• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Kenduri Sko Di Kelurahan Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci

B. Hasil Penelitian

1. Praktik Kenduri Sko Di Kelurahan Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci

Kenduri Sko merupakan suatu acara adat yang dilaksanakan oleh Masyarakat Kerinci dalam melestarikan budaya yang sudah ada sejak dari pada zaman Nenek Moyang Masyarakat Kerinci.

Kenduri Pusaka dan Kenduri Sko merupakan suatu rangkaian acara adat yang saling berhubungan satu sama lain. Sebab disaat Kenduri pusaka dilaksanakan maka Kenduri Sko pun harus dilaksanakan kenduri pusaka dan Kenduri Sko dilaksanakan dalam rentang waktu yang berbeda di setiap daerah. Kenduri Sko secara Adat Kerinci adalah suatu acara pengukuhan gelar suku atau Kepala Adat.

Berikut wawancara dengan bapak Rusli Zein selaku Mantan depati di Kelurahan Lempur Tengah tentang Kenduri Sko pada zaman dahulu:

“Kenduri Sko pada zaman dahulunya hanya dilaksanakan 1 malam saja, yaitu acara pemandian benda pusaka, Nugeh Depati (penobatan gelar depati), tari tauh. Yang mana pada saat kenduri Sko masyarakat mensyukuri hasil panen dan rezeki kepada sang pencipta.”131

Jadi Kenduri Sko pada awalnya sebelum mendapat pengaruh modernisasi dan pengaruh-pengaruh Hukum Islam Kenduri Sko pada awalnya hanya dilakukan 1 hari 1 malam saja,

131 Rusli Zein, Mantan Depati Nalo, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 Desember 2020.

yaitu acara pemandian benda puasaka, tari tauh dan Nugeh Depati.

Berbeda lagi dengan Kenduri Sko di Kelurahan Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, kabupaten Kerinci pada saat ini, dilaksanakan selama 7 hari dilakukan 1 kali dalam 2 tahun.

Tujuan Kenduri Sko sebagaimana wawancara dengan Bapak Amris Kahar selaku Depati Agung :

“Kenduri Sko merupakan bentuk rasa syukur atas rahmat Allah SWT. dan merupakan upaya mempertahankan budaya yang diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyang kami. Tradisi ini juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada nenek moyang yang telah menaruko (merintis) mencari tempat menetap dan membuka lahan pertanian sehingga masih bisa dimanfaatkan oleh Anak Cucu sampai saat ini”.132

Jadi pada dasarnya Kenduri Sko merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan di Kelurahan Lempur Tengah merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, dalam bentuk sebuah upacara adat Kenduri Sko. Tidak hanya itu tetapi dalam Kenduri Sko juga bertujuan untuk nugeh Depati (penobatan gelar Depati) bagi gelar-gelar Depati yang sedang kosong.

“Kenduri Sko pada saat ini melalui masa yang begitu panjang sehingga banyak mendapat pengaruh baik yang positif maupun negatif, baik secara Kepercayaan maupun modernisasi.

Tradisi Kenduri Sko sendiri terdapat adat yang di istiadatkan selain dari adat yang telah dilaksanakan oleh pendahulu masyarakat Kelurahan Lempur Tengah”.133

132 Amris Kahar, Depati Agung, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 4 November 2020.

133 Amris Kahar, Depati Agung, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 4 November 2020.

Acara Kenduri Sko pada saat sekarang ini terdiri dari serangkaian proses kegiatan yaitu rapat adat nagari, kegiatan pengumpulan dana, malam puncak acara Kenduri Sko, nugeh Depati (penobatan gelar adat).

a. Rapat adat negeri

Rapat adat negeri di hadiri oleh Tokoh-Tokoh Adat, Alim Ulama, Cerdik Pandai yang mana biasa disebut dengan tigo tungku sajarangan, serta anggota masyarakat. Rapat ini bertujuan untuk bermusyawarah memilih siapa yang akan mengisi gelar Depati yang kosong atau gelar yang telah diletakkan, yang mana syarat-syarat untuk menjadi seorang Depati ialah :

1) Simbai Ikounyo (kembang ekornya)

“Kembang ekornya artinya adalah ibarat seekor ayam jantan yang akan berlaga di suatu gelanggang, dan ia mengembangkan ekornya sewaktu akan menyerang, tidak kuncup ketakutan. Sehingga orang yang cakap untuk jadi Depati harus berani dalam menegakkan kebenaran, siap berkorban”. Makna dari semua itu ialah bahwa seorang Depati harus dewasa, berakal, punya pandangan yang baik maju ke depan. Karena dengan semua itu mereka dapat mengurus anak negri (masyarakat).

