FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto Abstrak
1) Praktek Ranah Pengajaran di Kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Pada Program Studi PPKn cukup banyak didukung oleh banyak matakuliah, seperti matakuliah Ideologi Negara, Pkn sendiri, HAM, Negara Hukum dan Demokrasi. PKn memang idealnya penyajiannya hanya ranah afektif jarang tersentuh, apalagi psikomotor, padahal entri point PKn adalah ranah kognitif. Kendalanya waktu, fasilitas, kemampan dosen . Evaluasi juga demikian. Apalagi mahswa banyak ujian dg objektif (Ahmad Mutholiin, wawancara , 25 Maret 2011).
Dalam prakteknya itu menerapkan mata kuliah civic education, modelnya bukan hanya terpacu pada mahasiswa saja tetapi kepada dosen diberikan penalaran mengenai bela negara yang berkaitan moral ( Sutomo, wawancara, 15 Juni 2011).
Pada ranah pengajaran, yakni penyebaran nilai-nilai kewarganegaraan melalui kegiatan perkuliahan untuk menggantikan mata kuliah kewiraan ( Dengan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan/Pkn) yang selama ini banyak didominasi oleh doktrin militerisme. Dalam hal ini prakteknya pada kampus UM Purwokerto, dalam pengajaran PKn tidak hanya memahami mata kuliah tetapi mahasiswa diharapkan dapat menerapkan dari materi PKn yang terkandungnya didalamnya nilai moral. Tidak ada indoktrinasi, yang ada umpan balik dengan mahasiswa, diskusi, demokrasi, dll (Sigid Sriwanto, wawancara 13 Juni 2011).
Selama ini banyak didominasi oleh doktrin militerisme. Di UM Purwokerto penyampaian konsep-konsep yang harus dipahami oleh mahasiswa kemudian mahasiswa mengeluarkan pendapat dan lain-lain sudah dilaksanakan. Begitu juga kegiatan-kegiatan dialog yang harus dimiliki mahasiswa juga sudah dilaksanakan (Muhamad Afandi, wawancara 18 Juni 2011).
PKn itu bagus apabila ditanamkan pada mahasiswa, karena mengacu kepada kedisiplinan.maka saya pun menerapkan kedisiplinan pada mahasiswa. Sebagai contoh tugas yang di berikan pada mahasiswa tidak ada kata terlambat.kemudian pengumpulan tugas yaitu pada saat UTS sehingga mahasiswa tidak merasa terbebani. Kemudian materi-materi yang terlupakan pada PKn saat sekarang ini yaitu butir-butir pancasila, pancasila samasekali tidak terlihat pada buku manapun yang seharusnya setiap mahasiswa mengamalkannya, namun kenyataannya mahasiswa jauh dari hal tersebut. PKn hanya bersifat teoritis karena Nasionalismenya luntur maka pelaksanaan dikampus menjadi semu.Contoh: muhammadiyah
25
mengeluarkan fatwa bahwa rokok itu haram. Namun masih banyak mahasiswa yang merokok di kampus, maka ke-Islaman dan ke-Muhamadiyahan tidak mewarnai kampus (Bunyamin Muhtasyar, wawancara, 23 Juli 2011).
Dalam prakteknya, mahasiswa harus dapat menyadari bahwa contoh majunya suatu bangsa harus berbasis pada ilmu, tetapi dalam menerapkan suatu ilmu harus di dasari dengan seimbang dengan etika, norma. Tetapi jika tidak di dasari dengan hal tersebut, maka hasilnya tidak seimbang, dan menjadi mahasiswa yang bodoh karena mahasiswa tidak menyadari akan pentingnya siatu ilmu. Jadi, mahasiswa itu harus menyadari bahwa ilmu itu sangat penting bagi memajukan suatu bangsa, individu dengan cara semangat balajar (Cahyono Purbomartono, wawancara: 24 Juli 2011).
2). Ranah Pengabdian Masyarakat, pelaksnaan kegiatan KKN, pengabdian pada masyarakat, bakti sosial dan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa dalam rangka mewujudkan campus based civic education pada kampus-kampus perguruan Tinggi Muhammadiyah
Menurut Rektor UM Surakarta (Bambang Setyadi, wawancara, 25 Maret 2011) KKN ada lagi, khusus yg berminat, tidak wajib, PPM ada anggaran, bakti sosial ada lazis, dipotong dari gaji karyawan dikelola khusus yg membidangi. Ada lembaga wakaf tunai mengeluarkan beras 400 bk, a 5 kg, penyaluran Solo dan Sukoharjo, utuk menyantuni guru-guru Muhammadiyah yang kekurangan.
