• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ya, BABS Tidak

39 Tabel 3.6 Memperlihatkan terdapat 91,5% area di Kabupaten Kuantan Singingi masyarakatnya tidak melakukan CTPS di lima waktu penting.

Sedangkan berdasarkan Strata area yang beresiko terbanyak respondennya tidak melakukan CTPS ada pada Strata 0 sebanyak 95,2%.

Untuk lantai dan dinding jamban bebas dari tinja didapatkan 40,8% area di Kabupaten Kuantan Singingi jamban yang dimiliki rumah tangga beresiko lantai dan dindingnya tidak bebas dari tinja. Sedangkan berdasarkan Strata yang beresiko terdapat pada Strata 4 yaitu sebanyak 63,9%.

Jamban beresiko ada kecoa dan lalat di Rumah tangga yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi ada sebanyak 41,3%, sedangkan berdasarkan Strata ada terdapat pada strata 4 yaitu sebanyak 64,6%.

Keberfungsian Penggelontor pada jamban area beresiko pada jamban yang dimiliki Rumah Tangga yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi ada sebanyak 31,8% dan berdasarkan strata area beresiko banyak terjadi pada strata 4 sebanyak 55,7%.

Area bereseiko perilaku Higiene dan Sanitasi mengenai terlihat adanya sabun di dalam atau di dekat jamban ada sebanyak 48,2% jamban yang dimiliki rumah tangga yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi tidak terlihat sabun baik di dalam maupun di dekat jamban sedangkan berdasarkan strata paling banyak terjadi 4 sebanyak 78,5%.

40 Area beresiko pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air terjadi pencemaran sebanyak 25,7% sedangkan berdasarkan strata area beresiko pencemaran terdapat pada strata 0 yaitu sebanyak 31,5%.

Area beresiko masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi yang masih berperilaku BABS ada sebanyak 42,5% sedangkan berdasarkan strata area beresiko terbanyak terdapat pada strata 4 sebanyak 62%.

Tabel 3.6 Area Beresiko Perilaku Higiene dan Sanitasi

Strata Desa/Kelurahan Total

0 1 2 3 4 R 13 14

n % n % n % N % n % n % n %

CTPS di lima waktu penting Tidak 239 95,2 486 92,2 437 90,5 528 91,0 139 88,0 1 100,0 1830 91,5 Ya 12 4,8 41 7,8 46 9,5 52 9,0 19 12,0 0 ,0 170 8,5 Apakah lantai dan dinding

jamban bebas dari tinja?

Tidak 115 45,8 180 34,2 153 31,7 265 45,7 101 63,9 1 100,0 815 40,8 Ya 136 54,2 347 65,8 330 68,3 315 54,3 57 36,1 0 ,0 1185 59,3

Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat? Apakah terlihat ada sabun di

dalam atau di dekat jamban?

Tidak 140 55,8 224 42,5 210 43,5 264 45,5 124 78,5 1 100,0 963 48,2

41 3.7 kejadian Penyakit Diare

Tabel 3.7 memperlihatkan sebanyak 63.8% dari seluruh responden dalam waktu dekat tidak pernah mengalami diare, sebanyak 6.8% mengalami diare selama lebih dari 6 bulan yang lalu dan sebanyak 7.3% mengalami diare satu bulan terakhir.

Anggota keluarga dari responden yang mengalami diare paling sering terjadi pada orang dewasa sebanyak 34.4%, di ikuti oleh orang dewasa laki-laki sebanyak 21%, anak-anak balita 27.9%, anak-anak non balita 11.5%, anak remaja laki-laki 7.7%, dan anak remaja perempuan 6.5%,

42 Tabel 3.7 Kejadian Diare pada Penduduk Berdasarkan Studi EHRA

Strata Desa/Kelurahan Total

43

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan Studi EHRA yang dilaksanakan POKJA Sanitasi Kabupaten Kuantan Singingi dapat disimpulkan sebagai berikut.

a. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 81.8%

melakukan pengelolaan sampah dengan di bakar, kemudian di ikuti dengan di buang kesungai sebanyak 5.2% dan di buang kelahan kosong 4.7%. sebagian besar sebanyak 87% masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi tidak melakukan pemilahan.

b. Air Limbah Domestik

Sebanyak 68% masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi yang telah dewasa memiliki kebiasaan buang air besar di jamban pribadi walau pun masih ada juga yang punya kebiasaan buang air besar di WC umum, ke sungai, ke kebun, ke lubang galian dll. Sebanyak 60,2% % responden yang menyalurkan tinja kedalam tangki septik tetapi sebanyak 86,5% masyarakat yang memiliki jamban

44 tidak pernah melakukan pengurasan tangki septik.