2) Nyaring kukoknyo (nyaring kokoknya)

Nyaring kokonya artinya ialah setiap perintah dapat dipatuhi masyarakat, setiap nasehat dapat didengar masyarakat, pandai dalam berbicara di depan umum dan bijaksana. Makna nya ialah seorang Depati hendak harus pandai berbicara di depan khalayak ramai dan pandai berunding (musyawarah).

3) Runcing Tajinyo (Runcing taringnya)

Runcing taringnya artinya ialah tegas, tangkas, berilmu dan berpengetahuan.

4) Kembang Kepaknyo (Kembang sayapnya)

Kembang sayapnya artinya adalah adil dalam memutuskan suatu masalah di Tengah masyarakat, sebagaimana pepatah adat mengatakan “tidak menegak benang basah, tidak menohok kawan seiring, tidak bersembunyi dalam lipatan”.

5) Lapang dadonyo (lapang dadanya)

Lapang dadanya artinya ialah baik maupun buruk nya diterima dengan hati yang terbuka dan lapang, tidak mudah emosi (marah), dan tidak pula menunduk, tidak ada masalah yang tidak dapat di selesaikan, tidak ada keruh yang tidak dapat dijernihkan. Pepatah tersebut merupakan simbol kesabaran seorang Depati dalam menyelesaikan suatu masalah di tengah masyarakat.

6) Nyalang matonyo (jeli matanya)

Jeli matanya artinya paham dengan situasi dan kondisi masyarakat. Sebagaimana pepatah adat mengatakan “datang siang datang malam, mengetahui larek (deret) yang bejejer, balai (pasar) yang rami (rame), mengetahui pematang nan balantak.

7) Gedang paruhnyo (besar paruhnya)

Besar paruhnya artinya ialah dapat menjadi tempat minta nasehat, tempat bermusyawarah, tempat mengadu.

Suka mengajak dalam kebaikan dan mau diajak kedalam kebaikan.

8) Kuat kakinyo (kuat kakinya)

Kuat kakinya maksudnya ialah sehat secara jasmani (kuat badannya) dan rohani (jiwa), kalau bisa kuat juga secara finansial (harta).

9) Bintik bulunyo (bulunya berbercak)

Bulunya berbercak artinya ialah berasal dari nasab (keturunan) baik-baik, jelas asal-usul keturunannya baik garis keturunan dari bapak maupun ibu. Jadi seorang Depati haruslah seseorang yang punya budi pekerti dan

akhlak yang baik, karena mereka akan menjadi percontohan di tengah masyarakat.134

b. Kegiatan pengumpulan dana dan acara kesenian

Kegiatan pengumpulan dana dan acara kesenian ini merupakan suatu rangkaian acara yang diperuntukkan untuk para pemuda-pemudi untuk mengumpulkan dana antara lain dengan mengadakan turnamen sepak bola, organ tunggal, jual aneka makanan dan minuman keras.

1) sepak bola

Dalam acara Kenduri Sko kegiatan pengumpulan dana merupakan rangkaian acara yang memakan waktu cukup panjang, karena para Pemuda dan Panitia acara Kenduri Sko sudah mulai melakukannya sejak 2 minggu sebelum hari puncak Kenduri Sko yaitu mengadakan acara turnamen sepak bola, yang mana peserta turnamennya dari berbagai Desa di Kabupaten Kerinci.135

2) Organ tunggal

Acara organ tunggal dilaksanakan 5-6 hari sebelum malam puncak acara Kenduri Sko diadakan di gedung adat.

Sebagai penyanyi dalam organ tunggal Panitia Kenduri Sko menghadirkan beberapa orang biduan dari luar daerah,

134 Suryadi, Depati Suko Barajo, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 November 2020.

135 Amris Kahar, Depati Agung, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl Desember 2020.

dalam organ tunggal ini Panitia Kenduri Sko melakukan pengumpulkan dana dengan mengadakan lelang kue bolu dan minuman keras, tawaran harga tertinggi yang akan mendapatkan lelang tersebut di tambah dengan bonus berjoget bersama dengan biduan selama beberapa menit, biasanya lelang kue bolu di peruntukkan untuk para Ibu-ibu dan Bapak-bapak dan lelang minuman keras untuk para Pemuda.136