KKN ada lagi, khusus yg bermnat, tidak wajib, PPM ada anggaran, bakti sosial ada lazis, dipotong dari gaji karyaawan dikelola khusus yg membidangi. Ada lembaga wakaf tunai mengeluarkan beras 400 bk, a 5 kg, penyaluran Solo dan Sukoharjo, untuk menyantuni guru- guru pada seolah Muhammadiyah. Yang kekurangan.
Pengabdian punya focus pada ranah ini tidak dilakukan. Jika dilakukan pada sendiri-sendiri yang dilakukan oleh dosen, KKN tidak ada. Kegiatan bersama kemahasiswaan, bakti sosial, kepramukaan dikaitkan dengan pengabdian.ada perkemahan, yang biasanya pada hari terakhir
digunakan untuk bahti sosial Mutholi in, wawan ara, Maret . Tetapi untuk KKn te atik
/ KKN PPM yang berupa hibah dan bermitra dengan UGM, yang tujuan utamanaya adalah untuk pemberdayaan masyarakat masih tetap ada (Wakil Rektor III UM Surakarta, wawancara, 25 Maret 2011).
Khusus bakti sosial, memang lebih banyak dilaksanakan oleh BEM, yang sifat bakti sosial inni sangat bervariasi. Di UM Surakarta terdapat 42 UKM. Mahasiswa mempunyai desa binaan. Bakti sosial yang sudah sering dilakukan seperti donor darah massal, penjualan sembako murah, mengadakan kekaryaan di desa semacam pendampingan usaha masyarakat seperti beternak lele dumbo, usaha jamur, dan pembinaan dalam hal motif batik (Wakil Rektor III UM Surakarta, wawancara, 25 Maret 2011).
3). Ranah Kemahasiswaan
Penyebaran nilai-nilai kewarganegaraan melalui kegiatan kemahasiswaan di lingkungan Perguruan tinggi Muhammadiyah, seperti pengembangan model student goverment dan
26
penguatan etos kewirausahaan (enterpreneurship), dan realisasi pelaksanaannya di kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Contoh memberi keleluasaan mahasiswa untuk berorganisasi, kegiatan kemahasiswaan, bahkan jika ada benturan dengan kuliah , dosen agar memberikan dispensasi mahasiswa. Salah satu syarat untuk mendapatkan bea siswa mahasiswa harus mencantumkan kegiatan mahasiswa. Kewirausahaan, dulu pernah, ada proposal yang diterima untuk kain rajut. Maksudnya juga mendorong mahasiswa untuk berwirausaha agar tdak saja ingin jadi PNS
Wawan ara, Mutholi in, Maret .
Berdasarkan hasil wawancara dengan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Surakarta ( 25 Maret 20110), menyatakan bahwa di UM Surakarta terdapat lembaga kewirausahaan mahasiswa yang telah bergerak dalam beberapa bidang, misalnya (1) menangani masalah hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi; (2) menggulirkan dana kewirausahaan internal; (3) dengan cara dikompetisikan, yaknni mahasiswa membuat proposal, diseleksi kelayakannya, jika diterima maka akan diberikan pendanaan, atau sebaliknya yang ditolak tidak didanai; (4) pembinaan kemitraan antara mahasiswa dengan Bank Mandiri. Dengan cara dosen-dosen UM Surakarta ditraining oleh Bank Mandiri, kemudian membentuk kelompok- kelompok usaha yang melibatkan mahasiswa. Sifatnya berupa hibah, karena yang kita utamakan pada mahasiswa adalah mental, bukan produk; ( 5) mengadakan kerja sama dengan beberapa lembaga yang telah sukses dalam pelatihan-pelatihan bidang kewirausahaan seperti Djarum, Pramita Utama, Lembaga Medik, yang semuanya untuk membangun jiwa kewirausahaan.
Khusus dalam hal student goverment, menurut Wakil Rektor III (wawancara, 25 Maret 2011) adalah sebagai berikut: (1) payungnya adalah BEM yang bekerja sama dengan pihak pemerintah; (2) dewan perwakilan mahasiswa, yang dipilih dalam pemilu raya oleh mahasiswa; (3) Majelis Permusyawaratan Mahasiswa yang merupakan perwakilan dari masing-masing fakultas; dan (4) BEM Fakultas yang dipilih melalui pemilu.
Mahasiswa diberi peluang untuk membentuk lembaga kemahasiswaan untuk mahasiswa berlatih bernegara misal dengan BEM tetapi diberikan batasanya dari pihak universitas tetap mengontrol dan mengawasi dari kegiatan BEM tersebut ( Sutomo, wawancara, 15 Juni 2011).
