gas sebagai elemen transisi energi indonesia
4.3 Prasyarat Penguatan Gas sebagai Elemen Transisi
Transisi energi merupakan kebijakan yang membawa perubahan besar sistem energi di sebuah negara maupun dalam konteks global, dari model pemenuhan energi yang bersumber dari fosil menuju ke sumber yang lebih bersih. Transisi energi pada pada dasarnya adalah perubahan paradigma dalam sistem energi. Perubahan ini merupakan proses yang rumit dan tidak sekedar penggantian satu sumber bahan bakar dengan yang lain. Dari perspektif perusahaan migas dan negara pengekspor minyak misalnya, studi Fattouh dkk (2019) mengidentifikasi perlunya pelibatan tiga dimensi yang saling berkaitan dalam transisi energi. Pertama, tangible elements dari sistem energi, meliputi teknologi, infrastruktur, pasar, production equipment, pola konsumsi dan rantai distribusi. Kedua, aktor dan perilaku aktor, meliputi strategi baru dan pola investasi, termasuk koalisi dan kapabilitas aktor yang berubah. Dan ketiga, rezim sosio-teknis yang membuat regulasi dan kebijakan formal, kelembagaan termasuk mindset, belief systems, discourse, dan cara pandang terhadap normalitas sistem energi. Dapat dikatakan, transisi energi merupakan proses yang multidimensional, kompleks, nonlinier, dengan ketidakpastian yang tinggi, karenanya membutuhkan sejumlah prasyarat untuk bisa diwujudkan.
Dalam banyak studi dan sebagaimana dikemukakan di bagian awal monograf ini, gas diyakini menjadi elemen penting dalam perubahan sistem energi. Studi yang dilakukan Safari dkk (2019) misalnya, mengemukakan gas merupakan transition fuel yang penting untuk mendukung transisi energi dalam jangka pendek maupun menengah menuju implementasi energi terbarukan. Safari dkk dengan membandingkan serangkaian tantangan dan peluang gas sebagai transition fuel di negara dengan cadangan gas berlimpah yaitu Iran dan Norwegia dan negara pengimpor gas yaitu Inggris dan India.
Secara umum, sejumlah prasyarat perlu dipenuhi untuk menjadikan gas sebagai elemen transisi, yaitu:
infrastruktur, sumber daya, aspek ekonomi, dan kebijakan energi nasional.
Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani Paris Agreement, sebagai bagian dari upaya komunitas global mewujudkan sistem energi bersih dan berkelanjutan. Meskipun demikian, secara domestik target capaian bauran energi untuk mewujudkan komitmen tersebut masih minimal.
Sebagai negara berpenduduk besar dengan karakter sosio demografis beragam serta wilayah yang luas dan kondisi geografis beragam, membangun sistem energi bersih dan energi terbarukan memang penuh tantangan, terlebih masih ada permasalahan mendasar terkait dengan akses warga negara terhadap sumber energi secara merata. Memperkuat peran gas dalam sistem energi nasional, selain menjadi elemen transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, sekaligus merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemenuhan energi bagi masyarakat dan industri. Untuk memperkuat peran gas sebagai elemen transisi, perlu dipenuhi prasyarat terkait dengan aspek politik, teknokrasi, kelembagaan dan regulasi, penguatan infrastruktur, dan dukungan publik.
Transisi menuju energi bersih dan membangun energi terbarukan membutuhkan komitmen politik (political will) yang kuat kepemimpinan politik dan pemerintah. Kebijakan transisi energi adalah keputusan politik. Untuk itu, dibutuhkan pemenuhan prasyarat politik yang ditunjukkan dengan adanya komitmen yang kuat dari pemimpin pemerintahan (Presiden dan Menteri terkait), yang diikuti diikuti dengan perumusan dan pengawalan implementasi kebijakan secara konsisten, termasuk ketersediaan sumber daya keuangan yang dibutuhkan. Aspek berikutnya adalah kemampuan teknokrasi yang mencukupi. Sektor energi gas melibatkan kemampuan (skill) teknokratis, termasuk teknologi, yang tinggi mulai dari tahap eksplorasi (hulu) sampai dengan distribusi (hilir). Selain itu, kesiapan investasi juga sangat penting, baik yang berasal dari negara maupun investor, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengelola sektor ini.