3) Jual beli makanan dan minuman keras

Jajanan yang dijual oleh Panitia Kenduri Sko ini berupa jajan ringan dengan menetapkan nominal harga yang tinggi dari pada umumnya, tetapi masyarakat sudah terbiasa dan tidak mempermasalahkan hal tersebut, sedangkan jual beli minuman keras dilakukan pada tempat khusus yaitu di lantai 2 dari gedung adat, yang di perbolehkan naik kelantai 2 tidak semua kalangan masyarakat, tetapi hanya memperbolehkan pemuda, pemudi dan panitia acara Kenduri sko.137

c. Malam puncak Kenduri Sko

Malam puncak pada acara Kenduri Sko Kelurahan Lempur Tengah Kecamatan Gunung Raya itu berlangsung pada malam terakhir tepatnya sore sabtu malam minggu. Pada malam puncak

136 Amris Kahar, Depati Agung, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 4 Desember 2020.

137 Prajo, Panitia Kenduri Sko, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 7 Desember 2020.

Kenduri Sko ini di hadiri oleh Depati, Ninik Mamak, Tokoh Masyarakat, Ulama, Masyarakat dan Tamu dari Desa-desa di Kabupaten Kerinci.

Acara Kenduri Sko pada malam puncak di awali dengan pembacaan doa dan zikir oleh Ulama sebagai bentuk ungkapan rasa syukur sebagaimana tujuan dari tradisi Kenduri Sko itu sendiri. Dilanjutkan dengan parago-parago dari Depati, Ninik mamak atau perwakilan dari pemangku adat Kelurahan Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci. Berikut parago-parago Depati, Ninik Mamak :

Singgo berganggang bumi dengan langit maku turun wajah nan duo. Satu waris pado nabi, kaduo khalifah dari pado rajo,waris pado mano beliau malin yang mengetahui bulan nan duo belas, tahun nan duo lapan, hari nan tujuh, mentiko nan satu. Khalifah dari pado kayo Depati nenek mamak yang memegang adat lamo pusako usang, mano ado kayo Depati maajum, marah, melarik, mangaju, manggilo, membentang, mengukung, mengekam dalm negeri-negeri ajum kayo Depati baumu, balaman, baternak, bertani, beranak-pinak berumah tango. Tentang seseorang telah mengikuti ajum arah kayo Depati, lah baumu, lah balaman, tentang seseorang telah menegak rumah entah ado ta ambik kayu di sarang panyengat, kayu bagesung, kayu bagiso, mintak kito kepado Allah, yang gagah mintak tunduk, yang talu mintak bena, yang sesak mintak lapang yang hangat mintak dingin.

Kareno hamba bersifat khilaf tuhan bersifat qadim, mintak tapasan oleh tukang kayu sunsang kayu teralih kayu betimbang ujung pangkal. Tanah lekung dijerang kuali melibis di inang hari, gabuk ulu tulok di pinak kepado Allah nan bela mintak ditulak nan angat mintak didingin, pado hari ini si anu telah mengumpulkan suku. Darah daging diatas pelambo adat kito betegak rumah tulang belulang petulangan suku darah daging, tentang tali nan sagabung duo tenun, uang sepuloh, sirih dua beganggang, piang nan batanduk, beras nan bagantang. Lah taletak itam ateh nan putih tentang seorang badan nak sikat iman nak tetap. Baladang nak bulih meh, baumo nak bulih padi.

Begitu pulo badan nak sihat dalam mengerjokan rumah ini ntah

ado lebih kurang kawat dengan talapan lahir dengan bathin pado hambo banyakkan maaf pado tuhan banyakkan taubat. Nasi nan sasuap, gulai nan satangkai, air nan sateguk, sepangkalan besedekah kepado kito, ateh dari pado itu kok ado mimpi nan tidak bekaseh nan kurang, jiko mimpi nan dak beh busamo kito layikan patehah. Jiko mimpi yang baik kito tamping dengan doa selamat dan berkat saiyo itulah dapat dengan belang.138

beberapa tarian khas Kerinci di tampilkan di tradisi Kenduri Sko seperti: tari iyo-iyo, tari rangguk dan kesenian beladiri pencak silat.

Dalam tradisi Kenduri Sko Kelurahan Lempur Tengah Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci ada tarian yang di sakralkan yaitu tarian Tauh. Tarian Tauh adalah tarian tradisional masyarakat Lempur dan sekitarnya, yang mana merupakan tarian yang di warisi oleh Nenek Moyang.