Student goverment merupakan suatu lembaga yang dikelola oleh mahasiswa di lingkungan
kampus. Seperti misalnya dulu pernah ada pengelolaan kewirausahaan iptek, namun dalam pelaksanaannya tidak berjalan dengan baik, karena dulu pernah ada mahasiswa yang tidak jujur sehingga sempat tertidur atau hancur sementara.kemudian program iptek di bangun kembali dengan pihak kampus yang memberikan fasilitas dan modal. Namun kemudian dari curhat para mahasiswa yaitu konflik dari mahasiswa cukup tinggi sehingga untuk masuk atau mengarah kesiyu masih cukup sulit (Bunyamin Muhtasyar, wawancara, 23 Juli 2011).
Pada dasarnya itu semua tentang konsep kemandirian untuk kemajuan anak bangsa indonesia. Membentuk kepribadian yang baik, lingkungan yang baik pula. Dalam rangka pengajaran yang baik itu, dalan pemenuhan kwalitas kebutuhan mahasiswa itu harus lengkap, dan mahasiswa mendapat fasilitas belajar yang baik agar mahasiswa tidak binging untuk
27
belajarnya sebagai tambahan ilmu, serta mahasiswa dapat semangat dalam belajar (Cahyono Purbomartono, wawancara: 24 Juli 2011).
Simpulan dan Saran Simpulan
Berdasarkan temuan-temuan penelitian, dapat disimpulkan:
1. Perguruan Tinggi Muhammadiyah bertekad untuk menegakkan tiga pilar yang meliputi anti kekerasan, konstitusional, dan memberikan sesuatu yang riil bagi kemajuan masyarakat.
2. Pelaksanaan ketiga pilar tersebut di perguruan Tinggi Muhammadiyah lebih mengedepankan perdamain, tidak saling intervensi, mematuhi dan melaksanakan aturan yang sudah ada.
3. Perwujudan dan dampaknya terhadap kehidupan di kampus, nampak dalam kehidupan mahasiswa, dalam kegiatan mahasiswa, dalam perkuliahan, cukup saling menghargai, menghormati, tidak memaksakan kehendak, dan cukup kondusif. Di samping itu mahasiswa menjadi toleran, suasana kampus damai, tidak ada kekerasan.
4. Praktek pelaksanaan proses pembelajaran PKn di kampus perguruan tinggi Muhammadiyah, mahasiswa tidak hanya memahami materi mata kuliah tetapi mahasiswa ditekankan dapat menerapkan materi PKn yang di dalamnya terkandung sarat dengan nilai-nilai moral. Tidak ada indoktrinasi, yang ada umpan balik dengan mahasiswa, diskusi, pembelajaran yang demokratis. 5. Pelaksanaan kegiatan kuliah kerja nyata, pengabdian pada masyarakat, bakti sosial dan
kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa dalam rangka mewujudkan campus based civic education
6. Penyebaran nilai-nilai kewarganegaraan melalui kegiatan kemahasiswaan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, seperti pengembangan model student goverment dan penguatan etos kewirausahaan (enterpreneurship)
Saran
Berdasarkan simpulan di atas, saran yang diajukan adalah :
1. Lembaga, Perguruan tinggi Muhammadiyah hendaknya terus berupaya untuk meningkatkan dan memantapkan campus based civic educatian yang anti kekerasan, konstitusional dan memberikan manfaat riil bagi kemajuan masyarakat.
2. Dosen PKn di Perguruan Tingi Muhammadiyah hendaknya:
a. senantiasa mengembangkan proses pembelajaran PKn secara interaktif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
b. menempatkan mahasiswa sebagai subyek pendidikan, mitra dalam proses pembelajaran, dan sebagai umat, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara
c. pembelajaran yang diselenggarakan merupakan proses yang mendidik, yang di dalamnya terjadi pembahasan kritis, analitis, induktif, deduktif, dan reflektif melalui dialog kreatif partisipatori.
28
3. Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah hendaknya mengembangkan model student
goverment dan penguatan etos kewirausahaan (enterpreneurship).
Daftar Pustaka
Azra, A.(2002). Pendidikan Kewargaan untuk Demokrasi Indonesia.Warta PTM, Edisi (2) Th. XV, 8-10. Basrie, C.,(2002). Modul Acuan Proses Pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
(MKPK) Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi.
Best W. (1977). Research In Education. Englewood Cliffs : Prentice-Hall.
Borg,W.R & Hall,M.D.,( 1989). Educational Research, Longman Group, London.
Brodjonegoro, S.S.(2000). Prospek Pendidikan Tinggi di Indonesia, Makalah dalam Pengarahan pada Penataran Dosen Pancasila di Jakarta, Nopember,2000.
Buchori, M. (2000). Reformasi Pendidikan, Jakarta : Analisis CSIS Tahun XXIX/2000, No.(3), 242-255. Chamim, A.I., et al. (2003), Civic Education Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang
Demokratis dan Berkeadaban. Yogyakarta : Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan
Pengembangan PP Muhammadiyah, LP3M UMY, The Asia Foundation.
