkan istri wajib