Sebanyak 31.6% tanki septik yang dimiliki masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi termasuk suspek tidak aman beresiko terjadinya pencemaran karena pembuangan isi tanki septik.

c. Drainase dan Genangan Air/ Sumber Air

Rumah tangga di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 70.1 % tidak pernah mengalami banjir dari yang pernah mengalami banjir rutin terdapat sebanyak 30%. Jika ada genangan air biasanya lokasi genangan 54,1% berada di halaman rumah. Sebanyak 62% rumah tangga memiliki SPAL, tetapi SPAL yang dimiliki aliran akhirnya parit/selokan ataupun sungai sehingga sebanyak 57%

termasuk kategori tidak aman.

d. Pengelolaan Air Minum

Untuk keperluan mencuci pakaian, cuci piring dan gelas serta gosok gigi masyarakat penggunaan air terbanyak di gunakan adalah air sumur gali terlindungi, yaitu untuk air minum sebanyak 49.1%, masak 59.1%, cuci piring dan gelas 55.4%, cuci pakaian 15.1%, dan gosok gigi sebanyak 52,9% selain sumur gali terlindungi di didaptkan hasil 34,2% masyarakat menggunakan Air Isi Ulang. Sumber air terlindungi yang digunakan masyarakat 54.1% ,

45 sedangkan penggunaan sumber air tidak terlindungi sebanyak 55,3% termasuk kategori aman, sedangkan tidak aman sebanyak 44,8%. Sementara itu sebanyak 78,5% masyarakat tidak pernah mengalami kelangkaan air.

e. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat

Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 91,5% tidak melakukan CTPS di lima waktu penting, CTPS paling banyak dilakukan masyarakat adalah setelah buang air besar sebanyak 48,5%.. sedangkan sebanyak 42,5% masyarakat masih berprilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

f. Hasil pelaksanaan studi EHRA merupakan salah satu basic data yang digunakan dalam penyusunan buku putih sanitasi (BPS) dan Strategi Sanitasi Kota (SSK).

Selain itu hasil Studi EHRA dapat digunakan dalam Penyusunan Strategi Komunikasi dalam rangka Pembangunan Sanitasi di Kabupaten Kuantan Singingi.

g. Studi EHRA di rancanng agar Pemerintah Kabupaten Kuantan Singngi, dapat melakukan pengulangan Studi EHRA setiap tiga tahun sekali. Biaya yang dipergunakan dapat seminim mungkin tanpa harus mengorbankan

46 kualitas informasi yang diperoleh. Pengulangan studi EHRA dapat juga di jadikan bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi (MONEV). Studi EHRA Tahun 2014 ini merupakan studi EHRA pertama kali di lakukan di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga hasilnya dapat di jadikan acuan dalam rencana pelaksanaan studi EHRA di tahun mendatang.

4.2. Saran

Hasil Studi EHRA di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2014 menghasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut :

a. Pengolahan Sampah Rumah Tangga

Untuk mendapatkan cara dan prilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang memadai pada masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi maksimalkan kerja sanitarian dan bagian promosi kesehatan di Puskesmas dalam memberikan sosialisasi cara dan pentingnya pengelolaan sampah yang benar pada masyarakat uyaitu berdasarkan prinsip 3R ( Reudice, Reuse, dan Recycle) sehingga nantinya dapat mengurangi timbulnya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Kegiatan ini hendaknya melibatkan kader dan ibu PKK yang

47 nantinya diharapkan masyarakat bisa diberdayakan dalam pengelolaan sampah rumah tangganya.

Kerjasama lintas sektoral dengan instansi terkait misalnya Dinas Kebersihan, Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum untuk memberikan advokasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi agar menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dalam pengelolaan sampah rumah tangganya dengan benar.

b. Air Limbah Domestik

Agar tidak terjadi pencemaran lingkungan oleh tangki septik perlu dilakukan promosi atau sosialisasi tentang pentingnya memiliki tangki septik yang memenuhi syarat-syarat kesehatan oleh sanitarian dengan melibatkan kader, bidan desa, dan ibu-ibu PKK.

Mengingat sudah semakin padatnya pemukiman masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi diperlukan kerjasama Lintas Sektoral dengan instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum, dan Badan lingkungan Hidup untuk memberikan advokasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi dalam mencari jalan keluar dari permasalahan ini misalnya dengan membuat Kebijakan Pemerintah yang

48 mewajibkan setiap rumah tangga memiliki tangki septik yang memenuhi syarat sehingga tidak mencemari lingkungan, membuat tangki septik bersifat komunal atau menyediakan tangki septik yang terbuat dari bahan yang kedap air dengan harga terjangkau oleh masyarakat.

c. Drainase dan Genangan Air/Sumber Air

Walaupun 62% rumah tangga yang ada dikabupaten Kuantan Singingi sudah memiliki SPAL tetapi kontruksi SPAL yang dimiliki masyarakat tidak memenuhi syarat kesehatan hal ini dapat dilihat pada tingkat pencemaran karena SPAL sebanyak 57% spal yang ada Tidak Aman dari Pencemaran.

d. Pengelolaan Air Minum.

Sebanyak 34,2% masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi menggunakan Air Minum isi Ulang. Untuk itu perlu dilakukan pengawasan yang ketat pada pengusaha Depot Air Minum Isi Ulang agar masyarakat mendapatkan air minum yang memenuhi syarat kesehatan.

e. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Prilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi khususnya mengenai

49 Prilaku CTPS di lima waktu penting dan BABS sangat memerlukan kegiatan promosi kesehatan yang harus berulang-ulang dilakukan oleh petugas Kesehatan yang melibatkan para kader dan ibu-ibu PKK dalam Pelaksanaannya. Advokasi Pada Pemerintah Daerah melakukan promosi kesehatan – promosi kesehatan yang berkaitan dengan menggalakan CTPS dan Stop BABS pada masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi.

Dokumen terkait