Berikut wawancara dengan Bapak Rusli Zein selaku mantan Depati di Kelurahan Lempur Tengah :

“asal usul tari tauh ini sangat berkaitan dengan asal usur dari Desa Lempur, pada zaman dahulu tari tauh ini di tampilkan oleh para raja-raja untuk meRayakan upacara adat termasuk Kenduri Sko (pesta panen), pemberian gelar Depati (nugeh Depati) ataupun menyambut tamu-tamu kerajaan. Kerajaan Manjuto merupakan yang bercorak melayu yang berada di Sumatra Tengah. Tari tauh merupakan tarian campuran dari budaya melayu yang berada di Sumatra Tengah yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Manjuto, hingga pada akhirnya kesenian tari tauh terpengaruh oleh kebudayaan melayu”.139

138 Rusli Zein, Mantan Depati Nalo, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 Desember 2020.

139 Rusli Zein, Mantan Depati Nalo, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 Desember 2020.

Tarian tauh terbagi menjadi dua macam yaitu, tarian tauh untuk menyambut tamu penting dan tarian tauh dalam tradisi Kenduri Sko (pesta panen). Tari tauh itu iringan alat musik dari gung (gong) dan dap (gendang), serta dengan suatu nyanyian yang biasa disebut dengan Mantau. Mantau berisi pantun-pantun dengan mengunakan irama yang khas sekali, syair mantau berisikan cerita adat, hukum adat dan ketentuan adat wilayah Lempur.140 Contoh syair mantau yang diambil dari hukum adat, sebagai berikut :

Nak badarok kabuki tinggi, bukit tinggi kota bertingkat, urang palimbang nyuel cebedok, kalo di angkat jadi Depati, tibo di duri jangan nak mindek, tibo di papan jangan nak berentok.

Bungu nilo bungu melati, kuning nilo padang geding, limok purut bukit sitangih, kalo kayo menjadi Depati, tibo dimato jangan dipicing, tibo di perut jangan dikempis.

Bungu nilo bungu melati kembang dak bungu tepi imbo, batang lintang di liring bukit, kalo kayo nyadi Depati dak bulih berenok tiri idok beno barenok kandung.141

Pantun-pantun yang dinyanyikan dalam bentuk mantau di sampaikan kepada masyarakat sehingga masyarakat Lempur Tengah selalu ingat terhadap aturan-aturan adat ini dapat melekat dan terus tersampaikan dari generasi ke generasi selanjutnya.

140 Rusli Zein, Mantan Depati Nalo, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 Desember 2020.

141 Syamsir Alam, Tokoh Adat , Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 Desember 2020.

Tari tauh pada Kenduri Sko dimulai oleh Depati-Depati, kemudian dilanjutkan oleh masyarakat dengan terlebih dahulu seorang pawang dari orang adat mengasapi ruangan acara Kenduri Sko dengan menyan yang dibakar di bara api di atas sebuah piring, dengan maksut memanggil Roh Nenek Moyang yang biasa disebut dengan Roh Orang Gunung oleh masyarakat Lempur agar dapat datang dan memasuki raga seseorang dan ikut menari tauh.

Tari tauh merupakan jenis tarian kolosal, yang mana tari kolosal terdiri dari banyak penari atau biasa disebut dengan tarian massal.142 Para penari dalam pesta panen membebaskan siapapun yang ingin ikut menari, terlebih lagi orang-orang yang tiba-tiba dirasuki Roh yang dipercayai masyarakat Kelurahan Lempur Tengah sebagai Roh Nenek Moyang. Tarian tauh berlangsung cukup lama yaitu 00.30-04.00 WIB, akibat lamanya waktu tari tauh pada acara Kenduri Sko mengakibat adanya cedera fisik dari penari karena tidak sadar diri karena kesurupan seperti pingsan, terbentur ke lantai, memar-memar.143

d. Nugeh Depati (Penobatan gelar Depati)

Penobatan gelar Depati dilakukan setelah malam puncak Kenduri Sko yaitu pada pagi minggu. Acara nugeh Depati ini

142 Reza Silfi Rizki Ayu, “Makna Simbolik Seni Mantau Pada Tradisi Kenduri Sko Di Kelurahan Lempur Tengah Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci”, (Universitas Negeri Padang, 2016), 70.

143 Tisen, Masyarakat Kelurahan Lempur Tengah, Wawancara Pribadi, Kelurahan Lempur Tengah, Tgl 27 November 2020.

dilaksanakan untuk peresmian penobatan gelar Depati yang telah diletakkan (mengundurkan diri dengan hormat), dipecat, telah meninggal dunia dengan penobatan gelar kepada Depati-depati yang baru sesuai dengan hasil rapat adat negeri sebelum Kenduri Sko.

Nugeh Depati berisi pengucapan sumpah, larangan, dan pantangan sebagai seorang Depati. Sebagai mana seloko adat :

“negeri ba ajun, luhah bapanghulu (Rajo), kampung batuan, rumah batangganai”. Diharapkannya dengan adanya regenerasi dari pengurus adat masyarakat Lempur Tengah dapat hidup terjalinnya suatu sistem kehidupan yang baik, aman dan damai.144

2. Nilai-nilai Islam berperan pada Tradisi Kenduri Sko di