Penguatan gas sebagai elemen transisi membutuhkan kerangka regulasi dan kelembagaan yang kuat dan konsisten. Sampai saat ini, peta jalan untuk transisi energi yang komprehensif belum tersedia, sehingga belum ada target yang terukur untuk tahapan capaian transisi energi. Kebijakan-kebijakan yang ada juga membutuhkan sinkronisasi, serta perlu ada satu sistem kelembagaan yang lebih terintegrasi dan sistem koordinasi yang kuat antar kementerian. Capaian terkait transisi energi perlu menjadi KPI semua kementerian terkait, sehingga bisa saling menguatkan, tidak kontradiksi. Di banyak negara, keberhasilan transisi energi dengan gas sebagai elemen utamanya ditopang oleh kerangka regulasi yang kuat dan kelembagaan yang secara konsisten mengawal implementasi regulasi.
Prasyarat selanjutnya untuk menjadikan gas sebagai elemen transisi adalah infrastruktur. Secara garis besar, infrastruktur terkait dengan rantai produksi gas di Indonesia masih sangat tertinggal dibandingkan dengan sejumlah negara yang menjadikan gas sebagai salah satu sumber utama energinya. Di tingkat hulu, infrastruktur sebagian besar dimiliki oleh perusahaan-perusahan internasional yang mendapatkan hak eksplorasi, pun halnya dengan pengolahan yang masih tergantung pada negara lain. Akibatnya, sebagian besar gas alam yang diperoleh diekspor, dan Indonesia justru kemudian mengimpor hasil olahan gas. Di sektor hilir, infrastruktur juga masih minimal, dan hanya berpusat di kawasan Jawa dan perkotaan secara lebih spesifik.
MONOGRAF EKONOMI POLITIK TRANSISI ENERGI DI INDONESIA Peran Gas dalam Transisi Energi Baru dan Terbarukan
48
Penguatan infrastruktur gas memang membutuhkan investasi yang sangat besar, namun menjadi prasyarat tidak terelakkan jika memang akan menjadikan gas sebagai elemen penting dalam sistem energi nasional untuk setidaknya 50 tahun ke depan. Meskipun demikian, aspek penting yang harus dipertimbangkan adalah kemungkinan investasi infrastruktur gas berpotensi menggeser investasi energi terbarukan, yang justru berakibat pada keterlambatan transisi menuju zero carbon technologies dan menghambat upaya mitigasi emisi dalam jangka panjang (Gürsan & de Gooyert, 2020). Untuk itu, diperlukan langkah kebijakan yang tepat untuk menyeimbangkan investasi di infrastruktur gas dengan investasi di sektor EBT.
Prasyarat terakhir yang dibutuhkan untuk transisi adalah peneriman sosial atau dukungan masyarakat. Penguatan gas sebagai sumber dalam sistem energi akan berpengaruh pada perubahan perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam konsumsi energi. Untuk itu kesuksesan transisi ditentukan oleh penerimaan sosial, yang berarti perubahan perilaku masyarakat. Selain itu, penerimaan sosial juga berkaitan dengan pengetahuan masyarakat atas pentingnya energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Untuk itu perlu dikembangkan sistem literasi publik terkait dengan energi bersih dan berkelanjutan. Dengan demikian, transisi energi bukan hanya menjadi proyek pemerintah dan elit, namun akan menjadi gerakan sosial dengan dukungan yang luas. Upaya untuk memenuhi prasyarat-prasyarat di atas tentu tidak mudah dan tidak bisa bersifat jangka pendek. Namun, langkah-langkah kebijakan yang drastis dan mendasar, baik dari sisi politik, teknokrasi, dan kelembagaan sangat dibutuhkan untuk bisa mendorong keberhasilan transisi energi di Indonesia.