Cipto, B.,(2002). Pendidikan Kewarganegaraan(Civic Education) . Yogyakarta : LP3 UMY.
Creswell, W. (994). Research Desigh Qualitative & Quantitative Approaches, : Sage Publications, New Delhi.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2003).Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi,(2000). Penyempurnaan (GBPP) (MKPK) Pendidikan
Kewarganegaraan Pada Perguruan Tinggi di Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia.
Djohar, (1999). Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia Sebuah Rekonstruksi Pemikiran. Yogyakarta:IKIP Negeri Yogyakarta.
International Commission of Jurist, (2003). PKn Kita Gagal. Tersedia on line : www.aksara.org/jurnal- detail.asp. item – id = 3D275 (10 September 2003)
Kerlinger N, (1986). Foundation of Behavioral Reserarch Third Edition,Eugene. Oregon:Winston Inc.All.
Ketetapan-Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Hasil Sidang Istimewa Tahun 1998, Solo: PT Pabelan.
29
Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah (2004), Direktori
Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Yogyakarta : Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian
dan Pengembangan PP Muhammadiyah.
Muhaimin,Y.(2002). Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Warta PTM, Edisi Khusus (1)
Th.XIV, 10-11.
Riyanto, M. (2002). Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Malang : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Proyek Peningkatan Pusat Pengembangan Penataran Guru IPS dan PMP.
Rosyada, D. (2004). Paradigma Pendidikan Demokrasi Sebuah model Pelibatan Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta : Prenada Kencana.
Rosyada, D.(2003). Menciptakan Experimental Democracy Melalui Pembelajaran CE. Warta PTM,
Edisi (7) Tahun XV,8-18.
Ruseffendi,H.E.T, dan Ahmad Sanusi, (1998). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-
Eksata Lainnya. Semarang : IKIP Semarang Press.
Sulaiman, W. (2002). Jalan Pintas Menguasai SPSS 10. Yogyakarta : Penerbit Andi
Tukiran, (2005) Efektivitas Implementasi Model Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Berbasis Portofolio. Disertasi pada Program Pascasarjana UPI: tidak diterbitkan.
Tukiran, (2006). Pengembangan Model pembelajaran Berbasis Portofolio pada Matakuliah
Pendidikan Kewarganegaraan untuk Mengembangkan Nilai-nilai Demokrasi Mahasiswa.
Hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Purwokerto : tidak diterbitkan.
Ubaidillah,A. (2000). Pendidikan Kewargaan(Civic Education) Demokrasi, HAM dan Masyarakat
Madani. Jakarta : IAIN Jakarta Press.
Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Ditjen Dikdasmen Departemen pendidikan Nasional.
Unesco, (1998). Learning to Live Together in Peace and Harmony. Bangkok : Unesco Proap.
Unesco, (1999). Learning: The Treasure Within. ( Terjemahan Napitupulu) Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Winataputra, (2003). Pendidikan Kewarganegaraan, Tersedia on line: www. kompas. com/kompas. cetak/0101/24/ dikbud/pkn do9.htm. (10 September 2003)
Winataputra, U.S. (2000). Kata Pengantar, dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan (Civic
Education). Jakarta: IAIN Jakarta Press.
Zamroni, (2001), Pendidikan untuk Demokrasi Tantangan Menuju Civil Society.Yogyakarta : Bigraf Publishing.
Zamroni, (2003b), Peran pendidikan Tinggi dalam Menuju Kehidupan Masyarakat yang Demokratis, Makalah di sampaikan pada Seminar Nasional Civic Education di Perguruan Tinggi di Yogyakarta, 8-9 Maret 2003.
30
Zamroni, (2003c). Pendidikan Kewarganegaraan: Tradisi dalam memelihara Kehidupan Majemuk,
Warta PTM Edisi7 Th.XV, 10-11.
Zamroni,(2003a). Civic Education di Perguruan Tinggi: Urgensi dan Metodologi, Warta PTM Edisi (1)
Tahun XV, 8-11.
Lampiran 1 Informan Penelitian
No Nama Kedudukan dan Asal PTM
1. Prof Dr. Bambang Setyaji Rektor UM Surakarta
2. Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum PR III/Dosen PKn UM Surakarta 3. D. Sigid Sriwano, M.Si. Dosen PKn UM Purwokerto 4. Drs. Ah ad Mutholi in, M.“i. Desen PKn UM Surakarta 5. Muhammad ffandi, S.Pd., M.Pd. Dosen PKn UM Purwokerto
6. Drs. H. Sutomo, M.Si Dosen PKn UM Purwokerto
7. Bunyamin Muhtasjar, S.T. M.T. Dosen PKn UM Purworejo
8 Eko Priyanto, S.Pd. Dosen PKn UM Purwokerto
31