Referensi
D E N . 2 0 1 9 . O u t l o o k E n e r g i I n d o n e s i a . J a k a r t a : D E N . https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-outlook-energi-indonesia-2019-bahasa-indonesia.pdf
Fattouh, B., Poudineh, R., & West, R. 2019. The Rise of Renewables and Energy Transition: What Adatation Strategy Exists for Oil Companies and Oil Exporting Countries? Energy Transition 3, 45-58. https://link.springer.com/article/10.1007/s41825-019-00013-x
Gürsan, C., & de Gooyert, V. 2020. The Systemic Impact of A Transition Fuel: Does Natural Gas Help or H i n d e r T h e E n e r g y Tra n s i t i o n ? R e n ew a b l e a n d S u s t a i n a b l e E n e r g y R ev i ew s . https://doi.org/10.1016/j.rser.2020.110552
Harsono, N. 2020. Indonesia's Clean Energy Program Faces Setback, ETI Rankings Plunges. JakartaPost, 20 Mei. https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/19/indonesias-clean-energy-program-faces-setback-eti-ranking-plunges.html
Kompas. 2019. Kesadaran Energi Bersih Rendah. Kompas, 31 Oktober, hal 14.
Kompas. 2020. Energi Terbarukan: Perhitungkan Dampak Transisi. Kompas, 21 Oktober, hal 10.
Idris, M. 2020. Dilirik China, Natuna Simpan Cadangan Gas Raksasa. Kompas, 5 Januari.
https://money.kompas.com/read/2020/01/05/144631726/dilirik-china-natuna-simpan-c a d a n g a n - g a s
-raksasa?page=all#:~:text=Dikutip%20Kompas.com%20dari%20data,P2)%2042%2C84%20TSC F.
IEA. 2020. Gas 2020. https://www.iea.org/reports/gas-2020/2021-2025-rebound-and-beyond
Indonesia Investment. 2016. Gas Alam. Indonesia Investment, 4 Juli. https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/gas-alam/item184?
Pérez, M. de la E. M., Scholten, D., & Stegen, K.S. 2019. The Multi-speed Energy Transition in Europe:
Opportunities and Challenges for EU Energy Security. Energy Strategy Reviews 26, 1-6.
https://doi.org/10.1016/j.esr.2019.100415
Planete Energies. 2020. What Is the Energy Mix. Planete-energies, 20 Juli. https://www.planete-energies.com/en/medias/close/what-energy-mix
Prasetyo, A. 2020b. Banjir Gas Bumi. Kompas, 15 Desember, hal 9.
Prasetyo, A. 2020b. Gas Bumi, Kian Masif di Masa Transisi. Kompas, 9 Desember, hal 10.
Ramadhani, P. I. 2020. Indonesia Punya 1,5 Persen Cadangan Gas Dunia, Terbesar di Natuna. Liputan6, 17 Februari. https://www.liputan6.com/bisnis/read/4180977/indonesia-punya-15-persen-cadangan-gas-dunia-terbesar-di-natuna
Romsom, E., & McPhail, K. 2020. The Energy Transition in Asia: Country Priorities, Fuel Types, and E n e r g y D e c i s i o n s . W I D E R W o r k i n g P a p e r 4 8 . https://www.wider.unu.edu/sites/default/files/Publications/Working-paper/PDF/wp2020-48.pdf
MONOGRAF EKONOMI POLITIK TRANSISI ENERGI DI INDONESIA Peran Gas dalam Transisi Energi Baru dan Terbarukan
50
Setiawan, V. N. 2020. Transisi Energi dalam Kepungan Kontrak dan Proyek Energi Fosil. Katadata, 6 November. https://katadata.co.id/sortatobing/berita/5fa5a1ce73417/transisi-energi-dalam-kepungan-kontrak-dan-proyek-energi-fosil
Yurika. 2020. Pembangunan Infrastruktur Gas Berpotensi Melambat Akibat Subsidi Harga.
Liputan6, 6 April. https://www.dunia-energi.com/pembangunan-infrastruktur-gas-berpotensi-melambat-akibat-subsidi-harga/